Mumpung Masih Syawal

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud). Dan masih hadits yang sama dengan perawi lain. (HR. Ibn Majah).

Dalam hadits tersebut diterangkan, bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawal sama pahala dengan puasa setahun. Karena apabila seorang muslim melakukan satu kebaikan maka baginya pahala kebaikan yang nilainya sama dengan sepuluh kali lipat amalnya (QS. Al-An’am:160).  Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala, berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung sepuluh bulan.  Dan puasa enam hari di bulan Syawal dihitung dua bulan.  Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.

shawwal2
Begitulah perhitungannya.

Sekarang terlepas dari hitung-menghitung pahala, kenapa ya –- berdasarkan pengalaman pribadi, bukan epribadi — melanjutkan puasa Ramadhan dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya sama dengan puasa setahun?

Karena memang beraaat, apalagi kalau di Indonesia…

Tantangannya adalah:

  1. Undangan HBH yang beruntun. Tentunya dengan hidangan istimewa bulan Syawal yang bikin ngiler ituh (lontong tjap go meh, cateeet).
  2. Oleh-oleh camilan khas dari berbagai pelosok daerah yang bisa dicicipi setahun sekali gara-gara tradisi mudik.
  3. No.1 dan 2 semua GRATIS!
  4. Selain itu, sehubungan dengan tradisi mudik, hampir pasti muncul godaan untuk berwisata kuliner di tempat tujuan mudik maupun di sepanjang jalur mudik.
  5. Dan adalagi, banyak undangan walimatul ursy di bulan Syawal (entah kenapa).

Ada tambahan?

Ayo Sekolah (Lagi)

Sudah lama saya tidak mendengar kalimat semacam ini,

“Ayo cepetaan, selesaikan sekolahmu, teman kita yang itu udah mau selesai loh.”

Yang dimaksud dengan ‘teman kita yang itu’ tidak seangkatan dengan saya, pun dari sekolah dan jurusan yang berbeda. Hal yang menghubungkan saya dan ‘teman kita yang itu’ karena kami alumni SMP yang sama. Hubungannya jauh banget ya? Hehehe.. Mungkin teman itu kakak angkatan saya dan tidak sedang ganti judul riset *ngeles*. Tapi tetap saja kalimat itu harus saya jadikan peringatan diantara berjuta alasan yang selalu saya kedepankan kalau sudah menyangkut urusan sekolah.

Anyhow, “Thanks to mommy kefo“.

Kali ini saya tidak mau beralasan. Capek beralasan, seperti orang-orang baik di sekitar saya yang capek mengingatkan batas waktu sekolah saya. Saya hanya ingin mengurai beberapa hal yang seperti kaskade dan menyebabkan status quo ini belum usai. Bukan untuk menyesalinya, tapi untuk mencari jalan keluar.

1.  Tempat belajar harus sepi.

Saya tidak terlalu pandai dan sering mengalami ‘gagal fokus’ kalau ingin serius. Sehingga untuk mencapai konsentrasi penuh, tidak boleh ada gangguan sedikit pun. Perlu tempat karantina untuk menyelesaikan tugas ‘besar’ seperti saat S1 dan S2 dulu. Dan sekarang, kesempatan itu menjadi sangat langka. Saat ini, situasi seperti itu harus dibuat dan dioptimalkan. Tentu saja dengan mengorbankan banyak hal, terutama keluarga. Studi sebelumnya saya selesaikan di tempat yang jauh dari keluarga.

2.  Sekolah bukan sambilan.

Banyak hal yang sama pentingnya dengan sekolah. Tapi tidak seperti sekolah yang punya batas waktu. Padahal saya cenderung menuntaskan tugas-tugas pada detik-detik terakhir saat adrenalin terpacu hebat. Mungkin karena golongan darah-nya O (ini sih alasan banget). Skala prioritas harus disusun ulang dan sekolah harus diutamakan. Keluarga? Nomer dua. Tapi masalahnya apakah yang ‘diduakan’ sudah siap? Lalu tentang pekerjaan? Beberapa bulan terakhir – akhirnya – saringan saya perkecil. Saya hanya menerima pekerjaan yang betul-betul tidak dapat ditinggalkan karena tidak atau belum mendapat pengganti. Ini pun seharusnya sudah saya tinggalkan. Yah, risiko sekolah di rumah sendiri.

3.  Tidak suka disuruh-suruh.

Biasanya, semakin diingatkan, semakin menentang. Saya tipe orang yang harus punya motivasi kuat dari dalam diri sendiri untuk menyelesaikan sesuatu. Kalau sudah maunya, apapun rasanya ‘lewat’. Keterlibatan orang lain dapat mengendorkan semangat saya. Tapi saat ini tidak berlaku lagi karena peringatan bukan datang dari orang lain, melainkan dari tenggat waktu. Hingga akhir tahun ini, saya harus menyelesaikan lima karya ilmiah. Ini target yang saya tetapkan. Dengan mengeliminasi semua kendala diatas, semoga saya mampu.

Akhirnya, ada yang mengatakan, tidak perlu pandai untuk sekolah doktoral, karena yang dihadapi adalah ujian mental.

Hihihi... (https://jaraad.files.wordpress.com/2008/09/yearstograduate1.gif)
Hihihi… (https://jaraad.files.wordpress.com/2008/09/yearstograduate1.gif)

Mempuasakan Jiwa

ramadhan

Ramadhan tiba

Bulan yang semestinya seluruh jiwa menyambutnya dengan sukacita. Bulan yang didalamnya terdapat amalan puasa, amalan yang dikhususkan untuk Allah.

Allah berfirman: “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (Hadits Qudsi)

Puasa itu tidak ditentukan kadar pahalanya seperti amalan lain yang punya ukuran seperti dikali tujuh, dua puluh tujuh, atau seratus. Allah sandarkan pahala puasa kepada diri-Nya tanpa ada kadar bilangan. Puasa adalah pahala kesabaran, sedangkan pahala sabar tidak berbatas (QS. Az Zumar: 10).

Puasa itu ibadah sirri. Kita bisa saja ngaku-ngaku puasa padahal baru saja minum segelas es cendol. Hanya Allah dan kita saja yang tahu. Sebagai ibadah yang hanya terkoneksi dengan Allah, puasa adalah salah satu sarana meraih derajat takwa (QS. Al Baqarah: 183). Sedangkan tangga menuju takwa adalah pensucian jiwa (tazkiyatun nafs). Maka, ini kesempatan untuk meningkatkan kadar puasa kita dari puasa orang awam menjadi puasa khusus dengan adab-adab tertentu melalui tazkiyatun nafs.

Syarat batin puasa seperti yang dipaparkan oleh imam Al-Ghazali adalah sebagai berikut:

  1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke setiap hal yang menyibukkan hati dan melalaikan diri dari mengingat Allah.
  2. Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Mengendalikannya dengan diam, menyibukkannya dengan dzikrullah dan tilawah Al-Quran.
  3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Padahal, orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram (QS. Al Maidah: 42) dan perkataan bohong tidak terlepas dari memakan yang haram (QS. Al Maidah: 63). Jadi, mendiamkan ghibah adalah haram (QS. An Nisa: 140).
  4. Menahan anggota badan lainnya – seperti kaki, tangan, perut — dari berbagai dosa. Tidak ada artinya berpuasa, menahan makanan yang halal, kemudian berbuka dengan yang haram. Seperti halnya berbuka dengan ghibah (haram).
  5. Tidak memperbanyak makanan yang halal saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Karena esensi dan rahasia puasa ialah melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarana syetan untuk kembali kepada keburukan. Diantara adab puasa ialah tidak memperbanyak tidur siang agar merasa lapar dan dahaga dan merasakan lemahnya kekuatan sehingga hatinya menjadi jernih. Lebih dari hal yang dulu diajarkan saat kita masih kecil, bahwa puasa bertujuan merasakan lapar dan dahaganya orang-orang papa. Kemudian berusaha agar setiap malam bisa melakukan tahajjud dan membaca wirid sehingga syetan tidak mengitari hatinya untuk melihat keghaiban langit pada malam lailatul qadar (malam kemuliaan, saat tersingkapnya sesuatu dari alam ghaib). “Barangsiapa meletakkan keranjang makanan di antara hati dan dadanya maka ia akan terhalangi dari malam kemuliaan tersebut. Dan barangsiapa mengosongkan perutnya sama sekali maka hal itu tidak akan cukup untu mengangkat hijab selagi keinginannya tidak terbebas dari selain Allah.”
  6. Hendaknya setelah ifthar (berbuka) hatinya berada diantara khauf dan roja’ (takut/cemas dan harapan), sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga termasuk golongan muqarrabin atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah.

Akhirnya,”Puasa adalah amanah, maka hendaklah salah seorang di antara kamu menjaga amanahnya.” (Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dengan sanad yang hasan), sehingga kita tidak termasuk orang yang berpuasa tapi sesungguhnya tidak berpuasa.

(Disarikan dari kitab Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali ‘Mensucikan Jiwa’, disusun ulang oleh Sa’id Hawwa).

Pic was copied from http://static.hothdwallpaper.net/51af0c8500ab532065.jpg

Are You Personalized Medicine?

Someday you may have card consist of genetic  information related to drug administration.
Someday you may have chip on e-card consist of genetic information related to health care, drug administration, and health insurance.

Have you ever felt not suitable or are allergic to certain medications? Or have you ever healed earlier by certain drugs than other people who take the same medicine? Sometimes, this occurs unexpectedly after we took certain medications. Not recovered is better than getting an allergic reaction. It implies personalized medicine. Though we all are human species, Homo sapiens, but genetically we are different in about 0,01% gene sequence. Like a barcode we found on products we bought, no two humans are genetically identical. Even monozygotic twins who are develop from one ovum and one sperm. So, based on experience people should be smarter when choosing a medication as well as choosing a doctor who will write a prescription for them.

(reposted from http://safrinadewi.lecture.ub.ac.id/2012/10/do-you-personalized-medicine/)

Menulis Itu Susah

idea_aucegypt_edu_pic
Ideas, come to me… 😦

Dua tahun yang lalu saya pernah menulis tentang ‘menulis’ di blog ini. Saya baca lagi tulisan itu untuk memastikan bahwa saya masih ada di jalur yang ‘benar’. Bahwa saat ini saya mencintai hal-hal yang ingin saya tuliskan. Untuk konsumsi kalangan ilmiah tentu. Karena seperti yang pernah saya sampaikan, menulis itu harus dengan hati.

Iya, saat ini pun saya menulis dengan hati. Tapi betapa banyaknya batasan-batasan yang saya jumpai. Saya cenderung menyederhanakan segala sesuatu. Yang 4 menjadi 2, dan yang 2 cukup satu saja. Dan ini, ide di otak saya ada 1 atau 2, diminta memaparkan menjadi 6 bagian. Aarggh, betapa bertele-telenya.  Kelihatannya harus merubah pola pikir, dari ‘menjelaskan fakta‘ sekarang jadi ‘menjelaskan ide‘.  Yang menurut hemat saya, ide itu ya dijalankan, bukan dijelaskan (praktisi.com).

Yah, sudahlah. Mungkin memang seperti itu seharusnya. Saya harus menjelajah kembali ke alas pyramid saat sudah setengah jalan hampir di atas. Jadi, sekarang maupun dua tahun yang lalu, menulis tetap susah 🙂

(Pic was copied from http://culturetransmit.com/wp-content/uploads/2013/05/idea_aucegypt_edu_pic.jpeg)

We Are Starburst

Scientists discovered that iron was sent down from outer space more 425 billion years ago.  Technically everything came from space and we are too.  But, our solar system does not support the structured-iron formation independently. Since the temperature in the Sun is inadequate for the formation of iron. 

We are starburst :)
We are starburst 🙂

As we have ferrum/iron in our blood (haemoglobin), we can say that “We are starburst!” – Literary, we were made from the earth which is consist of iron and it connects us with the space, the place where the stars came from.

“…And We also send down Iron in which there lies great force and which has many uses for mankind…” (Qur’an, 57:25)

Subhanallah…

Keuntungan Belanja Di Warung

“Hari gini masih belanja di warung? Bukannya sekarang jaman swalayan?”,

Iyalah, memangnya ‘Ada Apa Dengan Warung’? (NB. Sekuel AADC = AADW). Asal tahu saja kurang lebih 80% perputaran uang urusan logistik di negara ini terjadi di warung dan pasar tradisional. Sisanya berlangsung di swalayan atau hypermarket. Itu saya tahu dari televisi, tapi lupa siapa yang bilang 😛

Sebetulnya apa sih keuntungan belanja di warung? Banyaaak. Berikut adalah beberapa kelebihan belanja di warung yang berhasil saya identifikasi:

1. Tidak usah mandi/ganti baju. Pagi-pagi kehabisan telur buat sarapan? Capcus sebentar ke warung tetangga, tidak usah repot mandi atau ganti baju. Praktis kan?

2. Dekat rumah. Ya, hampir tidak mungkin untuk beli sebungkus garam saja kita dandan dulu, manasin kendaraan, terus nyetir ke warung yang jaraknya kurang lebih 15 km PP.

3. Tidak ribet cari tempat parkir. Tidak perlu parkir kendaraan, karena modalnya cuma kaki dan keringat.

4. Sambil olahraga. Kalau warungnya agak jauhan dan perlu cepat, cukup ganti sandal dengan sepatu lari. Sedikit gobyos tapi sehat dan lumayan mengurangi berat badan.

5. Harga lebih murah . Potongan harga di swalayan itu hanya berlaku sewaktu-waktu, sedangkan di warung bisa kita dapatkan harga yang lebih murah setiap hari.

6. Bisa ngutang. Belanja di swalayan memang bisa ngutang pakai kartu kredit tapi bulan depannya harus bayar plus bunga. Di warung, kamu bisa ngutang tanpa bunga dan bayar setiap saat *saat ingat*.

7. Antrian bayar lebih singkat. Pelanggan di warung dan barang belanjaannya pun biasanya tidak banyak sehingga antrian tidak panjang walaupun pada saat akhir pekan.

8. Sarana sosialisasi dengan tetangga. Hal yang sangat langka di jaman sosial media adalah bertemu muka dengan tetangga dan ini bisa terjadi di warung. Setidaknya silaturahmi dengan tetangga pemilik warung sekalian membahas harga cabe merah keriting dan bawang merah pipilan yang makin naik belakangan ini. Saya pernah kehabisan laos dan pergi ke warung tetangga untuk beli laos. Karena si tetangga tidak menyediakan laos akhirnya saya dapat laos gratis dari persediaan bumbu dapur si tetangga. Lain kali saya akan beli mesin cuci di warungnya.

9. Berbelanja sesuai tujuan . Saat belanja di swalayan ada kecenderungan struk belanjaan jadi lebih panjang dari tujuan semula karena kita berpikir ‘mumpung sedang belanja’. Coba kalau di warung, walaupun mungkin item belanja bertambah, tapi karena dekat rumah kita jadi berpikir ‘masih bisa dibeli nanti’.

10. Dilayani . Walaupun di swalayan ada mbak-mbak SPG yang cantik, wangi, dan berwarna-warni berbaris dekat barang dagangan mereka, tapi hanya sedikit dari kita yang memanfaatkan mereka untuk bertanya atau mengambilkan sesuatu. Mereka hanya akan melayani kita kalau kita beli barang dagangannya. Saya malah lebih sering menghindari mereka karena tidak ingin diganggu oleh promo barang-barangnya. Di warung, kita bisa mengajukan banyak pertanyaan.
Contoh tanya jawab yang terjadi di warung pada saat akan membeli tepung beras:
“Tepungnya ada bu?”
“Tepung apa?”
“Tepung beras?”
“Beras apa?”
“Beras Mentari”
“Yang super atau yang biasa?”
“Yang super”
“Berapa kilo?”
“Sekilo”.

Alhasil, kita pulang membawa beras Mentari Super sekilo. Benar-benar pelayanan yang prima! 😀

11. Ada jasa layanan antar . Walaupun ada swalayan yang menyediakan jasa layanan antar, tapi tidak mungkin kan beli minyak goreng 2 liter saja minta diantarkan. Biasanya ada minimal belanja sekian ratus ribu rupiah. Kalau di warung, tinggal telepon tetangga pemilik warung, sebutkan belanjaan yang kita inginkan, tidak sampai 15 menit belanjaan kita sudah sampai di depan pintu rumah. Memang untuk jasa layanan antar ada minimal belanja, tapi tidak sampai ratusan ribu rupiah.

12. Waktu belanja lebih fleksibel . Swalayan punya jam operasional tertentu walaupun beberapa buka 24 jam. Sedangkan kalau warungnya masih/sudah tutup tinggal ketok pagar kita sudah dapat layanan eksklusif bonus cemberut dari pemilik warung sembil ngedumel ,”Tetangga tidak tahu diri!”.

Berikut adalah gambaran betapa praktisnya belanja di warung. Contohnya adalah waktu dan biaya yang diperlukan untuk membeli susu:

Di warung:
Perjalanan rumah – warung – rumah: 10 menit
Memilih susu dan transaksi: 10 menit
Selesai.
Total waktu yang diperlukan: 20 menit
Pengeluaran: Sejumlah harga susu

Di swalayan:
Persiapan: 20 menit
Perjalanan rumah – swalayan – rumah: 30 menit (kalau di kota besar bisa sampai sejam lebih)
Cari parkiran: 10 menit
Mencari rak tempat barang yang kita inginkan: 5 menit
Sampai di rak susu dan terjebak mbak-mbak SPG yang sedang promosi: 15 menit
Mampir-mampir melihat/membeli barang lain: 30 menit
Antri membayar: 10 menit
Si Kecil ingin main di playground: 30 menit
Makan siang: 30 menit
Selesai.
Total waktu yang diperlukan: 180 menit (3 jam)
Pengeluaran: Sejumlah harga susu, barang-barang lain, biaya main di playground, makan siang, bahan bakar kendaraan/transportasi.

Jadi, kenapa tidak belanja di warung?

Catatan: Tulisan ini mengandung unsur intimidasi 😉

Merekalah Bidadari Di Dunia

Bidadari itu, dalam benak kita adalah, makhluk cantik semampai, bermata jeli, baik hati, bersayap, dan banyak dibicarakan sebagai penghuni surga. Dan konon bidadari bisa turun ke bumi kalau:
1. Ada laki-laki pakai parfum AXE (iklan banget ya… 😛 )
2. Ada laki-laki jatuh cinta. Ini kamuflase sekali, mentang-mentang jatuh cinta, lantas sosok bidadari seolah-oleh merasuki pujaan hatinya. Tahu kan lirik lagu “kau bidadari, turun dari surga…”.

Dua jenis bidadari dunia tersebut akan sangat jauh berbeda dengan gambaran bidadari berikut.

Bidadari yang ini sangat nyata. Bukan khayalan, kamuflase, maupun tipuan mata. Bidadari ini adalah anak-anak yang terlahir dengan kondisi keterbelakangan mental. Mereka adalah manusia yang tidak dibebani dosa, suci sejak lahir sampai akhir hayatnya. Mereka menjadi ujian sekaligus ladang amal bagi orangtua dan lingkungan sekitarnya. Kalau anak yang meninggal saat belum baligh kita percaya akan menjadi teman kita saat di surga, maka anak-anak yang ini adalah utusan dari surga untuk menemani kita saat masih di dunia.

Bidadari dunia bukan mereka yang cantik semampai, bermata jeli, dan bersayap. Tapi anak-anak kita yang akal dan kecerdasannya terbatas. Yang dengan keberadaannya kita diuji lebih berat, dijanjikan pahala terbaik, dan berada di surga bersama mereka. Yang tidak ada kesedihan di dalamnya, tempat semua nikmat disempurnakan olehNya.

Lalu, mengapa kita sulit bersyukur?

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan bertambah.  Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya” (QS. 13:8).

Apa Yang Menyebabkan Orang Jadi Histeris?

Pagi ini seorang teman mengadu pada saya. Pagi-pagi sudah berteriak histeris gara-gara melihat tikus di ruang kerjanya. Karena saya juga pernah histeris gara-gara tikus, akhirnya tergelitik membuat tulisan ini.

(“Wooii, tanggung jawab lu Fiiit, bikin kerjaanku gak selesai!”)

***

Histeris, menurut KBBI adalah ‘disambut dengan teriakan’. Contohnya, teman saya kaget dan menyambut si tikus dengan teriakan. Biasanya penyambutan kan dengan tari-tarian atau karangan bunga ya? Sedangkan menurut kamus bahasa Inggris histeris adalah ‘tingkah laku yang menunjukkan emosi berlebihan yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh rasa takut atau panik’.  Arti lainnya berhubungan dengan penyakit jiwa dan tidak termasuk yang akan kita bahas disini.
Selain itu, yang saya tahu histeris berasal dari bahasa yunani/latin yaitu hysteric/uterus atau rahim. Sehingga biasanya perempuanlah yang mengalami histeris karena rahim hanya dimiliki oleh perempuan. Dan faktanya jarang kita lihat ada laki-laki histeris.

Lalu, hal-hal apa saja sih yang mampu membuat seseorang menjadi histeris? Berikut ini beberapa hal yang kira-kira bisa memancing teriakan histeris:

1. Tikus. Mendadak melihat tikus seperti kasus teman saya umumnya mampu membuat perempuan berteriak histeris. Baik itu tikus mati maupun yang masih lincah lari-larian di sekitar kita. Sebetulnya si tikus juga kaget ketemu kita, dan mungkin kalau tikusnya betina dia juga histeris.

2. Kecoak. Ini berlaku untuk kecoak yang tiba-tiba terbang mendekati kita maupun yang tiba-tiba muncul atau lewat di dekat kita.

3. Ulat. Ulatnya sih anteng, sedang asyik ngemil daun.  Tapi yang melihat bisa teriak lalu lari terbirit-birit saat bertemu hewan ini.  Mungkin si ulil yang melihat peristiwa ini hanya bisa nyengir heran,”Kaki imut gini bagaimana bisa ngejar kamu rang?”.  (Red. rang=orang)

4. Belatung. Terutama belatung lincah yang melenting kesana kemari dengan badannya yang lentur karena rajin latihan senam lantai. Hiii!!!

5. Hantu. Mungkin wujudnya yang – konon – mengerikan bin menakutkan bisa menyebabkan orang yg melihatnya kaget sampai berteriak histeris. Lantas, bagaimana dengan hantu cantik semacam si Manis Jembatan Ancol, mbak Kunti yang ramah dan senang tertawa, atau Casper si hantu lucu? Ada yang punya pengalaman?

6. Maling/rampok. Papasan dengan mereka ini bisa memancing teriakan ala “Home Alone”-nya Macauly Culkin.

7. Eksibisionis. Teriakan korban inilah yang memang diharapkan dan membawa kepuasan bagi seorang eksibisionis. Makanya, kalau ketemu mereka, pura-pura tenang, terus kasih komentar sadis tentang ‘miliknya’. Misalnya,”Iih, kok jelek sih, kayak uler kena lepra,” atau ,”Itu ulekan bayi kok dibawa kemana-mana ya?”. Teriaknya ditunda nanti saja kalau sudah jauh dari mereka.

Selain histeris yang dipicu oleh hal-hal yang tidak mengenakkan, ternyata histeris juga dapat ditimbulkan oleh hal yang menyenangkan, yaitu:

8. Idola. Rasa senang yang berlebihan juga dapat menyebabkan histeris. Hal ini disebabkan karena dihasilkannya neurotransmitter dopamine yang terlibat dalam proses kesenangan dan kecanduan. Dopamin yang dilepaskan secara berlebihan dapat memicu teriakan sampai dengan tangis histeris.

Nah, itu tadi beberapa hal penyebab histeris. Kalau ada penyebab lain silahkan di-share 🙂

Ternyata kucing juga bisa histeris,"AAAAAaaaargh..!!!"
Ternyata kucing juga bisa histeris,”AAAAAaaaargh..!!!”

Tentang Me-Time

Akhir-akhir ini teman-teman kantor mulai kasak-kusuk tentang Me Time untuk perempuan pekerja seperti kami. Yang waktunya terbagi menjadi dua zona.  Zona rumah, saat mengurus keluarga, dan zona kantor, saat mengurus pekerjaan.  Lalu, ujug-ujug ada artikel terkait yang muncul di newsfeed facebook saya. Tentang alasan Me Time. Yang menuliskan seorang psikolog dengan tiga orang anak. Tentu saja, karena psikolog, dikupasnya Me Time ini dari berbagai sudut pandang. Artikel tersebut saya share ke beberapa teman yang merasakan kegalauan yang sama.

Berikut beberapa komentar tentang Me Time ala teman-teman saya:

“Me Time-ku ya saat di kantor.  Walaupun repot tapi inilah kesempatanku sendirian.  Terserah aku mau ngapain, aku kan boss di kantor ini.”

Wah, enak ini sih, berarti setengah zona waktu hidupnya bisa untuk dirinya sendiri.  Huaaa… *ngiri*

Berikutnya:

”Me Time tidak identik dengan Happy Time, karena Me Time itu seperti battery, untuk re-charge energy saja. Sedangkan Happy Time identik dengan sistem operasi-nya (OS, operation system). Tanpa baterei yang cukup, OS tidak bisa bekerja optimal. Nah, agar saat charging bisa optimal, sebaiknya OS di-off kan dulu.”

Teman saya tersebut mengelompokkan Family Time sebagai Happy Time. Artinya, kalau mau re-charge ya sebaiknya betul-betul sendiri, tidak dengan keluarga. Re-charge adalah saat-saat seseorang meluangkan waktunya untuk dirinya, sendiri. Saat itu tidak perlu membawa-bawa terminologi ‘bahagia’. Karena bisa saja saat sendiri malah kepikiran keluarga atau feeling guilty karena meninggalkan keluarga. Mengambil sifat sedikit egois lantas memaafkan diri sendiri.

Yang lain berpendapat,

“Me Time ku ya saat kumpul keluarga. Saat dengan anak-anak dan selalu berkorelasi positif dengan rasa bahagia. Senangnya melihat mereka tumbuh, mereka tersenyum, dan mereka bermain.”

See, melihat lho yaa, bukan sibuk mengurusi mereka. Kalau melihat saja memang tidak menguras tenaga. Tapi kadang-kadang, bahagia itu bisa seperti tabir yang menutupi lelah. Sehingga mengurus dan melihat bisa tidak berbatas kata.

Kemudian ada yang menambahi, seorang teman yang harus meninggalkan keluarga karena sedang sekolah di luar kota.

“Saat ini aku sedang sendiri, sekolah, jauh dari keluarga yang tiap hari nyaris menyita hingga tiap detikku. Sampai aku memohon seandainya ada bonus waktu dari yang 24 jam itu, akan aku pakai untuk sendiri, tidak memikirkan dan melakukan apapun untuk mereka. Dan sekarang, disinilah aku. Memang sendiri, tapi dengan sedikit rasa bersalah. Merampas waktuku yang menjadi hak mereka dan memakainya untuk diriku sendiri.”

Teman, ternyata Me Time itu sangat personal. Tergantung dari kebiasaan dan lingkungan kita saat ini. Kebutuhan Me Time seseorang bisa sangat kompleks menyita waktu dan biaya, sekaligus bisa sangat sederhana hanya dengan menikmati sebatang coklat yang disembunyikan dari anak-anak sambil nonton sinetron. Kalau saya perhatikan, Me Time itu seperti jendela, tempat kita memandang keluar tanpa memikirkan sesuatu yang di dalam ruang. Lalu menarik napas dalam-dalam, merilis penat, mengosongkan rutinitas, dan menarik napas kembali disertai energi baru. Dalam kasus teman saya yang menjadikan anak-anaknya adalah Me Time, bisa jadi anak-anak itulah jendelanya.

Tidak ada yang salah dalam memilih jendela. Semua orang mempunyai jendela dan pemandangan yang berbeda di luar sana. Bahkan jendela itu harus dibuat. Bayangkan bila sebuah ruangan tidak memiliki jendela.  Sebuah ruangan yang tidak sehat lahir dan batin kan?

http://chaoticsoulzzz.files.wordpress.com/2012/06/looking-out-the-window.jpg
Looking out the window (taken from http://chaoticsoulzzz.files.wordpress.com/2012/06/looking-out-the-window.jpg)

Mengintip Sisi Lain Dunia Pendidikan

Tiga hari ini saya ditugaskan menjadi Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) atau disebut juga “pengawas independen” di sebuah SMA swasta kota Malang. Selain saya, ada dua orang pengawas lain dari institusi saya dan empat orang pengawas ruang yang bertugas bergantian tiap mata pelajaran yang diujikan.  Peserta UN di sekolah ini sebanyak 20 siswa.  Iya, benar, satu angkatan terdiri dari 20 siswa.  Jumlah ini merupakan setengah dari hasil seleksi alam.  Sisanya sudah ‘berguguran’ di tahun pertama dan kedua.  Selama saya disana, sebagian siswanya harus dijemput di rumah agar tetap mengikuti ujian.  Seorang guru menjadi ‘satpam’ di depan gerbang sekolah mengawasi kelengkapan seragam siswa. Tugasnya memeriksa badge, lokasi, sampai mengingatkan siswa untuk merapikan pakaian.  Untung saja tidak ada screening rambut gondrong, kalau ada, pasti gerbang sekolah berubah menjadi tukang cukur rambut gratis saking banyaknya yang gondrong.

Sekolah ini bernasib seperti kebanyakan sekolah-sekolah swasta yang tersaingi oleh pertumbuhan sekolah negeri sejak kebijakan pemerintah membuka sebanyak-banyaknya sekolah negeri.  Tentu saja bukan salah pemerintah membuka kesempatan bersekolah seluas-luasnya sehingga sekolah swasta kekurangan siswa.  Dan dengan tidak adanya pungutan SPP dan cicilan uang gedung yang ‘tidak jelas pelunasannya’, sekolah ini hidup dari subsidi pemerintah serta sumbangan sukarela para pengurus yayasan. Pungutan yang diadakan hanya berupa uang daftar ulang dan uang ujian yang nominalnya tidak sampai 100 ribu rupiah.  Itupun dipungut per semester.

Sekolah tempat saya menjadi pengawas independen UN.
Sekolah tempat saya menjadi pengawas independen UN.

Sebagai pengawas independen saya bertugas mengawasi pelaksanaan ujian secara keseluruhan termasuk mengawal perjalanan soal ujian sejak diambil sampai dikumpulkan lagi di sub rayon. Pengawas independen tidak boleh masuk kelas kecuali ikut mengawal kepala sekolah kalau ada masalah yang harus diselesaikan di dalam kelas. Selain itu, tugas pengawas independen adalah baca koran, makan camilan, dan ngobrol dengan panitia sekolah atau pengawas lain.  Dari obrolan dengan panitia sekolah saya mendapat informasi bahwa sebagian siswa sekolah ini adalah siswa bermasalah.  Sebagian siswa yang sudah dikeluarkan adalah siswa yang sangat bermasalah.  Kebanyakan mereka mengalami masalah keluarga.  Lebih tepatnya masalah orangtua, bukan masalah siswa.  Masalah orangtua yang berimbas pada proses pendidikan siswa.  Ditambah lagi kebanyakan orangtua melimpahkan semua proses pendidikan kepada sekolah, sehingga kurang kerjasama antara orangtua dan pihak sekolah.  Selama ujian berlangsung, dari pengamatan pengawas kelas, kelihatan sebagian besar siswa — terutama yang putra — mengerjakan ujian dengan asal-asalan.  Kertas buram untuk hitungan dipenuhi gambar-gambar yang tidak berhubungan dengan materi ujian. Malah ada yang sempat menggoda pengawas ruang yang masih muda. Jangankan berpikir tentang prestasi, berangkat sekolah saja masih ada yang harus dijemput gurunya.  Mungkin ini kompensasi dari siswa sebagai salah satu cara menarik perhatian orangtuanya.  Dan kelihatannya cara ini  tidak terlalu berhasil.

Tapi kami yakin, pasti ada diantara mereka yang nantinya akan berhasil dalam hidupnya.  Kalau bukan dari usaha diri dan orangtuanya, setidaknya keberhasilan akan datang dari do’a guru-gurunya yang telah membimbing mereka dengan penuh kesabaran.

Bersama kepala sekolah, guru, dan rekan-rekan pengawas UN.
Bersama kepala sekolah, guru, dan rekan-rekan pengawas UN.

Kenapa Kursus?

Kursus menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah ‘pelajaran tentang sesuatu pengetahuan atau kepandaian yang diberikan secara singkat’. Jadi, kursus adalah cara singkat menjadi pintar. Asyik kaan…

Bermacam-macam kursus diadakan, mulai dari kursus menjahit, memasak, mengemudi, membatik, montir, banyaklah pokoknya. Kebanyakan tentang keterampilan. Kali ini saya akan mengikuti kursus Biologi Molekular dan Imunologi. Kedengaran sophisticated ya. Ini menarik, bidang ilmu yang lumayan bikin keriting ini akan dipelajari dalam waktu 6 hari. Dengan kata lain, dalam waktu 6 hari — harapannya — peserta jadi pandai Biologi Molekular dan Imunologi. Biayanya 4 juta rupiah, tapi tidak ada jaminan uang kembali atau kursus tambahan gratis kalau kita gagal dalam 6 hari itu.

Sembilan jam sehari selama 6 hari peserta akan dijejali materi dan praktikum berbobot 4 SKS yang terdiri dari Biologi Molekular (2 SKS) dan Imunologi (2 SKS). Tapi menunya nyaris setara dengan kuliah 4 tahun atau 144 SKS. Saya tahu it’s my soul. Untuk mengembangkannya, saya harus belajar lebih banyak tentangnya. Dan yang pasti selama kursus nanti saya tidak akan ketinggalan obat sakit kepala plus alat rebonding rambut, hehe…

The Power of Kepepet

Hari ini, Kamis 6 Maret saya ngampus lebih dini. Sebelum jadual tutorial pukul 9, saya harus mengunduh dan mengedit proposal plus membuat surat pengantar ke rektor. Biasaaa, proposal minta uang untuk jalan-jalan.

Beberapa hari sebelumnya, Fina, dosen Fakultas Teknologi Pertanian yang juga teman ngaji, mengajak saya mengikuti Kursus Biologi Molekular dan Imunologi yang diadakan oleh Pusat Kedokteran Tropik UGM. Haduuh, sudah lama saya ingin, tapi baru kali ini Tuhan berkenan menunjukkan jalan kesana. Agak ketar-ketir juga, karena batas akhir pendaftaran dan pembayaran yang 4 juta itu BESOK TANGGAL 7!(capslock dan pakai tanda seru) dan peserta dibatasi 40 orang. Seharusnya kami mengontak panitia dulu baru usaha bikin proposal serta persiapan lainnya. Tapi kami memilih mengajukan proposal dulu – yang seringkali kalau sudah sampai di meja birokrasi bakal takes time hingga seminggu –, selebihnya biar takdir yang bicara. Setelah mengakhiri tugas tutorial, tanpa membuat janji dengan Dekan saya ujug-ujug menghadap di jeda waktu beliau yang sangat singkat untuk minta tandatangan persetujuan. Untungnya beliau tidak sedang dinas luar. Ay ay ay – sambil nari salsa –, ternyata beliau sangat mendukung bahkan berjanji membiayai kursus saya dengan uang fakultas hari ini juga – underlined: hari ini juga –. Duuh, Bapak baik banget ya, tapi karena saya sudah janjian dengan Fina, so susah senang akan saya jalani dengan dia dulu… *setia kawaaan .

Bakat mepet dan kepepet :(
Bakat mepet dan kepepet 😦

Setelah beberapa kesalahan teknis yang membuat kami harus sa’i rektorat-fakultas-rektorat sampai gobyos keringetan ngejar waktu, akhirnya disinilah kami, lantai 7 gedung rektorat. Menunggu dengan cemas karena setidaknya hari ini permohonan kami sudah harus disetujui rektor. Baru teringat kalau harus menghubungi panitia meminta penundaan waktu pembayaran dan tentunya menanyakan posisi kuota yang 40 orang itu sudah tercapai apa belum. Gak lucu aja kalau proposal sudah disetujui tapi kuota sudah penuh. Dan ternyata saudara-saudara, kata mbak Weni, cp panitia kursus, kuota masih kurang 3 orang lagi dan kami boleh menunda pembayaran. Pfiuuh… *ngusapkeringatdidahi.

Sekarang, tunggu kabar – yang semoga baik — dari lantai 7 gedung rektorat sambil memikirkan siapa yang akan meng-handle urusan domestik selama 8 hari saya tinggal pelesir nanti.

Tentang Rama dan Sinta #2

Tulisan ini sekuel dari tulisan sebelumnya, Tentang Rama dan Sinta #1. Masih berseliweran di benak saya tentang ketidakpercayaan Rama kepada Sinta hingga Rama mengambil langkah ekstrim menguji Sinta melalui kobaran api. Rama benar dalam hal menguji dugaan/hipotesis. Bisa dibayangkan, betapa tidak tenangnya seandainya mereka hidup dalam ketidakpercayaan. Rama akan dihantui rasa curiga, sedangkan Sinta akan merasa dicurigai terus. Tidak enak kan. Maka dari itu sampai muncul istilah sumpah pocong, sumpah mati, sumpah demi arwah si anu, itu semua demi menghapus hal-hal yang merusak kepercayaan.

Pernikahan adalah 'Ya' atau 'Tidak'.
Pernikahan adalah a’Ya’ atau ‘Tidak’.

Dalam rumah tangga, kepercayaan adalah modal utama. Rumah tangga adalah kita hidup 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan dan seterusnya dengan orang yang mungkin belum lama kita kenal atau lama kita kenal dalam proses pacaran. Proses pacaran ini sendiri bullshit banget sebetulnya. Tidak ada korelasi positif antara lamanya pacaran dengan tingginya tingkat kepercayaan dan langgengnya suatu rumah tangga. Titip uang di bank saja harus percaya, kalau tidak percaya ya pindah bank saja. Apalagi titip masa depan diri dan keturunan kita. Jadi, kepercayaan adalah sesuatu yang mutlak. Tidak boleh ada pengganggu apapun di dalamnya.

Bagaimana seandainya kepercayaan ternoda? (Haduuuh… bahasanya sinetron banget :p).

Menurut hemat saya, kepercayaan yang ternoda disebut “tidak percaya”. Tidak ada istilah,”Aku percaya padamu tapi…. “, tidak ada kata tapi dan prasyarat dalam kepercayaan. Percaya itu bulat. Cuil sedikit namanya sudah tidak percaya. Kalau ragu-ragu, hapus keraguan dengan cara yang bijak. Seperti halnya tidak ada istilah “terlalu percaya”. Yang ada hanya “percaya” dan “tidak percaya”. Seperti baru-baru saja saya memberi saran kepada seseorang yang masih diganggu rasa curiga kepada suaminya yang pernah akepergok SMS-an mesra dengan perempuan lain. Saya katakan kepadanya:

1. Buktikan kecurigaanmu atau kalau tidak terbukti ya sudah percaya saja. Semudah itu? Ya, harus semudah itu. Kalau memang niat, investigasilah secara serius, kalau perlu menyewa agen penyelidik (a.k.a. detektif). Tapi bersiaplah menerima hasilnya. Selama kita tidak dapat membuktikan apapun, biarlah hati kita percaya. Selebihnya adalah bisikan setan agar hati kita tidak tenang. Seandainya kecurigaan kita terbukti, buat kesepakatan. Kalau ini merupakan indikasi perpisahan bicarakan baik-baik. Yakinlah tidak ada gunanya hidup dalam kecurigaan. Tetapi kalau keduanya masih ingin bertahan, buat kesepakatan baru. Kepercayaan baru. Rumah tangga bukan hanya soal perasaan, tapi lebih pada realita, logika, dan tanggung jawab.
2. Jangan menuduh dengan kata-kata yang ambigu. Contoh kata ambigu ini seperti “berbuat aneh-aneh”, “berbuat macam-macam”, dan lainnya. Bahkan kata “selingkuh” pun termasuk ambigu. Definisikan dengan jelas, apa itu aneh-aneh, macam-macam, maupun selingkuh. Kalau tidak suka pasangan kita boncengan dengan lawan jenis sebutkan dengan jelas ketidaksukaan kita dan batas-batas hubungan antar jenis yang tidak dapat kita toleransi.
3. Banyak-banyak baca ta’awudz, ini kaitannya dengan bisikan setan tadi.

Demikianlah, hubungan dalam pernikahan mutlak didasari kepercayaan serta kesepakatan yang jelas dan logis agar dapat dipahami oleh pasangan kita.

Tentang Rama dan Sinta #1

Pernah mendengar atau bahkan membaca tentang kisah Ramayana? Legenda dari negeri India dengan latar belakang kebudayaan Hindu ini lebih saya kenal dari beberapa tokoh utamanya, yaitu Rama, Sinta, Rahwana, dan Hanoman. Ceritanya, yang saya tahu, Sinta diculik Rahwana dan diselamatkan oleh Hanoman. Terus Rama? Ya Hanoman pergi menyelamatkan Sinta atas perintah Rama, suami Sinta. Begitulah. Singkat, padat, jelas, tidak bermakna. Hahaha… Terus terang saya lebih senang dengan cerita Perang Mahabharata tentang Pandawa Lima melawan Kurawa yang memperebutkan tanah Astina. Sampai-sampai saya pernah memakai nama Arimbi, ibunya Bima, sebagai nama udara jaman ‘break-breakan’ di pertengahan tahun ‘80an.

Koleksi wayang milik kenalan saya.  Seingat saya yang putih Hanoman, hitam Rahwana, merah Sinta, biru Rama. (Courtesy of BS)
Koleksi wayang milik kenalan saya. Seingat saya yang putih Hanoman, hitam Rahwana, merah Sinta, biru Rama. (Courtesy of BS)

Rupanya ada seorang kenalan saya yang terkesan dengan kisah Ramayana. Uniknya, kenalan saya ini mempersonifikasikan isi kotak pensilnya dengan para tokoh dalam kisah Ramayana. Menurutnya, kisah Mahabharata terlalu hitam-putih (mungkin perlu diusulkan untuk tayang di acaranya Deddy Corbuzier ya). Sedangkan kisah Ramayana lebih realistis, karena di dunia nyata tidak ada orang yang benar-benar betul atau salah. Selalu ada sisi abu-abu pada diri seseorang. Saya, yang tidak tahu banyak tentang kisah Ramayana, manggut-manggut saja. Sok setuju.

Dan inilah abu-abunya…
Dalam kisah Ramayana, Rama yang setahu saya suami baik-baik yang memperjuangkan penyelamatan istrinya dari cengkeraman raksasa Rahwana ternyata kemudian meragukan kesucian istrinya. Setelah selamat, Rama meminta Sinta menjalani screening, memasuki kobaran api untuk membuktikan kesucian dirinya. Sinta pun diterima kembali oleh Rama karena api tidak mau memakan dirinya. Ini bukti pertama kalau Rama bukan suami yang baik. Agak tidak jelas juga maunya Rama ini apa karena setelah itu dia membuang Sinta yang sedang hamil di hutan sendirian. Rama masih juga meragukan Sinta. Belum lagi setelah anak kembar Sinta lahir. Anak-anak ini kemudian menantang Rama yang menelantarkan Sinta. Dan Rama melayani tantangan mereka. Sinta yang tidak kuasa melihat perang Bapak-Anak akhirnya memilih ditelan bumi. Selesai.

Hmm… Kalau saya jadi Sinta, pasti langsung ‘ilfil’ ke Rama di ujian pertama sewaktu diminta memasuki kobaran api. Bukannya tidak ingin membuktikan kesucian saya, tapi suami seperti apa yang tega istrinya terbakar. Dia lebih percaya pada api daripada istri. Iya kalau apinya jujur, kalau apinya niat mengadu domba, huft… bisa hangus betulan. Apalagi saat dibuang di hutan dalam keadaan hamil. Haduuuh, dijamin minta pisah saja kalau caranya seperti itu. Tapi terlepas dari bicara soal cinta lho ya, karena logikanya itu sama saja dengan niat membunuh saya dan anak yang saya kandung secara perlahan. Atau membunuh dengan cara cepat kalau di hutan langsung ketemu macan lapar. Dan entah apa yang dipikirkan Sinta saat menuruti semua kemauan Rama. Mungkin budaya yang yang mengharuskan istri selalu nurut apa maunya suami – walaupun dengan membahayakan dirinya sendiri – atau karena ketergantungan ekonomi? Hehe… Karena kalau bicara tentang cinta, semuanya akan menjadi out of logic. Apapun akan dilakukan untuk membuktikan cinta. Walaupun kita tidak tahu pasti, apakah Sinta benar-benar ‘tak tersentuh’ saat diculik Rahwana. Kondisinya sebagai korban penculikan tentu saja selalu dalam tekanan. Ketidakmampuan api membakar dirinya bisa jadi karena apinya yang ‘tidak tega’. Tapi keputusannya untuk tetap bersama Rama perlu diapresiasi. Sinta belum tentu putih, bisa jadi dia juga abu-abu. Hanya saja, pada masa dibuatnya cerita ini belum dikenal paternity testing.

Kenapa Harus Move On?

Sure! Ketawa-ketawa gak jelas membaca isi blogku belakangan ini. Setengah tidak percaya kalau ini blogku. Jangan-jangan nyasar ke blog ABG galau??! Uh!!! Tapi, celakanya, ini memang blogku *sigh..

Bukannya sibuk organize blok Life Cycle di awal semester ini, eh, malah terlibat urusan ‘Love Cycle’. Berawal dari tulisan tentang Siklus Air, lalu naik dan kena efek dumping di Selesai, sekarang – seharusnya — memasuki fase move on. Kenapa seharusnya? Karena ‘tidak harus’, kan terserah yang menjalani. Persis seperti yang tercantum di gambar berikut:

Love Cycle
Love Cycle

Tidak harus move on kan? Ada titik balik yang bikin hubunganmu kandas alias terjun bebas atau bisa jadi bouncing. Maksudnya ni kamu akan berdamai dengan hatimu. Kamu mungkin jatuh cinta lagi atau berbaikan dengan si dia (see pic.). Intinya, gak sampai jatuh nyungsep sampai meratap-ratap. Tentang bagaimana bisa memiliki daya tahan hati yang baik sepertinya tergantung ‘jam terbang’.

Selain daripada itu, move on itu perlu alasan. Setidaknya menurut Mitch Albom dalam ‘Five People You Meet in Heaven‘ ada 3 syarat untuk bisa menjalaninya, yaitu kamu harus tahu:
1. Mengapa kamu merasakan itu
2. Apa yang sudah kamu lakukan
3. Kenapa kamu sudah tidak membutuhkan perasaan ini lagi.

Nah, ketiga point tersebut harus teridentifikasi dengan jelas untuk menentukan sisi kontralateralnya. Apabila ada yang tidak terpenuhi atau tidak dipahami, why should you move on?
Belum lagi efek sampingnya yang bisa bikin mata iritasi, pilek, sampai-sampai bisa delirium bahkan depresi. Gawat kan! Efek samping lain hampir selalu menyedihkan dan mengharu biru seperti yang dituliskan teman saya disini.  Kalau kamu iseng mencari tips move on, dijamin hampir semua isinya tidak ada yang bikin bahagia. Jadi, sebaiknya hal-hal tersebut diatas harus jelas dulu.

Anyhow, tidak usah dibaca sampai kening berkerut begitu, ini sekedar jawaban — yang belum berhasil menjawab — pertanyaan seorang dokuga. So, sekarang saatnya kembali ke modul Life Cycle 🙂

Kotak Pandora

Pernahkan kalian mendengar tentang kotak Pandora?

Untuk yang belum tahu, mari saya jelaskan sedikit tentangnya. Pandora adalah manusia perempuan pertama di dunia versi mitologi Yunani. Hermes memberinya nama Pandora yang artinya “mendapat banyak hadiah”. Pandora kemudian menikah dengan Epimetheus. Pada hari pernikahan mereka, dewa-dewa memberi hadiah sebuah kotak yang indah dan Pandora dilarang membuka kotak itu. Sampai disini saya merasa agak ganjil, namanya hadiah harusnya boleh dibuka ya, bahkan sudah lazim kalau dibuka di hadapan pemberinya. Hehe.. tapi namanya juga dongeng, terserah yang ngarang. Tentu saja Pandora penasaran dengan isinya, sampai akhirnya dia membuka kotak itu. Pada saat dibuka, terlepaslah sesuatu yang mengerikan dari dalam kotak itu. Ternyata Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Masa tua, rasa sakit, wabah, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan malapetaka lainnya. Seluruh keburukan itu menjangkiti umat manusia, kecuali satu benda yang tertinggal di dalam kotak Pandora, yaitu harapan. Benda ini pun keluar saat Pandora menunjukkan kotak itu pada suaminya. Hingga saat ini manusia mempunyai kebencian, kejahatan, penyakit – dan harapan. Harapan ini yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala keburukan tersebut.

Membuka kotak Pandora

Baru-baru ini saya mengalaminya, membuka kotak Pandora. Ah, tidak.. rasanya bukan analogi yang pas juga. Karena yang keluar dari sana bukan keburukan, tapi lebih tepat disebut kejutan-kejutan. Telur yang berubah menjadi kupu-kupu, monyet, ular, burung, kucing, sapi, kunang-kunang, ikan, harimau, gajah, sampai dengan dinosaurus dan tyrex.. haha, kenapa jadi kebun binatang ya? Tapi nyatanya kita semua memang berasal dari telur. Yang waktu itu belum menetas atau berada di tahap larva sehingga masih mirip-mirip satu sama lain.

Ceritanya begini, pada pertengahan tahun 2013 lalu saya mengontak teman-teman alumni SMP yang sudah berpisah selama 25 tahun. Berawal dari beberapa orang saja yang bertemu secara tidak sengaja di dunia maya (thanks to Leonard Kleinrock, tidak kenal juga sih, tapi dari browsingan, beliau ini dianggap bapaknya internet alias penemu internet), hingga melalui informasi dari hantu ke hantu (numpang istilahnya Trio Detektif) kami berhasil mengumpulkan kurang lebih 90an alumni. Lima puluh orang diantaranya bergabung di grup Whatsapp, sesuai kapasitas maksimalnya, 50 anggota. Dan lebih banyak lagi yang berkumpul di grup Facebook dengan bendera FASE389 Community. Niatnya, dalam waktu dekat kami akan mengadakan reuni perak. Berbagai persiapan dilakukan termasuk membentuk kepanitiaan. Hingga terwujudlah reuni perak angkatan kami pada tanggal 12 Januari 2014 lalu.

Remaja vs Dewasa Menengah

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah seseorang. Telur kupu-kupu saja perlu waktu lebih dari sebulan untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Bukan analogi yang pas ya.. hehe.. Tapi manusia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan (ya iyalaah..). Unsur-unsur yang berubah dalam diri kita adalah fisik, kognitif, dan emosional serta sosial. Pertumbuhan adalah sesuatu yang bersifat fisik seperti berat dan tinggi badan seseorang, sedangkan perkembangan melibatkan unsur kognitif dan psikososial. Alat ukurnya tentu berbeda. Misalnya IQ chart untuk mengukur kemampuan kognitif atau Denver chart untuk mengukur perkembangan psikososial anak-anak.

Berdasarkan tahapan perkembangan manusia, dulu kami berpisah saat kurang lebih berumur 15 tahunan. Saat itu kami berada pada tahap adolescence (remaja, 11-18 tahun) dan saat ini bertemu lagi di tahap awal middle adulthood (dewasa menengah, 40-65 tahun). Kebanyakan dari kami memang baru bertemu lagi setelah 25 tahun itu. Hanya sebagian kecil saja yang masih berkomunikasi setelah perpisahan SMP dulu. Saat lulus SMP itu kami baru saja mengalami masa puber, tapi belum mencapai ukuran dan kematangan tubuh dewasa. Suara sudah ngebass tapi kumis belum tumbuh, haid sudah beberapa kali datang tapi badan masih seukuran anak SD. Serba belum jelas lah, kurang lebih setara dengan larva, belum mencapai bentuk akhir. Hehe..
Saat itu cara berpikir kami masih abstrak atau kata lainnya belum jelas mau ngapain, cita-cita saja masih berubah-ubah (geje, red), tapi idealis dan serius dalam sekolah. Pikirannya masih jarak pendek. Pencapaian hidupnya pakai skala semesteran atau caturwulanan. Remaja ini juga sedang memantapkan identitas seperti menetapkan fungsi mandirinya dalam keluarga. Misalnya punya tugas cuci piring atau cuci motor, ya udah, itu akan menjadi identitasnya. Biasanya remaja menempati kasta terendah dalam hirarki keluarga. Sudah bisa disuruh-suruh tapi belum punya bargaining power. Haha..

Sedangkan dewasa menengah yang diawali pada usia 40 tahun (walaupun beberapa dari kami baru berumur 38-39 tahun saat bertemu), mempunyai karakteristik mencapai titik tertinggi dalam karir dan posisi kepemimpinan, istilahnya, sudah mentok apapun posisinya saat ini. Dalam hal ini kami sedang mengawali fase ini. Artinya berada di posisi awal kemapanan status. Sudah mulai mantap! Biasanya juga sudah punya tanggungjawab terhadap keluarga. Mempunyai anak dan ikut menunjang kehidupan orangtua. Pada umur segini, sudah mulai ada kepedulian pada kematian. Sudah tidak mikir senang-senang saja. Sudah mulai insap!

Here We are!

Inilah kami sekarang, selama 25 tahun itu, dari yang geje menjadi konkrit, yang senang ngalor ngidul jadi serius, dan yang biasa belajar tekun saat ujian (biasanya) menjadi sukses. Ini berlaku juga untuk yang setia meminta contekan dari teman yang pintar (merasa,red). Yang kurus kerempeng menjadi besar berotot, yang nangisan menjadi pemberani (any brave), yang culun menjadi anggun, yang ingusan menjadi pilek.. eh, sama itu sih. Iya, karena anak kecil/remaja memang rentan infeksi, sistem imunnya belum mantap, salah satunya gampang kerasukan virus influenza yang pintar menyamar, makanya dibilang anak ingusan (ilmiyaaaah…). Dan sungguh ajaib interaksi interpersonal di awal dewasa menengah ini, amazing menurut saya. Ibarat suatu bangunan yang baru berdiri megah, ibarat kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, semuanya indah, menakjubkan, mengagumkan, dan memabukkan.. eh.. ney ney ney. Haha.. Semua tampil berkilau, baru keluar dari kawah candradimuka tahap awal dewasa (early adulthood) dengan masing-masing warna dan bentuknya.

Bagi yang warna dan permukaannya cocok bagai protein ketemu reseptor berpotensi melipir dan mojok. Jadi rekanan dalam pekerjaan, hobi, atau bahkan sekedar sahabat ngrumpi seperti disini. Tentu saja interaksi warna dan bentuk yang beraneka rupa itu juga berpotensi menimbulkan friksi. Tapi akan selalu ada harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik dan lebih bersinergi. Semuanya berawal dari satu hal yang menyatukan kami yaitu kerinduan pada masa remaja, saat tidak ada beban hidup dan hiruk pikuk dunia yang dulu seolah tidak tampak, saat tahapan geje dalam hidup kami.

Fase389

Pilihan yang Berbeda

Pagi hari itu saya berencana berangkat ngampus lebih lambat. Sebuah acara infotainment di televisi yang menemani saya menghabiskan sarapan mengabarkan berita pertunangan putra seorang wakil menteri dengan artis sinetron. Sang artis seorang perempuan muda jelita yang beberapa waktu lalu menghebohkan dunia keartisan lantaran minggat dengan (mantan) pacarnya yang juga artis lantaran sang ibu tidak menyetujui hubungan mereka. Waktu berlalu, kabarnya sang artis dengan pria yang melamarnya kali ini sudah berpacaran sejak setahun lalu. Putra wakil menteri ini adalah salah satu doktor ekonomi pembangunan lulusan Jepang termuda yang saat ini bekerja di salah satu BUMN bentukan Kemenkeu. Serba-serbi percintaan di kalangan seniman tidak terlalu menarik perhatian saya. Paling begitu-begitu juga. Pacaran vs putus, nikah vs cerai. Yang membuat saya tertarik dari pasangan yang baru bertunangan ini adalah, apa yang membuat seorang laki-laki dan perempuan memilih pasangan hidup tampaknya berbeda. Saya menyimpulkan, mereka adalah pasangan yang mewakili cara pandang masyarakat kebanyakan. Perempuan muda dan cantik dengan laki-laki cerdas dan mapan.

find-a-spouse-pic

Tidak perlu diragukan lagi dengan apa yang dilihat sang Jaka pada sang Dara. Seperti halnya apa yang dilihat sang Dara pada sang Jaka. Yang menggelitik benak saya, bagaimana kalau keadaannya terbalik. Sang Dara di posisi sang Jaka dan sebaliknya. Saya tidak tahu, apakah seorang aktor sinetron lengkap dengan segala gossip di sekitar kehidupannya akan memilih seorang doktor perempuan dengan prestasi dan karir cemerlang dari dunia yang sangat berseberangan dengan dirinya untuk menjadi pendamping hidupnya. Apalagi kalau perempuan itu tidak terlalu “good looking”. Ehm…