Menunggu

Aku ingat guguran kelopak ungu bunga bungur. Yang helainya tertiup jauh oleh angin bercampur asap dan debu. Katamu itu pertanda kemarau hampir berakhir.

Tapi tidak kali ini.

Kering itu masih panjang, hingga tanah berteriak meronta tertutup daun dan ranting dari pohon meranggas. Bijian gelisah menunggu rekah pecah kulitnya memunculkan tunas.

Aku pun menunggu.

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

4 thoughts on “Menunggu”

  1. Aslm. Saya barusan browsing artikel2 tentang religi tiba2 saya.menemukan perjalanan hati yg tadinya saya kira tentang hal religi. Setelah saya coba membacanya semua, saya kaget dgn foto 2 wanita yg ditengahnya ada anak laki2 masih kecil yg salah seorangnya wanita yg lebih dewasa yg berada disebelah kiri (view depan) apakah anda yg menulis ini semua? Apakah anda bernama nana yg dulu pernah sekolah di SMANSA Pangkal Pinang ? Maaf saya hanya memastikan aja, krn saya juga sekolah disana sebagai kakak kelas anda…..maafkan saya jika saya salah mengira….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s