Uneg-Uneg Sambil Ngopi Pagi

Membaca media Al Falah edisi terbaru yang tergeletak di meja kerjaku pagi ini kok bikin tergoda ingin menulis ya? Yang berkenan membaca monggo dilanjut membaca, dengan pesan bahwa tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi atau sejenisnya. Just uneg-uneg… 😉

Yang pertama adalah tulisan Tjahyadi Takariawan tentang ‘Saat Didera Rasa Jengkel Kepada Pasangan, Ini Yang Harus Anda Lakukan‘.  Tulisan dengan tema tersebut saya kira sudah sangat umum. Yang perlu dibahas adalah ‘Bagaimana Merespon Rasa Jengkel Pasangan Dengan Bijak’. Jadi, jangan how to deliver our angry wisely alias cara menyampaikan saja yang diberi solusi, tapi respon yang baik dari pasangan tidak kalah penting kalau tidak boleh dikatakan lebih penting.

Kalau dipikir sih, inilah bentuk fenomena yang umum kita jumpai di Indonesia. Kotak saran dan pengaduan ada dimana-mana, tapi tanggapannya nyaris tidak ada. Diintip isinya itu pun masih untung-untungan. Atau malah kunci gemboknya sudah hilang. Dibukanya itu pun pada saat si kotak akan dialihfungsikan menjadi kotak amal *ngarangabis*.  Temuan-temuan dalam suatu mekanisme evaluasi di dalam institusi malah seringkali menguap entah kemana berita acaranya. Tidak ada kelanjutan. Lantas bagaimana akan ada perbaikan? Miris. Hasilnya adalah ‘jengkel’ dan ‘kecewa’ yang semakin menumpuk karena tidak ada follow up.

Jadi bapak Tjahyadi, saya sangat menunggu tulisan tentang itu *nunjuk ke paragraph atas*.

Tulisan lain di lembar berikutnya adalah ‘Haruskah Istri Berbakti Pada Mertua‘ oleh M. Abduh Tuasikal. Kesimpulan akhir atas pertanyaan retoris pada judul tersebut adalah harus. Ini kalau mau jadi istri sholihah lo ya.

Tulisan sejenis ini pun sudah jamak mengisi berbagai media disertai dalil-dalil pendukungnya. Tentu bagus, karena biasanya yang saling sewot adalah mertua (perempuan) dan menantu perempuan (sesuai dengan tajuk besar pada Al Falah edisi ini, ‘Konflik Mertua Menantu, Bagaimana Mengakhirinya’). Saya bukan aktivis persamaan gender.

Tapi, setelah bolak balik menelisik tiap lembar majalahnya, timbul pertanyaan berikutnya kenapa semua judul menunjuk pada menantu perempuan? Lalu kenapa tidak ada satu baris pun yang menyinggung potensi konflik mertua dan menantu laki-laki? Seperti ‘Haruskah Suami Berbakti Pada Mertua’. Apakah:

  1. Menantu laki-laki tidak harus berbakti pada mertua alias tidak mempengaruhi label kesholihan yang bersangkutan (duh, masak iya sih? Citation is needed),
  2. Mertua dan menantu laki-laki bebas konflik
  3. Mertua lebih toleran apabila konflik ditimbulkan oleh menantu laki-laki
  4. Mertua dan menantu laki-laki boleh berkonflik (yang artinya konflik antara mereka bukanlah suatu masalah yang perlu ditulis maupun dicari solusinya).

Hanya saja sejauh yang saya pahami, mertua dan menantu laki-laki sama-sama manusia yang punya peluang berkonflik walaupun mungkin prosentasenya lebih kecil. Mengacu pada pendahuluan sebuah tulisan di dalam majalah yang sama, konflik mertua dengan menantu perempuan seringkali didasari karena keduanya mencintai orang yang sama, yaitu si anak laki-laki yang punya peran baru sebagai suami.

Kalau mau adil, anak perempuan yang saat ini berperan sebagai istri harusnya mendapat cinta yang sama besar dari pasangannya dan orangtuanya. Pertanyaan berikutnya, apakah anak perempuan setelah menikah tidak lagi menjadi sumber cinta orangtua sehingga tidak ada potensi rebutan perhatian dari si anak perempuan pasca menikah? Hahaha, malah nggladrah… Semoga ada penjelasan seimbang yang disertai dalil-dalil juga. Begitulah 🙂

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

2 thoughts on “Uneg-Uneg Sambil Ngopi Pagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s