Saya dan Karir #2

Karir berikutnya sebagai surveyor di PT. Jasa Riset Indonesia (JRI) dan PT. Marketing Research Specialists (MARS). Diawali dari dialihkannya kegiatan quality control dari PT. McDonald Indonesia kepada JRI sebagai lembaga riset independen, maka kami tim mystery shopper harus pindahan juga. Selain pindah koordinasi, di JRI saya jadi terlibat di berbagai survey yang ditenderkan pada PT ini. Karena pekerjaan ini sifatnya free-lance, pada saat yang bersamaan saya juga bergabung dengan PT. MARS yang bergerak di bidang yang sama, survey dan riset. Di PT. MARS, saya menjadi supervisor untuk wilayah Malang dan sekitarnya. Kok kedengarannya seperti adzan magrib ya? Haha… Untuk ini thanks to Pak Nur JRI (alm.) dan Pak Budi MARS yang sudah mengijinkan saya bergabung di timnya. Thanks juga buat Nana, teman seperjuangan sebagai surveyor.

Pada tahun 2005, saya resign dari JRI dan MARS karena diterima menjadi staf pengajar di FK UB. Mungkin sudah takdir kalau saya akhirnya menjadi satu-satunya biologist yang terdampar di Bagian Anatomi Histologi. Ceritanya, pada saat penerimaan dosen baru, lowongan general biologist hanya ada di FK. Akhirnya, dengan agak terpaksa dan karena dorongan suami, saya yang sebelumnya alergi dengan FK, akhirnya memasukkan lamaran kesana. Pemberitahuan diterimanya saya diterima oleh ibu sehari lebih lambat karena saat itu saya sedang tidak di tempat. Akhirnya ketinggalan briefing dosen baru yang diadakan oleh universitas. Kalau tidak ada ibu yang menerima pemberitahuan lewat telepon itu, bisa jadi saya dianggap gugur karena tidak bisa dihubungi. Untuk ini big thanks buat suami dan ibu.

Ofis
Ofis

Karir saya berikutnya masih berkaitan dengan UB. Tahun 2012, saya resmi menjadi konsultan genetik di Lembaga Sentral Ilmu Hayati (LSIH) UB. Masih ada cita-cita saya berkaitan dengan profesi ini. Saya ingin mempunyai klinik genetik berkolaborasi dengan profesi kedokteran lain di dalam suatu tim manajemen yang menangani penyakit-penyakit genetik. Di Indonesia, profesi ini masih langka dan belum banyak orang-orang yang mendalami ilmu ini. Sekarang dan nanti, saya berharap dapat memberi sumbangan pemikiran yang lebih besar untuk kemajuan ilmu genetik dan penanganan penyakit-penyakit genetik di Indonesia. Thanks buat Indri yang telah mengusulkan nama saya pada saat rapat di LSIH waktu itu.

Penampilan, Seberapa Perlu?

Kapan ya terakhir memilih-milih setelan yang pas dengan seksama? atau mematut-matut warna jubah yang sesuai dengan jilbab? atau memperhatikan wajah di cermin untuk mengecek, ada noda atau jerawat muncul tanpa diundang? atau memilih aksesori yang warnanya pas dengan baju hari itu?

Hmm… semua ini urusan penampilan.  Pada dasarnya saya termasuk orang yang cuek bebek (kurang tau deh, kenapa bebek ini menjadi ‘bebek’ hitam untuk urusan cuek) dalam hal penampilan.  Bahkan di masa kuliah dulu seorang senior mengomentari pakaian yang sama yang saya pakai untuk beberapa hari berturut-turut.  Bukannya males ganti, tapi karena males nyuci… ahaa… atau lebih tepatnya karena bajunya masih bersih dan belum bau keringat (ngeles.com).  Saya juga tidak terlalu peduli apakah jubah saya sudah cocok dengan sepatu kets yang sering saya pakai karena nyaman atau apakah tas belel saya masih pantas dipakai di acara seminar setengah resmi.  Blass… urusan penampilan tidak menjadi prioritas pada waktu itu.  Boro-boro membeli obat jerawat, bedak saja sudah habis sejak semester kedua kuliah.  Itupun bekal dari bunda tercinta yang ingin putrinya kelihatan ‘pantas’ sebagai perempuan.

Tapi rupanya masa ada batasnya juga.  Peralihan fase kehidupan ternyata cukup sakti untuk membuat saya  memikirkan urusan penampilan.  Profesi sebagai pengajar yang menuntut perhatian ratusan pasang mata untuk fokus pada makhluk di depan kelas — kalau sedang tidak memperhatikan materi kuliah yang saya bawakan — membuat saya mulai memperhatikan hal yang satu ini.  Walah, ribet juga tetek bengek penampilan ini untuk saya yang tidak familiar dengan pembersih, penyegar, pelembab, mix and match, dll.  Selain butuh waktu dan biaya, juga perhatian ekstra agar misalnya tidak membeli kosmetik yang tidak cocok atau paling tidak mesti — sedikit — hafal dengan koleksi baju dan jilbab model apa dan warna apa saja yang saya punyai agar tidak membeli sesuatu karena impulsif.  Singkatnya, perubahan ini harus tetap efektif dan efisien seperti motto hidup saya.  Penampilan, dalam hal profesi saya ini, memang antara perlu dan tidak perlu.  Perlunya ya itu tadi, mencegah rasan-rasan berulang.  Kalau dulu dari senior, sekarang bisa saja rasan-rasan itu datang dari mahasiswa.  Setidaknya, menjadi pengajar yang ‘enak dilihat’ sehingga membuat kelas lebih ‘bergairah’ disamping cara memberikan materi yang komunikatif dan tidak membosankan.  Walaupun tentu saja item terakhir itu yang paling penting.  Rasanya, penampilan ini cukup pantas menduduki peringkat ketiga dalam profesi mengajar setelah kepakaran dan kepintaran berkomunikasi.  Ya… cukuplah sebagai peringkat ketiga dalam pengalaman saya berkarir hingga saat ini.

Gambar diunduh dari http://studenthacks.org/wp-content/uploads/2007/10/lecture.jpg

Persahabatan Lima Jari

Apa jadinya ya kalau 5 jari kita tidak kompak atau salah satu cedera? Wah, pasti aktifitas yang melibatkan jari menjadi terganggu.  Seperti halnya kelima jari yang kita miliki, saya dan 4 sahabat di tempat kerja bersinergi seperti halnya jari-jari kita.  Dan uniknya, masing-masing dari kami mempunyai karakter dominan yang berbeda tapi saling melengkapi.  Seperti inilah sinergi itu, saat Indri si Gudang Ide datang dengan ide-ide anehnya, Rita sang Konseptor siap menerjemahkan ide abstrak Indri menjadi sebuah konsep yang lebih logis.  Langkah selanjutnya Nana merancang konsep menjadi rencana yang realistis.  Berikutnya giliran Danik menjalankan rencana menjadi kenyataan dan Nurul mengkritisi keberlangsungan seluruh proses.   Kronologi ini berlaku mulai dari hal yang sederhana seperti menentukan tempat makan sampai mengerjakan proyek besar yang melibatkan institusi lain.  Mungkin terdengar aneh kalau mementukan tempat makan saja perlu konseptor bahkan kritikus.. hahaha.. tapi itulah kami.  Serasa Sang Takdir menuntun kami berlima untuk berada di satu unit kerja.  Semoga kebersamaan dan persahabatan ini berlangsung sampai akhir hayat.

Anatomi dalam Komunikasi Medis

Enam tahun yang lalu, semenjak berkubang di dunia peranatomian, langsung terasa betapa spesialnya si anatomi ini dalam aplikasi maupun pengembangan ilmu kedokteran.  Anatomi bagaikan rangka bagi sebuah bangunan kedokteran atau bagaikan fondasi bagi sebuah rumah.  Selayaknya rangka atau fondasi yang tidak tampak dari luar, demikian juga anatomi, tak tampak tapi mutlak harus ada.  Bagaimana seorang dokter bisa memahami bentuk dan manifestasi sebuah kelainan jantung kalau tidak memahami bagaimana anatomi jantung, dan bagaimana seorang perawat bisa menentukan tempat injeksi kalau tidak memahami anatomi topografi vena mediana cubiti atau vena saphena magna.  Walaupun tidak ada pasien yang akan menanyakan letak pankreas atau colon secara eksplisit, tapi alangkah indahnya seandainya praktisi kesehatan bisa mendekatkan pasien dengan penyakit yang sedang dideritanya melalui pemahaman sederhana berdasarkan ilmu anatomi yang juga disederhanakan melalui bahasa awam.

Proses edukasi dalam konseling kesehatan seringkali menjadi suatu keniscayaan apabila praktisi kesehatan memahami bahwa kebutuhan pasien tidak hanya terbatas pada obat dan kesembuhan.  Tapi pemahaman sederhana tentang patofisiologi dan patomekanisme suatu penyakit yang bisa disederhanakan melalui bahasa anatomi akan sangat membantu komunikasi praktisi kesehatan dengan pasiennya. Bahkan dapat membantu proses penyembuhan pasien dengan meningkatnya kesadaran terhadap kondisi dirinya.  Anatomi adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan pasien, karena normalnya semua orang pasti memiliki organ dan sistem organ tersebut, hanya pengetahuan saja yang membedakan antara praktisi kesehatan dengan pasiennya.  Pengetahuan pasien terhadap apa yang sedang terjadi dengan dirinya akan membantu pasien untuk tidak merasa dirinya sebagai obyek semata, apalagi sebagai kelinci percobaan.  Keputusan yang terjadi di ruang praktek bukan hak dokter — atau lebih luas lagi, praktisi kesehatan –, melainkan hak pasien.  Tindakan yang dilakukan selalu harus melalui persetujuan pasien dengan mengetahui alasan dilakukannya tindakan tersebut.  Sehingga sangat ajaib apabila ada praktisi kesehatan yang menyebutkan bahwa hepar terletak di cavum thorax — entah menyebutnya karena grogi, entah karena bingung membedakan cavum thorax dan cavum abdomen, atau karena ada terjadi hernia diaphragmatica sehingga pernyataan ini masih bisa ditolerir — , atau seorang praktisi kesehatan yang tidak mengetahui alasan kenapa insisi yang dilakukan dari prosesus xiphoideus hingga symphisis pubis dilakukan melingkari umbilicus dari sebelah kiri selain karena prosedur tetapnya menyebutkan demikian tanpa tahu bahwa prosedur tersebut dilakukan untuk menghindari ligamentum teres hepatis.  Wallahu’alam.

The picture copied from: http://ihateoliverninnis.files.wordpress.com/2011/10/white-lie-100dpi.jpg

ISO ora ISO yo kudu ISO???

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menjelaskan tentang ISO.  Karena walaupun istilah ini sudah sering saya baca di banyak tempat, tapi perkenalan saya dengan ISO masih sangat dini, bahkan boleh dibilang gak mudheng blas.  Perkenalan itupun rasanya by accident, kalo boleh dirunut lebih awal lagi, ini gara-gara mbak Agustin Iskandar yang ‘menjebloskan’ saya ke dunia quality assurance di tempat kerja saya.  Tulisan ini akan menjadi ajang curhat saya betapa ISO ini telah sanggup memporak-porandakan jadwal biologis saya selama beberapa hari belakangan.

Mula-mula yang saya tahu – tapi tidak bisa hadir walau diundang – diadakan acara sosialisasi ISO oleh institusi tempat saya bekerja.  Sosialisasi ini diadakan karena kami akan diaudit oleh tim yang akan atau tidak akan memberi status ‘approved’ atau  ‘certifiedISO 9001:2008 untuk institusi kami.  Walaupun setahun belakangan ini saya sudah lebih familiar dengan kegiatan audit, tetapi tidak urung gaung nama ISO ini cukup membuat panik juga.  Terutama karena yang akan banyak dinilai oleh tim auditor adalah quality management system yang notabene terkenal masih berantakan di unit kerja saya.  Tentu saja akhirnya kami harus mempersiapkan dokumen-dokumen sekaligus bentuk implementasi yang dapat diperlihatkan kepada asesor, bahwa kami sudah bekerja dengan baik dan memenuhi criteria yang ditentukan dalam ISO.  Celakanya, dokumen-dokumen kami masih centang perenang untuk disebut dokumen resmi, sekaligus banyak lubang dan perubahan-perubahan yang harus disesuaikan terutama karena model pembelajaran di institusi tempat saya bekerja sedang dalam masa transisi dari metode konvensional ke KBK yang tentunya lebih kompleks.  Hal ini menyebabkan banyak sekali temuan-temuan di lapangan yang tidak dengan mudah disesuaikan dengan dinamika sistem dokumentasi sebelumnya.  Alhasil, sambil sibuk membolak-balik dokumen lama dan mengintip-ngintip kondisi lapangan, jadilah dokumen yang mungkin hanya diadakan untuk menuntaskan ISO.  Betapa momen ini seharusnya menjadi titik awal evaluasi diri.  Sayang sekali kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan quality improvement.  Tetapi, diantara kesibukan mengajar lengkap dengan asesori tutorial, PBL, dan praktikum, belum lagi aspek penelitian dan pengabdian masyarakat yang harus dipenuhi, akankah waktu 24 jam sehari cukup untuk menuntaskan semuanya?  Mata masih sembab dan kepala terasa berat kurang tidur begadang dengan manual prosedur ketika sehabis menghadiri closing assessment I ISO 9001:2008 saya tiba di jurusan dan segera disambut oleh koreksi ujian akhir semester yang menumpuk karena belum tersentuh dalam seminggu.  Padahal minggu depan sudah memasuki jadwal semester pendek.  Akahkah semuanya bisa berjalan paralel dengan baik hingga assessment II bulan Oktober yang akan datang?  Buat saya lebih baik berstatus ‘uncertified’ ISO 9001:2008 dulu untuk tahun ini sehingga semua criteria bisa terbenahi secara runtut dan sistematis daripada memakai politik mercusuar yang dipaksakan.

Atau mungkin kami perlu meniru ‘Program 100 Hari’ a la SBY- Wish us luck…

ADDict

Beberapa pekan belakangan ini, setelah terpaan acara dies natalis yang disusul STAR ON THIS WEEK(*) mereda, pola kerjaku jadi berubah. Dari yang jungkir balik kalang kabut ke adem ayem. Ternyata dampaknya sangat mengganggu. Yaitu memunculkan sifat isengku. Karena makhluk-makhluk yang diisengin memberikan respon yang tidak terlalu menggembirakan, jadi ya ngisengin komputer aja. Emmm…. apa ya? Clingak sana, clinguk sini… ternyata ada sejawat yang mengisi waktu luang dengan maen game TUMBLEBUGS. Wah, boljug nii… Ikutan ah… tapi kok kalah melulu ya. Akhirnya nyari ‘pelepasan’ sendiri deh. Karena aku pernah advance di MINESWEEPER alias tukang sapu ranjau, akhirnya duduk manislah daku ngulik game yang satu ini.

Game ini mudah diakses. Menunya tersedia di setiap komputer yang ada di kantor. Gak perlu nginstall lagi dan memorinya juga entheng. Karena gampang diakses, dampaknya tiap ada komputer nyala pasti ada kecenderungan untuk nge-game. Setiap waktu, setiap saat, setiap kegiatan, aku sempat-sempatin bikin rekor baru kecepatan nyapu ranjau. Karena sekantor yang mainin game ini cuma aku, saingannya ya aku sendiri. Saking besarnya semangat ngalahin diri sendiri ini sampai ke tahap ‘ketagihan’. Datang pagi-pagi nge-game, siang, sore, mau pulang juga. Gak peduli ada mahasiswa ato senior lagi meninjau ruangan, nge-game jalan terus (kita kan bukan pegawai ABS, hehehe…).

Tentu saja hal ini bisa mengganggu produktivitas kerja. Tapi bagaimana doongg????

Museum Anatomi

Kalo ada deskripsi yang jelas tentang ‘Museum’ tentunya museum yang satu ini punya kategori khusus. Mungkin sebutan museum kurang pantas, karena sangat dipengaruhi latar belakang konsumen ato stakeholder-nya. Museum yang satu ini juga jelas-jelas unik, bahkan di negara tertentu disebut gallery bahkan beberapa koleksinya masuk kategori art gallery. Menurut kamus wikipedia, ‘Museum’ merujuk kepada bangunan tempat menyimpan khazanah sejarah purba atau yang lalu. Museum penting sebagai tempat kita merujuk sekiranya kita ingin mengatahui tentang sejarah lampau. Berdasarkan KBBI tentunya lebih jelas lagi. Tapi masih berkisar pada hal-hal yang sifatnya purba jua.

Tentang Museum Anatomi, koleksinya adalah fragmen-fragmen tubuh manusia yang dibuat berdasarkan regio dan sistem dengan tujuan untuk pembelajaran anatomi manusia. Tidak ada yang sifatnya purba, kecuali masa. Karena penghuni museum ini pernah hidup beberapa saat lalu. Belum melewati masa. Ataukah ada batasan yang jelas tentang masa?

Beberapa waktu lalu, bagian Anatomi FKUB meresmikan Museum Anatomi. Menjadi kebanggaan tentunya bagi sebuah kerja keras. Diresmikan oleh rektor yang konsekuensinya dikuntit oleh banyak media, cetak maupun audio visual, minimal yang lokalan-lah. Inilah sumber permasalahannya. Kami selaku tuan rumah sangat mengkhawatirkan terlibatnya media massa, sehingga sejak semula memang tidak mengundang peliput berita. Karena sesuatu yang akan diresmikan ini menyangkut harkat manusia terutama dari kacamata ketimuran. Ada koleksi janin dari berbagai tahap perkembangan (hmm…mungkin ada yang keberatan dengan istilah ‘koleksi’), potongan hingga tubuh manusia utuh, sistem pencernaan, hingga sistem saraf. Dan tanpa warning sebelumnya, para wartawan itu menjadikan mereka sebagai obyek berharga untuk menaikkan omzet dagangannya. Tidak mengejutkan kalo liputannya bertahan di halaman depan Jawa Pos hingga 2 hari berturut-turut dengan judul yang bombastis. Museum Anatomi, dari Janin, Jeroan, hingga Manusia Utuh. Dan celakanya lagi, mereka juga menuliskan: Dibuka Untuk Umum. Walaupun dalam brosur yang diedarkan tertulis ‘dengan rekomendasi dekan dan instansi yang mengirimkan’. Dan dibuka untuk kepentingan pendidikan anatomi semata. Hhh…di-cut habis, seperti ‘habislah kita’ esok harinya setelah berita tersebut diterbitkan. Masyarakat umum berduyun-duyun berkunjung dengan tujuan “Untuk melihat-lihat”, sebagian mungkin penasaran, apakah janin yang dipamerkan adalah anak yang kemarin aku gugurkan, ato apakah kakekku yang kuusir kemarin termasuk salah satu koleksi museum ini (ini sih karanganku aja…hehehe). Tentu saja mereka ini kami tolak, dengan cara yang paling halus hingga yang paling kasar (kalo mereka ngotot). Museum Anatomi, mungkin hal ini tidak mengejutkan bagi masyarakat di kultur tertentu, tentunya tidak di Indonesia. Dimana pada umumnya jenazah dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dimakamkan bahkan didoa’kan hingga 1000 harinya.

Ternyata begini rasanya ‘kecolongan’.

Saldomania

Kyaa…Rasanya udah berabad-abad gak nengokin spot tercinta ini. Tempat curahan hati saat kesal sampai senang, dari intensitas rendah sampai tinggi. Kali ini aku mengusung sapa tentang masa berakhirnya kepanitiaan yang sudah aku ceritakan di kisah-kisah sebelumnya.

Seperti lazimnya semua kegiatan yang dilakukan manusia, prinsip pertama yang akan dipegang adalah bekerja seminimal mungkin demi keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi-lah… Rasanya itu berlaku untuk semua hal. Terutama urusan per-duit-an dalam kepanitiaan kemarin itu. Hehehe… Begitu kegiatan udah mulai kukut-kukut dan sang sekretaris udah nagih-nagih LPJ, sang bendahara juga mulai meng-up grade laporan di sana-sini demi mengais rupiah yang mungkin tersisa. Eh, bukan mungkin ding, tapi HARUS ada saldo. Demikian ancam rekan panitia urusan lain. Ujung-ujungnya kami mulai kasak-kusuk mengira-ngira berapa Rp yang mungkin bisa dibawa pulang.

Beberapa hari belakangan sang bendahara dan sang sekretaris sudah runtang-runtung kesana-kemari sambil bawa-bawa map isi laporan keuangan. Dan para panitia urusan lain juga sibuk menguntit mereka sambil berusaha menguping pembicaraan mereka, apalagi kalo udah terdengar,”Rp…. psst… Rp… “.

Tapi sodara-sodara… dalam hati kecil ini juga ada segumpal pertanyaan,”Legalkah perbuatan bagi-bagi uang sisa kegiatan ini? kan kita udah dapat cum, lagian gak ada hitam diatas putih bahwa kerja kita dibayar, kita juga gak kerja-kerja amat malah cenderung bersenang-senang ada kesempatan bebas sebentar dari tugas kantor, anggap aja liburan.” Ee, masih punya hati nurani juga ya. Huah… sampai disini, diskusi berlanjut pada bagian tentang payung hukum. Setelah tanya sana-sini, dengan narasumber yang udah berpengalaman bagi-bagi duit, didapatlah jawaban senada, yaitu LEGAL. Dengan dalih, uang yang diturunkan dari atas segitu udah sesuai proposal, gak mungkin ada pos uang kembalian (emang pasar kali yee). Ups, lega dong (walopun narasumbernya juga udah diseleksi dan di-edit serta agak-agak diintervensi, hehehe…). Serta merta kami jadi berterimakasih pada sang bendahara yang udah ngirit bin pelit.

Jadilah, kami, panitia urusan lain sibuk menodong sang bendahara dengan ringan tiap kali ketemu. Dan tinggallah sang bendahara sibuk menghindari kami sambil berusaha segera menyelesaikan laporan keuangannya. Cepetan Bro…!

HOROR HARAH

Seperti biasa, pagi-pagi dalam perjalanan ke kantor aku diguyur gerimis yang melunturkan bedak dan melicinkan aspal. Jelas aja, lha wong musim ujan yak… Tikung kanan dan kiri, sedikit manuver ngakalin ban depan yang udah gundul, menghindari tukang kerupuk yang bawaannya menggunung kanan kiri, sempat terlintas di pikiranku tentang kecelakaan. Yang ini memang perlu diingat agar dihindari. Trus keingat juga tentang darah yang identik dengan kata kunci pertama. Trus kepikiran juga sama kegiatan donor darah dua hari lagi. Karena hari ini mesti ngecek berapa korban yang terjaring dalam form peserta. Rasanya sih pe-de aja, karena sasarannya kan mahasiswa dan kolega yang paham betul tentang pentingnya acara ini. Jadi ya, prekdisiku sih mencapai target minimal-lah.

Telpon sana telpon sini, ngecek jumlah pendaftar, Alhamdulillah gak mengecewakan. Walaupun , sejujurnya agak ketar-ketir, karena ternyata banyak kolega yang notabene adalah tenaga medis dan paramedis takut sama jarum suntik. Sempat juga sih aku tawarkan, gimana kalo donor pake pisau bedah? Eh, malah mereka sibuk protes-protes sambil nyumpahin aku. Lha piye, kalo nyuntik orang aja hayoo, giliran dimintai sumbangan darah “no teng”.

Pengobatan Gratis

Alam masih menyisakan rintik hujan sisa tadi malam, tapi pukul 7 pagi tim Pengobatan Gratis sudah bersiap berangkat dari pelataran parkir FK Unibraw. Full team ber-17 berbekal berkardus-kardus amunisi alias obat-obatan dan isi perut (biar tidak gantian kami yang jadi pasien) pukul 8 kami bertolak ke dusun Bocek, kec. Karangploso, kab. Malang. Perjalanan 45 menit menyisir ladang dan hutan sepanjang lereng G. Arjuno lumayan melelahkan dan memabukkan karena tanjakan dimana-mana dan pak Kholil yang membawa kami punya reputasi baik sebagai sopir yang sering bikin mabuk penumpangnya.

Tiba di lokasi kami disambut musik dangdut dari speaker ‘balai dusun’ yang masih beralaskan tanah sehingga refleks goyang 1×1 jadi tak tertahankan lagi (minimal goyang jempol), heheheh…
Yang jelas, pasien udah nunggu…hurry up.

Tentu saja Pak Kadus dan Ketua Panitia harus berbasa-basi sejenak (uff…). Berikutnya penyuluhan Diare dan Demam Berdarah (ini bikin gelisah pengunjung yang semakin banyak di hari yang semakin siang dan kepala/gigi/boyok yang semakin sakit…*keluh*). Akhirnya, pasien pertama dilayani pukul 10, berturut-turut mereka dilayani 3 meja anamnesa dan 3 bilik periksa. Sesudahnya mereka ngambil obat di meja apotik. Uff… udah siang, panas pula. Meja pamungkas ini mesti ekstra hati-hati juga, lantaran salah obat bisa dituntut kalo gak dikutuk tuju turunan… (pilih mana hayoo). Apalagi berhadapan dengan para manula yang pendengarannya udah kurang ato bahkan pasien dengan nama sama. Celakanya, di kartu status tertera alamat sama, yaitu ‘ds.Bocek’, Supit Urang. Tak ayal, para penunggu meja obat mesti rajin-rajin juga ngintip bilik nanya ke dokter yang ngasi resep, sambil nenteng2 pasiennya. Mending kalo sakitnya sama. heheheh…

Pukul 2 siang turun hujan, sekaligus menyetop arus pasien yang datang. Saved by rain.
Makan siang dan berkemas pulang. Jam 3 sore kami udah mangkal lagi di kampus. Menyisakan penat dan rasa syukur. Gak terasa udah 204 pasien kami tangani. Semoga jerih payah ini tercatat sebagai amalan yang abadi.

Dies Natalis, ups!

Tentu saja embel-embel ‘ups’ di belakang titel diatas bukanlah nama sebuah perusahaan cargo dan ekspedisi, tapi lebih pada luapan kata hati yang tak terkatakan saking kompleksnya. Eh, ini lagi… bukan kompleks industri ato perumahan tapi saking bujubune kerjaannya.

Biasanya kalo ada yang dies natalis alias hari kelahiran, bakal disusul acara undang-undang dan makan-makan (terlepas siapa yang ngasih makan, karena kalo di Jepun sono, si tamulah yang bawa makanan untuk dirinya sendiri dan yang ultah). Tapi, yang kita bicarakan ini adalah hari ultahnya sebuah universitas di kota Malang (baca: Ngalam). Sebagai subjek sekaligus objek, tentunya yang repot-repot (baca: merepotkan diri) adalah civitas akademika penghuni universitas tersebut. Semuanya kudu terlibat!!! Emmm… ternyata penghuninya banyak juga.

Maka disusunlah buanyak kegiatan terkait dengan ultah tersebut. Tapi celakanya, yang mau terlibat jadi panitia bisa diitung jari. Hehhhh… (sambil menghembuskan segala CO2 yang bermukim di sudut-sudut bronchiolus)… itupun setelah ditodong setengah mati oleh oknum yang berhasil diciduk oleh panitia pusat. Dan jadilah, satu orang terlibat dalam sekian kegiatan dengan jabatan yang berbeda-beda. Saya sendiri termasuk salah satu korbannya. Di ‘Ceramah Ilmiah Populer’ jadi sie acara, di ‘Pengobatan Gratis’ jadi tukang bagi-bagi obat, di ‘Donor Darah’ jadi ketua. Demikian juga rekan lain, yang orangnya ya itu-itu ajah… Sampai-sampai kalo lagi ngobrol ato rapat, kita mesti ‘garisbawahi’ “Lagi ngomongin acara apa nih?”… karena hal itu menyangkut ‘hirarki’. Jangan sampe saya main tunjuk-tunjuk di rapat ‘Pengobatan Gratis’ gara-gara barusan rapat ‘Donor Darah’…heheheh

Dampak negatifnya, tentu saja urusan ngajar jadi terbengkalai… huhuhu… dan tentu saja capek lahir batin.