Kotak Pandora

Pernahkan kalian mendengar tentang kotak Pandora?

Untuk yang belum tahu, mari saya jelaskan sedikit tentangnya. Pandora adalah manusia perempuan pertama di dunia versi mitologi Yunani. Hermes memberinya nama Pandora yang artinya “mendapat banyak hadiah”. Pandora kemudian menikah dengan Epimetheus. Pada hari pernikahan mereka, dewa-dewa memberi hadiah sebuah kotak yang indah dan Pandora dilarang membuka kotak itu. Sampai disini saya merasa agak ganjil, namanya hadiah harusnya boleh dibuka ya, bahkan sudah lazim kalau dibuka di hadapan pemberinya. Hehe.. tapi namanya juga dongeng, terserah yang ngarang. Tentu saja Pandora penasaran dengan isinya, sampai akhirnya dia membuka kotak itu. Pada saat dibuka, terlepaslah sesuatu yang mengerikan dari dalam kotak itu. Ternyata Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Masa tua, rasa sakit, wabah, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan malapetaka lainnya. Seluruh keburukan itu menjangkiti umat manusia, kecuali satu benda yang tertinggal di dalam kotak Pandora, yaitu harapan. Benda ini pun keluar saat Pandora menunjukkan kotak itu pada suaminya. Hingga saat ini manusia mempunyai kebencian, kejahatan, penyakit – dan harapan. Harapan ini yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala keburukan tersebut.

Membuka kotak Pandora

Baru-baru ini saya mengalaminya, membuka kotak Pandora. Ah, tidak.. rasanya bukan analogi yang pas juga. Karena yang keluar dari sana bukan keburukan, tapi lebih tepat disebut kejutan-kejutan. Telur yang berubah menjadi kupu-kupu, monyet, ular, burung, kucing, sapi, kunang-kunang, ikan, harimau, gajah, sampai dengan dinosaurus dan tyrex.. haha, kenapa jadi kebun binatang ya? Tapi nyatanya kita semua memang berasal dari telur. Yang waktu itu belum menetas atau berada di tahap larva sehingga masih mirip-mirip satu sama lain.

Ceritanya begini, pada pertengahan tahun 2013 lalu saya mengontak teman-teman alumni SMP yang sudah berpisah selama 25 tahun. Berawal dari beberapa orang saja yang bertemu secara tidak sengaja di dunia maya (thanks to Leonard Kleinrock, tidak kenal juga sih, tapi dari browsingan, beliau ini dianggap bapaknya internet alias penemu internet), hingga melalui informasi dari hantu ke hantu (numpang istilahnya Trio Detektif) kami berhasil mengumpulkan kurang lebih 90an alumni. Lima puluh orang diantaranya bergabung di grup Whatsapp, sesuai kapasitas maksimalnya, 50 anggota. Dan lebih banyak lagi yang berkumpul di grup Facebook dengan bendera FASE389 Community. Niatnya, dalam waktu dekat kami akan mengadakan reuni perak. Berbagai persiapan dilakukan termasuk membentuk kepanitiaan. Hingga terwujudlah reuni perak angkatan kami pada tanggal 12 Januari 2014 lalu.

Remaja vs Dewasa Menengah

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah seseorang. Telur kupu-kupu saja perlu waktu lebih dari sebulan untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Bukan analogi yang pas ya.. hehe.. Tapi manusia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan (ya iyalaah..). Unsur-unsur yang berubah dalam diri kita adalah fisik, kognitif, dan emosional serta sosial. Pertumbuhan adalah sesuatu yang bersifat fisik seperti berat dan tinggi badan seseorang, sedangkan perkembangan melibatkan unsur kognitif dan psikososial. Alat ukurnya tentu berbeda. Misalnya IQ chart untuk mengukur kemampuan kognitif atau Denver chart untuk mengukur perkembangan psikososial anak-anak.

Berdasarkan tahapan perkembangan manusia, dulu kami berpisah saat kurang lebih berumur 15 tahunan. Saat itu kami berada pada tahap adolescence (remaja, 11-18 tahun) dan saat ini bertemu lagi di tahap awal middle adulthood (dewasa menengah, 40-65 tahun). Kebanyakan dari kami memang baru bertemu lagi setelah 25 tahun itu. Hanya sebagian kecil saja yang masih berkomunikasi setelah perpisahan SMP dulu. Saat lulus SMP itu kami baru saja mengalami masa puber, tapi belum mencapai ukuran dan kematangan tubuh dewasa. Suara sudah ngebass tapi kumis belum tumbuh, haid sudah beberapa kali datang tapi badan masih seukuran anak SD. Serba belum jelas lah, kurang lebih setara dengan larva, belum mencapai bentuk akhir. Hehe..
Saat itu cara berpikir kami masih abstrak atau kata lainnya belum jelas mau ngapain, cita-cita saja masih berubah-ubah (geje, red), tapi idealis dan serius dalam sekolah. Pikirannya masih jarak pendek. Pencapaian hidupnya pakai skala semesteran atau caturwulanan. Remaja ini juga sedang memantapkan identitas seperti menetapkan fungsi mandirinya dalam keluarga. Misalnya punya tugas cuci piring atau cuci motor, ya udah, itu akan menjadi identitasnya. Biasanya remaja menempati kasta terendah dalam hirarki keluarga. Sudah bisa disuruh-suruh tapi belum punya bargaining power. Haha..

Sedangkan dewasa menengah yang diawali pada usia 40 tahun (walaupun beberapa dari kami baru berumur 38-39 tahun saat bertemu), mempunyai karakteristik mencapai titik tertinggi dalam karir dan posisi kepemimpinan, istilahnya, sudah mentok apapun posisinya saat ini. Dalam hal ini kami sedang mengawali fase ini. Artinya berada di posisi awal kemapanan status. Sudah mulai mantap! Biasanya juga sudah punya tanggungjawab terhadap keluarga. Mempunyai anak dan ikut menunjang kehidupan orangtua. Pada umur segini, sudah mulai ada kepedulian pada kematian. Sudah tidak mikir senang-senang saja. Sudah mulai insap!

Here We are!

Inilah kami sekarang, selama 25 tahun itu, dari yang geje menjadi konkrit, yang senang ngalor ngidul jadi serius, dan yang biasa belajar tekun saat ujian (biasanya) menjadi sukses. Ini berlaku juga untuk yang setia meminta contekan dari teman yang pintar (merasa,red). Yang kurus kerempeng menjadi besar berotot, yang nangisan menjadi pemberani (any brave), yang culun menjadi anggun, yang ingusan menjadi pilek.. eh, sama itu sih. Iya, karena anak kecil/remaja memang rentan infeksi, sistem imunnya belum mantap, salah satunya gampang kerasukan virus influenza yang pintar menyamar, makanya dibilang anak ingusan (ilmiyaaaah…). Dan sungguh ajaib interaksi interpersonal di awal dewasa menengah ini, amazing menurut saya. Ibarat suatu bangunan yang baru berdiri megah, ibarat kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, semuanya indah, menakjubkan, mengagumkan, dan memabukkan.. eh.. ney ney ney. Haha.. Semua tampil berkilau, baru keluar dari kawah candradimuka tahap awal dewasa (early adulthood) dengan masing-masing warna dan bentuknya.

Bagi yang warna dan permukaannya cocok bagai protein ketemu reseptor berpotensi melipir dan mojok. Jadi rekanan dalam pekerjaan, hobi, atau bahkan sekedar sahabat ngrumpi seperti disini. Tentu saja interaksi warna dan bentuk yang beraneka rupa itu juga berpotensi menimbulkan friksi. Tapi akan selalu ada harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik dan lebih bersinergi. Semuanya berawal dari satu hal yang menyatukan kami yaitu kerinduan pada masa remaja, saat tidak ada beban hidup dan hiruk pikuk dunia yang dulu seolah tidak tampak, saat tahapan geje dalam hidup kami.

Fase389

Jakarta-Malang: Catatan Menuju Sabar #2

Akhirnya pesawat landing pukul 20.45.

Saya tertidur pulas di sepanjang penerbangan tadi dan baru betul-betul terbangun saat pesawat sudah berhenti sempurna dan Anda diperbolehkan melepas sabuk pengaman (kata mbak pramugari). Berjalan cepat menyusuri lorong kedatangan dan dengan mata terpicing masih mengantuk memilih travel tujuan Malang. Tawaran pertama dari seorang calo travel segera saya terima. Yang penting cepat sampai rumah dan terkapar lagi dengan manis di kasur.

Untuk perjalanan Juanda-Malang (kota) ini saya dikenai tarip 80 ribu – ini tarip standar Juanda-Malang — dan si Calo bilang travel akan berangkat 10 menit lagi. Transaksi beres.

Penumpang lain adalah seorang Ibu TKW yang baru pulang dari Hongkong. Hasil percakapan basa-basi dengan si Ibu: Ibu itu naik penerbangan langsung Hongkong-Surabaya menumpang Cathay Pacific, sudah tujuh tahun jadi TKW di sana, dan sangat terkejut saat tahu saya kena tarip 80 ribu karena dia harus membayar 250 ribu untuk jarak tempuh yang sama. Dengan setengah melotot (mungkin karena ngantuk juga) dan setengah berteriak (saya rasa karena lapar) Ibu itu memprotes ketidakadilan yang diterimanya. Pikir saya, ini pasti salah satu praktek nyata pemerasan terhadap pahlawan devisa negara di Indonesia. Mentang-mentang baru datang dari bekerja di luar negeri mereka menjadi ajang bulan-bulanan orang-orang yang ingin ikut mencicipi kesuksesan mereka tanpa susah payah.

Saya sudah bermaksud untuk mengompori si Ibu ini untuk demo dan protes ke mas-mas Calo tadi saat melihat ke bangku belakang yang tetap terlipat. Dan disanalah jawabannya. Ruang belakang dipenuhi oleh barang bawaan si Ibu. Koper ukuran terbesar, agak besar, sedang, kecil, dan berbagai bungkusan lain tertumpuk rapi disana. Ya pantas saja kena tarip untuk 3 orang plus 10 ribu jasa angkut. Ya sudah Bu, ini tarip wajar. Yang saya tidak habis pikir, bagaimana cara si Ibu membawa seluruh isi kamarnya ini selama perjalanan tadi. Ya tentu saja masuk bagasi, tapi kan pakai acara pindah tempat juga. Sakti juga si Ibu. Bumi dan langit dengan saya yang sedapat mungkin hanya membawa satu ransel kemanapun dan berapa lama pun saya pergi.

Si Ibu memilih bangku depan sehingga bangku tengah dapat saya kuasai. Niat tidur selonjor pun sudah tersusun di pikiran. Perjalanan malam ini saya harap bisa menjadi pengantar tidur. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sound system di mobil avanza hitam ini memperdengarkan lagu-lagu ala Gangnam Style “Ai lov it mufid mufid…” dengan volume maksimal! Mirip angkot kesurupan di siang hari. Untung saja sopirnya tidak keberatan saat saya minta mengecilkan volume. Mudah-mudahan ini bukan cara si Sopir mengusir kantuk. Karena saya lebih rela diajak disko selama kurang lebih 2 jam daripada tidak selamat sampai rumah gara-gara sopir ngantuk.

Ternyata masalah belum berakhir. Si Ibu meminta AC dimatikan, karena bisa mabuk gara-gara AC. Alhasil, jendela depan dibuka lebar-lebar dan angin malam menerobos kencang ke dalam kendaraan membawa asap truk, bis, dan kendaraan lain yang berkejaran di depan. Bukan dia yang mabuk malah saya yang kliyengan. Itupun belum mampu menyembuhkan mabuk si Ibu.

Mobil berjalan dengan kerja gas dan rem yang tidak sinergi. Gas dan rem berebut dulu-duluan diinjak. Selagi mobil melaju kencang, tiba tiba rem nyerobot maju. Begitu juga saat rem belum selesai sempurna, gas sudah mendahului. Saya menjadi ragu, jangan-jangan sopir ini dulunya pembalap gagal yang banting setir menjadi sopir travel. Kalau cara nyetirnya seperti ini tidak hanya si Ibu yang mabuk, saya juga harus siap-siap kresek. Duuh, sabar, sabaaaarr…. Tapi untungnya cukup si Ibu saja yang muntah-muntah sepanjang perjalanan. Saya bertahan tidak muntah karena muntah itu sama sekali tidak elegan.

Ngebut, ngepot, nikung... :(
Ngebut, ngepot, nikung… 😦

Akhirnya perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Masuk rumah pukul 10.30 dan berkemas sebentar untuk siap-siap… tidur! Karena batapapun enaknya tidur di kendaraan saya masih merindukan tidur di rumah. I miss my pillow… very much

Jakarta-Malang: Catatan Menuju Sabar #1

Beberapa hari yang lalu saya datang ke Jakarta untuk sebuah acara diskusi kasus di FKUI Salemba.

Seperti biasa, tiket CKG-SUB sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Untuk perjalanan pulang, saya memilih penerbangan pukul 19.10, jaga-jaga seandainya acara molor dan lalu lintas Jakarta yang unpredictable. Apalagi banjir Jakarta masih belum surut total.

Ternyata diskusi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal. Pukul 11.30 acara sudah selesai. Karena tidak punya agenda lain, dengan diantar teman saya memilih menunggu pemberangkatan pesawat di bandara Soekarno-Hatta. Lalu lintas juga super lancar. Pukul 13.00 saya sudah ngeprint boarding pass melalui check-in machine Terminal 3 Keberangkatan lalu duduk-duduk di gerai bakmi GM ditemani seporsi bakmi special dengan pangsit basah. Artinya 6 jam ke depan saya akan berada di bandara ini sambil ‘entah-ngapain’. Mungkin begini rasanya penumpang pesawat kalau harus transit berjam-jam di sebuah bandar udara. Ok then, saya bertekad melewatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat agar tidak mati kebosanan. Sekedar informasi, menunggu pemberangkatan kendaraan adalah hal yang tidak saya sukai. Hal ini betul-betul menjadi tantangan untuk kesabaran saya.

Setelah makan dan sholat jamak untuk Dhuhur dan Ashar, tujuan utama adalah membayar hutang tidur. Semalam mata hanya sempat terpejam selama 3 jam. Untunglah di lobi utama lantai 2 tersedia kursi-kursi empuk yang mengelilingi 4 sisi display televisi.

Salah satu sisi display TV
Salah satu sisi display TV

Segera saja pantat mendarat di salah satu kursi kosong yang letaknya di sudut. Lima, 10, 15 menit, setengah jam, sejam, belum bisa tidur juga. Ternyata tidur di tempat umum itu sulit. Bukan karena cemas bawaan hilang, tapi karena akan banyak mata yang mengambil kesempatan memandangi saya puas-puas. Ya, alasan ini memang mengandung unsur ge-er. Hehe…

Akhirnya saya putuskan untuk tilawah. Hal yang kurang bisa dilakukan di rumah dengan tenang. Tidak lama kemudian kantuk mendera. Ini tilawah kok kayak obat tidur sih? Otak mesti diformat ulang nih. Walaupun tidur hanya 10 menitan, tapi lumayan bikin fresh mata dan badan. Terbangun dan bosan… Uh, ngapain ya? Chatting sampai jempol keriting juga sudah. Sampai teman chattingnya bosan kali.

Waktu terus merangkak. Untung saja sudah pandai merangkak, jadi terasa lebih cepat. Mungkin sebentar lagi si waktu belajar jalan dan lari. Bosan lagi. Jalan-jalan di sekitar lobby. Merekam gambar yang menurut saya menarik melalui ponsel. Sayangnya tidak ada teman yang bisa dimintai tolong ngambil gambar narsis. Duduk lagi sampai pantat panas dan meleleh. Lelehannya menyatu dengan plastik pelapis kursi. Kalau begini mudah-mudahan jadi lebih betah duduk.

Waiting...
Waiting…

Akhirnya pukul 17.00 tiba. Empat jam yang menyiksa telah terlewati. Lebih baik nunggu maghrib sekalian di lobi utama sebelum boarding pukul 18.30. Informasinya, adwan maghrib pukul 18.20. Sholat maghrib terpaksa tidak jadi dijamak karena pengantri yang panjang mengular. Setelah boarding, pukul 18.45 saya sudah antri memasuki badan pesawat dan take off tepat pukul 19.20. Ternyata waktu berlari di dua jam terakhir. Perjalanan masih panjang. Masih ada perjalanan Surabaya-Malang yang menanti.

Aku dan Air

Sebentar lagi ranting-ranting akan menjaring hujan dalam basah,
Yang titiknya jatuh dari daunan seperti gutasi,
Mencapai bumi dan meresap ke tanah mengikuti gravitasi,
Ikuti saja alirannya menjumpai arus yang membesar,
Membawanya pada takdir sebuah siklus air…

Mungkin aku juga seperti itu,
Mengulang-ulang cerita pada suatu masa,
Walaupun jalannya akan berbeda,
Berujung entah pada jeram atau kolam,
Lalu naik ke langit dan turun sebagai hujan…

Nyatanya kisah itu tidak pernah benar-benar berakhir…

http://farm1.staticflickr.com/50/149375545_8d73418d05_o.jpg
http://farm1.staticflickr.com/50/149375545_8d73418d05_o.jpg

Jejak Kelana

Kuisi pena dengan pesan cinta,
yang goresannya menyiratkan rasa…
Pada dirimu
Pada jiwamu

Hanya saja aku tak tahu
bagaimana menghapusnya,
Karena tintanya telah lebur
mewarnai hingga sudut hati…

Aku cinta kamu,
cinta yang nyaris menutupi akal

Aku butuh pelita agar tak sesat,
kali ini biar cahaya Ramadhan menuntunku,
untuk menapaki jalanNya…

http://tgportal.net/wp-content/uploads/2013/11/svijeca.jpg
http://tgportal.net/wp-content/uploads/2013/11/svijeca.jpg

Mihrab Cinta

(1)
Aku tak mau berpaling dari cahaya,
Saat kalbu menghamba hanya padaMu…
Yang datang dari khusyu’ dan sujud,
Dan larut dalam lirih dzikir oleh lisan,

Tapi kali ini aku tak mampu,
Membaca ketentuanMu,
Apakah ini jalanku,
Atau karena lalaiku…

(2)
Hamparan sajadahku
Menemani tahajud syahdu
Di sepertiga malamMu

Tafakur aku dalam kabut rindu
Berharap mimpi menjadi nyata
Hening kuberbisik lirih,
Peluk aku dalam cintaMu Tuhan,
Saat penat hati menyimpan asa
dan meredam bara…

Mihrab...
Mihrab…

Langkahku

Tadinya aku ingin menangis
tapi tangis anakku lebih menyayat
lalu aku mencoba menghiba
tapi anakku butuh pelukku
… lantas bagaimana ku gendong dia
bila berdiriku tak tegak?
Sungguh, tak kan kubagi lemahku dengannya.

The picture was reproduced from “Maroccan Woman Carrying Babies” by Miki De Goodaboom

Kali ini tak kurasa lagi
jalan kasar dan terjal yang memerihkan kaki
hanya untuknya tak lagi ku memintamu
dan ku ayun langkah tanpa dirimu…

 

Pengemis dan Kucingnya

Setiap kali saya dan anak sulung saya melewati jalan di sisi timur pasar Tawangmangu di kota tempat tinggal kami, selalu terdengar komentar anak saya,
”Bu, pengemis itu mesti sama kucing itu.”
Dan saya yang saat itu hampir selalu sedang tarik gas dalam-dalam karena harus segera menjemput si kecil cuma bisa celingak-celinguk,
”Mana, mana… ?”,
dan ,”Yaahh… sudah lewat Bu. Besok kita lihat lagi ya, pasti masih dengan kucing itu.” Jawabnya.
Akhirnya pagi ini saya berkesempatan melihat ‘pengemis dan kucingnya’ yang selalu menjadi perhatian anak saya. Seorang perempuan tua duduk beralas kain di emper sebuah toko. Disebelahnya ada tas usang, payung, dan seekor kucing belang bergelung kedinginan. Saya teringat pertanyaan anak saya,
”kenapa kucing itu mau sama pengemis ya Bu? Dia kan tidak punya apa-apa?”
“Mungkin pengemis itu selalu membagi makanan yang didapatnya dengan kucing itu, makanya mereka berteman.” Jawab saya mengira-ngira. Walaupun mungkin saja kucing itu memang kucing peliharaannya yang ikut pergi meninggalkan rumah bersamanya.
Tapi sejauh yang saya tahu, semua orang butuh teman. Seperti perempuan tua itu, dia juga berteman walaupun dengan seekor kucing. Entah disengaja atau tidak olehnya, kucing itu hampir selalu kelihatan bersama dengannya. Bisa jadi seekor kucing dipilih karena lebih penurut, setia, dan tidak merepotkan seperti berteman dengan manusia. Mungkin saja kan 🙂

Kabar Angin

Akhir-akhir ini saya sering berinteraksi dengan teman lama. Kali ini lebih dari sekedar ‘apa kabar’. Berawal dari seorang teman yang menanyakan kabar teman lain kepada saya, kemudian berlanjut pada kabar-kabar burung seputar teman itu. Dan sebagaimana layaknya jejaring pertemanan interaksi ini menyeret saya ke dalam sebuah keasyikan dari sejumput rasa ingin tahu. Komunitas kecil yang tampak ‘baik-baik saja’ didalamnya ternyata menyimpan banyak cerita yang berkelindan. Satu episode bisa menjadi simpul untuk fragmen yang lain, sementara ada kisah yang masih terurai mengundang rasa penasaran. Sampai-sampai saya merasa bak di dalam sebuah novel misteri saja.

https://safrinadewi.files.wordpress.com/2012/09/e4e9d-gossip.jpg

Mungkin orang menyebut saya sedang bergosip. Tapi satu pesan yang saya dapat dari pengalaman ini adalah,

“Jika kau sampaikan rahasiamu pada angin, jangan salahkan jika angin menyampaikannya pada pepohonan”.

Atau tokoh-tokoh ini sengaja menyampaikan kabar pada angin agar pohon tidak lagi sepi, saya tidak tahu…

Epilog

Malam itu…

Kita duduk berseberangan berbatas meja kayu

Ada nyala lilin yang bergoyang ragu

Dan gelisah yang menyelimuti diriku

Wajahmu tenang, seperti laut saat senja

Naluri membawaku meraih tanganmu

“Tahun depan kamu menikah ya…”

Suaraku terdengar seperti gaung dari bawah sadar

Susah payah kutahan getarnya sebelum menjadi pekat

“Ya…”

Jawabmu ringan dan mengambang

Entah apa yang kau pikirkan

Serta merta kilasan berbagai episode bermain di benakku

Tiba-tiba pandanganku berkabut

Dirimu merapatkan genggaman dan titik pertamaku jatuh

Aku tunduk, sibuk memasang topeng bahagiaku untukmu

“Kamu kan tahu kita tidak mungkin bersama…”

Suaramu terdengar bagai dari alam lain

Mengacaukan sandiwaraku

“Ya…”

Logikaku bersuara walau setengah mati hatiku menyangkal

Sudahlah, aku sudah menyalahartikan semua kebaikanmu

Atau kita saja tidak cukup untuk semuanya

Sehelai daun gugur menutup layar hati

Bersama nyala lilin yang meredup kemudian mati

Tinggal aku sendiri di sudut sunyi

Menyesali kebodohanku…

Teman Perjalanan

Pernahkan kita melakukan perjalanan seorang diri tanpa teman? Saya rasa semua pernah mengalaminya.  Bagi masing-masing orang pengalaman berjalan sendiri tentu membawa kesan dan rasa yang berbeda, sebagaimana alasan mengapa pada saat itu kita berjalan sendiri.  Perjalanan pun konteksnya bisa berbeda.  Perjalanan bisa bermakna perpindahan dari satu tempat ke tempat lain atau diartikan sebagai kiasan untuk perjalanan hidup.  Dalam konteks berpindah tempat, saya termasuk orang yang sering melakukan perjalanan seorang diri dan hampir selalu bisa menikmati perjalanan tersebut.  Baik perjalanan melalui darat, udara, laut, dengan menumpang berbagai kelas kendaraan, mulai dari yang super ekonomi sampai super eksekutif.  Walaupun ada orang-orang tertentu yang sangat menghindari perjalanan seorang diri dengan alasan kenyamanan maupun keamanan, bagi saya perjalanan sendiri sangat memperkaya mata batin saya.  Kekayaan itu dapat berupa pengalaman menarik, mulai dari yang menyedihkan hingga menyenangkan, orang-orang yang saja jumpai, dan keindahan dari balik jendela kendaraan yang dapat menjadi inspirasi yang tidak ada habisnya.  Semuanya memberi kesan, memberi pesan, dan mengguratkan kenangan yang kemudian memberi warna pada langkah saya di kemudian hari.  Dalam hal keamanan, saya bersyukur tidak pernah mengalami hal yang membahayakan dan tidak lebih dari bertengkar mulut dengan para calo angkutan.

Tetapi tidak demikian dengan perjalanan hidup.  Kita selalu mengawali dengan berjalan sendiri hingga pada suatu masa kita memerlukan teman.  Entah kenapa menjadi perlu teman, saya tidak akan membahasnya.  Sebetulnya saya tidak ingin terbentur pada istilah takdir bahwa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan.  Yang kemudian menjadi alasan laki-laki dan perempuan menjadi teman hidup, teman dalam mengarungi perjalanan hidup.  Saya juga tidak ingin terjebak dalam terminologi pernikahan yang menjadi legalitas bagi konsep teman hidup.  Saya hanya ingin sedikit menggambarkan sosok yang menjadi teman dalam perjalanan hidup.  Walaupun kriteria teman hidup sangat tergantung pada kebutuhan yang mendasari seseorang untuk mendapatkan teman, tetapi esensi teman hidup adalah sesuatu yang saling mengisi dan melengkapi sehingga didapatkan perjalanan hidup yang aman dan nyaman.  Keserasian ini memerlukan proses.  Dan sebagaimana layaknya sebuah proses, tidak semuanya memberikan hasil yang membahagiakan.  Sebuah proses sangat tergantung pada interaksi para pelakon yang ada didalamnya.  Dan seperti halnya karakter manusia yang dinamis, ada tuntutan untuk melakukan perbaikan terus-menerus demi tercapainya keserasian.  Hal ini seperti reaksi kimia yang yang berakhir pada kesetimbangan reaksi.  Ada juga yang kemudian menjadi lelah dan gagal dan notabene kegagalan ini bukanlah tanggungjawab satu pihak saja.  Interaksi yang ini seperti reaksi kimia yang hanya sedikit menghasilkan molekul yang bersenyawa dan lebih banyak menjadi campuran yang terpisah, atau ibarat reaksi kimia yang menghasilkan letupan yang bahkan bisa mencelakakan lingkungan di sekitarnya.  Interaksi para pelakon yang berbeda juga memberikan hasil yang berbeda, seperti oksigen yang akan memberikan hasil reaksi yang berbeda bila direaksikan dengan hidrogen dibandingkan reaksinya dengan nitrogen.  Pun masing-masing reaksi akan melepas besaran energi yang berbeda.  Ada reaksi yang menyerap energi sehingga mendinginkan suhu di sekitarnya dan sebaliknya ada reaksi yang melepaskan energi dan menghasilkan panas.  Mungkin bukan analogi yang ideal, tapi dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.  Sedangkan pada reaksi yang telah mencapai kesetimbangan kimia, apabila keamanan dan kenyamanan sudah didapatkan, maka kehilangan teman hidup akan menjadi sangat menyakitkan, baik sakit secara psikis maupun fisik secara disadari maupun tidak disadari.

Jadi, perjalanan seperti apakah yang sedang dan akan kita jalani tergantung pada kita dan teman perjalanan kita.

Kembali

Sore menjadi lebih cepat gelap menjelang hujan.  Pipit sawah terbang bersegera melintasi jalan raya dan atap-atap rumah.  Terdengar lirih suara ngaji dari surau kecil seberang sungai.  Aku menyelesaikan baris terakhir al-ma’tsuratku saat adzan mulai terdengar, dan aku sertakan doa sebelum takbir diangkat…

Allah, sesungguhnya aku malu meminta

karena sering hak-hakmu kuabaikan

jadi bolehkah aku mohon Kau tuntun hatiku

agar mencintai hanya padaMu

pada cinta yang selalu ada dan menungguku untuk kembali…

Sebuah Jalan Pilihan

Pagi ini aku mengantar si kecil ke sekolah, melewati pematang sawah yang licin karena diguyur hujan semalaman.  Sebetulnya ada jalan yang lebih nyaman dan aman tapi harus memutar agak jauh.  So, jalan sempit, licin, yang dibatasi sawah dan sungai ini adalah jalan pintas ke sekolah.  Seperti hidup, untuk mencapai sebuah tujuan kita mempunyai jalan pilihan, kadang dua kadang lebih.  Jalan yang sulit, berat, dan penuh rintangan disediakan untuk akhir yang indah, sedangkan jalan yang mudah dan melenggang serta penuh hiasan dunia untuk akhir yang menyusahkan.  Seperti di dalam firman Allah SWT:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS Al Imran:142).

Tergambar jelas bahwa kesulitan dan kesengsaraan adalah ujian menuju surga.  Tapi perjuangan dan sabar adalah penguat bagi orang-orang yang yakin bahwa pertolongan Allah adalah dekat.

Harta yang Harus Dimiliki

Ada saatnya kita perlu menyepi, mempunyai waktu untuk diri sendiri, melakukan telaah atas semua langkah yang lalu, kini, dan rencana-rencana.  Ada kalanya juga masa itu menjadi titik tolak suatu resolusi, sebuah janji, dengan harapan membawa kebaikan di masa datang.  Mudah nian menuliskannya, dan nyatanya memang terasa mudah dilakukan kalau masih sendiri.

Menjadi sangat kompleks bila kita sudah menikah.  Seberapa kompleks dan sulitnya sangat tergantung pada interaksi keduanya sehingga ada kesepakatan akan jalan yang telah dan akan dilalui.  Sungguh semakin sulit bila pasangan itu berjalan di jalur yang berbeda dan bukan tidak mungkin ini terjadi.  Banyak sekali saya jumpai, setelah bertahun-tahun bersama, mereka justru memilih berada di jalur yang tidak sama.  Entah lelah karena tidak mampu mendapatkan titik temu, atau memang sudah menjadi keputusan untuk berbeda sejak semula.  Alasan mereka untuk bertahan pun entah, seperti halnya alasan mereka untuk tetap berbeda.  Padahal betapa indah seandainya mereka menempuh jalan yang sama, saling mengingatkan untuk satu alasan yang sama, menuju target yang sama demi kebaikan bersama.

Apakah menjadi ‘sama’ adalah tawar-menawar dan timbang-menimbang? Saya yakin tidak.  ‘Sama’ disini seharusnya mengacu pada standar yang pasti dan terukur.  Sehingga bukan proses pelik yang perlu energi untuk mencapai kesepakatan.  Analoginya seperti ISO, ‘sama’ hanya bisa dicapai kalau pedomannya dan interpretasi terhadapnya sama.  Saat menghadapi auditor ISO lalu, walaupun buku pedomannya sama, tapi kalau interpretasi beda yang ada hanya “Ooooo…” panjang saat auditor menjelaskan pasal-pasal tertentu.  Dalam pernikahan juga begitu, walaupun buku pedomannya sama, seringkali auditornya beda, sehingga interpretasi jadi beda.  Mari kita simak hadits berikut:

Suatu hari, Tsauban r.a. bertanya kepada Rasulullah saw.,”Apakah harta terbaik yang harus kita miliki?”, Beliau menjawab,”Lisan yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri (suami) beriman yang membantu suami (istri) nya meningkatkan imannya.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Mungkin lebih indah lagi kalau suami adalah guru bagi istri.  Karena peran suami sebagai qowwam seharusnya mencakup seluruh aspek kehidupan, menggandeng istri menuju keabadian surga.  Dengan begitu, bisa berlaku sebaliknya, istri akan membantu suami meningkatkan imannya seperti pada hadits diatas.  Tapi rasanya hal ini sudah jarang sekali dijumpai (red: CMIIW).  Bahkan saya sangat setuju bila berjumpa teman sepantaran yang masih mencari seseorang yang bisa menjadi qowwam sehingga terlambat menikah atau menunda menikah.  Betul sekali bahwa menikah melengkapi setengah dari agama karena pencapaiannya sungguh tidak mudah.

(Picture was copied from http://mediasholeha.files.wordpress.com/2009/12/embun.jpg & http://pixels.pixeltango.com/wp-content/uploads/2010/08/44-We-will-stay-forever.jpg)

Sajak perkawinan prematur

Hanya perahu kertas kita lepas

di selokan depan rumah

tanpa topan prasangka dan jadual

keberangkatan yang pelik

restu ibu

senyum ayah

mencukupkan perbekalan

Kalaupun Tuhan menyulapkan selokan

menjadi lautan

keadilanNya pun niscaya menyulap perahu kertas

menjadi bermesin

selebihnya: bagaimana kita melagukan

menembangkan kegagapan memahami laut

dan bersiasat di ketergesaan keberangkatan.

(oleh Piet Setiyono)

Picture was copied from http://ih2.redbubble.net/work.6981488.1.flat,550×550,075,f.paper-boat.jpg