Saya dan Karir #2

Karir berikutnya sebagai surveyor di PT. Jasa Riset Indonesia (JRI) dan PT. Marketing Research Specialists (MARS). Diawali dari dialihkannya kegiatan quality control dari PT. McDonald Indonesia kepada JRI sebagai lembaga riset independen, maka kami tim mystery shopper harus pindahan juga. Selain pindah koordinasi, di JRI saya jadi terlibat di berbagai survey yang ditenderkan pada PT ini. Karena pekerjaan ini sifatnya free-lance, pada saat yang bersamaan saya juga bergabung dengan PT. MARS yang bergerak di bidang yang sama, survey dan riset. Di PT. MARS, saya menjadi supervisor untuk wilayah Malang dan sekitarnya. Kok kedengarannya seperti adzan magrib ya? Haha… Untuk ini thanks to Pak Nur JRI (alm.) dan Pak Budi MARS yang sudah mengijinkan saya bergabung di timnya. Thanks juga buat Nana, teman seperjuangan sebagai surveyor.

Pada tahun 2005, saya resign dari JRI dan MARS karena diterima menjadi staf pengajar di FK UB. Mungkin sudah takdir kalau saya akhirnya menjadi satu-satunya biologist yang terdampar di Bagian Anatomi Histologi. Ceritanya, pada saat penerimaan dosen baru, lowongan general biologist hanya ada di FK. Akhirnya, dengan agak terpaksa dan karena dorongan suami, saya yang sebelumnya alergi dengan FK, akhirnya memasukkan lamaran kesana. Pemberitahuan diterimanya saya diterima oleh ibu sehari lebih lambat karena saat itu saya sedang tidak di tempat. Akhirnya ketinggalan briefing dosen baru yang diadakan oleh universitas. Kalau tidak ada ibu yang menerima pemberitahuan lewat telepon itu, bisa jadi saya dianggap gugur karena tidak bisa dihubungi. Untuk ini big thanks buat suami dan ibu.

Ofis
Ofis

Karir saya berikutnya masih berkaitan dengan UB. Tahun 2012, saya resmi menjadi konsultan genetik di Lembaga Sentral Ilmu Hayati (LSIH) UB. Masih ada cita-cita saya berkaitan dengan profesi ini. Saya ingin mempunyai klinik genetik berkolaborasi dengan profesi kedokteran lain di dalam suatu tim manajemen yang menangani penyakit-penyakit genetik. Di Indonesia, profesi ini masih langka dan belum banyak orang-orang yang mendalami ilmu ini. Sekarang dan nanti, saya berharap dapat memberi sumbangan pemikiran yang lebih besar untuk kemajuan ilmu genetik dan penanganan penyakit-penyakit genetik di Indonesia. Thanks buat Indri yang telah mengusulkan nama saya pada saat rapat di LSIH waktu itu.

Persahabatan Lima Jari

Apa jadinya ya kalau 5 jari kita tidak kompak atau salah satu cedera? Wah, pasti aktifitas yang melibatkan jari menjadi terganggu.  Seperti halnya kelima jari yang kita miliki, saya dan 4 sahabat di tempat kerja bersinergi seperti halnya jari-jari kita.  Dan uniknya, masing-masing dari kami mempunyai karakter dominan yang berbeda tapi saling melengkapi.  Seperti inilah sinergi itu, saat Indri si Gudang Ide datang dengan ide-ide anehnya, Rita sang Konseptor siap menerjemahkan ide abstrak Indri menjadi sebuah konsep yang lebih logis.  Langkah selanjutnya Nana merancang konsep menjadi rencana yang realistis.  Berikutnya giliran Danik menjalankan rencana menjadi kenyataan dan Nurul mengkritisi keberlangsungan seluruh proses.   Kronologi ini berlaku mulai dari hal yang sederhana seperti menentukan tempat makan sampai mengerjakan proyek besar yang melibatkan institusi lain.  Mungkin terdengar aneh kalau mementukan tempat makan saja perlu konseptor bahkan kritikus.. hahaha.. tapi itulah kami.  Serasa Sang Takdir menuntun kami berlima untuk berada di satu unit kerja.  Semoga kebersamaan dan persahabatan ini berlangsung sampai akhir hayat.

Anatomi dalam Komunikasi Medis

Enam tahun yang lalu, semenjak berkubang di dunia peranatomian, langsung terasa betapa spesialnya si anatomi ini dalam aplikasi maupun pengembangan ilmu kedokteran.  Anatomi bagaikan rangka bagi sebuah bangunan kedokteran atau bagaikan fondasi bagi sebuah rumah.  Selayaknya rangka atau fondasi yang tidak tampak dari luar, demikian juga anatomi, tak tampak tapi mutlak harus ada.  Bagaimana seorang dokter bisa memahami bentuk dan manifestasi sebuah kelainan jantung kalau tidak memahami bagaimana anatomi jantung, dan bagaimana seorang perawat bisa menentukan tempat injeksi kalau tidak memahami anatomi topografi vena mediana cubiti atau vena saphena magna.  Walaupun tidak ada pasien yang akan menanyakan letak pankreas atau colon secara eksplisit, tapi alangkah indahnya seandainya praktisi kesehatan bisa mendekatkan pasien dengan penyakit yang sedang dideritanya melalui pemahaman sederhana berdasarkan ilmu anatomi yang juga disederhanakan melalui bahasa awam.

Proses edukasi dalam konseling kesehatan seringkali menjadi suatu keniscayaan apabila praktisi kesehatan memahami bahwa kebutuhan pasien tidak hanya terbatas pada obat dan kesembuhan.  Tapi pemahaman sederhana tentang patofisiologi dan patomekanisme suatu penyakit yang bisa disederhanakan melalui bahasa anatomi akan sangat membantu komunikasi praktisi kesehatan dengan pasiennya. Bahkan dapat membantu proses penyembuhan pasien dengan meningkatnya kesadaran terhadap kondisi dirinya.  Anatomi adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan pasien, karena normalnya semua orang pasti memiliki organ dan sistem organ tersebut, hanya pengetahuan saja yang membedakan antara praktisi kesehatan dengan pasiennya.  Pengetahuan pasien terhadap apa yang sedang terjadi dengan dirinya akan membantu pasien untuk tidak merasa dirinya sebagai obyek semata, apalagi sebagai kelinci percobaan.  Keputusan yang terjadi di ruang praktek bukan hak dokter — atau lebih luas lagi, praktisi kesehatan –, melainkan hak pasien.  Tindakan yang dilakukan selalu harus melalui persetujuan pasien dengan mengetahui alasan dilakukannya tindakan tersebut.  Sehingga sangat ajaib apabila ada praktisi kesehatan yang menyebutkan bahwa hepar terletak di cavum thorax — entah menyebutnya karena grogi, entah karena bingung membedakan cavum thorax dan cavum abdomen, atau karena ada terjadi hernia diaphragmatica sehingga pernyataan ini masih bisa ditolerir — , atau seorang praktisi kesehatan yang tidak mengetahui alasan kenapa insisi yang dilakukan dari prosesus xiphoideus hingga symphisis pubis dilakukan melingkari umbilicus dari sebelah kiri selain karena prosedur tetapnya menyebutkan demikian tanpa tahu bahwa prosedur tersebut dilakukan untuk menghindari ligamentum teres hepatis.  Wallahu’alam.

The picture copied from: http://ihateoliverninnis.files.wordpress.com/2011/10/white-lie-100dpi.jpg

Museum Anatomi

Kalo ada deskripsi yang jelas tentang ‘Museum’ tentunya museum yang satu ini punya kategori khusus. Mungkin sebutan museum kurang pantas, karena sangat dipengaruhi latar belakang konsumen ato stakeholder-nya. Museum yang satu ini juga jelas-jelas unik, bahkan di negara tertentu disebut gallery bahkan beberapa koleksinya masuk kategori art gallery. Menurut kamus wikipedia, ‘Museum’ merujuk kepada bangunan tempat menyimpan khazanah sejarah purba atau yang lalu. Museum penting sebagai tempat kita merujuk sekiranya kita ingin mengatahui tentang sejarah lampau. Berdasarkan KBBI tentunya lebih jelas lagi. Tapi masih berkisar pada hal-hal yang sifatnya purba jua.

Tentang Museum Anatomi, koleksinya adalah fragmen-fragmen tubuh manusia yang dibuat berdasarkan regio dan sistem dengan tujuan untuk pembelajaran anatomi manusia. Tidak ada yang sifatnya purba, kecuali masa. Karena penghuni museum ini pernah hidup beberapa saat lalu. Belum melewati masa. Ataukah ada batasan yang jelas tentang masa?

Beberapa waktu lalu, bagian Anatomi FKUB meresmikan Museum Anatomi. Menjadi kebanggaan tentunya bagi sebuah kerja keras. Diresmikan oleh rektor yang konsekuensinya dikuntit oleh banyak media, cetak maupun audio visual, minimal yang lokalan-lah. Inilah sumber permasalahannya. Kami selaku tuan rumah sangat mengkhawatirkan terlibatnya media massa, sehingga sejak semula memang tidak mengundang peliput berita. Karena sesuatu yang akan diresmikan ini menyangkut harkat manusia terutama dari kacamata ketimuran. Ada koleksi janin dari berbagai tahap perkembangan (hmm…mungkin ada yang keberatan dengan istilah ‘koleksi’), potongan hingga tubuh manusia utuh, sistem pencernaan, hingga sistem saraf. Dan tanpa warning sebelumnya, para wartawan itu menjadikan mereka sebagai obyek berharga untuk menaikkan omzet dagangannya. Tidak mengejutkan kalo liputannya bertahan di halaman depan Jawa Pos hingga 2 hari berturut-turut dengan judul yang bombastis. Museum Anatomi, dari Janin, Jeroan, hingga Manusia Utuh. Dan celakanya lagi, mereka juga menuliskan: Dibuka Untuk Umum. Walaupun dalam brosur yang diedarkan tertulis ‘dengan rekomendasi dekan dan instansi yang mengirimkan’. Dan dibuka untuk kepentingan pendidikan anatomi semata. Hhh…di-cut habis, seperti ‘habislah kita’ esok harinya setelah berita tersebut diterbitkan. Masyarakat umum berduyun-duyun berkunjung dengan tujuan “Untuk melihat-lihat”, sebagian mungkin penasaran, apakah janin yang dipamerkan adalah anak yang kemarin aku gugurkan, ato apakah kakekku yang kuusir kemarin termasuk salah satu koleksi museum ini (ini sih karanganku aja…hehehe). Tentu saja mereka ini kami tolak, dengan cara yang paling halus hingga yang paling kasar (kalo mereka ngotot). Museum Anatomi, mungkin hal ini tidak mengejutkan bagi masyarakat di kultur tertentu, tentunya tidak di Indonesia. Dimana pada umumnya jenazah dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dimakamkan bahkan didoa’kan hingga 1000 harinya.

Ternyata begini rasanya ‘kecolongan’.