Ngulik PicFrame

Saya sedang keranjingan PicFrame, salah satu aplikasi fotografi yang bisa dengan mudah diunduh di PlayStore dari handphone berbasis android.  Tapi sayang, setelah diedit resolusi fotonya jadi turun, jadi blur 😦

Tapi gak papa-lah, iseng inih…

Dan berikut ini beberapa hasilnya:

Ini maunya Charlie and His Angels.  Charlie's Angels ala FASE389 :D
Ini maunya Charlie and His Angels. Charlie’s Angels ala FASE389 😀
Jangan diganggu, sedang super serius *nyengir*
Jangan diganggu, sedang super serius *nyengir*
Dibuang sayang... :)
Dibuang sayang… 🙂
Trio Detektif Gagal
Trio Detektif Gagal
Teman saya yang mirip kucing.  Untung miripnya bukan dengan kucing kampuuung... :P
Teman saya yang mirip kucing. Perhatikan tatapan matanya, mirip banget kan? Untung miripnya bukan dengan kucing kampuuung… 😛
Dan... ini dia juaranya :D
Dan… ini dia juaranya, saya dan mas Nunu 😀

Demikianlah, semoga tidak ada yang tersinggung dengan keisengan saya 😉

Kok Iso Sih?

"Kok isooo?"
“Kok isooo?”

“Kok iso sih?”, demikian komentar seorang temanku, berulang-ulang.

Tidak seperti temanku, aku tahu kenapa ‘iso’, bisa.  Ini bukan tentang waktu, juga bukan tentang masa lalu.  Tapi tentang saat ini.  Sebuah episode dalam hidupmu, yang kamu percaya tidak terjadi begitu saja.  Semua ada sebabnya.  Tidak penting bagaimana akhirnya.

Katamu

Siang ini mendung merata di atas kota
hingga langit terasa dekat diatas kepala

Teringatku pada dialog kita,
Katamu, kita dekat dengan langit
saat perih menikam dan hati muram
Katamu lagi, sampaikan saja gundah dan resah
hingga habis sampai dasarnya…

Memang, jawabku waktu itu
tapi Tuhan lebih dekat dari nadi
hingga kita tidak pernah sendiri
dan harusnya jiwa kita tenang…

Hanya kadang kita terlalu jauh bermain
seperti kanak-kanak lupa pulang
dan pulang kesorean setelah terdengar lantang panggilan ibu…

Maka, kitalah jarak itu

Mendung (courtesy of BS)
Mendung (courtesy of BS)

Tanaman Murbei

Pertama kali saya mengenal tanaman ini saat berkunjung di taman rekreasi Rembangan, Jember kurang lebih 30 tahun yang lalu pada saat masih duduk di bangku sekolah dasar.  Entah sekarang, tanaman yang ditanam di lereng bukit rembangan itu masih ada atau tidak.  Beberapa hari yang lalu saat berkunjung ke rumah teman saya melihat tanaman ini berjajar di sepanjang jalan makadam menuju rumahnya.  Tentu saja saya tidak melewatkan mencicipi buahnya yang merah keunguan dan rasanya masam manis.
Dikenal sebagai tanaman murbei atau white mulberry yang bernama latin Morus alba L, selain popular sebagai makanan ulat sutra tanaman ini ternyata banyak khasiatnya.  Ekstrak kulit kayu pada akarnya mempunyai zat aktif kuwanon G yang bersifat antibakteria dan mengandung albanol A yang sedang diteliti untuk mengobati penyakit leukemia.  Selain itu mulberrosida A dan moracin M dari kulit akarnya bersifat hipoglikemik (menurunkan glukosa darah) dan dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah.  Ekstrak ethanol dari daunnya juga dapat mengurangi kerusakan pembuluh darah pada penderita diabetes.  Bahkan lalapan daun murbei ini dipercaya bisa meningkatkan produksi ASI.  Di India, daunnya dipakai untuk menetralkan racun ular.  Tau sendiri kan, orang India suka mainan ular kobra.  Sedangkan jus buahnya dipercaya dapat mengobati hepatitis kronis, kurang zat besi, tekanan darah tinggi, dan lemah jantung.  Tapi untuk khasiat buahnya ini belum dibuktikan secara ilmiah, baru bukti empiris aja alias statusnya masih sebagai jamu atau ramuan tradisional.  Ayo, siapa yang mau meneliti khasiat lain dari tanaman asli Cina selatan ini?
(Foto diambil oleh penulis)

Friend(s)

Every moment we shared

every times we spent

hope it will be joyful and bring a happiness…

No matter what had happened at last

no regret and no tears

just your smile makes the day brighter…

Time will leave us in a second

but friend could stay in your heart as you grow and become older…

 

Tanaman Juga Jalan-Jalan

Seorang rekan yang akan menguji sidang Tugas Akhir (TA) mahasiswa S1 meradang dan mengomel panjang pendek membaca pernyataan mengezzutkan dalam teks TA mahasiswa berkewarganegaraan Malaysia yang menyebutkan “… Daun Sirih berasal dari Malaysia… “.  Hah?! apa iya?? Apalagi referensi si mahasiswa samasekali tidak meyakinkan, ‘anonymous’ coba!.  Diluar masalah nasionalisme, kita juga perlu argumen pendukung yang ilmiah untuk mematahkan pernyataan tersebut.  Akhirnya kami berdua, saya dan rekan saya, melalui search engine, mengetahui bahwa Daun Sirih awalnya tersebar di kawasan India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka. Hff… setidaknya bukan dari Malaysia, demikian kami mengakhiri pencarian hari itu. Tapi dari situ saya jadi tergelitik untuk mengulik lagi masalah “India” ini. Setelah tulisan “Asal Usil Mangga” yang saya posting beberapa waktu lalu, kenapa yang ini juga dari India? Kemarin nyari asal mangga juga dari negaranya Shah Rukhan.  Bahkan kacang panjang pelengkap sayur asem dan pecel juga berasal dari India.  Bagaimana sih, cara mengetahui asal-usul jenis tanaman tertentu? Kok bisa tahu kalau kedelai berasal dari daratan China, sedangkan pepaya dari Meksiko Selatan hingga Amerika Tengah (tropis)? — waduuh, jauh sekali jalan-jalannya! –.

Penyebaran tanaman biasanya mengikuti pola migrasi manusia seperti pada gambar di sebelah kanan.  Karena pada saat bermigrasi, mereka akan membawa serta sumberdaya alam untuk dikembangkan di tempat baru.  Walaupun nantinya akan terdapat perbedaan karakteristik antara tanaman asli dan tanaman introduksi terutama yang sudah dibudidayakan, baik dari data genetis maupun ekologis.  Selain mengikuti pola migrasi manusia, tanaman juga mempunyai cara penyebaran hingga tempat-tempat yang jauh melintasi lautan dan antarbenua, melalui bantuan air, angin, dan binatang.

Untuk mempelajari daerah asal suatu tanaman diterapkan berbagai lintas bidang ilmu, mulai dari arkeologi, antropologi, ethnologi, genetika, botani, bahkan ilmu linguistik juga dipakai untuk mengidentifikasi asal tanaman dari cara penamaan tanaman tersebut.  Di dunia ini ternyata ada beberapa sentra primer daerah asal tanaman, yaitu:

  1. Daratan China
  2. India, terdiri dari: sentrum utama dan Indo malaya
  3. Asia Tengah
  4. Timur Dekat
  5. Mediterania
  6. Abisinia
  7. Meksiko Selatan dan Amerika Tengah
  8. Amerika Selatan terdiri dari: Peru-Ekuador-Bolivia; Chili; Brasilia-Paraguay

Indonesia, karena posisinya di ujung dari berbagai sentra primer daerah asal tanaman, menerima banyak tanaman introduksi.  Tanaman budidaya yang kita kenal di Indonesia masuk melalui perdagangan dengan pedagang dari negeri Islam (sekaligus mengintroduksi agama Islam) dan melalui penjajahan (misal Portugis dan Spanyol).  Lebih lanjut tentang jenis-jenis tanaman dan daerah asalnya dapat di baca di http://www.scribd.com/doc/29385200/Bab-3-Daerah-Asal-Tanaman.  Sampai disini timbul pertanyaan, masak sih Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini tidak punya tanaman aseli? (baca: a-se-li, hehe…).  Ditunjang kondisi geografis yang bergunung-gunung dan berhutan-hutan, tidak heran kalau tanaman asli Indonesia banyak yang berupa pohon berkayu dan semua vegetasi pelengkap hutan.  Mulai dari vegetasi lantai hutan seperti resam dan jenis pakuan lainnya, epifit (anggrek dan kawan-kawan), dan pohon-pohon raksasa sebagai kanopi hutan.  Termasuk juga hutan bakau dan jenis-jenis vegetasi di dalamnya.  Ada ribuan tanaman asli Indonesia.  Tapi sedikit sekali yang sudah dibudidayakan.  Cengkeh merupakan salahsatu contoh tanaman asli Indonesia yang sudah dibudidayakan.  Sayangnya, selain itu ada banyak jenis pohon berkayu yang keburu diangkut dari hutan sebelum program budidayanya berhasil.  Sehingga percepatan kepunahan dan perkembangbiakan jadi tidak seimbang sehingga banyak tanaman asli Indonesia yang terancam punah.  Bagaimana dengan tanaman buah asli Indonesia? — kalau tidak malas — akan saya sajikan dalam tulisan terpisah.
“Apakah tangan Tuhan bekerja pada beberapa titik tertentu kemudian memerintah manusia melakukan perjalanan di muka bumi dan alam melanjutkan misi Ketuhanan menyebarkan keanekaragaman hayati?  Lalu ratusan bahkan ratusan ribu tahun kemudian ilmu menjadi berkembang hingga mampu melacak ke belakang, dimana dulu pertama kali Tuhan menumbuhkan benih.”