What Time Can’t Solve?

“As time goes on, you’ll understand.  What lasts, lasts; what doesn’t, doesn’t.  Time solves most things.  And what time can’t solve, you have to solve yourself.”  (Haruki Murakami)

Nakata and Mimi, Kafka on the shore.
Nakata and Mimi, Kafka on the shore.

Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh waktu? Bahkan kematian pun menunggu waktu. Ternyata ada yang tidak bisa diatasi oleh waktu, yaitu ketidaksabaran.  Terburu-buru itu katanya sudah tabiat manusia.  Tapi sungguh, waktu pun menyerah untuk yang satu ini.  Maka, bersabarlah 🙂

Jakarta-Malang: Catatan Menuju Sabar #2

Akhirnya pesawat landing pukul 20.45.

Saya tertidur pulas di sepanjang penerbangan tadi dan baru betul-betul terbangun saat pesawat sudah berhenti sempurna dan Anda diperbolehkan melepas sabuk pengaman (kata mbak pramugari). Berjalan cepat menyusuri lorong kedatangan dan dengan mata terpicing masih mengantuk memilih travel tujuan Malang. Tawaran pertama dari seorang calo travel segera saya terima. Yang penting cepat sampai rumah dan terkapar lagi dengan manis di kasur.

Untuk perjalanan Juanda-Malang (kota) ini saya dikenai tarip 80 ribu – ini tarip standar Juanda-Malang — dan si Calo bilang travel akan berangkat 10 menit lagi. Transaksi beres.

Penumpang lain adalah seorang Ibu TKW yang baru pulang dari Hongkong. Hasil percakapan basa-basi dengan si Ibu: Ibu itu naik penerbangan langsung Hongkong-Surabaya menumpang Cathay Pacific, sudah tujuh tahun jadi TKW di sana, dan sangat terkejut saat tahu saya kena tarip 80 ribu karena dia harus membayar 250 ribu untuk jarak tempuh yang sama. Dengan setengah melotot (mungkin karena ngantuk juga) dan setengah berteriak (saya rasa karena lapar) Ibu itu memprotes ketidakadilan yang diterimanya. Pikir saya, ini pasti salah satu praktek nyata pemerasan terhadap pahlawan devisa negara di Indonesia. Mentang-mentang baru datang dari bekerja di luar negeri mereka menjadi ajang bulan-bulanan orang-orang yang ingin ikut mencicipi kesuksesan mereka tanpa susah payah.

Saya sudah bermaksud untuk mengompori si Ibu ini untuk demo dan protes ke mas-mas Calo tadi saat melihat ke bangku belakang yang tetap terlipat. Dan disanalah jawabannya. Ruang belakang dipenuhi oleh barang bawaan si Ibu. Koper ukuran terbesar, agak besar, sedang, kecil, dan berbagai bungkusan lain tertumpuk rapi disana. Ya pantas saja kena tarip untuk 3 orang plus 10 ribu jasa angkut. Ya sudah Bu, ini tarip wajar. Yang saya tidak habis pikir, bagaimana cara si Ibu membawa seluruh isi kamarnya ini selama perjalanan tadi. Ya tentu saja masuk bagasi, tapi kan pakai acara pindah tempat juga. Sakti juga si Ibu. Bumi dan langit dengan saya yang sedapat mungkin hanya membawa satu ransel kemanapun dan berapa lama pun saya pergi.

Si Ibu memilih bangku depan sehingga bangku tengah dapat saya kuasai. Niat tidur selonjor pun sudah tersusun di pikiran. Perjalanan malam ini saya harap bisa menjadi pengantar tidur. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sound system di mobil avanza hitam ini memperdengarkan lagu-lagu ala Gangnam Style “Ai lov it mufid mufid…” dengan volume maksimal! Mirip angkot kesurupan di siang hari. Untung saja sopirnya tidak keberatan saat saya minta mengecilkan volume. Mudah-mudahan ini bukan cara si Sopir mengusir kantuk. Karena saya lebih rela diajak disko selama kurang lebih 2 jam daripada tidak selamat sampai rumah gara-gara sopir ngantuk.

Ternyata masalah belum berakhir. Si Ibu meminta AC dimatikan, karena bisa mabuk gara-gara AC. Alhasil, jendela depan dibuka lebar-lebar dan angin malam menerobos kencang ke dalam kendaraan membawa asap truk, bis, dan kendaraan lain yang berkejaran di depan. Bukan dia yang mabuk malah saya yang kliyengan. Itupun belum mampu menyembuhkan mabuk si Ibu.

Mobil berjalan dengan kerja gas dan rem yang tidak sinergi. Gas dan rem berebut dulu-duluan diinjak. Selagi mobil melaju kencang, tiba tiba rem nyerobot maju. Begitu juga saat rem belum selesai sempurna, gas sudah mendahului. Saya menjadi ragu, jangan-jangan sopir ini dulunya pembalap gagal yang banting setir menjadi sopir travel. Kalau cara nyetirnya seperti ini tidak hanya si Ibu yang mabuk, saya juga harus siap-siap kresek. Duuh, sabar, sabaaaarr…. Tapi untungnya cukup si Ibu saja yang muntah-muntah sepanjang perjalanan. Saya bertahan tidak muntah karena muntah itu sama sekali tidak elegan.

Ngebut, ngepot, nikung... :(
Ngebut, ngepot, nikung… 😦

Akhirnya perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Masuk rumah pukul 10.30 dan berkemas sebentar untuk siap-siap… tidur! Karena batapapun enaknya tidur di kendaraan saya masih merindukan tidur di rumah. I miss my pillow… very much

Jakarta-Malang: Catatan Menuju Sabar #1

Beberapa hari yang lalu saya datang ke Jakarta untuk sebuah acara diskusi kasus di FKUI Salemba.

Seperti biasa, tiket CKG-SUB sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Untuk perjalanan pulang, saya memilih penerbangan pukul 19.10, jaga-jaga seandainya acara molor dan lalu lintas Jakarta yang unpredictable. Apalagi banjir Jakarta masih belum surut total.

Ternyata diskusi hari itu berakhir lebih cepat dari jadwal. Pukul 11.30 acara sudah selesai. Karena tidak punya agenda lain, dengan diantar teman saya memilih menunggu pemberangkatan pesawat di bandara Soekarno-Hatta. Lalu lintas juga super lancar. Pukul 13.00 saya sudah ngeprint boarding pass melalui check-in machine Terminal 3 Keberangkatan lalu duduk-duduk di gerai bakmi GM ditemani seporsi bakmi special dengan pangsit basah. Artinya 6 jam ke depan saya akan berada di bandara ini sambil ‘entah-ngapain’. Mungkin begini rasanya penumpang pesawat kalau harus transit berjam-jam di sebuah bandar udara. Ok then, saya bertekad melewatkan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat agar tidak mati kebosanan. Sekedar informasi, menunggu pemberangkatan kendaraan adalah hal yang tidak saya sukai. Hal ini betul-betul menjadi tantangan untuk kesabaran saya.

Setelah makan dan sholat jamak untuk Dhuhur dan Ashar, tujuan utama adalah membayar hutang tidur. Semalam mata hanya sempat terpejam selama 3 jam. Untunglah di lobi utama lantai 2 tersedia kursi-kursi empuk yang mengelilingi 4 sisi display televisi.

Salah satu sisi display TV
Salah satu sisi display TV

Segera saja pantat mendarat di salah satu kursi kosong yang letaknya di sudut. Lima, 10, 15 menit, setengah jam, sejam, belum bisa tidur juga. Ternyata tidur di tempat umum itu sulit. Bukan karena cemas bawaan hilang, tapi karena akan banyak mata yang mengambil kesempatan memandangi saya puas-puas. Ya, alasan ini memang mengandung unsur ge-er. Hehe…

Akhirnya saya putuskan untuk tilawah. Hal yang kurang bisa dilakukan di rumah dengan tenang. Tidak lama kemudian kantuk mendera. Ini tilawah kok kayak obat tidur sih? Otak mesti diformat ulang nih. Walaupun tidur hanya 10 menitan, tapi lumayan bikin fresh mata dan badan. Terbangun dan bosan… Uh, ngapain ya? Chatting sampai jempol keriting juga sudah. Sampai teman chattingnya bosan kali.

Waktu terus merangkak. Untung saja sudah pandai merangkak, jadi terasa lebih cepat. Mungkin sebentar lagi si waktu belajar jalan dan lari. Bosan lagi. Jalan-jalan di sekitar lobby. Merekam gambar yang menurut saya menarik melalui ponsel. Sayangnya tidak ada teman yang bisa dimintai tolong ngambil gambar narsis. Duduk lagi sampai pantat panas dan meleleh. Lelehannya menyatu dengan plastik pelapis kursi. Kalau begini mudah-mudahan jadi lebih betah duduk.

Waiting...
Waiting…

Akhirnya pukul 17.00 tiba. Empat jam yang menyiksa telah terlewati. Lebih baik nunggu maghrib sekalian di lobi utama sebelum boarding pukul 18.30. Informasinya, adwan maghrib pukul 18.20. Sholat maghrib terpaksa tidak jadi dijamak karena pengantri yang panjang mengular. Setelah boarding, pukul 18.45 saya sudah antri memasuki badan pesawat dan take off tepat pukul 19.20. Ternyata waktu berlari di dua jam terakhir. Perjalanan masih panjang. Masih ada perjalanan Surabaya-Malang yang menanti.