Hujan, Cinta, Bahagia, dan Utopia

“Menutup episode ‘Hujan Nopember’, ada lagu manis dari Utopia yang kami sajikan untuk ruang dengar Anda.  Semoga kenangan hujan selalu datang bersama bahagia buat Anda yang sedang di perjalanan, menunggu seseorang, nongkrong dengan teman, pacar, maupun keluarga.  Dan yang sedang sakit, semoga cepat sembuh…” *udah persis penyiar radio belum?* 😛

Melogikakan Cinta

Lama juga saya absen menulis topik tentang cinta lantaran sibuk dengan urusan ilmiah. Apa cinta tidak ilmiah? Owh, tentu saja setiap laku kita – termasuk cinta — selalu mempunyai dasar ilmiah, itu sudah sunnatullah.  Jadi, boleh dong melanjutkan pembahasan ini 😉

Topik cinta ini kelihatannya diminati banyak orang. Karena cinta itu penuh rahasia, bikin penasaran, dan seringkali mengundang tanda tanya. Apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan kata tanya lain. Lalu saat si penanya tidak mendapat jawaban, cinta dituduh sebagai makhluk absurd yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seperti quote berikut yang saya dapat dari seorang teman:

“Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang menghampiri kita. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Dan kita tidak pernah tahu alasan apa Tuhan memberikan cinta. Tidak ada yang salah.”

Quote ini menarik. Karena menurut saya ‘kita tahu’. Menjadi jatuh cinta selalu diawali proses yang sangat logis dan disadari. Tiap proses tersebut mempunyai tahap dan selalu tersedia check-point di setiap tahapnya. Tapi, pertama-tama kita harus bedakan antara proses jatuh cinta dan jatuh cinta itu sendiri. Karena, cinta itu tabir, yang membuat hal-hal logis menjadi tidak logis. Jadi, kalau tidak mau jatuh cinta, perhatikan baik-baik warning-sign dan lakukan pemeriksaan ketat di setiap check-point yang tersedia.

Kenapa?

Karena makin lama warning-sign itu akan makin kabur disebabkan oleh kesadaran yang makin turun. Itu yang diibaratkan sebagai ‘pusaran cinta yang menghanyutkan dan menenggelamkan’ oleh para pujangga *alamakjaaan. Nah, sebelum “help,help,” waspadalah dengan tiap prosesnya.

Prosesnya adalah seperti berikut:

1. Pertemuan.

Pertemuan itu tidak terbatas di dunia nyata saja, tapi juga di dunia lain, eh, dunia maya (misal: chat-room). Pertemuan bisa terjadi secara sengaja, tidak disengaja, maupun cuma iseng. Sedang kurang kerjaan lalu iseng mencari jejak teman yang dulu pernah naksir. Nah, iseng banget kan? Bagaimanapun, pertemuan ini mutlak ada, pun dengan mereka yang ngaku-ngaku cinta pada pandangan pertama. Proses ini hampir tidak bisa dielakkan kecuali oleh ‘perempuan dalam pasungan yang dipingit di tengah hutan seorang diri tanpa ponsel atau alat komunikasi lain’. Eh, potensial jatuh cinta sama beruk atau macan ini ya? Tapi ndak lah, buktinya Tarzan aja nunggu Jane muncul. Hehehe..

Antagonis: Jangan bertemu (online maupun offline).

2. Cocok.

Kita pasti tahu orang seperti apa yang ‘berpotensi’ kita jatuhi cinta atau minimal kita sukai. Maksud potensi disini kalau kita suka dengan orang yang wangi bukan berarti semua orang yang wangi akan kita cintai, masih ada tahap seleksi berikutnya. Sebetulnya disini sudah ada check-point, orang yang tidak wangi atau bau terasi akan tereliminasi *ieewh. Kecocokan bisa dicapai melalui komunikasi. Misalnya sama-sama menganggap Pulau Lombok sebagai tempat tujuan wisata terbaik, kemudian saling bertukar informasi tentang spot-spot menarik yang ada disana, lalu membayangkan bisa pergi kesana berdua. Hohoho.. Kecocokan akan menyeret kita ke dalam comfort-zone. Suatu tempat yang aman dan damai, dimana nyaris tidak ada defense-mechanism maupun pertengkaran saat kita cocok dengan seseorang.

Antagonis: Jangan berkomunikasi apalagi kalau hanya berdua, termasuk diantaranya dengan bahasa isyarat apalagi bahasa tubuh, hehe..

3. Tertarik atau suka.

Tertarik itu identik dengan mendekat. Sama saja kalau kita suka ngemil coklat, rasanya selalu ada magnet yang membuat kita ingin mendekati rak coklat saat di sebuah toko. Begitulah, topik-topik percakapan menjadi berkembang lebih akrab dan intim. Comfort-zone bergeser menjadi happy-zone, zona bahagia. Dan kita semua sudah mahfum bahwa tidak seorang pun ingin kehilangan kenyamanan dan kebahagiaannya. Maka, unsur subyektifitas pada proses ini menjadi sangat kental. Perasaan mulai terlibat.

Antagonis: Buat jarak, baik dalam dimensi ruang maupun waktu.

Karena kalau tidak begitu, akhirnya akan terjadi jatuh cinta *eaaaa… >>> sambil nari-nari keliling pohon ala Shah Rukhan dan Aisywara Ray* (maaf, taunya cuma dua orang itu) 😀

Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat pada garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.
Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.

Cinta itu sebetulnya seperti selimut yang membungkus semua proses tersebut hingga logikanya tidak kelihatan lagi. Menjadi tabir yang kadang-kadang membuat orang lupa apa yang membuatnya jatuh cinta pada pasangannya. Lalu mengatakan bahwa cinta itu datang begitu saja, tidak perlu alasan. Lupa pada proses yang sudah dilaluinya.

Ada juga istilah lain dalam cinta. Namanya syarat. Cinta itu sebetulnya bukan tanpa syarat. Tapi syarat dan ketentuan selalu berlaku dalam prosesnya. Hanya saja, dilakukan tanpa terasa. Seperti tentang meluangkan waktu. Kalau sudah cocok, waktu yang kamu berikan pada si dia sebetulnya adalah syarat yang kamu berikan dengan ikhlas. Itu yang membuatnya terasa ringan. Jadi bohong kalau cinta itu pengorbanan. Yang mengatakan cinta itu pengorbanan adalah orang-orang di luar lingkaran cintamu. Sang pencinta tidak akan merasakan itu. Tidak logis? Ya, karena kita telah sampai pada titik ddimana logika sudah diselimuti cinta.

Jadi, buat yang ingin jatuh cinta pada seseorang, jalani tahap-tahap tersebut. Bertemu, cocok, tertarik, lalu dengan sendirinya akan bahagia. Nah, bertemu itu bisa dilakukan dengan sengaja. Tapi belum tentu cocok.

Bagaimana agar cocok?

Kalau cinta memang harus hadir, sampaikan pada targetmu hal-hal yang kamu suka. Bukaan, bukan mau menyetir kepribadian orang. Nanti targetmu malah jadi berkepribadian ganda loh. Toh kalau targetmu tidak ingin melanjutkan langkah bersamamu dia akan pergi juga (ga tahan dengan syarat yang kamu ajukan > seleksi alam > dia bukan untukmu). So, let her/him go. Karena salah satu komponen cinta itu adalah kerelaan, bukan keterpaksaan.

Akhirnya, jatuh cinta itu pilihan yang disengaja dan merupakan risiko konsekuensi logis dari dua insan yang bertemu, cocok, tertarik, lalu bahagia berdua atau merana bila terpisah (Hiks!). Lalu, menjawab quote sebelumnya, sebetulnya kita sudah tahu pada siapa akan mengambil risiko kejatuhan cinta. Makhluk imut bernama cupid itu tidak asal-asalan mengarahkan panahnya. Karena panah hanya akan kena pada orang yang ‘dekat’.  Termasuk juga tentang benar dan salah. Bukan cintanya yang salah, tapi check-pointnya yang tidak berfungsi dengan baik. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, sebetulnya terserah kita 🙂

Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta.  Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan ;)
Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan 😉

Perjalanan Mencari Cinta

Terinspirasi sebuah tulisan di blog Romeogadungan, saya dan teman saya sepakat membuat ulasan singkat tentang perjalanan mencari cinta berdasarkan sudut pandang masing-masing. Ceritanya tentang Tinman, tokoh di Wizard of Oz, yang bolak-balik jatuh cinta dan berakhir perih hingga hatinya menjelma menjadi kaleng. Tinman ini lalu berusaha mencari penyihir untuk meminta sebuah hati agar bisa kembali percaya bahwa cinta itu ada. In short, dia kehilangan kepercayaan tentang cinta. Jadi cowok cold… bukan cool. Dingin kayak kaleng, tapi bukan banci kaleng lho yaa… Yuuuk *dadahdadahmanja.

Pertanyaannya adalah, sesulit itukah meraih cinta?

The path of love...
The path of love…

Saya tidak tahu terminologi yang lebih tepat dari kata ‘mencari’ seperti yang dipakai dalam tulisan tersebut. Tapi saya pribadi lebih senang memakai kata ‘menemukan’. ‘Mencari’ itu kesannya niat dan perlu usaha, sedangkan menemukan itu bisa ‘tidak sengaja’. Ini karena saya dasarnya males. Untuk hal yang katanya indah saja, biarlah datang sendiri, tanpa usaha. Masalahnya, sesuatu yang tidak sengaja terjadinya accidentally, di luar ekspektasi dan di luar rencana. Syukur-syukur kalau sejalan dengan rencana utama, tapi kalau tidak sejalan? Wah, bisa jadi bad accident yang bisa menyeret ke dalam arus hubungan yang rumit. Dalam hal ini cinta menjadi mudah, karena tanpa usaha, tapi handle-nya susah karena tanpa rencana. Sedangkan bagi yang pakai usaha, tantangannya adalah kegagalan. Bolak-balik gagal bisa jadi Tinman. Mati rasa dan apatis sampai nyari dukun (analog dengan penyihir versi Tinman) untuk transplantasi hati.

Entah mana yang lebih baik dalam urusan jatuh cinta, menjatuhkan diri dengan terencana versus tidak sengaja jatuh. Mereka yang motto hidupnya ‘let it flows’ mungkin lebih excited kalau tidak sengaja jatuh dengan risiko salah lubang. Sedangkan yang hidupnya penuh rencana, akan lebih suka menjatuhkan diri di tempat yang aman dan empuk, walaupun mendapatkan tempat ideal menjatuhkan diri dengan damai itu sulit. Jadi jangan heran kalau jalannya bakal lamaaa sampai hatinya jadi kaleng.

Akhirnya, sulit mudahnya meraih cinta sangat tergantung pada orientasi masing-masing individu. Kamu mau yang usaha dan impact-nya seperti apa?

Tentang Rama dan Sinta #1

Pernah mendengar atau bahkan membaca tentang kisah Ramayana? Legenda dari negeri India dengan latar belakang kebudayaan Hindu ini lebih saya kenal dari beberapa tokoh utamanya, yaitu Rama, Sinta, Rahwana, dan Hanoman. Ceritanya, yang saya tahu, Sinta diculik Rahwana dan diselamatkan oleh Hanoman. Terus Rama? Ya Hanoman pergi menyelamatkan Sinta atas perintah Rama, suami Sinta. Begitulah. Singkat, padat, jelas, tidak bermakna. Hahaha… Terus terang saya lebih senang dengan cerita Perang Mahabharata tentang Pandawa Lima melawan Kurawa yang memperebutkan tanah Astina. Sampai-sampai saya pernah memakai nama Arimbi, ibunya Bima, sebagai nama udara jaman ‘break-breakan’ di pertengahan tahun ‘80an.

Koleksi wayang milik kenalan saya.  Seingat saya yang putih Hanoman, hitam Rahwana, merah Sinta, biru Rama. (Courtesy of BS)
Koleksi wayang milik kenalan saya. Seingat saya yang putih Hanoman, hitam Rahwana, merah Sinta, biru Rama. (Courtesy of BS)

Rupanya ada seorang kenalan saya yang terkesan dengan kisah Ramayana. Uniknya, kenalan saya ini mempersonifikasikan isi kotak pensilnya dengan para tokoh dalam kisah Ramayana. Menurutnya, kisah Mahabharata terlalu hitam-putih (mungkin perlu diusulkan untuk tayang di acaranya Deddy Corbuzier ya). Sedangkan kisah Ramayana lebih realistis, karena di dunia nyata tidak ada orang yang benar-benar betul atau salah. Selalu ada sisi abu-abu pada diri seseorang. Saya, yang tidak tahu banyak tentang kisah Ramayana, manggut-manggut saja. Sok setuju.

Dan inilah abu-abunya…
Dalam kisah Ramayana, Rama yang setahu saya suami baik-baik yang memperjuangkan penyelamatan istrinya dari cengkeraman raksasa Rahwana ternyata kemudian meragukan kesucian istrinya. Setelah selamat, Rama meminta Sinta menjalani screening, memasuki kobaran api untuk membuktikan kesucian dirinya. Sinta pun diterima kembali oleh Rama karena api tidak mau memakan dirinya. Ini bukti pertama kalau Rama bukan suami yang baik. Agak tidak jelas juga maunya Rama ini apa karena setelah itu dia membuang Sinta yang sedang hamil di hutan sendirian. Rama masih juga meragukan Sinta. Belum lagi setelah anak kembar Sinta lahir. Anak-anak ini kemudian menantang Rama yang menelantarkan Sinta. Dan Rama melayani tantangan mereka. Sinta yang tidak kuasa melihat perang Bapak-Anak akhirnya memilih ditelan bumi. Selesai.

Hmm… Kalau saya jadi Sinta, pasti langsung ‘ilfil’ ke Rama di ujian pertama sewaktu diminta memasuki kobaran api. Bukannya tidak ingin membuktikan kesucian saya, tapi suami seperti apa yang tega istrinya terbakar. Dia lebih percaya pada api daripada istri. Iya kalau apinya jujur, kalau apinya niat mengadu domba, huft… bisa hangus betulan. Apalagi saat dibuang di hutan dalam keadaan hamil. Haduuuh, dijamin minta pisah saja kalau caranya seperti itu. Tapi terlepas dari bicara soal cinta lho ya, karena logikanya itu sama saja dengan niat membunuh saya dan anak yang saya kandung secara perlahan. Atau membunuh dengan cara cepat kalau di hutan langsung ketemu macan lapar. Dan entah apa yang dipikirkan Sinta saat menuruti semua kemauan Rama. Mungkin budaya yang yang mengharuskan istri selalu nurut apa maunya suami – walaupun dengan membahayakan dirinya sendiri – atau karena ketergantungan ekonomi? Hehe… Karena kalau bicara tentang cinta, semuanya akan menjadi out of logic. Apapun akan dilakukan untuk membuktikan cinta. Walaupun kita tidak tahu pasti, apakah Sinta benar-benar ‘tak tersentuh’ saat diculik Rahwana. Kondisinya sebagai korban penculikan tentu saja selalu dalam tekanan. Ketidakmampuan api membakar dirinya bisa jadi karena apinya yang ‘tidak tega’. Tapi keputusannya untuk tetap bersama Rama perlu diapresiasi. Sinta belum tentu putih, bisa jadi dia juga abu-abu. Hanya saja, pada masa dibuatnya cerita ini belum dikenal paternity testing.

Kenapa Harus Move On?

Sure! Ketawa-ketawa gak jelas membaca isi blogku belakangan ini. Setengah tidak percaya kalau ini blogku. Jangan-jangan nyasar ke blog ABG galau??! Uh!!! Tapi, celakanya, ini memang blogku *sigh..

Bukannya sibuk organize blok Life Cycle di awal semester ini, eh, malah terlibat urusan ‘Love Cycle’. Berawal dari tulisan tentang Siklus Air, lalu naik dan kena efek dumping di Selesai, sekarang – seharusnya — memasuki fase move on. Kenapa seharusnya? Karena ‘tidak harus’, kan terserah yang menjalani. Persis seperti yang tercantum di gambar berikut:

Love Cycle
Love Cycle

Tidak harus move on kan? Ada titik balik yang bikin hubunganmu kandas alias terjun bebas atau bisa jadi bouncing. Maksudnya ni kamu akan berdamai dengan hatimu. Kamu mungkin jatuh cinta lagi atau berbaikan dengan si dia (see pic.). Intinya, gak sampai jatuh nyungsep sampai meratap-ratap. Tentang bagaimana bisa memiliki daya tahan hati yang baik sepertinya tergantung ‘jam terbang’.

Selain daripada itu, move on itu perlu alasan. Setidaknya menurut Mitch Albom dalam ‘Five People You Meet in Heaven‘ ada 3 syarat untuk bisa menjalaninya, yaitu kamu harus tahu:
1. Mengapa kamu merasakan itu
2. Apa yang sudah kamu lakukan
3. Kenapa kamu sudah tidak membutuhkan perasaan ini lagi.

Nah, ketiga point tersebut harus teridentifikasi dengan jelas untuk menentukan sisi kontralateralnya. Apabila ada yang tidak terpenuhi atau tidak dipahami, why should you move on?
Belum lagi efek sampingnya yang bisa bikin mata iritasi, pilek, sampai-sampai bisa delirium bahkan depresi. Gawat kan! Efek samping lain hampir selalu menyedihkan dan mengharu biru seperti yang dituliskan teman saya disini.  Kalau kamu iseng mencari tips move on, dijamin hampir semua isinya tidak ada yang bikin bahagia. Jadi, sebaiknya hal-hal tersebut diatas harus jelas dulu.

Anyhow, tidak usah dibaca sampai kening berkerut begitu, ini sekedar jawaban — yang belum berhasil menjawab — pertanyaan seorang dokuga. So, sekarang saatnya kembali ke modul Life Cycle 🙂

Harta yang Harus Dimiliki

Ada saatnya kita perlu menyepi, mempunyai waktu untuk diri sendiri, melakukan telaah atas semua langkah yang lalu, kini, dan rencana-rencana.  Ada kalanya juga masa itu menjadi titik tolak suatu resolusi, sebuah janji, dengan harapan membawa kebaikan di masa datang.  Mudah nian menuliskannya, dan nyatanya memang terasa mudah dilakukan kalau masih sendiri.

Menjadi sangat kompleks bila kita sudah menikah.  Seberapa kompleks dan sulitnya sangat tergantung pada interaksi keduanya sehingga ada kesepakatan akan jalan yang telah dan akan dilalui.  Sungguh semakin sulit bila pasangan itu berjalan di jalur yang berbeda dan bukan tidak mungkin ini terjadi.  Banyak sekali saya jumpai, setelah bertahun-tahun bersama, mereka justru memilih berada di jalur yang tidak sama.  Entah lelah karena tidak mampu mendapatkan titik temu, atau memang sudah menjadi keputusan untuk berbeda sejak semula.  Alasan mereka untuk bertahan pun entah, seperti halnya alasan mereka untuk tetap berbeda.  Padahal betapa indah seandainya mereka menempuh jalan yang sama, saling mengingatkan untuk satu alasan yang sama, menuju target yang sama demi kebaikan bersama.

Apakah menjadi ‘sama’ adalah tawar-menawar dan timbang-menimbang? Saya yakin tidak.  ‘Sama’ disini seharusnya mengacu pada standar yang pasti dan terukur.  Sehingga bukan proses pelik yang perlu energi untuk mencapai kesepakatan.  Analoginya seperti ISO, ‘sama’ hanya bisa dicapai kalau pedomannya dan interpretasi terhadapnya sama.  Saat menghadapi auditor ISO lalu, walaupun buku pedomannya sama, tapi kalau interpretasi beda yang ada hanya “Ooooo…” panjang saat auditor menjelaskan pasal-pasal tertentu.  Dalam pernikahan juga begitu, walaupun buku pedomannya sama, seringkali auditornya beda, sehingga interpretasi jadi beda.  Mari kita simak hadits berikut:

Suatu hari, Tsauban r.a. bertanya kepada Rasulullah saw.,”Apakah harta terbaik yang harus kita miliki?”, Beliau menjawab,”Lisan yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri (suami) beriman yang membantu suami (istri) nya meningkatkan imannya.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Mungkin lebih indah lagi kalau suami adalah guru bagi istri.  Karena peran suami sebagai qowwam seharusnya mencakup seluruh aspek kehidupan, menggandeng istri menuju keabadian surga.  Dengan begitu, bisa berlaku sebaliknya, istri akan membantu suami meningkatkan imannya seperti pada hadits diatas.  Tapi rasanya hal ini sudah jarang sekali dijumpai (red: CMIIW).  Bahkan saya sangat setuju bila berjumpa teman sepantaran yang masih mencari seseorang yang bisa menjadi qowwam sehingga terlambat menikah atau menunda menikah.  Betul sekali bahwa menikah melengkapi setengah dari agama karena pencapaiannya sungguh tidak mudah.

(Picture was copied from http://mediasholeha.files.wordpress.com/2009/12/embun.jpg & http://pixels.pixeltango.com/wp-content/uploads/2010/08/44-We-will-stay-forever.jpg)

Sitokin Cinta

Beberapa malam lalu saya berkunjung ke sebuah rumah makan.  Rumah makan yang cukup ramai untuk sebuah hari Kamis malam.  Menyediakan fasilitas lesehan dan meja kursi, saya memilih tempat lesehan di sebuah sudut.  Sambil menunggu pesanan datang, saya mengamati pengunjung yang lain.  Kebanyakan adalah pasangan muda, mungkin sudah menikah, mungkin sedang berpacaran.  Sebagian keluarga muda dengan anaknya.  Ada juga anak muda yang datang berombongan, ada yang putri atau putra saja, ada yang campuran — kayak main bulutangkis ya –.

Dari semuanya, saya tertarik mengamati cara mereka saling memandang.  Entah betul entah tidak, saya bisa membedakan pandangan ‘cinta’ dan pandangan yang ‘biasa saja’.  Yang menjadi kontrol negatif adalah kelompok anak muda yang sama gender – dengan asumsi, tidak ada penyimpangan seksual lo –.  Saya melihat pandangan cinta pada kebanyakan pasangan muda.  Sambil ngobrol, mereka sebentar-sebentar senyum, tertawa, melirik, agak curi-curi pandang gitu – tentu melirik pasangannya –.  Walaupun ada pasangan yang kelihatan membicarakan sesuatu yang serius, tapi tatapan cinta itu masih bisa terbaca di mata mereka.  Menyenangkan sekali melihat tatapan seperti itu, seolah aura cinta mereka membawa hati kita ikut tersenyum.  Walaupun tidak ikut dicintai yaa…

Kemudian saya membandingkan dengan keluarga muda yang membawa anaknya.  Biasanya si orangtua mengambil tempat duduk bersisian, tidak berhadapan seperti pasangan yang tidak membawa anak.  Agak sulit menilai ada tidaknya pendar cinta di mata mereka.  Acara makan juga menjadi berwarna karena tingkah polah anak-anak.  Jadi ya semakin jarang kesempatan mereka untuk bertatapan dan saling tukar sinyal cinta.  Tapi ternyata ada refleksi cinta dalam bentuk lain.   Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi dengan anak-anaknya, saya seperti melihat cinta.  Mungkin bukan cinta seperti pasangan yang tidak membawa anak, tapi cukup representatif.  Sayangnya, saya kesulitan melihat interaksi sinyal cinta antara kedua orangtuanya.

Sambil menyantap makanan pesanan, saya membuat sebuah analogi.  Cinta itu suatu substansi, zat, — kalo di imunologi mungkin seperti sitokin – yang dirilis pada saat ligand-reseptor bertemu.  Dalam interaksinya, permukaan ligand-reseptor harus cocok, baru sitokin bisa dirilis.  Walaupun ada juga yang memerlukan mediator lain yang memperantarai.  Seperti sitokin, cinta bisa diukur dan wujud, bukan hanya bisa dirasakan.  Sitokin yang dirilis ini bisa mempengaruhi milieu sitoplasma.  Saya termasuk organela sel lain yang terkena imbas dirilisnya sitokin cinta ini, sehingga saya bisa ikut merasa bahagia berada di dekat orang yang saling mencinta.

 

Antitesis

Kadang hidup begitu tenang

hingga tak kurasa riak di dalamnya

… mengalir saja …

menuju muara keyakinan dan keabadian cinta

Adakala gelombang begitu tiba-tiba

mengikis semuanya

hingga tiada apa kupunya

pun segenggam keteguhan rasa

“… demi segala pasang surut, aku hanya ingin bahagia

dan demi dalamnya palung laut, tidak ada hidup yang sempurna…”

 

(The picture above was taken by dewi mustikaningtyas at Port Dickson, Seremban, Negeri Sembilan State, Malaysia, 2008/12/28)