Don’t Give Up (by a-Linea8)

Kali ini boleh dong share video klip buatan sendiri 😀

(Don’t Give Up, video ini didedikasikan untuk dunia pendidikan Indonesia)

Sudah menyimak video klip di atas? Baiklah. Semoga otomatis klik gambar jempol keatas dan sapskreb, karena sapskreb itu gratis 👍😎

Sejujurnya saya bingung mau menulis sisi mananya:

  1. Lagunya
  2. Story boardnya, atau
  3. Pembuatan videonya

Akhirnya saya tulis semuanya saja ya, karena banyak kisah di balik pembuatan video ini, itupun sebagian besar sudah disensor 😉

Pertama, lagunya.

Lagu ini merupakan lagu ke-4 dari suami dkk. Tiga single pertama lirik dan lagunya ditulis oleh suami, sedangkan Don’t Give Up dibuat oleh mas Yusuf (beliau ini musisi asli, hanya saja saat ini nyambi jadi Camat di Kec. Salaman, Kab. Magelang). Semua vokalnya diisi mas Labbaika (yang punya sambilan jadi Camat Muntilan dan kadang-kadang terima order nyanyi di acara kawinan, eh…). Sementara suami dan mas Yusuf fokus di gitar akustik dan elektrik. Single pertama sampai ketiga silahkan disimak di channel mereka ya, buat nambah-nambah viewer, hehe…

Berikutnya tentang story boardnya.

Pada single ke-4, para siboekers ini ingin membuat video klip yang lebih seriyes, lebih bagus dan lebih pro. Begitu lagu selesai diaransemen oleh mas Adi, mulailah kita cari ide dan alur cerita yang pas untuk lagu ini. Pertama kali mendengar lagu ini saya langsung tahu bahwa lagu ini dibuat oleh mas Yusuf untuk mbak Niken, istrinya, karena kebetulan saya pernah terlibat chat panjang dengan mbak Niken. Tapi video yang bercerita tentang pasangan yang saling memberi semangat kan sudah terlalu umum. Akhirnya terbersit ide menampilkan tokoh ibu yang memberi semangat pada anaknya untuk menyelesaikan pendidikan dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Harapannya, ceritanya akan lebih universal dan menyentuh. Maka mulailah saya susun storyboardnya untuk didiskusikan bersama a-Linea8, crew cameramen (mas Hafid dkk, yang nyambi jadi guru), dan para talent. Fyi, tokoh utama dalam video klip ini diperankan oleh dik Novi, yang pernah jadi Duta Wisata 3 Kab. Magelang. Sehingga otomatis membuat impian saya menjadi tokoh utama buyar sudah (mimpi yang ketinggian, hiks). Didalam alur cerita sengaja saya sisipkan tokoh dosen, dengan harapan saya terpilih jadi dosennya. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi gagal casting, semua crew lebih setuju saya jadi emak berdaster, ibu dari tokoh utama. Yaah, apa boleh buat… nasib, kembali pada profesi asli. Walau demikian ada juga hikmahnya, suami membelikan daster tiga lembar untuk keperluan syuting video klip. Jadi, itu semua kostum yang dipakai emak adalah daster baru ya, belum sempat dicuci gara-gara waktu syuting maju sehari. Gara-gara maju sehari ini juga, beberapa talent gagal bergabung sehingga kami harus mencari talent dadakan. Diantaranya adalah mbak Yuli, dosen penguji 3, istrinya mas Labbaika. Untung semua rela iklas bersedia.

Terakhir tentang pembuatan video klipnya.

Memanfaatkan libur Pilkada, pengambilan gambar dimulai pada pukul 11, mundur 2 jam dari waktu yang direncanakan. Lokasi yang dipilih adalah rumah tokoh utama di daerah Kalinegoro, rental komputer, angkot kosong yang sedang lewat, kantor Kecamatan Borobudur, dan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Magelang. Sempat diwarnai insiden mati listrik saat akan mengambil adegan sidang skripsi, akhirnya seluruh pengambilan gambar selesai juga menjelang maghrib.

Akhirnya setelah 2 minggu menunggu, Alhamdulillah selesailah proyek video klip beneran ini. Terimakasih all a-Linea8 crews. Semoga banyak penikmat musik yang terhibur, sekaligus dapat mengambil pesan dari kisah yang disajikan. Buat kami, banyak sekali pengalaman dan pelajaran baru yang didapat selama pembuatan video ini. Inginnya sih bisa membuat karya yang lebih baik lagi untuk dunia musik Indonesia. Ternyata berkarya itu bikin keterusan ya 😃

Uji Rasa

Kalau ada uji nyali, yang ini uji rasa. Bukan uji rasa masakan, itu sih urusannya juri Master Chef. Tapi ini rasa perasaan. Ya, rasa itu bisa berupa benci, marah, hingga yang bagus-bagus seperti sayang dan cinta. Namanya juga uji, mesti ada alat ujinya. Sebetulnya alat ujinya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang dengannya kita merasakan sesuatu.

Alkisah, perasaan manusia itu dinamis. Bisa berubah dengan perlakuan tertentu termasuk oleh waktu. Dengan berlalunya waktu, kita bisa melihat apakah perasaan yang pernah kita miliki pada seseorang masih ada atau sudah hilang alias netral.

Berdasarkan survey abal-abal yang sangat tidak valid, alat uji rasa ini adalah:

  1. Foto. Bisa dikatakan kita sudah netral lagi kalau tidak melengos atau reflex melotot saat melihat fotonya. Demikian juga dengan cinta, tidak ada gelombang electromagnet (baca: desir) tertentu saat melihat fotonya. Pokoknya lempeng dah.
  2. Nama/nomer telepon. Kalau perasaan kita sudah netral, membaca atau menuliskan nama seseorang tidak akan membuat sistem saraf pusat kita terhubung dengan pusat memori tentang kenangan atau kejadian yang membuat kita memiliki perasaan tertentu pada seseorang. Alias tidak muncul efek apapun.
  3. Lagu. Dengan netralnya perasaan, lagu yang menghubungkan kita dengan peristiwa masa tertentu akan terdengar biasa saja di telinga. Tidak ada rasa ingin mematikan lagu itu atau memutarnya berulang-ulang.
  4. Tempat. Demikian juga dengan tempat. Kita tidak lagi ingin menghindari atau sengaja mendatangi TKP tertentu dengan alasan masa lalu.
  5. Hadiah/benda kenangan. Seiring waktu, hadiah juga akan usang. Hadiah dari orang yang kita benci mungkin sudah dijual di loakan (kalau masih laku) atau bahkan sudah tidak berbentuk lagi dicabik-cabik maupun pecah berantakan. Sedangkan hadiah dari orang yang masih kita sayang biasanya tersimpan dan terawat dengan baik walaupun sudah tidak berfungsi. Perasaan kita bisa dikatakan sudah netral kalau tidak ada rasa keberatan memberikan hadiah itu kepada orang lain atau tidak sedih berlebihan saat hadiah itu hilang.

Nah, dari beberapa point di atas kita bisa mengukur perubahan perasaan kita pada seseorang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa perasaan itu adanya di qalbu, sesuatu yang bisa berbolak-balik.

Cerita Kluwak

Menurut saya ragam bumbu pada masakan Indonesia sangatlah mengagumkan.  Contoh yang membuat kagum adalah, kok ya nenek moyang kita dulu itu kepikiran kalau akar semacam kunyit, jahe, kunci, laos, kencur itu bisa menjadikan bahan pelezat masakan. Juga bumbu lain seperti salam, daun jeruk, sereh, dan lainnya. Untuk daun jeruk dan sereh saya masih maklum karena aromanya yang mungkin mampu menginspirasi peracik bumbu kala itu. Termasuk juga cengkeh, pala, merica, ketumbar, kembang lawang, adas, kapulaga, kayu manis, bawang putih dan lain-lain yang menebarkan aroma khas.

Saya yakin bahwa peracikan bumbu masa itu telah melalui proses uji coba yang panjang. Walaupun mungkin juga terjadi secara kebetulan. Kebetulan itu misalnya:

Saat merebus nangka muda di bawah pohon salam tiba-tiba kejatuhan daun salam, yang ternyata menyebabkan rasa dan aroma masakan yang lebih mantap #inimungkin.

Saya sangat meyakini bahwa kemampuan eksplorasi bahan alam yang luar biasa ini karena alam merupakan sumber makanan satu-satunya. Seperti halnya sekarang ini kita terus mengusahakan bahan makanan baru dari alam. Barangkali ada yang ingin mencoba menambahkan daun, biji, bunga, batang tanaman tertentu yang belum pernah dicoba dalam daftar menu makanannya. Mumpung kembang kertas atau kamboja di halaman sedang rajin mekar, dijadikan lalapan #sekedaride. Atau seperti penemuan melinjo, kok nenek moyang itu kepikiran membuka daging buah melinjo, memukul bijinya hingga pipih dan menggorengnya hingga kita sekarang bisa merasakan nikmatnya emping melinjo.

Yang menurut saya ekstrim adalah penemuan coklat. Bagaimana bisa dari buah yang samasekali tidak mengandung unsur coklat dan rasanya tidak enak bahkan pahit kemudian bijinya diproses hingga menjadi serbuk coklat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan minuman yang lezat (http//ilmupangan.blogspot.com/2011/02/mengenal-proses-pembuatan-coklat.html?m=1).  Luwar biyasaah ini sih.

Tetapi ada satu bumbu dapur yang menurut saya sejarah penemuannya juga luar biasa, ialah kluwek atau kluwak. Sudah lama saya penasaran dengan asal muasal kluwak ini. Yang menjadi bumbu wajib ‘ain untuk memberi warna gelap dan rasa unik pada rawon (dan masakan dari daerah lain yang kurang saya kenal). Kebetulan saya dari Jawa Timur, jadi ya taunya si rawon ini.

Kluwak (Pangium edule Reinw.) merupakan biji dari buah kluwek/kluwak (Jawa), picung (Sunda), pucung (Betawi), panarassan (Toraja), pangi (Bugis, Bali), atau yang di Sumatera Barat dikenal sebagai buah kapayang karena aromanya yang membuat pusing. Maka jadilah istilah mabuk kepayang. Semacam pusing karena bau durian, tapi ini mungkin disebabkan kandungan asam sianida yang tinggi di dalam buahnya. Asam sianida ini bukan asam biasa lo ya, tapi pada kadar tertentu bisa melumpuhkan saraf pusat dan menyebabkan kematian. Masih ingat aktivis HAM Munir (2004) dan Mirna (2016) yang diduga dibunuh dengan menambahkan asam sianida di dalam kopinya? Sementara itu, di Lampung pohon kluwak dikenal sebagai kayu tuba.

Mungkin ini juga yang menjadi muasal peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’ karena air rebusannya mengandung racun.

Buah kluwak yang sudah matang (sumber: http://tropical.theferns.info/image.php?id=Pangium+edule)

Pangium edule Reinw. Foto oleh: Blume, C.L., Rumphia, vol. 4: t. 178 A (1848)

Pohon kluwak tingginya bisa mencapai 4 meter dengan tandan buah terdapat di ujung-ujung percabangannya.   Di dalam buahnya yang berbentuk lonjong oval, berkulit keras seperti batok kelapa dan berwarna kecoklatan ini terdapat daging buah yang lunak berwarna kuning. Biji-biji buah tersusun melingkar sebanyak belasan hingga puluhan. Di dalam bijinya yang juga bercangkang keras terdapat endosperma (daging biji) berwarna putih. Daging biji inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan masakan oleh nenek moyang kita. Warna hitam kecoklatan didapatkan dari proses fermentasi. Jadi, tidak bisa langsung dimanfaatkan kecuali ingin merasakan keracunan asam sianida.

Buah kluwak yang dipanen adalah buah yang jatuh dari pohon karena pematangan alami (kluwak masak pohon). Secara tradisional buah itu dibiarkan di tanah terkena hujan panas selama berhari-hari (bahkan berminggu-minggu, asal tidak kelupaan) sebelum dikumpulkan dan menjalani proses berikutnya. Berikutnya, buah dibuka (dengan parang, karena keras), daging buah dibuang, dan biji-bijinya dicuci bersih di air mengalir. Bahkan ada yang dibungkus kain kerawangan dan direndam di sungai selama berhari-hari untuk menghilangkan racunnya (yang kalau sungainya banjir bisa-bisa batal masak pakai kluwak).

Tidak hanya sekedar dicuci, biji-biji tersebut kemudian direbus dulu selama berjam-jam untuk melarutkan racunnya. Air rebusan tidak boleh dibuang sembarangan karena sudah mengandung racun. Selain itu khawatir terminum oleh hewan ternak. Di daerah tertentu setelah tahapan ini biji dipecah dan daging biji yang masih berwarna putih sudah bisa diolah menjadi bahan makanan. Untuk mendapatkan warna gelap, proses yang panjang masih berlanjut.

Biji-biji yang sudah direbus tersebut difermentasi dengan cara diperam. Pemeraman dilakukan dengan mengubur biji yang sudah didinginkan ke dalam tanah. Sebelum dikubur, biji-biji tersebut ditutup daun pisang terlebih dulu. Pemeraman berlangsung selama 40 hari (lamanya pemeraman tentu sudah melalui uji coba yang valid oleh nenek moyang kita). Cara lain adalah dengan memeram biji dengan abu sekam di dalam wadah. Pemeraman dengan abu sekam berlangsung selama 15 hari.

Setelah proses yang panjang tersebut maka kluwak sudah bisa (baca: aman) untuk dimanfaatkan. Bagian yang dimanfaatkan sebagai bumbu masak adalah daging bijinya yang didapatkan dengan memecah kulit biji dengan palu (atau batu pada jaman nenek moyang kita).

Buah kluwak di Tenom Agricultural Park (by Tony Lamb). Penyebarannya dibantu oleh gajah. (Sumber: https://seedsofborneo.com)

Nah, terbayang kan, bagaimana perjuangan nenek moyang kita hingga akhirnya menemukan kluwak untuk dijadikan bumbu masak. Kok ya ke-ide-an dan kepikiran. Padahal, bukan tidak mungkin selama proses penemuannya sudah memakan korban jiwa manusia atau hewan ternak (karena keracunan asam sianida buah kluwak) #mengheningkancipta.

Kalau saya hidup di masa itu, barangkali memutuskan untuk menjauhi buah kluwak setelah mencium bau buahnya yang bisa bikin mabok (kepayang). Tapi tidak demikian dengan nenek moyang kita. Tanpa rasa putus asa tetap mencoba, belajar, dan mencari tahu serta berusaha memanfaatkan buah beracun yang kulit buah dan bijinya keras sekali ini sebagai sumber makanan. Kurang jelas, apakah hal itu dilakukan karena terbatasnya sumber makanan atau rasa kepo dan perasaan tertantang yang sangat besar.

Sebagai tambahan, nama latin edule di belakang Pangium berarti edible yang menunjukkan bahwa kluwak bisa dimakan. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan yang ditemukan di masyarakat sekitar.
Dengan ini saya jadi makin kagum, sungguh, nenek moyang kita adalah ahli teknologi makanan yang luar biasa. Salah satunya karyanya adalah menjadikan kita bisa merasakan lezatnya rawon. 🙂

Rawon dan biji kluwak (Sumber: https://www.unileverfoodsolutions.co.id)

Cosmetics and The Beginners (Part 3): Make Up Practice.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang petualangan bersama kosmetik, akhirnya saatnya praktek self make up tiba juga.  Kegiatan ini tidak bertujuan untuk promosi produk apapun, melainkan hanya sebagai sarana relaksasi pikiran diantara kesibukan berkantor dan bersekolah.  Dan yang terpenting adalah bisa berbagi sejumput ilmu baru (buat kami ini sih, hehe).  Bahwa pakai bedak juga ada ilmunya itu fakta.  Ingin tahu lebih banyak?  Yuk, maree….

Dengan ditemani rujak manis Semeru dan bolen pisang nan nikmat, berkumpulah kami berlima (dengan mbak Chika sebagai tutor) di rumah dik Nita yang sempat ketiduran gara-gara mundurnya jadwal (memang tidur siang di hari Minggu itu sangat worthy ya dik, hehe).

IMG_20180923_165622.jpg
Rujak, bedak, dan bolen di hari Minggu siang 🙂

Setelah semua alat dan bahan yang kami miliki dijembreng dan diidentifikasi, mulailah kami berperang melawan kemalasan dandan *lebay*.  Berikut tahapan self make up natural yang diajarkan mbak Chika (yang akhirnya bergeser menjadi self make up kondangan sesuai request mbak Danik):

  1. Cleansing.  Bersih-bersih ini wajib pakai susu pembersih dan penyegar.  Susu pembersih untuk membersihkan, sedangkan penyegar untuk mengangkat pembersih dan meringkas pori-pori.  Kalau bersih-bersih pakai facial foam ala saya kata mbak Chika kurang efektif *hiks*.  Sehingga saya yang belum pernah punya pembersih dan penyegar terpaksa minta ke tetangga sebelah *teteup*.  Nah, caranya aplikasikan susu pembersih secukupnya di lima titik wajah dan diratakan dengan pijitan lembut agar wajah lebih relaks dan peredaran darah lancar.  Nikmati pijitannya untuk membantu menghilangkan stress.  Kalau masih kurang relaks boleh dipijit agak lama tapi jangan sampai ketiduran *bataldandan*.  Jadi jangan diucek-ucek seperti selama ini ya.  Berikutnya usap dengan kapas yang sudah diberi penyegar dengan cara ditarik agak kesamping atas.  Walaupun bebersih dengan cleansing milk dan face tonic saja sudah cukup, tapi karena sudah kebiasaan, tidak sreg rasanya kalau belum dibilas air *hihi*.  Alhasil, setelah cleansing, kami masih cuci muka pakai air.
  2. Priming.  Maksudnya pakai primer make up.  Seperti yang sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya, kami memakai dua primer.  Pertama pakai cyanite corrective base make up untuk mendapatkan warna kulit wajah yang cerah merata.  Caranya ambil sebesar kacang tanah dan ratakan seperti biasa.  Berikutnya ambil velvet mattyfying primer sebesar kacang ijo untuk menyerap produksi minyak sehingga nanti dandanan terkesan matte.  Corrective base teksturnya seperti susu pembersih dan memberi rasa dingin saat diaplikasikan ke wajah.  Mattyfying seperti gel bening yang langsung meresap saat kita pakai.  Sebetulnya pakai salah satu saja cukup dan disesuaikan dengan jenis kulit untuk daily make up.  Tapi maklumlah ini lagi kemaruk, jadi kalau gak ingat isi dompet rasanya mau beli serumnya sekalian 😀
  3. Foundationing.  Sebetulnya sebelum memakai foundation, tambahkan concelear pada kulit yang warnanya tidak rata, misalnya bekas jerawat dan melasma.  Concelear ini warnanya lebih gelap dari kulit, tapi setelah ditutup foundation warnanya jadi rata lagi.  Caranya dengan memberi sedikit concelear pada bagian yang ingin ditutup kemudian ditaping (ditepuk-tepuk ringan dengan jari) hingga rata.  Baru kemudian aplikasikan foundation.  Ambil foundation (boleh yang krim maupun cair/liquid) sebesar kacang tanah, letakkan di lima titik wajah dan ratakan.  Jangan pindah ke sisi wajah yang lain kalau satu sisi belum rata.  Biar gak lupa meratakan kata mbak Chika.  Untuk foundation ini kami pakai milik masing-masing, kecuali saya karena warnanya terlalu gelap untuk kulit saya (Wardah liquid foundation exclusive, no.4, natural).  Harusnya pakai nomer 2, sheer pink.  Nomer 4 ini dipilihkan mbak BA di counter Wardah saat itu.  Tapi kok jadi gak yakin ya, jangan-jangan karena nomer yang tersisa tinggal itu aja, huhuhu *curiga*.  BA ini singkatan dari beauty advisor atau bisa juga beauty assistant, asal jangan beauty accounting (ini mah teman saya yang akuntan tapi pinter dandan ituh *iri*).  Karena sudah terlanjur beli, kata mbak Chika dijual seken aja, eh, bukaaan, itu mah pikiran saya.  Saran mbak Chika sih dipakai saja tapi di-cover dengan TWC dan bedak tabur yang warnanya lebih terang (kok kedengarannya seperti pakai topeng berlapis-lapis ya? *sigh*). Dan tips lebih lengkapnya bisa diintip disini.
  4. Powdering (bedak maksudnya). Saking groginya kami, cara memakai bedak pun sampai nanya dulu ke mbak Chika.  Jadiiii, bedakan itu dengan cara ditepuk-tepuk (pakai spon lo ya).  Diawali dengan bedak padat, selanjutnya bedak tabur.  Sekali lagi ini maksudnya agar riasan tampak matte alias doff (kayak kertas foto aja, hihi).  Sepertinya untuk urusan rias merias ini harus jauh-jauh dari kata berminyak ya.  Padahal pas akhir session nanti ditawari pakai shimmer, alias serbuk halus yang membuat wajah kita berkilau gitu.  Kalau ada, saya mau pilih shimmer yang glow in the dark ah, biar wajah tetap kelihatan walaupun mati lampu *idebagus*.
  5. Eyebrow drawing. Tibalah saat paling susah menurut sejarah perdandanan, yaitu menggambar alis.  Dan betul juga, menggambar sepasang alis ini perlu waktu hingga setengah jam dimulai dari mengoreksi bentuk, memberi batas (dengan teori 4 titik), mengarsir (ups, bener-bener pelajaran gambar), meratakan, dan cropping.  Jadi gak heran kalau ada cowok yang sempat menyelesaikan sekolah S2 sembari nungguin ceweknya nggambar alis.  Mengoreksi bentuk ini tidak kami lakukan dengan mencabut atau mencukur rambut alis karena tidak sesuai dengan kaidah dandan wanita Islam.  Jadi caranya dengan menutup bagian yang tidak rapi dengan sikat alis atau sikat bulu mata yang sudah dibubuhi foundation (lebih baik yang berbentuk krim) sampai tertutupi.  Kemudian tentukan 2 titik medial atas bawah, titik puncak alis (gunungan), dan sudut alis.  Setelah itu dibuat garis penghubung kecuali di bagian medial atas bawah.  Medial ini bahasa anatomist ya, maksudnya pangkal alis, hehe.  Selanjutnya diarsir tipis ke tebal dari pangkal ke ujung agar tidak seperti alis sinchan yang tebal dari pangkal hingga ujung yaa.  Ratakan dengan pangkal pensil alis atau sikat alis.  Terakhir, cropping atau rapikan dengan foundation seperti saat mengoreksi bentuk tadi.  Ini bisa dilakukan dengan jari, kuas yang bulunya tipis memanjang untuk menipiskan batas alis, atau memakai sikat alis asalkan bukan dengan sikat gigi maupun sikat WC *lho*.  Nulisnya gampang, prakteknya susaaah…. *keluhberkepanjangan*.  Tapi jangan putus asa, kalau sudah bisa dijamin puas seperti bisa tidur siang di hari Minggu 😀 (siap-siap ikut alis drawing challenge).  Lagipula, untuk daily make up cukup dilakukan koreksi dan arsir aja kok.
  6. Eyeshadowing.  Aplikasikan eyeshadow dengan jari manis.  Kalau kurang manis dicelup air gula terlebih dahulu *eh*.  Ternyata kuas mata itu dipakai biar kelihatan pro aja kata mbak Chika.  Eyeshadow lebih mudah dipakai dengan jari manis.  Saya belum mencoba bagaimana hasilnya seandainya pakai jempol atau jari lainnya.  Ok, nurut aja sama mbak tutor.  Bayangan/shadow yang dibuat diharapkan bisa membentuk mata agar lebih segar (padahal untuk ini biasanya saya pakai dry eyes drops *abaikan*).  Eniwey, sapukan warna paling pucat pada seluruh kelopak mata sebagai base eye shadow.  Kemudian bagian ujung luar ditimpa warna paling gelap dengan cara diratakan dan ditapping menuju tengah.  Bagian ujung dalam diberi warna keemasan hingga sudut kelopak mata bagian bawah.  Terakhir, aplikasikan warna paling terang pada tulang yang menonjol di bawah ujung alis.  Sebetulnya saya kurang puas dengan standarisasi penempatan warna ini, karena kurang cocok untuk mata saya.  Mata saya yang belok ini malah jadi kelihatan ngantuk (atau mungkin memang sudah ngantuk?).  Kapan-kapan saya akan bereksperimen dengan gradasi lain ah.
  7. Eyelinering.  Tantangan berikutnya adalah memakai eyeliner.  Kalau mau hasil yang soft, pakai warna coklat baik itu eyeliner liquid maupun padat (pensil).  Tapi karena hari semakin malam – acara ini dimulai pukul 14.30 dan berakhir pukul 17.30 – jadinya kalau pakai coklat kurang kelihatan.  Akhirnya kami semua mencoba liquid eyeliner hitam (uff, beraninya).  Sebagian mencoba menambahkan wing agar tidak tembus, eh, agar apa yaa…yah eksperimen aja gitulah, kan sedang trend :D.  Cara memakainya, tarik sudut luar mata agak keatas untuk mengurangi kerutan pada kulit kelopak mata.  Kemudian aplikasikan eyeliner dari luar ke dalam (atau sebaliknya, bagaimana mudahnya saja) dengan sekali sapuan.
  8. Blush on. Memakai blush on ini harus sambil senyum maksimal, karena blush on nya diaplikasikan di tonjolan tulang pipi tertinggi saat kita senyum.  Caranya kuas blush on ditarik dari bagian luar ke dalam.  Saya sempat salah kaprah tidak menyediakan blush on karena saya kira eye shadow yang agak pink bisa multifungsi sebagai pewarna pipi juga.  Polosnya lagi, seorang teman malah memakai lipstik sebagai pewarna bibir, blush on, dan eye shadow sekaligus (ini ngirit atau gak tau ya), hehe.  Ternyata mereka dibedakan karena bahannya berbeda.  Pada kesempatan ini saya nebeng blush on krim punya teman saya.  Inginnya pakai metode penempatan warna yang berbeda, yaitu blush on panas dingin yang ditempatkan di pipi area bawah mata secara horisontal.  Entah kenapa namanya panas dingin, mungkin karena hasil tampilannya seperti orang sakit demam ya?  Cara memakainya, ditutul-tutul (kedengaran seperti macan tutul *mikir*) kemudian ditapping pakai jari sampai rata.
  9. Lipstik.  Terakhir, memakai lipstik.  Karena benda ini sudah familiar dengan kami, mbak Chika hanya berpesan agar warnanya disesuaikan dengan warna blush on.  Selain itu, kalau rias matanya sudah cukup berat, pakai lipstik yang warnanya soft.  Sebaliknya, kalau mau menonjolkan warna bibir, jangan pakai rias mata yang terlalu berat.  Nanti jadinya saingan antara mata dan bibir.  Trus kalau saingan dan gak ada yang mau ngalah kamu juga yang repot, iya kan…
Pause bentar, 9 langkah dandan ini sungguh-sungguh ribet (one and only word to describe how to make up is).

Dan, sebagai konsekuensi dari tulisan tentang tutorial make up, maka kami terpaksa mengunggah foto sebelum dan sesudah untuk membuktikan bahwa cerita ini bukan hoax, hehe.  Finally, here we are 🙂

velpicstitch20180925_091931
Ini hasil perjuangan dandan sendiri lho.  Cakepan mana sebelum dan sesudahnya? 😀

Demikian laporan seadanya dari kami para pemula yang baru berkenalan dengan kosmetik lengkap ini.  Terlepas dari ribet ndaknya, semoga tulisan ini bisa membantu kamu-kamu yang kebetulan tersesat di blog saya, menambah pengetahuan, yang setidaknya bisa sedikit tahu tahap-tahap dandan kalau mau ke kondangan.  Selanjutnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan.  Mau fokus ke wajah yang flawless saja atau ditambah riasan lain silahkan bereksperimen 😉

velpicstitch20180925_104207
Bersama mbak Chika. Thanks ya mbak ❤

IMG_20180925_094438.jpg
3 jam kemudian… yey, siap pergi kondangan (minus one) 🙂

Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.

Diawali dari ngobrol-ngobrol dengan seorang sejawat kantor tentang mahasiswi-mahasiswi kami yang Ilmu Pengetahuan Kosmetiknya (IPK) lebih canggih dibanding kami, saya bermaksud hunting alat makeup lagi di OLX. Berbarengan dengan itu malah menemukan iklan kursus self makeup. Biayanya murah, pertemuannya sekali saja dengan biaya per orang 50 ribu dan durasi 2 jam. Thanks God, there is a will there is a way, Engkau tunjukkan jalan yang lurus daripada kami coba-coba sendiri malah salah jalan. Begitulah awal bagian kedua dari pengalaman saya berinteraksi dengan kosmetik.

Kursus ini sifatnya private group, jadi gurunya yang datang ke tempat kami. Kalau hanya satu orang biayanya disesuaikan lagi dengan jarak tempuh si mbak tutor. Awalnya hanya berdua, jadi agar lebih seru kami tawarkan ke teman-teman terdekat.  Dan ternyata disambut dengan antusias hingga terekrutlah kami berlima. Saya, mbak Danik, Nurul, Nita, dan Nuretha, yang notabene semuanya adalah very beginners dan sangat awam dalam hal per-makeup-an.

Berikutnya untuk dapat mengikuti kursus singkat ini dengan baik kami memerlukan beberapa alat dan bahan makeup yang – tentu saja – tidak semuanya kami punyai. Beberapa bahkan baru saya dengar namanya. Berikut alat dan bahan yang saya beli merujuk pada alat dan bahan yang sudah saya miliki:

  1. Primer makeup. Saya kira hanya proses amplifikasi DNA saja yang memerlukan primer, ternyata untuk makeup juga perlu primer *OhGod*. Berarti ada sekunder makeup dong? Iya betul. Primer ini diaplikasikan paling awal setelah diberi pelembab dan sebelum alas bedak, sehingga alat bedak menjadi lebih tahan lama karena primer membantu menahan minyak di wajah. Selain itu, primer mampu mengisi pori-pori di wajah sehingga tampilan make up lebih smooth dan flawless *pengen*. Secara umum fungsinya adalah untuk mempersiapkan dan melindungi wajah sebelum menerima bahan makeup yang jahat berikutnya. Setelah konsultasi dengan mbak Chika, sang tutor, kami memutuskan membeli primer merk Make Over (udah halal juga loh). “Lebih baik beli di toko Raya karena lengkap,” kata mbak Danik. Akhirnya terdamparlah saya di toko itu. Betul-betul super lengkap. Sebut saja merek kosmetik tertentu, pasti ada disana. Dari yang paling abal-abal sampai yang paling terkenal, dari yang eceran sampai grosiran.
    Alat-alat makeup disana lengkap. Di satu sudut ada kuas dan puff dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran yang sebagian baru saya lihat saat itu. Ckckck, betapa untuk urusan wajah saja perlu toko selengkap dan sebesar ini. Akhirnya daripada kesasar ke counter yang aneh-aneh, saya tanya saja ke salah satu SPG letak counter Make Over. Sampai di depan counter Make Over dengan pedenya saya sampaikan mau beli primer makeup:
    
    Saya (A) : mbak, beli primer make up (senyum pede)
    SPG (B) : yang mana mbak, ini ada 3 primer, atau beli tiga-tiganya?
    A : err…emang harus dipakai semua ya mbak? Kayaknya pesannya satu saja kok mbak (mbak Chika gak bilang tiga)
    B : (nunjukin brosur) ini ada serumnya, base makeup, dan velvet
    
    

    IMG_20180916_130003
    Buku katalog yang disodorkan mbak SPG *makinbingung*

    
    A : (makin bingung) saya potoin deh mbak, ini soalnya pesenan, saya tanyakan dulu (bo’ong dikit)
    
    Akhirnya foto brosur itu saya konsulkan ke mbak Chika yang kemudian menjelaskan bahwa pemakaiannya disesuaikan dengan jenis kulit. Primer hydrating untuk kulit kering, velvet untuk kulit berminyak, dan corrective base untuk kulit yang warnanya gak rata (semacam belang mungkin? Tapi bukan belang telon kan? *meouw*). Atau kalau kurang jelas ditanyakan ke SPGnya aja. Demikian penjelasan mbak Chika. Got it. Balik ke counter sambil berdoa agar SPGnya gak bosan dan berubah jutek saat saya tanya-tanya.
    
    A : mbak, kulit berminyak pakai velvet ya? Trus ini ada fleks juga, perlu pakai corrective base?
    B : pemakaiannya berurutan mbak, hydrating dulu, trus corrective baru kemudian velvet. (kemudian menjelaskan fungsinya masing-masing, bla bla bla)
    A : bisa untuk pemakaian sehari-hari kan mbak? Bukan buat ke kondangan aja maksud saya.
    B : bisa mbak, untuk tampilan kulit yang lebih halus dan bedaknya awet.
    
    (Si mbak SPG kemudian menjelaskan kalau sehari-hari dia memakai corrective hijau untuk menutupi bagian yang berjerawat walaupun fungsinya bukan untuk memudarkan warna seperti concelear. Kalau untuk kulit gelap tapi merata pakai corrective yang ungu).
    
    A : (waduh, pusing pala berbi ini sih, harus diputuskan sendiri nih) Ya udah karena ada fleks dan berminyak saya beli corrective dan velvet. 
    B : gak sekalian hydrating serumnya mbak?
    A : (tegas) ndak mbak, dua aja (sambil mikir harganya, velvet 89 ribu, corrective 79 ribu).
    Total yang harus saya bayar untuk dua primer ini adalah 151.200 rupiah, sudah termasuk diskon 10%. Rogoh kocek dalam-dalam.

    IMG_20180917_104456
    Finally, two primers!
  2. Foundation dan pensil alis. Pilihannya kalau ndak Wardah ya Make Over. Dengan pertimbangan budget, saya pilih Wardah yang saya beli di gerai Wardah saat jalan-jalan di CFD. Sekalian beli pensil alis coklat yang tutupnya dilengkapi sikat alis. Pertimbangan membeli warna coklat ini karena saya sudah punya eyeliner hitam. Saya pikir pensil alis dan eyeliner fungsinya bisa saling menggantikan. Mestinya gitu ya, bentuknya aja sama, hehe. Untuk foundation dan pensil alis saya keluar uang kurang lebih 115.000 (persisnya lupa karena notanya hilang).

    IMG_20180917_104541.jpg
    Ini hasil belanja di Wardah CFD, foundation, pensil alis, dan TWC.
  3. Eyeshadow. La Tulipe no.11, masih baru dan utuh.
  4. TWC. Wardah exclusive no.02 tinggal setengah, tidak usah beli.
  5. Bedak tabur. Minta teman saja *hihi*.
  6. Kuas. Beli di Raya juga, satu set kuas yang fungsinya buat apa saja saya juga masih bingung. Sarannya mbak Chika, beli yang satu set. Harga 27.500. Done.
  7. Lipstik. Punya 2, walaupun keduanya jenis matte, nanti diaplikasikan dengan lipgloss agar bibir lembab. Untuk lipstik jelas tidak usah beli.
  8. Eyeliner. Pixy warna hitam.
  9. Blush on. Katanya sih lipstik bisa diakali buat blush on. Atau salah satu warna di eyeshadow kan ada yang kemerahan, itu saja deh dinego buat blush on. Hehe.

Akhirnya, niat banget ya belanja kosmetiknya :D. Saking niatnya, sampai salah seorang teman saya curiga saya kesurupan si Manis Jembatan Ancol anak buahnya Nyi Roro Kidul pas kemping ke pantai selatan baru-baru ini.

So that, total belanjaan saya adalah 293.700 *jegring* (cashier machine sounds). Berikutnya, let’s go to the practice session.

Cosmetics and The Beginners (Part 1): Trial and (Often) Error.

Derita, eh, cerita ini akan saya bagi menjadi tiga bagian saking membosankannya panjangnya. Bagian pertama berisi latar belakang, bagian kedua tentang sesi belanja, dan bagian ketiga tentang praktek makeup.

Latar belakang ceritanya sih sederhana saja, yaitu termotivasi dari bagaimana caranya agar tidak terjerumus pada pembohongan publik dengan menyebarkan foto diri yang mengandung fitnah (kata-kata fitnah ini kok terkesan keji ya? Wkwkwk).

Paham kan, jaman sekarang semua kamera handphone menyediakan fitur photo editing, membuat wajah makin alus mulus cerah tanpa noda (menurut kamus kecantikan yaitu wajah yang flawless). Pokoknya kamera yang sangat memahami kebutuhan perempuan lah. Bahkan semakin face upgradedable sebuah kamera handphone maka makin mahal pula harganya. Belum lagi sejuta aplikasi photo editors yang tersedia gratis siap unduh dari google play store.

Sebelumnya saya sudah kenal dengan sebuah software genome editing, nah, ternyata wajah juga bisa diedit. Setidaknya kan tidak keluar biaya untuk oplas ya…:D (amit-amit kalau ini mah). Hasil foto yang lebih indah dari aslinya ini menjadi tantangan buat saya.

Mestinya bisa dong upgrade wajah seperti di foto ituh (istilah upgrade ini lama-lama kok terdengar seperti upgrade komputer atau kendaraan *mikir*). Iya tahulah kalau caranya dengan rajin perawatan wajah seperti facial, dermabrasi, sampai peeling, tapi cara instan berikut boleh juga dicoba, yaitu makeup (baca, membuat naik, terminologi kecantikan untuk istilah upgrade, menurut saya).

Modal makeup standar yang saya miliki sampai menjelang awal umur 40-an ini adalah pelembab sekaligus tabir surya.  Yang juga berfungsi sebagai alas bedak ringan (karena sewarna kulit yang membantu covering fleks usia 40-an).  Yaitu BB krim Kitoderm yang saya beli dari teman dokter.  Dan bedak padat alias TWC Wardah Exclusive Series. That’s all.  Hingga pada suatu hari saya tertarik membeli lipstik Wardah nude series di toko Watson, Plaza Pondok Gede pas mudik ke rumah ortu dua tahun lalu. Tertariknya sih karena label nude itu, maksudnya kalau pakai lipstik ini tetap tidak terlihat seperti memakai lipstik (lah, jadi tujuannya apa dong? *mikirlagi*). Hahaha…

Pada prinsipnya saya tidak ingin dandan berlebihan walaupun kata berlebihan ini sensenya bisa beda untuk masing-masing perempuan. Saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh karena rawan konflik seperti di daerah konflik (apasih?). Dan mengapa Wardah? Jujur saya kemakan iklan yang brand ambassador-nya Inneke Koesherawati dan Dewi Sandra ini. Melihat penampilan mereka yang anggun dan wajah terawat dengan dandanan natural (kecuali pada bagian lipstiknya jeng Dewi Sandra) membuat saya membayangkan sosok muslimah yang segar, enak dipandang (bukan bikin napsu lo ya), dan tidak kusam. Suatu perpaduan yang ideal kan, when inner meet outer beauty. Begitulah alasan saya memilih merek Wardah selain label halalnya sebagai alasan pertama tentunya.  Tapi sumpah ini bukan karena di-endorse ya, walaupun ngarep banget 😀

Kembali pada lipstik pertama saya. Saat itu di Watson tersedia empat pilihan warna. Dan tentu saja saya memilih warna yang paling miriiiip dengan bibir saya. Rasanya saat itu no.02 lah (blushing nude) yang paling nude versi saya. Walaupun setelah dicoba kok tetap seperti pakai lipstik ya, sepertinya lebih cocok yang no.03 (peach perfect). Padahal milihnya saja hampir setengah jam sampai anak saya protes karena lapar *maaf ya nak*. Wardah Intense Matte Nude Series no.02 ini bikin bibir saya lebih pinky, yaah judulnya saja blushing walaupun ada nudenya. Agak nyesel sih walaupun gak sampai guling-guling di lantai, karena toh harganya sangat terjangkau, gak sampai 50 ribu. Ternyata warna lipstik saat diaplikasikan di bibir bisa sedikit berubah karena perbedaan warna dasar bibir atau undertone masing-masing pemakai (kalau demam jadi makin merah kali ya?). Hmm, bahasanya sudah berasa beauty blogger aja, hehe… *beautybloggergadungan*.

Baiklah, akhirnya lipstik pertama ini sangat jarang dipakai, khawatir banyak yang tidak mengenali saya lagi alias pangling.

Lipstik berikutnya saya beli tahun lalu di situs jual beli OLX. Berawal dari cari tanah kavling, tersesatlah saya di rubrik makeup. Tersesat yang amat sangat jauh dan tidak nyambung. Eh disana ada yang jual refill bedak Wardah Exclusive no.02 seperti yang saya pakai yang kebetulan sudah hampir habis.

Bedak refill ini dijual dijual sepaket dengan Wardah Exclusive Matte Up Cream no.03 (see you latte) second seharga 50 ribu karena pembelinya salah pilih warna. Murahlah, karena refill bedak yang baru harga normalnya 50 ribu. Ini kan bonus lipstik yang warnanya boleh dikatakan cocok dengan yang saya inginkan, peach. Saking peachnya sampai bibir kelihatan pucat saat memakai lipstik ini. Sayang sekali karena sifatnya yang matte, bibir saya yang kering jadi semakin pecah-pecah karena lipstik ini. Sehingga pemakaiannya harus dialasi lipgloss (akhirnya beli lipgloss bening seharga 23 ribu, Wardah juga). Tujuannya bukan untuk membuat bibir berkilau glossy, tapi untuk melembabkan saja. Ilmu baru nih.

IMG_20180917_154013.jpg
Pernak pernik wajah dan bibir. My daily stuffs actually cuma bedak dan BB krim.

Kalau sebelumnya ingin memperbaiki penampilan bibir, sekarang giliran mata yang jadi sasaran. Masih gara-gara iseng ngintip rubrik makeup di OLX jadi tertarik dengan eyeshadow La Tulipe warna natural no.11 yang harganya sangat terjangkau kocek, 15 ribu saja. Kirain harga eye shadow itu sampai ratusan ribu, makanya begitu ketemu yang lima belas ribuan langsung acece beli walaupun gak tau kapan dipakainya 😀 (ini kalap atau gak tau ya?) *gakjelas*.

Masih seputar mata, alat make up berikutnya yang saya miliki adalah eyeliner dan pelentik bulu mata *wkwkwkwk*. Kalau ini murni ikut-ikutan kakak sepupu saya yang sudah terlebih dulu upgrade penampilan dengan menambahkan eyeliner hitam di tepi kelopak mata atasnya. Kemudian sudutnya dilukis agak terangkat gitu seperti mata kucing (gaya retro, pin up) untuk mengurangi kesan kuyu pada mata.

Sebetulnya untuk urusan mata ini saya sudah punya celak hitam berbentuk serbuk dapat dari oleh-oleh tetangga pulang haji yang sudah lama jadi pengangguran di wadah kosmetik saya. Celak ini bisa dimanfaatkan sebagai eyeliner, tapi aplikatornya yang keras dan serbuknya yang tidak merata membuat saya frustasi karena tidak berhasil membingkai mata dengan bagus. Hasilnya malah bleber kemana-mana memberi kesan sembab kurang tidur *gagaldandan*.

Akhirnya, setelah eksperimen gagal tersebut, terbelilah Pixy eyeliner pencil warna hitam seharga kurang dari 40 ribu (lupa pastinya berapa) karena belum terlalu nekat untuk membeli eyeliner cair. Menurut mbak SPG yang didukung kakak sepupu saya, merk Pixy ini cocok buat pemula karena mudah diaplikasikan (underline, pemula…hiks, orang lain sudah sampai bulan kali).  Masih berhubungan dengan mata, kakak sepupu saya menyarankan saya untuk sekalian membeli alat pelentik bulu mata seharga 15 ribu rupiah.

Alkisah, eyeliner ini merupakan salah satu alat kecantikan yang sudah ada sejak tahun 10.000 SM pada peradaban Mesir Kuno (Mesopotamia) dan digunakan sebagai penangkal roh jahat serta melindungi mata dari Dewa Matahari. Kosmetik mata ini mungkin kemudian berkembang menjadi celak yang mengandung bahan-bahan yang membantu kesehatan mata. Di dalam agama Islam, memakai celak alias eyeliner ini adalah sunnah.  Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum berani memakai eyeliner untuk keluar rumah karena wajah saya jadi kelihatan ‘lain’ *sigh*.

IMG_20180917_154710.jpg
Pernak pernik buat mata yang nyaris belum pernah dipakai kecuali buat trial yang banyak errornya *hiks*

Dari semua pengalaman saya berinteraksi dengan alat-alat kecantikan, satu hal yang bisa saya simpulkan yaitu ribet (pakai bold, italic, warna merah pulak).

Bayangkan kalau sudah dandan lengkap, mau ngucek mata kuatir eyeliner atau eyeshadow bleber, mau minum harus atur posisi bibir agar tidak meninggalkan bekas lipstik (saya sering geli lihat bekas lipstik orang di gelas atau sedotan). Belum lagi semuanya bakal bubar kena air wudhu. Walaupun setelah sholat bisa dandan lagi tapi itu kan samasekali tidak praktis dan takes time. Memang ada sih kosmetik yang waterproof, tapi kan jadinya menghalangi kulit dengan air wudhu. Mungkin saya yang kurang ilmu atau bagaimana, tapi nyatanya petualangan Si Pemula ini terus berlanjut ke bagian 2.

Uneg-Uneg Sambil Ngopi Pagi

Membaca media Al Falah edisi terbaru yang tergeletak di meja kerjaku pagi ini kok bikin tergoda ingin menulis ya? Yang berkenan membaca monggo dilanjut membaca, dengan pesan bahwa tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi atau sejenisnya. Just uneg-uneg… 😉

Yang pertama adalah tulisan Tjahyadi Takariawan tentang ‘Saat Didera Rasa Jengkel Kepada Pasangan, Ini Yang Harus Anda Lakukan‘.  Tulisan dengan tema tersebut saya kira sudah sangat umum. Yang perlu dibahas adalah ‘Bagaimana Merespon Rasa Jengkel Pasangan Dengan Bijak’. Jadi, jangan how to deliver our angry wisely alias cara menyampaikan saja yang diberi solusi, tapi respon yang baik dari pasangan tidak kalah penting kalau tidak boleh dikatakan lebih penting.

Kalau dipikir sih, inilah bentuk fenomena yang umum kita jumpai di Indonesia. Kotak saran dan pengaduan ada dimana-mana, tapi tanggapannya nyaris tidak ada. Diintip isinya itu pun masih untung-untungan. Atau malah kunci gemboknya sudah hilang. Dibukanya itu pun pada saat si kotak akan dialihfungsikan menjadi kotak amal *ngarangabis*.  Temuan-temuan dalam suatu mekanisme evaluasi di dalam institusi malah seringkali menguap entah kemana berita acaranya. Tidak ada kelanjutan. Lantas bagaimana akan ada perbaikan? Miris. Hasilnya adalah ‘jengkel’ dan ‘kecewa’ yang semakin menumpuk karena tidak ada follow up.

Jadi bapak Tjahyadi, saya sangat menunggu tulisan tentang itu *nunjuk ke paragraph atas*.

Tulisan lain di lembar berikutnya adalah ‘Haruskah Istri Berbakti Pada Mertua‘ oleh M. Abduh Tuasikal. Kesimpulan akhir atas pertanyaan retoris pada judul tersebut adalah harus. Ini kalau mau jadi istri sholihah lo ya.

Tulisan sejenis ini pun sudah jamak mengisi berbagai media disertai dalil-dalil pendukungnya. Tentu bagus, karena biasanya yang saling sewot adalah mertua (perempuan) dan menantu perempuan (sesuai dengan tajuk besar pada Al Falah edisi ini, ‘Konflik Mertua Menantu, Bagaimana Mengakhirinya’). Saya bukan aktivis persamaan gender.

Tapi, setelah bolak balik menelisik tiap lembar majalahnya, timbul pertanyaan berikutnya kenapa semua judul menunjuk pada menantu perempuan? Lalu kenapa tidak ada satu baris pun yang menyinggung potensi konflik mertua dan menantu laki-laki? Seperti ‘Haruskah Suami Berbakti Pada Mertua’. Apakah:

  1. Menantu laki-laki tidak harus berbakti pada mertua alias tidak mempengaruhi label kesholihan yang bersangkutan (duh, masak iya sih? Citation is needed),
  2. Mertua dan menantu laki-laki bebas konflik
  3. Mertua lebih toleran apabila konflik ditimbulkan oleh menantu laki-laki
  4. Mertua dan menantu laki-laki boleh berkonflik (yang artinya konflik antara mereka bukanlah suatu masalah yang perlu ditulis maupun dicari solusinya).

Hanya saja sejauh yang saya pahami, mertua dan menantu laki-laki sama-sama manusia yang punya peluang berkonflik walaupun mungkin prosentasenya lebih kecil. Mengacu pada pendahuluan sebuah tulisan di dalam majalah yang sama, konflik mertua dengan menantu perempuan seringkali didasari karena keduanya mencintai orang yang sama, yaitu si anak laki-laki yang punya peran baru sebagai suami.

Kalau mau adil, anak perempuan yang saat ini berperan sebagai istri harusnya mendapat cinta yang sama besar dari pasangannya dan orangtuanya. Pertanyaan berikutnya, apakah anak perempuan setelah menikah tidak lagi menjadi sumber cinta orangtua sehingga tidak ada potensi rebutan perhatian dari si anak perempuan pasca menikah? Hahaha, malah nggladrah… Semoga ada penjelasan seimbang yang disertai dalil-dalil juga. Begitulah 🙂

Uneg-uneg Tentang Cemburu

Kucing saja bisa -- pura-pura -- jelessss :D
Kucing saja bisa jelessss 😀

(Oh damn! Aseeeem! Grrrhhh!!!) *tiiiit*

Pagi-pagi dilanda iseng akut. Tau-tau ingin nulis tentang cemburu. Cemburu? Ya, cemburu. Bukan karena saya sedang cemburu. Big NO! Saya hanya penasaran apa itu cemburu.

CEMBURU ADALAH:

Menurut KBBI online, cemburu adalah:

cem·bu·ru a 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia — melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; 2 kurang percaya; curiga (krn iri hati): istrinya selalu — kalau suaminya pulang terlambat;
— buta sangat cemburu;

Kalau versi English-nya, cemburu yang diterjemahkan menjadi jealous menurut Oxford dictionary online adalah:

adjective

Feeling or showing an envious resentment of someone or their achievements, possessions, or perceived advantages: she was always jealous of me

  • Feeling or showing a resentful suspicion that one’s partner is attracted to or involved with someone else: a jealous husband
  • Fiercely protective of one’s rights or possessions: the men were proud of their achievements and jealous of their independence
  • (Of God) demanding faithfulness and exclusive worship.

Yang diterjemahkan dengan gaya bebas ala saya (jangan terlalu percaya, saya bukan ahli bahasa Inggris):

Cemburu adalah kata sifat yang menggambarkan perasaan iri benci pada seseorang atau prestasi, harta, atau keuntungan yang mereka rasakan. Lebih spesifik, kata ini dipakai untuk menunjukkan kecurigaan dan marah karena salah satu pasangan tertarik atau terlibat dengan orang lain. Atau digunakan untuk melindungi hak atau harta secara mati-matian. Juga untuk menunjukkan tuntutan Tuhan agar manusia setia dan beribadah hanya padaNya.

PENYEBAB CEMBURU DAN CARA MENGATASINYA

Hmm, kata yang bermuatan iri, dengki, sirik, tidak percaya, curiga.  Betapa tidak nyamannya dunia kalau hati kita diwarnai cemburu. Tapi ini semua pasti pakai penyebab. Setelah googling sana-sini, saya menemukan 2 hal utama penyebab cemburu, yaitu kekurangpercayaan dan tidak percaya diri.  Walaupun bisa saja kekurangpercayaan bersumber dari kegalauan gara-gara tidak percaya diri, tapi point tersebut tetap saya pisahkan karena hal lain yang mungkin menjadi penyebabnya.

Nah, apakah Anda sedang cemburu karena dua hal tersebut?

Cara mengatasinya tentu dengan memupuk kepercayaan dan rasa percaya diri. Cemburu pada suami/istri karena tidak percaya?  Tidak ada kata lain, sebaiknya percaya saja 100% seperti yang pernah saya tuliskan di dalam Rama dan Sinta #2.  Karena ketidakpercayaan hanya memperburuk keadaan.  Atau cemburu pada tetangga yang bisa beli mesin cuci baru? Yakinlah, suatu saat Anda bisa membelinya. Tidak harus besok, barangkali 5 tahun lagi saat ada model terbaru yang lebih canggih dan terjangkau kantong. Kalau kalau sulit membangun rasa percaya diri atau yakin tidak akan mampu beli mesin cuci baru, hindari rasa ingin tahu terhadap aktivitas orang lain. Jangan stalking tetangga dan sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.

Jadi, seperti yang seringkali saya baca tentang alasan cemburu, ternyata cemburu samasekali bukan karena cinta atau apapun derivatnya.  Cemburu itu sifat yang mengandung unsur ego.  Mungkin ini manifestasi dari sikap afeksi baik kepada barang atau hak maupun Tuhan terhadap makhluknya seperti yang dijelaskan di kamus Oxford tadi.  Padahal ya, apa sih yang menjadi milik kita itu? Semua kan pinjaman.  Pasangan hidup, anak-anak, harta, benda, lainnya, itu semua titipan.  Modal untuk kehidupan yang lebih abadi *bicaraitumudah*.  Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Tuhan memang berhak cemburu.  Tuhan itu berhak egois.  Karena kita makhluknya, kita ada karena Tuhan.  Dari Abu Hurairah ra Nabi saw pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala itu cemburu, dan cemburunya Allah ta’ala yaitu apabila seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang di haramkan oleh Allah”. HR Bukhari dan Muslim.  Endingnya ndak cocok ya? Ah, biarin 😀

Beberapa Penyebab ‘Khilaf’ Saat Belanja

Melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut beberapa hal yang menyebabkan belanja barang-barang ‘tak terduga’.

  1. Melihat-lihat. Ya, awalnya dari melihat, kemudian teringat kalau memang perlu atau hanya sekedar pengen punya.
  2. Punya kartu debet/kredit. Godaan terbesar adalah ‘perasaan punya uang’. Entah itu dengan didebet dari rekening atau hutang dengan kartu kredit. Untuk membatasi keinginan belanja ‘lain-lain’ mungkin perlu dibiasakan belanja pakai uang beneran (baca: cash).
  3. Mumpung ada waktu. Ini akibat manajemen waktu yang tidak rapi, hehehe… Awalnya merasa ada waktu, tau-tau sudah 3 jam ngider di toko itu.
  4. Pakai troli.  Ini memang salah satu strategi pengelola toko agar kita merasa ‘harus’ menambah barang belanjaan.  Troli besar yang kelihatan ‘kosong’ seolah memohon agar diisi.  Jadi, ambil saja keranjang atau wadah yang lebih kecil.  Dengan keranjang, tambahan barang akan membuat kita merasa berat dan enggan nambah belanjaan lagi.
  5. Parkirnya mahal, jadi rugi kalau belanjanya tidak sekalian banyak. Misalnya, ndak lucu aja kalau parkir 5.000 belanja hanya 1.000.  Kalau ini sih  lebih baik belanja di warung, bebas parkir.
  6. Ada diskon. Mungkin perlu menghindari berkunjung ke toko saat bulan-bulan penuh diskon. Kecuali memang harus belanja, dan mesti mentaati daftar belanja yang sudah dibuat.
  7. Tidak membawa catatan belanja. Sebetulnya ini kesalahan paling fatal saat belanja. Karena kita bisa lupa apa saja yang harus dibeli dan berakhir pada membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan.

Kadang kekhilafan seperti ini baru disadari saat di depan kasir. Tapi tidak usah khawatir, di kasir, sebelum membayar kita masih bisa menyortir barang belanjaan kita kok. Beberapa barang yang sebelumnya kelihatan perlu, setelah disadari harus dibayar, jadi terasa tidak perlu lagi.

“Yang ini ndak jadi mbak/mas, saya khilaf.” Hehehe…

Troli kosong nan menggoda ;)
Troli kosong nan menggoda 😉

Pengeluaran Tak Terduga

Pagi-pagi si Bapak beli blewah. Tau kan? Buah yang mirip melon dengan daging buahnya yang harum dan berwarna peach tua. Menjelang bulan puasa buah ini mendadak jadi primadona, karena cocok disajikan saat berbuka.  Sebelum berangkat kerja, saya bongkar-bongkar alat-alat dapur mencari serutan blewah. Walaah, sudah setengah jam belum ketemu juga. Ya sudah, sepulang kantor nanti saya sempatkan mampir toko serba ada beli serutan blewah.

Di toko serba ada…

Sudah tekad bulat dalam hati, niat beli satu benda itu. Alat-alat rumah tangga berada di lantai 3. Alhamdulillah dapat, harganya pun kurang dari seribu rupiah. Murah kan? Kita bikinnya juga tidak bisa, hehe…

Sebelum ke kasir, masih ada waktu luang untuk melihat-lihat rak lain. Teringat ada beberapa keperluan yang belum sempat terbeli. Akhirnya, beberapa benda pun masuk ke keranjang belanjaan. Jadi prosesnya melihat-lihat dulu baru teringat. Bukan ingat lalu beli. Memang tidak terencana walaupun ‘diperlukan’. Berikut belanjaan ekstra saya:

1. Gantungan baju dari kawat.

Alasan beli: Gantungan baju dari plastik yang ada sudah banyak yang patah/rusak, gantungan kawat kan awet sampai tahunan. Lagipula murah kok, isi 10 hanya 11.275 rupiah.

Status: Dimaafkan

2. Pembalut ukuran jumbo (isi 50).

Alasan beli: Keperluan bulanan nih, stok sudah habis dan mumpung sedang di toko. Harga 14.000 saja.

Status: Dimaafkan.

3. Kaos kaki ibu dan Necta.

Alasan beli: Kaos kaki ibu sudah banyak yang koyak. Trus kaos kaki Necta untuk sekolah (walaupun masih ada stok). Mumpung ada, kuatir kehabisan. Habis murah sih, masing-masing 5.350 dan 4.150 rupiah.

Status: Dimaafkan.

4. Bukaan botol.

Alasan beli: Biasanya bulan puasa/lebaran kan ada sirup-sirup yang perlu dibuka pakai bukaan botol. Bukaan botol yang lama entah kemana (malas nyari). Trus ada ujung pembuka kaleng juga. Perlu untuk membuka kaleng kornet atau sarden (padahal biasanya sudah ada pengungkit di kalengnya). Tapi ini harganya muraaah, hanya 2.000 rupiah.

Status: Ok, karena murah, dimaafkan.

5. Pisau roti.

Alasan beli: Ya untuk memotong roti laah. Kan perlu pisau gerigi (padahal sudah punya). Memang sudah punya pisau roti, tapi yang ini ukurannya lebih panjang dan punya dua sisi. Lagipula harganya juga gak mahal, cuma 6.000 rupiah untuk pisau stainless-steel.

Status: Ya sudah, dimaafkan.

***

Alhasil, dari tujuan utama beli serutan blewah seharga 975 rupiah, akhirnya saya harus keluar uang 43.750 rupiah saat di kasir. Bayangkan, berapa ratus persen ‘pengeluaran tak terduga’nya?

Ya, walaupun semua berstatus dimaafkan 😛

Ini dia tersangka utamanya! *serutan blewah*
Ini dia tersangka utamanya! *serutan blewah*

Maleficent: Kisah Cinta Sejati

Menyenangkan nonton film dengan anak-anak. Mereka itu ‘genuine‘, masih asli. Tidak seperti orang dewasa yang sudah terkontaminasi sana-sini, hehe…

Baru-baru ini saya nonton Maleficent (produksi Disney film) bareng kedua anak saya. Si kakak yang menjelang SMA dan adiknya yang tahun ini masuk SD. Komentar kakak yang notabene anti cerita dongeng,”Bu, aku takjub dengan film ini, ndak mainstream.” Lalu kata adiknya,”Tukang sihir jahat tadi bisa jadi baik ya?” Dan kataku menggerutu,”Kok anaknya lebih mbelani tukang sihir daripada bapaknya sih?”

Pendapat pertama dari kakak menunjukkan dia punya ide yang sama tentang dongeng yang tidak biasa seperti pesan pada film itu.  Sedangkan si adik yang tidak punya ide bagaimana tukang sihir (karena saya tidak suka membacakan cerita dongeng untuknya), betul-betul melihat bagaimana seseorang berubah sifat dalam film itu.  Dan saya, sebagaimana orangtua lain, pasti ingin anak lebih berbakti pada orangtua daripada ke tukang sihir.

Film ini bercerita tentang kutukan Maleficent, perempuan penyihir, pada putri Aurora. Kutukan yang tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini mampu mencegahnya.  Bahwa sebelum matahari tenggelam pada hari ulang tahun Aurora yang ke 16 nanti jari Aurora akan tertusuk jarum mesin pemintal lalu jatuh dalam tidur panjangnya. Dia hanya akan terbangun oleh ciuman cinta sejati. Maleficent sendiri sengaja menyebutkan ‘cinta sejati’ karena dia tahu ‘true love does not exist‘. Maunya dia, sang putri bakal tidur selama-lamanya.

Klasik.

Yang tidak klasik adalah bahwa ciuman cinta sejati yang membangunkan itu justru dia dapatkan dari Maleficent, penyihir yang memberikan kutukan padanya. Dan ending-nya, Aurora memilih tinggal di The Moor — kerajaan Maleficent — dan berbahagia. Sebetulnya hadir juga tokoh pangeran yang biasanya kebagian peran membangunkan sang putri, tapi kali ini keberadaanya hanya sebagai cameo untuk mengecoh penonton.

Disini kita melihat proses. Maleficent yang marah dan menyimpan dendam pada raja sampai menjatuhkan kutukan pada putri raja, akhirnya jatuh hati pada Aurora yang mengira Maleficent adalah ‘fairy Godmother‘-nya. Itu gara-gara dia mengikuti hari-hari Aurora sampai tumbuh menjadi gadis remaja. Istilahnya, mengintili setiap hari. Aurora juga sering main ke daerah kekuasaan Maleficent. Selama itu memang Aurora tinggal terpisah jauh dari kerajaan agar terhindar dari jarum mesin pemintal. Dia tinggal di gubuk kecil di hutan berteman tiga bibi peri yang lagi-lagi sebagai cameo.

Pesannya adalah, cinta sejati tidak tumbuh begitu saja. Disana ada proses antara Aurora dan Maleficent. Cinta sejati bahkan dapat hadir di hati yang membatu penuh dendam. Yang sudah tidak percaya pada cinta sejati. Disini, cinta sejati itu cinta ibu kepada anak.

Seperti janji Maleficent sebelum mencium dahi Aurora:

“Tidak kubiarkan sesuatu pun menyakitimu, akan kujaga dirimu selama aku hidup.”

My kiddos, I love you both ;)
My kiddos, I love you both 😉

Melogikakan Cinta

Lama juga saya absen menulis topik tentang cinta lantaran sibuk dengan urusan ilmiah. Apa cinta tidak ilmiah? Owh, tentu saja setiap laku kita – termasuk cinta — selalu mempunyai dasar ilmiah, itu sudah sunnatullah.  Jadi, boleh dong melanjutkan pembahasan ini 😉

Topik cinta ini kelihatannya diminati banyak orang. Karena cinta itu penuh rahasia, bikin penasaran, dan seringkali mengundang tanda tanya. Apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan kata tanya lain. Lalu saat si penanya tidak mendapat jawaban, cinta dituduh sebagai makhluk absurd yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seperti quote berikut yang saya dapat dari seorang teman:

“Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang menghampiri kita. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Dan kita tidak pernah tahu alasan apa Tuhan memberikan cinta. Tidak ada yang salah.”

Quote ini menarik. Karena menurut saya ‘kita tahu’. Menjadi jatuh cinta selalu diawali proses yang sangat logis dan disadari. Tiap proses tersebut mempunyai tahap dan selalu tersedia check-point di setiap tahapnya. Tapi, pertama-tama kita harus bedakan antara proses jatuh cinta dan jatuh cinta itu sendiri. Karena, cinta itu tabir, yang membuat hal-hal logis menjadi tidak logis. Jadi, kalau tidak mau jatuh cinta, perhatikan baik-baik warning-sign dan lakukan pemeriksaan ketat di setiap check-point yang tersedia.

Kenapa?

Karena makin lama warning-sign itu akan makin kabur disebabkan oleh kesadaran yang makin turun. Itu yang diibaratkan sebagai ‘pusaran cinta yang menghanyutkan dan menenggelamkan’ oleh para pujangga *alamakjaaan. Nah, sebelum “help,help,” waspadalah dengan tiap prosesnya.

Prosesnya adalah seperti berikut:

1. Pertemuan.

Pertemuan itu tidak terbatas di dunia nyata saja, tapi juga di dunia lain, eh, dunia maya (misal: chat-room). Pertemuan bisa terjadi secara sengaja, tidak disengaja, maupun cuma iseng. Sedang kurang kerjaan lalu iseng mencari jejak teman yang dulu pernah naksir. Nah, iseng banget kan? Bagaimanapun, pertemuan ini mutlak ada, pun dengan mereka yang ngaku-ngaku cinta pada pandangan pertama. Proses ini hampir tidak bisa dielakkan kecuali oleh ‘perempuan dalam pasungan yang dipingit di tengah hutan seorang diri tanpa ponsel atau alat komunikasi lain’. Eh, potensial jatuh cinta sama beruk atau macan ini ya? Tapi ndak lah, buktinya Tarzan aja nunggu Jane muncul. Hehehe..

Antagonis: Jangan bertemu (online maupun offline).

2. Cocok.

Kita pasti tahu orang seperti apa yang ‘berpotensi’ kita jatuhi cinta atau minimal kita sukai. Maksud potensi disini kalau kita suka dengan orang yang wangi bukan berarti semua orang yang wangi akan kita cintai, masih ada tahap seleksi berikutnya. Sebetulnya disini sudah ada check-point, orang yang tidak wangi atau bau terasi akan tereliminasi *ieewh. Kecocokan bisa dicapai melalui komunikasi. Misalnya sama-sama menganggap Pulau Lombok sebagai tempat tujuan wisata terbaik, kemudian saling bertukar informasi tentang spot-spot menarik yang ada disana, lalu membayangkan bisa pergi kesana berdua. Hohoho.. Kecocokan akan menyeret kita ke dalam comfort-zone. Suatu tempat yang aman dan damai, dimana nyaris tidak ada defense-mechanism maupun pertengkaran saat kita cocok dengan seseorang.

Antagonis: Jangan berkomunikasi apalagi kalau hanya berdua, termasuk diantaranya dengan bahasa isyarat apalagi bahasa tubuh, hehe..

3. Tertarik atau suka.

Tertarik itu identik dengan mendekat. Sama saja kalau kita suka ngemil coklat, rasanya selalu ada magnet yang membuat kita ingin mendekati rak coklat saat di sebuah toko. Begitulah, topik-topik percakapan menjadi berkembang lebih akrab dan intim. Comfort-zone bergeser menjadi happy-zone, zona bahagia. Dan kita semua sudah mahfum bahwa tidak seorang pun ingin kehilangan kenyamanan dan kebahagiaannya. Maka, unsur subyektifitas pada proses ini menjadi sangat kental. Perasaan mulai terlibat.

Antagonis: Buat jarak, baik dalam dimensi ruang maupun waktu.

Karena kalau tidak begitu, akhirnya akan terjadi jatuh cinta *eaaaa… >>> sambil nari-nari keliling pohon ala Shah Rukhan dan Aisywara Ray* (maaf, taunya cuma dua orang itu) 😀

Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat pada garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.
Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.

Cinta itu sebetulnya seperti selimut yang membungkus semua proses tersebut hingga logikanya tidak kelihatan lagi. Menjadi tabir yang kadang-kadang membuat orang lupa apa yang membuatnya jatuh cinta pada pasangannya. Lalu mengatakan bahwa cinta itu datang begitu saja, tidak perlu alasan. Lupa pada proses yang sudah dilaluinya.

Ada juga istilah lain dalam cinta. Namanya syarat. Cinta itu sebetulnya bukan tanpa syarat. Tapi syarat dan ketentuan selalu berlaku dalam prosesnya. Hanya saja, dilakukan tanpa terasa. Seperti tentang meluangkan waktu. Kalau sudah cocok, waktu yang kamu berikan pada si dia sebetulnya adalah syarat yang kamu berikan dengan ikhlas. Itu yang membuatnya terasa ringan. Jadi bohong kalau cinta itu pengorbanan. Yang mengatakan cinta itu pengorbanan adalah orang-orang di luar lingkaran cintamu. Sang pencinta tidak akan merasakan itu. Tidak logis? Ya, karena kita telah sampai pada titik ddimana logika sudah diselimuti cinta.

Jadi, buat yang ingin jatuh cinta pada seseorang, jalani tahap-tahap tersebut. Bertemu, cocok, tertarik, lalu dengan sendirinya akan bahagia. Nah, bertemu itu bisa dilakukan dengan sengaja. Tapi belum tentu cocok.

Bagaimana agar cocok?

Kalau cinta memang harus hadir, sampaikan pada targetmu hal-hal yang kamu suka. Bukaan, bukan mau menyetir kepribadian orang. Nanti targetmu malah jadi berkepribadian ganda loh. Toh kalau targetmu tidak ingin melanjutkan langkah bersamamu dia akan pergi juga (ga tahan dengan syarat yang kamu ajukan > seleksi alam > dia bukan untukmu). So, let her/him go. Karena salah satu komponen cinta itu adalah kerelaan, bukan keterpaksaan.

Akhirnya, jatuh cinta itu pilihan yang disengaja dan merupakan risiko konsekuensi logis dari dua insan yang bertemu, cocok, tertarik, lalu bahagia berdua atau merana bila terpisah (Hiks!). Lalu, menjawab quote sebelumnya, sebetulnya kita sudah tahu pada siapa akan mengambil risiko kejatuhan cinta. Makhluk imut bernama cupid itu tidak asal-asalan mengarahkan panahnya. Karena panah hanya akan kena pada orang yang ‘dekat’.  Termasuk juga tentang benar dan salah. Bukan cintanya yang salah, tapi check-pointnya yang tidak berfungsi dengan baik. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, sebetulnya terserah kita 🙂

Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta.  Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan ;)
Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan 😉

Apa Yang Menyebabkan Orang Jadi Histeris?

Pagi ini seorang teman mengadu pada saya. Pagi-pagi sudah berteriak histeris gara-gara melihat tikus di ruang kerjanya. Karena saya juga pernah histeris gara-gara tikus, akhirnya tergelitik membuat tulisan ini.

(“Wooii, tanggung jawab lu Fiiit, bikin kerjaanku gak selesai!”)

***

Histeris, menurut KBBI adalah ‘disambut dengan teriakan’. Contohnya, teman saya kaget dan menyambut si tikus dengan teriakan. Biasanya penyambutan kan dengan tari-tarian atau karangan bunga ya? Sedangkan menurut kamus bahasa Inggris histeris adalah ‘tingkah laku yang menunjukkan emosi berlebihan yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh rasa takut atau panik’.  Arti lainnya berhubungan dengan penyakit jiwa dan tidak termasuk yang akan kita bahas disini.
Selain itu, yang saya tahu histeris berasal dari bahasa yunani/latin yaitu hysteric/uterus atau rahim. Sehingga biasanya perempuanlah yang mengalami histeris karena rahim hanya dimiliki oleh perempuan. Dan faktanya jarang kita lihat ada laki-laki histeris.

Lalu, hal-hal apa saja sih yang mampu membuat seseorang menjadi histeris? Berikut ini beberapa hal yang kira-kira bisa memancing teriakan histeris:

1. Tikus. Mendadak melihat tikus seperti kasus teman saya umumnya mampu membuat perempuan berteriak histeris. Baik itu tikus mati maupun yang masih lincah lari-larian di sekitar kita. Sebetulnya si tikus juga kaget ketemu kita, dan mungkin kalau tikusnya betina dia juga histeris.

2. Kecoak. Ini berlaku untuk kecoak yang tiba-tiba terbang mendekati kita maupun yang tiba-tiba muncul atau lewat di dekat kita.

3. Ulat. Ulatnya sih anteng, sedang asyik ngemil daun.  Tapi yang melihat bisa teriak lalu lari terbirit-birit saat bertemu hewan ini.  Mungkin si ulil yang melihat peristiwa ini hanya bisa nyengir heran,”Kaki imut gini bagaimana bisa ngejar kamu rang?”.  (Red. rang=orang)

4. Belatung. Terutama belatung lincah yang melenting kesana kemari dengan badannya yang lentur karena rajin latihan senam lantai. Hiii!!!

5. Hantu. Mungkin wujudnya yang – konon – mengerikan bin menakutkan bisa menyebabkan orang yg melihatnya kaget sampai berteriak histeris. Lantas, bagaimana dengan hantu cantik semacam si Manis Jembatan Ancol, mbak Kunti yang ramah dan senang tertawa, atau Casper si hantu lucu? Ada yang punya pengalaman?

6. Maling/rampok. Papasan dengan mereka ini bisa memancing teriakan ala “Home Alone”-nya Macauly Culkin.

7. Eksibisionis. Teriakan korban inilah yang memang diharapkan dan membawa kepuasan bagi seorang eksibisionis. Makanya, kalau ketemu mereka, pura-pura tenang, terus kasih komentar sadis tentang ‘miliknya’. Misalnya,”Iih, kok jelek sih, kayak uler kena lepra,” atau ,”Itu ulekan bayi kok dibawa kemana-mana ya?”. Teriaknya ditunda nanti saja kalau sudah jauh dari mereka.

Selain histeris yang dipicu oleh hal-hal yang tidak mengenakkan, ternyata histeris juga dapat ditimbulkan oleh hal yang menyenangkan, yaitu:

8. Idola. Rasa senang yang berlebihan juga dapat menyebabkan histeris. Hal ini disebabkan karena dihasilkannya neurotransmitter dopamine yang terlibat dalam proses kesenangan dan kecanduan. Dopamin yang dilepaskan secara berlebihan dapat memicu teriakan sampai dengan tangis histeris.

Nah, itu tadi beberapa hal penyebab histeris. Kalau ada penyebab lain silahkan di-share 🙂

Ternyata kucing juga bisa histeris,"AAAAAaaaargh..!!!"
Ternyata kucing juga bisa histeris,”AAAAAaaaargh..!!!”

Alasan Tidak Memasang Foto Bersama Pasangan di Media Sosial

Tulisan ini adalah lanjutan dari hasil mengigau survey yang sudah dituliskan seorang teman di sini tentang “Alasan Memasang Foto Pasangan Sebagai DP”.  Tulisan kali ini juga berdasarkan survey yang validitasnya tidak diragukan.  Kalau tulisan sebelumnya fokus ke Display Picture (DP) atau Profile Picture (PP), tulisan kali ini saya perluas pada semua kegiatan di media sosial.  Inilah beberapa Alasan Tidak Memasang Foto Bersama Pasangan di Media Sosial:

  1. Menunjukkan kemandirian.  Foto sendirian, apalagi pakai baju dinas dengan background tempat kerja memberi kesan eksis tanpa pasangan dan mandiri secara finansial.  Foto jenis ini biasanya dipasang di media semacam Linkedin.
  2. Tidak ingin menyakiti hati orang lain (a.k.a para mantan; para gebetan).  Secara disadari maupun tidak, melihat foto Anda dengan pasangan terasa menyakitkan bagi orang-orang tertentu.  Orang-orang yang menyadari hal ini biasanya akan menghindari memasang foto berpasangan.
  3. Tidak punya foto dengan pasangan kecuali jaman kawinan tempo doeloe.  Entah karena sama-sama pemalu atau hidup di daerah terpencil rawan bencana, mereka ini tidak punya foto lain selain yang saya sebutkan di atas.
  4. Ada foto dengan pasangan tapi kurang sip untuk dipajang, mungkin pas merem atau ‘nganga’.  Kadang-kadang ‘kecelakaan’ saat berfoto terjadi karena pengarah gaya yang tidak profesional.
  5. Sedang sebel dengan pasangan.  Kalau ini, jangankan memasang foto saat bersamanya, memandangnya pun rasanya malas 😦
  6. Tidak ingin pamer kemesraan di depan umum, kuatir kena sensor kemkominfo.  Kurang tahu juga, pose seperti apa yang mereka suguhkan saat berfoto.  Mungkin foto-foto tersebut lebih baik dijadikan koleksi pribadi 😛
  7. Punya lebih dari satu pasangan.  Tentu saja bikin bingung, foto dengan pasangan yang mana yang akan dipasang.  Belum lagi kepikiran poin nomer 2 dari artikel ini.  Sungguh dilematis.
  8. Sedang mencari pasangan (lagi).  Kalau ini sih tidak mungkin menunjukkan pasangan sebelumnya di depan target! *modus.
  9. Ada foto berpasangan tapi dengan pasangan orang lain (salah pasangan).  Entah bagaimana bisa terjadi.  Foto semacam ini tidak akan muncul di media sosial kecuali ada maksud kriminal 😮
  10. Belum/tidak punya pasangan.  Ini alasan paling logis yang saya tahu.  Iya lah, daripada mengada-ada atau mengaku-aku orang yang bukan pasangannya, bisa-bisa kena pasal pencemaran nama baik 😀

Dan ini adalah alasan paling aneh yang saya jumpai:

Teman saya dan pasangannya yang sudah dikutuk jadi papan surf.
Teman saya dan pasangannya yang sudah dikutuk jadi papan selancar.

11. Pasangan dikutuk jadi papan selancar, sehingga terpaksa foto bareng papan itu *hadooooh.

Atau mungkin kamu punya alasan yang lebih meyakinkan? Silahkan di-share 😉

Perjalanan Mencari Cinta

Terinspirasi sebuah tulisan di blog Romeogadungan, saya dan teman saya sepakat membuat ulasan singkat tentang perjalanan mencari cinta berdasarkan sudut pandang masing-masing. Ceritanya tentang Tinman, tokoh di Wizard of Oz, yang bolak-balik jatuh cinta dan berakhir perih hingga hatinya menjelma menjadi kaleng. Tinman ini lalu berusaha mencari penyihir untuk meminta sebuah hati agar bisa kembali percaya bahwa cinta itu ada. In short, dia kehilangan kepercayaan tentang cinta. Jadi cowok cold… bukan cool. Dingin kayak kaleng, tapi bukan banci kaleng lho yaa… Yuuuk *dadahdadahmanja.

Pertanyaannya adalah, sesulit itukah meraih cinta?

The path of love...
The path of love…

Saya tidak tahu terminologi yang lebih tepat dari kata ‘mencari’ seperti yang dipakai dalam tulisan tersebut. Tapi saya pribadi lebih senang memakai kata ‘menemukan’. ‘Mencari’ itu kesannya niat dan perlu usaha, sedangkan menemukan itu bisa ‘tidak sengaja’. Ini karena saya dasarnya males. Untuk hal yang katanya indah saja, biarlah datang sendiri, tanpa usaha. Masalahnya, sesuatu yang tidak sengaja terjadinya accidentally, di luar ekspektasi dan di luar rencana. Syukur-syukur kalau sejalan dengan rencana utama, tapi kalau tidak sejalan? Wah, bisa jadi bad accident yang bisa menyeret ke dalam arus hubungan yang rumit. Dalam hal ini cinta menjadi mudah, karena tanpa usaha, tapi handle-nya susah karena tanpa rencana. Sedangkan bagi yang pakai usaha, tantangannya adalah kegagalan. Bolak-balik gagal bisa jadi Tinman. Mati rasa dan apatis sampai nyari dukun (analog dengan penyihir versi Tinman) untuk transplantasi hati.

Entah mana yang lebih baik dalam urusan jatuh cinta, menjatuhkan diri dengan terencana versus tidak sengaja jatuh. Mereka yang motto hidupnya ‘let it flows’ mungkin lebih excited kalau tidak sengaja jatuh dengan risiko salah lubang. Sedangkan yang hidupnya penuh rencana, akan lebih suka menjatuhkan diri di tempat yang aman dan empuk, walaupun mendapatkan tempat ideal menjatuhkan diri dengan damai itu sulit. Jadi jangan heran kalau jalannya bakal lamaaa sampai hatinya jadi kaleng.

Akhirnya, sulit mudahnya meraih cinta sangat tergantung pada orientasi masing-masing individu. Kamu mau yang usaha dan impact-nya seperti apa?

10 Alasan Kenapa Join-Group

Join grup yuuuk... ;)
Join grup yuuuk… 😉

Gara-gara membaca tulisan seorang teman tentang 10 Alasan Kenapa Left-Group, saya tergelitik membuat tandingannya. Sepuluh Alasan Kenapa Join-Group, hehehe… Selain dari sisi negatif, mari kita memandang sisi positifnya.
1. Diundang teman.
Kebanyakan dari kita yang join group biasanya diawali dari undangan teman yang bertindak sebagai admin grup. Undangan ini bisa diawali basa-basi deskripsi tentang grup bakal kita join atau tanpa prolog langsung diseret saja oleh si admin. Tapi tidak usah khawatir, setelah celingak-celinguk di dalamnya, kita bisa memutuskan lanjut atau exit dari grup itu.
2. Kesepian.
Dengan membuat grup sekaligus mengundang teman-teman, kita jadi tidak kesepian lagi. Tapi kalau kebablasan bisa jadi kerepotan.
3. Kurang kerjaan.
Kurang kerjaan ini beda dengan kesepian. Jadi, orang kurang kerjaan cocoknya jadi admin atau jadi tukang ngerjain orang lain di grup.
4. Perlu sarana komunikasi dan koordinasi.
Ini umum saja sih, tapi banyak grup-grup yang isinya bukan hanya chit-chat, tapi spesifik untuk koordinasi kerja, rapat, arisan, hehe…
5. Spionase bin kepo.
Gak beda jauh antara mata-mata dan kepo. Biasanya mereka-mereka ini menjadi silent observer saat sudah masuk grup. Kadang punya target khusus yang mau dimata-matai atau tau-tau bikin tulisan berdasarkan observasi di grup. Wah, royaltine bagi reek… 🙂

Yang lima berikut menanggapai tulisan teman saya disini. Rangkuman dari Rejoin-Group, artinya pernah left trus masuk lagi:

6. Aplikasi lancar lagi.
Ini untuk yang udah gak trouble atau yang perlu di-reinstall seperti whatsapp yang perlu perpanjangan tiap 12 bulan.
7. HP baru, terserah mau baru beli atau baru pinjam. Ini untuk yang pernah kehilangan atau yang ganti HP.
8. Nglobi admin. Yang gak sengaja exit akhirnya berhasil masuk lagi setelah memohon-mohon dimasukkan lagi oleh admin yang baik hati.
9. Sudah bayar. Baik membayar iuran, arisan, dan semua tagihan di grup. Jadi bisa lebih tenang hidupnya, lebih kenceng komen, dan lebih PeDe… hehe
10. Rekonsiliasi. Sudah gak nyesek lagi lihat nama teman di pop-up chat. Nyeseknya bisa karena pernah tersinggung, sakit hati, sakit gigi, sakit mata, eh… Tentang ini katanya jangankan muncul di timeline, sudah di-hidden saja masih dicari-cari *stalker sejati… hahaha…

Demikian hasil pengamatan dan penyangatan (amat dan sangat) setelah pernah dan masih join dengan 7 grup. Tentu saja sangat empiris karena tidak memakai metode sampling yang ilmiyah 🙂

Recycle Bin

Sore tadi saya chatting dengan seorang teman. Topiknya ngalor ngidul seperti biasanya. Bisa dibilang, tidak beda jauh dengan obrolan antar pagar. Tau kan? Itu lho, kadang-kadang kita jumpai dua atau lebih ibu-ibu atau bapak-bapak yang saling bertetangga asyik ngobrol di depan rumah. Tapi, anehnya jarang kita jumpai pelaku ngobrol yang beda gender. Mungkin bisa mengganggu topik pembicaraan ya? karena ibu-ibu biasanya ngomongin bapak-bapak dan bapak-bapak ngomongin ibu-ibu. Eh, apa iya? Karena saya belum pernah gabung di obrolan bapak-bapak, hehe.

Nah, dari obrolan dengan teman saya itu, ujug-ujug muncul terminologi “recycle bin” diantara chit-chat kami. Hal ini membuat saya ingin mengintip apa saja isi recycle bin komputer saya. Ahay, ada dokumen akreditasi jadul, naskah-naskah lama sebelum revisi akhir, sampai dengan lagu-lagu yang sudah tidak trend lagi. Saya tidak tahu apakah nantinya akan di delete permanently oleh sistem computer atau tidak. Tapi file-file ini masih bisa di-recovery apabila suatu saat kita ‘menyesal’ sudah membuangnya. Hanya saja pada saat membuangnya saya merasa file-file itu tidak berguna, menuhin memori komputer, dan memperlambat kinerja komputer saya.

Saya berpikir bahwa hidup juga seperti itu. Kadang ada sisi kehidupan yang ingin kita buang tapi belum ingin kita hapuskan selamanya. Dan masih punya kesempatan untuk dipulihkan lagi apabila situasi sudah kondusif. Sesuatu yang tidak lagi menjadi prioritas. Seperti, perabotan yang kita simpan di lemari di sudut paling gelap karena kita sudah punya yang baru. Masih sayang untuk dibuang, tapi lama-lama akan terlupakan. Gaun lama di tumpukan terbawah. Mungkin masih terpikir oleh kita untuk memberikannya pada seseorang, tapi saat kita temukan warnanya sudah kusam dan ada bagian yang koyak dimakan ngengat, akhirnya kita buang juga. Sesuatu yang belum ingin kita delete permanently tapi mengurangi efektifitas kerja kita. Dan kita biarkan waktu yang akan menjawabnya karena sesungguhnya sesuatu itu hidup pada masanya. Seandainya pun di recovery, tentu sesuatu itu adalah hal yang sangat istimewa.

Jadi, apa saja isi recycle bin hidupmu? Eh, komputermu… 😉

Hihihi... :D
Hihihi… 😀

Kabar Angin

Akhir-akhir ini saya sering berinteraksi dengan teman lama. Kali ini lebih dari sekedar ‘apa kabar’. Berawal dari seorang teman yang menanyakan kabar teman lain kepada saya, kemudian berlanjut pada kabar-kabar burung seputar teman itu. Dan sebagaimana layaknya jejaring pertemanan interaksi ini menyeret saya ke dalam sebuah keasyikan dari sejumput rasa ingin tahu. Komunitas kecil yang tampak ‘baik-baik saja’ didalamnya ternyata menyimpan banyak cerita yang berkelindan. Satu episode bisa menjadi simpul untuk fragmen yang lain, sementara ada kisah yang masih terurai mengundang rasa penasaran. Sampai-sampai saya merasa bak di dalam sebuah novel misteri saja.

https://safrinadewi.files.wordpress.com/2012/09/e4e9d-gossip.jpg

Mungkin orang menyebut saya sedang bergosip. Tapi satu pesan yang saya dapat dari pengalaman ini adalah,

“Jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan jika angin menyampaikannya pada pepohonan”.

Atau tokoh-tokoh ini sengaja menyampaikan kabar pada angin agar pohon tidak lagi sepi, saya tidak tahu…

Persahabatan Lima Jari

Apa jadinya ya kalau 5 jari kita tidak kompak atau salah satu cedera? Wah, pasti aktifitas yang melibatkan jari menjadi terganggu.  Seperti halnya kelima jari yang kita miliki, saya dan 4 sahabat di tempat kerja bersinergi seperti halnya jari-jari kita.  Dan uniknya, masing-masing dari kami mempunyai karakter dominan yang berbeda tapi saling melengkapi.  Seperti inilah sinergi itu, saat Indri si Gudang Ide datang dengan ide-ide anehnya, Rita sang Konseptor siap menerjemahkan ide abstrak Indri menjadi sebuah konsep yang lebih logis.  Langkah selanjutnya Nana merancang konsep menjadi rencana yang realistis.  Berikutnya giliran Danik menjalankan rencana menjadi kenyataan dan Nurul mengkritisi keberlangsungan seluruh proses.   Kronologi ini berlaku mulai dari hal yang sederhana seperti menentukan tempat makan sampai mengerjakan proyek besar yang melibatkan institusi lain.  Mungkin terdengar aneh kalau mementukan tempat makan saja perlu konseptor bahkan kritikus.. hahaha.. tapi itulah kami.  Serasa Sang Takdir menuntun kami berlima untuk berada di satu unit kerja.  Semoga kebersamaan dan persahabatan ini berlangsung sampai akhir hayat.