We Are Starburst

Scientists discovered that iron was sent down from outer space more 425 billion years ago.  Technically everything came from space and we are too.  But, our solar system does not support the structured-iron formation independently. Since the temperature in the Sun is inadequate for the formation of iron. 

We are starburst :)
We are starburst 🙂

As we have ferrum/iron in our blood (haemoglobin), we can say that “We are starburst!” – Literary, we were made from the earth which is consist of iron and it connects us with the space, the place where the stars came from.

“…And We also send down Iron in which there lies great force and which has many uses for mankind…” (Qur’an, 57:25)

Subhanallah…

Sepenggal Diorama

Kucari dirimu di sudut-sudut langit. Diantara awan yang bersandar pada cakrawala, yang birunya diam-diam menyimpan rahasia. Tapi, rentangnya luruh enggan menoleh padaku. Mentari pun membarikade pandang dengan berkasnya yang menyilaukan.

“Pergilah”, katamu, “Jangan usik hidupku. Aku ingin menyesap sendiri titik-titik hujan yang tertinggal di awan. Disana bahagiaku”.

Aku bergeming beku, belajar menta’wil setiap katamu.

Ternyata, langit bukan lagi langit kita dan sepi kembali menelisik mimpi.

Dan Langit Pun Menangis

Saat hati bersandar pada tundukmu...
Saat hati bersandar pada tundukmu…

Senja itu, roda-roda mobilku menepi di tepi aspal basah terbasuh gerimis. Sedikit tergesa, kubuka payung dan berdua dengan si sulung menyeberang jalan Bandung. Lalu melangkah memasuki pelataran sekolah disambut gema iqomah menjelang maghrib digelar. Kami tertinggal dua raka’at saat tiba di lantai dua masjid sekolah tempat diadakannya istighotsah menjelang ujian nasional.

Satu-satu dzikir dilantunkan. Suaranya mengetuk pintu langit yang pekat oleh mendung. Jiwa dan raga menghadap dinding ampunan. Merayu Sang Pemilik Takdir berbekal harap dan keridhoan.

Tuhan, ampuni kami.

Hanya jiwa yang lusuh oleh debu dan kerak dosa yang kami bawa menghadap padaMu. Ya Robbana, kami lemah, kami pasrah, kami bisu pada kalimatMu, dan tuli dari titahMu. Tidak ada yang lebih kami mohon kecuali rahmatMu.

Hujan luruh mengisak ketika kuketuk pintuMu. Dan semakin deras saat istighfar terhembus ke langit. Seakan air mata tak cukup membasuh noda.

Tuhan, ampuni kami.

Aku Renjana

Suatu hari aku berada di padang luas tak berbatas. Sekelilingku cakrawala yang langitnya fuchsia. Beberapa pendar laiknya awan merah muda dan jingga menghiasinya.

Sepertinya aku di puncak bukit. Tanahnya ditumbuhi rumputan berwarna tosca. Helainya mengeluarkan kilau serupa sari yang terhembus angin kesana-kemari. Diantaranya ada semak-semak wedelia. Kuncupnya rekah memunculkan gelembung peri. Gelembung itu melayang membubung menyentuh gurat langit, pecah, dan terbanglah peri-peri itu. Mereka berkumpul di satu sudut langit melukis pelangi.

Tiada siapa selain aku. Rebah memandang awan yang bergerak menyusun mosaik. Sesosok renjana merah muda dan jingga menjadi diriku sedetik lalu…

(http://www.gnomereserve.co.uk/ann/Fairies%20Blowing%20Bubbles.jpg)
(http://www.gnomereserve.co.uk/ann/Fairies%20Blowing%20Bubbles.jpg)

Langitmu

Waktu itu kamu bilang,
Lihatlah langit…
Langit dan awan menyediakan semua persis sama seperti apa yang ada di benak kita,
Dan kamu bisa mengubah-ubah sesuai maumu,
Tanpa ada yang bisa melarang,
Tanpa ada yang akan terganggu,
Karena gambar di langit sana tetap sama,
Hanya di langit benaklah gambar itu membentuk seraut wajah,
Sebentang samudra, atau sekeping cuilan hati yang serpih…

Lalu kataku,
Tapi aku ingin langitmu itu tetap seperti samudra,
Yang luas tak berbatas dan palungnya penuh rahasia,
Samudra juga bisa menjadi apa saja,
Adakalanya dia tenang kala surut atau menenggelamkan kala pasang,
Kadang beriak kecil untuk bermain atau badainya datang memporak-porandakan,
Seperti samudra hati yang dijaga Dewaruci…

(This picture is uploaded with permission Beni Sutrisno)
(This picture is uploaded with permission Beni Sutrisno)

Katamu

Siang ini mendung merata di atas kota
hingga langit terasa dekat diatas kepala

Teringatku pada dialog kita,
Katamu, kita dekat dengan langit
saat perih menikam dan hati muram
Katamu lagi, sampaikan saja gundah dan resah
hingga habis sampai dasarnya…

Memang, jawabku waktu itu
tapi Tuhan lebih dekat dari nadi
hingga kita tidak pernah sendiri
dan harusnya jiwa kita tenang…

Hanya kadang kita terlalu jauh bermain
seperti kanak-kanak lupa pulang
dan pulang kesorean setelah terdengar lantang panggilan ibu…

Maka, kitalah jarak itu

Mendung (courtesy of BS)
Mendung (courtesy of BS)