Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.

Diawali dari ngobrol-ngobrol dengan seorang sejawat kantor tentang mahasiswi-mahasiswi kami yang Ilmu Pengetahuan Kosmetiknya (IPK) lebih canggih dibanding kami, saya bermaksud hunting alat makeup lagi di OLX. Berbarengan dengan itu malah menemukan iklan kursus self makeup. Biayanya murah, pertemuannya sekali saja dengan biaya per orang 50 ribu dan durasi 2 jam. Thanks God, there is a will there is a way, Engkau tunjukkan jalan yang lurus daripada kami coba-coba sendiri malah salah jalan. Begitulah awal bagian kedua dari pengalaman saya berinteraksi dengan kosmetik.

Kursus ini sifatnya private group, jadi gurunya yang datang ke tempat kami. Kalau hanya satu orang biayanya disesuaikan lagi dengan jarak tempuh si mbak tutor. Awalnya hanya berdua, jadi agar lebih seru kami tawarkan ke teman-teman terdekat.  Dan ternyata disambut dengan antusias hingga terekrutlah kami berlima. Saya, mbak Danik, Nurul, Nita, dan Nuretha, yang notabene semuanya adalah very beginners dan sangat awam dalam hal per-makeup-an.

Berikutnya untuk dapat mengikuti kursus singkat ini dengan baik kami memerlukan beberapa alat dan bahan makeup yang – tentu saja – tidak semuanya kami punyai. Beberapa bahkan baru saya dengar namanya. Berikut alat dan bahan yang saya beli merujuk pada alat dan bahan yang sudah saya miliki:

  1. Primer makeup. Saya kira hanya proses amplifikasi DNA saja yang memerlukan primer, ternyata untuk makeup juga perlu primer *OhGod*. Berarti ada sekunder makeup dong? Iya betul. Primer ini diaplikasikan paling awal setelah diberi pelembab dan sebelum alas bedak, sehingga alat bedak menjadi lebih tahan lama karena primer membantu menahan minyak di wajah. Selain itu, primer mampu mengisi pori-pori di wajah sehingga tampilan make up lebih smooth dan flawless *pengen*. Secara umum fungsinya adalah untuk mempersiapkan dan melindungi wajah sebelum menerima bahan makeup yang jahat berikutnya. Setelah konsultasi dengan mbak Chika, sang tutor, kami memutuskan membeli primer merk Make Over (udah halal juga loh). “Lebih baik beli di toko Raya karena lengkap,” kata mbak Danik. Akhirnya terdamparlah saya di toko itu. Betul-betul super lengkap. Sebut saja merek kosmetik tertentu, pasti ada disana. Dari yang paling abal-abal sampai yang paling terkenal, dari yang eceran sampai grosiran.
    Alat-alat makeup disana lengkap. Di satu sudut ada kuas dan puff dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran yang sebagian baru saya lihat saat itu. Ckckck, betapa untuk urusan wajah saja perlu toko selengkap dan sebesar ini. Akhirnya daripada kesasar ke counter yang aneh-aneh, saya tanya saja ke salah satu SPG letak counter Make Over. Sampai di depan counter Make Over dengan pedenya saya sampaikan mau beli primer makeup:
    
    Saya (A) : mbak, beli primer make up (senyum pede)
    SPG (B) : yang mana mbak, ini ada 3 primer, atau beli tiga-tiganya?
    A : err…emang harus dipakai semua ya mbak? Kayaknya pesannya satu saja kok mbak (mbak Chika gak bilang tiga)
    B : (nunjukin brosur) ini ada serumnya, base makeup, dan velvet
    
    
    IMG_20180916_130003
    Buku katalog yang disodorkan mbak SPG *makinbingung*
    
    A : (makin bingung) saya potoin deh mbak, ini soalnya pesenan, saya tanyakan dulu (bo’ong dikit)
    
    Akhirnya foto brosur itu saya konsulkan ke mbak Chika yang kemudian menjelaskan bahwa pemakaiannya disesuaikan dengan jenis kulit. Primer hydrating untuk kulit kering, velvet untuk kulit berminyak, dan corrective base untuk kulit yang warnanya gak rata (semacam belang mungkin? Tapi bukan belang telon kan? *meouw*). Atau kalau kurang jelas ditanyakan ke SPGnya aja. Demikian penjelasan mbak Chika. Got it. Balik ke counter sambil berdoa agar SPGnya gak bosan dan berubah jutek saat saya tanya-tanya.
    
    A : mbak, kulit berminyak pakai velvet ya? Trus ini ada fleks juga, perlu pakai corrective base?
    B : pemakaiannya berurutan mbak, hydrating dulu, trus corrective baru kemudian velvet. (kemudian menjelaskan fungsinya masing-masing, bla bla bla)
    A : bisa untuk pemakaian sehari-hari kan mbak? Bukan buat ke kondangan aja maksud saya.
    B : bisa mbak, untuk tampilan kulit yang lebih halus dan bedaknya awet.
    
    (Si mbak SPG kemudian menjelaskan kalau sehari-hari dia memakai corrective hijau untuk menutupi bagian yang berjerawat walaupun fungsinya bukan untuk memudarkan warna seperti concelear. Kalau untuk kulit gelap tapi merata pakai corrective yang ungu).
    
    A : (waduh, pusing pala berbi ini sih, harus diputuskan sendiri nih) Ya udah karena ada fleks dan berminyak saya beli corrective dan velvet. 
    B : gak sekalian hydrating serumnya mbak?
    A : (tegas) ndak mbak, dua aja (sambil mikir harganya, velvet 89 ribu, corrective 79 ribu).
    Total yang harus saya bayar untuk dua primer ini adalah 151.200 rupiah, sudah termasuk diskon 10%. Rogoh kocek dalam-dalam.

    IMG_20180917_104456
    Finally, two primers!
  2. Foundation dan pensil alis. Pilihannya kalau ndak Wardah ya Make Over. Dengan pertimbangan budget, saya pilih Wardah yang saya beli di gerai Wardah saat jalan-jalan di CFD. Sekalian beli pensil alis coklat yang tutupnya dilengkapi sikat alis. Pertimbangan membeli warna coklat ini karena saya sudah punya eyeliner hitam. Saya pikir pensil alis dan eyeliner fungsinya bisa saling menggantikan. Mestinya gitu ya, bentuknya aja sama, hehe. Untuk foundation dan pensil alis saya keluar uang kurang lebih 115.000 (persisnya lupa karena notanya hilang).

    IMG_20180917_104541.jpg
    Ini hasil belanja di Wardah CFD, foundation, pensil alis, dan TWC.
  3. Eyeshadow. La Tulipe no.11, masih baru dan utuh.
  4. TWC. Wardah exclusive no.02 tinggal setengah, tidak usah beli.
  5. Bedak tabur. Minta teman saja *hihi*.
  6. Kuas. Beli di Raya juga, satu set kuas yang fungsinya buat apa saja saya juga masih bingung. Sarannya mbak Chika, beli yang satu set. Harga 27.500. Done.
  7. Lipstik. Punya 2, walaupun keduanya jenis matte, nanti diaplikasikan dengan lipgloss agar bibir lembab. Untuk lipstik jelas tidak usah beli.
  8. Eyeliner. Pixy warna hitam.
  9. Blush on. Katanya sih lipstik bisa diakali buat blush on. Atau salah satu warna di eyeshadow kan ada yang kemerahan, itu saja deh dinego buat blush on. Hehe.

Akhirnya, niat banget ya belanja kosmetiknya :D. Saking niatnya, sampai salah seorang teman saya curiga saya kesurupan si Manis Jembatan Ancol anak buahnya Nyi Roro Kidul pas kemping ke pantai selatan baru-baru ini.

So that, total belanjaan saya adalah 293.700 *jegring* (cashier machine sounds). Berikutnya, let’s go to the practice session.

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

5 thoughts on “Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s