PKK vs DWP

Terakhir saya menulis tentang kegiatan sebagai pendamping ASN pada tahun 2019, saat masih berada di dunia PKK.  Iya, PKK memang semakin terasa luar biasa dibanding kegiatan baru saya sejak 2020 masuk di lingkungan Dharma Wanita Persatuan (DWP) (sik sik… iki panganan opo maneeh??).  Semula pada tahun 1974 DWP bernama Dharma Wanita aja yang pendiriannya diprakarsai oleh Ibu Tien Soeharto.  Kemudian pada tahun 1999 seluruh anggaran dasar dan namanya diganti menjadi DWP melalui munas luar biasa.

Begitulah, seasing-asingnya saya dengan PKK, lebih asing lagi dengan DWP (setidaknya saya masih hafal mars PKK, lha di DWP ini kalau nyanyi terpaksa lipsyinc).  Organisasi DWP ini baru saya kenal sekitar 2 tahun yang lalu saat suami tidak lagi berada dalam jabatan kewilayahan.  Asing disini berarti tidak paham dengan organisasi dan kegiatannya.  Kalau istilah Dharma Wanita kan sudah sering kita dengar karena biasanya lekat dengan kegiatan arisan dan (sebagian) jalan-jalan, jajan, hura-hura… Ini stigma negatifnya lho ya… karena biasanya kita lebih mudah mengenal sesuatu dari sisi negatifnya (kita? Saya kaliiii…mohon maaf telah berprasangka negatif 🙂 ).

Anggota DWP adalah semua istri ASN ditambah bonus aturan baru yaitu istri kepala dan wakil kepala daerah.  Jadi menurut aturan baru tersebut, istri camat memiliki tugas rangkap sebagai ketua penggerak PKK Kecamatan sekaligus ketua DWP Kecamatan.  Seperti disampaikan sebelumnya, DWP ini berkaitan dengan ASN sehingga pucuk pimpinan DWP adalah istri menteri Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenpan) yang saat ini dijabat oleh Ibu Erni Gunarti Tjahjo Kumolo.  Jadi yang namanya ibu pejabat itu sungguhan ada, punya organisasi dan kegiatan, walaupun secara hirarki nebeng suami.  Kegiatannya, malah tidak mengandung kata arisan samasekali.  Sejauh yang saya alami, kegiatan utamanya dikelompokkan menjadi beberapa bidang, yaitu Pendidikan, Ekonomi, dan Sosial Budaya.  Seperti saat ini, di DWP Sekretaris Daerah (Setda), saya sebagai wakil 3 yang secara de jure membawahi bidang Sosial Budaya.  Bagaimana kami berkegiatan? Kegiatan bisa diinisiasi dari level manapun.  Tetapi hirarki menjadi harga mati di dalam susunan kepanitiaan.  Pernah suatu saat diminta (tepatnya diberitahu) untuk menjadi ketua pelaksana HUT DWP ke sekian.  Pastinya dong, sebagai orang yang penuh tanggung jawab saya dengan segera membuat proposal dan menyusun kepanitiaan.  Tapi yang terjadi adalah zonk, proposal sudah ada, kegiatan sudah siap jalan, saya tinggal tanda tangan dan memberi sedikit sambutan basa-basi.  Arrgh… Itulah salah satu momen dimana saya merasa menjadi orang paling tidak berguna.  Akhirnya setelah kejadian itu saya melakukan telaah mendalam dan evaluasi diri (saking syoknya).  Sepertinya ya… ini sepertinya… itu adalah imbas dari melekatnya hirarki DWP pada jabatan suami.  Karena bisa saja ada kompetensi yang njomplang diantara keduanya.  Sehingga SK dan kenyataannya bisa sangat berbeda.  Ini hanya pengalaman yang sifatnya personal dan bukan representasi dari budaya kerja DWP secara umum. Tapi siapa yang peduli, kan tidak mempengaruhi kinerja suami? Tentu saja ada, yaitu orang-orang yang memiliki komitmen tinggi terhadap visi misi organisasi atau bagi mereka yang ‘berkepentingan’.  Untuk yang terakhir ini boleh diterjemahkan secara bebas. 🙂

Kegiatan DWP memiliki lingkup yang lebih sempit karena embel-embel status ASN nya itu.  Emang berapa banyak sih jumlah isteri ASN di Indonesia, dengan catatan masih diberlakukannya 1 ASN – 1 istri.  Itupun masih dikurangi ASN yang jomblo.  Berbeda dengan kegiatan PKK yang memiliki cakupan lebih luas dan bersifat kewilayahan dibawah naungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).  Dengan demikian, PKK diketuai istri kepala daerah dan level tertingginya adalah istri Kemendagri.  FYI, ASN tidak boleh menduduki jabatan sebagai kepala daerah dan wakilnya.  Bahkan ASN yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah harus mengundurkan diri dulu dari status ASN nya.  Demikian. 

Omong-omong, jangan melihat telaah ini dari kesinambungan antar paragraf, karena kesimpulannya tergantung dari bagian mana yang menjadi fokus pembaca. Salam DWP 🙂

Salah satu kegiatan DWP melalui media zoom meeting.

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s