Sebenarnya Kapan

Kapan itu,

yang dulunya kau rasa menggunung
tiba-tiba terbang dan hilang
...

Waktukah yang membuatnya begitu?
atau sebab sakit yang selalu kau sebut-sebut
tapi, siapa yang sakit
aku, kamu, dia?

Kapan adalah tentang waktu
maka berterimakasihlah padanya
yang menyerpihkan semua
hingga bingkainya
...

 

Jeda

Kulihat ruangmu kosong
Kutengok sisiku hampa
Kuraih tapi tak ada
Dimana kau sembunyi?
Dihatiku yang sepi
Atau pada celah ingatan

Aku terkurung, sendiri
Menyanyi sesuka hati
Kureka nada sumbang
Hingga lelah dan bosan

Tapi tetap kau tak datang
Berdiri jauh dariku
...
Atau biarlah kita berjarak
Sampai semuanya pasti
Dan kita menjadi keniscayaan.

Zombie

Malaikat penjagaku pergi
Pelan tapi pasti
Tidak ada jejaknya
Ditelan masa

Aku meratapi langit
Makin jauh dia
Tidak ada gunanya teriak
Yang kudapat cuma gema
Menghempas mimpiku sirna

Tapi,
Kenapa aku tidak beranjak?
Kakiku membenam amarah
Aku tidak kemana-mana
Jiwaku mati rasa…

(titan, 11:30 pm)

Kotamu

“Kita akan sampai di tujuan
Berkemaslah,
Tinggal dua tikungan
Menjelang gerbang kota”,

Di rumah itu dirimu dulu
Mematung memandang jalan
Menghirup udaranya yang berdebu
Seperti sebuah potret kusam
Yang menua bersama pokok randu

Tidak ada yang mampu melawan waktu
Kota ini membuatku sendu

(Pasuruan, 2014)

Hati-Hati Dengan Hujan

Hati-hati dengan hujan
Hujan itu seperti malam
Tirainya membuat warna tak lagi sempurna
Hitam menjadi biru, dan biru menjadi kelabu
Bagai mantra yang mengaburkan pandang

Titik airnya membasahimu
Membuat gigil di wajah pasi
Dan akhirnya kau demam

Kubangannya menggelincirkan
Membentuk endapan lempung yang licin
Dan akhirnya kau jatuh terjengkang

Tidak ada yang romantis dengan hujan.

showersonflinders
(source: http://3.bp.blogspot.com/-H5mhxwDqXWs/T96rhEWJoJI/AAAAAAAAA90/AZPTH5mrC0I/s1600/showersonflinders.jpg)

Sesungguhnya

Aku ingin,

Mengenangmu sebagai teman penghias tawa
Bukan lembar-lembar pemantik luka

Menyimpanmu dalam bingkai kayu berbunga
Bukan lagu sendu apalagi airmata

Membacamu pada buku-buku cerita bahagia
Bukan kisah sedih bertabur nelangsa

Dengan berlalunya waktu,

Sesungguhnya ingin kueja namamu dengan not balok sebagai frasa tanpa diskorda.