Sebuah Sketsa Sunyi

Waktu itu aku dan kamu berjalan beriringan di sepanjang koridor.  Pantulan gerak langkah kita tergambar di pembatas yang terbuat dari kaca.  Di luar gelap, hanya purnama yang tampak meninggi, menjelaskan bahwa saat itu hampir tengah malam.  Kecuali beberapa lampu merkuri berjajar di lapangan parkir.  Menerangi beberapa mobil yang terdiam berjauhan.  Hanya alas kaki kita yang bergantian menyentuh permukaan lantai menimbulkan irama tak beraturan.  Ini karena langkahmu yang lebih panjang membuatku pontang-panting menyusulmu.

“Laporan hari ini sudah selesai aku buat.  Salah satu pasien di bangsal penyakit dalam dengan kondisi diabetic nephropathy mengalami kegawatan dan masuk ICU. Tadi aku juga meminta rawat bersama dengan sejawat spesialis jantung karena tekanan darahnya tiba-tiba naik tinggi sekali.”

Kamu menjelaskan tanpa aku minta.  Memecah senyap.  Walaupun mungkin kamu juga tahu bahwa bukan penjelasan itu yang aku tunggu.

“Iya, tadi Irene juga cerita ke aku.  Kalau-kalau dia ambil kasus itu sebagai morning report.”

Suaraku terdengar terengah karena hampir berlari mengiringimu.  Sedikit kaget, kamu pelankan langkah.

“Maaf, aku buru-buru. Tadi sore Ibu menelepon.  Mendadak tidak enak badan.  Setelah ini aku langsung ke Kemang.  Tidak pulang ke rumah.”

Dirimu berkata sambil menoleh kepadaku.  Mungkin juga baru menyadari kalau kakiku terlalu pendek untuk langkahmu yang tergesa.

Jadi, malam ini aku tidak perlu mengharap penjelasan apapun tentang diamnya padaku.  Baiklah.  Di ujung koridor kita akan berpisah.  Kamu menuju lapangan parkir.  Dan aku kembali ke bilik residen bedah, segera menenggelamkan diriku diantara jurnal-jurnal bahan morning report.  Tanpa kata kita mengambil jalan berbeda.  Aku kecewa.  Iya, sangat kecewa.  Seperti terbuang tak berarti.  Setelah semua kedekatan kita.

———-

Aku mematung di samping Brioku.  Memandang ke arah koridor yang tadi kami lewati.  Mencari bayangan dirimu yang memunggungiku.  Menghilang ditelan dinding-dinding rumah sakit.  Sedih dan sakit datang bersamaan secara tiba-tiba.  Aku angkuh, katamu.  Betul.  Aku egois.  Sangat betul.  Betapa aku sadari kebenaran predikat itu.  Tapi kamu juga harus tahu.  Aku begitu, agar kamu tidak menjadi terlalu sakit ketika saat itu tiba.  Kumasuki kabin Brio dan kuhempaskan punggung penatku di kursi pengemudi.  Pelan kutekan pedal gas meninggalkan lapangan parkir.  Membelokkan setir ke jalanan di samping Gedung Pendidikan.  Aku sedih, sangat sedih.  Saat tidak kutemukan bayangan dirimu yang memunggungiku.

———-

Berbilang bulan sudah sejak perpisahan kita di ujung koridor itu.  Yang setelahnya hanya membuatmu selalu menghindar.  Untung saja tidak ada alasan agar kita bertemu lagi.  Aku pun berjanji tidak akan lagi membuat pesan-pesanku menggantung di dunia maya.  Sekuat hati tidak akan lagi menyapamu saat kita berpapasan.  Sudah cukup.  Dulu itu yang terakhir.  Setelah sebelumnya hampir tidak ada jeda kita saling berkirim pesan.  Sesekali membuat janji bertemu di kantin rumah sakit.  Menceritakan ulang apa yang sudah kita tuliskan.  Rasanya jauh dari kata bosan.  Semua amat sangat menyenangkan.  Aku bukan tidak tahu bahwa ada perasaan berbeda.  Kamu bahkan sudah menyatakan, cinta dan sayang.

Hingga tiba-tiba datang hari itu.  Setelah mendampingi supervisor melakukan operasi hepatotomy pada seorang pasien kanker hati, kami bertemu.  Pertemuan yang tidak mungkin dielakkan di ruang operasi.  Seharusnya kita bersikap profesional kan.  Tapi tidak demikian denganmu.  Melihatku pun engkau tidak.  Aku seperti tidak ada.  Sakitnya sungguh luar biasa.  Bukan karena mengingat masa-masa itu.  Tapi perasaan terbuang tidak berharga.  Untung saja tidak ada kolega yang menyadari kecanggungan kami.  Setelahnya perasaanku berkecamuk.  Antara tersadar tentang sesuatu dan menolaknya sekaligus.  Aku bukan tidak tahu dia sudah berdua.  Aku menyadari percikan-percikan itu adalah romantisme sesaat.  Yang tidak bisa kita genggam selamanya.  Entah denganmu.  Kamu pernah mengatakan ingin terus menikmatinya.  Dan memilikinya seakan untuk selamanya.

Akhirnya, lelah hati ditambah lelah fisik menjalankan operasi delapan jam, membuat pertahananku untuk tidak berkirim pesan itu runtuh.   Entah nanti kau baca atau tidak aku tidak lagi peduli.

———-

Ruang operasi bersuhu hampir 10 derajat ini terasa sangat gerah bagiku.  Dia ada disana.  Begitu cantik.  Matanya begitu cerdas mengikuti seluruh proses operasi besar ini.  Tangannya begitu sigap menerima perintah-perintah dari supervisor.  Tapi mengapa rasanya aku ingin lari keluar saja.  Mencari oksigen di luar sana.  Gejolak perasaan ini rasanya nyaris melumpuhkan akalku.  Membuatku sesak mendadak.  Antara ingin merengkuh dan menjauh.  Tuhan, aku harus bagaimana.

Sejurus gawaiku memberi tanda pesan masuk.  Seperti biasanya spontan aku buka dan aku baca.  Tidak mungkin melewatkan pesan apapun saat kita menjalani pendidikan spesialis seperti ini.  Tapi ini pesan darinya.  Yang sudah lama sekali tidak aku terima.  Pesan yang tidak ingin aku baca tapi sekaligus sangat aku rindukan.  Pesan yang membuatku tersentak sakit.  Pesan itu berbunyi begini:

Berjalanlah kalau kau ingin berjalan
Tidak ada yang jahat lalu merantaimu
Kita cuma tokoh tokoh yang segera berganti peran
Dan engkau terlalu tahu harus kemana

Bahkan jauh sebelum pentas digelar
Yang penontonnya satu satu pergi tanpa tanya...

Sejenak aku tercenung.  Kemudian aku ketikkan sesuatu untuk membalas pesannya:

Cinta inilah yang merantaiku.  Atau tepatnya aku yang merantai cinta ini.  Aku tidak ingin berganti peran.  Karena aku ingin memiliki rasa ini selamanya.

Kubaca ulang tulisanku.  Kemudian kutekan pelan tombol delete.  Menyisakan deretan kata darinya.

See the source image

Bahkan

Bahkan hingga kusampaikan semua tentangku pun kau tetap tak bisa paham. Semestinya mudah untukmu membaca diriku. Aku adalah buku terbuka, tinggal kau eja saja kalau kau mau. Masih sulitkah? Masih beratkah?

Kita berargumen seperti dua tali yang terulur tanpa mampu bertemu. Semakin panjang tak berujung. Karena kita terlalu berbeda, atau justru karena sangat sama?

...

Episode Lelah

Layar telepon genggam menampilkan baris-baris kata yang kau ketikkan berturutan.  Aku membacanya, berusaha memahami bahwa ini bukan kesalahan melainkan salah paham. Tapi nyatanya tiap baris makin menegaskan bahwa titik temu itu menjauh tak terjangkau. Bukan sekali dua kali terjadi. Membuat hatiku merangkak menggapai harapan yang hampir terbang.  Yang entah saat ini masih ada atau tidak.

Aku eja lagi kata demi kata,

Siapa kita ini?  Saling mencintai tapi berselisih hampir tiap saat.  Katamu mencari kesetimbangan rasa.  Untuk masalah yang sama saja kita sering berputar-putar tak menentu.  Lalu diakhiri maaf dan cinta.  Yang aku rasa lebih karena lelah dibanding saling paham.

Aku tidak baik buatmu.  Kita tidak baik untuk kita.  Melanjutkan langkah hanya memperpanjang proses kesetimbangan tak berujung.

“Aku penat sungguh.”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pic was downloaded from kurld.com/image.php?pic=/images/wallpapers/alone-image/alone-image-13.jpg

 

 

 

Sekedar Tanya

Aku ingin menuntaskan pencarianku
pada cinta yang bukan sekedar cinta
hidup yang bukan sekedar hidup
bahagia yang bukan sekedar bahagia
...
Tapi aku berjalan dibaliknya
yaitu kemarahan, kefanaan,
dan sunyi yang kerontang

Bagaimana aku bisa memahami semua sisinya?
melihat cinta dari kacamata luka, 
dan memahami bahagia dengan airmata.

Menunggu

Aku ingat guguran kelopak ungu bunga bungur. Yang helainya tertiup jauh oleh angin bercampur asap dan debu. Katamu itu pertanda kemarau hampir berakhir.

Tapi tidak kali ini.

Kering itu masih panjang, hingga tanah berteriak meronta tertutup daun dan ranting dari pohon meranggas. Bijian gelisah menunggu rekah pecah kulitnya memunculkan tunas.

Aku pun menunggu.

Catatan September

Aku bukannya mengeluh, tapi kemarau kali ini memang lebih panjang.

Sampai pada waktunya langit menggelap dan terdengar mendung menyampaikan sesuatu yang makin berat.  Titik pertama pun hadir disambut debu lalu meruapkan bau ampo tanah basah.  Kemudian bayangan orang-orang yang bergegas mencari naungan, melintas dari tempatku duduk memandang hujan dalam diam.  Semacam sketsa sendu, hujan pertama bulan September.

Dan ini, kusampaikan kepadamu,
“Tidak perlu bertemu untuk menyambut hujan, karena kita bukan langit dan bumi yang dipersatukan awan.”

Tumbal

Aku tidak percaya jaman masih juga kejam. Setelah lewat periode kekuasaan yang berkibar mengangkangi orang-orang terjajah, tertindas, terbungkam atau mati. Masih ada orang yang menjadi tumbal seperti perempuan ini.

Jiwanya dihisap sebagai pengganti jiwa yang kering.
Belulangnya dipakai untuk bangunan yang tinggal puing.
Darahnya dideras untuk kepentingan orang lain.

Dan seperti halnya tumbal-tumbal lainnya, sudah selayaknya dia menghilang lalu diam. Mengubur diri jauh dibawah seringai senang penguasa yang baru naik tahta. Atau orang-orang berhati batu yang terhasut bahagia.

Jangan takut diganggu olehnya. Dia hanya perempuan tanpa nama yang pelan-pelan dilupakan jaman.

[Kendalisada, am/pm]

Tanaman Bernama Cinta

Apa yang ajaib dari cinta?
Tanpa kau rawat pun dia tetap ada.
Semacam umbi-umbian yang menunggu hujan Desember.
Tanpa tunas, terbenam disimpan bumi.
Tetap disana walau kau abaikan dia.
Diam jauh dari matahari.
Dingin disekap gelap.

Dorman…

Nanti kau temui dia.
Bermitosis berdiferensiasi.
Menjadi tunas, batang, dan daun.
Oleh hujan Desember.
Mungkin akan berbunga indah kalau dia Dahlia. Atau berdaun aneka rupa dan kausebut Begonia.

Namun sebagaimana lazimnya tanaman umbi, hidupnya semusim lalu meranggas dan layu.
Tapi dia simpan umbinya.
Tanpa putik dan benang sari.
Hingga hujan Desember mendatang.

[Hujan seharian, 8:31 pm]

Halimun

Tadinya percakapan sore itu datar saja. Seperti minuman hambar yang biasa dijumpai di kedai-kedai kecil pinggir jalan. Kita duduk dibalai-balai teras basecamp. Kau selonjorkan kaki mengusir penat. Pelan meregang punggung dalam geliat.

“Dingin disini. Dingin yang menenangkan. Bukan dingin yang membuatmu menggigil.”

Katamu sambil merapatkan syal di leher telanjang. Aku mengedarkan pandang berkeliling. Mengeja jarak antara aku dengan garis hutan.

“Sebentar lagi petang. Lihat, kelelawar mulai keluar sarang. Dan halimun turun dalam sekejap, menyergapmu bagai mantra.”

Pokok-pokok Rasamala membuat sekitarku menggelap lebih cepat. Kelepak Elang Jawa dan suara Owa jantan mengisi atmosfer hutan.

Katamu lagi,

“Aku sedang menimbang untuk pergi. Proyek di Kalimantan kelihatan lebih menjanjikan. Tentu saja setelah laporan AMDAL kita disini disetujui.”

Dengan suara bagai gumam yang enggan kau sampaikan, kubaca ragu. Seharusnya bukan itu yang ada di benakmu. Aku menatapmu lekat, meminta setengah memaksa.

“Bicaralah tentang kita.”

Sekilas tampak senyummu samar. Kau lanjutkan menghitung-hitung waktu dan memilah kata. Benar halimun mengaburkan batas lukisan hutan Legokheulang. Tapi tak mampu menyamarkan garis rahangmu yang mengeras. Akhirnya setelah kau lepas napas berat,

“Aku tidak tahu. Angin itu sudah menjadi topan yang siap meleburmu. Lebih baik aku menjauh sebelum perciknya membutakan matamu.”

“Ya, aku mendengar derunya. Menjauh dan mendekat. Berkeliling tapi enggan pergi.”

“Jangan hanya mendengar. Tutup matamu dan rasakan jiwa angin teriak ingin mendobrak. Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali batin terluka. Karena luka itu membuatmu seperti kaca tipis yang rapuh. Kau akan dengar desir selembut helai bulu elang melayang jatuh ke jurang. ”

Aku menutup mata. Menajamkan indra.

Hening

Tiba-tiba aku merasa pedih.

“Begini caramu memberiku cinta?”

“Ya, cinta itu luka dan rindu perihnya, karena Tuhan tidak punya takdir untuk kita.”

Tidak ada yang menggelap karena halimun sudah lengkap. Menjadi tirai yang meremas-remas lukamu. Perlukah kubuka mata saat seharusnya aku melihat dengan hati, yang diam-diam mengisak.

Kau hanya berkata datar,

“Tunggulah sampai reda. Perihnya akan hilang oleh jarak dan hujan yang membasuhnya.”

“Ini keping yang dulu pernah kauberi. Bawalah bersamamu.”

“Tidak. Biarlah dia di situ melengkapimu agar tak perlu lagi kau cari kemana.”

“Ini saja?”

“Itu semuanya, bukan saja. Kutinggal jiwaku menjagamu.”

Maka, undanglah peri-peri hutan merayakan kesedihan bersamamu. Kita akan terbuai sampai pagi oleh ode bernada sumbang. Meninggalkan pesan berbungkus seludang mimpi. Katanya, terlukalah bersamaku, karena akulah kenangan.

[Titan, hujan Nopember]

Ragu

Jadi, semua tidak lagi pernah sama. Seperti waktu, lakon pun berlalu.

Saat ini, tidak ada yang bisa diusahakan. Pesanmu akan dijawab lama kemudian, setelah masa tunggu yang penuh sesal. Setengah mati kau atur kata-kata. Menjadi basa-basi sambil mengira-ngira bagaimana dia. Sungguh tidak sebanding dengan rindumu.

Semacam bimbang yang mengambang.
Semacam berdiri di persimpangan.
Semacam ragu yang tak tentu.
Lalu menjadi biru yang memudar.

Kau pun enggan membuka luka yang terbebat rapi. Lalu apa yang kau tunggu? Bawa saja hatimu pergi.

[Titan, 22:00]

Aksioma

Katamu:

“Ini saat yang tidak tepat untuk terhubung denganmu,”

Saat ingin kuadukan penat yang lekat
Dan kubagi cerita bersahaja tentang petani tua
Sebaiknya kusudahi sebelum awan menggelap
Sebelum angin menerbangkan kita.

“Ini saat yang tidak tepat untuk menemuimu,”

Saat kata menjadi lebih dari sekedar makna
Dan ingin kuhirup seluruh jiwamu lebur
Maka tidak ada pertemuan itu
Sebelum diriku labuh padamu.

“Karena aku tidak bisa menjadi biasa,”

Rindu akan menikam makin dalam
Mencabik lebih perih dan getir
Atau ombak di nadiku menyeretmu kuat

Maka diamlah,
Sebentar lagi semua akan menjadi jarak dan mimpi
Selembar masa lalu yang lusuh
Yang dikenang dalam sebuah sajak usang.

Kataku:

“Aku tidak sedang menunggumu,
tidak juga mengharap pertemuan.”

Aku hanya sedang mendustai diriku
Yang menggigil menggenggam rindu
Dan resah menganyam gelisah
Lalu diam kelu membeku…

(Titan, 8.08 am)

Tentang Luka

“Luka itu apa?” suaramu mengejutkanku dari balik buku teks fisiologi yang menyembunyikan wajahmu.

“Luka itu, hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Luka ada macam-macam, ada irisan atau sayatan, laserasi, abrasi, luka memar, luka tusuk.” Jelasku.

Matamu mengintip dari balik buku.

“Itu luka permukaan semua ya? Ada luka dalam tidak? Aku terluka dalam nih.”

“Hayaaah, kayak liriknya Butiran Debu aja.”

“Iyaaa, aku terluka dalam.” Suaramu lalu menggantung dan terjebak di udara dingin ruang perpustakaan.

“Yuk ke kantin saja.” Ajakku.

***

Aku dan dia berjalan beriringan ke kantin yang sedang sepi. Bangku-bangku kayu berdebu membisu menyambut kami. Guguran daun bungur membentuk serasah di halaman. Masih jadwal libur semester. Kampus senyap ditinggalkan penghuninya. Kami memilih tempat di sudut menghadap jalanan yang juga lengang. Kamu menghela napas lalu berbicara pelan.

“Menurutku ya Rin, luka itu saat bahagia tercerabut dari hati.”

“Itu juga sih, luka yang tidak kelihatan.” Kataku cuek sambil mengira-ngira patah hati jenis apalagi yang dialami Afi.

“Dia diam saja Rin. Tapi diam itu membuatku letih. Aku merasa terbuang. Dia menjauh. Ini kan luka juga walaupun dia tidak melakukan hal yang menyakitkan.”

“Itu luka sendiri namanya. Ya sudah, balas juga dengan diam. Lagian, kamu itu tidak kapok juga ya Fi, bolak-balik jatuh cinta dan patah hati.”

“Selama kamu belum bosan aku curhati Rin.”

Afi nyengir, aku manyun.

“Fi, kenapa tidak kau tunggu saja waktu itu tiba lalu berjalan dengan dia yang kau pilih?”

“Buatku waktu itu selalu tiba. Tapi tiap yang ku pilih selalu berujung luka.”

“Katanya hati itu dipilih, bukan memilih. Yang penting adalah siapa yang memilihmu.”

“Tidak bisa Rin, itu namanya sepihak. Kalau kau pergi meninggalkan hatimu dipilih orang, hidup lantas menjadi kosong saat kau menemukan hati yang lain.”

“Fi, tidak ada yang sempurna. Pun dengan cinta. Suatu hari nanti kau tetap harus melangkah. Entah dengan membawa hati, atau meninggalkannya bersama seseorang. Orang itu pun demikian. Mungkin hatinya sudah tidak utuh lagi. Tapi hidup bukan tentang hati, juga bukan tentang luka. Tapi hidup itu tentang tanggung jawab. Bahagia itu yang kesekian, itu bonus, bukan tujuan. Dan itu benar-benar masalah persepsi.”

“Kamu tidak mengejar bahagiamu Rin?”

“Jangan bicara tentang itu saat ini. Orang berpaling. Menghadapi kehidupannya masing-masing.”

Aku merapikan kerudung yang terhembus angin, seperti membawa pesan dari seseorang. Sekaligus merapikan hati yang tiba-tiba terserak lagi. Afi berdiri mengajakku berlalu dari tempat itu. Kami, Afi dengan idealismenya tentang kebersamaan, dan aku, yang kehilangan hati bertahun lalu.

Hati itu menyimpan jejas yang ditinggalkan oleh ingatan.  Tetapi hidup bukan tentang hati, hidup itu tentang esok.
Hati itu menyimpan jejas yang ditinggalkan oleh ingatan. Tetapi hidup bukan tentang luka maupun hati, hidup itu tentang esok.

(pic is copied from http://s1.goodfon.su/wallpaper/previews-middle/554271.jpg)

Bintang Yang Terdekat

“Itu rasi beruang besar,” katamu sambil menunjuk langit yang terasa menaungi kepala, 2,5 kilometer lebih dekat daripada tempat tinggal kita.

No no, aku rasa itu pari, karena kamu menunjuk ke selatan.” Sergahku sambil memutar-mutar tombol tuning di radio tua yang aku temukan di gudang bawah atap kemarin siang.

“Kita tentukan bintangnya dulu baru tahu arah mata anginnya, ah, kamu terbalik.  Itu utaraaaa, ah, kamu bagaimana sih, gak heran kalau kamu gampang tersesat di hutan.  Itu kan ada empat bintang, trus ada bintang lain diatasnya seperti ekor, pasti beruang besar.” Sangkalmu.

“Perhatikan lagi deh, diatasnya tidak ada lagi bintang yang lebih terang.  Itu yang paling terang ada di bawah, bintang alfanya ada di bawah, pasti pari.” Kilahku tanpa menghiraukan sindiranmu. Ahay, mulai ketemu salah satu saluran radio AM. Mungkin siaran RRI lokal.

“Coba lihat sisi satunya,” Kamu mulai mencoba mengira-ngira mana utara dan selatan. “Hwaduuuh, gak terlalu jelas.  Ada awan lewat.”

“Sudahlah, percaya aku saja.  Itu pasti pari.  Bintang alfanya yang paling terang ada di bawah.  Kalau beruang besar, bintang alfa ada di puncak langit.  Langit utara agak mendung sih, jadi tidak terlalu terlihat.  Nanti kalau awannya menyingkir kita bisa melihat tujuh bintang membentuk formasi gayung.  Makanya disebut juga konstelasi bintang tujuh.  Bintang yang paling terang ada di paling atas, dekat puncak kubah langit.  Aku lebih senang menyebutnya biduk sih.”

Kamu diam sambil senyum-senyum melihatku,”Kalau bintang yang paling terang buatku adalah kamu.”

Huaa… untung saja gelap malam menyembunyikan semburat hangat di wajahku.  Vasodilatasi lokal ini cukup aku saja yang tahu.  Lebih baik aku menjauhi perdiangan dan menenggelamkan wajah di sleeping-bag menghindari pandangmu yang penuh selidik.  Mungkin kamu hendak mengira-ngira bagaimana responku.  Tidak, kamu tidak boleh tahu apa yang kamu rasa tahu.

“Whehehehe… rayuanmu tidak mempaaan.  Besok pagi kamu tetap dapat giliran menyiapkan sarapan.” Sedikit kukeraskan volume radio agar perhatianmu teralihkan.

“Tapi memang Re, kamu itu bintang terangku.  Kamu pari yang menunjukkan arah selatanku dan biduk yang menuntunku ke utara.” Kamu tetap serius, suaramu yang datar terasa mengandung daya elektromagnet.

Aku memalingkan muka memandangi permukaan Ranu Kumbolo yang diam seperti ikut menunggu jawaban.  Bulan, mana bulan, yang biasanya muncul disaat-saat bimbang.  Yang kuningnya menenangkan.  Bayangannya di permukaan air pasti membantuku menemukan jawaban.  Tapi bulan tidak tampak di langit malam.  Itulah mengapa bintang-bintang kelihatan lebih terang.  Aku gelisah.

“Re, kamu takut apa? Kita tetap berteman kok. Cuma beda status, sedikiiit. Agar kita jadi lebih memiliki.”

“Tidak Bi, akan berbeda nanti kalau kita menjadi kekasih.” Akhirnya kutemukan kalimatku di sela-sela ranting cemara,”Sebagai kekasih, kalau kita berselisih, badainya akan lebih terasa, lalu kita akan menjadi orang lain yang memanggul sakit dan kecewa.  Beda dengan berteman, aku masih bisa ngata-ngatain kamu, gak perlu jaim, gak perlu sungkan-sungkan kalau mau curhat apapun, dan kamu juga begitu.”

Kuberanikan diri memandang manik matamu sebelum aku tenggelam didalamnya.  Sekilas saja.

“Aku bisa nyaman denganmu karena kita berteman.  Nanti nyaman itu akan hilang kalau kita jadi kekasih.”

“Re, aku berusaha mengerti.  Maaf kalau aku ingin lebih.  Kita akan tetap berteman sampai kamu siap.  Tapi saat ini tidak ada bintang yang lebih terang dari dirimu.”

Duh, kalimatmu itu, seperti menghakimi sekaligus menyudutkan aku di kursi pesakitan.  Aku tidak ingin kehilangan rasa nyaman denganmu.  Tapi, seandainya kamu dengan orang lain mungkin aku tidak akan sanggup juga.  Iya betul, sama, saat ini tidak ada yang lebih bisa mengerti aku selain dirimu.  Kita itu seperti dilahirkan untuk saling melengkapi.  Cerita kita juga lengkap.  Ada episode yang membuat tertawa, sedih, marah, kesal, bahagia, terharu.  Ah, semua ada.  Mungkin suatu saat aku harus menerima kalau kamu bertemu seseorang yang bisa menjadi kekasihmu dan bukan aku.  Sedih? Membayangkan saja aku sedih.  Tapi saat ini aku tidak bisa.  Karena aku tahu jalannya akan berbeda.  Tawa kita jadi berbeda, sedih dan marahnya juga jadi lain.  Dan kalau ada perpisahan, kita tidak akan bisa kembali seperti ini.  Kisah cinta itu irreversible.  Itu postulat yang aku anut dari dulu.

“Bi, aku juga minta maaf.  Tapi yakinlah, saat ini kamu matahariku.  Bintang paling terang dan paling dekat di hatiku.  Kamu itu sumber energiku. Mungkin juga untuk nanti, aku belum tahu.” Suaraku terbang oleh angin malam. Sampai ke seberang danau, pada deretan bukit yang membentuk siluet di horizon. Ada lega yang luar biasa setelah kusampaikan ini. Karena ini pengakuan.  Agar kamu juga tahu.  Aku tersenyum memandang manik matamu, kali ini kubiarkan diriku tenggelam di dalamnya.

Kamu diam di seberang perdiangan, tapi kulihat sudut bibirmu membentuk senyum.  Iya Bi, aku tahu ini yang terbaik buat kita.  Agar kita bisa terus bersama.

(copied from http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/12/2.jpg)
(copied from http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/12/2.jpg)

Pesan Dari Surga

Ibu, jantung kecilku ini tak sanggup lagi memompa, karena sekat ruangnya tidak sempurna. Itu juga yang membuatku sering kena infeksi saluran napas bawah. Aku ingat waktu malam-malam itu Ibu dan Bapak membawaku ke UGD karena sesak dan membiru. Saat itu umurku masih 2 minggu. Lalu mereka bilang aku pneumonia. Sejak saat itu, tiap detikmu penuh kecemasan atas kesehatanku. Sampai umurku yang belum dua tahun ini terhitung sudah lebih dari lima kali aku keluar masuk rumah sakit. Dan yang terakhir, saat aku kejang sampai tak mampu lagi bernapas.

Ibu, terimakasih telah menyempurnakan umurku. Memberiku ciuman yang menghidupkan jiwa dan memelukku hingga akhir usia.

Ibu, simpan airmatamu menjadi airmata bahagia saat bertemu aku di surga nanti. Disana Tuhan membuatku sembuh, lalu kita akan berkejar-kejaran mengelilingi taman bunga. Nanti kau pasangkan tiara di kepalaku ya Bu, karena aku bidadari surgamu.

(dedicated to Diva, 1,5 y.o. Down syndrome girl with severe AVSD)

(Taken from http://ak6.picdn.net/shutterstock/videos/2292056/preview/stock-footage-silhouettes-mother-and-baby-sunset.jpg)
(Taken from http://ak6.picdn.net/shutterstock/videos/2292056/preview/stock-footage-silhouettes-mother-and-baby-sunset.jpg)

Beranda

Jalanan lengang sehabis hujan. Sore belum lengkap, jarum pendek masih di angka tiga. Laki-laki muda itu meluruskan punggungnya di kursi malas yang terbuat dari bambu. Pandangannya ke depan sedikit terhalang oleh semak merambat yang terpangkas rapi di pinggir pagar besi. Dari sela-sela pagar dia melihatnya. Anak kecil itu keluar dari pintu rumah di depannya. Menuntun sepeda mini roda empat berwarna hitam.

“Bu, sudah tidak hujan lagi. Boleh main ya?”

Lalu terdengar suara perempuan menyahut dari dalam, mengijinkan dia bermain sampai ke taman saja. Anak itu berteriak-teriak kegirangan dan mulai mengayuh sepeda kecilnya menuju taman. Tempat anak-anak lain sebaya berkumpul dan bermain hingga sore usai. Melihatnya, laki-laki itu menghela napas panjang. Menekan degup yang tiba-tiba muncul di dada. Seolah menanti adegan berikutnya. Siapa tahu perempuan yang dipanggil ‘ibu’ oleh anak itu keluar entah untuk apa. Mungkin menyapu halaman, merapikan semak bunga soka yang mulai tak beraturan, atau sekedar menghirup wangi daun cemara bercampur aroma rumput basah di halamannya. Perasaan itu kembali menyergap. Tapi hening. Justru angin membawa wangi daun cemara ke beranda tempatnya berada.

Tiga bulan yang lalu ibu dan anak itu mengontrak rumah persis di depan rumahnya. Sebuah klaster kecil, agak jauh dari pusat kota, yang berisi tidak lebih dari dua puluh rumah dan dilengkapi musholla serta taman bermain. Sudah tiga bulan ini juga dia menjadi rajin duduk-duduk di beranda. Sesuatu yang sebelumnya tidak dia suka. Tapi tetap saja, dia geser kursi malas bambu itu agak ke sudut, terlindung oleh pohon kol banda agar terhalang dari pandangan langsung penghuni di depannya. Lalu biasanya setengah berbaring dia membaca buku sambil menunggu saat-saat perempuan itu melintas atau beraktifitas di halaman rumahnya. Sekejap memang, tapi sungguh enggan dia lewatkan.

Seharusnya dia bertandang ke rumah itu, menunjukkan itikad sebagai tetangga yang baik. Agar saling mengenal. Lalu mungkin bertukar sapa saat bertemu. Tapi itu bukan kebiasaannya. Semenjak tinggal di rumah itu dua tahun lalu, hanya pak RT yang dia kenal saat mengurus surat pindah. Tetangga lain hanya kenal nama. Selain itu, ada bi Supi warga kampung sekitar yang datang ke rumahnya tiga kali seminggu untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merapikan halaman. Bahkan mungkin tetangga lain pun tidak tahu tentang keberadaannya. Kebanyakan mereka pergi bekerja pagi-pagi sekali setelah mengantarkan anak-anak bersekolah. Lalu tiba di rumah menjelang senja. Tidak seperti tetangga depannya itu. Perempuan itu tidak pernah tampak keluar rumah untuk bekerja dan anaknya belum sekolah.

“Ah,” pelan dia mendesah ragu. Kelihatan si ibu tidak akan keluar. Dia membayangkan perempuan itu memasak atau membersihkan rumah. Dan memutuskan untuk menunggu sampai si anak pulang dari taman. Tapi tiba-tiba tampak perempuan itu membuka pintu rumah dan berjalan ke pagar. Adegan singkat yang nyaris membuat jantungnya melompat keluar. Berdegup sampai di telinganya. Rupanya perempuan itu akan menjemput anaknya ke taman. Dia beringsut berusaha menyembunyikan sosoknya di balik bangunan pagar. Tidak ingin terlihat oleh siapapun apalagi oleh perempuan itu. Tak berapa lama kedua ibu beranak itu muncul. Tertawa-tawa dan saling bercerita tentang katak yang mereka jumpai diantara semak taman. Katak yang melompat menjauh karena takut. Dan mereka yang lari menjauh karena terkejut.

Senja mulai menutupkan tabirnya yang jingga. Dia pun beringsut dari kursi bambu, menggapai kursi rodanya, dan mengayuhnya memasuki rumah dengan hati bahagia. Bahagia yang begitu sederhana. Cukup dengan melihat perempuan itu dari beranda rumahnya.

Dari tempat ini aku melihatmu...
Dari tempat ini aku melihatmu…

(Pic was downloaded from http://cooleyartgallery.net/wp-content/uploads/2009/06/veranda-gate.jpg)

Sibuk, Tergesa-gesa, dan Lupa

Malam gulita sunyi, kita terbangun karena Allah mengembalikan ruh kita sejenak saat terbangun, Allah berbisik ke dalam nurani: “wahai kau yang terbangun di dinihari, sholatlah, sapalah AKU”…ternyata kita hanya ke toilet lalu sibuk menarik selimut lagi.

Tetapi Allah tetap sayang pada kita,
kembali kita tidur nyaman dengan nafas yang dijaga-NYA.
Pagi hari Allah yang ada didekat kita, melihat kita begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi kuliah,bekerja, beraktifitas…

Allah bersabar menunggu kita menyapa: “Bismillah, tawakkaltu alallah..”. Ternyata Allah hanya menunggu, sapaan itu tak kunjung ada. Lupa. Waktu sangat cepat, seakan 24 jam sangat kurang, sibuk, tergesa-gesa, lupa…
Kesibukan telah membuat lupa..lupa mengingat
menyapa-Nya..

Tetapi Allah tetap sayang pada kita, kembali kita beraktifitas melihat mendengar merasa dengan pancaindera yang dijaga-NYA, tanpa kita instruksikan terus menerus.
Disatu tempat, di rumah sakit, di kantor, di kampus, di tempat kerja..kita duduk disebuah kursi beberapa menit melepas lelah atau sekedar bengong.

Allah menunggu kita untuk menyapa, tetapi ternyata
handphone berbunyi…dengan sigap kita buka sms atau bbm..begitu serius kita membahas tentang berita hari ini, teman meminta tolong, murid menanyakan sesuatu,
pasien yang mengeluh ini itu, keluarga yang akan menikah, bisnis yang hampir merugi…begitu sigapnya kita membaca sms bbm, melihat path..padahal sudah seminggu kita tidak menyentuh al-Qur’an, surat cinta-NYA kepada kita.
Meskipun demikian, Allah tetap sabar menanti sapaan kita
sepanjang hari.

Dengan semua kegiatan kita, kita terlalu sibuk sehingga lupa atau hanya menyapa ala kadarnya, sedikit dan berbasa basi menyapa Allah..
Bagaimana tidak basa-basi, kalau mengucap: Allah Maha Besar tetapi hanya sebatas bibir tapi tidak tulus dari dalam hati, karena tergesa-gesa..
Bagaimana tidak basa-basi, semestinya mengatakan kepada
Allah :” Subhana robbii…” tiga kali agar lebih meresap, lebih tunduk kita kepada-Nya, tetapi 3x bacaan hanya dijadikan aba-aba atau habisnya kuota untuk bergerak melanjutkan gerakan sholat berikutnya.

Astaghfirullah.

Sebelum makan siang kita bicara dengan orang, teman didekat atausekitar kita, kita kembali lupa. Allah mengajarkan melalui Nabi Muhammad s.a.w agar kita
menyebut nama Allah, sebelum menyantap rizki yang DIA berikan, tetapi jika kita sibuk, mungkin kita
juga lupa..

Namun Allah tetap sabar, tetap menjalankan otot dan saraf
pengunyah, saraf mencerna, saraf menyerap sari makanan di dalam usus kita, lalu mengirim sari makanan itu ke dalam otak, dan…Allah berharap lagi, dengan energi makanan itu agar kita mengingat-NYA, untuk kebaikan kita sendiri. Bukan untuk-NYA. Ke-Agungan-Nya tidak akan berkurang sedikitpun, meskipun semua manusia tidak berterima kasih atau seluruh dunia ingkar kepada-Nya.

Kita pulang ke rumah.. kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kita kerjakan. Setelah tugas kita selesai, kita duduk membaca koran hari itu yang belum tersentuh,
menyalakan TV, kita menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, menikmati acara yang ditampilkan. Lupa menyapa…
Saat akan tidur, badan lelah…terlalu letih sehingga lupa
menyapa…

Sungguh Allah jauh lebih sabar melihat perilaku kita. Bisakah kita sering menyapa, menyebut nama, bersujud kepada-Nya dengan sepenuh jiwa-sepenuh sel-sel di
tubuh kita-sepenuh darah yang mengalir tanpa kita perlu mengatur-atur kecepatannya?

Kita pasti bisa, jika ditolong oleh-Nya.
Mari kita menyapa, meminta tolong pada-Nya.

(reminder from dr.Masruroh Rahayu,Sp.S.)

(Taken from http://www.worldchanging.com/hurry_470.jpg)
(Taken from http://www.worldchanging.com/hurry_470.jpg)

Larung

“Besok pagi aku ke pantai sebelum kau melaut.”

Kudengar samar suaramu dari balik anyaman bambu yang membatasi kamar dan serambi.  Aku berbalik masuk mengambil kaos petromaks baru yang kuletakkan di balai-balai dekat dapur.  Melintasi kamar tempatmu berada dan berhenti sebentar di ambang pintunya.

“Aku tidak melaut. Nanti saja kalau musim angin Barat usai. Mungkin masih beberapa hari lagi.”

Tidak kudengar jawabmu.  Kulanjutkan menyarungkan kaos lampu dan mulai memompa pelan spiritus di tabung petromaks itu.  Bara merata di bola lampunya dan memendarkan cahaya ke seluruh ruang.  Kukaitkan lampu di gantungan langit-langit ruang depan.  Angin laut yang berhasil menerobos celah dinding menggoyangnya pelan.  Menciptakan bayang-bayang yang bergerak. Aku merebahkan punggungku di balai-balai beralas tikar, memandang bayangan itu seperti film yang diputar ulang.

Dua tahun lalu aku menikahimu. Tidak ada pesta. Hanya beberapa kerabat yang datang dari pulau lain dengan kapal motor yang mereka sewa. Hari itu adalah setahun berlalu setelah putus harapanmu menunggu kabar darinya. Laki-laki yang katanya pergi bekerja di kebun kelapa sawit negri tetangga. Laki-laki yang berjanji membawamu kesana setelah ringgit terkumpul. Akhirnya kabar tentang pernikahannya dengan perempuan sana kau dengar juga dari temanmu.  Dan kita menikah.

Aku kira hitungan bulan sudah cukup untuk menjadikannya mimpi untukmu.  Nyatanya tidak, atau belum.  Bukan ringgit yang kau tunggu, tapi dia.  Kalung berbandul bintang laut darinya masih juga kau pakai.  Katamu sinarnya menghidupkan jiwamu.

Bayang-bayang terayun kian kuat, malam melarut menunggu fajar.

***

Aku terbangun oleh suara derit pintu depan.

“Masih gelap. Pagi sekali kau ke pantai?”

“Iya. Sekalian mencari remis. Lama tidak memasak remis. Moga-moga saja laut sudah surut walaupun belum terang benar.”

“Ya, hati-hatilah”.

Sekilas sudut bibirmu menampakkan senyum.  Aku mengikutimu sampai barisan pohon Jarak yang menjadi batas halaman dan jalan.  Memandang punggungmu sampai menghilang di balik rimbunan Pandan Laut.  Tiba-tiba napasku menjadi sesak oleh harap.  Aku ingin kau untukku.  Bukan dengan setengah hati.  Tidak dengan berbagi.  Aku tidak ingin egois tapi juga tidak ingin mengemis.  Seperti masa kecil kita dulu, saat aku dan dia menyembunyikan boneka anyaman pandanmu sampai kau menangis.  Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi.

Sambil berusaha memperbaiki lagi mesin motor perahuku aku menunggumu.  Mesin motor ini belum lama aku miliki, tapi karburatornya mudah kotor sehingga terkadang ngadat saat di tengah laut.

“Bang, aku pulang.”

Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum seperti saat ini.  Langkahmu ringan dengan rambut meriap terpercik sinar matahari pagi.  Memasuki halaman menjinjing keranjang penuh remis.

“Aku bawakan banyak remis, sebagian nanti direbus seperti kesukaanmu.”

“Ning,”

“Ya, wajahmu kelihatan heran? Sini aku akan beritahu juga sesuatu.”

Kami duduk bersisian di undakan depan teras.  Sama-sama menghadap ke laut lepas.  Mungkin kau tidak ingin memandangku tapi tanganmu menggenggam tanganku. Lirih kau mulai berkata.

“Aku tadi ke pantai menemukan banyak remis. Musim sedang bagus walaupun hari pasang lebih lama. Dan kalungnya sudah kulepas.”

Aku terkejut, melirik sekilas ke lehernya tempat kalung itu biasa tergantung. Ya, tidak ada lagi. Pandanganmu lurus ke depan seperti menembus fatamorgana. Setengah berbisik kau lanjutkan kata-katamu.

“Bang, selama ini aku selalu mencari dirimu. Tapi tidak ketemu juga. Aku rasa kalung itu penyebabnya. Cahayanya membuatku silau sehingga tidak bisa melihatmu. Jadi aku buang saja di laut. Aku tunggu agak lama sampai benar-benar tidak kelihatan, hilang bersama gelombang pasang.”

“Jiwamu nanti lemah.”

Kukatakan saja apa yang terpikir di benakku, tapi suaraku keluar seperti desis yang hampir tak terdengar olehku.

“Aku mau kau yang menyinari.”

Jawabmu terdengar tegas, nyaris seperti perintah.

“Ning, kau lihat aku, selama ini kau yang menghidupkan jiwaku dan aku juga mau kau hidup olehku.  Cahayaku buatmu.”

Entah bagaimana dengan nanti.  Tidak ada janji tentang bahagia dan cinta.  Tapi saat ini kita duduk merapat dan rambutmu yang meriap menyentuh wajahku.

Larung...  (the pic was taken from https://img0.etsystatic.com/000/0/6295140/il_fullxfull.240216428.jpg)
Larung…
(the pic was taken from https://img0.etsystatic.com/000/0/6295140/il_fullxfull.240216428.jpg)

Sepenggal Diorama

Kucari dirimu di sudut-sudut langit. Diantara awan yang bersandar pada cakrawala, yang birunya diam-diam menyimpan rahasia. Tapi, rentangnya luruh enggan menoleh padaku. Mentari pun membarikade pandang dengan berkasnya yang menyilaukan.

“Pergilah”, katamu, “Jangan usik hidupku. Aku ingin menyesap sendiri titik-titik hujan yang tertinggal di awan. Disana bahagiaku”.

Aku bergeming beku, belajar menta’wil setiap katamu.

Ternyata, langit bukan lagi langit kita dan sepi kembali menelisik mimpi.