Eating, trekking, and photographing: Part 1

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut…

Lama nian tidak tripping yang agak jauhan dari rumah (tripping maksudnya jalan-jalan gituh). Beruntung, kesempatan yang tidak dapat ditolak ini datang untuk memenuhi undangan seorang teman SMA yang tinggal di Magelang. Sekalian pemanasan untuk reuni perak tahun depan, maka terkumpullah kami sekitar bertiga puluh di Magelang pada tanggal 3 September lalu.

Kunjungan ini mengusung judul:Β BoSoLo le Tour and Heritage Borobudur 2016
(BoSoLo, Bolo Songo Loro, karena kami dari angkatan 92 SMAN 1 Pasuruan).

Peserta pun berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari Jember yang paling timur hingga Bengkulu (kalau yang ini sih pas kebetulan lagi ada jadwal kunjungan ke Jawa, hehe). Saya sendiri ikut rombongan yang berangkat naik Sri Tanjung dari stasiun Pasuruan. Kami bertiga belas, 9 perempuan dan 4 laki-laki. Itu pun setelah 3 orang terpaksa membatalkan keberangkatan karena ada tugas dari kantor menjelang detik-detik keberangkatan. Alhasil gerbong 2 jadi dipenuhi cerita dan tawa 2 sejak berangkat pukul 12.00 sampai tiba di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta pukul 20.00. Untung saja tidak ada penumpang yang complaint karena tidak bisa bobok siang di kereta. Boboknya di tempat tujuan saja ya pak, bu, mbak, mas, hehe.

Logistik selama di atas kereta tidak hentinya terhidang. Mulai mie pangsit, brownis, lemper, edamame, sampai nasi krawu. Tak ayal lagi, mulut kami akhirnya selalu aktif makan atau bicara. Kebetulan seorang teman duduk sebelahan dengan bule perancis. Rejeki si Bule yang selalu kebagian ransum dari kami. Bonjour Mister… (mbuh artine opo, hehe).

IMG-20160902-WA0004
Stasiun Pasuruan, kontingen siap diberangkatkan.
Gaya dulu a la WestLife :D
Gaya dulu a la WestLife πŸ˜€
IMG_20160902_171022
Hiruk pikuk di dalam kereta πŸ˜€

Tiba di stasiun Lempunyangan sudah menunggu 2 teman lagi, seorang dari Bogor dan seorang dari Bengkulu bersama istrinya. Gayeng ngobrol sambil nunggu jemputan yang agak terlambat karena kendala teknis. Akhirnya pukul 21.00, beriringan 5 kendaraan bergerak menuju malioboro, makan malam lesehan di angkringan tidak boleh dilewatkan kalau ingin menikmati suasana malam Yogyakarta. Tetapi sebaiknya tidak mengajak anak dibawah umur, karena kami sempat disambangi pengamen waria dengan dandanan vulgar yang akhirnya jadi bahan guyonan sepanjang perjalanan ke Magelang. Mirip mpok Ati kata teman-teman. Maaf ya mpok…

Di angkringan Gareng Petruk saya memilih nasi langgi berupa nasi dengan rajangan telur dadar dan sambel, otak-otak ikan, dan sate bekicot. Minumnya wedang ronde yang diwarnai insiden terbawanya sendok wedang saat pelayan angkringan beres-beres piring. Maaf ya pak Ronde… Di angkringan ini tahu bakso oleh-oleh teman dari Ungaran ikut jadi suguhan yang cukup mengenyangkan.

Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Bersih dan lengkap :)
Bersih dan lengkap πŸ™‚

Pukul 23.15 rombongan memasuki kota Magelang. Tuan rumah tidak mensia-siakan waktu untuk memperkenalkan kuliner malam Magelang kepada kami. Walaupun perut sudah kenyang dan mata mulai lengket serta tubuh merindukan kasur, diajaklah kami mampir ke warung Bulpiri yang menjual nasi godog.

Akhirnya kami memesan dua porsi nasi godog dan satu porsi bakmi godog untuk dimakan bersama-sama, tepatnya dicicipi bersama. Nasi godog ini dimasak diatas anglo dan dibuat dari bumbu bawang putih, bawang merah, merica dan garam yang ditumis kemudian diberi air secukupnya. Setelah mendidih dimasukkan telur, sedikit mie, sayuran, dan tomat. Mengingatkan kami pada bakmi godog Kediri. Setelah tercampur semua baru nasi dimasukkan. Kemudian dibubuhkan sedikit kecap dan siap dihidangkan panas-panas. Sederhana tapi nikmat mengenyangkan.

IMG_20160902_232236
Warung Bulpiri Magelang
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Hmm...enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog
Hmm…enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog

Perjalanan dilanjutkan ke pesanggrahan Majaksingi milik Pemkab Magelang. Tiba disana sekitar pukul 00.00 disambut seorang teman yang tiba dari Pati sejak pukul 22.00. Dua jam horor kata dia, sampai nyaris mengangkat tangan menyatakan tidak sanggup melanjutkan permainan (emangnya uji nyali, hehe). Di pesanggrahan peserta perempuan berbagi 3 kamar vip di bangunan utama. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi dalam. Sementara peserta laki-laki sebagian memilih tidur di ruang tamu yang luas dan sebagian di kamar-kamar yang berada di belakang bangunan utama. Tempatnya luas dan nyaman.

Sedikit di luar ekspektasi saya yang mengira Magelang itu dingin seperti Malang, hehe. Tanpa menunggu lebih lama lagi, setelah mandi dan melanjutkan bersetori ria dengan teman sekamar, sekitar pukul 01.00 saya pun tertidur. Sepertinya menjelang pukul 03.00 kamar-kamar sudah senyap. Kami beristirahat, bersiap untuk acara yang (luar biasa) padat pada pagi harinya.

Punthuk Setumbu, Rumah Pohon Asem Pendowo Limo, dan Gereja Ayam

Bentang alam Punthuk Setumbu

Sedikit terlambat dari waktu yang direncanakan, dengan dipandu pak Fatah, salah seorang staf Kantor Kecamatan Borobudur, pukul 5.30 kami bergerak menujuk punthuk setumbu. Tiba disana parkiran sudah penuh. Karena ada unsur-unsur privilege, rombongan kami yang terdiri dari empat mobil berhasil mendapatkan tempat parkir yang layak. Kirain ya, namanya sunrise sudah di depan mata. Ternyata harus berjalan menanjak kurang lebih 15 menit (oh kaki…).

Di salah satu pos kami disambut Pak Lurah Karangrejo yang kemudian bersama-sama kami naik melihat sunrise. Sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang berjalan turun. Dalam hati ya, mereka ini kelihatannya tidur di puncak setumbu deh. Atau kaminya saja yang kurang pagi kali ya, hehe. Tiba di puncak pukul 06.00, walaupun sedikit melewatkan detik-detik munculnya sang surya, tapi semua lelah akhirnya terbayar oleh keindahan alam yang terbentang di depan mata. Sayangnya cuaca kurang cerah, sehingga puncak candi Borobudur tersaput kabut.

Puas memanjakan mata dan (pastinya) foto-foto, Pak Lurah Karangrejo mengajak kami menikmati kopi dan teh jahe panas serta makanan kue-kue berupa lemet, lapis, tahu isi, keripik slondok berbahan dasar singkong yang rasanya seperti samiler di Jawa Timur tapi yang ini diiris tipis dan sangat crunchy, dan geblek. Yang terakhir ini penganan berbahan dasar pati singkong yang rasanya kenyal dan biasanya dimakan dengan cocolan saus kacang atau saus empek-empek.

Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Hap.. hap.. jalan pagi.. ini foto pas jalannya masih datar πŸ˜€
Bermandikan cahaya matahari pagi
Bermandikan cahaya matahari pagi
Camilan sudah siaaap :P
Camilan sudah siaaap πŸ˜›
Nyam nyam nyam... :P
Nyam nyam nyam… πŸ˜›
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak :)
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak πŸ™‚

Punthuk Setumbu adalah sebuah bukit diantara pebukitan Menoreh dengan ketinggian kurang lebih 400 dpl. Namanya berasal dari kata punthuk yaitu gundukan tanah dan tumbu atau alat dapur dari bambu. Berupa pelataran luas yang dibatasi pagar dan tersedia kursi-kursi tempat beristirahat, tempat ini merupakan lokasi favorit untuk melihat candi Borobudur dari ketinggian dengan latar belakang gunung Merapi dan Merbabu. Retribusi masuknya cukup Rp.15.000 saja untuk wisatawan lokal.

Sang surya naik perlahan membuka tabir malam...
Sang surya naik perlahan membuka tabir malam…
Berkas sinar...
Berkas sinar…
Jajaran pebukitan Menoreh
Jajaran pebukitan Menoreh

Rumah Pohon Pendowo Limo

Kenyang ngemil, trek berlanjut ke Rumah Pohon Pendowo Limo yang berjarak kurang lebih seratus meter jalan kaki dari pelataran punthuk Setumbu. Belum jelas bagaimana asalnya ada lima pohon asem berumur puluhan tahun yang berumur sama berdiri tegak berjajar di sana, demikian tutur pak Fatah. Diatas pohon-pohon ini kemudian dibangun dua pos pandang yang kemudian disebut rumah pohon.

Setelah puas berfoto pukul 06.50 kami menuju ke Gereja Ayam melalui jalan belakang yang lebih singkat tapi hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Yang jelas pakai bonus tanjakan ya, hehe.

Rumah Pohon Pandowo Limo
Rumah Pohon Pandowo Limo
Dari ketinggian rumah pohon.
Dari ketinggian rumah pohon.

img-20160919-wa0050

Gereja Ayam, napak tilas Rangga dan Cinta

Setelah berjalan kaki kurang lebih 10 menit, nampaklah sisi belakang bangunan Gereja Ayam yang sedang diperluas. Gereja yang sebetulnya dibangun sebagai rumah doa ini kemudian dialih fungsikan sebagai tempat rehabilitasi mental sebelum selesai pembangunannya seiring dengan keberatan dari penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam. Gereja ini terletak di atas Bukit Rhema.

Disana kami disambut oleh Pak Daniel yaitu anak pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun Gombong Desa Kembanglimus yang mirip Budi Anduk (alm). Sedikit tambahan, bangunan ini sebetulnya dibangun berbentuk merpati mahkota yang membawa pesan kebebasan dan perdamaian. Tetapi bangunan yang pernah dipakai untuk syuting film AADC2 ini lebih popular dengan sebutan Gereja Ayam seperti sebutan penduduk sekitar.

Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Papan arah lewat jalan belakang
Papan arah lewat jalan belakang
Informasi tiket masuk Gereja Ayam
Informasi tiket masuk Gereja Ayam

Gereja terdiri dari empat tingkat. Tingkat pertama berupa ruangan luas yang saat itu difungsikan sebagai ruang tunggu untuk naik ke bagian mahkota ayam. Lagi-lagi kami mendapat privilege dan tidak perlu ikut mengantri untuk naik sampai ke tingkat tertinggi. Di sekeliling ruangan terdapat jendela-jendela berbentuk bunga dan di bagian ekor dibangun pilar-pilar. Tingkat kedua berupa bagian leher. Dari sini kita bisa mengintip keluar jendela jajaran genjang dan melihat bagian ekor yang menyerupai kipas. Β Tingkat ketiga adalah paruh dan kepala ayam. Pada bagian depannya yang terbuka dipasang pagar pembatas dengan peringatan agar tidak naik ke atas pagar. Tingkat keempat mahkota ayam. Tingkat terakhir ini dapat dicapai melalui tangga putar sempit dan lubang sempit seukuran orang dewasa. Hati-hati jangan sampai kepala terantuk atau ada bagian badan yang tersangkut disini. Tiba di teras mahkota ayam kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indahnya ke segala penjuru. Di dalam foto, sudut-sudut mahkota ini tampak seperti ekor atau sayap pesawat. Sayangnya kami tidak sempat mengintip ruangΒ basement yang bersekat-sekat.

Bangunan tampak belakang
Bangunan tampak belakang
Ruang utama di lantai dasar.
Ruang utama di lantai dasar.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari bagian paruh.
Pemandangan dari bagian paruh.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Tongsis mana tongsiiis... :D
Tongsis mana tongsiiis… πŸ˜€
Puncak mahkota, good view :)
Puncak mahkota, good view πŸ™‚
Napak tilas Cinta dan Rangga :)
Napak tilas Cinta dan Rangga πŸ™‚
Gaya dulu aah... :D
Gaya dulu aah… πŸ˜€
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya... #jodoh
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya… #jodoh

Dari Gereja Ayam kami diantar ke tempat parkir menggunakan beberapa jeep. Walaupun jalannya sudah dibeton, tapi sudut turunannya yang mencapai 45 derajat bikin lutut gemeteran juga. Di halaman parkir kami berpamitan dengan pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun untuk kemudian tepat pukul 07.45 melanjutkan perjalanan ke Kantor Kecamatan Borobudur.

Menuju parkiran bukit Rhema.
Menuju parkiran bukit Rhema.
Pamitan sama putra pendiri gereja. Lupa gak tanya nama :D
Pamitan sama Pak Daniel, putra pendiri gereja.
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga :)
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga πŸ™‚
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo...
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo…

Bagaimana kelanjutan perjalanan BoSoLo, simak di tulisan berikutnya yaa… πŸ™‚

Advertisements

One thought on “Eating, trekking, and photographing: Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s