Menunggu

Aku ingat guguran kelopak ungu bunga bungur. Yang helainya tertiup jauh oleh angin bercampur asap dan debu. Katamu itu pertanda kemarau hampir berakhir.

Tapi tidak kali ini.

Kering itu masih panjang, hingga tanah berteriak meronta tertutup daun dan ranting dari pohon meranggas. Bijian gelisah menunggu rekah pecah kulitnya memunculkan tunas.

Aku pun menunggu.

Advertisements

2 thoughts on “Menunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s