Cosmetics and The Beginners (Part 3): Make Up Practice.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang petualangan bersama kosmetik, akhirnya saatnya praktek self make up tiba juga.  Kegiatan ini tidak bertujuan untuk promosi produk apapun, melainkan hanya sebagai sarana relaksasi pikiran diantara kesibukan berkantor dan bersekolah.  Dan yang terpenting adalah bisa berbagi sejumput ilmu baru (buat kami ini sih, hehe).  Bahwa pakai bedak juga ada ilmunya itu fakta.  Ingin tahu lebih banyak?  Yuk, maree….

Dengan ditemani rujak manis Semeru dan bolen pisang nan nikmat, berkumpulah kami berlima (dengan mbak Chika sebagai tutor) di rumah dik Nita yang sempat ketiduran gara-gara mundurnya jadwal (memang tidur siang di hari Minggu itu sangat worthy ya dik, hehe).

IMG_20180923_165622.jpg
Rujak, bedak, dan bolen di hari Minggu siang 🙂

Setelah semua alat dan bahan yang kami miliki dijembreng dan diidentifikasi, mulailah kami berperang melawan kemalasan dandan *lebay*.  Berikut tahapan self make up natural yang diajarkan mbak Chika (yang akhirnya bergeser menjadi self make up kondangan sesuai request mbak Danik):

  1. Cleansing.  Bersih-bersih ini wajib pakai susu pembersih dan penyegar.  Susu pembersih untuk membersihkan, sedangkan penyegar untuk mengangkat pembersih dan meringkas pori-pori.  Kalau bersih-bersih pakai facial foam ala saya kata mbak Chika kurang efektif *hiks*.  Sehingga saya yang belum pernah punya pembersih dan penyegar terpaksa minta ke tetangga sebelah *teteup*.  Nah, caranya aplikasikan susu pembersih secukupnya di lima titik wajah dan diratakan dengan pijitan lembut agar wajah lebih relaks dan peredaran darah lancar.  Nikmati pijitannya untuk membantu menghilangkan stress.  Kalau masih kurang relaks boleh dipijit agak lama tapi jangan sampai ketiduran *bataldandan*.  Jadi jangan diucek-ucek seperti selama ini ya.  Berikutnya usap dengan kapas yang sudah diberi penyegar dengan cara ditarik agak kesamping atas.  Walaupun bebersih dengan cleansing milk dan face tonic saja sudah cukup, tapi karena sudah kebiasaan, tidak sreg rasanya kalau belum dibilas air *hihi*.  Alhasil, setelah cleansing, kami masih cuci muka pakai air.
  2. Priming.  Maksudnya pakai primer make up.  Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya, kami memakai dua primer.  Pertama pakai cyanite corrective base make up untuk mendapatkan warna kulit wajah yang cerah merata.  Caranya ambil sebesar kacang tanah dan ratakan seperti biasa.  Berikutnya ambil velvet mattyfying primer sebesar kacang ijo untuk menyerap produksi minyak sehingga nanti dandanan terkesan matte.  Corrective base teksturnya seperti susu pembersih dan memberi rasa dingin saat diaplikasikan ke wajah.  Mattyfying seperti gel bening yang langsung meresap saat kita pakai.  Sebetulnya pakai salah satu saja cukup dan disesuaikan dengan jenis kulit untuk daily make up.  Tapi maklumlah ini lagi kemaruk, jadi kalau gak ingat isi dompet rasanya mau beli serumnya sekalian 😀
  3. Foundationing.  Sebetulnya sebelum memakai foundation, tambahkan concelear pada kulit yang warnanya tidak rata, misalnya bekas jerawat dan melasma.  Concelear ini warnanya lebih gelap dari kulit, tapi setelah ditutup foundation warnanya jadi rata lagi.  Caranya dengan memberi sedikit concelear pada bagian yang ingin ditutup kemudian ditaping (ditepuk-tepuk ringan dengan jari) hingga rata.  Baru kemudian aplikasikan foundation.  Ambil foundation (boleh yang krim maupun cair/liquid) sebesar kacang tanah, letakkan di lima titik wajah dan ratakan.  Jangan pindah ke sisi wajah yang lain kalau satu sisi belum rata.  Biar gak lupa meratakan kata mbak Chika.  Untuk foundation ini kami pakai milik masing-masing, kecuali saya karena warnanya terlalu gelap untuk kulit saya (Wardah liquid foundation exclusive, no.4, natural).  Harusnya pakai nomer 2, sheer pink.  Nomer 4 ini dipilihkan mbak BA di counter Wardah saat itu.  Tapi kok jadi gak yakin ya, jangan-jangan karena nomer yang tersisa tinggal itu aja, huhuhu *curiga*.  BA ini singkatan dari beauty advisor atau bisa juga beauty assistant, asal jangan beauty accounting (ini mah teman saya yang akuntan tapi pinter dandan ituh *iri*).  Karena sudah terlanjur beli, kata mbak Chika dijual seken aja, eh, bukaaan, itu mah pikiran saya.  Saran mbak Chika sih dipakai saja tapi di-cover dengan TWC dan bedak tabur yang warnanya lebih terang (kok kedengarannya seperti pakai topeng berlapis-lapis ya? *sigh*). Dan tips lebih lengkapnya bisa diintip disini.
  4. Powdering (bedak maksudnya). Saking groginya kami, cara memakai bedak pun sampai nanya dulu ke mbak Chika.  Jadiiii, bedakan itu dengan cara ditepuk-tepuk (pakai spon lo ya).  Diawali dengan bedak padat, selanjutnya bedak tabur.  Sekali lagi ini maksudnya agar riasan tampak matte alias doff (kayak kertas foto aja, hihi).  Sepertinya untuk urusan rias merias ini harus jauh-jauh dari kata berminyak ya.  Padahal pas akhir session nanti ditawari pakai shimmer, alias serbuk halus yang membuat wajah kita berkilau gitu.  Kalau ada, saya mau pilih shimmer yang glow in the dark ah, biar wajah tetap kelihatan walaupun mati lampu *idebagus*.
  5. Eyebrow drawing. Tibalah saat paling susah menurut sejarah perdandanan, yaitu menggambar alis.  Dan betul juga, menggambar sepasang alis ini perlu waktu hingga setengah jam dimulai dari mengoreksi bentuk, memberi batas (dengan teori 4 titik), mengarsir (ups, bener-bener pelajaran gambar), meratakan, dan cropping.  Jadi gak heran kalau ada cowok yang sempat menyelesaikan sekolah S2 sembari nungguin ceweknya nggambar alis.  Mengoreksi bentuk ini tidak kami lakukan dengan mencabut atau mencukur rambut alis karena tidak sesuai dengan kaidah dandan wanita Islam.  Jadi caranya dengan menutup bagian yang tidak rapi dengan sikat alis atau sikat bulu mata yang sudah dibubuhi foundation (lebih baik yang berbentuk krim) sampai tertutupi.  Kemudian tentukan 2 titik medial atas bawah, titik puncak alis (gunungan), dan sudut alis.  Setelah itu dibuat garis penghubung kecuali di bagian medial atas bawah.  Medial ini bahasa anatomist ya, maksudnya pangkal alis, hehe.  Selanjutnya diarsir tipis ke tebal dari pangkal ke ujung agar tidak seperti alis sinchan yang tebal dari pangkal hingga ujung yaa.  Ratakan dengan pangkal pensil alis atau sikat alis.  Terakhir, cropping atau rapikan dengan foundation seperti saat mengoreksi bentuk tadi.  Ini bisa dilakukan dengan jari, kuas yang bulunya tipis memanjang untuk menipiskan batas alis, atau memakai sikat alis asalkan bukan dengan sikat gigi maupun sikat WC *lho*.  Nulisnya gampang, prakteknya susaaah…. *keluhberkepanjangan*.  Tapi jangan putus asa, kalau sudah bisa dijamin puas seperti bisa tidur siang di hari Minggu 😀 (siap-siap ikut alis drawing challenge).  Lagipula, untuk daily make up cukup dilakukan koreksi dan arsir aja kok.
  6. Eyeshadowing.  Aplikasikan eyeshadow dengan jari manis.  Kalau kurang manis dicelup air gula terlebih dahulu *eh*.  Ternyata kuas mata itu dipakai biar kelihatan pro aja kata mbak Chika.  Eyeshadow lebih mudah dipakai dengan jari manis.  Saya belum mencoba bagaimana hasilnya seandainya pakai jempol atau jari lainnya.  Ok, nurut aja sama mbak tutor.  Bayangan/shadow yang dibuat diharapkan bisa membentuk mata agar lebih segar (padahal untuk ini biasanya saya pakai dry eyes drops *abaikan*).  Eniwey, sapukan warna paling pucat pada seluruh kelopak mata sebagai base eye shadow.  Kemudian bagian ujung luar ditimpa warna paling gelap dengan cara diratakan dan ditapping menuju tengah.  Bagian ujung dalam diberi warna keemasan hingga sudut kelopak mata bagian bawah.  Terakhir, aplikasikan warna paling terang pada tulang yang menonjol di bawah ujung alis.  Sebetulnya saya kurang puas dengan standarisasi penempatan warna ini, karena kurang cocok untuk mata saya.  Mata saya yang belok ini malah jadi kelihatan ngantuk (atau mungkin memang sudah ngantuk?).  Kapan-kapan saya akan bereksperimen dengan gradasi lain ah.
  7. Eyelinering.  Tantangan berikutnya adalah memakai eyeliner.  Kalau mau hasil yang soft, pakai warna coklat baik itu eyeliner liquid maupun padat (pensil).  Tapi karena hari semakin malam – acara ini dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.30 – jadinya kalau pakai coklat kurang kelihatan.  Akhirnya kami semua mencoba liquid eyeliner hitam (uff, beraninya).  Sebagian mencoba menambahkan wing agar tidak tembus, eh, agar apa yaa…yah eksperimen aja gitulah, kan sedang trend :D.  Cara memakainya, tarik sudut luar mata agak keatas untuk mengurangi kerutan pada kulit kelopak mata.  Kemudian aplikasikan eyeliner dari luar ke dalam (atau sebaliknya, bagaimana mudahnya saja) dengan sekali sapuan.
  8. Blush on. Memakai blush on ini harus sambil senyum maksimal, karena blush on nya diaplikasikan di tonjolan tulang pipi tertinggi saat kita senyum.  Caranya kuas blush on ditarik dari bagian luar ke dalam.  Saya sempat salah kaprah tidak menyediakan blush on karena saya kira eye shadow yang agak pink bisa multifungsi sebagai pewarna pipi juga.  Polosnya lagi, seorang teman malah memakai lipstik sebagai pewarna bibir, blush on, dan eye shadow sekaligus (ini ngirit atau gak tau ya), hehe.  Ternyata mereka dibedakan karena bahannya berbeda.  Pada kesempatan ini saya nebeng blush on krim punya teman saya.  Inginnya pakai metode penempatan warna yang berbeda, yaitu blush on panas dingin yang ditempatkan di pipi area bawah mata secara horisontal.  Entah kenapa namanya panas dingin, mungkin karena hasil tampilannya seperti orang sakit demam ya?  Cara memakainya, ditutul-tutul (kedengaran seperti macan tutul *mikir*) kemudian ditapping pakai jari sampai rata.
  9. Lipstik.  Terakhir, memakai lipstik.  Karena benda ini sudah familiar dengan kami, mbak Chika hanya berpesan agar warnanya disesuaikan dengan warna blush on.  Selain itu, kalau rias matanya sudah cukup berat, pakai lipstik yang warnanya soft.  Sebaliknya, kalau mau menonjolkan warna bibir, jangan pakai rias mata yang terlalu berat.  Nanti jadinya saingan antara mata dan bibir.  Trus kalau saingan dan gak ada yang mau ngalah kamu juga yang repot, iya kan…
Pause bentar, 9 langkah dandan ini sungguh-sungguh ribet (one and only word to describe how to make up is).

Dan, sebagai konsekuensi dari tulisan tentang tutorial make up, maka kami terpaksa mengunggah foto sebelum dan sesudah untuk membuktikan bahwa cerita ini bukan hoax, hehe.  Finally, here we are 🙂

velpicstitch20180925_091931
Ini hasil perjuangan dandan sendiri lho.  Cakepan mana sebelum dan sesudahnya? 😀

Demikian laporan seadanya dari kami para pemula yang baru berkenalan dengan kosmetik lengkap ini.  Terlepas dari ribet ndaknya, semoga tulisan ini bisa membantu kamu-kamu yang kebetulan tersesat di blog saya, menambah pengetahuan, yang setidaknya bisa sedikit tahu tahap-tahap dandan kalau mau ke kondangan.  Selanjutnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan.  Mau fokus ke wajah yang flawless saja atau ditambah riasan lain silahkan bereksperimen 😉

velpicstitch20180925_104207
Bersama mbak Chika. Thanks ya mbak ❤
IMG_20180925_094438.jpg
3 jam kemudian… yey, siap pergi kondangan (minus one) 🙂

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s