Eating, tracking, and photographing: Part 3

Waroeng Kopi Borobudur, Rumah Kamera, dan Candi Borobudur

Dawet Ayu Banjarnegara bertemu Ikan Beong Sungai Progo di Waroeng Kopi Borobudur

Setelah puas berfoto dan makan minum sekedarnya, kami meninggalkan Desa Giritengah menuju Waroeng Kopi Borobudur.  Sesuai urutannya, setelah trekking, foto-foto tentunya dilanjutkan makan alias eating.  Tiba warung tepat waktu makan siang pukul 12.20.  Sebelum makan kami disuguhi dawet ayu banjarnegara yang dipesan khusus untuk stand by disana menunggu kami.  Dawetnya boleh pilih rasa durian atau nangka.  Menu makan siang kali ini masih dengan kekhasan Magelang yaitu mangut ikan beong.  Ikan asli sungai Progo yang membelah Kabupaten Magelang ini rasanya mirip lele tapi dagingnya lebih tebal dan tidak menyisakan aroma lumpur seperti lele.  Sayur lain yang disajikan adalah tumis daun papaya, tumis batang talas, lodeh, tempe goreng, dll.  Minumnya air kendi yang menyegarkan.  Betul-betul menyatu dengan alam.

Warung Kopi Borobudur, Ishoma.  Ikan beongnya muanteep :)
Warung Kopi Borobudur, Ishoma. Ikan beongnya muanteep 🙂
Semua selera ada disini, yummyyyy.... hehehe
Semua selera ada disini, yummyyyy…
Mas Dawet Banjarnegara yang khusus diboyong dari tempat mangkalnya.
Mas Dawet Banjarnegara yang khusus diboyong dari tempat mangkalnya.
Yang ini suguhan buat telinga, alunan tembang dan gamelan bikin tambah lapar, eh, ngantuk :))
Yang ini suguhan buat telinga, alunan tembang dan gamelan bikin tambah lapar, eh, ngantuk 🙂
Suasana asri Warung Kopi Borobudur
Suasana asri Warung Kopi Borobudur

Kami makan di teras terbuka dengan iringan gending jawa dan nyanyian mbak sinden yang sesekali terputus karena si mbak sedang telponan.  Sementara itu semakin siang di halaman warung sedang parkir beberapa dokar yang mampir mengantar wisatawan tilik deso makan siang setelah mengitari desa-desa di Kecamatan Borobudur.  Setelah istirahat makan dan sholat, perjalanan dilanjutkan ke Rumah Kamera di Jalan Majaksingi.

Bermain-main dengan efek kamera

Tidak jauh dari Waroeng Kopi terdapat Rumah Kamera.  Tiba di sana kurang lebih pukul 13.30.  Kompleks rumah kamera terdiri dari dua bangunan utama.  Pertama adalah bangunan berbentuk kamera DSLR dan disebelahnya bangunan dengan banyak spot berfoto, surganya para selfier.  Karena waktunya sudah mepet, hanya bangunan kedua yang kami kunjungi.  Itupun tidak semua spot sempat kami kunjungi.  Sayang yaa.  Pada kesempatan lain sepertinya tempat ini bakal jadi tujuan wisata yang must be visited deh.

The real 'rumah kamera'
The real ‘rumah kamera’
Trapped !!!
Trapped !!!
"Ampuuuun...!"
“Ampuuuun…!”
Giant and liliput :)
Giant and liliput 🙂
Ikonik :D
Ikonik 😀 (don’t take it seriously)

Ada Manohara di Borobudur

Kunjungan berikutnya ke Candi Borobudur bisa juga disebut wisata edukasi karena ditemani pak Fatah, staf kecamatan Borobudur yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata.  Jadi bisa puas tanya-tanya tentang candi, kuil atau monumen Budha terbesar di dunia ini.  Pada setiap lantai candi beliau memilih tempat yang strategis di sekitar relief yang akan beliau jelaskan.  Sebelumnya beliau juga menjelaskan secara umum gambaran bangunan candi melalui miniatur candi yang ada di lobby hotel Manohara.  Relief-relief yang dipahat dan dipasang untuk Borobudur merupakan masterpiece, artinya selain hanya ada satu, tidak boleh ada sedikit pun kesalahan pada saat pembuatan relief.  Kalau terjadi kekeliruan karena salah ukuran atau salah desain maka pahatan tersebut akan dihancurkan dan dibuat lagi yang baru.  So perfect.

Serius bersama pemandu wisata kami.
Serius bersama pemandu wisata kami.
Jangan serius2 laaah... gak pakai ujian kok. Hihi..
Jangan serius2 laaah… gak pakai ujian kok. Hihi..

Bangunan warisan budaya ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar.  Dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.  Secara keseluruhan, bangunan candi ini seperti buku terbuka yang membawa pesan perjalanan manusia dari jiwa terendah yang diliputi nafsu duniawi (Kamadhatu), kemudian ranah wujud (Rupadhatu), hingga ke puncaknya berupa ranah tanpa wujud (Arupadhatu) dimana manusia melepaskan dirinya dari keinginan terhadap dunia.  Untuk bisa memahami setiap cerita dan pesan tersebut perjalanan mengitari candi ini pada setiap tingkatnya diawali dari sisi timur melingkari bangunan searah jarum jam dan diakhiri pada sisi kanan pintu masuknya.  Gambaran tentang relief candi Borobudur dapat diintip disini.

The world heritage, Borobudur temple.
The world heritage, Borobudur temple.

Bagian menarik yang jarang diceritakan terkait Borobudur adalah kisah Manohara.  Manohara yang kita tahu — tepatnya yang saya tahu — selama ini ya Manohara Odelia Pinot, artis Indonesia.  Kalau ini kisah Sudhana dan Manohara pada salah satu deretan relief candi Borobudur.  Manohara adalah putri bungsu Druna, Raja Kinnara di Negara Pancala yang subur makmur dan tentram kehidupannya. Manohara berbentuk setengah manusia separuh burung dan mempunyai kekuatan untuk merubah dirinya menjadi perempuan cantik dengan suara indah.  Yang menikah dengan pangeran Sudhana, putra Raja kerajaan Selatan yang bengis dan kejam terhadap rakyatnya.  Kisah cinta mereka berakhir dengan bersatunya kerajaan Utara dan Selatan yang sebelumnya bermusuhan setelah direbutnya tahta kerajaan Selatan oleh pangeran Sudhana dari ayahandanya.  Singkatnya seperti itu, versi panjangnya bisa dilihat disini.  Nama Manohara sendiri saat ini diabadikan untuk pusat studi Borobudur.  Di kawasan tersebut juga berdiri hotel dengan nama yang sama, Hotel Manohara.

Relief Manohara saat terbang melarikan diri pulang ke kerajaan ayahandanya di Utara Negara Pancala.
Relief Manohara saat terbang melarikan diri pulang ke kerajaan ayahandanya di Utara Negara Pancala.
Manohara, center of Borobudur study.
Manohara, center of Borobudur study.
Wisata Andong Tilik Deso, unggulan taman wisata Borobudur.
Wisata Andong Tilik Deso, unggulan taman wisata Borobudur.
Ngandong menuju candi Mendut.
Ngandong menuju candi Mendut.
Mengabadikan momen :)#modus
Numpang ngetop, hihi.

Kesorean di Ketep Pass

Akhirnya sudah sangat sore saat kami meninggalkan kawasan candi dengan naik andong menuju candi Mendut.  Setelah sholat Ashar di mushola terdekat dan belanja oleh-oleh kain dari penjaja yang banyak terdapat di halaman candi Mendut, kami berangkat menuju Ketep Pass.  Gerimis yang menjadi hujan deras menjadi teman sepanjang perjalanan menuju lereng Merapi itu.  Untungnya saat di atas hujan sudah reda walaupun kabut menghalangi pemandangan pegunungan.  Seandainya kami datang lebih awal, pihak pengelola tempat wisata Ketep Pass sebetulnya akan menyambut kami dengan menyajikan film berupa sejarah dari Gunung Merapi yang meliputi peristiwa terbentuknya Gunung Merapi, jalur-jalur pendakian,penelitian di puncak Garuda, letusan dahsyat Gunung Merapi, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam rentetan waktu tertentu. Durasi dari film ini cukup pendek, hanya sekitar 25 menit.  Di lokasi wisata tersebut juga terdapat museum vulkanologi yang didalamnya terdapat miniatur gunung Merapi.  Yah, terpaksa gigit jari, eh gigit jagung bakar karena sudah pada tutup saking padatnya jadwal acara.  Semoga kapan-kapan bisa seharian di Ketep Pass.

img_20160903_173610
Njagung mbakar di jalanan Ketep Pass.

Akhir kata, itulah rangkaian acara BoSoLo le Tour and Heritage Borobudur 2016 yang bisa saya sajikan di tulisan Bagian 1,Bagian 2, dan yang ketiga ini.  Pelajaran yang bisa saya dapatkan diantaranya adalah candi Borobudur itu bukan terletak di Yogyakarta, melainkan di Kabupaten Magelang :)).  Selain itu di Magelang ternyata banyak sekali tempat wisata menarik yang potensial untuk dikembangkan baik wisata alam, kuliner, sejarah, edukasi, dan hiburan.  “Bravo Magelang, semoga semakin makmur dan maju”.

Viva BoSoLo :)
Viva BoSoLo 🙂

 

 

Advertisements

One thought on “Eating, tracking, and photographing: Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s