Don’t Give Up (by a-Linea8)

Kali ini boleh dong share video klip buatan sendiri 😀

(Don’t Give Up, video ini didedikasikan untuk dunia pendidikan Indonesia)

Sudah menyimak video klip di atas? Baiklah. Semoga otomatis klik gambar jempol keatas dan sapskreb, karena sapskreb itu gratis 👍😎

Sejujurnya saya bingung mau menulis sisi mananya:

  1. Lagunya
  2. Story boardnya, atau
  3. Pembuatan videonya

Akhirnya saya tulis semuanya saja ya, karena banyak kisah di balik pembuatan video ini, itupun sebagian besar sudah disensor 😉

Pertama, lagunya.

Lagu ini merupakan lagu ke-4 dari suami dkk. Tiga single pertama lirik dan lagunya ditulis oleh suami, sedangkan Don’t Give Up dibuat oleh mas Yusuf (beliau ini musisi asli, hanya saja saat ini nyambi jadi Camat di Kec. Salaman, Kab. Magelang). Semua vokalnya diisi mas Labbaika (yang punya sambilan jadi Camat Muntilan dan kadang-kadang terima order nyanyi di acara kawinan, eh…). Sementara suami dan mas Yusuf fokus di gitar akustik dan elektrik. Single pertama sampai ketiga silahkan disimak di channel mereka ya, buat nambah-nambah viewer, hehe…

Berikutnya tentang story boardnya.

Pada single ke-4, para siboekers ini ingin membuat video klip yang lebih seriyes, lebih bagus dan lebih pro. Begitu lagu selesai diaransemen oleh mas Adi, mulailah kita cari ide dan alur cerita yang pas untuk lagu ini. Pertama kali mendengar lagu ini saya langsung tahu bahwa lagu ini dibuat oleh mas Yusuf untuk mbak Niken, istrinya, karena kebetulan saya pernah terlibat chat panjang dengan mbak Niken. Tapi video yang bercerita tentang pasangan yang saling memberi semangat kan sudah terlalu umum. Akhirnya terbersit ide menampilkan tokoh ibu yang memberi semangat pada anaknya untuk menyelesaikan pendidikan dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Harapannya, ceritanya akan lebih universal dan menyentuh. Maka mulailah saya susun storyboardnya untuk didiskusikan bersama a-Linea8, crew cameramen (mas Hafid dkk, yang nyambi jadi guru), dan para talent. Fyi, tokoh utama dalam video klip ini diperankan oleh dik Novi, yang pernah jadi Duta Wisata 3 Kab. Magelang. Sehingga otomatis membuat impian saya menjadi tokoh utama buyar sudah (mimpi yang ketinggian, hiks). Didalam alur cerita sengaja saya sisipkan tokoh dosen, dengan harapan saya terpilih jadi dosennya. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi gagal casting, semua crew lebih setuju saya jadi emak berdaster, ibu dari tokoh utama. Yaah, apa boleh buat… nasib, kembali pada profesi asli. Walau demikian ada juga hikmahnya, suami membelikan daster tiga lembar untuk keperluan syuting video klip. Jadi, itu semua kostum yang dipakai emak adalah daster baru ya, belum sempat dicuci gara-gara waktu syuting maju sehari. Gara-gara maju sehari ini juga, beberapa talent gagal bergabung sehingga kami harus mencari talent dadakan. Diantaranya adalah mbak Yuli, dosen penguji 3, istrinya mas Labbaika. Untung semua rela iklas bersedia.

Terakhir tentang pembuatan video klipnya.

Memanfaatkan libur Pilkada, pengambilan gambar dimulai pada pukul 11, mundur 2 jam dari waktu yang direncanakan. Lokasi yang dipilih adalah rumah tokoh utama di daerah Kalinegoro, rental komputer, angkot kosong yang sedang lewat, kantor Kecamatan Borobudur, dan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Magelang. Sempat diwarnai insiden mati listrik saat akan mengambil adegan sidang skripsi, akhirnya seluruh pengambilan gambar selesai juga menjelang maghrib.

Akhirnya setelah 2 minggu menunggu, Alhamdulillah selesailah proyek video klip beneran ini. Terimakasih all a-Linea8 crews. Semoga banyak penikmat musik yang terhibur, sekaligus dapat mengambil pesan dari kisah yang disajikan. Buat kami, banyak sekali pengalaman dan pelajaran baru yang didapat selama pembuatan video ini. Inginnya sih bisa membuat karya yang lebih baik lagi untuk dunia musik Indonesia. Ternyata berkarya itu bikin keterusan ya 😃

Sebuah Sketsa Sunyi

Waktu itu aku dan kamu berjalan beriringan di sepanjang koridor.  Pantulan gerak langkah kita tergambar di pembatas yang terbuat dari kaca.  Di luar gelap, hanya purnama yang tampak meninggi, menjelaskan bahwa saat itu hampir tengah malam.  Kecuali beberapa lampu merkuri berjajar di lapangan parkir.  Menerangi beberapa mobil yang terdiam berjauhan.  Hanya alas kaki kita yang bergantian menyentuh permukaan lantai menimbulkan irama tak beraturan.  Ini karena langkahmu yang lebih panjang membuatku pontang-panting menyusulmu.

“Laporan hari ini sudah selesai aku buat.  Salah satu pasien di bangsal penyakit dalam dengan kondisi diabetic nephropathy mengalami kegawatan dan masuk ICU. Tadi aku juga meminta rawat bersama dengan sejawat spesialis jantung karena tekanan darahnya tiba-tiba naik tinggi sekali.”

Kamu menjelaskan tanpa aku minta.  Memecah senyap.  Walaupun mungkin kamu juga tahu bahwa bukan penjelasan itu yang aku tunggu.

“Iya, tadi Irene juga cerita ke aku.  Kalau-kalau dia ambil kasus itu sebagai morning report.”

Suaraku terdengar terengah karena hampir berlari mengiringimu.  Sedikit kaget, kamu pelankan langkah.

“Maaf, aku buru-buru. Tadi sore Ibu menelepon.  Mendadak tidak enak badan.  Setelah ini aku langsung ke Kemang.  Tidak pulang ke rumah.”

Dirimu berkata sambil menoleh kepadaku.  Mungkin juga baru menyadari kalau kakiku terlalu pendek untuk langkahmu yang tergesa.

Jadi, malam ini aku tidak perlu mengharap penjelasan apapun tentang diamnya padaku.  Baiklah.  Di ujung koridor kita akan berpisah.  Kamu menuju lapangan parkir.  Dan aku kembali ke bilik residen bedah, segera menenggelamkan diriku diantara jurnal-jurnal bahan morning report.  Tanpa kata kita mengambil jalan berbeda.  Aku kecewa.  Iya, sangat kecewa.  Seperti terbuang tak berarti.  Setelah semua kedekatan kita.

———-

Aku mematung di samping Brioku.  Memandang ke arah koridor yang tadi kami lewati.  Mencari bayangan dirimu yang memunggungiku.  Menghilang ditelan dinding-dinding rumah sakit.  Sedih dan sakit datang bersamaan secara tiba-tiba.  Aku angkuh, katamu.  Betul.  Aku egois.  Sangat betul.  Betapa aku sadari kebenaran predikat itu.  Tapi kamu juga harus tahu.  Aku begitu, agar kamu tidak menjadi terlalu sakit ketika saat itu tiba.  Kumasuki kabin Brio dan kuhempaskan punggung penatku di kursi pengemudi.  Pelan kutekan pedal gas meninggalkan lapangan parkir.  Membelokkan setir ke jalanan di samping Gedung Pendidikan.  Aku sedih, sangat sedih.  Saat tidak kutemukan bayangan dirimu yang memunggungiku.

———-

Berbilang bulan sudah sejak perpisahan kita di ujung koridor itu.  Yang setelahnya hanya membuatmu selalu menghindar.  Untung saja tidak ada alasan agar kita bertemu lagi.  Aku pun berjanji tidak akan lagi membuat pesan-pesanku menggantung di dunia maya.  Sekuat hati tidak akan lagi menyapamu saat kita berpapasan.  Sudah cukup.  Dulu itu yang terakhir.  Setelah sebelumnya hampir tidak ada jeda kita saling berkirim pesan.  Sesekali membuat janji bertemu di kantin rumah sakit.  Menceritakan ulang apa yang sudah kita tuliskan.  Rasanya jauh dari kata bosan.  Semua amat sangat menyenangkan.  Aku bukan tidak tahu bahwa ada perasaan berbeda.  Kamu bahkan sudah menyatakan, cinta dan sayang.

Hingga tiba-tiba datang hari itu.  Setelah mendampingi supervisor melakukan operasi hepatotomy pada seorang pasien kanker hati, kami bertemu.  Pertemuan yang tidak mungkin dielakkan di ruang operasi.  Seharusnya kita bersikap profesional kan.  Tapi tidak demikian denganmu.  Melihatku pun engkau tidak.  Aku seperti tidak ada.  Sakitnya sungguh luar biasa.  Bukan karena mengingat masa-masa itu.  Tapi perasaan terbuang tidak berharga.  Untung saja tidak ada kolega yang menyadari kecanggungan kami.  Setelahnya perasaanku berkecamuk.  Antara tersadar tentang sesuatu dan menolaknya sekaligus.  Aku bukan tidak tahu dia sudah berdua.  Aku menyadari percikan-percikan itu adalah romantisme sesaat.  Yang tidak bisa kita genggam selamanya.  Entah denganmu.  Kamu pernah mengatakan ingin terus menikmatinya.  Dan memilikinya seakan untuk selamanya.

Akhirnya, lelah hati ditambah lelah fisik menjalankan operasi delapan jam, membuat pertahananku untuk tidak berkirim pesan itu runtuh.   Entah nanti kau baca atau tidak aku tidak lagi peduli.

———-

Ruang operasi bersuhu hampir 10 derajat ini terasa sangat gerah bagiku.  Dia ada disana.  Begitu cantik.  Matanya begitu cerdas mengikuti seluruh proses operasi besar ini.  Tangannya begitu sigap menerima perintah-perintah dari supervisor.  Tapi mengapa rasanya aku ingin lari keluar saja.  Mencari oksigen di luar sana.  Gejolak perasaan ini rasanya nyaris melumpuhkan akalku.  Membuatku sesak mendadak.  Antara ingin merengkuh dan menjauh.  Tuhan, aku harus bagaimana.

Sejurus gawaiku memberi tanda pesan masuk.  Seperti biasanya spontan aku buka dan aku baca.  Tidak mungkin melewatkan pesan apapun saat kita menjalani pendidikan spesialis seperti ini.  Tapi ini pesan darinya.  Yang sudah lama sekali tidak aku terima.  Pesan yang tidak ingin aku baca tapi sekaligus sangat aku rindukan.  Pesan yang membuatku tersentak sakit.  Pesan itu berbunyi begini:

Berjalanlah kalau kau ingin berjalan
Tidak ada yang jahat lalu merantaimu
Kita cuma tokoh tokoh yang segera berganti peran
Dan engkau terlalu tahu harus kemana

Bahkan jauh sebelum pentas digelar
Yang penontonnya satu satu pergi tanpa tanya...

Sejenak aku tercenung.  Kemudian aku ketikkan sesuatu untuk membalas pesannya:

Cinta inilah yang merantaiku.  Atau tepatnya aku yang merantai cinta ini.  Aku tidak ingin berganti peran.  Karena aku ingin memiliki rasa ini selamanya.

Kubaca ulang tulisanku.  Kemudian kutekan pelan tombol delete.  Menyisakan deretan kata darinya.

See the source image

Uji Rasa

Kalau ada uji nyali, yang ini uji rasa. Bukan uji rasa masakan, itu sih urusannya juri Master Chef. Tapi ini rasa perasaan. Ya, rasa itu bisa berupa benci, marah, hingga yang bagus-bagus seperti sayang dan cinta. Namanya juga uji, mesti ada alat ujinya. Sebetulnya alat ujinya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang dengannya kita merasakan sesuatu.

Alkisah, perasaan manusia itu dinamis. Bisa berubah dengan perlakuan tertentu termasuk oleh waktu. Dengan berlalunya waktu, kita bisa melihat apakah perasaan yang pernah kita miliki pada seseorang masih ada atau sudah hilang alias netral.

Berdasarkan survey abal-abal yang sangat tidak valid, alat uji rasa ini adalah:

  1. Foto. Bisa dikatakan kita sudah netral lagi kalau tidak melengos atau reflex melotot saat melihat fotonya. Demikian juga dengan cinta, tidak ada gelombang electromagnet (baca: desir) tertentu saat melihat fotonya. Pokoknya lempeng dah.
  2. Nama/nomer telepon. Kalau perasaan kita sudah netral, membaca atau menuliskan nama seseorang tidak akan membuat sistem saraf pusat kita terhubung dengan pusat memori tentang kenangan atau kejadian yang membuat kita memiliki perasaan tertentu pada seseorang. Alias tidak muncul efek apapun.
  3. Lagu. Dengan netralnya perasaan, lagu yang menghubungkan kita dengan peristiwa masa tertentu akan terdengar biasa saja di telinga. Tidak ada rasa ingin mematikan lagu itu atau memutarnya berulang-ulang.
  4. Tempat. Demikian juga dengan tempat. Kita tidak lagi ingin menghindari atau sengaja mendatangi TKP tertentu dengan alasan masa lalu.
  5. Hadiah/benda kenangan. Seiring waktu, hadiah juga akan usang. Hadiah dari orang yang kita benci mungkin sudah dijual di loakan (kalau masih laku) atau bahkan sudah tidak berbentuk lagi dicabik-cabik maupun pecah berantakan. Sedangkan hadiah dari orang yang masih kita sayang biasanya tersimpan dan terawat dengan baik walaupun sudah tidak berfungsi. Perasaan kita bisa dikatakan sudah netral kalau tidak ada rasa keberatan memberikan hadiah itu kepada orang lain atau tidak sedih berlebihan saat hadiah itu hilang.

Nah, dari beberapa point di atas kita bisa mengukur perubahan perasaan kita pada seseorang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa perasaan itu adanya di qalbu, sesuatu yang bisa berbolak-balik.

PKK Yang Luar Biasa

Dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan kegiatan PKK.  Bukan berarti tidak suka, bukan itu.  Tapi rasanya kok kegiatan PKK itu kurang produktif dan identik dengan arisan (ini sepertinya gara-gara salah pergaulan, ngumpulnya dengan kelompok PKK perkotaan yang relatif stagnan dan didominasi oleh kegiatan arisan).

Ternyata tidak demikian dengan PKK di daerah (baca: pedesaan).  Luar biasa sekali geliat aktifitas PKK di daerah ini.  Dan semuanya kembali pada 10 Program Pokok PKK.  Pokoknya kesepuluh-sepuluhnya diterapkan dan menjadi nafas dari semua kegiatan PKK.  Belum pernah terbayangkan sebelumnya kalau saat ini saya harus terjun di dalam kegiatan PKK daerah, apalagi menjadi Ketua TP (Tim Penggerak) PKK.  Walaupun dulu sering membolos arisan PKK RT, tapi untunglah saya masih hafal lagu Mars PKK gara-gara pernah ikut lomba paduan suara Mars PKK.  Sangat tidak elegan bukan, kalau Ketua TP PKK Kecamatan tidak hafal Mars PKK 😀

Begitulah, awal terjun di PKK Kecamatan bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya.  Langkah pertama yang saya ambil adalah mempelajari dengan membaca sebanyak-banyaknya literatur tentang Organisasi Tata Kelola PKK serta apapun tentang Pokja 1-4 (Kelompok Kerja) dan mulai menghafal 10 Program Pokok PKK.  Yang semakin dipahami membuat saya semakin sadar, betapa salah satu ujung tombak pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah ada di tangan kader PKK (yang akan mentransfer pengetahuannya kepada ibu-ibu di daerah).

PKK memang milik perempuan, tapi tanpa peran serta laki-laki kegiatan PKK tidak akan berjalan lancar.  Dalam hal ini tentu saja kerjasama yang baik harus dimulai dari keluarga sebagai basis pendidikan manusia.  Disinilah wacana literasi manusia (human literacy) berawal.  Hal tersebut sangat relevan dengan kepanjangan PKK, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

logo-atau-lambang-pkk
Logo PKK. Sepuluh buah ujung tombak yang tersusun melingkar di tengah logo merupakan lambang dari 10 Program Pokok PKK.

Tim Penggerak PKK sebagai mitra kerja dari pemerintah serta organisasi kemasyarakatan, yang berfungsi sebagai fasilisator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak  pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK.  Program PKK menyentuh berbagai aspek.  Aspek sumber daya manusia dari semua tingkatan usia, aspek alam dari bagaimana lingkungan terbentuk hingga urusan sampah, serta tentu saja aspek harmonisasi manusia dan alam.  Dengan begitu PKK sangat berperan ikut mensukseskan program pemerintah kalau tidak ingin disebut sebagai ujung tombak kesuksesan program pemerintah.

Saya contohkan disini adalah sinergi antara PKK Kecamatan dengan Puskesmas sebagai salah satu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kesehatan, Sosial, dan Pendidikan tingkat kecamatan.  Beberapa program kerja PKK adalah:

  1. Melalui program GSIB/KSIB (Gerakan Sayang Ibu Bayi/Keluarga Sayang Ibu Bayi), P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi), dan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).  Kesemuanya ikut mengawal usaha pemerintah menekan angka kematian ibu dan bayi melalui kampanye dan penyuluhan di pusat layanan kesehatan daerah. Memotivasi ibu hamil untuk rajin memeriksakan kandungan, mendapatkan gizi cukup, serta mendorong peran serta suami sebagai Suami Siaga dan Ayah Siaga.  Hebat bukan 🙂
  2. Sosialisasi pemberian ASI dan ASIEK (ASI eksklusif) dan membentuk KPASI/KPASIEK (Kelompok Pendukung) yang melibatkan keluarga dekat ibu menyusui
  3. Pencegahan stunting (perawakan pendek) pada balita dan gizi buruk
  4. Ikut serta mengkampanyekan Gemari (Gerakan Gemar Makan Ikan)
  5. Mendorong Anak Indonesia Suka Makan Ikan (AISUMAKI)
  6. Melalui program KKPBK (Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga) memasyarakatkan GenRe (Generasi Berencana), KB/KS (Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera)
  7. Mendorong peningkatan penghasilan keluarga melalui UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan mengaktifkan kegiatan KWT (Kelompok Wanita Tani)
  8. Meningkatkan kesadaran pendidikan dan pengajaran pada masyarakat melalui pembentukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di setiap dusun yang berlanjut pada PAUD HI (Holistik Integratif) bersama dengan kelompok BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif)
  9. Program PAAR (Pola Asuh Anak dan Remaja)
  10. Pelaksanaan program HATINYA (Halaman Asri Teratur Indah Nyaman)
  11. Program ODF (Open Defecation Free) di setiap dusun dan desa hingga tercapainya deklarasi ODF
  12. Penurunan angka kejadian kanker leher rahim dengan mengajak wanita usia subur mengikuti pemeriksaan penapisan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat)
  13. Program Lansia (Lanjut Usia) sehat, aktif, produktif, mandiri
  14. Pengadaan Bank Sampah di setiap Desa/Dusun.

Dan yang sudah saya sebutkan itu bukan sekedar tulisan loh… terbukti dari foto-foto –narsis– kegiatan berikut 😀

IMG-20190928-WA0041
Kegiatan IVA di Roemah Boedi Desa Wanurejo. Kode C berarti Cantik, menunjukkan bahwa perempuan harus cantik dan sehat luar dalam.

IMG-20191019-WA0040
Bersama kader HIMPAUDI Kec. Borobudur. Gerakan pungut sampah setelah acara senam AISUMAKI PAUD se-kecamatan Borobudur di Balkondes Ngargogondo.

IMG-20191115-WA0007
Bersama Juara Lomba Senam KB diadakan oleh Balai KB/KS diikuti oleh Kader KB, Kader Kesehatan dan Petugas Pembantu Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dari seluruh desa se-kecamatan Borobudur di Balkondes Tuksongo.  Kode V dengan punggung tangan menghadap ke depan memiliki arti ‘Ayo Ikut KB’.

IMG-20190904-WA0028
Bersama Pengurus dan Kader PKK Kecamatan dan Pokja III se-kecamatan Borobudur. Pelatihan pembuatan eco-brick di pendopo kantor kecamatan Borobudur.  Kode 3 Jari maksudnya adalah 3-R, re-use, reduce, recycle.

Setidaknya, program-program tersebut sudah saya ikuti maupun saya baca (di surat undangan kegiatan yang seringkali tidak dapat saya hadiri) selama hampir tiga bulan ini berkecimpung di dunia PKK Kecamatan.

Terbayang kan, betapa pentingnya arti PKK dalam ikut menyukseskan program-program pemerintah.  Karena PKK lah yang bersentuhan langsung dengan komunitas terkecil yang paling berperan dalam pembangunan masyarakat sehat sejahtera, yaitu keluarga.

Hiduup, Jayaa… PKK 😉

Cerita Kluwak

Menurut saya ragam bumbu pada masakan Indonesia sangatlah mengagumkan.  Contoh yang membuat kagum adalah, kok ya nenek moyang kita dulu itu kepikiran kalau akar semacam kunyit, jahe, kunci, laos, kencur itu bisa menjadikan bahan pelezat masakan. Juga bumbu lain seperti salam, daun jeruk, sereh, dan lainnya. Untuk daun jeruk dan sereh saya masih maklum karena aromanya yang mungkin mampu menginspirasi peracik bumbu kala itu. Termasuk juga cengkeh, pala, merica, ketumbar, kembang lawang, adas, kapulaga, kayu manis, bawang putih dan lain-lain yang menebarkan aroma khas.

Saya yakin bahwa peracikan bumbu masa itu telah melalui proses uji coba yang panjang. Walaupun mungkin juga terjadi secara kebetulan. Kebetulan itu misalnya:

Saat merebus nangka muda di bawah pohon salam tiba-tiba kejatuhan daun salam, yang ternyata menyebabkan rasa dan aroma masakan yang lebih mantap #inimungkin.

Saya sangat meyakini bahwa kemampuan eksplorasi bahan alam yang luar biasa ini karena alam merupakan sumber makanan satu-satunya. Seperti halnya sekarang ini kita terus mengusahakan bahan makanan baru dari alam. Barangkali ada yang ingin mencoba menambahkan daun, biji, bunga, batang tanaman tertentu yang belum pernah dicoba dalam daftar menu makanannya. Mumpung kembang kertas atau kamboja di halaman sedang rajin mekar, dijadikan lalapan #sekedaride. Atau seperti penemuan melinjo, kok nenek moyang itu kepikiran membuka daging buah melinjo, memukul bijinya hingga pipih dan menggorengnya hingga kita sekarang bisa merasakan nikmatnya emping melinjo.

Yang menurut saya ekstrim adalah penemuan coklat. Bagaimana bisa dari buah yang samasekali tidak mengandung unsur coklat dan rasanya tidak enak bahkan pahit kemudian bijinya diproses hingga menjadi serbuk coklat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan minuman yang lezat (http//ilmupangan.blogspot.com/2011/02/mengenal-proses-pembuatan-coklat.html?m=1).  Luwar biyasaah ini sih.

Tetapi ada satu bumbu dapur yang menurut saya sejarah penemuannya juga luar biasa, ialah kluwek atau kluwak. Sudah lama saya penasaran dengan asal muasal kluwak ini. Yang menjadi bumbu wajib ‘ain untuk memberi warna gelap dan rasa unik pada rawon (dan masakan dari daerah lain yang kurang saya kenal). Kebetulan saya dari Jawa Timur, jadi ya taunya si rawon ini.

Kluwak (Pangium edule Reinw.) merupakan biji dari buah kluwek/kluwak (Jawa), picung (Sunda), pucung (Betawi), panarassan (Toraja), pangi (Bugis, Bali), atau yang di Sumatera Barat dikenal sebagai buah kapayang karena aromanya yang membuat pusing. Maka jadilah istilah mabuk kepayang. Semacam pusing karena bau durian, tapi ini mungkin disebabkan kandungan asam sianida yang tinggi di dalam buahnya. Asam sianida ini bukan asam biasa lo ya, tapi pada kadar tertentu bisa melumpuhkan saraf pusat dan menyebabkan kematian. Masih ingat aktivis HAM Munir (2004) dan Mirna (2016) yang diduga dibunuh dengan menambahkan asam sianida di dalam kopinya? Sementara itu, di Lampung pohon kluwak dikenal sebagai kayu tuba.

Mungkin ini juga yang menjadi muasal peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’ karena air rebusannya mengandung racun.

Buah kluwak yang sudah matang (sumber: http://tropical.theferns.info/image.php?id=Pangium+edule)

Pangium edule Reinw. Foto oleh: Blume, C.L., Rumphia, vol. 4: t. 178 A (1848)

Pohon kluwak tingginya bisa mencapai 4 meter dengan tandan buah terdapat di ujung-ujung percabangannya.   Di dalam buahnya yang berbentuk lonjong oval, berkulit keras seperti batok kelapa dan berwarna kecoklatan ini terdapat daging buah yang lunak berwarna kuning. Biji-biji buah tersusun melingkar sebanyak belasan hingga puluhan. Di dalam bijinya yang juga bercangkang keras terdapat endosperma (daging biji) berwarna putih. Daging biji inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan masakan oleh nenek moyang kita. Warna hitam kecoklatan didapatkan dari proses fermentasi. Jadi, tidak bisa langsung dimanfaatkan kecuali ingin merasakan keracunan asam sianida.

Buah kluwak yang dipanen adalah buah yang jatuh dari pohon karena pematangan alami (kluwak masak pohon). Secara tradisional buah itu dibiarkan di tanah terkena hujan panas selama berhari-hari (bahkan berminggu-minggu, asal tidak kelupaan) sebelum dikumpulkan dan menjalani proses berikutnya. Berikutnya, buah dibuka (dengan parang, karena keras), daging buah dibuang, dan biji-bijinya dicuci bersih di air mengalir. Bahkan ada yang dibungkus kain kerawangan dan direndam di sungai selama berhari-hari untuk menghilangkan racunnya (yang kalau sungainya banjir bisa-bisa batal masak pakai kluwak).

Tidak hanya sekedar dicuci, biji-biji tersebut kemudian direbus dulu selama berjam-jam untuk melarutkan racunnya. Air rebusan tidak boleh dibuang sembarangan karena sudah mengandung racun. Selain itu khawatir terminum oleh hewan ternak. Di daerah tertentu setelah tahapan ini biji dipecah dan daging biji yang masih berwarna putih sudah bisa diolah menjadi bahan makanan. Untuk mendapatkan warna gelap, proses yang panjang masih berlanjut.

Biji-biji yang sudah direbus tersebut difermentasi dengan cara diperam. Pemeraman dilakukan dengan mengubur biji yang sudah didinginkan ke dalam tanah. Sebelum dikubur, biji-biji tersebut ditutup daun pisang terlebih dulu. Pemeraman berlangsung selama 40 hari (lamanya pemeraman tentu sudah melalui uji coba yang valid oleh nenek moyang kita). Cara lain adalah dengan memeram biji dengan abu sekam di dalam wadah. Pemeraman dengan abu sekam berlangsung selama 15 hari.

Setelah proses yang panjang tersebut maka kluwak sudah bisa (baca: aman) untuk dimanfaatkan. Bagian yang dimanfaatkan sebagai bumbu masak adalah daging bijinya yang didapatkan dengan memecah kulit biji dengan palu (atau batu pada jaman nenek moyang kita).

Buah kluwak di Tenom Agricultural Park (by Tony Lamb). Penyebarannya dibantu oleh gajah. (Sumber: https://seedsofborneo.com)

Nah, terbayang kan, bagaimana perjuangan nenek moyang kita hingga akhirnya menemukan kluwak untuk dijadikan bumbu masak. Kok ya ke-ide-an dan kepikiran. Padahal, bukan tidak mungkin selama proses penemuannya sudah memakan korban jiwa manusia atau hewan ternak (karena keracunan asam sianida buah kluwak) #mengheningkancipta.

Kalau saya hidup di masa itu, barangkali memutuskan untuk menjauhi buah kluwak setelah mencium bau buahnya yang bisa bikin mabok (kepayang). Tapi tidak demikian dengan nenek moyang kita. Tanpa rasa putus asa tetap mencoba, belajar, dan mencari tahu serta berusaha memanfaatkan buah beracun yang kulit buah dan bijinya keras sekali ini sebagai sumber makanan. Kurang jelas, apakah hal itu dilakukan karena terbatasnya sumber makanan atau rasa kepo dan perasaan tertantang yang sangat besar.

Sebagai tambahan, nama latin edule di belakang Pangium berarti edible yang menunjukkan bahwa kluwak bisa dimakan. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan yang ditemukan di masyarakat sekitar.
Dengan ini saya jadi makin kagum, sungguh, nenek moyang kita adalah ahli teknologi makanan yang luar biasa. Salah satunya karyanya adalah menjadikan kita bisa merasakan lezatnya rawon. 🙂

Rawon dan biji kluwak (Sumber: https://www.unileverfoodsolutions.co.id)

Cosmetics and The Beginners (Part 3): Make Up Practice.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang petualangan bersama kosmetik, akhirnya saatnya praktek self make up tiba juga.  Kegiatan ini tidak bertujuan untuk promosi produk apapun, melainkan hanya sebagai sarana relaksasi pikiran diantara kesibukan berkantor dan bersekolah.  Dan yang terpenting adalah bisa berbagi sejumput ilmu baru (buat kami ini sih, hehe).  Bahwa pakai bedak juga ada ilmunya itu fakta.  Ingin tahu lebih banyak?  Yuk, maree….

Dengan ditemani rujak manis Semeru dan bolen pisang nan nikmat, berkumpulah kami berlima (dengan mbak Chika sebagai tutor) di rumah dik Nita yang sempat ketiduran gara-gara mundurnya jadwal (memang tidur siang di hari Minggu itu sangat worthy ya dik, hehe).

IMG_20180923_165622.jpg
Rujak, bedak, dan bolen di hari Minggu siang 🙂

Setelah semua alat dan bahan yang kami miliki dijembreng dan diidentifikasi, mulailah kami berperang melawan kemalasan dandan *lebay*.  Berikut tahapan self make up natural yang diajarkan mbak Chika (yang akhirnya bergeser menjadi self make up kondangan sesuai request mbak Danik):

  1. Cleansing.  Bersih-bersih ini wajib pakai susu pembersih dan penyegar.  Susu pembersih untuk membersihkan, sedangkan penyegar untuk mengangkat pembersih dan meringkas pori-pori.  Kalau bersih-bersih pakai facial foam ala saya kata mbak Chika kurang efektif *hiks*.  Sehingga saya yang belum pernah punya pembersih dan penyegar terpaksa minta ke tetangga sebelah *teteup*.  Nah, caranya aplikasikan susu pembersih secukupnya di lima titik wajah dan diratakan dengan pijitan lembut agar wajah lebih relaks dan peredaran darah lancar.  Nikmati pijitannya untuk membantu menghilangkan stress.  Kalau masih kurang relaks boleh dipijit agak lama tapi jangan sampai ketiduran *bataldandan*.  Jadi jangan diucek-ucek seperti selama ini ya.  Berikutnya usap dengan kapas yang sudah diberi penyegar dengan cara ditarik agak kesamping atas.  Walaupun bebersih dengan cleansing milk dan face tonic saja sudah cukup, tapi karena sudah kebiasaan, tidak sreg rasanya kalau belum dibilas air *hihi*.  Alhasil, setelah cleansing, kami masih cuci muka pakai air.
  2. Priming.  Maksudnya pakai primer make up.  Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya, kami memakai dua primer.  Pertama pakai cyanite corrective base make up untuk mendapatkan warna kulit wajah yang cerah merata.  Caranya ambil sebesar kacang tanah dan ratakan seperti biasa.  Berikutnya ambil velvet mattyfying primer sebesar kacang ijo untuk menyerap produksi minyak sehingga nanti dandanan terkesan matte.  Corrective base teksturnya seperti susu pembersih dan memberi rasa dingin saat diaplikasikan ke wajah.  Mattyfying seperti gel bening yang langsung meresap saat kita pakai.  Sebetulnya pakai salah satu saja cukup dan disesuaikan dengan jenis kulit untuk daily make up.  Tapi maklumlah ini lagi kemaruk, jadi kalau gak ingat isi dompet rasanya mau beli serumnya sekalian 😀
  3. Foundationing.  Sebetulnya sebelum memakai foundation, tambahkan concelear pada kulit yang warnanya tidak rata, misalnya bekas jerawat dan melasma.  Concelear ini warnanya lebih gelap dari kulit, tapi setelah ditutup foundation warnanya jadi rata lagi.  Caranya dengan memberi sedikit concelear pada bagian yang ingin ditutup kemudian ditaping (ditepuk-tepuk ringan dengan jari) hingga rata.  Baru kemudian aplikasikan foundation.  Ambil foundation (boleh yang krim maupun cair/liquid) sebesar kacang tanah, letakkan di lima titik wajah dan ratakan.  Jangan pindah ke sisi wajah yang lain kalau satu sisi belum rata.  Biar gak lupa meratakan kata mbak Chika.  Untuk foundation ini kami pakai milik masing-masing, kecuali saya karena warnanya terlalu gelap untuk kulit saya (Wardah liquid foundation exclusive, no.4, natural).  Harusnya pakai nomer 2, sheer pink.  Nomer 4 ini dipilihkan mbak BA di counter Wardah saat itu.  Tapi kok jadi gak yakin ya, jangan-jangan karena nomer yang tersisa tinggal itu aja, huhuhu *curiga*.  BA ini singkatan dari beauty advisor atau bisa juga beauty assistant, asal jangan beauty accounting (ini mah teman saya yang akuntan tapi pinter dandan ituh *iri*).  Karena sudah terlanjur beli, kata mbak Chika dijual seken aja, eh, bukaaan, itu mah pikiran saya.  Saran mbak Chika sih dipakai saja tapi di-cover dengan TWC dan bedak tabur yang warnanya lebih terang (kok kedengarannya seperti pakai topeng berlapis-lapis ya? *sigh*). Dan tips lebih lengkapnya bisa diintip disini.
  4. Powdering (bedak maksudnya). Saking groginya kami, cara memakai bedak pun sampai nanya dulu ke mbak Chika.  Jadiiii, bedakan itu dengan cara ditepuk-tepuk (pakai spon lo ya).  Diawali dengan bedak padat, selanjutnya bedak tabur.  Sekali lagi ini maksudnya agar riasan tampak matte alias doff (kayak kertas foto aja, hihi).  Sepertinya untuk urusan rias merias ini harus jauh-jauh dari kata berminyak ya.  Padahal pas akhir session nanti ditawari pakai shimmer, alias serbuk halus yang membuat wajah kita berkilau gitu.  Kalau ada, saya mau pilih shimmer yang glow in the dark ah, biar wajah tetap kelihatan walaupun mati lampu *idebagus*.
  5. Eyebrow drawing. Tibalah saat paling susah menurut sejarah perdandanan, yaitu menggambar alis.  Dan betul juga, menggambar sepasang alis ini perlu waktu hingga setengah jam dimulai dari mengoreksi bentuk, memberi batas (dengan teori 4 titik), mengarsir (ups, bener-bener pelajaran gambar), meratakan, dan cropping.  Jadi gak heran kalau ada cowok yang sempat menyelesaikan sekolah S2 sembari nungguin ceweknya nggambar alis.  Mengoreksi bentuk ini tidak kami lakukan dengan mencabut atau mencukur rambut alis karena tidak sesuai dengan kaidah dandan wanita Islam.  Jadi caranya dengan menutup bagian yang tidak rapi dengan sikat alis atau sikat bulu mata yang sudah dibubuhi foundation (lebih baik yang berbentuk krim) sampai tertutupi.  Kemudian tentukan 2 titik medial atas bawah, titik puncak alis (gunungan), dan sudut alis.  Setelah itu dibuat garis penghubung kecuali di bagian medial atas bawah.  Medial ini bahasa anatomist ya, maksudnya pangkal alis, hehe.  Selanjutnya diarsir tipis ke tebal dari pangkal ke ujung agar tidak seperti alis sinchan yang tebal dari pangkal hingga ujung yaa.  Ratakan dengan pangkal pensil alis atau sikat alis.  Terakhir, cropping atau rapikan dengan foundation seperti saat mengoreksi bentuk tadi.  Ini bisa dilakukan dengan jari, kuas yang bulunya tipis memanjang untuk menipiskan batas alis, atau memakai sikat alis asalkan bukan dengan sikat gigi maupun sikat WC *lho*.  Nulisnya gampang, prakteknya susaaah…. *keluhberkepanjangan*.  Tapi jangan putus asa, kalau sudah bisa dijamin puas seperti bisa tidur siang di hari Minggu 😀 (siap-siap ikut alis drawing challenge).  Lagipula, untuk daily make up cukup dilakukan koreksi dan arsir aja kok.
  6. Eyeshadowing.  Aplikasikan eyeshadow dengan jari manis.  Kalau kurang manis dicelup air gula terlebih dahulu *eh*.  Ternyata kuas mata itu dipakai biar kelihatan pro aja kata mbak Chika.  Eyeshadow lebih mudah dipakai dengan jari manis.  Saya belum mencoba bagaimana hasilnya seandainya pakai jempol atau jari lainnya.  Ok, nurut aja sama mbak tutor.  Bayangan/shadow yang dibuat diharapkan bisa membentuk mata agar lebih segar (padahal untuk ini biasanya saya pakai dry eyes drops *abaikan*).  Eniwey, sapukan warna paling pucat pada seluruh kelopak mata sebagai base eye shadow.  Kemudian bagian ujung luar ditimpa warna paling gelap dengan cara diratakan dan ditapping menuju tengah.  Bagian ujung dalam diberi warna keemasan hingga sudut kelopak mata bagian bawah.  Terakhir, aplikasikan warna paling terang pada tulang yang menonjol di bawah ujung alis.  Sebetulnya saya kurang puas dengan standarisasi penempatan warna ini, karena kurang cocok untuk mata saya.  Mata saya yang belok ini malah jadi kelihatan ngantuk (atau mungkin memang sudah ngantuk?).  Kapan-kapan saya akan bereksperimen dengan gradasi lain ah.
  7. Eyelinering.  Tantangan berikutnya adalah memakai eyeliner.  Kalau mau hasil yang soft, pakai warna coklat baik itu eyeliner liquid maupun padat (pensil).  Tapi karena hari semakin malam – acara ini dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.30 – jadinya kalau pakai coklat kurang kelihatan.  Akhirnya kami semua mencoba liquid eyeliner hitam (uff, beraninya).  Sebagian mencoba menambahkan wing agar tidak tembus, eh, agar apa yaa…yah eksperimen aja gitulah, kan sedang trend :D.  Cara memakainya, tarik sudut luar mata agak keatas untuk mengurangi kerutan pada kulit kelopak mata.  Kemudian aplikasikan eyeliner dari luar ke dalam (atau sebaliknya, bagaimana mudahnya saja) dengan sekali sapuan.
  8. Blush on. Memakai blush on ini harus sambil senyum maksimal, karena blush on nya diaplikasikan di tonjolan tulang pipi tertinggi saat kita senyum.  Caranya kuas blush on ditarik dari bagian luar ke dalam.  Saya sempat salah kaprah tidak menyediakan blush on karena saya kira eye shadow yang agak pink bisa multifungsi sebagai pewarna pipi juga.  Polosnya lagi, seorang teman malah memakai lipstik sebagai pewarna bibir, blush on, dan eye shadow sekaligus (ini ngirit atau gak tau ya), hehe.  Ternyata mereka dibedakan karena bahannya berbeda.  Pada kesempatan ini saya nebeng blush on krim punya teman saya.  Inginnya pakai metode penempatan warna yang berbeda, yaitu blush on panas dingin yang ditempatkan di pipi area bawah mata secara horisontal.  Entah kenapa namanya panas dingin, mungkin karena hasil tampilannya seperti orang sakit demam ya?  Cara memakainya, ditutul-tutul (kedengaran seperti macan tutul *mikir*) kemudian ditapping pakai jari sampai rata.
  9. Lipstik.  Terakhir, memakai lipstik.  Karena benda ini sudah familiar dengan kami, mbak Chika hanya berpesan agar warnanya disesuaikan dengan warna blush on.  Selain itu, kalau rias matanya sudah cukup berat, pakai lipstik yang warnanya soft.  Sebaliknya, kalau mau menonjolkan warna bibir, jangan pakai rias mata yang terlalu berat.  Nanti jadinya saingan antara mata dan bibir.  Trus kalau saingan dan gak ada yang mau ngalah kamu juga yang repot, iya kan…
Pause bentar, 9 langkah dandan ini sungguh-sungguh ribet (one and only word to describe how to make up is).

Dan, sebagai konsekuensi dari tulisan tentang tutorial make up, maka kami terpaksa mengunggah foto sebelum dan sesudah untuk membuktikan bahwa cerita ini bukan hoax, hehe.  Finally, here we are 🙂

velpicstitch20180925_091931
Ini hasil perjuangan dandan sendiri lho.  Cakepan mana sebelum dan sesudahnya? 😀

Demikian laporan seadanya dari kami para pemula yang baru berkenalan dengan kosmetik lengkap ini.  Terlepas dari ribet ndaknya, semoga tulisan ini bisa membantu kamu-kamu yang kebetulan tersesat di blog saya, menambah pengetahuan, yang setidaknya bisa sedikit tahu tahap-tahap dandan kalau mau ke kondangan.  Selanjutnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan.  Mau fokus ke wajah yang flawless saja atau ditambah riasan lain silahkan bereksperimen 😉

velpicstitch20180925_104207
Bersama mbak Chika. Thanks ya mbak ❤

IMG_20180925_094438.jpg
3 jam kemudian… yey, siap pergi kondangan (minus one) 🙂

Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.

Diawali dari ngobrol-ngobrol dengan seorang sejawat kantor tentang mahasiswi-mahasiswi kami yang Ilmu Pengetahuan Kosmetiknya (IPK) lebih canggih dibanding kami, saya bermaksud hunting alat makeup lagi di OLX. Berbarengan dengan itu malah menemukan iklan kursus self makeup. Biayanya murah, pertemuannya sekali saja dengan biaya per orang 50 ribu dan durasi 2 jam. Thanks God, there is a will there is a way, Engkau tunjukkan jalan yang lurus daripada kami coba-coba sendiri malah salah jalan. Begitulah awal bagian kedua dari pengalaman saya berinteraksi dengan kosmetik.

Kursus ini sifatnya private group, jadi gurunya yang datang ke tempat kami. Kalau hanya satu orang biayanya disesuaikan lagi dengan jarak tempuh si mbak tutor. Awalnya hanya berdua, jadi agar lebih seru kami tawarkan ke teman-teman terdekat.  Dan ternyata disambut dengan antusias hingga terekrutlah kami berlima. Saya, mbak Danik, Nurul, Nita, dan Nuretha, yang notabene semuanya adalah very beginners dan sangat awam dalam hal per-makeup-an.

Berikutnya untuk dapat mengikuti kursus singkat ini dengan baik kami memerlukan beberapa alat dan bahan makeup yang – tentu saja – tidak semuanya kami punyai. Beberapa bahkan baru saya dengar namanya. Berikut alat dan bahan yang saya beli merujuk pada alat dan bahan yang sudah saya miliki:

  1. Primer makeup. Saya kira hanya proses amplifikasi DNA saja yang memerlukan primer, ternyata untuk makeup juga perlu primer *OhGod*. Berarti ada sekunder makeup dong? Iya betul. Primer ini diaplikasikan paling awal setelah diberi pelembab dan sebelum alas bedak, sehingga alat bedak menjadi lebih tahan lama karena primer membantu menahan minyak di wajah. Selain itu, primer mampu mengisi pori-pori di wajah sehingga tampilan make up lebih smooth dan flawless *pengen*. Secara umum fungsinya adalah untuk mempersiapkan dan melindungi wajah sebelum menerima bahan makeup yang jahat berikutnya. Setelah konsultasi dengan mbak Chika, sang tutor, kami memutuskan membeli primer merk Make Over (udah halal juga loh). “Lebih baik beli di toko Raya karena lengkap,” kata mbak Danik. Akhirnya terdamparlah saya di toko itu. Betul-betul super lengkap. Sebut saja merek kosmetik tertentu, pasti ada disana. Dari yang paling abal-abal sampai yang paling terkenal, dari yang eceran sampai grosiran.
    Alat-alat makeup disana lengkap. Di satu sudut ada kuas dan puff dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran yang sebagian baru saya lihat saat itu. Ckckck, betapa untuk urusan wajah saja perlu toko selengkap dan sebesar ini. Akhirnya daripada kesasar ke counter yang aneh-aneh, saya tanya saja ke salah satu SPG letak counter Make Over. Sampai di depan counter Make Over dengan pedenya saya sampaikan mau beli primer makeup:
    
    Saya (A) : mbak, beli primer make up (senyum pede)
    SPG (B) : yang mana mbak, ini ada 3 primer, atau beli tiga-tiganya?
    A : err…emang harus dipakai semua ya mbak? Kayaknya pesannya satu saja kok mbak (mbak Chika gak bilang tiga)
    B : (nunjukin brosur) ini ada serumnya, base makeup, dan velvet
    
    

    IMG_20180916_130003
    Buku katalog yang disodorkan mbak SPG *makinbingung*

    
    A : (makin bingung) saya potoin deh mbak, ini soalnya pesenan, saya tanyakan dulu (bo’ong dikit)
    
    Akhirnya foto brosur itu saya konsulkan ke mbak Chika yang kemudian menjelaskan bahwa pemakaiannya disesuaikan dengan jenis kulit. Primer hydrating untuk kulit kering, velvet untuk kulit berminyak, dan corrective base untuk kulit yang warnanya gak rata (semacam belang mungkin? Tapi bukan belang telon kan? *meouw*). Atau kalau kurang jelas ditanyakan ke SPGnya aja. Demikian penjelasan mbak Chika. Got it. Balik ke counter sambil berdoa agar SPGnya gak bosan dan berubah jutek saat saya tanya-tanya.
    
    A : mbak, kulit berminyak pakai velvet ya? Trus ini ada fleks juga, perlu pakai corrective base?
    B : pemakaiannya berurutan mbak, hydrating dulu, trus corrective baru kemudian velvet. (kemudian menjelaskan fungsinya masing-masing, bla bla bla)
    A : bisa untuk pemakaian sehari-hari kan mbak? Bukan buat ke kondangan aja maksud saya.
    B : bisa mbak, untuk tampilan kulit yang lebih halus dan bedaknya awet.
    
    (Si mbak SPG kemudian menjelaskan kalau sehari-hari dia memakai corrective hijau untuk menutupi bagian yang berjerawat walaupun fungsinya bukan untuk memudarkan warna seperti concelear. Kalau untuk kulit gelap tapi merata pakai corrective yang ungu).
    
    A : (waduh, pusing pala berbi ini sih, harus diputuskan sendiri nih) Ya udah karena ada fleks dan berminyak saya beli corrective dan velvet. 
    B : gak sekalian hydrating serumnya mbak?
    A : (tegas) ndak mbak, dua aja (sambil mikir harganya, velvet 89 ribu, corrective 79 ribu).
    Total yang harus saya bayar untuk dua primer ini adalah 151.200 rupiah, sudah termasuk diskon 10%. Rogoh kocek dalam-dalam.

    IMG_20180917_104456
    Finally, two primers!
  2. Foundation dan pensil alis. Pilihannya kalau ndak Wardah ya Make Over. Dengan pertimbangan budget, saya pilih Wardah yang saya beli di gerai Wardah saat jalan-jalan di CFD. Sekalian beli pensil alis coklat yang tutupnya dilengkapi sikat alis. Pertimbangan membeli warna coklat ini karena saya sudah punya eyeliner hitam. Saya pikir pensil alis dan eyeliner fungsinya bisa saling menggantikan. Mestinya gitu ya, bentuknya aja sama, hehe. Untuk foundation dan pensil alis saya keluar uang kurang lebih 115.000 (persisnya lupa karena notanya hilang).

    IMG_20180917_104541.jpg
    Ini hasil belanja di Wardah CFD, foundation, pensil alis, dan TWC.
  3. Eyeshadow. La Tulipe no.11, masih baru dan utuh.
  4. TWC. Wardah exclusive no.02 tinggal setengah, tidak usah beli.
  5. Bedak tabur. Minta teman saja *hihi*.
  6. Kuas. Beli di Raya juga, satu set kuas yang fungsinya buat apa saja saya juga masih bingung. Sarannya mbak Chika, beli yang satu set. Harga 27.500. Done.
  7. Lipstik. Punya 2, walaupun keduanya jenis matte, nanti diaplikasikan dengan lipgloss agar bibir lembab. Untuk lipstik jelas tidak usah beli.
  8. Eyeliner. Pixy warna hitam.
  9. Blush on. Katanya sih lipstik bisa diakali buat blush on. Atau salah satu warna di eyeshadow kan ada yang kemerahan, itu saja deh dinego buat blush on. Hehe.

Akhirnya, niat banget ya belanja kosmetiknya :D. Saking niatnya, sampai salah seorang teman saya curiga saya kesurupan si Manis Jembatan Ancol anak buahnya Nyi Roro Kidul pas kemping ke pantai selatan baru-baru ini.

So that, total belanjaan saya adalah 293.700 *jegring* (cashier machine sounds). Berikutnya, let’s go to the practice session.

Cosmetics and The Beginners (Part 1): Trial and (Often) Error.

Derita, eh, cerita ini akan saya bagi menjadi tiga bagian saking membosankannya panjangnya. Bagian pertama berisi latar belakang, bagian kedua tentang sesi belanja, dan bagian ketiga tentang praktek makeup.

Latar belakang ceritanya sih sederhana saja, yaitu termotivasi dari bagaimana caranya agar tidak terjerumus pada pembohongan publik dengan menyebarkan foto diri yang mengandung fitnah (kata-kata fitnah ini kok terkesan keji ya? Wkwkwk).

Paham kan, jaman sekarang semua kamera handphone menyediakan fitur photo editing, membuat wajah makin alus mulus cerah tanpa noda (menurut kamus kecantikan yaitu wajah yang flawless). Pokoknya kamera yang sangat memahami kebutuhan perempuan lah. Bahkan semakin face upgradedable sebuah kamera handphone maka makin mahal pula harganya. Belum lagi sejuta aplikasi photo editors yang tersedia gratis siap unduh dari google play store.

Sebelumnya saya sudah kenal dengan sebuah software genome editing, nah, ternyata wajah juga bisa diedit. Setidaknya kan tidak keluar biaya untuk oplas ya…:D (amit-amit kalau ini mah). Hasil foto yang lebih indah dari aslinya ini menjadi tantangan buat saya.

Mestinya bisa dong upgrade wajah seperti di foto ituh (istilah upgrade ini lama-lama kok terdengar seperti upgrade komputer atau kendaraan *mikir*). Iya tahulah kalau caranya dengan rajin perawatan wajah seperti facial, dermabrasi, sampai peeling, tapi cara instan berikut boleh juga dicoba, yaitu makeup (baca, membuat naik, terminologi kecantikan untuk istilah upgrade, menurut saya).

Modal makeup standar yang saya miliki sampai menjelang awal umur 40-an ini adalah pelembab sekaligus tabir surya.  Yang juga berfungsi sebagai alas bedak ringan (karena sewarna kulit yang membantu covering fleks usia 40-an).  Yaitu BB krim Kitoderm yang saya beli dari teman dokter.  Dan bedak padat alias TWC Wardah Exclusive Series. That’s all.  Hingga pada suatu hari saya tertarik membeli lipstik Wardah nude series di toko Watson, Plaza Pondok Gede pas mudik ke rumah ortu dua tahun lalu. Tertariknya sih karena label nude itu, maksudnya kalau pakai lipstik ini tetap tidak terlihat seperti memakai lipstik (lah, jadi tujuannya apa dong? *mikirlagi*). Hahaha…

Pada prinsipnya saya tidak ingin dandan berlebihan walaupun kata berlebihan ini sensenya bisa beda untuk masing-masing perempuan. Saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh karena rawan konflik seperti di daerah konflik (apasih?). Dan mengapa Wardah? Jujur saya kemakan iklan yang brand ambassador-nya Inneke Koesherawati dan Dewi Sandra ini. Melihat penampilan mereka yang anggun dan wajah terawat dengan dandanan natural (kecuali pada bagian lipstiknya jeng Dewi Sandra) membuat saya membayangkan sosok muslimah yang segar, enak dipandang (bukan bikin napsu lo ya), dan tidak kusam. Suatu perpaduan yang ideal kan, when inner meet outer beauty. Begitulah alasan saya memilih merek Wardah selain label halalnya sebagai alasan pertama tentunya.  Tapi sumpah ini bukan karena di-endorse ya, walaupun ngarep banget 😀

Kembali pada lipstik pertama saya. Saat itu di Watson tersedia empat pilihan warna. Dan tentu saja saya memilih warna yang paling miriiiip dengan bibir saya. Rasanya saat itu no.02 lah (blushing nude) yang paling nude versi saya. Walaupun setelah dicoba kok tetap seperti pakai lipstik ya, sepertinya lebih cocok yang no.03 (peach perfect). Padahal milihnya saja hampir setengah jam sampai anak saya protes karena lapar *maaf ya nak*. Wardah Intense Matte Nude Series no.02 ini bikin bibir saya lebih pinky, yaah judulnya saja blushing walaupun ada nudenya. Agak nyesel sih walaupun gak sampai guling-guling di lantai, karena toh harganya sangat terjangkau, gak sampai 50 ribu. Ternyata warna lipstik saat diaplikasikan di bibir bisa sedikit berubah karena perbedaan warna dasar bibir atau undertone masing-masing pemakai (kalau demam jadi makin merah kali ya?). Hmm, bahasanya sudah berasa beauty blogger aja, hehe… *beautybloggergadungan*.

Baiklah, akhirnya lipstik pertama ini sangat jarang dipakai, khawatir banyak yang tidak mengenali saya lagi alias pangling.

Lipstik berikutnya saya beli tahun lalu di situs jual beli OLX. Berawal dari cari tanah kavling, tersesatlah saya di rubrik makeup. Tersesat yang amat sangat jauh dan tidak nyambung. Eh disana ada yang jual refill bedak Wardah Exclusive no.02 seperti yang saya pakai yang kebetulan sudah hampir habis.

Bedak refill ini dijual dijual sepaket dengan Wardah Exclusive Matte Up Cream no.03 (see you latte) second seharga 50 ribu karena pembelinya salah pilih warna. Murahlah, karena refill bedak yang baru harga normalnya 50 ribu. Ini kan bonus lipstik yang warnanya boleh dikatakan cocok dengan yang saya inginkan, peach. Saking peachnya sampai bibir kelihatan pucat saat memakai lipstik ini. Sayang sekali karena sifatnya yang matte, bibir saya yang kering jadi semakin pecah-pecah karena lipstik ini. Sehingga pemakaiannya harus dialasi lipgloss (akhirnya beli lipgloss bening seharga 23 ribu, Wardah juga). Tujuannya bukan untuk membuat bibir berkilau glossy, tapi untuk melembabkan saja. Ilmu baru nih.

IMG_20180917_154013.jpg
Pernak pernik wajah dan bibir. My daily stuffs actually cuma bedak dan BB krim.

Kalau sebelumnya ingin memperbaiki penampilan bibir, sekarang giliran mata yang jadi sasaran. Masih gara-gara iseng ngintip rubrik makeup di OLX jadi tertarik dengan eyeshadow La Tulipe warna natural no.11 yang harganya sangat terjangkau kocek, 15 ribu saja. Kirain harga eye shadow itu sampai ratusan ribu, makanya begitu ketemu yang lima belas ribuan langsung acece beli walaupun gak tau kapan dipakainya 😀 (ini kalap atau gak tau ya?) *gakjelas*.

Masih seputar mata, alat make up berikutnya yang saya miliki adalah eyeliner dan pelentik bulu mata *wkwkwkwk*. Kalau ini murni ikut-ikutan kakak sepupu saya yang sudah terlebih dulu upgrade penampilan dengan menambahkan eyeliner hitam di tepi kelopak mata atasnya. Kemudian sudutnya dilukis agak terangkat gitu seperti mata kucing (gaya retro, pin up) untuk mengurangi kesan kuyu pada mata.

Sebetulnya untuk urusan mata ini saya sudah punya celak hitam berbentuk serbuk dapat dari oleh-oleh tetangga pulang haji yang sudah lama jadi pengangguran di wadah kosmetik saya. Celak ini bisa dimanfaatkan sebagai eyeliner, tapi aplikatornya yang keras dan serbuknya yang tidak merata membuat saya frustasi karena tidak berhasil membingkai mata dengan bagus. Hasilnya malah bleber kemana-mana memberi kesan sembab kurang tidur *gagaldandan*.

Akhirnya, setelah eksperimen gagal tersebut, terbelilah Pixy eyeliner pencil warna hitam seharga kurang dari 40 ribu (lupa pastinya berapa) karena belum terlalu nekat untuk membeli eyeliner cair. Menurut mbak SPG yang didukung kakak sepupu saya, merk Pixy ini cocok buat pemula karena mudah diaplikasikan (underline, pemula…hiks, orang lain sudah sampai bulan kali).  Masih berhubungan dengan mata, kakak sepupu saya menyarankan saya untuk sekalian membeli alat pelentik bulu mata seharga 15 ribu rupiah.

Alkisah, eyeliner ini merupakan salah satu alat kecantikan yang sudah ada sejak tahun 10.000 SM pada peradaban Mesir Kuno (Mesopotamia) dan digunakan sebagai penangkal roh jahat serta melindungi mata dari Dewa Matahari. Kosmetik mata ini mungkin kemudian berkembang menjadi celak yang mengandung bahan-bahan yang membantu kesehatan mata. Di dalam agama Islam, memakai celak alias eyeliner ini adalah sunnah.  Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum berani memakai eyeliner untuk keluar rumah karena wajah saya jadi kelihatan ‘lain’ *sigh*.

IMG_20180917_154710.jpg
Pernak pernik buat mata yang nyaris belum pernah dipakai kecuali buat trial yang banyak errornya *hiks*

Dari semua pengalaman saya berinteraksi dengan alat-alat kecantikan, satu hal yang bisa saya simpulkan yaitu ribet (pakai bold, italic, warna merah pulak).

Bayangkan kalau sudah dandan lengkap, mau ngucek mata kuatir eyeliner atau eyeshadow bleber, mau minum harus atur posisi bibir agar tidak meninggalkan bekas lipstik (saya sering geli lihat bekas lipstik orang di gelas atau sedotan). Belum lagi semuanya bakal bubar kena air wudhu. Walaupun setelah sholat bisa dandan lagi tapi itu kan samasekali tidak praktis dan takes time. Memang ada sih kosmetik yang waterproof, tapi kan jadinya menghalangi kulit dengan air wudhu. Mungkin saya yang kurang ilmu atau bagaimana, tapi nyatanya petualangan Si Pemula ini terus berlanjut ke bagian 2.

Bahkan

Bahkan hingga kusampaikan semua tentangku pun kau tetap tak bisa paham. Semestinya mudah untukmu membaca diriku. Aku adalah buku terbuka, tinggal kau eja saja kalau kau mau. Masih sulitkah? Masih beratkah?

Kita berargumen seperti dua tali yang terulur tanpa mampu bertemu. Semakin panjang tak berujung. Karena kita terlalu berbeda, atau justru karena sangat sama?

...

Jeda

Kulihat ruangmu kosong
Kutengok sisiku hampa
Kuraih tapi tak ada
Dimana kau sembunyi?
Dihatiku yang sepi
Atau pada celah ingatan

Aku terkurung, sendiri
Menyanyi sesuka hati
Kureka nada sumbang
Hingga lelah dan bosan

Tapi tetap kau tak datang
Berdiri jauh dariku
...
Atau biarlah kita berjarak
Sampai semuanya pasti
Dan kita menjadi keniscayaan.