Uji Rasa

Kalau ada uji nyali, yang ini uji rasa. Bukan uji rasa masakan, itu sih urusannya juri Master Chef. Tapi ini rasa perasaan. Ya, rasa itu bisa berupa benci, marah, hingga yang bagus-bagus seperti sayang dan cinta. Namanya juga uji, mesti ada alat ujinya. Sebetulnya alat ujinya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang dengannya kita merasakan sesuatu.

Alkisah, perasaan manusia itu dinamis. Bisa berubah dengan perlakuan tertentu termasuk oleh waktu. Dengan berlalunya waktu, kita bisa melihat apakah perasaan yang pernah kita miliki pada seseorang masih ada atau sudah hilang alias netral.

Berdasarkan survey abal-abal yang sangat tidak valid, alat uji rasa ini adalah:

  1. Foto. Bisa dikatakan kita sudah netral lagi kalau tidak melengos atau reflex melotot saat melihat fotonya. Demikian juga dengan cinta, tidak ada gelombang electromagnet (baca: desir) tertentu saat melihat fotonya. Pokoknya lempeng dah.
  2. Nama/nomer telepon. Kalau perasaan kita sudah netral, membaca atau menuliskan nama seseorang tidak akan membuat sistem saraf pusat kita terhubung dengan pusat memori tentang kenangan atau kejadian yang membuat kita memiliki perasaan tertentu pada seseorang. Alias tidak muncul efek apapun.
  3. Lagu. Dengan netralnya perasaan, lagu yang menghubungkan kita dengan peristiwa masa tertentu akan terdengar biasa saja di telinga. Tidak ada rasa ingin mematikan lagu itu atau memutarnya berulang-ulang.
  4. Tempat. Demikian juga dengan tempat. Kita tidak lagi ingin menghindari atau sengaja mendatangi TKP tertentu dengan alasan masa lalu.
  5. Hadiah/benda kenangan. Seiring waktu, hadiah juga akan usang. Hadiah dari orang yang kita benci mungkin sudah dijual di loakan (kalau masih laku) atau bahkan sudah tidak berbentuk lagi dicabik-cabik maupun pecah berantakan. Sedangkan hadiah dari orang yang masih kita sayang biasanya tersimpan dan terawat dengan baik walaupun sudah tidak berfungsi. Perasaan kita bisa dikatakan sudah netral kalau tidak ada rasa keberatan memberikan hadiah itu kepada orang lain atau tidak sedih berlebihan saat hadiah itu hilang.

Nah, dari beberapa point di atas kita bisa mengukur perubahan perasaan kita pada seseorang. Hal ini juga untuk membuktikan bahwa perasaan itu adanya di qalbu, sesuatu yang bisa berbolak-balik.

PKK Yang Luar Biasa

Dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan kegiatan PKK.  Bukan berarti tidak suka, bukan itu.  Tapi rasanya kok kegiatan PKK itu kurang produktif dan identik dengan arisan (ini sepertinya gara-gara salah pergaulan, ngumpulnya dengan kelompok PKK perkotaan yang relatif stagnan dan didominasi oleh kegiatan arisan).

Ternyata tidak demikian dengan PKK di daerah (baca: pedesaan).  Luar biasa sekali geliat aktifitas PKK di daerah ini.  Dan semuanya kembali pada 10 Program Pokok PKK.  Pokoknya kesepuluh-sepuluhnya diterapkan dan menjadi nafas dari semua kegiatan PKK.  Belum pernah terbayangkan sebelumnya kalau saat ini saya harus terjun di dalam kegiatan PKK daerah, apalagi menjadi Ketua TP (Tim Penggerak) PKK.  Walaupun dulu sering membolos arisan PKK RT, tapi untunglah saya masih hafal lagu Mars PKK gara-gara pernah ikut lomba paduan suara Mars PKK.  Sangat tidak elegan bukan, kalau Ketua TP PKK Kecamatan tidak hafal Mars PKK 😀

Begitulah, awal terjun di PKK Kecamatan bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya.  Langkah pertama yang saya ambil adalah mempelajari dengan membaca sebanyak-banyaknya literatur tentang Organisasi Tata Kelola PKK serta apapun tentang Pokja 1-4 (Kelompok Kerja) dan mulai menghafal 10 Program Pokok PKK.  Yang semakin dipahami membuat saya semakin sadar, betapa salah satu ujung tombak pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah ada di tangan kader PKK (yang akan mentransfer pengetahuannya kepada ibu-ibu di daerah).

PKK memang milik perempuan, tapi tanpa peran serta laki-laki kegiatan PKK tidak akan berjalan lancar.  Dalam hal ini tentu saja kerjasama yang baik harus dimulai dari keluarga sebagai basis pendidikan manusia.  Disinilah wacana literasi manusia (human literacy) berawal.  Hal tersebut sangat relevan dengan kepanjangan PKK, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

logo-atau-lambang-pkk
Logo PKK. Sepuluh buah ujung tombak yang tersusun melingkar di tengah logo merupakan lambang dari 10 Program Pokok PKK.

Tim Penggerak PKK sebagai mitra kerja dari pemerintah serta organisasi kemasyarakatan, yang berfungsi sebagai fasilisator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak  pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK.  Program PKK menyentuh berbagai aspek.  Aspek sumber daya manusia dari semua tingkatan usia, aspek alam dari bagaimana lingkungan terbentuk hingga urusan sampah, serta tentu saja aspek harmonisasi manusia dan alam.  Dengan begitu PKK sangat berperan ikut mensukseskan program pemerintah kalau tidak ingin disebut sebagai ujung tombak kesuksesan program pemerintah.

Saya contohkan disini adalah sinergi antara PKK Kecamatan dengan Puskesmas sebagai salah satu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kesehatan, Sosial, dan Pendidikan tingkat kecamatan.  Beberapa program kerja PKK adalah:

  1. Melalui program GSIB/KSIB (Gerakan Sayang Ibu Bayi/Keluarga Sayang Ibu Bayi), P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi), dan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).  Kesemuanya ikut mengawal usaha pemerintah menekan angka kematian ibu dan bayi melalui kampanye dan penyuluhan di pusat layanan kesehatan daerah. Memotivasi ibu hamil untuk rajin memeriksakan kandungan, mendapatkan gizi cukup, serta mendorong peran serta suami sebagai Suami Siaga dan Ayah Siaga.  Hebat bukan 🙂
  2. Sosialisasi pemberian ASI dan ASIEK (ASI eksklusif) dan membentuk KPASI/KPASIEK (Kelompok Pendukung) yang melibatkan keluarga dekat ibu menyusui
  3. Pencegahan stunting (perawakan pendek) pada balita dan gizi buruk
  4. Ikut serta mengkampanyekan Gemari (Gerakan Gemar Makan Ikan)
  5. Mendorong Anak Indonesia Suka Makan Ikan (AISUMAKI)
  6. Melalui program KKPBK (Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga) memasyarakatkan GenRe (Generasi Berencana), KB/KS (Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera)
  7. Mendorong peningkatan penghasilan keluarga melalui UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan mengaktifkan kegiatan KWT (Kelompok Wanita Tani)
  8. Meningkatkan kesadaran pendidikan dan pengajaran pada masyarakat melalui pembentukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di setiap dusun yang berlanjut pada PAUD HI (Holistik Integratif) bersama dengan kelompok BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif)
  9. Program PAAR (Pola Asuh Anak dan Remaja)
  10. Pelaksanaan program HATINYA (Halaman Asri Teratur Indah Nyaman)
  11. Program ODF (Open Defecation Free) di setiap dusun dan desa hingga tercapainya deklarasi ODF
  12. Penurunan angka kejadian kanker leher rahim dengan mengajak wanita usia subur mengikuti pemeriksaan penapisan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat)
  13. Program Lansia (Lanjut Usia) sehat, aktif, produktif, mandiri
  14. Pengadaan Bank Sampah di setiap Desa/Dusun.

Dan yang sudah saya sebutkan itu bukan sekedar tulisan loh… terbukti dari foto-foto –narsis– kegiatan berikut 😀

IMG-20190928-WA0041
Kegiatan IVA di Roemah Boedi Desa Wanurejo. Kode C berarti Cantik, menunjukkan bahwa perempuan harus cantik dan sehat luar dalam.
IMG-20191019-WA0040
Bersama kader HIMPAUDI Kec. Borobudur. Gerakan pungut sampah setelah acara senam AISUMAKI PAUD se-kecamatan Borobudur di Balkondes Ngargogondo.
IMG-20191115-WA0007
Bersama Juara Lomba Senam KB diadakan oleh Balai KB/KS diikuti oleh Kader KB, Kader Kesehatan dan Petugas Pembantu Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dari seluruh desa se-kecamatan Borobudur di Balkondes Tuksongo.  Kode V dengan punggung tangan menghadap ke depan memiliki arti ‘Ayo Ikut KB’.
IMG-20190904-WA0028
Bersama Pengurus dan Kader PKK Kecamatan dan Pokja III se-kecamatan Borobudur. Pelatihan pembuatan eco-brick di pendopo kantor kecamatan Borobudur.  Kode 3 Jari maksudnya adalah 3-R, re-use, reduce, recycle.

Setidaknya, program-program tersebut sudah saya ikuti maupun saya baca (di surat undangan kegiatan yang seringkali tidak dapat saya hadiri) selama hampir tiga bulan ini berkecimpung di dunia PKK Kecamatan.

Terbayang kan, betapa pentingnya arti PKK dalam ikut menyukseskan program-program pemerintah.  Karena PKK lah yang bersentuhan langsung dengan komunitas terkecil yang paling berperan dalam pembangunan masyarakat sehat sejahtera, yaitu keluarga.

Hiduup, Jayaa… PKK 😉

Cerita Kluwak

Menurut saya ragam bumbu pada masakan Indonesia sangatlah mengagumkan.  Contoh yang membuat kagum adalah, kok ya nenek moyang kita dulu itu kepikiran kalau akar semacam kunyit, jahe, kunci, laos, kencur itu bisa menjadikan bahan pelezat masakan. Juga bumbu lain seperti salam, daun jeruk, sereh, dan lainnya. Untuk daun jeruk dan sereh saya masih maklum karena aromanya yang mungkin mampu menginspirasi peracik bumbu kala itu. Termasuk juga cengkeh, pala, merica, ketumbar, kembang lawang, adas, kapulaga, kayu manis, bawang putih dan lain-lain yang menebarkan aroma khas.

Saya yakin bahwa peracikan bumbu masa itu telah melalui proses uji coba yang panjang. Walaupun mungkin juga terjadi secara kebetulan. Kebetulan itu misalnya:

Saat merebus nangka muda di bawah pohon salam tiba-tiba kejatuhan daun salam, yang ternyata menyebabkan rasa dan aroma masakan yang lebih mantap #inimungkin.

Saya sangat meyakini bahwa kemampuan eksplorasi bahan alam yang luar biasa ini karena alam merupakan sumber makanan satu-satunya. Seperti halnya sekarang ini kita terus mengusahakan bahan makanan baru dari alam. Barangkali ada yang ingin mencoba menambahkan daun, biji, bunga, batang tanaman tertentu yang belum pernah dicoba dalam daftar menu makanannya. Mumpung kembang kertas atau kamboja di halaman sedang rajin mekar, dijadikan lalapan #sekedaride. Atau seperti penemuan melinjo, kok nenek moyang itu kepikiran membuka daging buah melinjo, memukul bijinya hingga pipih dan menggorengnya hingga kita sekarang bisa merasakan nikmatnya emping melinjo.

Yang menurut saya ekstrim adalah penemuan coklat. Bagaimana bisa dari buah yang samasekali tidak mengandung unsur coklat dan rasanya tidak enak bahkan pahit kemudian bijinya diproses hingga menjadi serbuk coklat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan minuman yang lezat (http//ilmupangan.blogspot.com/2011/02/mengenal-proses-pembuatan-coklat.html?m=1).  Luwar biyasaah ini sih.

Tetapi ada satu bumbu dapur yang menurut saya sejarah penemuannya juga luar biasa, ialah kluwek atau kluwak. Sudah lama saya penasaran dengan asal muasal kluwak ini. Yang menjadi bumbu wajib ‘ain untuk memberi warna gelap dan rasa unik pada rawon (dan masakan dari daerah lain yang kurang saya kenal). Kebetulan saya dari Jawa Timur, jadi ya taunya si rawon ini.

Kluwak (Pangium edule Reinw.) merupakan biji dari buah kluwek/kluwak (Jawa), picung (Sunda), pucung (Betawi), panarassan (Toraja), pangi (Bugis, Bali), atau yang di Sumatera Barat dikenal sebagai buah kapayang karena aromanya yang membuat pusing. Maka jadilah istilah mabuk kepayang. Semacam pusing karena bau durian, tapi ini mungkin disebabkan kandungan asam sianida yang tinggi di dalam buahnya. Asam sianida ini bukan asam biasa lo ya, tapi pada kadar tertentu bisa melumpuhkan saraf pusat dan menyebabkan kematian. Masih ingat aktivis HAM Munir (2004) dan Mirna (2016) yang diduga dibunuh dengan menambahkan asam sianida di dalam kopinya? Sementara itu, di Lampung pohon kluwak dikenal sebagai kayu tuba.

Mungkin ini juga yang menjadi muasal peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’ karena air rebusannya mengandung racun.
Buah kluwak yang sudah matang (sumber: http://tropical.theferns.info/image.php?id=Pangium+edule)
Pangium edule Reinw. Foto oleh: Blume, C.L., Rumphia, vol. 4: t. 178 A (1848)

Pohon kluwak tingginya bisa mencapai 4 meter dengan tandan buah terdapat di ujung-ujung percabangannya.   Di dalam buahnya yang berbentuk lonjong oval, berkulit keras seperti batok kelapa dan berwarna kecoklatan ini terdapat daging buah yang lunak berwarna kuning. Biji-biji buah tersusun melingkar sebanyak belasan hingga puluhan. Di dalam bijinya yang juga bercangkang keras terdapat endosperma (daging biji) berwarna putih. Daging biji inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan masakan oleh nenek moyang kita. Warna hitam kecoklatan didapatkan dari proses fermentasi. Jadi, tidak bisa langsung dimanfaatkan kecuali ingin merasakan keracunan asam sianida.

Buah kluwak yang dipanen adalah buah yang jatuh dari pohon karena pematangan alami (kluwak masak pohon). Secara tradisional buah itu dibiarkan di tanah terkena hujan panas selama berhari-hari (bahkan berminggu-minggu, asal tidak kelupaan) sebelum dikumpulkan dan menjalani proses berikutnya. Berikutnya, buah dibuka (dengan parang, karena keras), daging buah dibuang, dan biji-bijinya dicuci bersih di air mengalir. Bahkan ada yang dibungkus kain kerawangan dan direndam di sungai selama berhari-hari untuk menghilangkan racunnya (yang kalau sungainya banjir bisa-bisa batal masak pakai kluwak).

Tidak hanya sekedar dicuci, biji-biji tersebut kemudian direbus dulu selama berjam-jam untuk melarutkan racunnya. Air rebusan tidak boleh dibuang sembarangan karena sudah mengandung racun. Selain itu khawatir terminum oleh hewan ternak. Di daerah tertentu setelah tahapan ini biji dipecah dan daging biji yang masih berwarna putih sudah bisa diolah menjadi bahan makanan. Untuk mendapatkan warna gelap, proses yang panjang masih berlanjut.

Biji-biji yang sudah direbus tersebut difermentasi dengan cara diperam. Pemeraman dilakukan dengan mengubur biji yang sudah didinginkan ke dalam tanah. Sebelum dikubur, biji-biji tersebut ditutup daun pisang terlebih dulu. Pemeraman berlangsung selama 40 hari (lamanya pemeraman tentu sudah melalui uji coba yang valid oleh nenek moyang kita). Cara lain adalah dengan memeram biji dengan abu sekam di dalam wadah. Pemeraman dengan abu sekam berlangsung selama 15 hari.

Setelah proses yang panjang tersebut maka kluwak sudah bisa (baca: aman) untuk dimanfaatkan. Bagian yang dimanfaatkan sebagai bumbu masak adalah daging bijinya yang didapatkan dengan memecah kulit biji dengan palu (atau batu pada jaman nenek moyang kita).

Buah kluwak di Tenom Agricultural Park (by Tony Lamb). Penyebarannya dibantu oleh gajah. (Sumber: https://seedsofborneo.com)

Nah, terbayang kan, bagaimana perjuangan nenek moyang kita hingga akhirnya menemukan kluwak untuk dijadikan bumbu masak. Kok ya ke-ide-an dan kepikiran. Padahal, bukan tidak mungkin selama proses penemuannya sudah memakan korban jiwa manusia atau hewan ternak (karena keracunan asam sianida buah kluwak) #mengheningkancipta.

Kalau saya hidup di masa itu, barangkali memutuskan untuk menjauhi buah kluwak setelah mencium bau buahnya yang bisa bikin mabok (kepayang). Tapi tidak demikian dengan nenek moyang kita. Tanpa rasa putus asa tetap mencoba, belajar, dan mencari tahu serta berusaha memanfaatkan buah beracun yang kulit buah dan bijinya keras sekali ini sebagai sumber makanan. Kurang jelas, apakah hal itu dilakukan karena terbatasnya sumber makanan atau rasa kepo dan perasaan tertantang yang sangat besar.

Sebagai tambahan, nama latin edule di belakang Pangium berarti edible yang menunjukkan bahwa kluwak bisa dimakan. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan yang ditemukan di masyarakat sekitar.
Dengan ini saya jadi makin kagum, sungguh, nenek moyang kita adalah ahli teknologi makanan yang luar biasa. Salah satunya karyanya adalah menjadikan kita bisa merasakan lezatnya rawon. 🙂

Rawon dan biji kluwak (Sumber: https://www.unileverfoodsolutions.co.id)

Cosmetics and The Beginners (Part 2): The Real Shopping.

Diawali dari ngobrol-ngobrol dengan seorang sejawat kantor tentang mahasiswi-mahasiswi kami yang Ilmu Pengetahuan Kosmetiknya (IPK) lebih canggih dibanding kami, saya bermaksud hunting alat makeup lagi di OLX. Berbarengan dengan itu malah menemukan iklan kursus self makeup. Biayanya murah, pertemuannya sekali saja dengan biaya per orang 50 ribu dan durasi 2 jam. Thanks God, there is a will there is a way, Engkau tunjukkan jalan yang lurus daripada kami coba-coba sendiri malah salah jalan. Begitulah awal bagian kedua dari pengalaman saya berinteraksi dengan kosmetik.

Kursus ini sifatnya private group, jadi gurunya yang datang ke tempat kami. Kalau hanya satu orang biayanya disesuaikan lagi dengan jarak tempuh si mbak tutor. Awalnya hanya berdua, jadi agar lebih seru kami tawarkan ke teman-teman terdekat.  Dan ternyata disambut dengan antusias hingga terekrutlah kami berlima. Saya, mbak Danik, Nurul, Nita, dan Nuretha, yang notabene semuanya adalah very beginners dan sangat awam dalam hal per-makeup-an.

Berikutnya untuk dapat mengikuti kursus singkat ini dengan baik kami memerlukan beberapa alat dan bahan makeup yang – tentu saja – tidak semuanya kami punyai. Beberapa bahkan baru saya dengar namanya. Berikut alat dan bahan yang saya beli merujuk pada alat dan bahan yang sudah saya miliki:

  1. Primer makeup. Saya kira hanya proses amplifikasi DNA saja yang memerlukan primer, ternyata untuk makeup juga perlu primer *OhGod*. Berarti ada sekunder makeup dong? Iya betul. Primer ini diaplikasikan paling awal setelah diberi pelembab dan sebelum alas bedak, sehingga alat bedak menjadi lebih tahan lama karena primer membantu menahan minyak di wajah. Selain itu, primer mampu mengisi pori-pori di wajah sehingga tampilan make up lebih smooth dan flawless *pengen*. Secara umum fungsinya adalah untuk mempersiapkan dan melindungi wajah sebelum menerima bahan makeup yang jahat berikutnya. Setelah konsultasi dengan mbak Chika, sang tutor, kami memutuskan membeli primer merk Make Over (udah halal juga loh). “Lebih baik beli di toko Raya karena lengkap,” kata mbak Danik. Akhirnya terdamparlah saya di toko itu. Betul-betul super lengkap. Sebut saja merek kosmetik tertentu, pasti ada disana. Dari yang paling abal-abal sampai yang paling terkenal, dari yang eceran sampai grosiran.
    Alat-alat makeup disana lengkap. Di satu sudut ada kuas dan puff dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran yang sebagian baru saya lihat saat itu. Ckckck, betapa untuk urusan wajah saja perlu toko selengkap dan sebesar ini. Akhirnya daripada kesasar ke counter yang aneh-aneh, saya tanya saja ke salah satu SPG letak counter Make Over. Sampai di depan counter Make Over dengan pedenya saya sampaikan mau beli primer makeup:
    
    Saya (A) : mbak, beli primer make up (senyum pede)
    SPG (B) : yang mana mbak, ini ada 3 primer, atau beli tiga-tiganya?
    A : err…emang harus dipakai semua ya mbak? Kayaknya pesannya satu saja kok mbak (mbak Chika gak bilang tiga)
    B : (nunjukin brosur) ini ada serumnya, base makeup, dan velvet
    
    
    IMG_20180916_130003
    Buku katalog yang disodorkan mbak SPG *makinbingung*
    
    A : (makin bingung) saya potoin deh mbak, ini soalnya pesenan, saya tanyakan dulu (bo’ong dikit)
    
    Akhirnya foto brosur itu saya konsulkan ke mbak Chika yang kemudian menjelaskan bahwa pemakaiannya disesuaikan dengan jenis kulit. Primer hydrating untuk kulit kering, velvet untuk kulit berminyak, dan corrective base untuk kulit yang warnanya gak rata (semacam belang mungkin? Tapi bukan belang telon kan? *meouw*). Atau kalau kurang jelas ditanyakan ke SPGnya aja. Demikian penjelasan mbak Chika. Got it. Balik ke counter sambil berdoa agar SPGnya gak bosan dan berubah jutek saat saya tanya-tanya.
    
    A : mbak, kulit berminyak pakai velvet ya? Trus ini ada fleks juga, perlu pakai corrective base?
    B : pemakaiannya berurutan mbak, hydrating dulu, trus corrective baru kemudian velvet. (kemudian menjelaskan fungsinya masing-masing, bla bla bla)
    A : bisa untuk pemakaian sehari-hari kan mbak? Bukan buat ke kondangan aja maksud saya.
    B : bisa mbak, untuk tampilan kulit yang lebih halus dan bedaknya awet.
    
    (Si mbak SPG kemudian menjelaskan kalau sehari-hari dia memakai corrective hijau untuk menutupi bagian yang berjerawat walaupun fungsinya bukan untuk memudarkan warna seperti concelear. Kalau untuk kulit gelap tapi merata pakai corrective yang ungu).
    
    A : (waduh, pusing pala berbi ini sih, harus diputuskan sendiri nih) Ya udah karena ada fleks dan berminyak saya beli corrective dan velvet. 
    B : gak sekalian hydrating serumnya mbak?
    A : (tegas) ndak mbak, dua aja (sambil mikir harganya, velvet 89 ribu, corrective 79 ribu).
    Total yang harus saya bayar untuk dua primer ini adalah 151.200 rupiah, sudah termasuk diskon 10%. Rogoh kocek dalam-dalam.

    IMG_20180917_104456
    Finally, two primers!
  2. Foundation dan pensil alis. Pilihannya kalau ndak Wardah ya Make Over. Dengan pertimbangan budget, saya pilih Wardah yang saya beli di gerai Wardah saat jalan-jalan di CFD. Sekalian beli pensil alis coklat yang tutupnya dilengkapi sikat alis. Pertimbangan membeli warna coklat ini karena saya sudah punya eyeliner hitam. Saya pikir pensil alis dan eyeliner fungsinya bisa saling menggantikan. Mestinya gitu ya, bentuknya aja sama, hehe. Untuk foundation dan pensil alis saya keluar uang kurang lebih 115.000 (persisnya lupa karena notanya hilang).

    IMG_20180917_104541.jpg
    Ini hasil belanja di Wardah CFD, foundation, pensil alis, dan TWC.
  3. Eyeshadow. La Tulipe no.11, masih baru dan utuh.
  4. TWC. Wardah exclusive no.02 tinggal setengah, tidak usah beli.
  5. Bedak tabur. Minta teman saja *hihi*.
  6. Kuas. Beli di Raya juga, satu set kuas yang fungsinya buat apa saja saya juga masih bingung. Sarannya mbak Chika, beli yang satu set. Harga 27.500. Done.
  7. Lipstik. Punya 2, walaupun keduanya jenis matte, nanti diaplikasikan dengan lipgloss agar bibir lembab. Untuk lipstik jelas tidak usah beli.
  8. Eyeliner. Pixy warna hitam.
  9. Blush on. Katanya sih lipstik bisa diakali buat blush on. Atau salah satu warna di eyeshadow kan ada yang kemerahan, itu saja deh dinego buat blush on. Hehe.

Akhirnya, niat banget ya belanja kosmetiknya :D. Saking niatnya, sampai salah seorang teman saya curiga saya kesurupan si Manis Jembatan Ancol anak buahnya Nyi Roro Kidul pas kemping ke pantai selatan baru-baru ini.

So that, total belanjaan saya adalah 293.700 *jegring* (cashier machine sounds). Berikutnya, let’s go to the practice session.

Cosmetics and The Beginners (Part 1): Trial and (Often) Error.

Derita, eh, cerita ini akan saya bagi menjadi tiga bagian saking membosankannya panjangnya. Bagian pertama berisi latar belakang, bagian kedua tentang sesi belanja, dan bagian ketiga tentang praktek makeup.

Latar belakang ceritanya sih sederhana saja, yaitu termotivasi dari bagaimana caranya agar tidak terjerumus pada pembohongan publik dengan menyebarkan foto diri yang mengandung fitnah (kata-kata fitnah ini kok terkesan keji ya? Wkwkwk).

Paham kan, jaman sekarang semua kamera handphone menyediakan fitur photo editing, membuat wajah makin alus mulus cerah tanpa noda (menurut kamus kecantikan yaitu wajah yang flawless). Pokoknya kamera yang sangat memahami kebutuhan perempuan lah. Bahkan semakin face upgradedable sebuah kamera handphone maka makin mahal pula harganya. Belum lagi sejuta aplikasi photo editors yang tersedia gratis siap unduh dari google play store.

Sebelumnya saya sudah kenal dengan sebuah software genome editing, nah, ternyata wajah juga bisa diedit. Setidaknya kan tidak keluar biaya untuk oplas ya…:D (amit-amit kalau ini mah). Hasil foto yang lebih indah dari aslinya ini menjadi tantangan buat saya.

Mestinya bisa dong upgrade wajah seperti di foto ituh (istilah upgrade ini lama-lama kok terdengar seperti upgrade komputer atau kendaraan *mikir*). Iya tahulah kalau caranya dengan rajin perawatan wajah seperti facial, dermabrasi, sampai peeling, tapi cara instan berikut boleh juga dicoba, yaitu makeup (baca, membuat naik, terminologi kecantikan untuk istilah upgrade, menurut saya).

Modal makeup standar yang saya miliki sampai menjelang awal umur 40-an ini adalah pelembab sekaligus tabir surya.  Yang juga berfungsi sebagai alas bedak ringan (karena sewarna kulit yang membantu covering fleks usia 40-an).  Yaitu BB krim Kitoderm yang saya beli dari teman dokter.  Dan bedak padat alias TWC Wardah Exclusive Series. That’s all.  Hingga pada suatu hari saya tertarik membeli lipstik Wardah nude series di toko Watson, Plaza Pondok Gede pas mudik ke rumah ortu dua tahun lalu. Tertariknya sih karena label nude itu, maksudnya kalau pakai lipstik ini tetap tidak terlihat seperti memakai lipstik (lah, jadi tujuannya apa dong? *mikirlagi*). Hahaha…

Pada prinsipnya saya tidak ingin dandan berlebihan walaupun kata berlebihan ini sensenya bisa beda untuk masing-masing perempuan. Saya tidak akan membahas hal ini lebih jauh karena rawan konflik seperti di daerah konflik (apasih?). Dan mengapa Wardah? Jujur saya kemakan iklan yang brand ambassador-nya Inneke Koesherawati dan Dewi Sandra ini. Melihat penampilan mereka yang anggun dan wajah terawat dengan dandanan natural (kecuali pada bagian lipstiknya jeng Dewi Sandra) membuat saya membayangkan sosok muslimah yang segar, enak dipandang (bukan bikin napsu lo ya), dan tidak kusam. Suatu perpaduan yang ideal kan, when inner meet outer beauty. Begitulah alasan saya memilih merek Wardah selain label halalnya sebagai alasan pertama tentunya.  Tapi sumpah ini bukan karena di-endorse ya, walaupun ngarep banget 😀

Kembali pada lipstik pertama saya. Saat itu di Watson tersedia empat pilihan warna. Dan tentu saja saya memilih warna yang paling miriiiip dengan bibir saya. Rasanya saat itu no.02 lah (blushing nude) yang paling nude versi saya. Walaupun setelah dicoba kok tetap seperti pakai lipstik ya, sepertinya lebih cocok yang no.03 (peach perfect). Padahal milihnya saja hampir setengah jam sampai anak saya protes karena lapar *maaf ya nak*. Wardah Intense Matte Nude Series no.02 ini bikin bibir saya lebih pinky, yaah judulnya saja blushing walaupun ada nudenya. Agak nyesel sih walaupun gak sampai guling-guling di lantai, karena toh harganya sangat terjangkau, gak sampai 50 ribu. Ternyata warna lipstik saat diaplikasikan di bibir bisa sedikit berubah karena perbedaan warna dasar bibir atau undertone masing-masing pemakai (kalau demam jadi makin merah kali ya?). Hmm, bahasanya sudah berasa beauty blogger aja, hehe… *beautybloggergadungan*.

Baiklah, akhirnya lipstik pertama ini sangat jarang dipakai, khawatir banyak yang tidak mengenali saya lagi alias pangling.

Lipstik berikutnya saya beli tahun lalu di situs jual beli OLX. Berawal dari cari tanah kavling, tersesatlah saya di rubrik makeup. Tersesat yang amat sangat jauh dan tidak nyambung. Eh disana ada yang jual refill bedak Wardah Exclusive no.02 seperti yang saya pakai yang kebetulan sudah hampir habis.

Bedak refill ini dijual dijual sepaket dengan Wardah Exclusive Matte Up Cream no.03 (see you latte) second seharga 50 ribu karena pembelinya salah pilih warna. Murahlah, karena refill bedak yang baru harga normalnya 50 ribu. Ini kan bonus lipstik yang warnanya boleh dikatakan cocok dengan yang saya inginkan, peach. Saking peachnya sampai bibir kelihatan pucat saat memakai lipstik ini. Sayang sekali karena sifatnya yang matte, bibir saya yang kering jadi semakin pecah-pecah karena lipstik ini. Sehingga pemakaiannya harus dialasi lipgloss (akhirnya beli lipgloss bening seharga 23 ribu, Wardah juga). Tujuannya bukan untuk membuat bibir berkilau glossy, tapi untuk melembabkan saja. Ilmu baru nih.

IMG_20180917_154013.jpg
Pernak pernik wajah dan bibir. My daily stuffs actually cuma bedak dan BB krim.

Kalau sebelumnya ingin memperbaiki penampilan bibir, sekarang giliran mata yang jadi sasaran. Masih gara-gara iseng ngintip rubrik makeup di OLX jadi tertarik dengan eyeshadow La Tulipe warna natural no.11 yang harganya sangat terjangkau kocek, 15 ribu saja. Kirain harga eye shadow itu sampai ratusan ribu, makanya begitu ketemu yang lima belas ribuan langsung acece beli walaupun gak tau kapan dipakainya 😀 (ini kalap atau gak tau ya?) *gakjelas*.

Masih seputar mata, alat make up berikutnya yang saya miliki adalah eyeliner dan pelentik bulu mata *wkwkwkwk*. Kalau ini murni ikut-ikutan kakak sepupu saya yang sudah terlebih dulu upgrade penampilan dengan menambahkan eyeliner hitam di tepi kelopak mata atasnya. Kemudian sudutnya dilukis agak terangkat gitu seperti mata kucing (gaya retro, pin up) untuk mengurangi kesan kuyu pada mata.

Sebetulnya untuk urusan mata ini saya sudah punya celak hitam berbentuk serbuk dapat dari oleh-oleh tetangga pulang haji yang sudah lama jadi pengangguran di wadah kosmetik saya. Celak ini bisa dimanfaatkan sebagai eyeliner, tapi aplikatornya yang keras dan serbuknya yang tidak merata membuat saya frustasi karena tidak berhasil membingkai mata dengan bagus. Hasilnya malah bleber kemana-mana memberi kesan sembab kurang tidur *gagaldandan*.

Akhirnya, setelah eksperimen gagal tersebut, terbelilah Pixy eyeliner pencil warna hitam seharga kurang dari 40 ribu (lupa pastinya berapa) karena belum terlalu nekat untuk membeli eyeliner cair. Menurut mbak SPG yang didukung kakak sepupu saya, merk Pixy ini cocok buat pemula karena mudah diaplikasikan (underline, pemula…hiks, orang lain sudah sampai bulan kali).  Masih berhubungan dengan mata, kakak sepupu saya menyarankan saya untuk sekalian membeli alat pelentik bulu mata seharga 15 ribu rupiah.

Alkisah, eyeliner ini merupakan salah satu alat kecantikan yang sudah ada sejak tahun 10.000 SM pada peradaban Mesir Kuno (Mesopotamia) dan digunakan sebagai penangkal roh jahat serta melindungi mata dari Dewa Matahari. Kosmetik mata ini mungkin kemudian berkembang menjadi celak yang mengandung bahan-bahan yang membantu kesehatan mata. Di dalam agama Islam, memakai celak alias eyeliner ini adalah sunnah.  Tapi entah kenapa, sampai saat ini saya belum berani memakai eyeliner untuk keluar rumah karena wajah saya jadi kelihatan ‘lain’ *sigh*.
IMG_20180917_154710.jpg
Pernak pernik buat mata yang nyaris belum pernah dipakai kecuali buat trial yang banyak errornya *hiks*

Dari semua pengalaman saya berinteraksi dengan alat-alat kecantikan, satu hal yang bisa saya simpulkan yaitu ribet (pakai bold, italic, warna merah pulak).

Bayangkan kalau sudah dandan lengkap, mau ngucek mata kuatir eyeliner atau eyeshadow bleber, mau minum harus atur posisi bibir agar tidak meninggalkan bekas lipstik (saya sering geli lihat bekas lipstik orang di gelas atau sedotan). Belum lagi semuanya bakal bubar kena air wudhu. Walaupun setelah sholat bisa dandan lagi tapi itu kan samasekali tidak praktis dan takes time. Memang ada sih kosmetik yang waterproof, tapi kan jadinya menghalangi kulit dengan air wudhu. Mungkin saya yang kurang ilmu atau bagaimana, tapi nyatanya petualangan Si Pemula ini terus berlanjut ke bagian 2.

Eating, trekking, and photographing: Part 1

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut…

Lama nian tidak tripping yang agak jauhan dari rumah (tripping maksudnya jalan-jalan gituh). Beruntung, kesempatan yang tidak dapat ditolak ini datang untuk memenuhi undangan seorang teman SMA yang tinggal di Magelang. Sekalian pemanasan untuk reuni perak tahun depan, maka terkumpullah kami sekitar bertiga puluh di Magelang pada tanggal 3 September lalu.

Kunjungan ini mengusung judul: BoSoLo le Tour and Heritage Borobudur 2016
(BoSoLo, Bolo Songo Loro, karena kami dari angkatan 92 SMAN 1 Pasuruan).

Peserta pun berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari Jember yang paling timur hingga Bengkulu (kalau yang ini sih pas kebetulan lagi ada jadwal kunjungan ke Jawa, hehe). Saya sendiri ikut rombongan yang berangkat naik Sri Tanjung dari stasiun Pasuruan. Kami bertiga belas, 9 perempuan dan 4 laki-laki. Setelah sebelumnya 3 orang teman terpaksa membatalkan keberangkatan karena ada tugas dari kantor menjelang detik-detik keberangkatan. Alhasil gerbong 2 jadi dipenuhi cerita dan tawa 2 sejak berangkat pukul 12.00 sampai tiba di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta pukul 20.00. Untung saja tidak ada penumpang yang complaint karena tidak bisa bobok siang di kereta. Boboknya di tempat tujuan saja ya pak, bu, mbak, mas, hehe.

Logistik selama di atas kereta tidak hentinya terhidang. Mulai mie pangsit, brownis, lemper, edamame, sampai nasi krawu. Tak ayal lagi, mulut kami akhirnya selalu aktif makan atau bicara. Kebetulan seorang teman duduk sebelahan dengan bule perancis. Rejeki si Bule yang selalu kebagian ransum dari kami. Bonjour Mister… (mbuh artine opo, hehe).

IMG-20160902-WA0004
Stasiun Pasuruan, kontingen siap diberangkatkan.
Gaya dulu a la WestLife :D
Gaya dulu a la WestLife 😀
IMG_20160902_171022
Hiruk pikuk di dalam kereta 😀

Tiba di stasiun Lempunyangan sudah menunggu 2 teman lagi, seorang dari Bogor dan seorang dari Bengkulu bersama istrinya. Gayeng ngobrol sambil nunggu jemputan yang agak terlambat karena kendala teknis. Akhirnya pukul 21.00, beriringan 5 kendaraan bergerak menuju malioboro, makan malam lesehan di angkringan tidak boleh dilewatkan kalau ingin menikmati suasana malam Yogyakarta. Tetapi sebaiknya tidak mengajak anak dibawah umur, karena kami sempat disambangi pengamen waria dengan dandanan vulgar yang akhirnya jadi bahan guyonan sepanjang perjalanan ke Magelang. Mirip mpok Ati kata teman-teman. Maaf ya mpok…

Di angkringan Gareng Petruk saya memilih nasi langgi berupa nasi dengan rajangan telur dadar dan sambel, otak-otak ikan, dan sate bekicot. Minumnya wedang ronde yang diwarnai insiden terbawanya sendok wedang saat pelayan angkringan beres-beres piring. Maaf ya pak Ronde… Di angkringan ini tahu bakso oleh-oleh teman dari Ungaran ikut jadi suguhan yang cukup mengenyangkan.

Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Bersih dan lengkap :)
Bersih dan lengkap 🙂

Pukul 23.15 rombongan memasuki kota Magelang. Tuan rumah tidak mensia-siakan waktu untuk memperkenalkan kuliner malam Magelang kepada kami. Walaupun perut sudah kenyang dan mata mulai lengket serta tubuh merindukan kasur, diajaklah kami mampir ke warung Bulpiri yang menjual nasi godog.  Akhirnya kami memesan dua porsi nasi godog dan satu porsi bakmi godog untuk dimakan bersama-sama, tepatnya dicicipi bersama.

Nasi godog ini dimasak diatas anglo dan dibuat dari bumbu bawang putih, bawang merah, merica dan garam yang ditumis kemudian diberi air secukupnya. Setelah mendidih dimasukkan telur, sedikit mie, sayuran, dan tomat. Mengingatkan kami pada bakmi godog Kediri. Setelah tercampur semua baru nasi dimasukkan. Kemudian dibubuhkan sedikit kecap dan siap dihidangkan panas-panas. Sederhana tapi nikmat mengenyangkan.
IMG_20160902_232236
Warung Bulpiri Magelang
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Hmm...enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog
Hmm…enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog

Perjalanan dilanjutkan ke pesanggrahan Majaksingi milik Pemkab Magelang. Tiba disana sekitar pukul 00.00 disambut seorang teman yang tiba dari Pati sejak pukul 22.00. Dua jam horor kata dia, sampai nyaris mengangkat tangan menyatakan tidak sanggup melanjutkan permainan (emangnya uji nyali, hehe). Di pesanggrahan peserta perempuan berbagi 3 kamar vip di bangunan utama. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi dalam. Sementara peserta laki-laki sebagian memilih tidur di ruang tamu yang luas dan sebagian di kamar-kamar yang berada di belakang bangunan utama. Tempatnya luas dan nyaman.

Sedikit di luar ekspektasi saya yang mengira Magelang itu dingin seperti Malang, hehe. Tanpa menunggu lebih lama lagi, setelah mandi dan melanjutkan bersetori ria dengan teman sekamar, sekitar pukul 01.00 saya pun tertidur. Sepertinya menjelang pukul 03.00 kamar-kamar sudah senyap. Kami beristirahat, bersiap untuk acara yang (luar biasa) padat pada pagi harinya.

Punthuk Setumbu, Rumah Pohon Asem Pendowo Limo, dan Gereja Ayam

Bentang alam Punthuk Setumbu

Sedikit terlambat dari waktu yang direncanakan, dengan dipandu pak Fatah, salah seorang staf Kantor Kecamatan Borobudur, pukul 5.30 kami bergerak menujuk punthuk setumbu. Tiba disana parkiran sudah penuh. Karena ada unsur-unsur privilege, rombongan kami yang terdiri dari empat mobil berhasil mendapatkan tempat parkir yang layak. Kirain ya, namanya sunrise sudah di depan mata. Ternyata harus berjalan menanjak kurang lebih 15 menit (oh kaki…).

Di salah satu pos kami disambut Pak Lurah Karangrejo yang kemudian bersama-sama kami naik melihat sunrise. Sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang berjalan turun. Dalam hati ya, mereka ini kelihatannya tidur di puncak setumbu deh. Atau kaminya saja yang kurang pagi kali ya, hehe. Tiba di puncak pukul 06.00, walaupun sedikit melewatkan detik-detik munculnya sang surya, tapi semua lelah akhirnya terbayar oleh keindahan alam yang terbentang di depan mata. Sayangnya cuaca kurang cerah, sehingga puncak candi Borobudur tersaput kabut.

Puas memanjakan mata dan (pastinya) foto-foto, Pak Lurah Karangrejo mengajak kami menikmati kopi dan teh jahe panas serta makanan kue-kue berupa lemet, lapis, tahu isi, keripik slondok berbahan dasar singkong yang rasanya seperti samiler di Jawa Timur tapi yang ini diiris tipis dan sangat crunchy, dan geblek. Yang terakhir ini penganan berbahan dasar pati singkong yang rasanya kenyal dan biasanya dimakan dengan cocolan saus kacang atau saus empek-empek.

Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Hap.. hap.. jalan pagi.. ini foto pas jalannya masih datar 😀
Bermandikan cahaya matahari pagi
Bermandikan cahaya matahari pagi
Camilan sudah siaaap :P
Camilan sudah siaaap 😛
Nyam nyam nyam... :P
Nyam nyam nyam… 😛
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak :)
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak 🙂
Punthuk Setumbu adalah sebuah bukit diantara pebukitan Menoreh dengan ketinggian kurang lebih 400 dpl. Namanya berasal dari kata punthuk yaitu gundukan tanah dan tumbu atau alat dapur dari bambu. Berupa pelataran luas yang dibatasi pagar dan tersedia kursi-kursi tempat beristirahat, tempat ini merupakan lokasi favorit untuk melihat candi Borobudur dari ketinggian dengan latar belakang gunung Merapi dan Merbabu. Retribusi masuknya cukup Rp.15.000 saja untuk wisatawan lokal.
Sang surya naik perlahan membuka tabir malam...
Sang surya naik perlahan membuka tabir malam…
Berkas sinar...
Berkas sinar…
Jajaran pebukitan Menoreh
Jajaran pebukitan Menoreh

Rumah Pohon Pendowo Limo

Kenyang ngemil, trek berlanjut ke Rumah Pohon Pendowo Limo yang berjarak kurang lebih seratus meter jalan kaki dari pelataran punthuk Setumbu. Belum jelas bagaimana asalnya ada lima pohon asem berumur puluhan tahun yang berumur sama berdiri tegak berjajar di sana, demikian tutur pak Fatah. Diatas pohon-pohon ini kemudian dibangun dua pos pandang yang kemudian disebut rumah pohon.

Setelah puas berfoto pukul 06.50 kami menuju ke Gereja Ayam melalui jalan belakang yang lebih singkat tapi hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Yang jelas pakai bonus tanjakan ya, hehe.

Rumah Pohon Pandowo Limo
Rumah Pohon Pandowo Limo
Dari ketinggian rumah pohon.
Dari ketinggian rumah pohon.

img-20160919-wa0050

Gereja Ayam, napak tilas Rangga dan Cinta

Setelah berjalan kaki kurang lebih 10 menit, nampaklah sisi belakang bangunan Gereja Ayam yang sedang diperluas. Gereja yang sebetulnya dibangun sebagai rumah doa ini kemudian dialih fungsikan sebagai tempat rehabilitasi mental sebelum selesai pembangunannya seiring dengan keberatan dari penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam. Gereja ini terletak di atas Bukit Rhema.

Disana kami disambut oleh Pak Daniel yaitu anak pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun Gombong Desa Kembanglimus yang mirip Budi Anduk (alm). Sedikit tambahan, bangunan ini sebetulnya dibangun berbentuk merpati mahkota yang membawa pesan kebebasan dan perdamaian. Tetapi bangunan yang pernah dipakai untuk syuting film AADC2 ini lebih popular dengan sebutan Gereja Ayam seperti sebutan penduduk sekitar.

Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Papan arah lewat jalan belakang
Papan arah lewat jalan belakang
Informasi tiket masuk Gereja Ayam
Informasi tiket masuk Gereja Ayam
Gereja terdiri dari empat tingkat. Tingkat pertama berupa ruangan luas yang saat itu difungsikan sebagai ruang tunggu untuk naik ke bagian mahkota ayam. Lagi-lagi kami mendapat privilege dan tidak perlu ikut mengantri untuk naik sampai ke tingkat tertinggi. Di sekeliling ruangan terdapat jendela-jendela berbentuk bunga dan di bagian ekor dibangun pilar-pilar. Tingkat kedua berupa bagian leher. Dari sini kita bisa mengintip keluar jendela jajaran genjang dan melihat bagian ekor yang menyerupai kipas.  Tingkat ketiga adalah paruh dan kepala ayam. Pada bagian depannya yang terbuka dipasang pagar pembatas dengan peringatan agar tidak naik ke atas pagar. Tingkat keempat mahkota ayam. Tingkat terakhir ini dapat dicapai melalui tangga putar sempit dan lubang sempit seukuran orang dewasa. Hati-hati jangan sampai kepala terantuk atau ada bagian badan yang tersangkut disini. Tiba di teras mahkota ayam kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indahnya ke segala penjuru. Di dalam foto, sudut-sudut mahkota ini tampak seperti ekor atau sayap pesawat. Sayangnya kami tidak sempat mengintip ruang basement yang bersekat-sekat.
Bangunan tampak belakang
Bangunan tampak belakang
Ruang utama di lantai dasar.
Ruang utama di lantai dasar.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari bagian paruh.
Pemandangan dari bagian paruh.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Tongsis mana tongsiiis... :D
Tongsis mana tongsiiis… 😀
Puncak mahkota, good view :)
Puncak mahkota, good view 🙂
Napak tilas Cinta dan Rangga :)
Napak tilas Cinta dan Rangga 🙂
Gaya dulu aah... :D
Gaya dulu aah… 😀
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya... #jodoh
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya… #jodoh

Dari Gereja Ayam kami diantar ke tempat parkir menggunakan beberapa jeep. Walaupun jalannya sudah dibeton, tapi sudut turunannya yang mencapai 45 derajat bikin lutut gemeteran juga. Di halaman parkir kami berpamitan dengan pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun untuk kemudian tepat pukul 07.45 melanjutkan perjalanan ke Kantor Kecamatan Borobudur.

Menuju parkiran bukit Rhema.
Menuju parkiran bukit Rhema.
Pamitan sama putra pendiri gereja. Lupa gak tanya nama :D
Pamitan sama Pak Daniel, putra pendiri gereja.
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga :)
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga 🙂
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo...
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo…

Bagaimana kelanjutan perjalanan BoSoLo, simak di tulisan berikutnya yaa… 🙂

2015 in review

Sebetulnya beberapa bulan ini sudah tidak semangat nulis di blog.  Selain kekeringan ide, partisi di otak rasanya sudah overload berdesakan.  So, perlu efisiensi folder.  Sebagian besar data yang masuk ke dalam kategori ‘junk’ dan ‘junkiest’ sudah dimusnahkan.  Sehingga lumayan bisa bikin bernapas legaaah… *minumNapacin*

Tapi tidak ada salahnya mem-posting review blog saya selama 2015 seperti berikut:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 57,000 times in 2015. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 21 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Menunggu

Aku ingat guguran kelopak ungu bunga bungur. Yang helainya tertiup jauh oleh angin bercampur asap dan debu. Katamu itu pertanda kemarau hampir berakhir.

Tapi tidak kali ini.

Kering itu masih panjang, hingga tanah berteriak meronta tertutup daun dan ranting dari pohon meranggas. Bijian gelisah menunggu rekah pecah kulitnya memunculkan tunas.

Aku pun menunggu.

Tanggal 1

Bagi kebanyakan pegawai negeri sipil (PNS) seperti saya, apa yang terpikir tentang tanggal 1? Iya, tidak salah. Tanggal 1 identik dengan gajian. Saatnya terima uang, sama halnya dengan ingat waktunya bayar utang, hehe… *untung inget*

Tapi saya yakin tidak banyak yang tahu bahwa gaji PNS termasuk TNI dan Polri itu sebetulnya diberikan sebelum bekerja, bukan sebagai penghargaan atas apa yang sudah dikerjakannya. Seperti saya menerima gaji pertama di awal masa kepegawaian, kalau saya pensiun bulan Juni ini uang yang diterima pada bulan Juli bukan gaji lagi, melainkan uang pensiun.

Nominal gaji pun berdasarkan pangkat ruang/golongan, bukan mengacu pada beban kerjanya. Sebagai ilustrasi, gaji dosen golongan 3/B sama dengan gaji guru SD yang bergolongan sama. Tahu sendiri kan betapa berbedanya tingkat kesulitan kerja mereka *curcolnya bisa panjang nih* 😦

Tapi tulisan ini bukan untuk mempersoalkan nominal. Karena yang menarik, gaji bagi PNS adalah uang ‘modal’ hidup sebulan selama mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh negara. Kalau demikian, lantas apa yang diterima PNS sebagai upah kerjanya? Kalau melihat kronologi pemberian gaji ya tidak ada (?). Mana ada belum kerja sudah dikasih uang 😀

Sehingga tidak heran bila KBBI mengartikan ‘abdi negara’ sebagai ‘pegawai yang bekerja pada pemerintah; pegawai negeri’ karena pekerjaannya yang bernilai pengabdian. Abdi itu sendiri adalah ‘orang bawahan; pelayan; hamba’. Sedangkan pengertian pengabdian yang saya dapatkan adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Secara singkat yaitu tanggung jawab yang dilakukan dengan ikhlas. Kata kuncinya ‘ikhlas’.

Jadi ya, jerih payahnya biar Pangeran sing mbales 😉