Persahabatan Lima Jari

Apa jadinya ya kalau 5 jari kita tidak kompak atau salah satu cedera? Wah, pasti aktifitas yang melibatkan jari menjadi terganggu.  Seperti halnya kelima jari yang kita miliki, saya dan 4 sahabat di tempat kerja bersinergi seperti halnya jari-jari kita.  Dan uniknya, masing-masing dari kami mempunyai karakter dominan yang berbeda tapi saling melengkapi.  Seperti inilah sinergi itu, saat Indri si Gudang Ide datang dengan ide-ide anehnya, Rita sang Konseptor siap menerjemahkan ide abstrak Indri menjadi sebuah konsep yang lebih logis.  Langkah selanjutnya Nana merancang konsep menjadi rencana yang realistis.  Berikutnya giliran Danik menjalankan rencana menjadi kenyataan dan Nurul mengkritisi keberlangsungan seluruh proses.   Kronologi ini berlaku mulai dari hal yang sederhana seperti menentukan tempat makan sampai mengerjakan proyek besar yang melibatkan institusi lain.  Mungkin terdengar aneh kalau mementukan tempat makan saja perlu konseptor bahkan kritikus.. hahaha.. tapi itulah kami.  Serasa Sang Takdir menuntun kami berlima untuk berada di satu unit kerja.  Semoga kebersamaan dan persahabatan ini berlangsung sampai akhir hayat.

Friend(s)

Every moment we shared

every times we spent

hope it will be joyful and bring a happiness…

No matter what had happened at last

no regret and no tears

just your smile makes the day brighter…

Time will leave us in a second

but friend could stay in your heart as you grow and become older…

 

Kenangan Hujan

Mendung kelabu yang merata di belahan timur kota Malang sudah mengindikasikan turunnya hujan saat saya bergegas pulang.  Sesuai prediksi, belum lagi keluar dari kompleks kampus, hujan sudah membentuk titik begitu butirannya mencapai aspal jalan.  Kebanyakan pengendara motor kemudian menepi memasang jas hujan atau sekedar berteduh, tapi tidak demikian dengan saya.  Bukannya malas mengeluarkan jas hujan dari bagasi motor, tapi lebih disebabkan ingatan masa kecil, kali ini saya berniat hujan-hujanan.  Hanya saja, sekarang hujan-hujanan di atas motor.  Saking derasnya hujan, belum 200 meter badan sudah kuyup, kecuali kepala yang dilindungi helm.  Dingin memang, tapi menyenangkan.  Tidak terasa, saya tersenyum dan bersenandung di sepanjang perjalanan.

Ingatan saya lalu terbang ke masa lalu.  Bersama seorang sahabat, biasanya kalau sedang tidak numpang sepeda teman, kami pulang sekolah berjalan kaki lewat jalan aspal.  Tapi hujan saat itu membawa kami berjalan melalui pematang sawah dan berkhayal kesana kemari tentang sungai, binatang sawah, dan padi.  Kalau hujan mereda, kami menghanyutkan perahu kertas dan berlomba perahu siapa yang lebih cepat mengikuti arus sungai kecil di sepanjang sawah.  Sepatu dan kaos kaki sudah menjadi penghuni tas dan dengan kepala ditutupi tas plastik kami tertawa-tawa sambil menjaga keseimbangan di sepanjang pematang.  Masing-masing beradu cerita seru-seruan tentang hujan.

Atau ke masa sebelumnya lagi, kompleks perumahan yang saya tempati berdekatan dengan tanah lapang tempat orang main layangan atau adu merpati.  Juga dekat dengan sawah dan sungai.  Tapi dari semuanya, saya paling suka dengan gubuk kecil di tengah tegalan tempat orang membuat batu bata.  Biasanya saya dan teman-teman bermain di sana.  Sambil tidak bosan-bosannya melihat orang mencetak dan membakar lempung hingga menjadi batu bata.  Gubuk itu juga menjadi tempat kami berteduh kalau hujan turun.  Tapi tidak jarang juga, kami sengaja membasahkan diri, berlari-lari main seluncuran lumpur di tanah lapang saat hujan deras.  Atau sekedar meniti pematang sawah.  Adakalanya kami memotong daun pisang dan menjadikannya payung.  Ini sih formalitas saja, pada kenyataannya kami saling dorong sehingga tetap saja kebasahan.  Termasuk juga saat sepeda BMX sedang trend, permainan balap sepeda pun jadi ajang main tanah air alias lumpur.  Pesan ibu, jangan main dibawah gerimis, tapi kalau deras boleh, karena tidak menyebabkan sakit.  Entah dimana kebenarannya, tapi seperti itulah kenyataannya.  Gerimis itu bikin pusing, tapi hujan yang deras bikin senang.  Mungkin saat gerimis perpindahan kalor yang tidak merata saat mengenai kepala menyebabkan penyempitan pembuluh darah di permukaan kepala tidak serentak sehingga menyebabkan keseimbangan homeostasis tubuh terganggu.

Saya percaya, kenangan akan hujan selalu manis walaupun hujan identik dengan kesan dingin, sendu dan mendung.  Seperti saat ini, guyuran air hujan ternyata bisa menghangatkan hati.

Picture copied from: http://iamgratefulhowareyou.files.wordpress.com/2011/03/rain-play.jpg

Semalam Bersama ‘Musim Gugur di Manhattan’

Tadinya saya akan membuatkan resensi sebuah buku, tetapi karena otak sedang tidak ingin diformat berpikir formal, akhinya jadi resensi yang bukan sebenar-benarnya, karena campur-campur dengan komentar tidak resmi setengah meleset dari isi buku.

 

Berawal dari seorang sahabat, Julie Nava, yang punya dedikasi dan komitmen tinggi dengan dunia menulis meluncurkan sebuah novel “Musim Gugur Terakhir di Manhattan”, menginap di rumah saya selama beberapa hari dalam rangka liburan dan promo novel tersebut di Indonesia.  Antusias dengan kedatangannya dari Detroit yang membawa serta Pak Juan (demikian suami saya menyebut suami teman saya) dan gadis kecil berumur tiga setengah tahun Allyssa yang selalu menolak kalo dipuji.  Kemudian secara tidak disangka-sangka, pada sesi jalan-jalan ke Gramedia, sahabat saya itu menjumpai novelnya itu sudah dipajang di rak display dan spontan membelikan saya satu buah novelnya.  Semoga bukan karena dia tahu saya tidak akan membelinya karena yakin akan diberi (hehe… pede aja lagi).

Akhirnya, pada hari berikutnya saya habiskan malam saya bersama novel setebal 300an halaman tersebut.  Terusterang saya tidak bisa menjauhkan kehadiran sosok pengarang di dalam tokoh utama, Rosita atau Rosie, di dalam novel tersebut.  Mungkin karena saya kenal pengarang dengan sangat dekat, tahu persis perjalanan hidupnya seperti dia juga merekam sepak terjang dan keluh kesah saya, dan lebih banyak share dari hati ke hati daripada berbicara dengan memakai topeng kepentingan.  Kami saling mengenal bahkan sebelum kami dilahirkan.  Begitu dia selalu berseloroh tentang bagaimana kami bisa kenal satu sama lain.

Semula saya tidak bisa menghindar untuk selalu membandingkan Julie dan Rosie.  Didalam novel ini saya melihat pribadinya di setiap paragraf, kalimat, dan gerak-gerik Rosie.  Tentu saja semua novel dibuat berdasarkan observasi.  Tetapi observasi tersebut tidak harus berada dalam lingkaran terdekat dalam kehidupan penulis.  Walau bagaimanapun menulis tentang kehidupan di sekitar kita logikanya akan terasa lebih mudah daripada yang jauh diluar lingkaran kita.

Dalam novel ini saya membaca sahabat saya itu telah mencapai titik kulminasi dari apa-apa yang ditangkap oleh indranya selama ini.  Terutama dalam rentang hidupnya pasca menikah dengan Pak Juan.

Lebih lanjut, novel ini kemudian menjelma menjadi episode-episode hidup yang dibangun dengan cantik dan menghanyutkan.  Yang kemudian membawa saya lepas dari bayang-bayang pengarangnya… Novel ini akhirnya membawa saya masuk ke dalamnya dan membuat saya menjelma menjadi Rosie.  Menjadikan saya tertawa, tersenyum, dan menangis bersama Rosie.  Pada saat Rosie mencintai Anthony, saya menjadi berdebar, dan saya begitu bingung saat harus menjatuhkan pilihan mempertahankan Anthony dengan cintanya yang obsesif, atau menerima Marco yang lebih fleksibel.  Dan sampai lembar terakhirpun saya masih berpijak pada dua cinta yang berbeda walaupun jalan sudah dipilih…

Saldomania

Kyaa…Rasanya udah berabad-abad gak nengokin spot tercinta ini. Tempat curahan hati saat kesal sampai senang, dari intensitas rendah sampai tinggi. Kali ini aku mengusung sapa tentang masa berakhirnya kepanitiaan yang sudah aku ceritakan di kisah-kisah sebelumnya.

Seperti lazimnya semua kegiatan yang dilakukan manusia, prinsip pertama yang akan dipegang adalah bekerja seminimal mungkin demi keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi-lah… Rasanya itu berlaku untuk semua hal. Terutama urusan per-duit-an dalam kepanitiaan kemarin itu. Hehehe… Begitu kegiatan udah mulai kukut-kukut dan sang sekretaris udah nagih-nagih LPJ, sang bendahara juga mulai meng-up grade laporan di sana-sini demi mengais rupiah yang mungkin tersisa. Eh, bukan mungkin ding, tapi HARUS ada saldo. Demikian ancam rekan panitia urusan lain. Ujung-ujungnya kami mulai kasak-kusuk mengira-ngira berapa Rp yang mungkin bisa dibawa pulang.

Beberapa hari belakangan sang bendahara dan sang sekretaris sudah runtang-runtung kesana-kemari sambil bawa-bawa map isi laporan keuangan. Dan para panitia urusan lain juga sibuk menguntit mereka sambil berusaha menguping pembicaraan mereka, apalagi kalo udah terdengar,”Rp…. psst… Rp… “.

Tapi sodara-sodara… dalam hati kecil ini juga ada segumpal pertanyaan,”Legalkah perbuatan bagi-bagi uang sisa kegiatan ini? kan kita udah dapat cum, lagian gak ada hitam diatas putih bahwa kerja kita dibayar, kita juga gak kerja-kerja amat malah cenderung bersenang-senang ada kesempatan bebas sebentar dari tugas kantor, anggap aja liburan.” Ee, masih punya hati nurani juga ya. Huah… sampai disini, diskusi berlanjut pada bagian tentang payung hukum. Setelah tanya sana-sini, dengan narasumber yang udah berpengalaman bagi-bagi duit, didapatlah jawaban senada, yaitu LEGAL. Dengan dalih, uang yang diturunkan dari atas segitu udah sesuai proposal, gak mungkin ada pos uang kembalian (emang pasar kali yee). Ups, lega dong (walopun narasumbernya juga udah diseleksi dan di-edit serta agak-agak diintervensi, hehehe…). Serta merta kami jadi berterimakasih pada sang bendahara yang udah ngirit bin pelit.

Jadilah, kami, panitia urusan lain sibuk menodong sang bendahara dengan ringan tiap kali ketemu. Dan tinggallah sang bendahara sibuk menghindari kami sambil berusaha segera menyelesaikan laporan keuangannya. Cepetan Bro…!

HOROR HARAH

Seperti biasa, pagi-pagi dalam perjalanan ke kantor aku diguyur gerimis yang melunturkan bedak dan melicinkan aspal. Jelas aja, lha wong musim ujan yak… Tikung kanan dan kiri, sedikit manuver ngakalin ban depan yang udah gundul, menghindari tukang kerupuk yang bawaannya menggunung kanan kiri, sempat terlintas di pikiranku tentang kecelakaan. Yang ini memang perlu diingat agar dihindari. Trus keingat juga tentang darah yang identik dengan kata kunci pertama. Trus kepikiran juga sama kegiatan donor darah dua hari lagi. Karena hari ini mesti ngecek berapa korban yang terjaring dalam form peserta. Rasanya sih pe-de aja, karena sasarannya kan mahasiswa dan kolega yang paham betul tentang pentingnya acara ini. Jadi ya, prekdisiku sih mencapai target minimal-lah.

Telpon sana telpon sini, ngecek jumlah pendaftar, Alhamdulillah gak mengecewakan. Walaupun , sejujurnya agak ketar-ketir, karena ternyata banyak kolega yang notabene adalah tenaga medis dan paramedis takut sama jarum suntik. Sempat juga sih aku tawarkan, gimana kalo donor pake pisau bedah? Eh, malah mereka sibuk protes-protes sambil nyumpahin aku. Lha piye, kalo nyuntik orang aja hayoo, giliran dimintai sumbangan darah “no teng”.

Pengobatan Gratis

Alam masih menyisakan rintik hujan sisa tadi malam, tapi pukul 7 pagi tim Pengobatan Gratis sudah bersiap berangkat dari pelataran parkir FK Unibraw. Full team ber-17 berbekal berkardus-kardus amunisi alias obat-obatan dan isi perut (biar tidak gantian kami yang jadi pasien) pukul 8 kami bertolak ke dusun Bocek, kec. Karangploso, kab. Malang. Perjalanan 45 menit menyisir ladang dan hutan sepanjang lereng G. Arjuno lumayan melelahkan dan memabukkan karena tanjakan dimana-mana dan pak Kholil yang membawa kami punya reputasi baik sebagai sopir yang sering bikin mabuk penumpangnya.

Tiba di lokasi kami disambut musik dangdut dari speaker ‘balai dusun’ yang masih beralaskan tanah sehingga refleks goyang 1×1 jadi tak tertahankan lagi (minimal goyang jempol), heheheh…
Yang jelas, pasien udah nunggu…hurry up.

Tentu saja Pak Kadus dan Ketua Panitia harus berbasa-basi sejenak (uff…). Berikutnya penyuluhan Diare dan Demam Berdarah (ini bikin gelisah pengunjung yang semakin banyak di hari yang semakin siang dan kepala/gigi/boyok yang semakin sakit…*keluh*). Akhirnya, pasien pertama dilayani pukul 10, berturut-turut mereka dilayani 3 meja anamnesa dan 3 bilik periksa. Sesudahnya mereka ngambil obat di meja apotik. Uff… udah siang, panas pula. Meja pamungkas ini mesti ekstra hati-hati juga, lantaran salah obat bisa dituntut kalo gak dikutuk tuju turunan… (pilih mana hayoo). Apalagi berhadapan dengan para manula yang pendengarannya udah kurang ato bahkan pasien dengan nama sama. Celakanya, di kartu status tertera alamat sama, yaitu ‘ds.Bocek’, Supit Urang. Tak ayal, para penunggu meja obat mesti rajin-rajin juga ngintip bilik nanya ke dokter yang ngasi resep, sambil nenteng2 pasiennya. Mending kalo sakitnya sama. heheheh…

Pukul 2 siang turun hujan, sekaligus menyetop arus pasien yang datang. Saved by rain.
Makan siang dan berkemas pulang. Jam 3 sore kami udah mangkal lagi di kampus. Menyisakan penat dan rasa syukur. Gak terasa udah 204 pasien kami tangani. Semoga jerih payah ini tercatat sebagai amalan yang abadi.

Dies Natalis, ups!

Tentu saja embel-embel ‘ups’ di belakang titel diatas bukanlah nama sebuah perusahaan cargo dan ekspedisi, tapi lebih pada luapan kata hati yang tak terkatakan saking kompleksnya. Eh, ini lagi… bukan kompleks industri ato perumahan tapi saking bujubune kerjaannya.

Biasanya kalo ada yang dies natalis alias hari kelahiran, bakal disusul acara undang-undang dan makan-makan (terlepas siapa yang ngasih makan, karena kalo di Jepun sono, si tamulah yang bawa makanan untuk dirinya sendiri dan yang ultah). Tapi, yang kita bicarakan ini adalah hari ultahnya sebuah universitas di kota Malang (baca: Ngalam). Sebagai subjek sekaligus objek, tentunya yang repot-repot (baca: merepotkan diri) adalah civitas akademika penghuni universitas tersebut. Semuanya kudu terlibat!!! Emmm… ternyata penghuninya banyak juga.

Maka disusunlah buanyak kegiatan terkait dengan ultah tersebut. Tapi celakanya, yang mau terlibat jadi panitia bisa diitung jari. Hehhhh… (sambil menghembuskan segala CO2 yang bermukim di sudut-sudut bronchiolus)… itupun setelah ditodong setengah mati oleh oknum yang berhasil diciduk oleh panitia pusat. Dan jadilah, satu orang terlibat dalam sekian kegiatan dengan jabatan yang berbeda-beda. Saya sendiri termasuk salah satu korbannya. Di ‘Ceramah Ilmiah Populer’ jadi sie acara, di ‘Pengobatan Gratis’ jadi tukang bagi-bagi obat, di ‘Donor Darah’ jadi ketua. Demikian juga rekan lain, yang orangnya ya itu-itu ajah… Sampai-sampai kalo lagi ngobrol ato rapat, kita mesti ‘garisbawahi’ “Lagi ngomongin acara apa nih?”… karena hal itu menyangkut ‘hirarki’. Jangan sampe saya main tunjuk-tunjuk di rapat ‘Pengobatan Gratis’ gara-gara barusan rapat ‘Donor Darah’…heheheh

Dampak negatifnya, tentu saja urusan ngajar jadi terbengkalai… huhuhu… dan tentu saja capek lahir batin.