PKK Yang Luar Biasa

Dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan kegiatan PKK.  Bukan berarti tidak suka, bukan itu.  Tapi rasanya kok kegiatan PKK itu kurang produktif dan identik dengan arisan (ini sepertinya gara-gara salah pergaulan, ngumpulnya dengan kelompok PKK perkotaan yang relatif stagnan dan didominasi oleh kegiatan arisan).

Ternyata tidak demikian dengan PKK di daerah (baca: pedesaan).  Luar biasa sekali geliat aktifitas PKK di daerah ini.  Dan semuanya kembali pada 10 Program Pokok PKK.  Pokoknya kesepuluh-sepuluhnya diterapkan dan menjadi nafas dari semua kegiatan PKK.  Belum pernah terbayangkan sebelumnya kalau saat ini saya harus terjun di dalam kegiatan PKK daerah, apalagi menjadi Ketua TP (Tim Penggerak) PKK.  Walaupun dulu sering membolos arisan PKK RT, tapi untunglah saya masih hafal lagu Mars PKK gara-gara pernah ikut lomba paduan suara Mars PKK.  Sangat tidak elegan bukan, kalau Ketua TP PKK Kecamatan tidak hafal Mars PKK 😀

Begitulah, awal terjun di PKK Kecamatan bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya.  Langkah pertama yang saya ambil adalah mempelajari dengan membaca sebanyak-banyaknya literatur tentang Organisasi Tata Kelola PKK serta apapun tentang Pokja 1-4 (Kelompok Kerja) dan mulai menghafal 10 Program Pokok PKK.  Yang semakin dipahami membuat saya semakin sadar, betapa salah satu ujung tombak pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah ada di tangan kader PKK (yang akan mentransfer pengetahuannya kepada ibu-ibu di daerah).

PKK memang milik perempuan, tapi tanpa peran serta laki-laki kegiatan PKK tidak akan berjalan lancar.  Dalam hal ini tentu saja kerjasama yang baik harus dimulai dari keluarga sebagai basis pendidikan manusia.  Disinilah wacana literasi manusia (human literacy) berawal.  Hal tersebut sangat relevan dengan kepanjangan PKK, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

logo-atau-lambang-pkk
Logo PKK. Sepuluh buah ujung tombak yang tersusun melingkar di tengah logo merupakan lambang dari 10 Program Pokok PKK.

Tim Penggerak PKK sebagai mitra kerja dari pemerintah serta organisasi kemasyarakatan, yang berfungsi sebagai fasilisator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak  pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK.  Program PKK menyentuh berbagai aspek.  Aspek sumber daya manusia dari semua tingkatan usia, aspek alam dari bagaimana lingkungan terbentuk hingga urusan sampah, serta tentu saja aspek harmonisasi manusia dan alam.  Dengan begitu PKK sangat berperan ikut mensukseskan program pemerintah kalau tidak ingin disebut sebagai ujung tombak kesuksesan program pemerintah.

Saya contohkan disini adalah sinergi antara PKK Kecamatan dengan Puskesmas sebagai salah satu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kesehatan, Sosial, dan Pendidikan tingkat kecamatan.  Beberapa program kerja PKK adalah:

  1. Melalui program GSIB/KSIB (Gerakan Sayang Ibu Bayi/Keluarga Sayang Ibu Bayi), P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi), dan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).  Kesemuanya ikut mengawal usaha pemerintah menekan angka kematian ibu dan bayi melalui kampanye dan penyuluhan di pusat layanan kesehatan daerah. Memotivasi ibu hamil untuk rajin memeriksakan kandungan, mendapatkan gizi cukup, serta mendorong peran serta suami sebagai Suami Siaga dan Ayah Siaga.  Hebat bukan 🙂
  2. Sosialisasi pemberian ASI dan ASIEK (ASI eksklusif) dan membentuk KPASI/KPASIEK (Kelompok Pendukung) yang melibatkan keluarga dekat ibu menyusui
  3. Pencegahan stunting (perawakan pendek) pada balita dan gizi buruk
  4. Ikut serta mengkampanyekan Gemari (Gerakan Gemar Makan Ikan)
  5. Mendorong Anak Indonesia Suka Makan Ikan (AISUMAKI)
  6. Melalui program KKPBK (Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga) memasyarakatkan GenRe (Generasi Berencana), KB/KS (Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera)
  7. Mendorong peningkatan penghasilan keluarga melalui UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan mengaktifkan kegiatan KWT (Kelompok Wanita Tani)
  8. Meningkatkan kesadaran pendidikan dan pengajaran pada masyarakat melalui pembentukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di setiap dusun yang berlanjut pada PAUD HI (Holistik Integratif) bersama dengan kelompok BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif)
  9. Program PAAR (Pola Asuh Anak dan Remaja)
  10. Pelaksanaan program HATINYA (Halaman Asri Teratur Indah Nyaman)
  11. Program ODF (Open Defecation Free) di setiap dusun dan desa hingga tercapainya deklarasi ODF
  12. Penurunan angka kejadian kanker leher rahim dengan mengajak wanita usia subur mengikuti pemeriksaan penapisan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat)
  13. Program Lansia (Lanjut Usia) sehat, aktif, produktif, mandiri
  14. Pengadaan Bank Sampah di setiap Desa/Dusun.

Dan yang sudah saya sebutkan itu bukan sekedar tulisan loh… terbukti dari foto-foto –narsis– kegiatan berikut 😀

IMG-20190928-WA0041
Kegiatan IVA di Roemah Boedi Desa Wanurejo. Kode C berarti Cantik, menunjukkan bahwa perempuan harus cantik dan sehat luar dalam.
IMG-20191019-WA0040
Bersama kader HIMPAUDI Kec. Borobudur. Gerakan pungut sampah setelah acara senam AISUMAKI PAUD se-kecamatan Borobudur di Balkondes Ngargogondo.
IMG-20191115-WA0007
Bersama Juara Lomba Senam KB diadakan oleh Balai KB/KS diikuti oleh Kader KB, Kader Kesehatan dan Petugas Pembantu Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dari seluruh desa se-kecamatan Borobudur di Balkondes Tuksongo.  Kode V dengan punggung tangan menghadap ke depan memiliki arti ‘Ayo Ikut KB’.
IMG-20190904-WA0028
Bersama Pengurus dan Kader PKK Kecamatan dan Pokja III se-kecamatan Borobudur. Pelatihan pembuatan eco-brick di pendopo kantor kecamatan Borobudur.  Kode 3 Jari maksudnya adalah 3-R, re-use, reduce, recycle.

Setidaknya, program-program tersebut sudah saya ikuti maupun saya baca (di surat undangan kegiatan yang seringkali tidak dapat saya hadiri) selama hampir tiga bulan ini berkecimpung di dunia PKK Kecamatan.

Terbayang kan, betapa pentingnya arti PKK dalam ikut menyukseskan program-program pemerintah.  Karena PKK lah yang bersentuhan langsung dengan komunitas terkecil yang paling berperan dalam pembangunan masyarakat sehat sejahtera, yaitu keluarga.

Hiduup, Jayaa… PKK 😉

Cosmetics and The Beginners (Part 3): Make Up Practice.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang petualangan bersama kosmetik, akhirnya saatnya praktek self make up tiba juga.  Kegiatan ini tidak bertujuan untuk promosi produk apapun, melainkan hanya sebagai sarana relaksasi pikiran diantara kesibukan berkantor dan bersekolah.  Dan yang terpenting adalah bisa berbagi sejumput ilmu baru (buat kami ini sih, hehe).  Bahwa pakai bedak juga ada ilmunya itu fakta.  Ingin tahu lebih banyak?  Yuk, maree….

Dengan ditemani rujak manis Semeru dan bolen pisang nan nikmat, berkumpulah kami berlima (dengan mbak Chika sebagai tutor) di rumah dik Nita yang sempat ketiduran gara-gara mundurnya jadwal (memang tidur siang di hari Minggu itu sangat worthy ya dik, hehe).

IMG_20180923_165622.jpg
Rujak, bedak, dan bolen di hari Minggu siang 🙂

Setelah semua alat dan bahan yang kami miliki dijembreng dan diidentifikasi, mulailah kami berperang melawan kemalasan dandan *lebay*.  Berikut tahapan self make up natural yang diajarkan mbak Chika (yang akhirnya bergeser menjadi self make up kondangan sesuai request mbak Danik):

  1. Cleansing.  Bersih-bersih ini wajib pakai susu pembersih dan penyegar.  Susu pembersih untuk membersihkan, sedangkan penyegar untuk mengangkat pembersih dan meringkas pori-pori.  Kalau bersih-bersih pakai facial foam ala saya kata mbak Chika kurang efektif *hiks*.  Sehingga saya yang belum pernah punya pembersih dan penyegar terpaksa minta ke tetangga sebelah *teteup*.  Nah, caranya aplikasikan susu pembersih secukupnya di lima titik wajah dan diratakan dengan pijitan lembut agar wajah lebih relaks dan peredaran darah lancar.  Nikmati pijitannya untuk membantu menghilangkan stress.  Kalau masih kurang relaks boleh dipijit agak lama tapi jangan sampai ketiduran *bataldandan*.  Jadi jangan diucek-ucek seperti selama ini ya.  Berikutnya usap dengan kapas yang sudah diberi penyegar dengan cara ditarik agak kesamping atas.  Walaupun bebersih dengan cleansing milk dan face tonic saja sudah cukup, tapi karena sudah kebiasaan, tidak sreg rasanya kalau belum dibilas air *hihi*.  Alhasil, setelah cleansing, kami masih cuci muka pakai air.
  2. Priming.  Maksudnya pakai primer make up.  Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya, kami memakai dua primer.  Pertama pakai cyanite corrective base make up untuk mendapatkan warna kulit wajah yang cerah merata.  Caranya ambil sebesar kacang tanah dan ratakan seperti biasa.  Berikutnya ambil velvet mattyfying primer sebesar kacang ijo untuk menyerap produksi minyak sehingga nanti dandanan terkesan matte.  Corrective base teksturnya seperti susu pembersih dan memberi rasa dingin saat diaplikasikan ke wajah.  Mattyfying seperti gel bening yang langsung meresap saat kita pakai.  Sebetulnya pakai salah satu saja cukup dan disesuaikan dengan jenis kulit untuk daily make up.  Tapi maklumlah ini lagi kemaruk, jadi kalau gak ingat isi dompet rasanya mau beli serumnya sekalian 😀
  3. Foundationing.  Sebetulnya sebelum memakai foundation, tambahkan concelear pada kulit yang warnanya tidak rata, misalnya bekas jerawat dan melasma.  Concelear ini warnanya lebih gelap dari kulit, tapi setelah ditutup foundation warnanya jadi rata lagi.  Caranya dengan memberi sedikit concelear pada bagian yang ingin ditutup kemudian ditaping (ditepuk-tepuk ringan dengan jari) hingga rata.  Baru kemudian aplikasikan foundation.  Ambil foundation (boleh yang krim maupun cair/liquid) sebesar kacang tanah, letakkan di lima titik wajah dan ratakan.  Jangan pindah ke sisi wajah yang lain kalau satu sisi belum rata.  Biar gak lupa meratakan kata mbak Chika.  Untuk foundation ini kami pakai milik masing-masing, kecuali saya karena warnanya terlalu gelap untuk kulit saya (Wardah liquid foundation exclusive, no.4, natural).  Harusnya pakai nomer 2, sheer pink.  Nomer 4 ini dipilihkan mbak BA di counter Wardah saat itu.  Tapi kok jadi gak yakin ya, jangan-jangan karena nomer yang tersisa tinggal itu aja, huhuhu *curiga*.  BA ini singkatan dari beauty advisor atau bisa juga beauty assistant, asal jangan beauty accounting (ini mah teman saya yang akuntan tapi pinter dandan ituh *iri*).  Karena sudah terlanjur beli, kata mbak Chika dijual seken aja, eh, bukaaan, itu mah pikiran saya.  Saran mbak Chika sih dipakai saja tapi di-cover dengan TWC dan bedak tabur yang warnanya lebih terang (kok kedengarannya seperti pakai topeng berlapis-lapis ya? *sigh*). Dan tips lebih lengkapnya bisa diintip disini.
  4. Powdering (bedak maksudnya). Saking groginya kami, cara memakai bedak pun sampai nanya dulu ke mbak Chika.  Jadiiii, bedakan itu dengan cara ditepuk-tepuk (pakai spon lo ya).  Diawali dengan bedak padat, selanjutnya bedak tabur.  Sekali lagi ini maksudnya agar riasan tampak matte alias doff (kayak kertas foto aja, hihi).  Sepertinya untuk urusan rias merias ini harus jauh-jauh dari kata berminyak ya.  Padahal pas akhir session nanti ditawari pakai shimmer, alias serbuk halus yang membuat wajah kita berkilau gitu.  Kalau ada, saya mau pilih shimmer yang glow in the dark ah, biar wajah tetap kelihatan walaupun mati lampu *idebagus*.
  5. Eyebrow drawing. Tibalah saat paling susah menurut sejarah perdandanan, yaitu menggambar alis.  Dan betul juga, menggambar sepasang alis ini perlu waktu hingga setengah jam dimulai dari mengoreksi bentuk, memberi batas (dengan teori 4 titik), mengarsir (ups, bener-bener pelajaran gambar), meratakan, dan cropping.  Jadi gak heran kalau ada cowok yang sempat menyelesaikan sekolah S2 sembari nungguin ceweknya nggambar alis.  Mengoreksi bentuk ini tidak kami lakukan dengan mencabut atau mencukur rambut alis karena tidak sesuai dengan kaidah dandan wanita Islam.  Jadi caranya dengan menutup bagian yang tidak rapi dengan sikat alis atau sikat bulu mata yang sudah dibubuhi foundation (lebih baik yang berbentuk krim) sampai tertutupi.  Kemudian tentukan 2 titik medial atas bawah, titik puncak alis (gunungan), dan sudut alis.  Setelah itu dibuat garis penghubung kecuali di bagian medial atas bawah.  Medial ini bahasa anatomist ya, maksudnya pangkal alis, hehe.  Selanjutnya diarsir tipis ke tebal dari pangkal ke ujung agar tidak seperti alis sinchan yang tebal dari pangkal hingga ujung yaa.  Ratakan dengan pangkal pensil alis atau sikat alis.  Terakhir, cropping atau rapikan dengan foundation seperti saat mengoreksi bentuk tadi.  Ini bisa dilakukan dengan jari, kuas yang bulunya tipis memanjang untuk menipiskan batas alis, atau memakai sikat alis asalkan bukan dengan sikat gigi maupun sikat WC *lho*.  Nulisnya gampang, prakteknya susaaah…. *keluhberkepanjangan*.  Tapi jangan putus asa, kalau sudah bisa dijamin puas seperti bisa tidur siang di hari Minggu 😀 (siap-siap ikut alis drawing challenge).  Lagipula, untuk daily make up cukup dilakukan koreksi dan arsir aja kok.
  6. Eyeshadowing.  Aplikasikan eyeshadow dengan jari manis.  Kalau kurang manis dicelup air gula terlebih dahulu *eh*.  Ternyata kuas mata itu dipakai biar kelihatan pro aja kata mbak Chika.  Eyeshadow lebih mudah dipakai dengan jari manis.  Saya belum mencoba bagaimana hasilnya seandainya pakai jempol atau jari lainnya.  Ok, nurut aja sama mbak tutor.  Bayangan/shadow yang dibuat diharapkan bisa membentuk mata agar lebih segar (padahal untuk ini biasanya saya pakai dry eyes drops *abaikan*).  Eniwey, sapukan warna paling pucat pada seluruh kelopak mata sebagai base eye shadow.  Kemudian bagian ujung luar ditimpa warna paling gelap dengan cara diratakan dan ditapping menuju tengah.  Bagian ujung dalam diberi warna keemasan hingga sudut kelopak mata bagian bawah.  Terakhir, aplikasikan warna paling terang pada tulang yang menonjol di bawah ujung alis.  Sebetulnya saya kurang puas dengan standarisasi penempatan warna ini, karena kurang cocok untuk mata saya.  Mata saya yang belok ini malah jadi kelihatan ngantuk (atau mungkin memang sudah ngantuk?).  Kapan-kapan saya akan bereksperimen dengan gradasi lain ah.
  7. Eyelinering.  Tantangan berikutnya adalah memakai eyeliner.  Kalau mau hasil yang soft, pakai warna coklat baik itu eyeliner liquid maupun padat (pensil).  Tapi karena hari semakin malam – acara ini dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.30 – jadinya kalau pakai coklat kurang kelihatan.  Akhirnya kami semua mencoba liquid eyeliner hitam (uff, beraninya).  Sebagian mencoba menambahkan wing agar tidak tembus, eh, agar apa yaa…yah eksperimen aja gitulah, kan sedang trend :D.  Cara memakainya, tarik sudut luar mata agak keatas untuk mengurangi kerutan pada kulit kelopak mata.  Kemudian aplikasikan eyeliner dari luar ke dalam (atau sebaliknya, bagaimana mudahnya saja) dengan sekali sapuan.
  8. Blush on. Memakai blush on ini harus sambil senyum maksimal, karena blush on nya diaplikasikan di tonjolan tulang pipi tertinggi saat kita senyum.  Caranya kuas blush on ditarik dari bagian luar ke dalam.  Saya sempat salah kaprah tidak menyediakan blush on karena saya kira eye shadow yang agak pink bisa multifungsi sebagai pewarna pipi juga.  Polosnya lagi, seorang teman malah memakai lipstik sebagai pewarna bibir, blush on, dan eye shadow sekaligus (ini ngirit atau gak tau ya), hehe.  Ternyata mereka dibedakan karena bahannya berbeda.  Pada kesempatan ini saya nebeng blush on krim punya teman saya.  Inginnya pakai metode penempatan warna yang berbeda, yaitu blush on panas dingin yang ditempatkan di pipi area bawah mata secara horisontal.  Entah kenapa namanya panas dingin, mungkin karena hasil tampilannya seperti orang sakit demam ya?  Cara memakainya, ditutul-tutul (kedengaran seperti macan tutul *mikir*) kemudian ditapping pakai jari sampai rata.
  9. Lipstik.  Terakhir, memakai lipstik.  Karena benda ini sudah familiar dengan kami, mbak Chika hanya berpesan agar warnanya disesuaikan dengan warna blush on.  Selain itu, kalau rias matanya sudah cukup berat, pakai lipstik yang warnanya soft.  Sebaliknya, kalau mau menonjolkan warna bibir, jangan pakai rias mata yang terlalu berat.  Nanti jadinya saingan antara mata dan bibir.  Trus kalau saingan dan gak ada yang mau ngalah kamu juga yang repot, iya kan…
Pause bentar, 9 langkah dandan ini sungguh-sungguh ribet (one and only word to describe how to make up is).

Dan, sebagai konsekuensi dari tulisan tentang tutorial make up, maka kami terpaksa mengunggah foto sebelum dan sesudah untuk membuktikan bahwa cerita ini bukan hoax, hehe.  Finally, here we are 🙂

velpicstitch20180925_091931
Ini hasil perjuangan dandan sendiri lho.  Cakepan mana sebelum dan sesudahnya? 😀

Demikian laporan seadanya dari kami para pemula yang baru berkenalan dengan kosmetik lengkap ini.  Terlepas dari ribet ndaknya, semoga tulisan ini bisa membantu kamu-kamu yang kebetulan tersesat di blog saya, menambah pengetahuan, yang setidaknya bisa sedikit tahu tahap-tahap dandan kalau mau ke kondangan.  Selanjutnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan.  Mau fokus ke wajah yang flawless saja atau ditambah riasan lain silahkan bereksperimen 😉

velpicstitch20180925_104207
Bersama mbak Chika. Thanks ya mbak ❤
IMG_20180925_094438.jpg
3 jam kemudian… yey, siap pergi kondangan (minus one) 🙂

Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.

Diawali dari ngobrol-ngobrol dengan seorang sejawat kantor tentang mahasiswi-mahasiswi kami yang Ilmu Pengetahuan Kosmetiknya (IPK) lebih canggih dibanding kami, saya bermaksud hunting alat makeup lagi di OLX. Berbarengan dengan itu malah menemukan iklan kursus self makeup. Biayanya murah, pertemuannya sekali saja dengan biaya per orang 50 ribu dan durasi 2 jam. Thanks God, there is a will there is a way, Engkau tunjukkan jalan yang lurus daripada kami coba-coba sendiri malah salah jalan. Begitulah awal bagian kedua dari pengalaman saya berinteraksi dengan kosmetik.

Kursus ini sifatnya private group, jadi gurunya yang datang ke tempat kami. Kalau hanya satu orang biayanya disesuaikan lagi dengan jarak tempuh si mbak tutor. Awalnya hanya berdua, jadi agar lebih seru kami tawarkan ke teman-teman terdekat.  Dan ternyata disambut dengan antusias hingga terekrutlah kami berlima. Saya, mbak Danik, Nurul, Nita, dan Nuretha, yang notabene semuanya adalah very beginners dan sangat awam dalam hal per-makeup-an.

Berikutnya untuk dapat mengikuti kursus singkat ini dengan baik kami memerlukan beberapa alat dan bahan makeup yang – tentu saja – tidak semuanya kami punyai. Beberapa bahkan baru saya dengar namanya. Berikut alat dan bahan yang saya beli merujuk pada alat dan bahan yang sudah saya miliki:

  1. Primer makeup. Saya kira hanya proses amplifikasi DNA saja yang memerlukan primer, ternyata untuk makeup juga perlu primer *OhGod*. Berarti ada sekunder makeup dong? Iya betul. Primer ini diaplikasikan paling awal setelah diberi pelembab dan sebelum alas bedak, sehingga alat bedak menjadi lebih tahan lama karena primer membantu menahan minyak di wajah. Selain itu, primer mampu mengisi pori-pori di wajah sehingga tampilan make up lebih smooth dan flawless *pengen*. Secara umum fungsinya adalah untuk mempersiapkan dan melindungi wajah sebelum menerima bahan makeup yang jahat berikutnya. Setelah konsultasi dengan mbak Chika, sang tutor, kami memutuskan membeli primer merk Make Over (udah halal juga loh). “Lebih baik beli di toko Raya karena lengkap,” kata mbak Danik. Akhirnya terdamparlah saya di toko itu. Betul-betul super lengkap. Sebut saja merek kosmetik tertentu, pasti ada disana. Dari yang paling abal-abal sampai yang paling terkenal, dari yang eceran sampai grosiran.
    Alat-alat makeup disana lengkap. Di satu sudut ada kuas dan puff dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran yang sebagian baru saya lihat saat itu. Ckckck, betapa untuk urusan wajah saja perlu toko selengkap dan sebesar ini. Akhirnya daripada kesasar ke counter yang aneh-aneh, saya tanya saja ke salah satu SPG letak counter Make Over. Sampai di depan counter Make Over dengan pedenya saya sampaikan mau beli primer makeup:
    
    Saya (A) : mbak, beli primer make up (senyum pede)
    SPG (B) : yang mana mbak, ini ada 3 primer, atau beli tiga-tiganya?
    A : err…emang harus dipakai semua ya mbak? Kayaknya pesannya satu saja kok mbak (mbak Chika gak bilang tiga)
    B : (nunjukin brosur) ini ada serumnya, base makeup, dan velvet
    
    
    IMG_20180916_130003
    Buku katalog yang disodorkan mbak SPG *makinbingung*
    
    A : (makin bingung) saya potoin deh mbak, ini soalnya pesenan, saya tanyakan dulu (bo’ong dikit)
    
    Akhirnya foto brosur itu saya konsulkan ke mbak Chika yang kemudian menjelaskan bahwa pemakaiannya disesuaikan dengan jenis kulit. Primer hydrating untuk kulit kering, velvet untuk kulit berminyak, dan corrective base untuk kulit yang warnanya gak rata (semacam belang mungkin? Tapi bukan belang telon kan? *meouw*). Atau kalau kurang jelas ditanyakan ke SPGnya aja. Demikian penjelasan mbak Chika. Got it. Balik ke counter sambil berdoa agar SPGnya gak bosan dan berubah jutek saat saya tanya-tanya.
    
    A : mbak, kulit berminyak pakai velvet ya? Trus ini ada fleks juga, perlu pakai corrective base?
    B : pemakaiannya berurutan mbak, hydrating dulu, trus corrective baru kemudian velvet. (kemudian menjelaskan fungsinya masing-masing, bla bla bla)
    A : bisa untuk pemakaian sehari-hari kan mbak? Bukan buat ke kondangan aja maksud saya.
    B : bisa mbak, untuk tampilan kulit yang lebih halus dan bedaknya awet.
    
    (Si mbak SPG kemudian menjelaskan kalau sehari-hari dia memakai corrective hijau untuk menutupi bagian yang berjerawat walaupun fungsinya bukan untuk memudarkan warna seperti concelear. Kalau untuk kulit gelap tapi merata pakai corrective yang ungu).
    
    A : (waduh, pusing pala berbi ini sih, harus diputuskan sendiri nih) Ya udah karena ada fleks dan berminyak saya beli corrective dan velvet. 
    B : gak sekalian hydrating serumnya mbak?
    A : (tegas) ndak mbak, dua aja (sambil mikir harganya, velvet 89 ribu, corrective 79 ribu).
    Total yang harus saya bayar untuk dua primer ini adalah 151.200 rupiah, sudah termasuk diskon 10%. Rogoh kocek dalam-dalam.

    IMG_20180917_104456
    Finally, two primers!
  2. Foundation dan pensil alis. Pilihannya kalau ndak Wardah ya Make Over. Dengan pertimbangan budget, saya pilih Wardah yang saya beli di gerai Wardah saat jalan-jalan di CFD. Sekalian beli pensil alis coklat yang tutupnya dilengkapi sikat alis. Pertimbangan membeli warna coklat ini karena saya sudah punya eyeliner hitam. Saya pikir pensil alis dan eyeliner fungsinya bisa saling menggantikan. Mestinya gitu ya, bentuknya aja sama, hehe. Untuk foundation dan pensil alis saya keluar uang kurang lebih 115.000 (persisnya lupa karena notanya hilang).

    IMG_20180917_104541.jpg
    Ini hasil belanja di Wardah CFD, foundation, pensil alis, dan TWC.
  3. Eyeshadow. La Tulipe no.11, masih baru dan utuh.
  4. TWC. Wardah exclusive no.02 tinggal setengah, tidak usah beli.
  5. Bedak tabur. Minta teman saja *hihi*.
  6. Kuas. Beli di Raya juga, satu set kuas yang fungsinya buat apa saja saya juga masih bingung. Sarannya mbak Chika, beli yang satu set. Harga 27.500. Done.
  7. Lipstik. Punya 2, walaupun keduanya jenis matte, nanti diaplikasikan dengan lipgloss agar bibir lembab. Untuk lipstik jelas tidak usah beli.
  8. Eyeliner. Pixy warna hitam.
  9. Blush on. Katanya sih lipstik bisa diakali buat blush on. Atau salah satu warna di eyeshadow kan ada yang kemerahan, itu saja deh dinego buat blush on. Hehe.

Akhirnya, niat banget ya belanja kosmetiknya :D. Saking niatnya, sampai salah seorang teman saya curiga saya kesurupan si Manis Jembatan Ancol anak buahnya Nyi Roro Kidul pas kemping ke pantai selatan baru-baru ini.

So that, total belanjaan saya adalah 293.700 *jegring* (cashier machine sounds). Berikutnya, let’s go to the practice session.

Cosmetics and The Beginners (Part 1): Trial and (Often) Error.

Derita, eh, cerita ini akan saya bagi menjadi tiga bagian saking membosankannya panjangnya. Bagian pertama berisi latar belakang, bagian kedua tentang sesi belanja, dan bagian ketiga tentang praktek makeup.

Latar belakang ceritanya sih sederhana saja, yaitu termotivasi dari bagaimana caranya agar tidak terjerumus pada pembohongan publik dengan menyebarkan foto diri yang mengandung fitnah (kata-kata fitnah ini kok terkesan keji ya? Wkwkwk).

Paham kan, jaman sekarang semua kamera handphone menyediakan fitur photo editing, membuat wajah makin alus mulus cerah tanpa noda (menurut kamus kecantikan yaitu wajah yang flawless). Pokoknya kamera yang sangat memahami kebutuhan perempuan lah. Bahkan semakin face upgradedable sebuah kamera handphone maka makin mahal pula harganya. Belum lagi sejuta aplikasi photo editors yang tersedia gratis siap unduh dari google play store.

Sebelumnya saya sudah kenal dengan sebuah software genome editing, nah, ternyata wajah juga bisa diedit. Setidaknya kan tidak keluar biaya untuk oplas ya…:D (amit-amit kalau ini mah). Hasil foto yang lebih indah dari aslinya ini menjadi tantangan buat saya.

Mestinya bisa dong upgrade wajah seperti di foto ituh (istilah upgrade ini lama-lama kok terdengar seperti upgrade komputer atau kendaraan *mikir*). Iya tahulah kalau caranya dengan rajin perawatan wajah seperti facial, dermabrasi, sampai peeling, tapi cara instan berikut boleh juga dicoba, yaitu makeup (baca, membuat naik, terminologi kecantikan untuk istilah upgrade, menurut saya).

Modal makeup standar yang saya miliki sampai menjelang awal umur 40-an ini adalah pelembab sekaligus tabir surya.  Yang juga berfungsi sebagai alas bedak ringan (karena sewarna kulit yang membantu covering fleks usia 40-an).  Yaitu BB krim Kitoderm yang saya beli dari teman dokter.  Dan bedak padat alias TWC Wardah Exclusive Series. That’s all.  Hingga pada suatu hari saya tertarik membeli lipstik Wardah nude series di toko Watson, Plaza Pondok Gede pas mudik ke rumah ortu dua tahun lalu. Tertariknya sih karena label nude itu, maksudnya kalau pakai lipstik ini tetap tidak terlihat seperti memakai lipstik (lah, jadi tujuannya apa dong? *mikirlagi*). Hahaha…

Pada prinsipnya saya tidak ingin dandan berlebihan walaupun kata berlebihan ini sensenya bisa beda untuk masing-masing perempuan. Saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh karena rawan konflik seperti di daerah konflik (apasih?). Dan mengapa Wardah? Jujur saya kemakan iklan yang brand ambassador-nya Inneke Koesherawati dan Dewi Sandra ini. Melihat penampilan mereka yang anggun dan wajah terawat dengan dandanan natural (kecuali pada bagian lipstiknya jeng Dewi Sandra) membuat saya membayangkan sosok muslimah yang segar, enak dipandang (bukan bikin napsu lo ya), dan tidak kusam. Suatu perpaduan yang ideal kan, when inner meet outer beauty. Begitulah alasan saya memilih merek Wardah selain label halalnya sebagai alasan pertama tentunya.  Tapi sumpah ini bukan karena di-endorse ya, walaupun ngarep banget 😀

Kembali pada lipstik pertama saya. Saat itu di Watson tersedia empat pilihan warna. Dan tentu saja saya memilih warna yang paling miriiiip dengan bibir saya. Rasanya saat itu no.02 lah (blushing nude) yang paling nude versi saya. Walaupun setelah dicoba kok tetap seperti pakai lipstik ya, sepertinya lebih cocok yang no.03 (peach perfect). Padahal milihnya saja hampir setengah jam sampai anak saya protes karena lapar *maaf ya nak*. Wardah Intense Matte Nude Series no.02 ini bikin bibir saya lebih pinky, yaah judulnya saja blushing walaupun ada nudenya. Agak nyesel sih walaupun gak sampai guling-guling di lantai, karena toh harganya sangat terjangkau, gak sampai 50 ribu. Ternyata warna lipstik saat diaplikasikan di bibir bisa sedikit berubah karena perbedaan warna dasar bibir atau undertone masing-masing pemakai (kalau demam jadi makin merah kali ya?). Hmm, bahasanya sudah berasa beauty blogger aja, hehe… *beautybloggergadungan*.

Baiklah, akhirnya lipstik pertama ini sangat jarang dipakai, khawatir banyak yang tidak mengenali saya lagi alias pangling.

Lipstik berikutnya saya beli tahun lalu di situs jual beli OLX. Berawal dari cari tanah kavling, tersesatlah saya di rubrik makeup. Tersesat yang amat sangat jauh dan tidak nyambung. Eh disana ada yang jual refill bedak Wardah Exclusive no.02 seperti yang saya pakai yang kebetulan sudah hampir habis.

Bedak refill ini dijual dijual sepaket dengan Wardah Exclusive Matte Up Cream no.03 (see you latte) second seharga 50 ribu karena pembelinya salah pilih warna. Murahlah, karena refill bedak yang baru harga normalnya 50 ribu. Ini kan bonus lipstik yang warnanya boleh dikatakan cocok dengan yang saya inginkan, peach. Saking peachnya sampai bibir kelihatan pucat saat memakai lipstik ini. Sayang sekali karena sifatnya yang matte, bibir saya yang kering jadi semakin pecah-pecah karena lipstik ini. Sehingga pemakaiannya harus dialasi lipgloss (akhirnya beli lipgloss bening seharga 23 ribu, Wardah juga). Tujuannya bukan untuk membuat bibir berkilau glossy, tapi untuk melembabkan saja. Ilmu baru nih.

IMG_20180917_154013.jpg
Pernak pernik wajah dan bibir. My daily stuffs actually cuma bedak dan BB krim.

Kalau sebelumnya ingin memperbaiki penampilan bibir, sekarang giliran mata yang jadi sasaran. Masih gara-gara iseng ngintip rubrik makeup di OLX jadi tertarik dengan eyeshadow La Tulipe warna natural no.11 yang harganya sangat terjangkau kocek, 15 ribu saja. Kirain harga eye shadow itu sampai ratusan ribu, makanya begitu ketemu yang lima belas ribuan langsung acece beli walaupun gak tau kapan dipakainya 😀 (ini kalap atau gak tau ya?) *gakjelas*.

Masih seputar mata, alat make up berikutnya yang saya miliki adalah eyeliner dan pelentik bulu mata *wkwkwkwk*. Kalau ini murni ikut-ikutan kakak sepupu saya yang sudah terlebih dulu upgrade penampilan dengan menambahkan eyeliner hitam di tepi kelopak mata atasnya. Kemudian sudutnya dilukis agak terangkat gitu seperti mata kucing (gaya retro, pin up) untuk mengurangi kesan kuyu pada mata.

Sebetulnya untuk urusan mata ini saya sudah punya celak hitam berbentuk serbuk dapat dari oleh-oleh tetangga pulang haji yang sudah lama jadi pengangguran di wadah kosmetik saya. Celak ini bisa dimanfaatkan sebagai eyeliner, tapi aplikatornya yang keras dan serbuknya yang tidak merata membuat saya frustasi karena tidak berhasil membingkai mata dengan bagus. Hasilnya malah bleber kemana-mana memberi kesan sembab kurang tidur *gagaldandan*.

Akhirnya, setelah eksperimen gagal tersebut, terbelilah Pixy eyeliner pencil warna hitam seharga kurang dari 40 ribu (lupa pastinya berapa) karena belum terlalu nekat untuk membeli eyeliner cair. Menurut mbak SPG yang didukung kakak sepupu saya, merk Pixy ini cocok buat pemula karena mudah diaplikasikan (underline, pemula…hiks, orang lain sudah sampai bulan kali).  Masih berhubungan dengan mata, kakak sepupu saya menyarankan saya untuk sekalian membeli alat pelentik bulu mata seharga 15 ribu rupiah.

Alkisah, eyeliner ini merupakan salah satu alat kecantikan yang sudah ada sejak tahun 10.000 SM pada peradaban Mesir Kuno (Mesopotamia) dan digunakan sebagai penangkal roh jahat serta melindungi mata dari Dewa Matahari. Kosmetik mata ini mungkin kemudian berkembang menjadi celak yang mengandung bahan-bahan yang membantu kesehatan mata. Di dalam agama Islam, memakai celak alias eyeliner ini adalah sunnah.  Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum berani memakai eyeliner untuk keluar rumah karena wajah saya jadi kelihatan ‘lain’ *sigh*.
IMG_20180917_154710.jpg
Pernak pernik buat mata yang nyaris belum pernah dipakai kecuali buat trial yang banyak errornya *hiks*

Dari semua pengalaman saya berinteraksi dengan alat-alat kecantikan, satu hal yang bisa saya simpulkan yaitu ribet (pakai bold, italic, warna merah pulak).

Bayangkan kalau sudah dandan lengkap, mau ngucek mata kuatir eyeliner atau eyeshadow bleber, mau minum harus atur posisi bibir agar tidak meninggalkan bekas lipstik (saya sering geli lihat bekas lipstik orang di gelas atau sedotan). Belum lagi semuanya bakal bubar kena air wudhu. Walaupun setelah sholat bisa dandan lagi tapi itu kan samasekali tidak praktis dan takes time. Memang ada sih kosmetik yang waterproof, tapi kan jadinya menghalangi kulit dengan air wudhu. Mungkin saya yang kurang ilmu atau bagaimana, tapi nyatanya petualangan Si Pemula ini terus berlanjut ke bagian 2.

Jeda

Kulihat ruangmu kosong
Kutengok sisiku hampa
Kuraih tapi tak ada
Dimana kau sembunyi?
Dihatiku yang sepi
Atau pada celah ingatan

Aku terkurung, sendiri
Menyanyi sesuka hati
Kureka nada sumbang
Hingga lelah dan bosan

Tapi tetap kau tak datang
Berdiri jauh dariku
...
Atau biarlah kita berjarak
Sampai semuanya pasti
Dan kita menjadi keniscayaan.

Kirim Paket ke eL-eN

"Diih, kirim paket ke luar negeri aja dilaporkan di blog? lebaay..." Mungkin begitulah yang ada di batin saudara-saudara setanah air Indonesia Raya (su'udzon).  Tapi ya harap dimaklumi, pengalaman pertama yang agak ruwet (baca: exciting) memang perlu dibagi, agar tidak ada orang lain yang mengalami keruwetan seperti saya.

Berawal dari teman di Nevada yang bertekad untuk selalu pakai baju batik saat ngantor, saya akhirnya ketitipan belanja baju batik sekaligus mengirimkannya ke dia.

Proses belanja baju batiknya memakan waktu berbulan-bulan bagaikan belanja satu container baju saja.  Empat potong baju batik itu masing-masing saya beli di selasar mall Ciputra Semarang, toko batik Jayakarta Semarang, ITC Surabaya, dan toko online.  Dan ternyata selain titip kepada saya, sang teman juga usaha beli via online.  Dua lembar baju yang dibeli tersebut pengiriman luar negerinya juga saya bantu karena dia merasa si ibu penjual mematok harga yang terlalu tinggi untuk jasa pengirimannya, yaitu 500 ribu melalui kantor pos.  Padahal kiriman pertama via tantenya di Solo hanya kena biaya 400 ribu.  Kedua harga tersebut berdasarkan tarip EMS (Express Mail Service) yang katanya si paket dikirim pakai pesawat terbang.

Ingin sedikit berhemat, kali ini sang teman meminta batiknya dikirim pakai RLN.  Tidak jelas RLN ini singkatan dari apa, tapi secara umum RLN adalah Jasa Pos Tercatat (registered mail) – seharusnya singkatannya jadi JPT ya?? — dan hanya melayani kiriman barang kurang dari 2 kg.  Kabarnya RLN ini pakai kapal laut, atau tongkang kalau lagi apes 😦

Sangat kemas bukan? :D
Sangat kemas bukan? 😀

Jauh-jauh hari sebelum saya kirim, si teman sudah bagi-bagi tips pembungkusan paket sebagai berikut:  Barangnya dibungkus plastik ya (biar kalau kecemplung laut batiknya tidak basah, dan tidak sampai ke rumah dia tentunya).  Sekalian diberi pelampung kali ya #eh.  Kemudian dibungkus kertas sampul coklat, ditempeli alamat, dibungkus sampul coklat lagi, ditempeli alamat lagi.  –> Untungnya tidak ada bungkus ketiga, keempat, dan seterusnya, karena kalau ini kado tentu agak-agak bikin si penerima annoyed.  Karena saya tidak ingin bungkus kertasnya tercabik-cabik, maka tiap bungkus saya buat full covered lakban bening.  Saya pintar kan 😉 #belilakbantigagulung.

Akhirnya disinilah saya, di kantor pos pusat kota Malang, ngantri kirim paket ke Amerika (whoa, kereen).  Begitu sampai di depan petugas pos saya sudah siap jawaban seperti yang diajarkan si teman.

Katakan kalau paketnya isi baju, jangan bilang itu bahan-bahan pembuat bom.  Dan kalau ditanya harga, bilang kurang dari sejuta, kalau lebih dari sejuta bakal kena pajak (kalau itu gak perlu bohong sih) #orangbaikbaik.

Dan yang pasti saya harus memilih jasa pengiriman RLN.  Eh, setelah itu malah disuruh isi formulir dulu di loket formulir.  Tau gitu dari tadi saja, gak perlu antri dua kali.  Setelah mengisi formulir dan sabar antri untuk kedua kalinya, sampai di depan petugas saya malah ditanya ,”Sudah dicatatkan di bea cukai mbak?”.  Oh wooooot, pikiran langsung melayang ke kantor bea cukai nun jauh disana.  Dengan gigih saya berargumen agar tidak perlu ke bea cukai dan yang pasti ngantri lagi.

Petugas kemudian menjelaskan kalau semua kiriman ke luar negeri harus dicatatkan di bea cukai dulu.  Yah sudahlah, tau gitu dari tadi mbaak.  Untungnya kantor bea cukai yang dimaksud masih satu kompleks dengan kantor pos (sudah sepaket kalee, hehe).  Di kantor bea cukai saya mengisi formulis rangkap tiga.  Formulir warna merah untuk arsip bea cukai, warna putih dengan stempel ‘Telah Dibukukan’ dilampirkan di paket, dan warna kuning sebagai arsip saya.

Akhirnya setelah tiga kali antri saya disodori biaya kirim 277.649 rupiah dengan penjelasan 3 minggu lagi sampai (seandainya saya bisa mengecilkan tubuh dan ikut paket itu, lumayan bisa keliling dunia).

Pengalaman berikutnya mengirimkan paket via EMS, ke teman yang sama.  Kalau ini tugasnya melanjutkan estafet pengiriman batik yang dia beli secara online di Solo.  Saya tinggal memberi label alamat, memberi bungkus kedua, dan melabel alamat lagi.

Kelihatannya bungkus ganda ini hanya perlu dilakukan untuk kiriman via EMS karena kabarnya bungkus kita akan dibongkar lagi dan diberi bungkus baru versi EMS.  Seperti penjelasan singkat beda RLN dan EMS yang saya dapatkan di sebuah blog.  Berikut informasi tersebut:

EMS

  1. Tarif lebih mahal daripada Pos Tercatat (RLN).
  2. Tarif dihitung per negara tujuan.
  3. Tarif dihitung per gram. Untuk paket standar, ukurannya 250 gram (seperempat kilogram), 500 gram (setengah kilogram) atau 1000 gram (satu kilogram).
  4. Estimasi sampai di tujuan adalah 5-7 hari kerja.
  5. Barang tidak perlu dipacking, karena nanti akan dibongkar kembali menggunakan plastic bag khusus EMS.
  6. Barang bisa diketahui / dilacak keberadaannya karena ada Tracking Number. Tracking number berfungsi hingga barang sampai di tempat tujuan dan diterima.

Pos Tercatat (RLN)

  1. Tarif lebih murah daripada EMS.
  2. Tarif dihitung per negara tujuan, tetapi kurang lebih untuk negara-negara di Asia dan Eropa bisa diperkirakan, tarifnya sama.
  3. Estimasi sampai di tujuan adalah 15 hari kerja (paling cepat), bisa 2 bulan (paling lambat) atau hilang (kalau apes), hehe.
  4. Barang perlu dipacking rapi, diberi nama, alamat dan nomer telpon jelas.
  5. Ada tracking number, tetapi hanya bisa dilacak sampai Jakarta saja. Sebenarnya bisa dilacak hinggak ke tujuan dengan tracking number itu (TN), tetapi bukan melalui website Pos Indonesia melainkan melalui website pihak ketiga.
Sebagai tambahan informasi, keberadaan EMS bisa kita lacak melalui http://www.posindonesia.co.id/ dengan memasukkan tracking number yang tertera pada resi kiriman kita.
img_20170211_081646
Formulir EMS

Nah, karena ini pengalaman kedua, saya sudah lebih pintar.  Begitu parkir langsung menuju kantor bea cukai sebelah kantor pos.  Sedangkan formulir EMS-nya bisa kita dapatkan di meja petugas pos.  Dengan berat 704 gram, paket kedua ini kena biaya kirim sebesar 395 ribu rupiah dengan keterangan kurang lebih seminggu lagi sampai tujuan.

Sebagai informasi, kalau ingin memperkirakan biaya kirim paket kita, bisa melalui http://www.posindonesia.co.id/tnt/?ii=tarif-kiriman.  Pokoknya kantor pos sekarang sudah keren dan canggih.  Dengan catatan jasa ini hanya ada di kantor pos besar yang hanya ada satu di tiap kota/kabupaten.

img_20170211_081922
Seandainya bisa nunut berangkat… 😦

Demikianlah, saat ini saya dan si teman harap-harap cemas menunggu paket tiba.  Tadinya pengalaman ini akan dibagi setelah paketnya sampai tujuan.  Tapi, iya kalau sampai, kalau ndak? 😀

Donato Eksperimento

Hari ini si kecil tidak sekolah karena batuk.  Mungkin dipicu cuaca yang kurang bersahabat akhir-akhir ini.  Selain itu kelihatannya dia sedang ingin bermalas-malasan di rumah.  Kombinasi yang ideal untuk tidak masuk sekolah.  Nah, sebagai ibu yang baik, tentu saja saya ikut-ikutan absen ke kampus, menemani si kecil tiduran di rumah #heavenly.

Bangun menjelang pukul 8.00 pagi saya jadi keidean bikin donat.  Donat? Iya donaaat.  Ini gara-gara seorang sepupu di grup whatsapp keluarga melakukan kampanye membuat donat.  Kabarnya donat adalah kue yang mudah dibuat, antigagal.  Cocok buat saya yang takut gagal, terutama gagal move on #curcol.

Hampir semua saudara perempuan di grup sudah tertulari virus bikin donat.  Mereka juga pamer foto-foto narsis bareng donat produksi sendiri.  Apalagi konon resep donat sepupu saya ini hasil menyadap resep donat ®Jco.  Huhuhu… saya iriiiii… mereka bisa bikin donat, masak saya enggak #meweksambilsalto.

Hingga kemudian beberapa bulan yang lalu pada suatu hari saya mampir ke toko bahan kue di dekat rumah.  Sehingga lebih jelasnya bahan donat itu sudah menghuni lemari dapur selama berbulan-bulan #sigh.  Hingga datanglah kesempatan dan tentunya yang lebih penting semangat disertai niat menggebu untuk bikin donat, yaitu hari iniiiii #lompatjongkoklimakali.

Setelah sholat minta petunjuk dan push-up sepuluh kali saya siap fisik dan mental (bohong ini sih).  Saya akan menjalani hal terpenting dalam hidup saya, yaitu pertama kalinya membuat donat.  Bismillah.

Langkah pertama, menyiapkan contekan resep dari sepupu saya sebagai berikut:

1 kg tepung cakra

500 ml air

100 g gula pasir

100 g margarin

1 sachet fermipan

4 kuning telur

2 sdm bakerbonus

2 sdm susu fullcream

Langkah kedua.  Setelah semua bahan ditakar sesuai standar operasional procedure, dilanjutkan dengan:

  1. Menyiapkan baskom besar (besarnya menyesuaikan ya, jangan terlalu besar nanti dikira mau ngerendem cucian), lalu semua bahan dicampur kecuali tepung dan margarin  (gampaang, sambil merem juga bisa #sombong).
  2. Memasukkan terigu sedikit demi sedikit sampai separuh kemudian margarin sambil memasukkan terigu sampai habis dan meremas-remas adonan sampai kalis.

Apakah kalis itu? menurut yang saya dapatkan dari internet:

adjective

1. suci; bersih; murni: bayi yg — dr dosa jangan dibawa-bawa; 2 a tidak berkilat atau bersinar krn tersaput sesuatu (tt kaca, barang logam, dsb): kaca itu — sebab terkena air; 3 a tidak dapat kena air atau tidak dapat basah (spt daun keladi): daun keladi bersifat –; 4 a tidak dapat kena penyakit; kebal (dr penyakit): sejak kecil anak saya ini — dr penyakit; 5 v terhindar (dr bahaya);
 air tidak dapat dimasuki (diresapi) air; kedap air: got yg belum kering itu — air; — gas tidak dapat dimasuki gas (udara); kedap udara; kalis udara; — jais tidak dapat diberi nasihat, ajaran, dsb: morfinis itu sudah — jais; — udara kalis gas

Aaargh… pasti bukan iniiih.  Mau nanya saudara kok gengsi, akhirnya browsing lagi.

Akhirnya ketemulah ciri-ciri adonan kalis, yaitu:

  1. Adonan telah mengaret dan elastis bila ditarik.
  2. Bila dilihat adonan telah mengkilat.
  3. Bila direntangkan adonan akan tipis rata dan tidak mudah robek.

Berbekal informasi tersebut, bekerja keraslah saya menguleni adonan supaya kalis.

Sampai disini masalah timbul.  Kenapa setelah sekilo tepung masuk adonan masih lengket di tangan ya? Teksturnya masih basah.

Dilanda bingung, saya memiliki 3 pilihan (1) fifty-fifty (lanjutkan atau berhenti), (2) ask the audience, (2) phone a friend.

Pilihan kesatu saya abaikan karena sudah terlanjur basah bikin donat.  Sebetulnya lebih tepat ‘terlanjur lengket’ kena adonan.  Pilihan kedua juga membuat saya ragu karena di rumah ini hanya ada dua audience, yaitu anak kelas 3 SD yang sedang asyik nonton VLOG di tab-nya dan seekor kucing pemalas yang hanya bangun kalau mendengar saya membuka kaleng makanannya.  Tidak ada pilihan lain kecuali pilihan ketiga, yaitu phone a friend.  Adegan berikutnya tampaklah saya sedang curhat semi panik ke sepupu saya di seberang telepon.  Saran yang saya dapatkan setelah dia memastikan bahwa resep saya sesuai hukum yang berlaku yaitu ,”Tambahi lagi tepungnya dik”.  Haah?! Ok, untung saja masih ada stok tepung sekilo.

Setelah hampir satu jam berjibaku menguleni adonan, disertai tetesan keringat yang membuat donat saya dijamin lebih gurih, membanting-banting adonan pakai jurus pendekar mabok, dan tercampur hampir dua kilo tepung akhirnya adonan kalis juga (Gak salah nih hampir dua kilo tepung? Sayangnya enggak....) #introspeksidiri.

Ternyata lamanya menguleni ini membawa masalah baru.  Adonan menjadi terlanjur mengembang/terfermentasi.  Cirinya bagian dalam kalau dibuka tampak berserat.  Halaah, maju terus pantang mundur.  Artinya adonan tidak perlu lagi ditutup serbet agar mengembang.  Dengan harap-harap cemas saya bagi adonan menjadi bulatan-bulatan sebesar bola ping-pong (atau lebih besar agar adonan cepat habis).  Sempat ganti metode pas bikin bulatan-bulatan.  Saya pakai mulut gelas untuk mencetak donat agar ukurannya sama.  Tapi ternyata bukan soal ukuran, karena antrian terakhir pasti sudah lebih berongga dan mudah membesar saat digoreng.

img_20170207_112804
Berdesakan di wajan kecil 😦

Penggorengan dan minyak goreng disiapkan dan kompor dinyalakan.  Pada tahap ini saya berpacu dengan waktu karena semakin lama proses berjalan maka adonan akan semakin mengembang.  Secara keseluruhan sebelum digoreng donat saya mengalami tiga kali kesempatan berfermentasi, yaitu saat kelamaan diuleni, saat antri akan digoreng, dan saat digoreng.  Yah begitulah, saat digoreng donat saya membesar memenuhi wajan sehingga saya harus ganti wajan yang lebih lebar.

Akhirnya perjuangan dari pukul 9.00 hingga pukul 11.00 berbuah manis.  Eh, maksud saya berbuah donat.  Hmm… kurang tepat juga ya, donat bukan buah.  Ah, sudahlah.

Donat pertama menampakkan warnanya yang kuning kecoklatan seakan menyapa saya dengan senyum terkembang (iyalah donatnya menjadi sangat gendut, baca: mengembang).

img_20170207_112210
Taraaa… donat pertamaku, cantik kaan 😉

Pegalnya tangan yang rasanya hampir kram terbayar sudah.  Dari resep diatas, dengan hampir dua kilo tepung, dihasilkan 30 buah donat yang gendut-gendut (ups, donat bukan buah ya).  Demikianlah, anak-anak, maafkan ibu ya, untuk beberapa hari ke depan kita akan makan donat pagi siang malam.  Hihihi…

2015 in review

Sebetulnya beberapa bulan ini sudah tidak semangat nulis di blog.  Selain kekeringan ide, partisi di otak rasanya sudah overload berdesakan.  So, perlu efisiensi folder.  Sebagian besar data yang masuk ke dalam kategori ‘junk’ dan ‘junkiest’ sudah dimusnahkan.  Sehingga lumayan bisa bikin bernapas legaaah… *minumNapacin*

Tapi tidak ada salahnya mem-posting review blog saya selama 2015 seperti berikut:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 57,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 21 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Aku Jatuh Cinta

Ada orang sewot gara-gara aku jatuh cinta. Padahal aku tiap hari jatuh cinta. Pada apa pun yang kutemui. Termasuk pada mendung dan cerita pagi.

Ada komentar kesal karena aku bahagia. Padahal tiap detik aku bahagia. Semudah kutemukan embun diantara ilalang basah.

Lalu terbuat dari apa hatinya?

Love-Paint-Wallpaper

(Pic was copied from Copied from http://stuffkit.com/wp-content/uploads/2013/01/Love-Paint-Wallpaper.jpg)

Laboratorium Kecil Saya

Ini bukan bagian dari resolusi akhir tahun. Juga bukan cita-cita karena kemucuken (baca: terlalu ngayal).

Sebetulnya saya sebut terlalu ngayal karena ingin merendah di mata Tuhan. Selebihnya, saya optimis bisa. Sebagaimana saya merawat keinginan ini sejak dulu sekali. Saat rumah tinggal kami selalu dikitari tanah kebun yang ditanami kelapa gading, ketela pohon, ubi kayu, kenikir, pisang, jambu bangkok, rambutan, mangga, hingga beberapa pokok manggis.

Saya ingin mempunyai laboratorium kecil di samping rumah. Sehingga, setiap saya ingin, saya dapat melakukan beberapa eksperimen kecil tentang tanaman. Disana minimal tersedia berbagai media kultur, inkubator, dan mikroskop. Tentu saja dilengkapi dengan berjenis-jenis tabung percobaan. Seiring dengan hal-hal baru yang saya ketahui, saya juga akan melengkapi laboratorium itu dengan alat dan bahan isolasi DNA. Nantinya, banyak yang dapat dilakukan disana. Hibridisasi tanaman, identifikasi tanaman, dan tahap pemuliaan tanaman lainnya.

Lebih lanjut, karena saat ini saya mendalami ilmu tentang manusia, akan ada laboratorium biomedik. Mungkin di lantai dua, atau dua dan tiga. Karena akan diperlukan ruang uji mikrobiologi, farmakologi, dan genetika. Banyak eksperimen yang bisa dilakukan disana. Misalnya tentang pengembangan obat dan antibiotik berbasis herbal serta perbedaan respon obat tertentu sehubungan dengan variasi gen manusia. Alat tambahannya mesin PCR dan frezeer -20 derajat C. Sedangkan bak elektroforesis dan UV light numpang laboratorium kampus saja. Karena, selain mahal, laboratorium kecil yang saya inginkan sudah menjadi bangunan tiga lantai…

Buat Mama

Selarik prosa yang dituliskan oleh Agus Syafaat pada Juli 1993.

IBU

Demikianlah, kerinduan itu perlahan berjamur melekati batang jarum jam.  Lalu mimpi memanjang membuka pintu dan jendela hingga dapat kulihat kanan-kanak berlarian bersama angin di antara bunga-bunga rumput, sementara burung-burung menjauh meraba horison.  Ketika matahari senja melukis jingga di pelepah padi, kuhisap nafas yang dulu pernah kau hisap, Ibu.  Seperti sungai mengenangkan mata air, seperti daun mengenangkan ranting.

Rinduku menghijau berakar pada waktu, tapi mataku tak lagi percaya pada apa yang diberitakan almanak.  Maka kubiarkan angin menerbangkan lembarnya satu-satu, menjadi hujan yang memeram daun-daun di pojok halaman.  Hanya matamu yang jernih mampu jadi silhuet di sepenjang matahari.

Aku hanya percaya pada doamu.  Doa yang mendetakkan jantungku, doa yang menghembus kelopak mataku, doa yang melukis langit biru.

Inilah anakmu, Ibu, yang menulis prosa bagi usia yang memutih, agar suatu ketika dapat kubacakan usiaku dengan lantang dalam keteduhan pelukanmu.

source: http://images.fineartamerica.com/images-medium/mother-with-child-padmakar-kappagantula.jpg
source: http://images.fineartamerica.com/images-medium/mother-with-child-padmakar-kappagantula.jpg

Yang Ke-250

Ini postingan ke-250.  Selamat buat saya yang sudah istiqomah menulis di blog ini.

Yah, karena dilarang corat-coret dinding tetangga selain di kolom komentar. Itupun bisa kena sapu kalau yang punya rumah tidak berkenan.
Di postingan ke-250 ini sebetulnya saya ingin menuliskan sesuatu yang sangat berkesan, inspiratif, dan penuh makna. Tapi sayang, saya sedang tidak punya ide samasekali. Apalagi menulis sesuatu yang ilmiah.

Lah, lalu kenapa nulis? Kan bisa nanti-nanti?

Saya nulis karena sedang bosan, jenuh, kesal, marah. Anything related with those black mood. Ya, perasaan saya sedang gelap. Mendung. Dan tentu saja – sebagai perempuan biasa yang mengedepankan perasaan – saya ingin menangis. Selain menuliskan ini, saya juga mengganti ‘sticky post’ dengan quote tentang tangis. Saya sedang mempersalahkan diri, yang satu sisinya sedang membaca eksepsi.  Entah nanti amar putusannya apa.

Ummmm....
Ummmm….

Bagaimanapun, saya mengucapkan terimakasih pada semua pembaca blog saya. Semoga ada hal-hal bermanfaat yang bisa diambil dari sini.  Maafkan kalau ada hal-hal yang tidak berkenan.  Saya sangat terbuka terhadap kritik dan teguran agar menjadi lebih baik.

Saya dan Lontong Cap Go Meh

Sejak beberapa tahun lalu, di setiap penghujung Ramadhan atau awal Syawal, saya sempatkan membuat lontong cap go meh favorit papa (alm) sebagai menu wajib lebaran saat keluarga besar ngumpul. Anggota keluarga besar yang tercatat dalam buku induk saat ini adalah kami berenambelas yaitu mama, lima anak, tiga menantu, tujuh cucu.

Lontong cap go meh ala saya minimalis saja karena saya tidak mau terpaku di dapur, ngeman kegiatan Ramadhan yang lain. Hidangannya terdiri dari:

  1. Lontong. Iyalaah. Ini cukup pesan pada pedagang lontong langganan yang di Pasar Bunul dekat rumah. Lontongnya padat, mantap, dan harganya terjangkau @1000 rupiah. Untuk kami berenambelas, saya pesan 25 buah lontong.
  2. Opor ayam dengan 20 potong ayam.
  3. Telur bumbu petis. Petisnya tidak boleh petis yang KW1 saja, tapi mesti campur 1:3 dengan petis KW3 supaya rasanya tidak pahit. Untuk ini 20 butir telur cukuplah.
  4. Sambal goreng rebung. Kalau pas tidak ada rebung bisa diganti pepaya muda atau labu siam. Pilih rebung atau labu yang sudah dirajang ya, karena urusan rajang-merajang ini sangat makan waktu.
  5. Pelengkap: bawang goreng dan bubuk kedelai beli yang sudah siap pakai.
  6. Krupuk udang.

Sudah. Memasaknya saya cicil 2 hari.

Hari pertama:

Belanja, menggoreng krupuk, menyiapkan bumbu, 3 jam.

Hari kedua:

Membuat opor ayam, telur bumbu petis, dan sambal goreng rebung, mengambil pesanan lontong, 3 jam.

Hari ketiga:

Menghangatkan masakan, lalu…

Selamat makan 🙂

(Maaf, tidak sempat didokumentasikan, sudah keburu licin tandas 😀 )