10 Alasan Kenapa Join-Group

Join grup yuuuk... ;)
Join grup yuuuk… ūüėČ

Gara-gara membaca tulisan seorang teman tentang 10 Alasan Kenapa Left-Group, saya tergelitik membuat tandingannya. Sepuluh Alasan Kenapa Join-Group, hehehe… Selain dari sisi negatif, mari kita memandang sisi positifnya.
1. Diundang teman.
Kebanyakan dari kita yang join group biasanya diawali dari undangan teman yang bertindak sebagai admin grup. Undangan ini bisa diawali basa-basi deskripsi tentang grup bakal kita join atau tanpa prolog langsung diseret saja oleh si admin. Tapi tidak usah khawatir, setelah celingak-celinguk di dalamnya, kita bisa memutuskan lanjut atau exit dari grup itu.
2. Kesepian.
Dengan membuat grup sekaligus mengundang teman-teman, kita jadi tidak kesepian lagi. Tapi kalau kebablasan bisa jadi kerepotan.
3. Kurang kerjaan.
Kurang kerjaan ini beda dengan kesepian. Jadi, orang kurang kerjaan cocoknya jadi admin atau jadi tukang ngerjain orang lain di grup.
4. Perlu sarana komunikasi dan koordinasi.
Ini umum saja sih, tapi banyak grup-grup yang isinya bukan hanya chit-chat, tapi spesifik untuk koordinasi kerja, rapat, arisan, hehe…
5. Spionase bin kepo.
Gak beda jauh antara mata-mata dan kepo. Biasanya mereka-mereka ini menjadi silent observer saat sudah masuk grup. Kadang punya target khusus yang mau dimata-matai atau tau-tau bikin tulisan berdasarkan observasi di grup. Wah, royaltine bagi reek… ūüôā

Yang lima berikut menanggapai tulisan teman saya disini. Rangkuman dari Rejoin-Group, artinya pernah left trus masuk lagi:

6. Aplikasi lancar lagi.
Ini untuk yang udah gak trouble atau yang perlu di-reinstall seperti whatsapp yang perlu perpanjangan tiap 12 bulan.
7. HP baru, terserah mau baru beli atau baru pinjam. Ini untuk yang pernah kehilangan atau yang ganti HP.
8. Nglobi admin. Yang gak sengaja exit akhirnya berhasil masuk lagi setelah memohon-mohon dimasukkan lagi oleh admin yang baik hati.
9. Sudah bayar. Baik membayar iuran, arisan, dan semua tagihan di grup. Jadi bisa lebih tenang hidupnya, lebih kenceng komen, dan lebih PeDe… hehe
10. Rekonsiliasi. Sudah gak nyesek lagi lihat nama teman di pop-up chat. Nyeseknya bisa karena pernah tersinggung, sakit hati, sakit gigi, sakit mata, eh… Tentang ini katanya jangankan muncul di timeline, sudah di-hidden saja masih dicari-cari *stalker sejati‚Ķ hahaha‚Ķ

Demikian hasil pengamatan dan penyangatan (amat dan sangat) setelah pernah dan masih join dengan 7 grup. Tentu saja sangat empiris karena tidak memakai metode sampling yang ilmiyah ūüôā

Kotak Pandora

Pernahkan kalian mendengar tentang kotak Pandora?

Untuk yang belum tahu, mari saya jelaskan sedikit tentangnya. Pandora adalah manusia perempuan pertama di dunia versi mitologi Yunani. Hermes memberinya nama Pandora yang artinya ‚Äúmendapat banyak hadiah‚ÄĚ. Pandora kemudian menikah dengan Epimetheus. Pada hari pernikahan mereka, dewa-dewa memberi hadiah sebuah kotak yang indah dan Pandora dilarang membuka kotak itu. Sampai disini saya merasa agak ganjil, namanya hadiah harusnya boleh dibuka ya, bahkan sudah lazim kalau dibuka di hadapan pemberinya. Hehe.. tapi namanya juga dongeng, terserah yang ngarang. Tentu saja Pandora penasaran dengan isinya, sampai akhirnya dia membuka kotak itu. Pada saat dibuka, terlepaslah sesuatu yang mengerikan dari dalam kotak itu. Ternyata Pandora telah melepaskan teror ke dunia. Masa tua, rasa sakit, wabah, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu, kelaparan, dan malapetaka lainnya. Seluruh keburukan itu menjangkiti umat manusia, kecuali satu benda yang tertinggal di dalam kotak Pandora, yaitu harapan. Benda ini pun keluar saat Pandora menunjukkan kotak itu pada suaminya. Hingga saat ini manusia mempunyai kebencian, kejahatan, penyakit ‚Äď dan harapan. Harapan ini yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala keburukan tersebut.

Membuka kotak Pandora

Baru-baru ini saya mengalaminya, membuka kotak Pandora. Ah, tidak.. rasanya bukan analogi yang pas juga. Karena yang keluar dari sana bukan keburukan, tapi lebih tepat disebut kejutan-kejutan. Telur yang berubah menjadi kupu-kupu, monyet, ular, burung, kucing, sapi, kunang-kunang, ikan, harimau, gajah, sampai dengan dinosaurus dan tyrex.. haha, kenapa jadi kebun binatang ya? Tapi nyatanya kita semua memang berasal dari telur. Yang waktu itu belum menetas atau berada di tahap larva sehingga masih mirip-mirip satu sama lain.

Ceritanya begini, pada pertengahan tahun 2013 lalu saya mengontak teman-teman alumni SMP yang sudah berpisah selama 25 tahun. Berawal dari beberapa orang saja yang bertemu secara tidak sengaja di dunia maya (thanks to Leonard Kleinrock, tidak kenal juga sih, tapi dari browsingan, beliau ini dianggap bapaknya internet alias penemu internet), hingga melalui informasi dari hantu ke hantu (numpang istilahnya Trio Detektif) kami berhasil mengumpulkan kurang lebih 90an alumni. Lima puluh orang diantaranya bergabung di grup Whatsapp, sesuai kapasitas maksimalnya, 50 anggota. Dan lebih banyak lagi yang berkumpul di grup Facebook dengan bendera FASE389 Community. Niatnya, dalam waktu dekat kami akan mengadakan reuni perak. Berbagai persiapan dilakukan termasuk membentuk kepanitiaan. Hingga terwujudlah reuni perak angkatan kami pada tanggal 12 Januari 2014 lalu.

Remaja vs Dewasa Menengah

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubah seseorang. Telur kupu-kupu saja perlu waktu lebih dari sebulan untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Bukan analogi yang pas ya.. hehe.. Tapi manusia juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan (ya iyalaah..). Unsur-unsur yang berubah dalam diri kita adalah fisik, kognitif, dan emosional serta sosial. Pertumbuhan adalah sesuatu yang bersifat fisik seperti berat dan tinggi badan seseorang, sedangkan perkembangan melibatkan unsur kognitif dan psikososial. Alat ukurnya tentu berbeda. Misalnya IQ chart untuk mengukur kemampuan kognitif atau Denver chart untuk mengukur perkembangan psikososial anak-anak.

Berdasarkan tahapan perkembangan manusia, dulu kami berpisah saat kurang lebih berumur 15 tahunan. Saat itu kami berada pada tahap adolescence (remaja, 11-18 tahun) dan saat ini bertemu lagi di tahap awal middle adulthood (dewasa menengah, 40-65 tahun). Kebanyakan dari kami memang baru bertemu lagi setelah 25 tahun itu. Hanya sebagian kecil saja yang masih berkomunikasi setelah perpisahan SMP dulu. Saat lulus SMP itu kami baru saja mengalami masa puber, tapi belum mencapai ukuran dan kematangan tubuh dewasa. Suara sudah ngebass tapi kumis belum tumbuh, haid sudah beberapa kali datang tapi badan masih seukuran anak SD. Serba belum jelas lah, kurang lebih setara dengan larva, belum mencapai bentuk akhir. Hehe..
Saat itu cara berpikir kami masih abstrak atau kata lainnya belum jelas mau ngapain, cita-cita saja masih berubah-ubah (geje, red), tapi idealis dan serius dalam sekolah. Pikirannya masih jarak pendek. Pencapaian hidupnya pakai skala semesteran atau caturwulanan. Remaja ini juga sedang memantapkan identitas seperti menetapkan fungsi mandirinya dalam keluarga. Misalnya punya tugas cuci piring atau cuci motor, ya udah, itu akan menjadi identitasnya. Biasanya remaja menempati kasta terendah dalam hirarki keluarga. Sudah bisa disuruh-suruh tapi belum punya bargaining power. Haha..

Sedangkan dewasa menengah yang diawali pada usia 40 tahun (walaupun beberapa dari kami baru berumur 38-39 tahun saat bertemu), mempunyai karakteristik mencapai titik tertinggi dalam karir dan posisi kepemimpinan, istilahnya, sudah mentok apapun posisinya saat ini. Dalam hal ini kami sedang mengawali fase ini. Artinya berada di posisi awal kemapanan status. Sudah mulai mantap! Biasanya juga sudah punya tanggungjawab terhadap keluarga. Mempunyai anak dan ikut menunjang kehidupan orangtua. Pada umur segini, sudah mulai ada kepedulian pada kematian. Sudah tidak mikir senang-senang saja. Sudah mulai insap!

Here We are!

Inilah kami sekarang, selama 25 tahun itu, dari yang geje menjadi konkrit, yang senang ngalor ngidul jadi serius, dan yang biasa belajar tekun saat ujian (biasanya) menjadi sukses. Ini berlaku juga untuk yang setia meminta contekan dari teman yang pintar (merasa,red). Yang kurus kerempeng menjadi besar berotot, yang nangisan menjadi pemberani (any brave), yang culun menjadi anggun, yang ingusan menjadi pilek.. eh, sama itu sih. Iya, karena anak kecil/remaja memang rentan infeksi, sistem imunnya belum mantap, salah satunya gampang kerasukan virus influenza yang pintar menyamar, makanya dibilang anak ingusan (ilmiyaaaah…). Dan sungguh ajaib interaksi interpersonal di awal dewasa menengah ini, amazing menurut saya. Ibarat suatu bangunan yang baru berdiri megah, ibarat kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, semuanya indah, menakjubkan, mengagumkan, dan memabukkan.. eh.. ney ney ney. Haha.. Semua tampil berkilau, baru keluar dari kawah candradimuka tahap awal dewasa (early adulthood) dengan masing-masing warna dan bentuknya.

Bagi yang warna dan permukaannya cocok bagai protein ketemu reseptor berpotensi melipir dan mojok. Jadi rekanan dalam pekerjaan, hobi, atau bahkan sekedar sahabat ngrumpi seperti disini. Tentu saja interaksi warna dan bentuk yang beraneka rupa itu juga berpotensi menimbulkan friksi. Tapi akan selalu ada harapan. Harapan untuk menjadi lebih baik dan lebih bersinergi. Semuanya berawal dari satu hal yang menyatukan kami yaitu kerinduan pada masa remaja, saat tidak ada beban hidup dan hiruk pikuk dunia yang dulu seolah tidak tampak, saat tahapan geje dalam hidup kami.

Fase389

Metamorfosis Diri

Memang sedang iseng kali ya, tiba-tiba pandangan terarah pada kolom blog yang paling kanan.¬† Deretan bulan dan tanggal postingan.¬† Tertera disana, postingan paling lawas tahun 1994-1996, kemudian vakum sampai kreatifitas muncul lagi pada tahun 2006-an.¬† Postingan paling baru tahun 2011 dan mulai bisa konsisten sejak pindahan blog pada September 2011.¬† Saya sendiri bertanya-tanya, momentum apakah yang mendorong saya menjadi tidak konsisten, atau hal apakah yang menjadikan saya hanya kreatif — alias berkreasi — di tahun-tahun tersebut.¬† Saya melakukan sedikit kilas balik perjalanan hidup atau lebih tepatnya perjalanan hati, sesuai nama blog ini, karena inspirasi saya lebih terdorong oleh gelora hati daripada karena hal lain.

Diawali dari tahun ’90-an, postingan ini kebanyakan dibuat diawal masa-masa kuliah S1.¬† Banyak pengalaman baru dan menarik yang saya jumpai, termasuk bertemu orang-orang yang mengisi hati saya dan memperkaya wawasan hidup saya.¬† Dinamika kehidupan kampus juga mendorong gelora menulis.¬† Yang tersaji di blog ini hanya sebagian kecil dari perjalanan berkarya yang pernah saya tulis.¬† Pada masa tersebut saya banyak menulis catatan perjalanan lapangan dan puisi.¬† Tentu saja tidak semua bisa saya sajikan disini.¬† Beberapa dalam bentuk cerpen tidak saya dokumentasikan dengan baik sehingga entah dimana rimbanya saat ini.¬† Walaupun pada masa itu belum ada internet, tapi kemana-mana saya sudah membawa notebook yang siap mencatat setiap moment menarik yang saya jumpai dan saya alami.

Tahun 2006 adalah masa transisi dari masa vakum setelah lulus kuliah — sebagai ‘totally housewife‘ — ke dunia kerja.¬† Lagi-lagi banyak pengalaman baru yang mendorong saya untuk menulis lagi.¬† Tulisan di masa ini lebih bersifat feature, pengalaman kerja dan perubahan-perubahan yang terjadi selama masa tersebut.¬† Beberapa puisi yang saya tuliskan merupakan puisi daur ulang di masa kuliah S1 dulu.

Kemudian blog saya — waktu itu saya punya dua rumah, di blogger dan multiply — vakum lagi menjelang tahun 2007 di saat kesibukan kerja memuncak dan mulai mempersiapkan sekolah lanjut. ¬†Pada masa studi S2, terasa sekali perbedaannya dengan masa S1 dulu.¬† Kalau bisa digambarkan, S1 adalah masa bersenang-senang dan jalan-jalan.¬† Di S2, yang notabene jalurnya juga berbeda dengan masa S1 dulu, lebih dipadati dengan kegiatan akademik dan lingkungannya mendukung kondisi stressful. ¬†Saat itu, walaupun sudah ada kolom catatan di¬†facebook sebagai tempat rilis ketegangan dan menulis uneg-uneg, tapi saya belum tergerak untuk menulis catatan hati. ¬†Tulisan-tulisan juga bergenre feature dan pengalaman hidup sehari-hari.

Hingga ada suatu waktu di tahun 2011 hati saya mulai terusik. ¬†Seperti naik roller coaster, naik pelan dan meluncur turun dengan cepat, dipermainkan oleh waktu dan kisah, terayun dan terbuai, kadang terguncang dan lelah, suatu saat pernah menjadi tak terkendali seperti layang-layang lepas. ¬†Atau, kalau dilakukan pemeriksaan hormon secara serial pada saat itu, pasti hormon saya sangat tidak stabil dan fluktuatif. ¬†Sungguh, suatu rangkaian pengalaman hidup yang sangat berkesan telah terjadi — pantang untuk dilewatkan oleh hati saya — dan tertuang dalam tulisan-tulisan sepanjang akhir tahun 2011 ini.¬† Momentum ini rupanya berhasil men-trigger sisi kreatifitas saya untuk tetap menulis, apapun bentuknya.¬† Saya belum tahu kapan berakhirnya, atau kapan akan bermetamorfosis menjadi bentuk lain, atau nanti akan vakum lagi.¬† Badai hati ini, ditambah hal-hal baru yang saya jumpai saat studi lanjut yang sekarang cukup menjadikan saya selalu terinspirasi untuk menulis atau sekedar ‘curhat’.

Secara keseluruhan, saya mencoba mengambil hipotesis — jawaban sementara –, bahwa untuk terinspirasi menulis, saya perlu momentum yang menyentuh hati dan atau pada saat-saat perubahan besar terjadi dalam hidup.

(The picture was taken on Kuala Lumpur Butterfly Park, the part of Kuala Lumpur Lake Garden by Safrina D. Ratnaningrum, 17/3/2009.  This park collects about 120 species of butterfly in stimulated natural rainforest environment)