Donato Eksperimento

Hari ini si kecil tidak sekolah karena batuk.  Mungkin dipicu cuaca yang kurang bersahabat akhir-akhir ini.  Selain itu kelihatannya dia sedang ingin bermalas-malasan di rumah.  Kombinasi yang ideal untuk tidak masuk sekolah.  Nah, sebagai ibu yang baik, tentu saja saya ikut-ikutan absen ke kampus, menemani si kecil tiduran di rumah #heavenly.

Bangun menjelang pukul 8.00 pagi saya jadi keidean bikin donat.  Donat? Iya donaaat.  Ini gara-gara seorang sepupu di grup whatsapp keluarga melakukan kampanye membuat donat.  Kabarnya donat adalah kue yang mudah dibuat, antigagal.  Cocok buat saya yang takut gagal, terutama gagal move on #curcol.  Hampir semua saudara perempuan di grup sudah tertulari virus bikin donat.  Mereka juga pamer foto-foto narsis bareng donat produksi sendiri.  Apalagi konon resep donat sepupu saya ini hasil menyadap resep donat ®Jco.  Huhuhu… saya iriiiii… mereka bisa bikin donat, masak saya enggak #meweksambilsalto.

Alkisah pada suatu kesempatan saya mampir ke toko bahan kue di dekat rumah.  Itu kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu.  Sehingga lebih jelasnya bahan donat itu sudah menghuni lemari dapur selama berbulan-bulan #sigh.  Hingga datanglah kesempatan dan tentunya yang lebih penting semangat disertai niat menggebu untuk bikin donat, yaitu hari iniiiii #lompatjongkoklimakali.

Setelah sholat minta petunjuk dan push-up sepuluh kali saya siap fisik dan mental (bohong ini sih).  Saya akan menjalani hal terpenting dalam hidup saya, yaitu pertama kalinya membuat donat.  Bismillah.

Langkah pertama, menyiapkan contekan resep dari sepupu saya sebagai berikut:

1 kg tepung cakra

500 ml air

100 g gula pasir

100 g margarin

1 sachet fermipan

4 kuning telur

2 sdm bakerbonus

2 sdm susu fullcream

Langkah kedua.  Setelah semua bahan ditakar sesuai standar operasional procedure, dilanjutkan cara membuat:

  1. Siapkan baskom besar (besarnya menyesuaikan ya, jangan terlalu besar nanti dikira mau nampung ngrendem cucian), lalu semua bahan dicampur kecuali tepung dan margarin  (gampaang, sambil merem juga bisa #sombong).
  2. Masukkan terigu sedikit demi sedikit sampai separuh kemudian margarin sambil memasukkan terigu sampai habis dan meremas-remas adonan sampai kalis.

Apakah kalis itu? menurut yang saya dapatkan dari internet:

adjective

1. suci; bersih; murni: bayi yg — dr dosa jangan dibawa-bawa; 2 a tidak berkilat atau bersinar krn tersaput sesuatu (tt kaca, barang logam, dsb): kaca itu — sebab terkena air; 3 a tidak dapat kena air atau tidak dapat basah (spt daun keladi): daun keladi bersifat –; 4 a tidak dapat kena penyakit; kebal (dr penyakit): sejak kecil anak saya ini — dr penyakit; 5 v terhindar (dr bahaya);
 air tidak dapat dimasuki (diresapi) air; kedap air: got yg belum kering itu — air; — gas tidak dapat dimasuki gas (udara); kedap udara; kalis udara; — jais tidak dapat diberi nasihat, ajaran, dsb: morfinis itu sudah — jais; — udara kalis gas

Aaargh… pasti bukan iniiih.  Mau nanya saudara kok gengsi, akhirnya browsing lagi.

Akhirnya ketemulah ciri-ciri adonan kalis, yaitu:

  1. Adonan telah mengaret dan elastis bila ditarik.
  2. Bila dilihat adonan telah mengkilat.
  3. Bila direntangkan adonan akan tipis rata dan tidak mudah robek.

Berbekal informasi tersebut, bekerja keraslah saya menguleni adonan supaya kalis.

Sampai disini masalah timbul.  Kenapa setelah sekilo tepung masuk adonan masih lengket di tangan ya? Teksturnya masih basah.  Dilanda bingung, saya masih punya 3 pilihan (1) fifty-fifty (lanjutkan atau berhenti), (2) ask the audience, (2) phone a friend.  Pilihan kesatu saya abaikan karena sudah terlanjur basah bikin donat.  Sebetulnya lebih tepat ‘terlanjur lengket’ kena adonan.  Pilihan kedua juga membuat saya ragu karena di rumah ini hanya ada dua audience, yaitu anak kelas 3 SD yang sedang asyik nonton VLOG di tab-nya dan seekor kucing pemalas yang hanya bangun kalau mendengar saya membuka kaleng makanannya.  Tidak ada pilihan lain kecuali phone a friend.  Adegan berikutnya tampaklah saya sedang curhat semi panik ke sepupu saya di seberang telepon.  Saran yang saya dapatkan setelah dia memastikan bahwa resep saya sesuai hukum yang berlaku yaitu ,”Tambahi lagi tepungnya dik”.  Haah?! Ok, untung saja masih ada stok tepung sekilo.

Setelah hampir satu jam berjibaku menguleni adonan, disertai tetesan keringat yang membuat donat saya dijamin lebih gurih, membanting-banting adonan pakai jurus pendekar mabok, dan tercampur hampir dua kilo tepung akhirnya adonan kalis juga (Gak salah nih hampir dua kilo tepung? Sayangnya enggak….) #introspeksidiri.

Ternyata lamanya menguleni ini membawa masalah baru.  Adonan menjadi terlanjur mengembang/terfermentasi.  Cirinya bagian dalam kalau dibuka tampak berserat.  Halaah, maju terus pantang mundur.  Artinya adonan tidak perlu lagi ditutup serbet agar mengembang.  Dengan harap-harap cemas saya bagi adonan menjadi bulatan-bulatan sebesar bola ping-pong (atau lebih besar agar adonan cepat habis).  Sempat ganti metode pas bikin bulatan-bulatan.  Saya pakai mulut gelas untuk mencetak donat agar ukurannya sama.  Tapi ternyata bukan soal ukuran, karena antrian terakhir pasti sudah lebih berongga dan mudah membesar saat digoreng.

img_20170207_112804
Berdesakan di wajan kecil 😦

Penggorengan dan minyak goreng disiapkan dan kompor dinyalakan.  Pada tahap ini saya berpacu dengan waktu karena semakin lama proses berjalan maka adonan akan semakin mengembang.  Secara keseluruhan sebelum digoreng donat saya mengalami tiga kali kesempatan berfermentasi, yaitu saat kelamaan diuleni, saat antri akan digoreng, dan saat digoreng.  Yah begitulah, saat digoreng donat saya membesar memenuhi wajan sehingga saya harus ganti wajan yang lebih lebar.

Akhirnya perjuangan dari pukul 9.00 hingga pukul 11.00 berbuah manis.  Eh, maksud saya berbuah donat.  Hmm… kurang tepat juga ya, donat bukan buah.  Ah, sudahlah.  Donat pertama menampakkan warnanya yang kuning kecoklatan seakan menyapa saya dengan senyum terkembang (iyalah donatnya menjadi sangat gendut, baca: mengembang).

img_20170207_112210
Taraaa… donat pertamaku, cantik kaan 😉

Pegalnya tangan yang rasanya hampir kram terbayar sudah.  Dari resep diatas, dengan hampir dua kilo tepung, dihasilkan 30 buah donat yang gendut-gendut.  Demikianlah, anak-anak, maafkan ibu ya, untuk beberapa hari ke depan kita akan makan donat pagi siang malam.  Hihihi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s