LAKON SANG DAKON

Inilah aq(baca: a-ki)batnya kalo ketagihan game –atau ketagihan apapun juga–, banyak waktu terbuang sia-sia sampai pada suatu hari ada yang PROTES lantaran aku udah vakum lama gak ngisi blog. Okeh…okeh… aku isi lagi dech… Tapi ini tentang ketagihan yang baru, yaitu ketagihan main DAKON alias CONGKLAK. Gak tau napa, sepertinya aku ditakdirkan untuk begitu mudahnya ketagihan, (sampai-sampai mungkin kalo ada psikotest tentang pekerjaan, aku lebih tepat berada di bidang ‘penagihan’ hehehe…) terutama dengan hal-hal yang berbau ‘BOM‘. Kalo main dakon kan ada bom-bomannya…kikikik…
Bahkan, menurut salah satu ramalan nasib (lupa nih, berdasarkan bintang apa shio ya?), aku gampang ketagihan, apalagi kalo diawali dengan sedikit frustasi (hmmm…). Cuma akhir-akhir ini rasanya sedang tidak ada alasan untuk frustasi.

Sebetulnya sih, segala macam ketagihan ini semua bermula dari tidak sengaja.

  1. Ketagihan minesweeper gara-gara kena masa DOKUGA (DOsen KUrang GAwean)
  2. Ketagihan dakon gara-gara kemarin ke toko serba lima ribu (kalo di Jakarta semacam Value$) dengan niat nyari globe imut (goceng-an) buat ngejelasin letak Indonesia di planet bumi ini pada anakku, eee… ada dakon goceng-an juga. Dengan berbekal semangat ’45 dibumbui sedikit semangat nostalgia langsung aku sambar, jadilah dia penghuni keranjang belanjaan.

Kalo nge-game minesweeper kan gak perlu partner, lain dengan dakon. Untunglah, si Kecil yang berumur 6 tahun sangat antusias pas aku jelasin cara mainnya, sehingga jadilah dia partner dakonku. Setiap pulang sekolah, sang dakonlah yang dicari. Sebenarnya, agak mengkhawatirkan juga, karena tugas utamanya kan belajar (selain belajar dakon). Yang aku khawatirkan, kalo dia bosan dan kembali ke tugas utamanya atau lebih mementingkan tugas utamanya, aku main dengan siapa…

ADDict

Beberapa pekan belakangan ini, setelah terpaan acara dies natalis yang disusul STAR ON THIS WEEK(*) mereda, pola kerjaku jadi berubah. Dari yang jungkir balik kalang kabut ke adem ayem. Ternyata dampaknya sangat mengganggu. Yaitu memunculkan sifat isengku. Karena makhluk-makhluk yang diisengin memberikan respon yang tidak terlalu menggembirakan, jadi ya ngisengin komputer aja. Emmm…. apa ya? Clingak sana, clinguk sini… ternyata ada sejawat yang mengisi waktu luang dengan maen game TUMBLEBUGS. Wah, boljug nii… Ikutan ah… tapi kok kalah melulu ya. Akhirnya nyari ‘pelepasan’ sendiri deh. Karena aku pernah advance di MINESWEEPER alias tukang sapu ranjau, akhirnya duduk manislah daku ngulik game yang satu ini.

Game ini mudah diakses. Menunya tersedia di setiap komputer yang ada di kantor. Gak perlu nginstall lagi dan memorinya juga entheng. Karena gampang diakses, dampaknya tiap ada komputer nyala pasti ada kecenderungan untuk nge-game. Setiap waktu, setiap saat, setiap kegiatan, aku sempat-sempatin bikin rekor baru kecepatan nyapu ranjau. Karena sekantor yang mainin game ini cuma aku, saingannya ya aku sendiri. Saking besarnya semangat ngalahin diri sendiri ini sampai ke tahap ‘ketagihan’. Datang pagi-pagi nge-game, siang, sore, mau pulang juga. Gak peduli ada mahasiswa ato senior lagi meninjau ruangan, nge-game jalan terus (kita kan bukan pegawai ABS, hehehe…).

Tentu saja hal ini bisa mengganggu produktivitas kerja. Tapi bagaimana doongg????

Saldomania

Kyaa…Rasanya udah berabad-abad gak nengokin spot tercinta ini. Tempat curahan hati saat kesal sampai senang, dari intensitas rendah sampai tinggi. Kali ini aku mengusung sapa tentang masa berakhirnya kepanitiaan yang sudah aku ceritakan di kisah-kisah sebelumnya.

Seperti lazimnya semua kegiatan yang dilakukan manusia, prinsip pertama yang akan dipegang adalah bekerja seminimal mungkin demi keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi-lah… Rasanya itu berlaku untuk semua hal. Terutama urusan per-duit-an dalam kepanitiaan kemarin itu. Hehehe… Begitu kegiatan udah mulai kukut-kukut dan sang sekretaris udah nagih-nagih LPJ, sang bendahara juga mulai meng-up grade laporan di sana-sini demi mengais rupiah yang mungkin tersisa. Eh, bukan mungkin ding, tapi HARUS ada saldo. Demikian ancam rekan panitia urusan lain. Ujung-ujungnya kami mulai kasak-kusuk mengira-ngira berapa Rp yang mungkin bisa dibawa pulang.

Beberapa hari belakangan sang bendahara dan sang sekretaris sudah runtang-runtung kesana-kemari sambil bawa-bawa map isi laporan keuangan. Dan para panitia urusan lain juga sibuk menguntit mereka sambil berusaha menguping pembicaraan mereka, apalagi kalo udah terdengar,”Rp…. psst… Rp… “.

Tapi sodara-sodara… dalam hati kecil ini juga ada segumpal pertanyaan,”Legalkah perbuatan bagi-bagi uang sisa kegiatan ini? kan kita udah dapat cum, lagian gak ada hitam diatas putih bahwa kerja kita dibayar, kita juga gak kerja-kerja amat malah cenderung bersenang-senang ada kesempatan bebas sebentar dari tugas kantor, anggap aja liburan.” Ee, masih punya hati nurani juga ya. Huah… sampai disini, diskusi berlanjut pada bagian tentang payung hukum. Setelah tanya sana-sini, dengan narasumber yang udah berpengalaman bagi-bagi duit, didapatlah jawaban senada, yaitu LEGAL. Dengan dalih, uang yang diturunkan dari atas segitu udah sesuai proposal, gak mungkin ada pos uang kembalian (emang pasar kali yee). Ups, lega dong (walopun narasumbernya juga udah diseleksi dan di-edit serta agak-agak diintervensi, hehehe…). Serta merta kami jadi berterimakasih pada sang bendahara yang udah ngirit bin pelit.

Jadilah, kami, panitia urusan lain sibuk menodong sang bendahara dengan ringan tiap kali ketemu. Dan tinggallah sang bendahara sibuk menghindari kami sambil berusaha segera menyelesaikan laporan keuangannya. Cepetan Bro…!

HOROR HARAH

Seperti biasa, pagi-pagi dalam perjalanan ke kantor aku diguyur gerimis yang melunturkan bedak dan melicinkan aspal. Jelas aja, lha wong musim ujan yak… Tikung kanan dan kiri, sedikit manuver ngakalin ban depan yang udah gundul, menghindari tukang kerupuk yang bawaannya menggunung kanan kiri, sempat terlintas di pikiranku tentang kecelakaan. Yang ini memang perlu diingat agar dihindari. Trus keingat juga tentang darah yang identik dengan kata kunci pertama. Trus kepikiran juga sama kegiatan donor darah dua hari lagi. Karena hari ini mesti ngecek berapa korban yang terjaring dalam form peserta. Rasanya sih pe-de aja, karena sasarannya kan mahasiswa dan kolega yang paham betul tentang pentingnya acara ini. Jadi ya, prekdisiku sih mencapai target minimal-lah.

Telpon sana telpon sini, ngecek jumlah pendaftar, Alhamdulillah gak mengecewakan. Walaupun , sejujurnya agak ketar-ketir, karena ternyata banyak kolega yang notabene adalah tenaga medis dan paramedis takut sama jarum suntik. Sempat juga sih aku tawarkan, gimana kalo donor pake pisau bedah? Eh, malah mereka sibuk protes-protes sambil nyumpahin aku. Lha piye, kalo nyuntik orang aja hayoo, giliran dimintai sumbangan darah “no teng”.

Pengobatan Gratis

Alam masih menyisakan rintik hujan sisa tadi malam, tapi pukul 7 pagi tim Pengobatan Gratis sudah bersiap berangkat dari pelataran parkir FK Unibraw. Full team ber-17 berbekal berkardus-kardus amunisi alias obat-obatan dan isi perut (biar tidak gantian kami yang jadi pasien) pukul 8 kami bertolak ke dusun Bocek, kec. Karangploso, kab. Malang. Perjalanan 45 menit menyisir ladang dan hutan sepanjang lereng G. Arjuno lumayan melelahkan dan memabukkan karena tanjakan dimana-mana dan pak Kholil yang membawa kami punya reputasi baik sebagai sopir yang sering bikin mabuk penumpangnya.

Tiba di lokasi kami disambut musik dangdut dari speaker ‘balai dusun’ yang masih beralaskan tanah sehingga refleks goyang 1×1 jadi tak tertahankan lagi (minimal goyang jempol), heheheh…
Yang jelas, pasien udah nunggu…hurry up.

Tentu saja Pak Kadus dan Ketua Panitia harus berbasa-basi sejenak (uff…). Berikutnya penyuluhan Diare dan Demam Berdarah (ini bikin gelisah pengunjung yang semakin banyak di hari yang semakin siang dan kepala/gigi/boyok yang semakin sakit…*keluh*). Akhirnya, pasien pertama dilayani pukul 10, berturut-turut mereka dilayani 3 meja anamnesa dan 3 bilik periksa. Sesudahnya mereka ngambil obat di meja apotik. Uff… udah siang, panas pula. Meja pamungkas ini mesti ekstra hati-hati juga, lantaran salah obat bisa dituntut kalo gak dikutuk tuju turunan… (pilih mana hayoo). Apalagi berhadapan dengan para manula yang pendengarannya udah kurang ato bahkan pasien dengan nama sama. Celakanya, di kartu status tertera alamat sama, yaitu ‘ds.Bocek’, Supit Urang. Tak ayal, para penunggu meja obat mesti rajin-rajin juga ngintip bilik nanya ke dokter yang ngasi resep, sambil nenteng2 pasiennya. Mending kalo sakitnya sama. heheheh…

Pukul 2 siang turun hujan, sekaligus menyetop arus pasien yang datang. Saved by rain.
Makan siang dan berkemas pulang. Jam 3 sore kami udah mangkal lagi di kampus. Menyisakan penat dan rasa syukur. Gak terasa udah 204 pasien kami tangani. Semoga jerih payah ini tercatat sebagai amalan yang abadi.

Dies Natalis, ups!

Tentu saja embel-embel ‘ups’ di belakang titel diatas bukanlah nama sebuah perusahaan cargo dan ekspedisi, tapi lebih pada luapan kata hati yang tak terkatakan saking kompleksnya. Eh, ini lagi… bukan kompleks industri ato perumahan tapi saking bujubune kerjaannya.

Biasanya kalo ada yang dies natalis alias hari kelahiran, bakal disusul acara undang-undang dan makan-makan (terlepas siapa yang ngasih makan, karena kalo di Jepun sono, si tamulah yang bawa makanan untuk dirinya sendiri dan yang ultah). Tapi, yang kita bicarakan ini adalah hari ultahnya sebuah universitas di kota Malang (baca: Ngalam). Sebagai subjek sekaligus objek, tentunya yang repot-repot (baca: merepotkan diri) adalah civitas akademika penghuni universitas tersebut. Semuanya kudu terlibat!!! Emmm… ternyata penghuninya banyak juga.

Maka disusunlah buanyak kegiatan terkait dengan ultah tersebut. Tapi celakanya, yang mau terlibat jadi panitia bisa diitung jari. Hehhhh… (sambil menghembuskan segala CO2 yang bermukim di sudut-sudut bronchiolus)… itupun setelah ditodong setengah mati oleh oknum yang berhasil diciduk oleh panitia pusat. Dan jadilah, satu orang terlibat dalam sekian kegiatan dengan jabatan yang berbeda-beda. Saya sendiri termasuk salah satu korbannya. Di ‘Ceramah Ilmiah Populer’ jadi sie acara, di ‘Pengobatan Gratis’ jadi tukang bagi-bagi obat, di ‘Donor Darah’ jadi ketua. Demikian juga rekan lain, yang orangnya ya itu-itu ajah… Sampai-sampai kalo lagi ngobrol ato rapat, kita mesti ‘garisbawahi’ “Lagi ngomongin acara apa nih?”… karena hal itu menyangkut ‘hirarki’. Jangan sampe saya main tunjuk-tunjuk di rapat ‘Pengobatan Gratis’ gara-gara barusan rapat ‘Donor Darah’…heheheh

Dampak negatifnya, tentu saja urusan ngajar jadi terbengkalai… huhuhu… dan tentu saja capek lahir batin.