‘Short Escaping’: Edisi Sumber Maron

Jenuh dengan pekerjaan dan tugas-tugas sampingan (yang seringkali lebih menyita waktu daripada tugas utama), kami berlima berniat kabur sejenak menikmati udara bebas (berasa sedang dikurung 😦 ).  Karena judulnya ‘sejenak’, yang artinya tidak lebih dari waktu jam kerja di hari kerja, maka kami mulai mencari beberapa destinasi yang memenuhi syarat dan ketentuan berikut:

  1. Radius ± 1 jam dari kampus
  2. Masih alami
  3. Pengunjungnya sedikit
  4. Murah

Akhirnya kami sepakat memilih mata air Sumber Maron di Gondanglegi sebagai tempat jujugan.  Ini juga usulan Indri yang pernah jadi dokter PTT di sana.  Setelah browsing tentang Sumber Maron, aah, not bad lah 😉

Ok, here we go!

Start dari kampus, dengan ‘pura-pura’ berangkat kerja tapi bagasi mobil diisi tenda dan macam-macam makanan dan minuman untuk bekal.  Sempat pesan nasi krawu juga untuk makan siang.  Akhirnya berangkatlah kami semobil berlima plus Rita junior (Rifat) karena abinya mendadak tidak bisa dititipi anak 😀

Pukul 8.30 kendaraan melaju ke arah selatan kota Malang lewat Sukun menuju Kepanjen.  Jalanan tidak macet, cukup lancar dan sebagian lengang.  Iyalah, orang-orang pada kerja atau sekolah. Hihihi…  Sempat diwarnai insiden nyasar, kurang lebih satu jam kemudian sampailah kami di jalan masuk kompleks mata air Sumber Maron.  Jalannya bisa dilalui mobil, walaupun bukan aspal.  Parkiran juga cukup luas.  Biaya parkir 5000 perak dan masuk ke mata air gratis.  Iya, ini penting, gratis.  Walaupun bikin agak cemas, jangan-jangan karena gratis, orang-orang sudah berkerumun di sana.  Ah, sudahlah, kita lihat saja nanti.  Dari parkiran kami menyusuri jalan turunan kurang lebih 200 meter menuju sumber.  Karena matahari bersinar cukup terik, payung-payung pun mengembang manis.

Sejauh mata memandang...
Sejauh mata memandang…
Jalan menuju mata air Sumber Maron.
Jalan menuju mata air Sumber Maron. Sudah banyak warungnya kan.
Istirahat dulu ya, turunannya lumayan bikin lutur ngeper :)
Istirahat dulu ya, turunannya lumayan bikin lutur ngeper 🙂
Matahari menjelang tengah siang #puanas#
Matahari menjelang tengah siang #pantespuanas#

Tiba di lokasi kami melakukan observasi sebentar.  Maksudnya, mencari tempat paling tersembunyi untuk berenang-renang gitu.  Ternyata ada juga beberapa pengunjung yang sudah nyemplung duluan ditemani bebek-bebek sungai.  Ada juga bagian sumber air yang melebar dan berair tenang yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan emas oleh penduduk sekitar.  Berenang diantara ikan-ikan juga boleh, dijamin tidak ada ikan buas semacam piranha disana.  Dan ternyata di tempat ini kita tidak perlu takut kelaparan sampai-sampai bawa parafin buat bikin mie karena sudah banyak dijumpai warung-warung yang menjual makanan dan minuman.  Kebanyakan memang jualan gorengan, kalau kurang kenyang kita bisa pesan mie instan.

Kolam budidaya ikan Mas.
Kolam budidaya ikan Mas.
Air terjun kecil.  Maaf, gak sempat ngambil gambar yang lebih dramatis :D
Air terjun kecil. Maaf, gak sempat ngambil gambar yang lebih dramatis 😀
DSC_4911
Mau berenang bareng bebek? Disini tempatnya 🙂

Terdapat juga bangunan Pembangkit Tenaga Listrik Mikro Hidro sehingga tempat ini bisa dimanfaatkan untuk wisata edukasi.

Instalasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Sumber Maron.
Instalasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Sumber Maron.
DSC_4916
Bangunan PLTMH.
Musholla.  Bagusan bangunan PLTMH-nya ya :(
Musholla. Bagusan bangunan PLTMH-nya ya 😦

Setelah menyeberangi air terjun kecil, kami mendirikan tenda di dataran yang agak tinggi.  Kaki diselonjorkan dan perbekalan dikeluarkan sambil mengatur strategi dimana sebaiknya kami nyemplung.  Takut ketauan Joko Tarub soalnya 😛

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mata air di awal perjalanan tadi.  Dengan pertimbangan, selain sepi dan terhalang pohon-pohon besar airnya juga masih bersih baru keluar dari sumbernya.  Selain itu tersedia ruang ganti yang memadai dan dekat dengan warung gorengan #teteup#.

Ngadem dan ngemil di tenda.
Ngadem dan ngemil di tenda.
Tubing sambil narsis :D
Tubing sambil narsis 😀

Ternyata benar, di sekitar akar-akar pohon besar itulah tersebar beberapa mata air dengan tekanan yang cukup kuat bisa untuk pijat refleksi.  Perairannya sangat bening dengan kedalaman tidak lebih dari 2 meter sehingga kita bisa mengamati ikan-ikan kecil yang berenang diantara bebatuan #sokroman#.  Disini ban renang disewakan dengan harga 5000 rupiah.

Puas main air, pukul 12.00 kami check-out untuk kembali ke kampus.  Kali ini kami memilih pulang lewat Raya Bululawang.  Sebelumnya mampir dulu di Masjid Besar Gondanglegi untuk sholat Dhuhur lalu makan siang di bakso Koibito.  Pukul 15.00 kami sudah tiba lagi di kampus dengan gaya macam baru kembali dari dinas luar.  Maunya sih, ‘short escaping‘ alias minggat sejenak ini jadi agenda rutin spice lady 🙂

Masjid Besar Gondanglegi.
Masjid Besar Gondanglegi.

Dan seperti biasa, berikut rute perjalanan yang kami tempuh.

UB - Kepanjen - Sumber Maron - Bululawang - UB
UB – Kepanjen – Sumber Maron – Bululawang – UB
Eh, kenapa ada yang ngemil batang kersen ya?
Eh, kenapa ada yang ngemil batang kersen ya?

Salam 😉

(all pictures were taken by Inong & Indri)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s