Anatomi dalam Komunikasi Medis

Enam tahun yang lalu, semenjak berkubang di dunia peranatomian, langsung terasa betapa spesialnya si anatomi ini dalam aplikasi maupun pengembangan ilmu kedokteran.  Anatomi bagaikan rangka bagi sebuah bangunan kedokteran atau bagaikan fondasi bagi sebuah rumah.  Selayaknya rangka atau fondasi yang tidak tampak dari luar, demikian juga anatomi, tak tampak tapi mutlak harus ada.  Bagaimana seorang dokter bisa memahami bentuk dan manifestasi sebuah kelainan jantung kalau tidak memahami bagaimana anatomi jantung, dan bagaimana seorang perawat bisa menentukan tempat injeksi kalau tidak memahami anatomi topografi vena mediana cubiti atau vena saphena magna.  Walaupun tidak ada pasien yang akan menanyakan letak pankreas atau colon secara eksplisit, tapi alangkah indahnya seandainya praktisi kesehatan bisa mendekatkan pasien dengan penyakit yang sedang dideritanya melalui pemahaman sederhana berdasarkan ilmu anatomi yang juga disederhanakan melalui bahasa awam.

Proses edukasi dalam konseling kesehatan seringkali menjadi suatu keniscayaan apabila praktisi kesehatan memahami bahwa kebutuhan pasien tidak hanya terbatas pada obat dan kesembuhan.  Tapi pemahaman sederhana tentang patofisiologi dan patomekanisme suatu penyakit yang bisa disederhanakan melalui bahasa anatomi akan sangat membantu komunikasi praktisi kesehatan dengan pasiennya. Bahkan dapat membantu proses penyembuhan pasien dengan meningkatnya kesadaran terhadap kondisi dirinya.  Anatomi adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan pasien, karena normalnya semua orang pasti memiliki organ dan sistem organ tersebut, hanya pengetahuan saja yang membedakan antara praktisi kesehatan dengan pasiennya.  Pengetahuan pasien terhadap apa yang sedang terjadi dengan dirinya akan membantu pasien untuk tidak merasa dirinya sebagai obyek semata, apalagi sebagai kelinci percobaan.  Keputusan yang terjadi di ruang praktek bukan hak dokter — atau lebih luas lagi, praktisi kesehatan –, melainkan hak pasien.  Tindakan yang dilakukan selalu harus melalui persetujuan pasien dengan mengetahui alasan dilakukannya tindakan tersebut.  Sehingga sangat ajaib apabila ada praktisi kesehatan yang menyebutkan bahwa hepar terletak di cavum thorax — entah menyebutnya karena grogi, entah karena bingung membedakan cavum thorax dan cavum abdomen, atau karena ada terjadi hernia diaphragmatica sehingga pernyataan ini masih bisa ditolerir — , atau seorang praktisi kesehatan yang tidak mengetahui alasan kenapa insisi yang dilakukan dari prosesus xiphoideus hingga symphisis pubis dilakukan melingkari umbilicus dari sebelah kiri selain karena prosedur tetapnya menyebutkan demikian tanpa tahu bahwa prosedur tersebut dilakukan untuk menghindari ligamentum teres hepatis.  Wallahu’alam.

The picture copied from: http://ihateoliverninnis.files.wordpress.com/2011/10/white-lie-100dpi.jpg

Love and health

“Nervous, endocrine, and immune systems are closely interrelated.  Neuroendocrine system can modulated the immune response, vice versa, the recent study shows that the immune system have an impact on the neuroendocrine system”

The statement above indicates that stress or prolonged stress can weaken immune system, and the weakness of immune system will worsen the condition of stress such as depression like behavior.  The recovery depends on how you learn to handle stress and relax.  Finding fun activities and changing your thought patterns to alter your emotions and your behaviors are able to help you to relax then boosts the immune system.

No wonder, if stress makes higher susceptibility to any infection or other diseases.  What kind of fun activities we can do? Doing hobby and meditate are able to make us relax, either with feeling love and compassion, they can promote the immune system.  So, maintain and enjoy your hobby and your love….

References:

Homo-Delarche F, Dardenne M. The neuroendocrine-immune axis. Springer Semin Immunopathol. 1993;14(3):221-38.

Esch T, Stefano B. Love promotes health. Neuroendocrinology Letters. 2005;3(26)

Painsipp E, Martin J, Sinner f, Holzer P. Prolonged Depression-Like Behavior Caused by Immune
Challenge: Influence of Mouse Strain and Social Environment. PLoS ONE. 2011;6(6)

(picture copied from: http://www.smashingapps.com/wp-content/uploads/2011/02/love-logos/Health-Life-Love.jpg)

Sitokin Cinta

Beberapa malam lalu saya berkunjung ke sebuah rumah makan.  Rumah makan yang cukup ramai untuk sebuah hari Kamis malam.  Menyediakan fasilitas lesehan dan meja kursi, saya memilih tempat lesehan di sebuah sudut.  Sambil menunggu pesanan datang, saya mengamati pengunjung yang lain.  Kebanyakan adalah pasangan muda, mungkin sudah menikah, mungkin sedang berpacaran.  Sebagian keluarga muda dengan anaknya.  Ada juga anak muda yang datang berombongan, ada yang putri atau putra saja, ada yang campuran — kayak main bulutangkis ya –.

Dari semuanya, saya tertarik mengamati cara mereka saling memandang.  Entah betul entah tidak, saya bisa membedakan pandangan ‘cinta’ dan pandangan yang ‘biasa saja’.  Yang menjadi kontrol negatif adalah kelompok anak muda yang sama gender – dengan asumsi, tidak ada penyimpangan seksual lo –.  Saya melihat pandangan cinta pada kebanyakan pasangan muda.  Sambil ngobrol, mereka sebentar-sebentar senyum, tertawa, melirik, agak curi-curi pandang gitu – tentu melirik pasangannya –.  Walaupun ada pasangan yang kelihatan membicarakan sesuatu yang serius, tapi tatapan cinta itu masih bisa terbaca di mata mereka.  Menyenangkan sekali melihat tatapan seperti itu, seolah aura cinta mereka membawa hati kita ikut tersenyum.  Walaupun tidak ikut dicintai yaa…

Kemudian saya membandingkan dengan keluarga muda yang membawa anaknya.  Biasanya si orangtua mengambil tempat duduk bersisian, tidak berhadapan seperti pasangan yang tidak membawa anak.  Agak sulit menilai ada tidaknya pendar cinta di mata mereka.  Acara makan juga menjadi berwarna karena tingkah polah anak-anak.  Jadi ya semakin jarang kesempatan mereka untuk bertatapan dan saling tukar sinyal cinta.  Tapi ternyata ada refleksi cinta dalam bentuk lain.   Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi dengan anak-anaknya, saya seperti melihat cinta.  Mungkin bukan cinta seperti pasangan yang tidak membawa anak, tapi cukup representatif.  Sayangnya, saya kesulitan melihat interaksi sinyal cinta antara kedua orangtuanya.

Sambil menyantap makanan pesanan, saya membuat sebuah analogi.  Cinta itu suatu substansi, zat, — kalo di imunologi mungkin seperti sitokin – yang dirilis pada saat ligand-reseptor bertemu.  Dalam interaksinya, permukaan ligand-reseptor harus cocok, baru sitokin bisa dirilis.  Walaupun ada juga yang memerlukan mediator lain yang memperantarai.  Seperti sitokin, cinta bisa diukur dan wujud, bukan hanya bisa dirasakan.  Sitokin yang dirilis ini bisa mempengaruhi milieu sitoplasma.  Saya termasuk organela sel lain yang terkena imbas dirilisnya sitokin cinta ini, sehingga saya bisa ikut merasa bahagia berada di dekat orang yang saling mencinta.

 

Pintu hati

Entah kenapa, tiba-tiba berkelebat di kepalaku sebuah benda bernama ‘pintu’.  Pintu adalah sesuatu yang menghubungkan dua ruangan, baik dilengkapi daun pintu maupun tidak.  Benda sederhana yang bisa menjadi sangat vital dan sangat dekat dengan keseharian kita.  Secara sadar maupun tidak, minimal dalam satu hari kita dua kali lewat pintu.  Keluar ruangan, masuk ruangan.  Sang kelana pun perlu pulang dan lewat pintu sekali lagi saat masuk rumahnya.  Untuk ruang yang tidak dilengkapi daun pintu, kadangkala kita tidak perlu masuk untuk melihat isinya, mungkin hanya melongok saja, melihat sambil menjulurkan leher ke dalam ruang itu.  Atau mengintip, kalau pintunya tertutup dan menyisakan sedikit celah atau lubang kunci.  Untuk yang satu ini ada etika tertentu yang harus diikuti, karena sebuah ruangan bisa bersifat privacy.

Dalam tulisan ini saya mengibaratkan ruangan dengan hati, yang kemudian kita sebut ‘ruang hati’.  Karena hati adalah ruang, maka perlu pintu sebagai reservoirnya.  Hampir tidak mungkin kita berjumpa ruangan tanpa pintu kan?  kalau ruang tanpa jendela sih masih mungkin.  Pintu pada ruang hati itu sendiri bisa tidak mempunyai daun pintu, ini analoginya untuk orang yang ekstrovert, atau punya daun pintu — dengan tingkat ketebalan dan jenis kayu yang berbeda –.  Untuk intensitas daun pintu tebal dan berat, kita masukkan ke dalam kategori introvert.  Susah banget mengetahui dan mengorek isi hatinya, bahkan mungkin pintunya jaraaang dibuka.  Apalagi kalau pintunya dikunci lalu kuncinya dibuang.  Ada lagi yang kuncinya disimpan, tapi yang menyimpan lupa dimana tempat penyimpanannya.  Tetapi seperti kurva normal, ekstrim kiri dan kanan tersebut tidak banyak dijumpai.  Lebih banyak orang bersifat rata-rata, pintunya kategori sedang dan kadang dibuka atau ditutup sesuai kebutuhan.

Selayaknya ruangan, ruang hati bisa kosong, terisi sebagian, atau penuh.  Ketiga kondisi ini bisa dijumpai dengan keadaan pintu tertutup, terbuka, atau tanpa daun pintu.  Ruang hati yang tidak dilengkapi daun pintu, isinya bisa kosong, terisi sebagian, atau penuh.  Tapi karena tidak ada sensor pintu, maka isinya juga bisa keluar masuk dengan bebas.  Yang ini ibaratnya orang yang tidak punya komitmen.  Sedangkan ruang kosong yang dilengkapi daun pintu, ibaratnya jomblo yang masih punya selective permeable untuk calon pasangannya.  Ada juga yang ruangnya kosong, tapi sengaja dikunci dengan alasan tertentu,”Tidak terima penghuni baru”.  Ruang yang penuh artinya tidak ada tempat lagi untuk orang lain, tapi pintunya masih bisa berfungsi.  Bagaimanapun, tetap harus ada pintu untuk fungsi homeostasis ruang hati.  Mungkin ada konflik-konflik kecil yang menggetarkan daun pintu, lantas bisa jadi pintunya terbuka, isinya keluar, atau diganti isi yang lain.  Semuanya tergantung kondisi daun pintu itu sendiri.  Karatan, keropos, rapuh atau masih bagus, dan dikunci atau tidak.  Yang agak sulit kondisi terakhir, ruang hati yang terisi sebagian.  Walaupun menurut keseimbangan, ruang yang tidak terlalu penuh lebih menunjang aktifitas penghuninya, tapi ruang ini menjadi tidak stabil.  Masih ada potensi orang lain masuk.  Dan seperti yang terisi penuh, bukan tidak mungkin yang sudah di dalam ruang akan keluar.  Lagi-lagi tergantung daun pintunya.  Karatan, keropos, rapuh atau masih bagus, dan dikunci atau tidak.  Untuk pintu itu sendiri, tidak ada ketentuan apakah harus dikunci atau kapan dikunci.  Tapi setidaknya harus dirawat agar tidak cepat keropos, karatan, atau dimakan rayap.  Selain dari kondisi daun pintu itu sendiri, terbuka atau tertutupnya pintu adalah pilihan pemilik pintu bukan?

Maka, jenis ruang dan pintu hati yang manakah yang kamu miliki?

(The picture above was taken by Safrina D. Ratnaningrum at Art Gallery Menara Taming Sari, Melacca, 3/8/2009)

Pekerja Domestik, Antara Harapan dan Kenyataan

Seperti halnya keluarga muda dengan suami istri yang bekerja, sebuah lagu lama dengan topik ‘suka duka urusan pembantu’ hampir selalu terdengar.  Terutama keluarga muda dengan bayi mungil umur 2 bulan yang harus segera ditinggal bekerja lagi setelah habisnya masa cuti sang bunda.  Untung saja saya tidak termasuk yang mengalami hal ini.  Saya bekerja setelah si sulung masuk SD, sedangkan si kecil lahir pada saat masa studi.  Walaupun si kecil harus ditinggal juga, tapi ibu dan saya mempunyai ‘kesepakatan’ untuk ibu bersedia membantu mengasuh si kecil selama masa studi.  Sehingga masa-masa hunting pembantu menjadi wajib ‘ain setelah masa studi saya berakhir.  Masalah gonta-ganti pembantu juga menjadi hal klasik.  Bagaimana tidak, mereka ini bukan karyawan dengan ikatan kontrak yang jelas.  Terutama untuk pekerja domestik yang menginap di rumah majikannya.  Seringkali mereka datang dengan kepala penuh tandatanya tentang tempat yang akan mereka tinggali ini.  Tentang keadaan rumahnya, lingkungannya, majikannya, anggota keluarga lainnya, fasilitas kerjanya, dan lain-lain.  Mereka bukan pelamar yang berkompetisi untuk pekerjaan tertentu yang sudah jelas klasifikasinya.

Pekerjaan domestik mempunyai variabilitas dan pengaruh lingkungan yang sangat tinggi.  Bagi pekerja domestik yang sudah berpengalaman biasanya akan banyak bertanya dan punya standar sendiri tentang hal-hal tersebut sebelum setuju bekerja.  Misalnya, rumahnya tingkat atau tidak, kalo tingkat, berapa tingkatnya, tipe berapa; rumahnya di kampung atau di perumahan; berapa jumlah anggota keluarga yang dilayani, ada bayi, anak kecil, orang jompo atau tidak; ada pembantu lain apa tidak; punya peliharaan apa saja, anjing, kucing?; punya mesin cuci, blender, magic com, pemanas air, pakai kompor jenis apa, atau airnya pam atau sumur?; dan biasanya yang selalu ditanyakan adalah, pekerjaannya apa saja? dan lantas kalau tidak sesuai dengan yang diakadkan menjadi alasan untuk hengkang.

Daftar panjang pekerjaan domestik :(
Daftar panjang pekerjaan domestik 😦

Tidak seperti pekerjaan sektor lain, pekerjaan domestik terdiri dari daftar panjang sampai-sampai sungkan kalau harus disebutkan secara detil.  Apa saja ya? Menyapu, mengepel, mengelap perabotan dan kaca, bahkan mungkin merapikan sepatu sandal harus masuk hitungan kalau kita mau adil dalam mempekerjakan mereka.  Anggota keluarga yang akan dilayani juga menjadi kriteria wajib berikutnya sehubungan dengan gaji yang akan mereka dapatkan.  Hal yang tidak bisa ditanyakan tapi menjadi faktor penentu adalah sikap dan perlakuan majikan.  Kalau mendapati perlakuan yang tidak sesuai, karyawan sektor lain mungkin masih bertahan karena terikat kontrak, tidak demikian dengan karyawan sektor domestik.  Hari ini datang, bisa jadi besok sudah hengkang.

Dari sisi majikan juga harus selektif.  Walaupun rekomendasi dari orang yang dipercaya itu penting, tapi seringkali kondisi ‘kepepet’ memaksa majikan untuk mengabaikan hal ini.  Karena tidak jarang mereka secara tiba-tiba maupun berpamitan, pergi dengan barang-barang berharga — sampai yang tidak berharga — dari rumah tersebut.  Sama halnya dengan pekerja, majikan juga punya kriteria tidak resmi tentang calon pekerjanya.  Seperti, sudah menikah belum, punya anak atau tidak, suaminya dimana dan kerjanya apa, anaknya berapa, umur berapa, anaknya nanti ditinggal sama siapa; sudah punya pengalaman belum, bisa masak tidak; bersihan atau tidak; dan selanjutnya.  Untuk urusan domestik standarnya tentu selera majikan sebagai pelanggan.  Ini juga seringkali menyulitkan.  Bersih itu yang seperti apa, masak enak itu yang bagaimana.  Memang awalnya pasti ada training dan penyesuaian, secanggih apapun si pekerja.  Tingkat ‘pelatihan’ yang diadakan pun bervariasi.  Seorang teman pernah mengeluh pekerjanya tidak bisa membedakan kunyit dan jahe, tapi ini masih lebih baik daripada tidak bisa membedakan kemiri dan ketumbar.  Padahal di sektor ini, antara demand dan ketersediaan masih banyakan demandnya, pun kalau kedua hal ini bertemu, banyak sekali faktor-faktor non formal yang membayangi sehingga bisa merugikan kedua belah pihak.

Mungkin suatu saat nanti pekerja domestik perlu menandatangani kontrak kerja yang tidak merugikan satu sama lain.  Karena bukan majikan saja yang harus legowo dengan segala ketidakpastian, pekerja pun demikian.  Tapi saya tidak tahu, apakah kriteria mampu membedakan bumbu dapur perlu dimasukkan ke dalam salah satu klausul kontrak kerja.

Sebuah Tontonan di Awal Syawal

Seiring gema takbir di awal bulan syawal, bersama itu pula beberapa tempat rekreasi berlomba mengambil kesempatan menyedot pengunjung dengan menyuguhkan hiburan yang mengusik birahi.  Seperti beberapa hari yang lalu, keceriaan kunjungan kami sekeluarga ke taman rekreasi Sengkaling jadi terganggu oleh hingar bingar pertunjukkan musik dangdut koplo yang panggungnya dipasang berdampingan dengan restaurant.  Tentu saja aksi dimulai saat jam makan siang karena pengunjung akan segera menyemut disana.  Penyanyinya perempuan dengan pakaian ketat, rok pendek dan blus ketat berleher ‘v’ yang rendah.  Lagu pertama digeber dengan volume yang sudah masuk kategori polusi suara, apalagi ini tempatnya di dekat tempat makan… belum lengkap, goyangan ‘hot’ pun dipertontonkan, yang tentu saja mengundang siulan dan celotehan nakal dari kaum adam.  Dilanjutkan lagu kedua dengan mengundang penonton, tentu saja lagi-lagi para kaum adam lengkap dengan beberapa lembar puluhan ribu rupiah di tangan untuk ‘nyawer’ si penyanyi.

 

Hmm… lantas setanpun berjingkrak setelah sebulan penuh dipenjara.

Trilogi Anak Rongga, A.Th.Sonnleitner, 1952

Betapa mudahnya teknologi mendekatkan masa lalu dan masa kini.  Di saat ingin menggali ingatan tentang salah satu bacaan favorit jaman SMP dulu, Trilogi Anak Rongga, yang saya dan seorang sahabat, Julie Nava, baca diam-diam pas pelajaran berlangsung, walaupun tidak langsung mendapatkan situsnya, akhirnya saya dapatkan penjelasannya melalui situs sang pengarang, A.Th.Sonnleitner, seorang pedagogik sekaligus pengarang dari Austria.  Buku ini terdiri dari 1) Anak Rongga dalam Lembah Rahasia, 2) Anak Rongga dalam Rumah Panggung dan 3) Anak Rongga dalam Rumah Batu. Mengisahkan tentang petualangan dua bersaudara Eva dan Hans dengan seting di suatu tempat terpencil yang memberi kesan jaman prasejarah.  Satu pertanyaan, apakah buku ini masih berada diantara koleksi buku fiksi di perpustakaan SMPN 2 Pasuruan tercinta?

http://tokohitamblackchamber.blogspot.com/2010/02/th-sonnleitner-trilogi-anak-rongga.html

ISO ora ISO yo kudu ISO???

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menjelaskan tentang ISO.  Karena walaupun istilah ini sudah sering saya baca di banyak tempat, tapi perkenalan saya dengan ISO masih sangat dini, bahkan boleh dibilang gak mudheng blas.  Perkenalan itupun rasanya by accident, kalo boleh dirunut lebih awal lagi, ini gara-gara mbak Agustin Iskandar yang ‘menjebloskan’ saya ke dunia quality assurance di tempat kerja saya.  Tulisan ini akan menjadi ajang curhat saya betapa ISO ini telah sanggup memporak-porandakan jadwal biologis saya selama beberapa hari belakangan.

Mula-mula yang saya tahu – tapi tidak bisa hadir walau diundang – diadakan acara sosialisasi ISO oleh institusi tempat saya bekerja.  Sosialisasi ini diadakan karena kami akan diaudit oleh tim yang akan atau tidak akan memberi status ‘approved’ atau  ‘certifiedISO 9001:2008 untuk institusi kami.  Walaupun setahun belakangan ini saya sudah lebih familiar dengan kegiatan audit, tetapi tidak urung gaung nama ISO ini cukup membuat panik juga.  Terutama karena yang akan banyak dinilai oleh tim auditor adalah quality management system yang notabene terkenal masih berantakan di unit kerja saya.  Tentu saja akhirnya kami harus mempersiapkan dokumen-dokumen sekaligus bentuk implementasi yang dapat diperlihatkan kepada asesor, bahwa kami sudah bekerja dengan baik dan memenuhi criteria yang ditentukan dalam ISO.  Celakanya, dokumen-dokumen kami masih centang perenang untuk disebut dokumen resmi, sekaligus banyak lubang dan perubahan-perubahan yang harus disesuaikan terutama karena model pembelajaran di institusi tempat saya bekerja sedang dalam masa transisi dari metode konvensional ke KBK yang tentunya lebih kompleks.  Hal ini menyebabkan banyak sekali temuan-temuan di lapangan yang tidak dengan mudah disesuaikan dengan dinamika sistem dokumentasi sebelumnya.  Alhasil, sambil sibuk membolak-balik dokumen lama dan mengintip-ngintip kondisi lapangan, jadilah dokumen yang mungkin hanya diadakan untuk menuntaskan ISO.  Betapa momen ini seharusnya menjadi titik awal evaluasi diri.  Sayang sekali kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan quality improvement.  Tetapi, diantara kesibukan mengajar lengkap dengan asesori tutorial, PBL, dan praktikum, belum lagi aspek penelitian dan pengabdian masyarakat yang harus dipenuhi, akankah waktu 24 jam sehari cukup untuk menuntaskan semuanya?  Mata masih sembab dan kepala terasa berat kurang tidur begadang dengan manual prosedur ketika sehabis menghadiri closing assessment I ISO 9001:2008 saya tiba di jurusan dan segera disambut oleh koreksi ujian akhir semester yang menumpuk karena belum tersentuh dalam seminggu.  Padahal minggu depan sudah memasuki jadwal semester pendek.  Akahkah semuanya bisa berjalan paralel dengan baik hingga assessment II bulan Oktober yang akan datang?  Buat saya lebih baik berstatus ‘uncertified’ ISO 9001:2008 dulu untuk tahun ini sehingga semua criteria bisa terbenahi secara runtut dan sistematis daripada memakai politik mercusuar yang dipaksakan.

Atau mungkin kami perlu meniru ‘Program 100 Hari’ a la SBY- Wish us luck…

Semalam Bersama ‘Musim Gugur di Manhattan’

Tadinya saya akan membuatkan resensi sebuah buku, tetapi karena otak sedang tidak ingin diformat berpikir formal, akhinya jadi resensi yang bukan sebenar-benarnya, karena campur-campur dengan komentar tidak resmi setengah meleset dari isi buku.

 

Berawal dari seorang sahabat, Julie Nava, yang punya dedikasi dan komitmen tinggi dengan dunia menulis meluncurkan sebuah novel “Musim Gugur Terakhir di Manhattan”, menginap di rumah saya selama beberapa hari dalam rangka liburan dan promo novel tersebut di Indonesia.  Antusias dengan kedatangannya dari Detroit yang membawa serta Pak Juan (demikian suami saya menyebut suami teman saya) dan gadis kecil berumur tiga setengah tahun Allyssa yang selalu menolak kalo dipuji.  Kemudian secara tidak disangka-sangka, pada sesi jalan-jalan ke Gramedia, sahabat saya itu menjumpai novelnya itu sudah dipajang di rak display dan spontan membelikan saya satu buah novelnya.  Semoga bukan karena dia tahu saya tidak akan membelinya karena yakin akan diberi (hehe… pede aja lagi).

Akhirnya, pada hari berikutnya saya habiskan malam saya bersama novel setebal 300an halaman tersebut.  Terusterang saya tidak bisa menjauhkan kehadiran sosok pengarang di dalam tokoh utama, Rosita atau Rosie, di dalam novel tersebut.  Mungkin karena saya kenal pengarang dengan sangat dekat, tahu persis perjalanan hidupnya seperti dia juga merekam sepak terjang dan keluh kesah saya, dan lebih banyak share dari hati ke hati daripada berbicara dengan memakai topeng kepentingan.  Kami saling mengenal bahkan sebelum kami dilahirkan.  Begitu dia selalu berseloroh tentang bagaimana kami bisa kenal satu sama lain.

Semula saya tidak bisa menghindar untuk selalu membandingkan Julie dan Rosie.  Didalam novel ini saya melihat pribadinya di setiap paragraf, kalimat, dan gerak-gerik Rosie.  Tentu saja semua novel dibuat berdasarkan observasi.  Tetapi observasi tersebut tidak harus berada dalam lingkaran terdekat dalam kehidupan penulis.  Walau bagaimanapun menulis tentang kehidupan di sekitar kita logikanya akan terasa lebih mudah daripada yang jauh diluar lingkaran kita.

Dalam novel ini saya membaca sahabat saya itu telah mencapai titik kulminasi dari apa-apa yang ditangkap oleh indranya selama ini.  Terutama dalam rentang hidupnya pasca menikah dengan Pak Juan.

Lebih lanjut, novel ini kemudian menjelma menjadi episode-episode hidup yang dibangun dengan cantik dan menghanyutkan.  Yang kemudian membawa saya lepas dari bayang-bayang pengarangnya… Novel ini akhirnya membawa saya masuk ke dalamnya dan membuat saya menjelma menjadi Rosie.  Menjadikan saya tertawa, tersenyum, dan menangis bersama Rosie.  Pada saat Rosie mencintai Anthony, saya menjadi berdebar, dan saya begitu bingung saat harus menjatuhkan pilihan mempertahankan Anthony dengan cintanya yang obsesif, atau menerima Marco yang lebih fleksibel.  Dan sampai lembar terakhirpun saya masih berpijak pada dua cinta yang berbeda walaupun jalan sudah dipilih…

Siapa yang Mencuci Piring?

Sudah beberapa minggu belakangan ini kami sekeluarga (tepatnya: saya) boleh berlega hati dengan adanya bibi yang membantu tugas-tugas domestik.  Yang paling penting buat saya dan suami, kami tidak perlu lagi membuat jadwal piket menjaga si kecil di rumah.  Atau pusing mencari pengganti giliran piket kalo mendadak ada kegiatan kantor yang tidak terjadwal.  Kehebohan pagi hari juga sudah jauh berkurang, karena beberapa tugas yang statusnya harus ‘solved’ sebelum berangkat kantor bisa didelegasikan pada bibi.  Sepulang kerja, pena, kertas dan komputer tidak lagi segera berganti menjadi sodet, panci dan kompor.

 

Begitu juga hari ini.  Setelah makan malam dengan menu sup ikan patin dan sambal bajak berpindah tempat ke perut, saya mengumpulkan piring dan gelas kotor ke tempat cuci piring.  Sesudah mencuci tangan saya tercenung sebentar, biasanya saat ini saya segera mencuci piring dan peralatan dapur lain agar besok pagi bisa mengerjakan tugas lainnya.  Tapi sekarang seolah semua urusan domestik mendadak menjadi tugas bibi, sehingga refleks yang biasanya saya miliki menjadi sebuah keraguan.  Lalu, kenapa saya harus berhenti sampai mencuci tangan saja dan menyerahkan tugas yang bisa saya kerjakan kepada kemanjaan.  Bukankah saya mempunyai kesempatan dan tidak sedang udzur?  Baiklah, pada saat mencuci piring hati saya bertanya-tanya.  Apakah saat ini saya sedang membantu bibi atau selama ini bibi yang membantu saya?  Sehingga kepada si sulungpun saya tidak lagi merasa perlu mengingatkannya untuk selalu membereskan tempat tidur atau mencuci piring sendiri sesudah makan.  Jangan-jangan si sulung juga merasakan hal yang sama,”Kok Ibu tidak pernah lagi nyuruh aku cuci piring ya?”.  Mungkin kemudian si sulung menjadi senang bin lega, yang kemudian saya jadikan introspeksi,”Nak, jangan senang dulu, mulai besok Ibu akan kembali mengingatkanmu dengan tugas-tugasmu itu”.

Internet di Rumah

Memasang jaringan internet di rumah sama dengan menghadirkan seluruh isi dunia dan langit serta yang ada diantaranya ke dalam rumah.  Apapun dapat dicari hanya dengan duduk mencangkung menikmati kripik dan teh hangat.  Tinggal klik, satelit akan mengirimkan sinyal dengan konten apapun yang kita inginkan.

Buat kami sendiri, sebelum memutuskan untuk berlangganan fasilitas ajaib ini pertimbangan demi pertimbangan sudah dilakukan menyusul rapat-rapat keluarga yang ujung-ujungnya ‘pasang internet’.  Buat Ibu sangat menguntungkan, karena bisa kerja sambil duduk mencangkung… hehehe… Untuk Bapak, okelah… apapun itu menurut dia bermanfaat untuk urusan pekerjaan, hobi dan menunjang karakternya sebagai orang yang sangat sosialis.  Bagaimana dengan si Sulung? situs pertama yang dikunjungi adalah situs Naruto.  Bukannya sentimen dengan Naruto, tapi manfaatnya itu dimana?… segudang pesan dan nasehat agar memakai fasilitas ini dengan baik, terutama untuk menambah pengetahuan seperti berkunjung ke National Geographic Kid, atau lainnya langsung luntur kena kangmas Naruto dan game online.  Yang terakhir ini paling menjengkelkan.  Akhirnya kalau ada pertanyaan-pertanyaan terlontar dari si Sulung, komentar Ibu,”Naa… yang seperti itu cari di internet.”  Atau akhirnya internet ini juga akan menggeser fungsi orangtua dalam proses pembelajaran di rumah.

Ketika Si Sulung ke Perpustakaan

Ke perpustakaan umum, ternyata selera si sulung yang baru akan meninggalkan bangku SD jauh berbeda dengan seleraku waktu seumuran dia.  Walaupun buku-buku Enid Blyton juga ada di rak buku kategori fiksi anak-anak, tetap saja sasaran utama si sulung adalah komik dan kawan-kawan.  Buku anak-anak, apapun kontennya, dengan ajaib saat ini disajikan dalam bentuk komik.  Mulai cerita ala manga sampai buku pengetahuan, semua ada versi komiknya.  Mengacu pada definisi komik pada wikipedia, Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita.  Rupanya si ‘gambar’ inilah yang menjadikan anak-anak (bahkan dewasa) tidak lagi tertarik dengan deretan tulisan yang hanya berisi narasi yang memerlukan rantai panjang untuk menjadi imajinasi.  Bukannya tidak percaya kalau si sulung malas berimajinasi saat aku tawari buku Lima Sekawan untuk dipinjam, alasannya tulisannya kecil-kecil, walaupun saat mengintip buku komik pilihannya tulisan di dalam bubble tersaji dalam font yang lebih kecil.  Uffs…

Padahal, terusterang saja buat saya buku dengan visualisasi komik lebih ruwet untuk dinikmati, karena kebanyakan gambar.  Ditambah lagi komik saat ini mempunyai kiblat karakter yang nyaris seragam, ‘manga’ alias komik jepang.  Karakternya hampir selalu punya ciri khas mata besar, mulut kecil dan hidung sejumput.

 

“Buku pilihan si Sulung vs pilihan Ibu”

Sedikit bernostalgia dengan koleksi buku fiksi jaman SD-SMP dulu, menyelami karakter Georgina Kirrin, Dick, Julian, Anne, dan Timmy dalam setiap petualangan Lima Sekawan atau membayangkan kehebohan di Malory Tower saat Madamoiselle Dupont memergoki anak-anak yang sedang pesta tengah malam rasanya tidak bisa mengalahkan gambaran komik pilihan si sulung.  Atau kalo diadu dengan yang sama-sama komik, Tintin dan Asterix menawarkan karakter yang lebih berwarna.  Kalau memang jaman bergeser, kenapa berpihak ke Komik dan kenapa harus Manga??

Museum Anatomi

Kalo ada deskripsi yang jelas tentang ‘Museum’ tentunya museum yang satu ini punya kategori khusus. Mungkin sebutan museum kurang pantas, karena sangat dipengaruhi latar belakang konsumen ato stakeholder-nya. Museum yang satu ini juga jelas-jelas unik, bahkan di negara tertentu disebut gallery bahkan beberapa koleksinya masuk kategori art gallery. Menurut kamus wikipedia, ‘Museum’ merujuk kepada bangunan tempat menyimpan khazanah sejarah purba atau yang lalu. Museum penting sebagai tempat kita merujuk sekiranya kita ingin mengatahui tentang sejarah lampau. Berdasarkan KBBI tentunya lebih jelas lagi. Tapi masih berkisar pada hal-hal yang sifatnya purba jua.

Tentang Museum Anatomi, koleksinya adalah fragmen-fragmen tubuh manusia yang dibuat berdasarkan regio dan sistem dengan tujuan untuk pembelajaran anatomi manusia. Tidak ada yang sifatnya purba, kecuali masa. Karena penghuni museum ini pernah hidup beberapa saat lalu. Belum melewati masa. Ataukah ada batasan yang jelas tentang masa?

Beberapa waktu lalu, bagian Anatomi FKUB meresmikan Museum Anatomi. Menjadi kebanggaan tentunya bagi sebuah kerja keras. Diresmikan oleh rektor yang konsekuensinya dikuntit oleh banyak media, cetak maupun audio visual, minimal yang lokalan-lah. Inilah sumber permasalahannya. Kami selaku tuan rumah sangat mengkhawatirkan terlibatnya media massa, sehingga sejak semula memang tidak mengundang peliput berita. Karena sesuatu yang akan diresmikan ini menyangkut harkat manusia terutama dari kacamata ketimuran. Ada koleksi janin dari berbagai tahap perkembangan (hmm…mungkin ada yang keberatan dengan istilah ‘koleksi’), potongan hingga tubuh manusia utuh, sistem pencernaan, hingga sistem saraf. Dan tanpa warning sebelumnya, para wartawan itu menjadikan mereka sebagai obyek berharga untuk menaikkan omzet dagangannya. Tidak mengejutkan kalo liputannya bertahan di halaman depan Jawa Pos hingga 2 hari berturut-turut dengan judul yang bombastis. Museum Anatomi, dari Janin, Jeroan, hingga Manusia Utuh. Dan celakanya lagi, mereka juga menuliskan: Dibuka Untuk Umum. Walaupun dalam brosur yang diedarkan tertulis ‘dengan rekomendasi dekan dan instansi yang mengirimkan’. Dan dibuka untuk kepentingan pendidikan anatomi semata. Hhh…di-cut habis, seperti ‘habislah kita’ esok harinya setelah berita tersebut diterbitkan. Masyarakat umum berduyun-duyun berkunjung dengan tujuan “Untuk melihat-lihat”, sebagian mungkin penasaran, apakah janin yang dipamerkan adalah anak yang kemarin aku gugurkan, ato apakah kakekku yang kuusir kemarin termasuk salah satu koleksi museum ini (ini sih karanganku aja…hehehe). Tentu saja mereka ini kami tolak, dengan cara yang paling halus hingga yang paling kasar (kalo mereka ngotot). Museum Anatomi, mungkin hal ini tidak mengejutkan bagi masyarakat di kultur tertentu, tentunya tidak di Indonesia. Dimana pada umumnya jenazah dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dimakamkan bahkan didoa’kan hingga 1000 harinya.

Ternyata begini rasanya ‘kecolongan’.

Terjebak Standar (versi: Rapotan)

Sepertinya ini jadi lagu lama para orangtua yang anaknya sudah sekolah di tingkat dasar ato bahkan te-ka (kindergarten). Tentang rapotan.
Menyekolahkan anak di ‘sekolah favorit’ menjadi idaman hampir semua orangtua. Apapun alasannya. Walaupun embel-embel favorit ini hanya stigma yang diberikan oleh masyarakat tapi lumayan ampuh juga sebagai lahan promosi bagi sekolah ybs. Stigma itu sendiri diberikan karena banyak kriteria. Biasanya menyangkut fasilitas (sarana dan prasarana) dan kualitas lulusan (yang ini kurang fair juga, lantaran input yang sudah bagus otomatis outputnya juga bagus).

Saya sendiri tidak termasuk orangtua yang menjadikan sekolah favorit sebagai pertimbangan utama dalam menyekolahkan anak. Tapi karena banyak hal, jadilah anak saya bersekolah di sekolah yang–kebetulan–adalah sekolah favorit. Tentu saja si Kecil masuk melalui seleksi karena kapasitas sekolah yang terbatas (dalihnya). Hari demi hari, bulan demi bulan, dan satu semester berlalu. Tibalah hari terima rapot (baca: rapotan). Manajemen sekolah menerapkan sistem peringkat, itu saya tahu. Tapi tidak saya sangka, para wali murid yang kebetulan sempat berinteraksi dengan saya ranking minded semua. Wuah…

Dalam proses belajar, saya tidak pernah mengintervensi si Kecil terlalu jauh. Apalagi karena sekolahnya sampai sore, jadi gak ada pe-er. Paling-paling cuma ngecek udah sampe mana, bisa apa tidak, yang susah apanya, gitu aja. Selebihnya, kami bermain, bercanda, dan membaca dongeng bersama. Beda banget dengan ortu lainnya yang orientasinya ke rangking. Mereka mengukur kemampuan anak dari rangking, seolah-olah bersekolah adalah berlomba, berkompetisi. Seringkali pulang sekolah si anak masih harus les ini-itu, baik yang berkaitan dengan pelajaran sekolah maupun tidak. Alamak… Detik itu saya sempat terpengaruh juga. Sepintas saya pandangai si Kecil yang ngobrol dengan temannya dengan keceriaan anak-anak, sesekali bersitegang karena gak setuju dengan pendapat temannya. Begitu polos, begitu murni, begitu indah. Anakku, haruskah aku melihatmu dengan kacamata ambisi, haruskah mulai detik ini “kamu mesti belajar lebih giat agar masuk–minimal–10 besar!”, sedangkan cinta ibu dan bapak tidak mengenal perbedaan seberapa tinggi prestasi yang bisa kamu raih. Nyaris titik air mata melihatnya.

Tidak. Saya tidak boleh terjebak standar (mengutip kata seorang sahabat). Anak adalah unik dan istimewa, seperti apapun dia, dialah anugerah terindah dalam perkawinan. Bukan lahan proyek orangtua apalagi penebus cita-cita yang gak kesampaian. Untunglah, suami juga berpendapat sama dengan saya. Kami hanya ingin si Kecil menjadi anak yang bahagia.