Uneg-uneg Tentang Cemburu

Kucing saja bisa -- pura-pura -- jelessss :D
Kucing saja bisa jelessss 😀

(Oh damn! Aseeeem! Grrrhhh!!!) *tiiiit*

Pagi-pagi dilanda iseng akut. Tau-tau ingin nulis tentang cemburu. Cemburu? Ya, cemburu. Bukan karena saya sedang cemburu. Big NO! Saya hanya penasaran apa itu cemburu.

CEMBURU ADALAH:

Menurut KBBI online, cemburu adalah:

cem·bu·ru a 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia — melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; 2 kurang percaya; curiga (krn iri hati): istrinya selalu — kalau suaminya pulang terlambat;
— buta sangat cemburu;

Kalau versi English-nya, cemburu yang diterjemahkan menjadi jealous menurut Oxford dictionary online adalah:

adjective

Feeling or showing an envious resentment of someone or their achievements, possessions, or perceived advantages: she was always jealous of me

  • Feeling or showing a resentful suspicion that one’s partner is attracted to or involved with someone else: a jealous husband
  • Fiercely protective of one’s rights or possessions: the men were proud of their achievements and jealous of their independence
  • (Of God) demanding faithfulness and exclusive worship.

Yang diterjemahkan dengan gaya bebas ala saya (jangan terlalu percaya, saya bukan ahli bahasa Inggris):

Cemburu adalah kata sifat yang menggambarkan perasaan iri benci pada seseorang atau prestasi, harta, atau keuntungan yang mereka rasakan. Lebih spesifik, kata ini dipakai untuk menunjukkan kecurigaan dan marah karena salah satu pasangan tertarik atau terlibat dengan orang lain. Atau digunakan untuk melindungi hak atau harta secara mati-matian. Juga untuk menunjukkan tuntutan Tuhan agar manusia setia dan beribadah hanya padaNya.

PENYEBAB CEMBURU DAN CARA MENGATASINYA

Hmm, kata yang bermuatan iri, dengki, sirik, tidak percaya, curiga.  Betapa tidak nyamannya dunia kalau hati kita diwarnai cemburu. Tapi ini semua pasti pakai penyebab. Setelah googling sana-sini, saya menemukan 2 hal utama penyebab cemburu, yaitu kekurangpercayaan dan tidak percaya diri.  Walaupun bisa saja kekurangpercayaan bersumber dari kegalauan gara-gara tidak percaya diri, tapi point tersebut tetap saya pisahkan karena hal lain yang mungkin menjadi penyebabnya.

Nah, apakah Anda sedang cemburu karena dua hal tersebut?

Cara mengatasinya tentu dengan memupuk kepercayaan dan rasa percaya diri. Cemburu pada suami/istri karena tidak percaya?  Tidak ada kata lain, sebaiknya percaya saja 100% seperti yang pernah saya tuliskan di dalam Rama dan Sinta #2.  Karena ketidakpercayaan hanya memperburuk keadaan.  Atau cemburu pada tetangga yang bisa beli mesin cuci baru? Yakinlah, suatu saat Anda bisa membelinya. Tidak harus besok, barangkali 5 tahun lagi saat ada model terbaru yang lebih canggih dan terjangkau kantong. Kalau kalau sulit membangun rasa percaya diri atau yakin tidak akan mampu beli mesin cuci baru, hindari rasa ingin tahu terhadap aktivitas orang lain. Jangan stalking tetangga dan sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.

Jadi, seperti yang seringkali saya baca tentang alasan cemburu, ternyata cemburu samasekali bukan karena cinta atau apapun derivatnya.  Cemburu itu sifat yang mengandung unsur ego.  Mungkin ini manifestasi dari sikap afeksi baik kepada barang atau hak maupun Tuhan terhadap makhluknya seperti yang dijelaskan di kamus Oxford tadi.  Padahal ya, apa sih yang menjadi milik kita itu? Semua kan pinjaman.  Pasangan hidup, anak-anak, harta, benda, lainnya, itu semua titipan.  Modal untuk kehidupan yang lebih abadi *bicaraitumudah*.  Lalu, bagaimana dengan Tuhan? Tuhan memang berhak cemburu.  Tuhan itu berhak egois.  Karena kita makhluknya, kita ada karena Tuhan.  Dari Abu Hurairah ra Nabi saw pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala itu cemburu, dan cemburunya Allah ta’ala yaitu apabila seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang di haramkan oleh Allah”. HR Bukhari dan Muslim.  Endingnya ndak cocok ya? Ah, biarin 😀

Advertisements

Beberapa Penyebab ‘Khilaf’ Saat Belanja

Melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut beberapa hal yang menyebabkan belanja barang-barang ‘tak terduga’.

  1. Melihat-lihat. Ya, awalnya dari melihat, kemudian teringat kalau memang perlu atau hanya sekedar pengen punya.
  2. Punya kartu debet/kredit. Godaan terbesar adalah ‘perasaan punya uang’. Entah itu dengan didebet dari rekening atau hutang dengan kartu kredit. Untuk membatasi keinginan belanja ‘lain-lain’ mungkin perlu dibiasakan belanja pakai uang beneran (baca: cash).
  3. Mumpung ada waktu. Ini akibat manajemen waktu yang tidak rapi, hehehe… Awalnya merasa ada waktu, tau-tau sudah 3 jam ngider di toko itu.
  4. Pakai troli.  Ini memang salah satu strategi pengelola toko agar kita merasa ‘harus’ menambah barang belanjaan.  Troli besar yang kelihatan ‘kosong’ seolah memohon agar diisi.  Jadi, ambil saja keranjang atau wadah yang lebih kecil.  Dengan keranjang, tambahan barang akan membuat kita merasa berat dan enggan nambah belanjaan lagi.
  5. Parkirnya mahal, jadi rugi kalau belanjanya tidak sekalian banyak. Misalnya, ndak lucu aja kalau parkir 5.000 belanja hanya 1.000.  Kalau ini sih  lebih baik belanja di warung, bebas parkir.
  6. Ada diskon. Mungkin perlu menghindari berkunjung ke toko saat bulan-bulan penuh diskon. Kecuali memang harus belanja, dan mesti mentaati daftar belanja yang sudah dibuat.
  7. Tidak membawa catatan belanja. Sebetulnya ini kesalahan paling fatal saat belanja. Karena kita bisa lupa apa saja yang harus dibeli dan berakhir pada membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan.

Kadang kekhilafan seperti ini baru disadari saat di depan kasir. Tapi tidak usah khawatir, di kasir, sebelum membayar kita masih bisa menyortir barang belanjaan kita kok. Beberapa barang yang sebelumnya kelihatan perlu, setelah disadari harus dibayar, jadi terasa tidak perlu lagi.

“Yang ini ndak jadi mbak/mas, saya khilaf.” Hehehe…

Troli kosong nan menggoda ;)
Troli kosong nan menggoda 😉

Pengeluaran Tak Terduga

Pagi-pagi si Bapak beli blewah. Tau kan? Buah yang mirip melon dengan daging buahnya yang harum dan berwarna peach tua. Menjelang bulan puasa buah ini mendadak jadi primadona, karena cocok disajikan saat berbuka.  Sebelum berangkat kerja, saya bongkar-bongkar alat-alat dapur mencari serutan blewah. Walaah, sudah setengah jam belum ketemu juga. Ya sudah, sepulang kantor nanti saya sempatkan mampir toko serba ada beli serutan blewah.

Di toko serba ada…

Sudah tekad bulat dalam hati, niat beli satu benda itu. Alat-alat rumah tangga berada di lantai 3. Alhamdulillah dapat, harganya pun kurang dari seribu rupiah. Murah kan? Kita bikinnya juga tidak bisa, hehe…

Sebelum ke kasir, masih ada waktu luang untuk melihat-lihat rak lain. Teringat ada beberapa keperluan yang belum sempat terbeli. Akhirnya, beberapa benda pun masuk ke keranjang belanjaan. Jadi prosesnya melihat-lihat dulu baru teringat. Bukan ingat lalu beli. Memang tidak terencana walaupun ‘diperlukan’. Berikut belanjaan ekstra saya:

1. Gantungan baju dari kawat.

Alasan beli: Gantungan baju dari plastik yang ada sudah banyak yang patah/rusak, gantungan kawat kan awet sampai tahunan. Lagipula murah kok, isi 10 hanya 11.275 rupiah.

Status: Dimaafkan

2. Pembalut ukuran jumbo (isi 50).

Alasan beli: Keperluan bulanan nih, stok sudah habis dan mumpung sedang di toko. Harga 14.000 saja.

Status: Dimaafkan.

3. Kaos kaki ibu dan Necta.

Alasan beli: Kaos kaki ibu sudah banyak yang koyak. Trus kaos kaki Necta untuk sekolah (walaupun masih ada stok). Mumpung ada, kuatir kehabisan. Habis murah sih, masing-masing 5.350 dan 4.150 rupiah.

Status: Dimaafkan.

4. Bukaan botol.

Alasan beli: Biasanya bulan puasa/lebaran kan ada sirup-sirup yang perlu dibuka pakai bukaan botol. Bukaan botol yang lama entah kemana (malas nyari). Trus ada ujung pembuka kaleng juga. Perlu untuk membuka kaleng kornet atau sarden (padahal biasanya sudah ada pengungkit di kalengnya). Tapi ini harganya muraaah, hanya 2.000 rupiah.

Status: Ok, karena murah, dimaafkan.

5. Pisau roti.

Alasan beli: Ya untuk memotong roti laah. Kan perlu pisau gerigi (padahal sudah punya). Memang sudah punya pisau roti, tapi yang ini ukurannya lebih panjang dan punya dua sisi. Lagipula harganya juga gak mahal, cuma 6.000 rupiah untuk pisau stainless-steel.

Status: Ya sudah, dimaafkan.

***

Alhasil, dari tujuan utama beli serutan blewah seharga 975 rupiah, akhirnya saya harus keluar uang 43.750 rupiah saat di kasir. Bayangkan, berapa ratus persen ‘pengeluaran tak terduga’nya?

Ya, walaupun semua berstatus dimaafkan 😛

Ini dia tersangka utamanya! *serutan blewah*
Ini dia tersangka utamanya! *serutan blewah*

Maleficent: Kisah Cinta Sejati

Menyenangkan nonton film dengan anak-anak. Mereka itu ‘genuine‘, masih asli. Tidak seperti orang dewasa yang sudah terkontaminasi sana-sini, hehe…

Baru-baru ini saya nonton Maleficent (produksi Disney film) bareng kedua anak saya. Si kakak yang menjelang SMA dan adiknya yang tahun ini masuk SD. Komentar kakak yang notabene anti cerita dongeng,”Bu, aku takjub dengan film ini, ndak mainstream.” Lalu kata adiknya,”Tukang sihir jahat tadi bisa jadi baik ya?” Dan kataku menggerutu,”Kok anaknya lebih mbelani tukang sihir daripada bapaknya sih?”

Pendapat pertama dari kakak menunjukkan dia punya ide yang sama tentang dongeng yang tidak biasa seperti pesan pada film itu.  Sedangkan si adik yang tidak punya ide bagaimana tukang sihir (karena saya tidak suka membacakan cerita dongeng untuknya), betul-betul melihat bagaimana seseorang berubah sifat dalam film itu.  Dan saya, sebagaimana orangtua lain, pasti ingin anak lebih berbakti pada orangtua daripada ke tukang sihir.

Film ini bercerita tentang kutukan Maleficent, perempuan penyihir, pada putri Aurora. Kutukan yang tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini mampu mencegahnya.  Bahwa sebelum matahari tenggelam pada hari ulang tahun Aurora yang ke 16 nanti jari Aurora akan tertusuk jarum mesin pemintal lalu jatuh dalam tidur panjangnya. Dia hanya akan terbangun oleh ciuman cinta sejati. Maleficent sendiri sengaja menyebutkan ‘cinta sejati’ karena dia tahu ‘true love does not exist‘. Maunya dia, sang putri bakal tidur selama-lamanya.

Klasik.

Yang tidak klasik adalah bahwa ciuman cinta sejati yang membangunkan itu justru dia dapatkan dari Maleficent, penyihir yang memberikan kutukan padanya. Dan ending-nya, Aurora memilih tinggal di The Moor — kerajaan Maleficent — dan berbahagia. Sebetulnya hadir juga tokoh pangeran yang biasanya kebagian peran membangunkan sang putri, tapi kali ini keberadaanya hanya sebagai cameo untuk mengecoh penonton.

Disini kita melihat proses. Maleficent yang marah dan menyimpan dendam pada raja sampai menjatuhkan kutukan pada putri raja, akhirnya jatuh hati pada Aurora yang mengira Maleficent adalah ‘fairy Godmother‘-nya. Itu gara-gara dia mengikuti hari-hari Aurora sampai tumbuh menjadi gadis remaja. Istilahnya, mengintili setiap hari. Aurora juga sering main ke daerah kekuasaan Maleficent. Selama itu memang Aurora tinggal terpisah jauh dari kerajaan agar terhindar dari jarum mesin pemintal. Dia tinggal di gubuk kecil di hutan berteman tiga bibi peri yang lagi-lagi sebagai cameo.

Pesannya adalah, cinta sejati tidak tumbuh begitu saja. Disana ada proses antara Aurora dan Maleficent. Cinta sejati bahkan dapat hadir di hati yang membatu penuh dendam. Yang sudah tidak percaya pada cinta sejati. Disini, cinta sejati itu cinta ibu kepada anak.

Seperti janji Maleficent sebelum mencium dahi Aurora:

“Tidak kubiarkan sesuatu pun menyakitimu, akan kujaga dirimu selama aku hidup.”

My kiddos, I love you both ;)
My kiddos, I love you both 😉

Melogikakan Cinta

Lama juga saya absen menulis topik tentang cinta lantaran sibuk dengan urusan ilmiah. Apa cinta tidak ilmiah? Owh, tentu saja setiap laku kita – termasuk cinta — selalu mempunyai dasar ilmiah, itu sudah sunnatullah.  Jadi, boleh dong melanjutkan pembahasan ini 😉

Topik cinta ini kelihatannya diminati banyak orang. Karena cinta itu penuh rahasia, bikin penasaran, dan seringkali mengundang tanda tanya. Apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan kata tanya lain. Lalu saat si penanya tidak mendapat jawaban, cinta dituduh sebagai makhluk absurd yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seperti quote berikut yang saya dapat dari seorang teman:

“Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang menghampiri kita. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Dan kita tidak pernah tahu alasan apa Tuhan memberikan cinta. Tidak ada yang salah.”

Quote ini menarik. Karena menurut saya ‘kita tahu’. Menjadi jatuh cinta selalu diawali proses yang sangat logis dan disadari. Tiap proses tersebut mempunyai tahap dan selalu tersedia check-point di setiap tahapnya. Tapi, pertama-tama kita harus bedakan antara proses jatuh cinta dan jatuh cinta itu sendiri. Karena, cinta itu tabir, yang membuat hal-hal logis menjadi tidak logis. Jadi, kalau tidak mau jatuh cinta, perhatikan baik-baik warning-sign dan lakukan pemeriksaan ketat di setiap check-point yang tersedia.

Kenapa?

Karena makin lama warning-sign itu akan makin kabur disebabkan oleh kesadaran yang makin turun. Itu yang diibaratkan sebagai ‘pusaran cinta yang menghanyutkan dan menenggelamkan’ oleh para pujangga *alamakjaaan. Nah, sebelum “help,help,” waspadalah dengan tiap prosesnya.

Prosesnya adalah seperti berikut:

1. Pertemuan.

Pertemuan itu tidak terbatas di dunia nyata saja, tapi juga di dunia lain, eh, dunia maya (misal: chat-room). Pertemuan bisa terjadi secara sengaja, tidak disengaja, maupun cuma iseng. Sedang kurang kerjaan lalu iseng mencari jejak teman yang dulu pernah naksir. Nah, iseng banget kan? Bagaimanapun, pertemuan ini mutlak ada, pun dengan mereka yang ngaku-ngaku cinta pada pandangan pertama. Proses ini hampir tidak bisa dielakkan kecuali oleh ‘perempuan dalam pasungan yang dipingit di tengah hutan seorang diri tanpa ponsel atau alat komunikasi lain’. Eh, potensial jatuh cinta sama beruk atau macan ini ya? Tapi ndak lah, buktinya Tarzan aja nunggu Jane muncul. Hehehe..

Antagonis: Jangan bertemu (online maupun offline).

2. Cocok.

Kita pasti tahu orang seperti apa yang ‘berpotensi’ kita jatuhi cinta atau minimal kita sukai. Maksud potensi disini kalau kita suka dengan orang yang wangi bukan berarti semua orang yang wangi akan kita cintai, masih ada tahap seleksi berikutnya. Sebetulnya disini sudah ada check-point, orang yang tidak wangi atau bau terasi akan tereliminasi *ieewh. Kecocokan bisa dicapai melalui komunikasi. Misalnya sama-sama menganggap Pulau Lombok sebagai tempat tujuan wisata terbaik, kemudian saling bertukar informasi tentang spot-spot menarik yang ada disana, lalu membayangkan bisa pergi kesana berdua. Hohoho.. Kecocokan akan menyeret kita ke dalam comfort-zone. Suatu tempat yang aman dan damai, dimana nyaris tidak ada defense-mechanism maupun pertengkaran saat kita cocok dengan seseorang.

Antagonis: Jangan berkomunikasi apalagi kalau hanya berdua, termasuk diantaranya dengan bahasa isyarat apalagi bahasa tubuh, hehe..

3. Tertarik atau suka.

Tertarik itu identik dengan mendekat. Sama saja kalau kita suka ngemil coklat, rasanya selalu ada magnet yang membuat kita ingin mendekati rak coklat saat di sebuah toko. Begitulah, topik-topik percakapan menjadi berkembang lebih akrab dan intim. Comfort-zone bergeser menjadi happy-zone, zona bahagia. Dan kita semua sudah mahfum bahwa tidak seorang pun ingin kehilangan kenyamanan dan kebahagiaannya. Maka, unsur subyektifitas pada proses ini menjadi sangat kental. Perasaan mulai terlibat.

Antagonis: Buat jarak, baik dalam dimensi ruang maupun waktu.

Karena kalau tidak begitu, akhirnya akan terjadi jatuh cinta *eaaaa… >>> sambil nari-nari keliling pohon ala Shah Rukhan dan Aisywara Ray* (maaf, taunya cuma dua orang itu) 😀

Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat pada garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.
Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.

Cinta itu sebetulnya seperti selimut yang membungkus semua proses tersebut hingga logikanya tidak kelihatan lagi. Menjadi tabir yang kadang-kadang membuat orang lupa apa yang membuatnya jatuh cinta pada pasangannya. Lalu mengatakan bahwa cinta itu datang begitu saja, tidak perlu alasan. Lupa pada proses yang sudah dilaluinya.

Ada juga istilah lain dalam cinta. Namanya syarat. Cinta itu sebetulnya bukan tanpa syarat. Tapi syarat dan ketentuan selalu berlaku dalam prosesnya. Hanya saja, dilakukan tanpa terasa. Seperti tentang meluangkan waktu. Kalau sudah cocok, waktu yang kamu berikan pada si dia sebetulnya adalah syarat yang kamu berikan dengan ikhlas. Itu yang membuatnya terasa ringan. Jadi bohong kalau cinta itu pengorbanan. Yang mengatakan cinta itu pengorbanan adalah orang-orang di luar lingkaran cintamu. Sang pencinta tidak akan merasakan itu. Tidak logis? Ya, karena kita telah sampai pada titik ddimana logika sudah diselimuti cinta.

Jadi, buat yang ingin jatuh cinta pada seseorang, jalani tahap-tahap tersebut. Bertemu, cocok, tertarik, lalu dengan sendirinya akan bahagia. Nah, bertemu itu bisa dilakukan dengan sengaja. Tapi belum tentu cocok.

Bagaimana agar cocok?

Kalau cinta memang harus hadir, sampaikan pada targetmu hal-hal yang kamu suka. Bukaan, bukan mau menyetir kepribadian orang. Nanti targetmu malah jadi berkepribadian ganda loh. Toh kalau targetmu tidak ingin melanjutkan langkah bersamamu dia akan pergi juga (ga tahan dengan syarat yang kamu ajukan > seleksi alam > dia bukan untukmu). So, let her/him go. Karena salah satu komponen cinta itu adalah kerelaan, bukan keterpaksaan.

Akhirnya, jatuh cinta itu pilihan yang disengaja dan merupakan risiko konsekuensi logis dari dua insan yang bertemu, cocok, tertarik, lalu bahagia berdua atau merana bila terpisah (Hiks!). Lalu, menjawab quote sebelumnya, sebetulnya kita sudah tahu pada siapa akan mengambil risiko kejatuhan cinta. Makhluk imut bernama cupid itu tidak asal-asalan mengarahkan panahnya. Karena panah hanya akan kena pada orang yang ‘dekat’.  Termasuk juga tentang benar dan salah. Bukan cintanya yang salah, tapi check-pointnya yang tidak berfungsi dengan baik. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, sebetulnya terserah kita 🙂

Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta.  Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan ;)
Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan 😉

Apa Yang Menyebabkan Orang Jadi Histeris?

Pagi ini seorang teman mengadu pada saya. Pagi-pagi sudah berteriak histeris gara-gara melihat tikus di ruang kerjanya. Karena saya juga pernah histeris gara-gara tikus, akhirnya tergelitik membuat tulisan ini.

(“Wooii, tanggung jawab lu Fiiit, bikin kerjaanku gak selesai!”)

***

Histeris, menurut KBBI adalah ‘disambut dengan teriakan’. Contohnya, teman saya kaget dan menyambut si tikus dengan teriakan. Biasanya penyambutan kan dengan tari-tarian atau karangan bunga ya? Sedangkan menurut kamus bahasa Inggris histeris adalah ‘tingkah laku yang menunjukkan emosi berlebihan yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh rasa takut atau panik’.  Arti lainnya berhubungan dengan penyakit jiwa dan tidak termasuk yang akan kita bahas disini.
Selain itu, yang saya tahu histeris berasal dari bahasa yunani/latin yaitu hysteric/uterus atau rahim. Sehingga biasanya perempuanlah yang mengalami histeris karena rahim hanya dimiliki oleh perempuan. Dan faktanya jarang kita lihat ada laki-laki histeris.

Lalu, hal-hal apa saja sih yang mampu membuat seseorang menjadi histeris? Berikut ini beberapa hal yang kira-kira bisa memancing teriakan histeris:

1. Tikus. Mendadak melihat tikus seperti kasus teman saya umumnya mampu membuat perempuan berteriak histeris. Baik itu tikus mati maupun yang masih lincah lari-larian di sekitar kita. Sebetulnya si tikus juga kaget ketemu kita, dan mungkin kalau tikusnya betina dia juga histeris.

2. Kecoak. Ini berlaku untuk kecoak yang tiba-tiba terbang mendekati kita maupun yang tiba-tiba muncul atau lewat di dekat kita.

3. Ulat. Ulatnya sih anteng, sedang asyik ngemil daun.  Tapi yang melihat bisa teriak lalu lari terbirit-birit saat bertemu hewan ini.  Mungkin si ulil yang melihat peristiwa ini hanya bisa nyengir heran,”Kaki imut gini bagaimana bisa ngejar kamu rang?”.  (Red. rang=orang)

4. Belatung. Terutama belatung lincah yang melenting kesana kemari dengan badannya yang lentur karena rajin latihan senam lantai. Hiii!!!

5. Hantu. Mungkin wujudnya yang – konon – mengerikan bin menakutkan bisa menyebabkan orang yg melihatnya kaget sampai berteriak histeris. Lantas, bagaimana dengan hantu cantik semacam si Manis Jembatan Ancol, mbak Kunti yang ramah dan senang tertawa, atau Casper si hantu lucu? Ada yang punya pengalaman?

6. Maling/rampok. Papasan dengan mereka ini bisa memancing teriakan ala “Home Alone”-nya Macauly Culkin.

7. Eksibisionis. Teriakan korban inilah yang memang diharapkan dan membawa kepuasan bagi seorang eksibisionis. Makanya, kalau ketemu mereka, pura-pura tenang, terus kasih komentar sadis tentang ‘miliknya’. Misalnya,”Iih, kok jelek sih, kayak uler kena lepra,” atau ,”Itu ulekan bayi kok dibawa kemana-mana ya?”. Teriaknya ditunda nanti saja kalau sudah jauh dari mereka.

Selain histeris yang dipicu oleh hal-hal yang tidak mengenakkan, ternyata histeris juga dapat ditimbulkan oleh hal yang menyenangkan, yaitu:

8. Idola. Rasa senang yang berlebihan juga dapat menyebabkan histeris. Hal ini disebabkan karena dihasilkannya neurotransmitter dopamine yang terlibat dalam proses kesenangan dan kecanduan. Dopamin yang dilepaskan secara berlebihan dapat memicu teriakan sampai dengan tangis histeris.

Nah, itu tadi beberapa hal penyebab histeris. Kalau ada penyebab lain silahkan di-share 🙂

Ternyata kucing juga bisa histeris,"AAAAAaaaargh..!!!"
Ternyata kucing juga bisa histeris,”AAAAAaaaargh..!!!”

Alasan Tidak Memasang Foto Bersama Pasangan di Media Sosial

Tulisan ini adalah lanjutan dari hasil mengigau survey yang sudah dituliskan seorang teman di sini tentang “Alasan Memasang Foto Pasangan Sebagai DP”.  Tulisan kali ini juga berdasarkan survey yang validitasnya tidak diragukan.  Kalau tulisan sebelumnya fokus ke Display Picture (DP) atau Profile Picture (PP), tulisan kali ini saya perluas pada semua kegiatan di media sosial.  Inilah beberapa Alasan Tidak Memasang Foto Bersama Pasangan di Media Sosial:

  1. Menunjukkan kemandirian.  Foto sendirian, apalagi pakai baju dinas dengan background tempat kerja memberi kesan eksis tanpa pasangan dan mandiri secara finansial.  Foto jenis ini biasanya dipasang di media semacam Linkedin.
  2. Tidak ingin menyakiti hati orang lain (a.k.a para mantan; para gebetan).  Secara disadari maupun tidak, melihat foto Anda dengan pasangan terasa menyakitkan bagi orang-orang tertentu.  Orang-orang yang menyadari hal ini biasanya akan menghindari memasang foto berpasangan.
  3. Tidak punya foto dengan pasangan kecuali jaman kawinan tempo doeloe.  Entah karena sama-sama pemalu atau hidup di daerah terpencil rawan bencana, mereka ini tidak punya foto lain selain yang saya sebutkan di atas.
  4. Ada foto dengan pasangan tapi kurang sip untuk dipajang, mungkin pas merem atau ‘nganga’.  Kadang-kadang ‘kecelakaan’ saat berfoto terjadi karena pengarah gaya yang tidak profesional.
  5. Sedang sebel dengan pasangan.  Kalau ini, jangankan memasang foto saat bersamanya, memandangnya pun rasanya malas 😦
  6. Tidak ingin pamer kemesraan di depan umum, kuatir kena sensor kemkominfo.  Kurang tahu juga, pose seperti apa yang mereka suguhkan saat berfoto.  Mungkin foto-foto tersebut lebih baik dijadikan koleksi pribadi 😛
  7. Punya lebih dari satu pasangan.  Tentu saja bikin bingung, foto dengan pasangan yang mana yang akan dipasang.  Belum lagi kepikiran poin nomer 2 dari artikel ini.  Sungguh dilematis.
  8. Sedang mencari pasangan (lagi).  Kalau ini sih tidak mungkin menunjukkan pasangan sebelumnya di depan target! *modus.
  9. Ada foto berpasangan tapi dengan pasangan orang lain (salah pasangan).  Entah bagaimana bisa terjadi.  Foto semacam ini tidak akan muncul di media sosial kecuali ada maksud kriminal 😮
  10. Belum/tidak punya pasangan.  Ini alasan paling logis yang saya tahu.  Iya lah, daripada mengada-ada atau mengaku-aku orang yang bukan pasangannya, bisa-bisa kena pasal pencemaran nama baik 😀

Dan ini adalah alasan paling aneh yang saya jumpai:

Teman saya dan pasangannya yang sudah dikutuk jadi papan surf.
Teman saya dan pasangannya yang sudah dikutuk jadi papan selancar.

11. Pasangan dikutuk jadi papan selancar, sehingga terpaksa foto bareng papan itu *hadooooh.

Atau mungkin kamu punya alasan yang lebih meyakinkan? Silahkan di-share 😉