Are You Personalized Medicine?

Someday you may have card consist of genetic  information related to drug administration.
Someday you may have chip on e-card consist of genetic information related to health care, drug administration, and health insurance.

Have you ever felt not suitable or are allergic to certain medications? Or have you ever healed earlier by certain drugs than other people who take the same medicine? Sometimes, this occurs unexpectedly after we took certain medications. Not recovered is better than getting an allergic reaction. It implies personalized medicine. Though we all are human species, Homo sapiens, but genetically we are different in about 0,01% gene sequence. Like a barcode we found on products we bought, no two humans are genetically identical. Even monozygotic twins who are develop from one ovum and one sperm. So, based on experience people should be smarter when choosing a medication as well as choosing a doctor who will write a prescription for them.

(reposted from http://safrinadewi.lecture.ub.ac.id/2012/10/do-you-personalized-medicine/)

What Time Can’t Solve?

“As time goes on, you’ll understand.  What lasts, lasts; what doesn’t, doesn’t.  Time solves most things.  And what time can’t solve, you have to solve yourself.”  (Haruki Murakami)

Nakata and Mimi, Kafka on the shore.
Nakata and Mimi, Kafka on the shore.

Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh waktu? Bahkan kematian pun menunggu waktu. Ternyata ada yang tidak bisa diatasi oleh waktu, yaitu ketidaksabaran.  Terburu-buru itu katanya sudah tabiat manusia.  Tapi sungguh, waktu pun menyerah untuk yang satu ini.  Maka, bersabarlah 🙂

Anak-anak dan Sekolah Baru

Bulan Maret memang masih jauh dari tahun ajaran baru. Malah baru masuk awal semester. Tapi untuk orangtua yang anaknya naik jenjang — bukan naik kelas ya — naik jenjang itu dari TK ke SD, SD ke SMP, dan seterusnya, rencana-rencana sebaiknya sudah disusun di bulan ini. Bahkan, di kota saya ada SDIT swasta favorit yang sudah mulai membuka pendaftaran.

Tahun ini Adik naik jenjang ke SD dan Kakak ke pendidikan menengah atas. Untuk Adik, pertimbangan pertama kami sekolahnya harus full day, syarat berikutnya baru di saring berdasarkan visi misi, lokasi, dan biaya. Visi misinya harus Islami karena enam tahun bukan waktu yang singkat untuk membentuk karakter seorang anak. Ada beberapa SD full day yang visi misinya Islami. Nah, karena Islami itu bisa berarti beberapa konsep pembelajaran yang berbeda, kami mesti hati-hati lagi memilih sekolah. Bagaimanapun juga ‘rumahku sekolahku’, Al Baiti Madrosatun. Maka dari itu, karena Adik terpaksa lebih banyak menghabiskan waktu belajar di luar rumah, maka visi misi sekolah yang dituju wajib selaras dengan konsep yang diterapkan di rumah. Akhirnya ada satu kandidat SDIT di daerah Sawojajar yang akan kami survey lagi dalam waktu dekat.

Bagaimana dengan Kakak? Dari pengamatan kami, Kakak punya bakat seni animasi yang menonjol. Menggambar komik sampai dengan membuat komik strip merupakan aktifitas sampingannya yang kadang nyaris menyita kegiatan belajar utama. Untuk Kakak, alternatif sekolahnya adalah SMK yang menyediakan program studi Animasi. Sejauh ini SMK di kota kami yang menawarkan program studi Animasi dengan fasilitas dan kerjasama antarinstitusi yang terbaik dan kesempatan studi lanjut dengan pilihan yang luas adalah SMKN 4.

Akhirnya, semoga di sekolah baru nanti mereka bisa bersekolah dengan bahagia, tidak tertekan, sesuai dengan bakat dan minatnya, tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sehat, mencintai sekolahnya, dan menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter utama.

Happy school :D (http://pcfallingspring.org/wp-content/uploads/2013/02/playlearn.jpg)
Happy school 😀
(http://pcfallingspring.org/wp-content/uploads/2013/02/playlearn.jpg)

Kontemplasi

Sudah hampir 2 bulan  tahun ajaran berlangsung, saya masih juga meraba-raba dan belum juga menemukan ide riset yang pas dengan situasi dan kondisi.  Kemarin-kemarin masih kepikiran ngulik tentang LTBI (Latent Tuberculosis Infection), tapi kok ya tidak lolos seleksi dana hibah.  Secara, riset molekuler perlu dana besar dan memaksa kita merogoh kocek dalam-dalam kalau tidak ada yang memberi hibah.  Mau banting setir melanjutkan track riset jaman tesis dulu, hhfff… tapi kok ya tidak terlalu sesuai dengan pohon penelitian yang dibeber di kampus.  Artinya, kalo ngotot mendalami riset yang lalu, mesti siap-siap cari sponsorship.  Ditengah kebingungan, ujug-ujug ada tawaran riset lain, potensial dibiayai alias gratis, tapi mesti belajar lagi nyaris dari awal.  Selain materinya yang sejak jaman kuliah S1 tidak terlalu saya sukai, aplikasi teknologinya juga sudah sangat maju.  “Can I?” Tentu saja itu pertanyaan pertama yang mengusik sekaligus menggoda.  Mengusik karena merasa tidak menguasai materi, sekaligus menggoda rasa ingin tahu untuk belajar dan belajar terus.

Masih belum mampu memutuskan akan fokus pada topik yang mana, saya melakukan kontemplasi.  Enam tahun yang lalu saya merasa ditakdirkan berada di rimba belantara yang bernama ‘Anatomi’.  Hanya petunjuk dan kompas dariNya saja yang membuat saya bisa survive berada di sini.  Dan dua tahun kemudian saya kembali diuji antara keinginan dan kepasrahan, karena pada saat kita begitu mendambakan sesuatu, saat itu pula ujian menjadi terasa lebih berat.  Mungkin juga seperti saat ini, Sang Penguji kembali memberikan ‘soal’ pada saya untuk menilai bagaimana saya menyandarkan diri padaNya, dan bagaimana saya meyakini bahwa tidak akan kaki ini melangkah tanpa ijinNya.

Terjebak Standar (versi: Rapotan)

Sepertinya ini jadi lagu lama para orangtua yang anaknya sudah sekolah di tingkat dasar ato bahkan te-ka (kindergarten). Tentang rapotan.
Menyekolahkan anak di ‘sekolah favorit’ menjadi idaman hampir semua orangtua. Apapun alasannya. Walaupun embel-embel favorit ini hanya stigma yang diberikan oleh masyarakat tapi lumayan ampuh juga sebagai lahan promosi bagi sekolah ybs. Stigma itu sendiri diberikan karena banyak kriteria. Biasanya menyangkut fasilitas (sarana dan prasarana) dan kualitas lulusan (yang ini kurang fair juga, lantaran input yang sudah bagus otomatis outputnya juga bagus).

Saya sendiri tidak termasuk orangtua yang menjadikan sekolah favorit sebagai pertimbangan utama dalam menyekolahkan anak. Tapi karena banyak hal, jadilah anak saya bersekolah di sekolah yang–kebetulan–adalah sekolah favorit. Tentu saja si Kecil masuk melalui seleksi karena kapasitas sekolah yang terbatas (dalihnya). Hari demi hari, bulan demi bulan, dan satu semester berlalu. Tibalah hari terima rapot (baca: rapotan). Manajemen sekolah menerapkan sistem peringkat, itu saya tahu. Tapi tidak saya sangka, para wali murid yang kebetulan sempat berinteraksi dengan saya ranking minded semua. Wuah…

Dalam proses belajar, saya tidak pernah mengintervensi si Kecil terlalu jauh. Apalagi karena sekolahnya sampai sore, jadi gak ada pe-er. Paling-paling cuma ngecek udah sampe mana, bisa apa tidak, yang susah apanya, gitu aja. Selebihnya, kami bermain, bercanda, dan membaca dongeng bersama. Beda banget dengan ortu lainnya yang orientasinya ke rangking. Mereka mengukur kemampuan anak dari rangking, seolah-olah bersekolah adalah berlomba, berkompetisi. Seringkali pulang sekolah si anak masih harus les ini-itu, baik yang berkaitan dengan pelajaran sekolah maupun tidak. Alamak… Detik itu saya sempat terpengaruh juga. Sepintas saya pandangai si Kecil yang ngobrol dengan temannya dengan keceriaan anak-anak, sesekali bersitegang karena gak setuju dengan pendapat temannya. Begitu polos, begitu murni, begitu indah. Anakku, haruskah aku melihatmu dengan kacamata ambisi, haruskah mulai detik ini “kamu mesti belajar lebih giat agar masuk–minimal–10 besar!”, sedangkan cinta ibu dan bapak tidak mengenal perbedaan seberapa tinggi prestasi yang bisa kamu raih. Nyaris titik air mata melihatnya.

Tidak. Saya tidak boleh terjebak standar (mengutip kata seorang sahabat). Anak adalah unik dan istimewa, seperti apapun dia, dialah anugerah terindah dalam perkawinan. Bukan lahan proyek orangtua apalagi penebus cita-cita yang gak kesampaian. Untunglah, suami juga berpendapat sama dengan saya. Kami hanya ingin si Kecil menjadi anak yang bahagia.