Assassin snail vs keong emas

Belakangan ini keong penghuni aquascape jadi rajin berreproduksi sehingga jumlahnya makin melimpah.  Alhasil, kita bisa menjumpai makhluk moluska ini di hampir setiap sisi, sudut, ceruk, celah, dan daun dalam tanki.  Awalnya memang sengaja beli seekor keong emas yang seekor harganya cuma seribu #kataSule#.  Eh, ternyata sudah banyak keong/telur keong yang terikut saat beli tanaman.  Booming keong ini cukup mengganggu pemandangan, lama-lama jadi hama walaupun tidak sampai merusak penampilan tanaman, misal menggerogoti daun.  Oleh karenanya, dengan semangat menyeimbangkan ekosistem, saya langsung hunting pembasmi hama keong.  Ada beberapa yang disarankan sih, tapi saya pilih keong pemakan keong (karnivora), yaitu asassin snail (Clea helena) seharga sepuluh ribuan.

Kenalkeun, saya si Clea helena ;)
Kenalkeun, saya si Clea helena 😉
DSC_5043
Keong emas. Cantik siiih, tapi kalau membludak jadi mengganggu pemandangan 😦

Dan inilah aksi si kanibal membasmi keong emas (Pomacea canaliculata):

f0a7b8e5-3349-499b-9b4c-28bd2587b9bf-picsay
Aksi si Clea. (1) mendekati target sambil menjulurkan sensornya, (2) mencaplok target, (3) menyedot jaringan lunak target, (4) meninggalkan cangkang kosong yang penghuninya sudah berpindah ke perutnya.

Sadis…. :0

Advertisements

Akhirnya: Reaktor CO2 DIY!

Para aquascaper di jagad Indonesia tercinta, seperti diketahui bahwa aquascape bonek saya awalnya disetting tanpa asupan CO2 dengan harapan kebutuhan CO2 terpenuhi dari respirasi fauna penghuninya.  Namun akhirnya datanglah kesempatan itu *halaah*, kesempatan untuk membuat reaktor/fermentor CO2 DIY (do it yourself) dua bulan lalu.

“kenapa tidak langsung di-share?”

Nah itulah, sebetulnya saya masih menunggu sampai gelembung CO2 yang dihasilkan oleh reaktor DIY ini habis untuk melihat berapa lama umur reaktor saya.  Tapi apa daya, karena setelah dua bulan masih rajin bubbling (1 bulb/sec) akhirnya saya tulis saja pengalaman membuat reaktor ini. Berikut alat dan bahan pembuatan reaktor CO2 DIY ala saya.

Bagian luar:

1. Botol plastik 1,5 L dan 600 ml bekas lengkap dengan tutupnya.  Botolnya tidak perlu bekas botol soda, bekas botol air mineral saja cukup.  Botol besar diisi starter sebagai reaktor sedangkan botol kecil diisi air setengahnya saja untuk mengecek dan menghitung kecepatan produksi gas.

2. Selang kecil aerator secukupnya, tergantung jarak fermentor dengan akuarium. Saya pakai selang 2m.

3. Lem kaca/lem silikon/lem G.  Lem ini digunakan untuk menutup bagian sambungan dan tutup botol yang dilubangi untuk mencegah kebocoran gas.  Pokoknya harus rapet, singset, dan kedap udara.

4. Konektor/sambungan dengan pembatas (3 buah) untuk dipasang pada tutup botol. Satu buah dipasang pada botol reaktor, 2 buah pada botol bubble counter.  Ketiganya dihubungkan dengan selang pada satu sisinya.

5. Diffuser (pakai diffuser yang biasa dihubungkan dengan aerator O2 untuk akuarium ikan), dipasang pada selang inlet ke botol kecil.  Selang outlet dipasang diatas permukaan air.

Rakitan reaktor CO2 dan bubble counter.
Rakitan reaktor CO2 dan bubble counter.

Bagian dalam: Cop dengan clamp, siku, konektor biasa, filter rokok.  Alat-alat ini dipakai di bagian outlet CO2 yang didalam air.  Cop dan clamp untuk memfiksasi selang, siku untuk mengarahkan CO2, konektor dipakai sebagai penghubung dengan selang pendek yang diberi filter rokok dan difungsikan diffuser.  Nah, karena di rumah tidak ada yang merokok, akhirnya filter rokok saya dapatkan dari pemilik toko.  Puntung rokok hasil mengais sampah di toko itu entah bekas bibir siapa *euuuh*.   Dan dirakit seperti ini:

Rakitan bagian dalam.
Rakitan bagian dalam.

Kalau gambar saya kurang jelas, botol reaktor, bubble counter, dan filter dirakit seperti pada tulisan ini.

Bahan starter:

1. Gula pasir 1/4 kg

2. Fermipan seujung sendok teh (setengah bungkus).  Jangan yang sudah terbuka ya, misal bekas bikin donat minggu lalu.  Atau kalau sudah dibuka, simpan di lemari es.  Bisa dipakai lagi untuk membuat starter baru.

3. Agar-agar merek terserah.  Hmm, kalau tidak ada merek “Terserah” ya pakai merk swallow (asal bukan sandal jepit).

4. Air suhu ruang.

Bahan 1, 2, dan 3 dicampur di dalam botol kemudian dituangi air hingga di bawah leher botol dan tidak usah dikocok lagi.  Botol reaktor ini diletakkan di tempat teduh dan aman.  Usahakan tutupnya jangan tersenggol-senggol karena rawan bocor.  Botol reaktor saya tempatkan di tempat yang sering dilalui tikus, kadang tersenggol juga oleh Siti (si tikus), tapi moga-moga amanlah.  Tikusnya sengaja tidak dibasmi, kasihan kan dia nyari makan.

Untuk bagian dalam, selang CO2 sebaiknya difiksasi didekat outlet filter air sehingga gas dapat terdorong dan terdistribusi dengan baik di seluruh bagian akuarium.

Selang gas CO2 dipasang di dekat outlet filter air.
Selang gas CO2 dipasang di bawah outlet filter air.

Lalu tibalah saat-saat mendebarkan, rasanya seperti menunggu jawaban email dari reviewer journal *haaddeeeh* :P.  Setelah di-setting, tunggu sampai gas tampak keluar dari reaktor dengan ditandai gelembung yang keluar dari selang inlet di botol kecil.  Beberapa saat kemudian gas akan dialirkan ke selang outlet menuju diffuser di akuarium.  Pada kasus saya, karena selang di dalam akuarium sempat kemasukan air, akhirnya gas baru sampai di diffuser 2 jam kemudian dengan kecepatan 2 bulb/sec.  Sungguh dua jam yang bikin mules sampai beberapa kali ke kloset *pencaharalami*.

Dua jam kemudian... *hooraaay* :D
Dua jam kemudian… *hooraaay* 😀

Lamanya perjalanan gas mulai setting starter hingga tiba di akuarium sangat bervariasi.  Tapi tidak sampai sebulan-lah, keburu jenggotan, hehehe.  Kalau sampai seharian belum sampai juga mungkin ada bagian yang bocor.  Bagian mana yang bocor dapat dideteksi dari skema rakitan yang kita buat. Setelah memakai tambahan CO2 memang pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat.  Bahkan dalam dua bulan ini sudah dua kali dilakukan pemangkasan (trimming) dan penanaman kembali (replanting).

Tanaman pada gondrong dan kolam jadi gelaap :(
Sebulan setelah pemasangan CO2, tanaman pada gondrong dan kolam jadi gelaap 😦
Setelah pemangkasan dan penanaman kembali.  Kinclooong :D
Setelah pemangkasan dan penanaman kembali. Kinclooong 😀

Selamat mencoba 😉

Cara Praktis Menguras Akuarium

Malas menguras akuarium? Berikut saya bagi satu cara praktis menguras akuarium memakai filter internal.

  1. tempatkan filter internal hingga hampir ke dasar akuarium atau sesuai kebutuhan
  2. pasang selang pembuangan di bagian outlet-nya
  3. nyalakan filter
  4. makan siomay sambil nonton tivi
  5. matikan filter kalau sudah berbunyi kemrosok (apa itu???), berarti saat itu air sudah turun melewati head-nya.  kalau dibiarkan ya bakal rusak, akhirnya beli filter baru deh 😛
  6. selesai 🙂
Setting pengurasan.
Setting pengurasan.

Menguras dengan filter ini sangat aman.  Tidak akan ada pasir/kerikil/ikan yang terbuang dari akuarium.  Selamat mencoba 😉

Aquascape Anti-Mahal [lagi]

Demam aquascape belum berakhir. Malah sekarang bikin proyek agak serius, upgrade ke akuarium yang lebih besar. Mumpung ada yang bantu nggotong-nggotong dari pasar, akhirnya terbelilah akuarium ukuran 50x30x35 (pxlxt) tebal kaca 5mm. Tadinya mau pesan yang 50x30x30 tinggi standar, tapi di tokonya sudah siap ukuran tinggi 35 (pesanan orang yang dibatalkan), ya sudah bungkus saja. Sudah kebelet bikin settingan baru 😀

Konsepnya dibuat natural. Alas sekaligus gravelnya perpaduan pasir silika ukuran sedang di bagian depan dan kerikil halus warna putih di bagian belakang yang dibatasi susunan pecahan batu putih sebagai tebing. Kontur dibuat meninggi ke belakang. Penanaman dibuat per titik tanam, digali dan diisi soil ukuran sedang untuk tiap tanaman (ceritanya ngirit soil dan biar bersih). Mungkin nanti-nanti beli soil ukuran kecil untuk tanaman jenis cuba atau riccia yang akarnya lembut.

Pencahayaan pakai dua lampu. Satu memanfaatkan lampu submersible 8 watt yang udah dimiliki duluan. Lampu diberi rumah dari paralon yang dibelah dua.

Rumah lampu dari paralon bekas yang dicat.
Rumah lampu dari paralon bekas yang dicat.

Satu lagi beli lampu LED 12 watt dipasang di dinding pakai dudukan lampu belajar yang sudah ada. Sebetulnya saya perlu total pencahayaan 25 watt untuk aquascape low-medium light dengan air sebanyak 50 literan. Tapi, sementara ini dulu cukuplah. Hingga seminggu water change (WC) 75% dilakukan sebelum lampu dinyalakan setiap hari untuk asupan CO2 yang cukup sampai mencapai kondisi stabil. Beberapa tanaman seperti Cryptocoryne dan Sagittaria melayukan daunnya (melting) karena beradaptasi. Jangan ragu-ragu untuk membabat daun-daun yang melting saat WC agar segera digantikan tunas baru. Pupuk cair juga ditambahkan tiap kali WC dengan takaran sesuai label, 1sdm/20L. Perlu diingat bahwa WC dilakukan sejam sebelum pencahayaan dimulai agar tanaman tidak stress.

Sedang pearling setelah WC :) *Ceratopterys*
Sedang pearling setelah WC 🙂 *Ceratopteris*

Berikut pengeluaran saya untuk proyek kali ini:

Hardscape:

Akuarium 50x30x35 tebal 5mm, 75K

Pasir silica 5 kg, 23K

Kerikil putih halus 5 kg, 25K

Pecahan batu putih, 8K

Soil kemasan 1 kg, 30K

Batu hias, 30K

Kayu siap pakai, 20K

Tanaman:

Saya pilih tanaman jenis low light. Beberapa adalah tanaman yang sudah berkembang biak pindahan dari akuarium lama seperti Sagittaria, Ceratopteris, dan Bacopa.

3 ikat Cryptocoryne, 10K

3 pot Echinodorus, 7.5K

3 pot Ceratopteris, 7.5K

3 pot Bacopa caroliniana, 7.5K

3 pot Sagittaria undulata, 7,5K

1 pot tanaman (ga tau namanya, hehe), 10K

Java moss (budidaya sendiri)

Hydrocotyle sp. (budidaya sendiri)

Pencahayaan:

Lampu LED merk Colorful 12 watt, 38K

Lampu akuarium putih merk Amara 8 watt, 28K

Filter gantung merk Amara tipe AA-501 280L/h, 35K

Total 362 rebu sajah 😀

DIY CO2 untuk membantu fotosintesis dibuat sebulan kemudian dengan biaya 20K.

Ahay, tidak sampai 400K untuk keindahan dunia kecil di dalam rumah.

Day 1. Masih keruh ya...
Day 1. Masih keruh ya…
Day 2. Udah cling ;)
Day 2. Udah kinclong 😉
The spot I love the most <3
The spot I love the most ❤

Fauna saya masukkan pada hari ke-4. Mereka adalah sepasang molly yang sempat berkembang biak di akuarium kecil dan seekor Betta sp. Jangan banyak-banyak dulu, rencananya nanti setelah stabil kira-kira dua mingguan diisi ikan zebra (Danio rerio) 8-10 ekor biar rame.

Bagainama nasib akuarium lama? Akuarium kotak masih eksis dan dihuni puluhan anak-anak molly yang masih burayak, sampai-sampai takut mau ngurasnya, kuatir mereka mati. Tapi tanaman kelihatan stabil dan bertunas. Jadi, biar sajalah mereka damai di dalamnya.

Anak-anak molly di akuarium lama.
Anak-anak molly di akuarium lama.

Perawatan yang dilakukan untuk akuarium lama cukup membersihkan filter (pakai filter internal), WC 50% kalau sempat, dan membersihkan kaca pakai sumpit yang dibalut tissue/kapas. Filter pakai internal filter merk Kandila tipe 1000L spec 300L/h dan lampu LED Lightspro 7 watt. Sedangkan akuarium bulat berpindah fungsi jadi tempat penyelamatan keladi air yang melting berat. Biar saja dia tumbuh subur dulu, baru dipindah ke akuarium besar. Ini saatnya berdoa agar aquascape baru berhasil melewati sebulan pertama masa kritisnya — berdoa mulai –. Aamin.

Pilih-pilih Ikan Penghuni Aquascape

Memilih penghuni aquascape memerlukan beberapa pertimbangan. Baik pertimbangan estetika, interaksi antarikan maupun fungsi. Sebetulnya sih, sama saja dengan memilih ikan yang akan mengisi akuarium biasa. Beberapa fauna yang dapat menghuni aquascape adalah ikan, udang, dan keong. Berikut pertimbangan memilih penghuni aquascape:

Cara makan.  Pilih hewan herbivora yang tidak ngemil rumput atau daun-daun agar tidak merusak kebun air kita. Jadi hindari meletakkan ikan komet, mas koki, koi, atau louhan di aquascape kita. Walaupun kebanyakan ikan hias air tawar bersifat herbivora, tapi kalau ukurannya kecil, paling-paling yang dimakan hanya alga atau lumut seperti ikan pembersih aquascape SAE (Siamese alga eater) dan CAE (Chinese alga eater).  Ada juga ikan omnivora  seperti discus sehingga jangan mengumpulkan discus dengan udang. Ikan discus sangat suka udang. Mengumpulkan mereka berdua sama saja dengan menyediakan cemilan lezat penuh protein bagi si discus.

Zona air yang disukai.  Usahakan memilih hewan air yang hidup pada lapisan air yang berbeda agar tidak ngumpul di pojokan saja atau di permukaan air saja kecuali saat diadakan arisan ikan. Contoh: udang hias hidup di lapisan bawah sekalian sebagai tukang bersih-bersih lantai, manfish (angelfish) senang melayang-layang di lapisan tengah. Sebaiknya aquascape yang ditempati fauna air dilengkapi dengan alat sirkulasi atau pompa air sekaligus penyaring agar air selalu segar dan kaya O2 sehingga ikan menyebar dan tidak hanya berkumpul di bagian permukaan atau lapisan atas.

Ukuran.  Pilih ikan berukuran kecil karena fokus aquascape terutama pada tanaman. Apalagi untuk tanki ukuran mini seperti milik saya, hiks 😦

Daya tahan.  Pilih ikan yang tahan terhadap perubahan kondisi air karena interaksi dengan tanaman air seringkali tidak kita duga. Misalnya kalau ada tanaman air yang mati karena pembusukan, maka komposisi mikroba di air akan menjadi tidak stabil. Hal tersebut dapat mempengaruhi kelangsungan hidup faunanya.

Dan yang terpenting, biarkan ekosistem aquascape terbentuk stabil dulu selama 1-2 minggu sebelum memasukkan fauna air. Mohon maaf, saya menabrak pakem ini karena tidak sabar ingin segera melihat ikan baronang, eh berenang diantara tanaman air. Pada hari kedua ikan-ikan ini sudah menjadi penghuni aquascape saya tanpa proses adaptasi air pula. Sekalian test daya tahan, hehe 😛

Berikut beberapa ikan yang saya beli untuk mengisi taman air saya:

Catatan: Tanki bulat saya isi dengan ikan yang berukuran lebih kecil. Karena ikan yang lebih besar akan tampak makin besar saat bayangannya terkena efek cembung kaca akuarium. Jadi aneh gitu, hehe…

1. Neon tetra (Hyphessobrycon innesi) Ikan imut dengan warna biru terang seperti lampu neon di sepanjang tubuhnya ini merupakan ikan pilihan si kakak. Sayangnya semua wafat pada hari ketiga nyemplung di akuarium. Diduga karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan ikannya juga masih terlalu muda (sepertinya).

2. Guppy (Poecilia reticulata) Selain lincah, ikan dengan warna-warni cerah ini cukup tahan dengan perubahan lingkungan. Sehingga saya membeli lagi beberapa gara-gara ngiler melihat keindahannya saat mengantar teman belanja perlengkapan aquascape.

Guppy dan alm.neon tetra :(
Guppy dan alm.neon tetra 😦

3. Sumatran barb/tiger fish (Puntius tetrazona) Sesuai dengan nama dan motif di badannya, ikan ini ternyata galak ya. Ikan yang termasuk jenis teritori ini jangan dipiara terlalu banyak. Saya hanya membeli sepasang agar mereka kejar-kejaran sendiri daripada mengganggu ikan yang lebih kecil. Karena lincah kejar-kejaran, tidak heran si bebi jadi tertarik dan berhasil menangkap salah satunya untuk dijadikan cemilan. Hiks.

4. Manfish/angelfish (Pterophyllum scalare) Dinamai manfish karena karakternya yang tenang dan elegan. Haish! Selain tahan dengan perubahan lingkungan, ikan ini gerakannya pelan dan tidak grusa-grusu. Kalau dikasi makan juga tidak rebutan seperti guppy. Bener-bener cool dan baik hati. Saya juga menambah beberapa ikan ini karena permintaan si adik.

Sepasang manfish dan tigerfish.  Walaupun kadang si tiger usil, tapi si manfish tetap bertahan tidak terganggu *cuek*.  Jadi cocoklah dijadikan satu.
Sepasang manfish dan tigerfish. Walaupun kadang si tiger usil, tapi si manfish tetap bertahan tidak terganggu *cuek*. Jadi cocoklah dijadikan satu.

5. CAE/Chinese alga eater (Gyrinocheilus aiymoniyeri) Terakhir ini adalah ikan pemakan alga. Daripada memelihara ikan sapu-sapu yang tampilannya out of date, mendingan si kuning ini atau temannya SAE (Siamese alga eater) sebagai ikan pembersih. Senang berada di lantai akuarium untuk mencari remah-remah sisa makanan ikan yang lain, ikan ini terbukti sebagai cleaning service yang baik. Jangan banyak-banyak membelinya, karena dia termasuk jenis teritori seperti tiger fish.

Semua jenis ikan tersebut harganya @1.000-1.250 rupiah.

Demikian, walaupun masih ngiler ingin memelihara lebih banyak fauna air yang super cantik, tapi dengan mempertimbangkan ukuran akuarium yang super imut saya harus menahan keinginan tersebut. Yah, daripada mereka nanti tinggal di ASSSS (akuarium sangat super sempit sekali), kasian kan 🙂

Aquascape Murah Meriah ala Saya

Beberapa hari yang lalu saya mampir pasar hewan Splendid untuk menuruti keinginan si adik memelihara ikan cupang (Betta sp.). Kalau ke sana biasanya saya hanya sampai di jajaran toko bagian depan untuk belanja keperluan kucing. Kali ini mesti turun ke area bawah tempat jualan ikan hias. Nah, gara-gara ngider di area perikanan ini dan melihat-lihat display aquascape milik penjual, saya jadi teringat kalau punya dua akuarium nganggur di rumah. Kenapa tidak dimanfaatkan saja? Apalagi saat melihat aquascape yang sudah jadi, rasanya pengen nyemplung di dalamnya… wuih, suegeer… 😀  Akhirnya, acara beli ikan cupang melebar jadi beli perlengkapan aquascape.

Aquascape adalah seni mengatur dan mendekorasi tanaman air, batu, kayu secara estetis sehingga mempunyai efek berkebun di bawah air. Keberadaan ikan sendiri di dalam ekosistem aquascape adalah sebagai pelengkap. Ikan dan hewan air lain biasanya ditambahkan setelah dua bulan saat kebun bawah air kita sudah stabil yang ditandai dengan pertumbuhan tanaman air atau tumbuhnya tunas-tunas baru. Aquascaping bisa dilakukan dengan air laut maupun air tawar. Tentu berkebun dengan air tawar jauh lebih murah. Inipun banyak yang mengatakan ber-aquascaping itu mihil bingit. Tapi disini saya akan mencoba membuat aquascape sederhana yang murah meriah dengan menabrak beberapa pakem pembuatannya.  Biayanya tidak lebih dari 200 ribu rupiah sudah jadi dua aquascape mini. Walaupun pada umumnya dibuat di dalam akuarium 80x40x40, tapi ada juga pehobi yang membuatnya di dalam nanotank dengan konsekuensi perawatannya jadi lebih sulit. Pada prinsipnya, semakin kecil skala ekosistemnya, lingkungannya akan sulit stabil stabil.

Berikut alat dan bahannya:

Akuarium. Saya memakai akuarium bulat berdiameter 30 cm dan akuarium kotak ukuran 30x15x15 yang sudah tersedia di rumah. Super imut ya :). Harga: Rp.0,-

Pasir malang. Pasir malang kaya akan zat hara dan mencukupi proyek kecil saya sehingga tidak usah pakai pupuk dasar. Cukup satu bungkus ukuran terkecil untuk 2 wadah. Harga: Rp.5000,-

Pasir kwarsa. Biasanya pasiran ini dipakai untuk memberi efek air terjun pada aquascape. Pasir ini saya beli karena karena saya ingin membuat konsep desain pantai dan taman. Harga: Rp.5000,-

Batu hias. Batu memang banyak disekitar kita, tapi kan malu juga dilihat tetangga ketauan mungut-mungut batu di pinggir jalan, akhirnya terbelilah sebungkus batu hitam (agar kelihatan alami) dan satu batu fossil terkecil (batuan yang memiliki kontur berlapis-lapis, ini sih harus beli) masing-masing seharga Rp.2000 dan Rp.5000.

Tanaman air. Nah, ini elemen paling penting dan paling mahal. Dari browsing sana-sini, kelihatannya tanaman air di Malang lebih mahal daripada kota lain. Mungkin karena belum banyak yang membudidayakan tanaman ini. Jadi ngiler pas lihat blog-blog luar kota yang jualan tanaman untuk keperluan aquascape. Kadang tanaman diberi harga berdasarkan jumlah daun yang sudah tumbuh. Untuk akuarium saya yang super mini, saya tidak membeli banyak tanaman. Sebelum membeli, perlu dipertimbangkan jenis tanamannya, apakah termasuk tanaman yang memerlukan pencahayaan rendah, sedang, atau tinggi terkait dengan letak akuarium nanti. Contohnya, tanaman berdaun kemerahan biasanya memerlukan pencahayaan tinggi. Berikut tanaman yang saya beli:
Riccia fluitans, 1 cup Rp.20.000
Dwarf hairgrass, 1 cup Rp.20.000
Hydrocotyle, 1 cup Rp.20.000
Tanaman A, Rp.2500
Tanaman B, Rp.4000
Krokot dan kangkung merah kecil (tidak tahu namanya), Rp.5000
Java moss, ukuran 20×20 cm Rp.5000

Pencahayaan.  Karena akuarium saya bukan yang paketan dengan lampunya, akhirnya perlu membeli dudukan lampu dan lampu 8 watt, Rp.70.000

Pinset panjang. Pinset berguna untuk menanam akar imut tanaman kita dan merapikan kebun kalau sudah jadi (jangan pakai pinset rambut keti).  Karena saya ogah beli pinset panjang, kapan-kapan kalau perlu saya pinjam pinset di laboratorium.  Sementara ini saya pakai gunting panjang untuk menjepit atau memindahkan ornamen di dalam tanki.

Total biaya: Rp.163.500,-

Murah kaaan… Tentang hasil, mohon bersabar, kita lihat sampai beberapa bulan ke depan yaa 😉

Berikut tahap pengerjaannya:

Setelah mengucapkan basmalah, sebelum menyusun tanaman kita perlu membuat desain. Tahapan yang memerlukan imajinasi tinggi. Sebaiknya desain dibuat sebelum belanja tanaman dengan ornamennya. Tapi tanaman-tanaman imut dan cantik yang melambai-lambai di tanki display seringkali bikin kalap mata pengen beli. Hingga akhirnya melenceng dari desain awal.

Akuarium bulat saya buat konsep pantai yin-yang (opokuwi). Kata si kecil seperti pulau Hawaii. Batu karang dan kerang pakai koleksi lama dapat mungut dari Pulau Penjaliran Barat.

Tata letak sesuai desain, yin-yang :)
Tata letak sesuai desain sebelum diisi air, *yin-yang* 🙂

Akuarium kotak saya buat seperti miniatur kebun dengan jalan setapak yang membelahnya (halaaah). Batu fossil saya pasang sebagai aksen di akuarium ini.

Tahapan pembuatannya adalah:

Akuarium diisi pasir Malang kurang lebih setinggi 3 cm. Lalu dibuat kontur yang diinginkan seperti bukit/gunung/lembah. Kemudian mulai berkebun. Tanaman ditanam dan diatur sesuai konsep yang sudah dibuat. Pasir dipadatkan agar tidak nyebar saat diisi air. Sebagian pasir saya tutup moss/lumut dan ditimpa batuan/kerikil agar tidak ‘terbang’. Batu bisa dipindah saat lumut sudah menempel pada substrat baru (kurang lebih 2 minggu). Perlu diketahui, peletakan moss di permukaan pasir ini memang agak maksa karena sebetulnya moss lebih cantik dililitkan pada kayu-kayuan untuk memberi kesan natural dan ‘vintage’. Kesan natural ini bisa juga didapatkan dengan memasukkan batu-batuan yang sudah berlumut. Ada loh, toko yang menjual batu-batu berlumut.  Dijualnya satuan dan mahaal.  Hati-hati, hobi ini bikin mata jelalatan pas jalan di dekat got atau sungai kecil, siapa tahu nemu batu seperti itu atau tanaman air yang bisa diculik untuk mengisi aquascape kita 😀
Setelah tanaman dan ornament terpasang, isi tanki dengan air. Air dialirkan melalui dinding akuarium atau jatuhkan pelan di atas batuan dengan debit yang sangat kecil agar tidak merusak tatanan kita. Kalau perlu, isi air hingga bagian yang kotor tumpah terbuang.

Isi tanki pelan-pelan, kotoran yang mengambang kita buang dengan cara meluapkan air isian.
Isi tanki pelan-pelan, kotoran yang mengambang kita buang dengan cara meluapkan air isian.

Jangan lupa memasang lampu untuk pencahayaan. Kecuali kalau tanki dipasang di teras yang sudah terang-benderang. Siklus pencahayaan mengikuti siklus matahari saja, 8 jam. Karena kalau cahaya terlalu banyak bisa terjadi blooming alga. Agar tanaman stabil, biarkan dulu beberapa hari sebelum diisi ikan atau udang. Sebetulnya, tanpa ikan pun sudah dapat disebut aquascape. Tapi kurang afdol kalau akuarium tidak diisi ikan. Karena seperti kita ketahui, aqua dan pisces adalah pasangan yang sangat serasi (eh, ini bukan artikel tentang zodiac ya?). Artikel tentang bagaimana memilih ikan atau binatang air dapat dilihat pada tulisan berikutnya.

Berikut hasil aquascape murah meriah ala saya.  Lumayan untuk cuci mata saat pulang kerja 🙂

Proyek 1. Konsep pantai dan pulau Hawaii-nya :D
Proyek 1. Konsep pantai dan pulau Hawaii-nya 😀
Proyek 2. Konsep taman dengan jalan setapaknya.
Proyek 2. Konsep taman dengan jalan setapaknya.

Sementara ini dengan mengabaikan beberapa pakem yang ada seperti pemberian pupuk, kekuatan pencahayaan (ada standarnya loh), pemberian CO2, dan pemasangan filter (lah akuarium imut gini, filternya ditaruh mana?) semoga aquascape saya bisa bertahan.  Mari kita berdoa.  Aamiin. 🙂

Please visit my next project here 😉