Dan Langit Pun Menangis

Saat hati bersandar pada tundukmu...
Saat hati bersandar pada tundukmu…

Senja itu, roda-roda mobilku menepi di tepi aspal basah terbasuh gerimis. Sedikit tergesa, kubuka payung dan berdua dengan si sulung menyeberang jalan Bandung. Lalu melangkah memasuki pelataran sekolah disambut gema iqomah menjelang maghrib digelar. Kami tertinggal dua raka’at saat tiba di lantai dua masjid sekolah tempat diadakannya istighotsah menjelang ujian nasional.

Satu-satu dzikir dilantunkan. Suaranya mengetuk pintu langit yang pekat oleh mendung. Jiwa dan raga menghadap dinding ampunan. Merayu Sang Pemilik Takdir berbekal harap dan keridhoan.

Tuhan, ampuni kami.

Hanya jiwa yang lusuh oleh debu dan kerak dosa yang kami bawa menghadap padaMu. Ya Robbana, kami lemah, kami pasrah, kami bisu pada kalimatMu, dan tuli dari titahMu. Tidak ada yang lebih kami mohon kecuali rahmatMu.

Hujan luruh mengisak ketika kuketuk pintuMu. Dan semakin deras saat istighfar terhembus ke langit. Seakan air mata tak cukup membasuh noda.

Tuhan, ampuni kami.

Resah

Menangislah kalau kau ingin menangis,
tak satu pun yang berhak menghalangi…

“Words are tears that have been written down. Tears are words that need to be shed. Without them, joy loses all its brilliance and sadness has no end.”
[Anonymous]

8029752611_05b5e468b7_z

https://c1.staticflickr.com/9/8029/8029752611_05b5e468b7_z.jpg