Menunggu

Aku ingat guguran kelopak ungu bunga bungur. Yang helainya tertiup jauh oleh angin bercampur asap dan debu. Katamu itu pertanda kemarau hampir berakhir.

Tapi tidak kali ini.

Kering itu masih panjang, hingga tanah berteriak meronta tertutup daun dan ranting dari pohon meranggas. Bijian gelisah menunggu rekah pecah kulitnya memunculkan tunas.

Aku pun menunggu.

Catatan September

Aku bukannya mengeluh, tapi kemarau kali ini memang lebih panjang.

Sampai pada waktunya langit menggelap dan terdengar mendung menyampaikan sesuatu yang makin berat.  Titik pertama pun hadir disambut debu lalu meruapkan bau ampo tanah basah.  Kemudian bayangan orang-orang yang bergegas mencari naungan, melintas dari tempatku duduk memandang hujan dalam diam.  Semacam sketsa sendu, hujan pertama bulan September.

Dan ini, kusampaikan kepadamu,
“Tidak perlu bertemu untuk menyambut hujan, karena kita bukan langit dan bumi yang dipersatukan awan.”

Tumbal

Aku tidak percaya jaman masih juga kejam. Setelah lewat periode kekuasaan yang berkibar mengangkangi orang-orang terjajah, tertindas, terbungkam atau mati. Masih ada orang yang menjadi tumbal seperti perempuan ini.

Jiwanya dihisap sebagai pengganti jiwa yang kering.
Belulangnya dipakai untuk bangunan yang tinggal puing.
Darahnya dideras untuk kepentingan orang lain.

Dan seperti halnya tumbal-tumbal lainnya, sudah selayaknya dia menghilang lalu diam. Mengubur diri jauh dibawah seringai senang penguasa yang baru naik tahta. Atau orang-orang berhati batu yang terhasut bahagia.

Jangan takut diganggu olehnya. Dia hanya perempuan tanpa nama yang pelan-pelan dilupakan jaman.

[Kendalisada, am/pm]

Tanaman Bernama Cinta

Apa yang ajaib dari cinta?
Tanpa kau rawat pun dia tetap ada.
Semacam umbi-umbian yang menunggu hujan Desember.
Tanpa tunas, terbenam disimpan bumi.
Tetap disana walau kau abaikan dia.
Diam jauh dari matahari.
Dingin disekap gelap.

Dorman…

Nanti kau temui dia.
Bermitosis berdiferensiasi.
Menjadi tunas, batang, dan daun.
Oleh hujan Desember.
Mungkin akan berbunga indah kalau dia Dahlia. Atau berdaun aneka rupa dan kausebut Begonia.

Namun sebagaimana lazimnya tanaman umbi, hidupnya semusim lalu meranggas dan layu.
Tapi dia simpan umbinya.
Tanpa putik dan benang sari.
Hingga hujan Desember mendatang.

[Hujan seharian, 8:31 pm]

Halimun

Tadinya percakapan sore itu datar saja. Seperti minuman hambar yang biasa dijumpai di kedai-kedai kecil pinggir jalan. Kita duduk dibalai-balai teras basecamp. Kau selonjorkan kaki mengusir penat. Pelan meregang punggung dalam geliat.

“Dingin disini. Dingin yang menenangkan. Bukan dingin yang membuatmu menggigil.”

Katamu sambil merapatkan syal di leher telanjang. Aku mengedarkan pandang berkeliling. Mengeja jarak antara aku dengan garis hutan.

“Sebentar lagi petang. Lihat, kelelawar mulai keluar sarang. Dan halimun turun dalam sekejap, menyergapmu bagai mantra.”

Pokok-pokok Rasamala membuat sekitarku menggelap lebih cepat. Kelepak Elang Jawa dan suara Owa jantan mengisi atmosfer hutan.

Katamu lagi,

“Aku sedang menimbang untuk pergi. Proyek di Kalimantan kelihatan lebih menjanjikan. Tentu saja setelah laporan AMDAL kita disini disetujui.”

Dengan suara bagai gumam yang enggan kau sampaikan, kubaca ragu. Seharusnya bukan itu yang ada di benakmu. Aku menatapmu lekat, meminta setengah memaksa.

“Bicaralah tentang kita.”

Sekilas tampak senyummu samar. Kau lanjutkan menghitung-hitung waktu dan memilah kata. Benar halimun mengaburkan batas lukisan hutan Legokheulang. Tapi tak mampu menyamarkan garis rahangmu yang mengeras. Akhirnya setelah kau lepas napas berat,

“Aku tidak tahu. Angin itu sudah menjadi topan yang siap meleburmu. Lebih baik aku menjauh sebelum perciknya membutakan matamu.”

“Ya, aku mendengar derunya. Menjauh dan mendekat. Berkeliling tapi enggan pergi.”

“Jangan hanya mendengar. Tutup matamu dan rasakan jiwa angin teriak ingin mendobrak. Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali batin terluka. Karena luka itu membuatmu seperti kaca tipis yang rapuh. Kau akan dengar desir selembut helai bulu elang melayang jatuh ke jurang. ”

Aku menutup mata. Menajamkan indra.

Hening

Tiba-tiba aku merasa pedih.

“Begini caramu memberiku cinta?”

“Ya, cinta itu luka dan rindu perihnya, karena Tuhan tidak punya takdir untuk kita.”

Tidak ada yang menggelap karena halimun sudah lengkap. Menjadi tirai yang meremas-remas lukamu. Perlukah kubuka mata saat seharusnya aku melihat dengan hati, yang diam-diam mengisak.

Kau hanya berkata datar,

“Tunggulah sampai reda. Perihnya akan hilang oleh jarak dan hujan yang membasuhnya.”

“Ini keping yang dulu pernah kauberi. Bawalah bersamamu.”

“Tidak. Biarlah dia di situ melengkapimu agar tak perlu lagi kau cari kemana.”

“Ini saja?”

“Itu semuanya, bukan saja. Kutinggal jiwaku menjagamu.”

Maka, undanglah peri-peri hutan merayakan kesedihan bersamamu. Kita akan terbuai sampai pagi oleh ode bernada sumbang. Meninggalkan pesan berbungkus seludang mimpi. Katanya, terlukalah bersamaku, karena akulah kenangan.

[Titan, hujan Nopember]

Ragu

Jadi, semua tidak lagi pernah sama. Seperti waktu, lakon pun berlalu.

Saat ini, tidak ada yang bisa diusahakan. Pesanmu akan dijawab lama kemudian, setelah masa tunggu yang penuh sesal. Setengah mati kau atur kata-kata. Menjadi basa-basi sambil mengira-ngira bagaimana dia. Sungguh tidak sebanding dengan rindumu.

Semacam bimbang yang mengambang.
Semacam berdiri di persimpangan.
Semacam ragu yang tak tentu.
Lalu menjadi biru yang memudar.

Kau pun enggan membuka luka yang terbebat rapi. Lalu apa yang kau tunggu? Bawa saja hatimu pergi.

[Titan, 22:00]

Aksioma

Katamu:

“Ini saat yang tidak tepat untuk terhubung denganmu,”

Saat ingin kuadukan penat yang lekat
Dan kubagi cerita bersahaja tentang petani tua
Sebaiknya kusudahi sebelum awan menggelap
Sebelum angin menerbangkan kita.

“Ini saat yang tidak tepat untuk menemuimu,”

Saat kata menjadi lebih dari sekedar makna
Dan ingin kuhirup seluruh jiwamu lebur
Maka tidak ada pertemuan itu
Sebelum diriku labuh padamu.

“Karena aku tidak bisa menjadi biasa,”

Rindu akan menikam makin dalam
Mencabik lebih perih dan getir
Atau ombak di nadiku menyeretmu kuat

Maka diamlah,
Sebentar lagi semua akan menjadi jarak dan mimpi
Selembar masa lalu yang lusuh
Yang dikenang dalam sebuah sajak usang.

Kataku:

“Aku tidak sedang menunggumu,
tidak juga mengharap pertemuan.”

Aku hanya sedang mendustai diriku
Yang menggigil menggenggam rindu
Dan resah menganyam gelisah
Lalu diam kelu membeku…

(Titan, 8.08 am)