Cosmetics and The Beginners (Part 1): Trial and (Often) Error.

Derita, eh, cerita ini akan saya bagi menjadi tiga bagian saking membosankannya panjangnya. Bagian pertama berisi latar belakang, bagian kedua tentang sesi belanja, dan bagian ketiga tentang praktek makeup.

Latar belakang ceritanya sih sederhana saja, yaitu termotivasi dari bagaimana caranya agar tidak terjerumus pada pembohongan publik dengan menyebarkan foto diri yang mengandung fitnah (kata-kata fitnah ini kok terkesan keji ya? Wkwkwk).

Paham kan, jaman sekarang semua kamera handphone menyediakan fitur photo editing, membuat wajah makin alus mulus cerah tanpa noda (menurut kamus kecantikan yaitu wajah yang flawless). Pokoknya kamera yang sangat memahami kebutuhan perempuan lah. Bahkan semakin face upgradedable sebuah kamera handphone maka makin mahal pula harganya. Belum lagi sejuta aplikasi photo editors yang tersedia gratis siap unduh dari google play store.

Sebelumnya saya sudah kenal dengan sebuah software genome editing, nah, ternyata wajah juga bisa diedit. Setidaknya kan tidak keluar biaya untuk oplas ya…:D (amit-amit kalau ini mah). Hasil foto yang lebih indah dari aslinya ini menjadi tantangan buat saya.

Mestinya bisa dong upgrade wajah seperti di foto ituh (istilah upgrade ini lama-lama kok terdengar seperti upgrade komputer atau kendaraan *mikir*). Iya tahulah kalau caranya dengan rajin perawatan wajah seperti facial, dermabrasi, sampai peeling, tapi cara instan berikut boleh juga dicoba, yaitu makeup (baca, membuat naik, terminologi kecantikan untuk istilah upgrade, menurut saya).

Modal makeup standar yang saya miliki sampai menjelang awal umur 40-an ini adalah pelembab sekaligus tabir surya.  Yang juga berfungsi sebagai alas bedak ringan (karena sewarna kulit yang membantu covering fleks usia 40-an).  Yaitu BB krim Kitoderm yang saya beli dari teman dokter.  Dan bedak padat alias TWC Wardah Exclusive Series. That’s all.  Hingga pada suatu hari saya tertarik membeli lipstik Wardah nude series di toko Watson, Plaza Pondok Gede pas mudik ke rumah ortu dua tahun lalu. Tertariknya sih karena label nude itu, maksudnya kalau pakai lipstik ini tetap tidak terlihat seperti memakai lipstik (lah, jadi tujuannya apa dong? *mikirlagi*). Hahaha…

Pada prinsipnya saya tidak ingin dandan berlebihan walaupun kata berlebihan ini sensenya bisa beda untuk masing-masing perempuan. Saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh karena rawan konflik seperti di daerah konflik (apasih?). Dan mengapa Wardah? Jujur saya kemakan iklan yang brand ambassador-nya Inneke Koesherawati dan Dewi Sandra ini. Melihat penampilan mereka yang anggun dan wajah terawat dengan dandanan natural (kecuali pada bagian lipstiknya jeng Dewi Sandra) membuat saya membayangkan sosok muslimah yang segar, enak dipandang (bukan bikin napsu lo ya), dan tidak kusam. Suatu perpaduan yang ideal kan, when inner meet outer beauty. Begitulah alasan saya memilih merek Wardah selain label halalnya sebagai alasan pertama tentunya.  Tapi sumpah ini bukan karena di-endorse ya, walaupun ngarep banget 😀

Kembali pada lipstik pertama saya. Saat itu di Watson tersedia empat pilihan warna. Dan tentu saja saya memilih warna yang paling miriiiip dengan bibir saya. Rasanya saat itu no.02 lah (blushing nude) yang paling nude versi saya. Walaupun setelah dicoba kok tetap seperti pakai lipstik ya, sepertinya lebih cocok yang no.03 (peach perfect). Padahal milihnya saja hampir setengah jam sampai anak saya protes karena lapar *maaf ya nak*. Wardah Intense Matte Nude Series no.02 ini bikin bibir saya lebih pinky, yaah judulnya saja blushing walaupun ada nudenya. Agak nyesel sih walaupun gak sampai guling-guling di lantai, karena toh harganya sangat terjangkau, gak sampai 50 ribu. Ternyata warna lipstik saat diaplikasikan di bibir bisa sedikit berubah karena perbedaan warna dasar bibir atau undertone masing-masing pemakai (kalau demam jadi makin merah kali ya?). Hmm, bahasanya sudah berasa beauty blogger aja, hehe… *beautybloggergadungan*.

Baiklah, akhirnya lipstik pertama ini sangat jarang dipakai, khawatir banyak yang tidak mengenali saya lagi alias pangling.

Lipstik berikutnya saya beli tahun lalu di situs jual beli OLX. Berawal dari cari tanah kavling, tersesatlah saya di rubrik makeup. Tersesat yang amat sangat jauh dan tidak nyambung. Eh disana ada yang jual refill bedak Wardah Exclusive no.02 seperti yang saya pakai yang kebetulan sudah hampir habis.

Bedak refill ini dijual dijual sepaket dengan Wardah Exclusive Matte Up Cream no.03 (see you latte) second seharga 50 ribu karena pembelinya salah pilih warna. Murahlah, karena refill bedak yang baru harga normalnya 50 ribu. Ini kan bonus lipstik yang warnanya boleh dikatakan cocok dengan yang saya inginkan, peach. Saking peachnya sampai bibir kelihatan pucat saat memakai lipstik ini. Sayang sekali karena sifatnya yang matte, bibir saya yang kering jadi semakin pecah-pecah karena lipstik ini. Sehingga pemakaiannya harus dialasi lipgloss (akhirnya beli lipgloss bening seharga 23 ribu, Wardah juga). Tujuannya bukan untuk membuat bibir berkilau glossy, tapi untuk melembabkan saja. Ilmu baru nih.

IMG_20180917_154013.jpg
Pernak pernik wajah dan bibir. My daily stuffs actually cuma bedak dan BB krim.

Kalau sebelumnya ingin memperbaiki penampilan bibir, sekarang giliran mata yang jadi sasaran. Masih gara-gara iseng ngintip rubrik makeup di OLX jadi tertarik dengan eyeshadow La Tulipe warna natural no.11 yang harganya sangat terjangkau kocek, 15 ribu saja. Kirain harga eye shadow itu sampai ratusan ribu, makanya begitu ketemu yang lima belas ribuan langsung acece beli walaupun gak tau kapan dipakainya 😀 (ini kalap atau gak tau ya?) *gakjelas*.

Masih seputar mata, alat make up berikutnya yang saya miliki adalah eyeliner dan pelentik bulu mata *wkwkwkwk*. Kalau ini murni ikut-ikutan kakak sepupu saya yang sudah terlebih dulu upgrade penampilan dengan menambahkan eyeliner hitam di tepi kelopak mata atasnya. Kemudian sudutnya dilukis agak terangkat gitu seperti mata kucing (gaya retro, pin up) untuk mengurangi kesan kuyu pada mata.

Sebetulnya untuk urusan mata ini saya sudah punya celak hitam berbentuk serbuk dapat dari oleh-oleh tetangga pulang haji yang sudah lama jadi pengangguran di wadah kosmetik saya. Celak ini bisa dimanfaatkan sebagai eyeliner, tapi aplikatornya yang keras dan serbuknya yang tidak merata membuat saya frustasi karena tidak berhasil membingkai mata dengan bagus. Hasilnya malah bleber kemana-mana memberi kesan sembab kurang tidur *gagaldandan*.

Akhirnya, setelah eksperimen gagal tersebut, terbelilah Pixy eyeliner pencil warna hitam seharga kurang dari 40 ribu (lupa pastinya berapa) karena belum terlalu nekat untuk membeli eyeliner cair. Menurut mbak SPG yang didukung kakak sepupu saya, merk Pixy ini cocok buat pemula karena mudah diaplikasikan (underline, pemula…hiks, orang lain sudah sampai bulan kali).  Masih berhubungan dengan mata, kakak sepupu saya menyarankan saya untuk sekalian membeli alat pelentik bulu mata seharga 15 ribu rupiah.

Alkisah, eyeliner ini merupakan salah satu alat kecantikan yang sudah ada sejak tahun 10.000 SM pada peradaban Mesir Kuno (Mesopotamia) dan digunakan sebagai penangkal roh jahat serta melindungi mata dari Dewa Matahari. Kosmetik mata ini mungkin kemudian berkembang menjadi celak yang mengandung bahan-bahan yang membantu kesehatan mata. Di dalam agama Islam, memakai celak alias eyeliner ini adalah sunnah.  Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum berani memakai eyeliner untuk keluar rumah karena wajah saya jadi kelihatan ‘lain’ *sigh*.
IMG_20180917_154710.jpg
Pernak pernik buat mata yang nyaris belum pernah dipakai kecuali buat trial yang banyak errornya *hiks*

Dari semua pengalaman saya berinteraksi dengan alat-alat kecantikan, satu hal yang bisa saya simpulkan yaitu ribet (pakai bold, italic, warna merah pulak).

Bayangkan kalau sudah dandan lengkap, mau ngucek mata kuatir eyeliner atau eyeshadow bleber, mau minum harus atur posisi bibir agar tidak meninggalkan bekas lipstik (saya sering geli lihat bekas lipstik orang di gelas atau sedotan). Belum lagi semuanya bakal bubar kena air wudhu. Walaupun setelah sholat bisa dandan lagi tapi itu kan samasekali tidak praktis dan takes time. Memang ada sih kosmetik yang waterproof, tapi kan jadinya menghalangi kulit dengan air wudhu. Mungkin saya yang kurang ilmu atau bagaimana, tapi nyatanya petualangan Si Pemula ini terus berlanjut ke bagian 2.

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s