Pengemis dan Kucingnya

Setiap kali saya dan anak sulung saya melewati jalan di sisi timur pasar Tawangmangu di kota tempat tinggal kami, selalu terdengar komentar anak saya,
”Bu, pengemis itu mesti sama kucing itu.”
Dan saya yang saat itu hampir selalu sedang tarik gas dalam-dalam karena harus segera menjemput si kecil cuma bisa celingak-celinguk,
”Mana, mana… ?”,
dan ,”Yaahh… sudah lewat Bu. Besok kita lihat lagi ya, pasti masih dengan kucing itu.” Jawabnya.
Akhirnya pagi ini saya berkesempatan melihat ‘pengemis dan kucingnya’ yang selalu menjadi perhatian anak saya. Seorang perempuan tua duduk beralas kain di emper sebuah toko. Disebelahnya ada tas usang, payung, dan seekor kucing belang bergelung kedinginan. Saya teringat pertanyaan anak saya,
”kenapa kucing itu mau sama pengemis ya Bu? Dia kan tidak punya apa-apa?”
“Mungkin pengemis itu selalu membagi makanan yang didapatnya dengan kucing itu, makanya mereka berteman.” Jawab saya mengira-ngira. Walaupun mungkin saja kucing itu memang kucing peliharaannya yang ikut pergi meninggalkan rumah bersamanya.
Tapi sejauh yang saya tahu, semua orang butuh teman. Seperti perempuan tua itu, dia juga berteman walaupun dengan seekor kucing. Entah disengaja atau tidak olehnya, kucing itu hampir selalu kelihatan bersama dengannya. Bisa jadi seekor kucing dipilih karena lebih penurut, setia, dan tidak merepotkan seperti berteman dengan manusia. Mungkin saja kan 🙂

Ketika Kakak ‘Jauh’ dengan Adik

Anak merupakan salah satu topik pembicaraan yang tidak ada habisnya bagi ibu-ibu.  Selalu saja ada hal baru yang perlu diperbincangkan.  Mulai dari hal-hal sederhana seperti menu anak hari ini atau cara ampuh membangunkan si kecil lebih pagi agar tidak terlambat masuk sekolah.  Sampai hal yang menyangkut masa depannya seperti memilih sekolah.  Ibu-ibu yang mempunyai lebih dari satu anak pasti mempunyai topik yang lebih beragam, mulai dari keunikan interaksi kakak adik sampai membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan mempunyai anak dengan jarak usia tertentu.  Hal terakhir ini merupakan salah satu topik pembicaraan favorit saya.  Anak saya yang sulung menginjak usia 8 tahun saat adiknya lahir.  Kebanyakan teman berpendapat bahwa saya mesti bersyukur karena tidak direpotkan oleh anak-anak dengan jarak usia yang berdekatan pada saat mereka masih memerlukan banyak bantuan karena belum mandiri.  Pada kasus seperti yang saya alami, si kakak bahkan diharapkan sudah dapat membantu mengasuh adiknya.  Dengan jarak kehamilan yang berjauhan, paling-paling komentar teman adalah rasanya akan seperti hamil pertama lagi, sakitnya seperti melahirkan yang pertama, dan repotnya seperti baru pertama kali punya bayi.  Memang karena lama tidak hamil jadi ‘lupa’ bagaimana rasanya hamil, bahkan lebih berat karena usia sudah bertambah sekian tahun, ‘onderdil’ juga melemah.  Sakit melahirkan rasanya lebih dipengaruhi psikis dan kondisi fisik saat itu.  Si adik lahir setelah menjalani induksi, tentu saja sakitnya menjadi beberapa kali lipat.  Dan untuk merawat bayi, kerepotan karena kehadiran si adik ini lebih terbantu karena ada ibu yang menemani saya mengasuh bayi dibandingkan si kakak yang saya asuh sendiri tanpa didampingi ibu.  Jadi untuk komentar tersebut masing-masing sangat tergantung pada ‘sikon’.

Interaksi kakak adik juga bersifat unik.  Mungkin kakak yang lain akan dengan sukacita menyambut kehadiran adik dan segera menjadi asisten yang baik untuk ibu dalam merawat dan mengasuh adik.  Atau seperti si sulung saya, sukacita tentu saja, tapi karena sudah kelamaan sendiri tidak punya adik, perhatian yang terbagi menjadi sangat terasa untuknya.  Saat si adik sudah mulai besar, acara rebutan mainan, makanan, saluran televisi, atau pertengkaran klasik antara kakak adik karena masing-masing tidak mau mengalah tetap saja terjadi.  Padahal selain usia terpaut jauh, mereka juga beda gender… hahaha…  Jadi untuk urusan interaksi ini sangat tergantung pada ‘pelakon’.

 

Siapa yang Mencuci Piring?

Sudah beberapa minggu belakangan ini kami sekeluarga (tepatnya: saya) boleh berlega hati dengan adanya bibi yang membantu tugas-tugas domestik.  Yang paling penting buat saya dan suami, kami tidak perlu lagi membuat jadwal piket menjaga si kecil di rumah.  Atau pusing mencari pengganti giliran piket kalo mendadak ada kegiatan kantor yang tidak terjadwal.  Kehebohan pagi hari juga sudah jauh berkurang, karena beberapa tugas yang statusnya harus ‘solved’ sebelum berangkat kantor bisa didelegasikan pada bibi.  Sepulang kerja, pena, kertas dan komputer tidak lagi segera berganti menjadi sodet, panci dan kompor.

 

Begitu juga hari ini.  Setelah makan malam dengan menu sup ikan patin dan sambal bajak berpindah tempat ke perut, saya mengumpulkan piring dan gelas kotor ke tempat cuci piring.  Sesudah mencuci tangan saya tercenung sebentar, biasanya saat ini saya segera mencuci piring dan peralatan dapur lain agar besok pagi bisa mengerjakan tugas lainnya.  Tapi sekarang seolah semua urusan domestik mendadak menjadi tugas bibi, sehingga refleks yang biasanya saya miliki menjadi sebuah keraguan.  Lalu, kenapa saya harus berhenti sampai mencuci tangan saja dan menyerahkan tugas yang bisa saya kerjakan kepada kemanjaan.  Bukankah saya mempunyai kesempatan dan tidak sedang udzur?  Baiklah, pada saat mencuci piring hati saya bertanya-tanya.  Apakah saat ini saya sedang membantu bibi atau selama ini bibi yang membantu saya?  Sehingga kepada si sulungpun saya tidak lagi merasa perlu mengingatkannya untuk selalu membereskan tempat tidur atau mencuci piring sendiri sesudah makan.  Jangan-jangan si sulung juga merasakan hal yang sama,”Kok Ibu tidak pernah lagi nyuruh aku cuci piring ya?”.  Mungkin kemudian si sulung menjadi senang bin lega, yang kemudian saya jadikan introspeksi,”Nak, jangan senang dulu, mulai besok Ibu akan kembali mengingatkanmu dengan tugas-tugasmu itu”.

Ketika Si Sulung ke Perpustakaan

Ke perpustakaan umum, ternyata selera si sulung yang baru akan meninggalkan bangku SD jauh berbeda dengan seleraku waktu seumuran dia.  Walaupun buku-buku Enid Blyton juga ada di rak buku kategori fiksi anak-anak, tetap saja sasaran utama si sulung adalah komik dan kawan-kawan.  Buku anak-anak, apapun kontennya, dengan ajaib saat ini disajikan dalam bentuk komik.  Mulai cerita ala manga sampai buku pengetahuan, semua ada versi komiknya.  Mengacu pada definisi komik pada wikipedia, Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita.  Rupanya si ‘gambar’ inilah yang menjadikan anak-anak (bahkan dewasa) tidak lagi tertarik dengan deretan tulisan yang hanya berisi narasi yang memerlukan rantai panjang untuk menjadi imajinasi.  Bukannya tidak percaya kalau si sulung malas berimajinasi saat aku tawari buku Lima Sekawan untuk dipinjam, alasannya tulisannya kecil-kecil, walaupun saat mengintip buku komik pilihannya tulisan di dalam bubble tersaji dalam font yang lebih kecil.  Uffs…

Padahal, terusterang saja buat saya buku dengan visualisasi komik lebih ruwet untuk dinikmati, karena kebanyakan gambar.  Ditambah lagi komik saat ini mempunyai kiblat karakter yang nyaris seragam, ‘manga’ alias komik jepang.  Karakternya hampir selalu punya ciri khas mata besar, mulut kecil dan hidung sejumput.

 

“Buku pilihan si Sulung vs pilihan Ibu”

Sedikit bernostalgia dengan koleksi buku fiksi jaman SD-SMP dulu, menyelami karakter Georgina Kirrin, Dick, Julian, Anne, dan Timmy dalam setiap petualangan Lima Sekawan atau membayangkan kehebohan di Malory Tower saat Madamoiselle Dupont memergoki anak-anak yang sedang pesta tengah malam rasanya tidak bisa mengalahkan gambaran komik pilihan si sulung.  Atau kalo diadu dengan yang sama-sama komik, Tintin dan Asterix menawarkan karakter yang lebih berwarna.  Kalau memang jaman bergeser, kenapa berpihak ke Komik dan kenapa harus Manga??