Nyanyi Sunyi

Saat arak-arakan awan memeluk bulan,

tabir malam turun menyelimuti penatmu…
embun dini hari menjadi penawar resahmu…

… dan gugusan bintang menjadi pelita mimpimu

satu hari sudah terlewati,
esok kan dijelang bersama doa dan harapan baru…

Selamat tidur Cinta, dalam lindungan Allah dan malaikatNya hingga terjaga…

-titan asri 00.00-

The picture copied from: http://images2.layoutsparks.com/1/88964/moon-13-sky-night.jpg

Epilog

Ajari aku bagaimana caranya melepas simpul,

yang terajut menjadi bahagia,

tersulam menjadi tawa,

terikat menjadi kisah cinta…

Ajari aku mengurai simpul,

agar tetap indah dikenang…

Atau mungkin akan kaubiarkan,

lelah dan harap menemani pedihku,

hingga pagi menjemputmu pergi…

Senja dan muara…

(The picture was taken by Safrina D. Ratnaningrum at Klang River, Primary Mangrove Forest, 2009/01/17)

Antitesis

Kadang hidup begitu tenang

hingga tak kurasa riak di dalamnya

… mengalir saja …

menuju muara keyakinan dan keabadian cinta

Adakala gelombang begitu tiba-tiba

mengikis semuanya

hingga tiada apa kupunya

pun segenggam keteguhan rasa

“… demi segala pasang surut, aku hanya ingin bahagia

dan demi dalamnya palung laut, tidak ada hidup yang sempurna…”

 

(The picture above was taken by dewi mustikaningtyas at Port Dickson, Seremban, Negeri Sembilan State, Malaysia, 2008/12/28)

Pelabuhan malam

(dari ketinggian haluan)

Pantulan cahaya kekuningan lampu merkuri mengambang di air

diayun riak melagukan soneta nurani…

Bulan dan gelombang masih bersamaku

hingga arak-arakan mendung memeluknya

dan aku masih setia melantunkan dzikir hingga terakhir

 

Pandanganku hingga batas gelap cakrawala

lalu tunduk… tinggal berteman tasbih

dan garis pantai yang menawarkan kidung kelabu.

Mendung

 

 

 

 

Tuhanku…

aku tak kuasa menanggung rindu pada angin,

pada cinta yang memberatkan langkahku,

dan membawaku pada penjara hati…

 

Wahai Sang Pemilik Hati…

aku letih sungguh, bersimpuh memohon padaMu,

mengharap keajaiban datang dari mimpi yang melenakanku,

dan membebaskanku dari tanya tak berujung…

Lorong Masa

— dari sebuah reuni —

 

(Tiba-tiba terlintas dalam benakku, sebaris kata-kta…

yang menggugah mata batinku, dari dimensi masa lalu)

 

Aku menyusun mosaik hati

yang pernah tertinggal disini

di lorong-lorong masa

dari ruang hidupku yang pernah ada

 

Ada keriangan kita

ada derik-derik obsesi hati

ada cita-cita yang terlupakan

ada bias galau dan air mata

… dan segudang saksi bisu yang melambaiku ragu

 

Ternyata hidup tak selalu berubah

dan hati tak sepenuhnya berpaling

walau hari-hari berjalan seolah tergesa

… atau aku yang tak peduli pada nyanyi ilalang merenda esok…

 

(Tunas imaji berkelebatan lagi, lorong masaku kosong… )

Kenangan

Pagi hadir secerah mentari

Tanpa asap dan kabut keraguan

Panderman di kejauhan

Menampakkan pokok-pokok cemara

Hingga dahannya yang kecoklatan

Perkampungan Batu di batas pandang

Menempati lembah berkelok-kelok

Atap-atapnya memantulkan sinar pagi

 

Membawaku pada suatu masa…

Dengan pemandangan yang sama

Kita menjadi bagiannya

Menyusuri jalanan terjal berliku

Mencari embun dan kesegaran

Lalu berhenti memandangi sepetak tegalan

Menghembuskan bosan dan kepenatan

Kau berdiri diam di dekatku

Sekilas tersenyum kearahku

 

Aku mengerti semuanya sangat indah

Sekaligus begitu singkat

Hanya kita berdua dan tidak akan pernah lagi…

 

(Picture was copied from http://www.jatimexpres.com/wp-content/uploads/2011/10/panderman-batu.jpg)

Kembali

Hujan tak dapat membaca

gundah di hati pelangi

walau camar telah melaut hari

dan angin mengirim tabik dedaunan…

hujan masih tak dapat membaca,

hingga rinai terakhir melepas penat lengkung pelangi

(terkoyak, jiwa kembara dilanda duka)

Pulanglah,

dan kita sulam tirai perak milik hati

(terduduk jiwa di sudut sunyi

dingin…)

Garis pantai

desau ranting Casuarina equisetifolia

menawarkan kepiluan dari kisi-kisi rangka imaji yang  paling dalam,

saat horison direntang

riak laut berkejaran seolah tergesa mencapi tepian

mencoba merangkai kidung senja

maka, koral pun terdiam dan laut pasang.

(Catatan yang tercecer dari Pulau Rambut, 10 April 1994)

Picture was taken at Port Dickson, Negeri Sembilan State, Malaysia