Eating, tracking, and photographing: Part 3

Waroeng Kopi Borobudur, Rumah Kamera, dan Candi Borobudur

Dawet Ayu Banjarnegara bertemu Ikan Beong Sungai Progo di Waroeng Kopi Borobudur

Setelah puas berfoto dan makan minum sekedarnya, kami meninggalkan Desa Giritengah menuju Waroeng Kopi Borobudur.  Sesuai urutannya, setelah trekking, foto-foto tentunya dilanjutkan makan alias eating.  Tiba warung tepat waktu makan siang pukul 12.20.  Sebelum makan kami disuguhi dawet ayu banjarnegara yang dipesan khusus untuk stand by disana menunggu kami.  Dawetnya boleh pilih rasa durian atau nangka.  Menu makan siang kali ini masih dengan kekhasan Magelang yaitu mangut ikan beong.  Ikan asli sungai Progo yang membelah Kabupaten Magelang ini rasanya mirip lele tapi dagingnya lebih tebal dan tidak menyisakan aroma lumpur seperti lele.  Sayur lain yang disajikan adalah tumis daun papaya, tumis batang talas, lodeh, tempe goreng, dll.  Minumnya air kendi yang menyegarkan.  Betul-betul menyatu dengan alam.

Warung Kopi Borobudur, Ishoma.  Ikan beongnya muanteep :)
Warung Kopi Borobudur, Ishoma. Ikan beongnya muanteep 🙂
Semua selera ada disini, yummyyyy.... hehehe
Semua selera ada disini, yummyyyy…
Mas Dawet Banjarnegara yang khusus diboyong dari tempat mangkalnya.
Mas Dawet Banjarnegara yang khusus diboyong dari tempat mangkalnya.
Yang ini suguhan buat telinga, alunan tembang dan gamelan bikin tambah lapar, eh, ngantuk :))
Yang ini suguhan buat telinga, alunan tembang dan gamelan bikin tambah lapar, eh, ngantuk 🙂
Suasana asri Warung Kopi Borobudur
Suasana asri Warung Kopi Borobudur

Kami makan di teras terbuka dengan iringan gending jawa dan nyanyian mbak sinden yang sesekali terputus karena si mbak sedang telponan.  Sementara itu semakin siang di halaman warung sedang parkir beberapa dokar yang mampir mengantar wisatawan tilik deso makan siang setelah mengitari desa-desa di Kecamatan Borobudur.  Setelah istirahat makan dan sholat, perjalanan dilanjutkan ke Rumah Kamera di Jalan Majaksingi.

Bermain-main dengan efek kamera

Tidak jauh dari Waroeng Kopi terdapat Rumah Kamera.  Tiba di sana kurang lebih pukul 13.30.  Kompleks rumah kamera terdiri dari dua bangunan utama.  Pertama adalah bangunan berbentuk kamera DSLR dan disebelahnya bangunan dengan banyak spot berfoto, surganya para selfier.  Karena waktunya sudah mepet, hanya bangunan kedua yang kami kunjungi.  Itupun tidak semua spot sempat kami kunjungi.  Sayang yaa.  Pada kesempatan lain sepertinya tempat ini bakal jadi tujuan wisata yang must be visited deh.

The real 'rumah kamera'
The real ‘rumah kamera’
Trapped !!!
Trapped !!!
"Ampuuuun...!"
“Ampuuuun…!”
Giant and liliput :)
Giant and liliput 🙂
Ikonik :D
Ikonik 😀 (don’t take it seriously)

Ada Manohara di Borobudur

Kunjungan berikutnya ke Candi Borobudur bisa juga disebut wisata edukasi karena ditemani pak Fatah, staf kecamatan Borobudur yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata.  Jadi bisa puas tanya-tanya tentang candi, kuil atau monumen Budha terbesar di dunia ini.  Pada setiap lantai candi beliau memilih tempat yang strategis di sekitar relief yang akan beliau jelaskan.  Sebelumnya beliau juga menjelaskan secara umum gambaran bangunan candi melalui miniatur candi yang ada di lobby hotel Manohara.  Relief-relief yang dipahat dan dipasang untuk Borobudur merupakan masterpiece, artinya selain hanya ada satu, tidak boleh ada sedikit pun kesalahan pada saat pembuatan relief.  Kalau terjadi kekeliruan karena salah ukuran atau salah desain maka pahatan tersebut akan dihancurkan dan dibuat lagi yang baru.  So perfect.

Serius bersama pemandu wisata kami.
Serius bersama pemandu wisata kami.
Jangan serius2 laaah... gak pakai ujian kok. Hihi..
Jangan serius2 laaah… gak pakai ujian kok. Hihi..

Bangunan warisan budaya ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar.  Dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.  Secara keseluruhan, bangunan candi ini seperti buku terbuka yang membawa pesan perjalanan manusia dari jiwa terendah yang diliputi nafsu duniawi (Kamadhatu), kemudian ranah wujud (Rupadhatu), hingga ke puncaknya berupa ranah tanpa wujud (Arupadhatu) dimana manusia melepaskan dirinya dari keinginan terhadap dunia.  Untuk bisa memahami setiap cerita dan pesan tersebut perjalanan mengitari candi ini pada setiap tingkatnya diawali dari sisi timur melingkari bangunan searah jarum jam dan diakhiri pada sisi kanan pintu masuknya.  Gambaran tentang relief candi Borobudur dapat diintip disini.

The world heritage, Borobudur temple.
The world heritage, Borobudur temple.

Bagian menarik yang jarang diceritakan terkait Borobudur adalah kisah Manohara.  Manohara yang kita tahu — tepatnya yang saya tahu — selama ini ya Manohara Odelia Pinot, artis Indonesia.  Kalau ini kisah Sudhana dan Manohara pada salah satu deretan relief candi Borobudur.  Manohara adalah putri bungsu Druna, Raja Kinnara di Negara Pancala yang subur makmur dan tentram kehidupannya. Manohara berbentuk setengah manusia separuh burung dan mempunyai kekuatan untuk merubah dirinya menjadi perempuan cantik dengan suara indah.  Yang menikah dengan pangeran Sudhana, putra Raja kerajaan Selatan yang bengis dan kejam terhadap rakyatnya.  Kisah cinta mereka berakhir dengan bersatunya kerajaan Utara dan Selatan yang sebelumnya bermusuhan setelah direbutnya tahta kerajaan Selatan oleh pangeran Sudhana dari ayahandanya.  Singkatnya seperti itu, versi panjangnya bisa dilihat disini.  Nama Manohara sendiri saat ini diabadikan untuk pusat studi Borobudur.  Di kawasan tersebut juga berdiri hotel dengan nama yang sama, Hotel Manohara.

Relief Manohara saat terbang melarikan diri pulang ke kerajaan ayahandanya di Utara Negara Pancala.
Relief Manohara saat terbang melarikan diri pulang ke kerajaan ayahandanya di Utara Negara Pancala.
Manohara, center of Borobudur study.
Manohara, center of Borobudur study.
Wisata Andong Tilik Deso, unggulan taman wisata Borobudur.
Wisata Andong Tilik Deso, unggulan taman wisata Borobudur.
Ngandong menuju candi Mendut.
Ngandong menuju candi Mendut.
Mengabadikan momen :)#modus
Numpang ngetop, hihi.

Kesorean di Ketep Pass

Akhirnya sudah sangat sore saat kami meninggalkan kawasan candi dengan naik andong menuju candi Mendut.  Setelah sholat Ashar di mushola terdekat dan belanja oleh-oleh kain dari penjaja yang banyak terdapat di halaman candi Mendut, kami berangkat menuju Ketep Pass.  Gerimis yang menjadi hujan deras menjadi teman sepanjang perjalanan menuju lereng Merapi itu.  Untungnya saat di atas hujan sudah reda walaupun kabut menghalangi pemandangan pegunungan.  Seandainya kami datang lebih awal, pihak pengelola tempat wisata Ketep Pass sebetulnya akan menyambut kami dengan menyajikan film berupa sejarah dari Gunung Merapi yang meliputi peristiwa terbentuknya Gunung Merapi, jalur-jalur pendakian,penelitian di puncak Garuda, letusan dahsyat Gunung Merapi, dan berbagai peristiwa yang terjadi dalam rentetan waktu tertentu. Durasi dari film ini cukup pendek, hanya sekitar 25 menit.  Di lokasi wisata tersebut juga terdapat museum vulkanologi yang didalamnya terdapat miniatur gunung Merapi.  Yah, terpaksa gigit jari, eh gigit jagung bakar karena sudah pada tutup saking padatnya jadwal acara.  Semoga kapan-kapan bisa seharian di Ketep Pass.

img_20160903_173610
Njagung mbakar di jalanan Ketep Pass.

Akhir kata, itulah rangkaian acara BoSoLo le Tour and Heritage Borobudur 2016 yang bisa saya sajikan di tulisan Bagian 1,Bagian 2, dan yang ketiga ini.  Pelajaran yang bisa saya dapatkan diantaranya adalah candi Borobudur itu bukan terletak di Yogyakarta, melainkan di Kabupaten Magelang :)).  Selain itu di Magelang ternyata banyak sekali tempat wisata menarik yang potensial untuk dikembangkan baik wisata alam, kuliner, sejarah, edukasi, dan hiburan.  “Bravo Magelang, semoga semakin makmur dan maju”.

Viva BoSoLo :)
Viva BoSoLo 🙂

 

 

Eating, tracking, and photographing: Part 2

Kantor Kecamatan Borobudur, Galeri UNESCO, Punthuk Mongkrong

Fun Bike, Kantor Kecamatan Borobudur – Galeri UNESCO

Tiba di halaman Kantor Kecamatan Borobudur menjelang pukul delapan.  Saat staf kecamatan mempersiapkan apel pagi.  Bedanya kali ini apel pagi diwarnai kunjungan rekan-rekan BoSoLo.  Saat kami sidak ke ruang Pak Camat  ternyata ruangnya kosong, serta merta rekan-rekan memanfaatkan meja camat untuk berfoto ria (aduh, ini sih kebiasaan yang agak memalukan).  Saat kami ramai bercanda di sana tiba-tiba camatnya datang dan malah mempersilahkan melanjutkan foto-foto.  Ya iyalah, camatnya kan bagian dari BoSoLo.  Pemandangan lain yang berbeda adalah barisan sepeda onthel di halaman kantor.  Rupanya setelah jamuan sarapan di kantor, kami akan menuju Galeri UNESCO di desa Karanganyar dengan bersepeda.

Barisan sepeda onthel sudah siap.
Barisan sepeda onthel sudah siap.
Bikin KTP dulu #eh
Bikin KTP dulu #eh
Obsesi? :D
Pendudukan ruang kepala kantor 😀

Sarapan kali ini tidak kalah istimewa.  Makanan pembuka berupa gebleg dan bajingan lumayan menjadi pengganti kalori yang terbakar saat naik ke bukit Rhema tadi.  Bajingan adalah singkong rebus yang disiram gula nira.  Singkongnya yang empuk berpadu dengan rasa legit manis.  Sedangkan gebleg adalah gorengan yang terbuat dari sari pati singkong.  Teksturnya kenyal, rasanya gurih, dan cocok dimakan saat masih panas, apalagi dicelupin bumbu rujak manis, hmm.  Belum lagi sajian utama berupa gudeg komplit buatan bu Yani, salah seorang staf kecamatan yang benar-benar memanjakan lidah kami.  Disini bergabung seorang teman dari Malang yang mengajak serta keluarganya.

Kunjungan kerja, nampang dulu di depan kantor :D
Kunjungan kerja, nampang dulu di depan kantor Kecamatan Borobudur 😀
Udah geblek, bajingan pula :D
Udah geblek, bajingan pula. Dua makanan khas dari bahan dasar singkong bersanding 😀
Gudeg komplit ala bu Yani #yummy
Gudeg komplit ala bu Yani #yummy

Setelah kenyang sarapan kami menuju halaman kantor dan mencoba sepeda onthel, berputar-putar dan berfoto sebentar serta berpamitan dengan para staf kecamatan.  Akhirnya pukul 08.40 kami beriringan menuju desa Karanganyar.  Setelah melewati jalan desa yang lebih banyak tanjakannya daripada turunannya di tengah perjalanan kami tiba di hotel Plataran Borobodur Resort.  Bukan untuk masuk sih, tapi numpang foto-foto sebentar di halamannya sambil menunggu kawan-kawan yang tertinggal di belakang untuk kemudian melanjutkan perjalanan.  Sepeda onthelnya sip, mantap, dan kuat diajak nanjak walaupun dua orang teman sempat jatuh karena sudah lama tidak bersepeda.  Seorang teman malah mengaku terakhir naik sepeda saat SMA, nah lo.  Jangan-jangan tuan rumah lupa kalau kami sudah umur empat puluhan, hehe.

Baris dulu sebelum pemberangkatan.
Baris dulu sebelum pemberangkatan.
Ngepost sebentar di halaman Plataran Borobudur resort.
Ngepost sebentar di halaman Plataran Borobudur resort.
Tidak lupa poto-poto yaa...
Jangan lupa poto-poto yaa… 😀

Akhirnya setelah bersepeda kurang lebih 5km, pada pukul 09.40 kami tiba di Galeri UNESCO.  Dari teras galeri kami bisa melihat puncak Borobudur dari kejauhan.   Angin semilir dan aroma pesawahan yang sejuk menimbulkan kantuk setelah lelah bersepeda.  Sebelum ketiduran kami disuguhi lumpia buatan tuan rumah dengan racikan resep asli khas lumpia Semarang.  Rebung dan ikan pihinya khusus dibeli di pasar pecinan Semarang.

Welcome to Galeri UNESCO
Welcome to Galeri UNESCO
IMG_20160903_100126
Galeri Komunitas UNESCO
Ngisis dulu di teras galeri.
Ngisis dulu di teras galeri.

 

Galeri UNESCO ini dibangun untuk memfasilitasi dan mengembangkan potensi desa-desa di sekitar candi Borobudur.  Salah satu programnya adalah mengenalkan wisatawan pada keindahan alam serta beragam potensi indutri kreatif di desa-desa sekitar Candi Borobudur.  Wisatawan yang mengikuti program ini akan diajak berkunjung ke lokasi-lokasi industri rumah tangga, yang khusus mendapat pendampingan dari UNESCO. Di galeri ini juga terdapat bangunan untuk pelatihan pembuatan selai buah dan keramik glasir.  Sayangnya pada saat kami datang sedang tidak ada kegiatan pelatihan disana.

Galeri Keramik
Galeri Keramik
img-20160919-wa0049-1
Narsis bareng dulu sebelum pamit 😀

Di Ketinggian Punthuk Mongkrong

Perjalanan selanjutnya ditempuh dengan mengendarai mobil.  Dengan menumpang empat kendaraan kami menuju desa Giritengah tempat punthuk mongkrong berada.  Jalanan yang selalu menanjak memaksa gear kendaraan selalu berada di posisi satu.  Selain tanjakan, kondisi jalan juga sangat sempit walaupun sudah dibeton.  Rasanya tidak mungkin cukup berpapasan dengan kendaraan lain sehingga perlu pengaturan kendaraan naik dan turun.  Saya yang duduk di bangku kiri jadi sport jantung karena sisi kiri menganga jurang lebar.  “Huhuhu… rujak cingur masih enak…”.  Setelah kurang lebih 40 menit menyisiri pebukitan curam yang penuh kelokan tajam dan nyaris kehabisan bensin di tengah jalan, kami tiba di tujuan dengan disambut remaja karang taruna pengelola kawasan wisata tersebut.  Jangan senang dulu, kurang afdhol rasanya mencapai keberhasilan tanpa perjuangan.  Setiba disana kami masih harus berjalan kaki dengan (pasti) menanjak selama kurang lebih 15 menit.  Sepanjang jalan kami berjumpa dengan aroma bunga cengkeh yang sedang dijemur dan keramahtamahan penduduk desa.  Sampai di puncak ternyata kedatangan rombongan disambut tari-tarian dan gamelan.  Sambutan yang luar biasa ya, bayangkan bagaimana mereka bersusah payah membawa seperangkat gamelan ke puncak.  Selain itu kami juga disuguhi panganan berupa tetel, tempe bacem, tempe koro yang manis dan ubi goreng.

IMG_20160903_104444
Kawasan wisata alam dan sunrise Punthuk Mongkrong
IMG_20160903_104455
Hayoo, ada yang paham maksud papan peringatan ini ndak? 😀
IMG_20160903_104906
Menjemur cengkeh.
IMG_20160903_105810
Betul sekali ini, susah payah mendaki jangan sampai gagal selfie karena momennya tidak terulang lagi 🙂
IMG_20160903_105923
Adik-adik penari yang siap menghibur kami.

Saat ini Punthuk Mongkrong merupakan puncak paling tinggi diantara wisata perbukitan di sekitar Borobudur.  Areanya sempit dan langsung dikelilingi jurang.  Dari ketinggiannya kami bisa melihat Candi Borobudur yang lebih mirip susunan lego berwarna hitam.  Dari sana kami juga bisa melihat Punthuk Sukomojoyo dibawahnya yang ditandai dengan kibaran bendera merah putih.  Tempat berfoto yang ikonik disini adalah rumah pohon dan jembatan bambu di tebing jurang dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi jika cuaca bagus.  Jembatan segitiga yang dibangun di tebing tersebut maksimal hanya dapat menahan beban dua orang dewasa.  Pemandangannya sangat cocok untuk berfoto pada saat matahari terbit dan tenggelam.  Pengelola juga menyediakan papan bertuliskan Mongkrong yang bisa dibawa berfoto.  Selain itu disana juga terdapat sebuah situs pangruwatan diyu berupa empat batu persegi yang disusun ke atas.

IMG_20160903_110905
Di ketinggian.
IMG_20160903_111731
Situs pangruwatan diyu.
IMG_20160903_112615
Bacem, tetel, gorengan, dan keramahan penduduk desa.
IMG_20160903_112131
Turunan tajam saat berjalan pulang.
IMG_20160903_111804
Pamitan sama mas karang taruna, sambutannya luar biasa 🙂

Menurut penjelasan salah satu anggota karangtaruna, wisata Punthuk Mongkrong ini baru setahun dikelola.  Tanggal 13-14 September nanti adalah peringatan setahun dibukanya wisata ini dan akan diadakan Mongkrong Night Festival yang akan diramaikan dengan pentas seni tari tradisional, pentas music, doa bersama, dan pelepasan seribu lampion.  Doakan semoga sukses acaranya dan Punthuk Mongkrong makin dikenal masyarakat.

IMG_20160903_104746
Semoga sukses acara Night Festival di ulang tahunnya 13 -14 September mendatang 🙂
IMG-20160903-WA0021
Beramai-ramai 🙂

Perjalanan selanjutnya bisa disimak disini 🙂

Eating, trekking, and photographing: Part 1

Naik Kereta Api, Tut Tut Tuuuut…

Lama nian tidak tripping yang agak jauhan dari rumah (tripping maksudnya jalan-jalan gituh). Beruntung, kesempatan yang tidak dapat ditolak ini datang untuk memenuhi undangan seorang teman SMA yang tinggal di Magelang. Sekalian pemanasan untuk reuni perak tahun depan, maka terkumpullah kami sekitar bertiga puluh di Magelang pada tanggal 3 September lalu.

Kunjungan ini mengusung judul: BoSoLo le Tour and Heritage Borobudur 2016
(BoSoLo, Bolo Songo Loro, karena kami dari angkatan 92 SMAN 1 Pasuruan).

Peserta pun berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari Jember yang paling timur hingga Bengkulu (kalau yang ini sih pas kebetulan lagi ada jadwal kunjungan ke Jawa, hehe). Saya sendiri ikut rombongan yang berangkat naik Sri Tanjung dari stasiun Pasuruan. Kami bertiga belas, 9 perempuan dan 4 laki-laki. Itu pun setelah 3 orang terpaksa membatalkan keberangkatan karena ada tugas dari kantor menjelang detik-detik keberangkatan. Alhasil gerbong 2 jadi dipenuhi cerita dan tawa 2 sejak berangkat pukul 12.00 sampai tiba di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta pukul 20.00. Untung saja tidak ada penumpang yang complaint karena tidak bisa bobok siang di kereta. Boboknya di tempat tujuan saja ya pak, bu, mbak, mas, hehe.

Logistik selama di atas kereta tidak hentinya terhidang. Mulai mie pangsit, brownis, lemper, edamame, sampai nasi krawu. Tak ayal lagi, mulut kami akhirnya selalu aktif makan atau bicara. Kebetulan seorang teman duduk sebelahan dengan bule perancis. Rejeki si Bule yang selalu kebagian ransum dari kami. Bonjour Mister… (mbuh artine opo, hehe).

IMG-20160902-WA0004
Stasiun Pasuruan, kontingen siap diberangkatkan.
Gaya dulu a la WestLife :D
Gaya dulu a la WestLife 😀
IMG_20160902_171022
Hiruk pikuk di dalam kereta 😀

Tiba di stasiun Lempunyangan sudah menunggu 2 teman lagi, seorang dari Bogor dan seorang dari Bengkulu bersama istrinya. Gayeng ngobrol sambil nunggu jemputan yang agak terlambat karena kendala teknis. Akhirnya pukul 21.00, beriringan 5 kendaraan bergerak menuju malioboro, makan malam lesehan di angkringan tidak boleh dilewatkan kalau ingin menikmati suasana malam Yogyakarta. Tetapi sebaiknya tidak mengajak anak dibawah umur, karena kami sempat disambangi pengamen waria dengan dandanan vulgar yang akhirnya jadi bahan guyonan sepanjang perjalanan ke Magelang. Mirip mpok Ati kata teman-teman. Maaf ya mpok…

Di angkringan Gareng Petruk saya memilih nasi langgi berupa nasi dengan rajangan telur dadar dan sambel, otak-otak ikan, dan sate bekicot. Minumnya wedang ronde yang diwarnai insiden terbawanya sendok wedang saat pelayan angkringan beres-beres piring. Maaf ya pak Ronde… Di angkringan ini tahu bakso oleh-oleh teman dari Ungaran ikut jadi suguhan yang cukup mengenyangkan.

Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Angkringan Gareng Petruk, Malioboro
Bersih dan lengkap :)
Bersih dan lengkap 🙂

Pukul 23.15 rombongan memasuki kota Magelang. Tuan rumah tidak mensia-siakan waktu untuk memperkenalkan kuliner malam Magelang kepada kami. Walaupun perut sudah kenyang dan mata mulai lengket serta tubuh merindukan kasur, diajaklah kami mampir ke warung Bulpiri yang menjual nasi godog.

Akhirnya kami memesan dua porsi nasi godog dan satu porsi bakmi godog untuk dimakan bersama-sama, tepatnya dicicipi bersama. Nasi godog ini dimasak diatas anglo dan dibuat dari bumbu bawang putih, bawang merah, merica dan garam yang ditumis kemudian diberi air secukupnya. Setelah mendidih dimasukkan telur, sedikit mie, sayuran, dan tomat. Mengingatkan kami pada bakmi godog Kediri. Setelah tercampur semua baru nasi dimasukkan. Kemudian dibubuhkan sedikit kecap dan siap dihidangkan panas-panas. Sederhana tapi nikmat mengenyangkan.

IMG_20160902_232236
Warung Bulpiri Magelang
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Pembuatan nasi godog di atas anglo.
Hmm...enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog
Hmm…enak dimakan pas masih anget-anget panas #nasigodog

Perjalanan dilanjutkan ke pesanggrahan Majaksingi milik Pemkab Magelang. Tiba disana sekitar pukul 00.00 disambut seorang teman yang tiba dari Pati sejak pukul 22.00. Dua jam horor kata dia, sampai nyaris mengangkat tangan menyatakan tidak sanggup melanjutkan permainan (emangnya uji nyali, hehe). Di pesanggrahan peserta perempuan berbagi 3 kamar vip di bangunan utama. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi dalam. Sementara peserta laki-laki sebagian memilih tidur di ruang tamu yang luas dan sebagian di kamar-kamar yang berada di belakang bangunan utama. Tempatnya luas dan nyaman.

Sedikit di luar ekspektasi saya yang mengira Magelang itu dingin seperti Malang, hehe. Tanpa menunggu lebih lama lagi, setelah mandi dan melanjutkan bersetori ria dengan teman sekamar, sekitar pukul 01.00 saya pun tertidur. Sepertinya menjelang pukul 03.00 kamar-kamar sudah senyap. Kami beristirahat, bersiap untuk acara yang (luar biasa) padat pada pagi harinya.

Punthuk Setumbu, Rumah Pohon Asem Pendowo Limo, dan Gereja Ayam

Bentang alam Punthuk Setumbu

Sedikit terlambat dari waktu yang direncanakan, dengan dipandu pak Fatah, salah seorang staf Kantor Kecamatan Borobudur, pukul 5.30 kami bergerak menujuk punthuk setumbu. Tiba disana parkiran sudah penuh. Karena ada unsur-unsur privilege, rombongan kami yang terdiri dari empat mobil berhasil mendapatkan tempat parkir yang layak. Kirain ya, namanya sunrise sudah di depan mata. Ternyata harus berjalan menanjak kurang lebih 15 menit (oh kaki…).

Di salah satu pos kami disambut Pak Lurah Karangrejo yang kemudian bersama-sama kami naik melihat sunrise. Sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa rombongan yang berjalan turun. Dalam hati ya, mereka ini kelihatannya tidur di puncak setumbu deh. Atau kaminya saja yang kurang pagi kali ya, hehe. Tiba di puncak pukul 06.00, walaupun sedikit melewatkan detik-detik munculnya sang surya, tapi semua lelah akhirnya terbayar oleh keindahan alam yang terbentang di depan mata. Sayangnya cuaca kurang cerah, sehingga puncak candi Borobudur tersaput kabut.

Puas memanjakan mata dan (pastinya) foto-foto, Pak Lurah Karangrejo mengajak kami menikmati kopi dan teh jahe panas serta makanan kue-kue berupa lemet, lapis, tahu isi, keripik slondok berbahan dasar singkong yang rasanya seperti samiler di Jawa Timur tapi yang ini diiris tipis dan sangat crunchy, dan geblek. Yang terakhir ini penganan berbahan dasar pati singkong yang rasanya kenyal dan biasanya dimakan dengan cocolan saus kacang atau saus empek-empek.

Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Parkiran Punthuk Setumbu yang penuh sesak, maklum hari Sabtu.
Hap.. hap.. jalan pagi.. ini foto pas jalannya masih datar 😀
Bermandikan cahaya matahari pagi
Bermandikan cahaya matahari pagi
Camilan sudah siaaap :P
Camilan sudah siaaap 😛
Nyam nyam nyam... :P
Nyam nyam nyam… 😛
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Punthuk Setumbu, keindahan tak terlupakan.
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak :)
Pamitan dulu sama pak Lurah Karangrejo, maturnuwun pak 🙂

Punthuk Setumbu adalah sebuah bukit diantara pebukitan Menoreh dengan ketinggian kurang lebih 400 dpl. Namanya berasal dari kata punthuk yaitu gundukan tanah dan tumbu atau alat dapur dari bambu. Berupa pelataran luas yang dibatasi pagar dan tersedia kursi-kursi tempat beristirahat, tempat ini merupakan lokasi favorit untuk melihat candi Borobudur dari ketinggian dengan latar belakang gunung Merapi dan Merbabu. Retribusi masuknya cukup Rp.15.000 saja untuk wisatawan lokal.

Sang surya naik perlahan membuka tabir malam...
Sang surya naik perlahan membuka tabir malam…
Berkas sinar...
Berkas sinar…
Jajaran pebukitan Menoreh
Jajaran pebukitan Menoreh

Rumah Pohon Pendowo Limo

Kenyang ngemil, trek berlanjut ke Rumah Pohon Pendowo Limo yang berjarak kurang lebih seratus meter jalan kaki dari pelataran punthuk Setumbu. Belum jelas bagaimana asalnya ada lima pohon asem berumur puluhan tahun yang berumur sama berdiri tegak berjajar di sana, demikian tutur pak Fatah. Diatas pohon-pohon ini kemudian dibangun dua pos pandang yang kemudian disebut rumah pohon.

Setelah puas berfoto pukul 06.50 kami menuju ke Gereja Ayam melalui jalan belakang yang lebih singkat tapi hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki. Yang jelas pakai bonus tanjakan ya, hehe.

Rumah Pohon Pandowo Limo
Rumah Pohon Pandowo Limo
Dari ketinggian rumah pohon.
Dari ketinggian rumah pohon.

img-20160919-wa0050

Gereja Ayam, napak tilas Rangga dan Cinta

Setelah berjalan kaki kurang lebih 10 menit, nampaklah sisi belakang bangunan Gereja Ayam yang sedang diperluas. Gereja yang sebetulnya dibangun sebagai rumah doa ini kemudian dialih fungsikan sebagai tempat rehabilitasi mental sebelum selesai pembangunannya seiring dengan keberatan dari penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam. Gereja ini terletak di atas Bukit Rhema.

Disana kami disambut oleh Pak Daniel yaitu anak pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun Gombong Desa Kembanglimus yang mirip Budi Anduk (alm). Sedikit tambahan, bangunan ini sebetulnya dibangun berbentuk merpati mahkota yang membawa pesan kebebasan dan perdamaian. Tetapi bangunan yang pernah dipakai untuk syuting film AADC2 ini lebih popular dengan sebutan Gereja Ayam seperti sebutan penduduk sekitar.

Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Tanjakan menuju Gereja Ayam #hoshosh
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Pak Fatah beraksi dengan penjelasannya tentang riwayat Gereja Ayam
Papan arah lewat jalan belakang
Papan arah lewat jalan belakang
Informasi tiket masuk Gereja Ayam
Informasi tiket masuk Gereja Ayam

Gereja terdiri dari empat tingkat. Tingkat pertama berupa ruangan luas yang saat itu difungsikan sebagai ruang tunggu untuk naik ke bagian mahkota ayam. Lagi-lagi kami mendapat privilege dan tidak perlu ikut mengantri untuk naik sampai ke tingkat tertinggi. Di sekeliling ruangan terdapat jendela-jendela berbentuk bunga dan di bagian ekor dibangun pilar-pilar. Tingkat kedua berupa bagian leher. Dari sini kita bisa mengintip keluar jendela jajaran genjang dan melihat bagian ekor yang menyerupai kipas.  Tingkat ketiga adalah paruh dan kepala ayam. Pada bagian depannya yang terbuka dipasang pagar pembatas dengan peringatan agar tidak naik ke atas pagar. Tingkat keempat mahkota ayam. Tingkat terakhir ini dapat dicapai melalui tangga putar sempit dan lubang sempit seukuran orang dewasa. Hati-hati jangan sampai kepala terantuk atau ada bagian badan yang tersangkut disini. Tiba di teras mahkota ayam kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indahnya ke segala penjuru. Di dalam foto, sudut-sudut mahkota ini tampak seperti ekor atau sayap pesawat. Sayangnya kami tidak sempat mengintip ruang basement yang bersekat-sekat.

Bangunan tampak belakang
Bangunan tampak belakang
Ruang utama di lantai dasar.
Ruang utama di lantai dasar.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari leher ayam.
Pemandangan dari bagian paruh.
Pemandangan dari bagian paruh.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Tangga naik menuju puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Di puncak mahkota.
Tongsis mana tongsiiis... :D
Tongsis mana tongsiiis… 😀
Puncak mahkota, good view :)
Puncak mahkota, good view 🙂
Napak tilas Cinta dan Rangga :)
Napak tilas Cinta dan Rangga 🙂
Gaya dulu aah... :D
Gaya dulu aah… 😀
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya... #jodoh
Umur Gereja Ayam saat ini. Kok sama dengan umur BoSoLo ya… #jodoh

Dari Gereja Ayam kami diantar ke tempat parkir menggunakan beberapa jeep. Walaupun jalannya sudah dibeton, tapi sudut turunannya yang mencapai 45 derajat bikin lutut gemeteran juga. Di halaman parkir kami berpamitan dengan pemilik bangunan dan Pak Kepala Dusun untuk kemudian tepat pukul 07.45 melanjutkan perjalanan ke Kantor Kecamatan Borobudur.

Menuju parkiran bukit Rhema.
Menuju parkiran bukit Rhema.
Pamitan sama putra pendiri gereja. Lupa gak tanya nama :D
Pamitan sama Pak Daniel, putra pendiri gereja.
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga :)
Bersama pak Kadus Gombong, sekalian pamit juga 🙂
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo...
Yang mau prewedding disini ada tarifnya lo…

Bagaimana kelanjutan perjalanan BoSoLo, simak di tulisan berikutnya yaa… 🙂

‘Short Escaping’: Edisi Sumber Maron

Jenuh dengan pekerjaan dan tugas-tugas sampingan (yang seringkali lebih menyita waktu daripada tugas utama), kami berlima berniat kabur sejenak menikmati udara bebas (berasa sedang dikurung 😦 ).  Karena judulnya ‘sejenak’, yang artinya tidak lebih dari waktu jam kerja di hari kerja, maka kami mulai mencari beberapa destinasi yang memenuhi syarat dan ketentuan berikut:

  1. Radius ± 1 jam dari kampus
  2. Masih alami
  3. Pengunjungnya sedikit
  4. Murah

Akhirnya kami sepakat memilih mata air Sumber Maron di Gondanglegi sebagai tempat jujugan.  Ini juga usulan Indri yang pernah jadi dokter PTT di sana.  Setelah browsing tentang Sumber Maron, aah, not bad lah 😉

Ok, here we go!

Start dari kampus, dengan ‘pura-pura’ berangkat kerja tapi bagasi mobil diisi tenda dan macam-macam makanan dan minuman untuk bekal.  Sempat pesan nasi krawu juga untuk makan siang.  Akhirnya berangkatlah kami semobil berlima plus Rita junior (Rifat) karena abinya mendadak tidak bisa dititipi anak 😀

Pukul 8.30 kendaraan melaju ke arah selatan kota Malang lewat Sukun menuju Kepanjen.  Jalanan tidak macet, cukup lancar dan sebagian lengang.  Iyalah, orang-orang pada kerja atau sekolah. Hihihi…  Sempat diwarnai insiden nyasar, kurang lebih satu jam kemudian sampailah kami di jalan masuk kompleks mata air Sumber Maron.  Jalannya bisa dilalui mobil, walaupun bukan aspal.  Parkiran juga cukup luas.  Biaya parkir 5000 perak dan masuk ke mata air gratis.  Iya, ini penting, gratis.  Walaupun bikin agak cemas, jangan-jangan karena gratis, orang-orang sudah berkerumun di sana.  Ah, sudahlah, kita lihat saja nanti.  Dari parkiran kami menyusuri jalan turunan kurang lebih 200 meter menuju sumber.  Karena matahari bersinar cukup terik, payung-payung pun mengembang manis.

Sejauh mata memandang...
Sejauh mata memandang…
Jalan menuju mata air Sumber Maron.
Jalan menuju mata air Sumber Maron. Sudah banyak warungnya kan.
Istirahat dulu ya, turunannya lumayan bikin lutur ngeper :)
Istirahat dulu ya, turunannya lumayan bikin lutur ngeper 🙂
Matahari menjelang tengah siang #puanas#
Matahari menjelang tengah siang #pantespuanas#

Tiba di lokasi kami melakukan observasi sebentar.  Maksudnya, mencari tempat paling tersembunyi untuk berenang-renang gitu.  Ternyata ada juga beberapa pengunjung yang sudah nyemplung duluan ditemani bebek-bebek sungai.  Ada juga bagian sumber air yang melebar dan berair tenang yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan emas oleh penduduk sekitar.  Berenang diantara ikan-ikan juga boleh, dijamin tidak ada ikan buas semacam piranha disana.  Dan ternyata di tempat ini kita tidak perlu takut kelaparan sampai-sampai bawa parafin buat bikin mie karena sudah banyak dijumpai warung-warung yang menjual makanan dan minuman.  Kebanyakan memang jualan gorengan, kalau kurang kenyang kita bisa pesan mie instan.

Kolam budidaya ikan Mas.
Kolam budidaya ikan Mas.
Air terjun kecil.  Maaf, gak sempat ngambil gambar yang lebih dramatis :D
Air terjun kecil. Maaf, gak sempat ngambil gambar yang lebih dramatis 😀
DSC_4911
Mau berenang bareng bebek? Disini tempatnya 🙂

Terdapat juga bangunan Pembangkit Tenaga Listrik Mikro Hidro sehingga tempat ini bisa dimanfaatkan untuk wisata edukasi.

Instalasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Sumber Maron.
Instalasi PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) Sumber Maron.
DSC_4916
Bangunan PLTMH.
Musholla.  Bagusan bangunan PLTMH-nya ya :(
Musholla. Bagusan bangunan PLTMH-nya ya 😦

Setelah menyeberangi air terjun kecil, kami mendirikan tenda di dataran yang agak tinggi.  Kaki diselonjorkan dan perbekalan dikeluarkan sambil mengatur strategi dimana sebaiknya kami nyemplung.  Takut ketauan Joko Tarub soalnya 😛

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mata air di awal perjalanan tadi.  Dengan pertimbangan, selain sepi dan terhalang pohon-pohon besar airnya juga masih bersih baru keluar dari sumbernya.  Selain itu tersedia ruang ganti yang memadai dan dekat dengan warung gorengan #teteup#.

Ngadem dan ngemil di tenda.
Ngadem dan ngemil di tenda.
Tubing sambil narsis :D
Tubing sambil narsis 😀

Ternyata benar, di sekitar akar-akar pohon besar itulah tersebar beberapa mata air dengan tekanan yang cukup kuat bisa untuk pijat refleksi.  Perairannya sangat bening dengan kedalaman tidak lebih dari 2 meter sehingga kita bisa mengamati ikan-ikan kecil yang berenang diantara bebatuan #sokroman#.  Disini ban renang disewakan dengan harga 5000 rupiah.

Puas main air, pukul 12.00 kami check-out untuk kembali ke kampus.  Kali ini kami memilih pulang lewat Raya Bululawang.  Sebelumnya mampir dulu di Masjid Besar Gondanglegi untuk sholat Dhuhur lalu makan siang di bakso Koibito.  Pukul 15.00 kami sudah tiba lagi di kampus dengan gaya macam baru kembali dari dinas luar.  Maunya sih, ‘short escaping‘ alias minggat sejenak ini jadi agenda rutin spice lady 🙂

Masjid Besar Gondanglegi.
Masjid Besar Gondanglegi.

Dan seperti biasa, berikut rute perjalanan yang kami tempuh.

UB - Kepanjen - Sumber Maron - Bululawang - UB
UB – Kepanjen – Sumber Maron – Bululawang – UB
Eh, kenapa ada yang ngemil batang kersen ya?
Eh, kenapa ada yang ngemil batang kersen ya?

Salam 😉

(all pictures were taken by Inong & Indri)

Menelusuri Situs Purbakala Kota Malang

Minggu pagi ini kami tidak jadi jalan-jalan ke Singosari-Lawang. Semua bangun kesiangan, hehehe… FYI, agak siangan gini jalan raya dari dan menuju Malang sudah mulai macet. Apalagi saya sakit perut sejak kemarin. Akhirnya Plan B dijalankan. Tujuan wisata kali ini menelusuri situs purbakala yang ada di kota Malang. Karena niat mbolangnya tidak terlalu jauh, kami bertiga naik motor.

And, here we go… 😉

Candi Badut

Lokasi candi ini sebetulnya sudah termasuk Kab. Malang, Kec. Dau, Desa Karangwidoro, tapi lebih mudah dijangkau dari arah Kota Malang karena dekat dengan perbatasan Kec. Sukun. Tepatnya di Jl. Candi VD di depan lapangan voli dan sebelah kiri TK Dharma Wanita II Karangbesuki. Kami mencapainya setelah berkendara selama kurang lebih 15 menit.

Daerah ini baru berkembang pada tahun 1980-an. Sebelumnya masih sepi. Sekarang lokasi candi ini nyaris di tengah perkampungan. Sempat nyasar karena papan nama candi yang tidak menghadap tepat ke jalan. Candi ini pun baru dipugar lagi pada tahun 1990-an setelah sebelumnya separuh bangunan sempat direstorasi pada jaman penjajahan Belanda, demikian penjelasan Pak Hari selaku juru pelihara candi yang asli daerah tersebut. Diduga candi ini berhubungan dengan prasasti Dinoyo yang ditemukan di daerah Merjosari. Kalau memang benar demikian, maka inilah candi tertua di Jawa Timur yang diresmikan pada tahun Saka 682/Nayana Vasurasa atau 760 M (tahun 1 Saka terhitung sebagai tahun 78 M). Di dalam prasasti tersebut candi ini dibangun atas perintah Raja Gajayana sebagai raja kerajaan Kanjuruhan yang menjadi cikal bakal sejarah peradaban Malang Raya (Kab. Malang, Kota Malang, Kota Batu). Pada masa itu kerajaan Kanjuruhan yang diperintah oleh Raja Dewasimha dan putranya, Sang Liswa, mencapai masa keemasan. Kedua raja tersebut sangat adil, bijaksana dan dicintai rakyatnya. Bahkan Sang Liswa yang bergelar Gajayana adalah raja yang pandai melucu (mbadhut; badut, bhs. Jawa).  Selain itu, tanggal 1 Kresnapaksa bulan Margasira (28 Nopember) yang tercantum di dalam prasasti tersebut dipakai sebagai tanggal lahir Kabupaten Malang.

Lanskap Candi

Seperti halnya candi-candi lain di Jawa Timur, candi ini juga menghadap ke Barat. Yang membedakan dengan candi-candi yang lebih muda adalah tidak adanya rahang bawah pada pahatan kalamakara di atas pintu dan di atas tiap ceruknya. Bangunannya juga lebih tambun seperti candi-candi di Jawa Tengah. Selain itu arsitekturnya sangat mirip dengan Candi Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran Jawa Tengah. Hal tersebut menunjukkan bahwa candi ini dibangun pada masa-masa awal penyebaran agama Hindu-Syiwa ke Jawa Timur. Sayangnya, bagian atas candi belum dapat dikembalikan ke bentuk asalnya karena ornamen yang sudah lama runtuh dan tertimbun sehingga aus dan membahayakan. Selain itu sebagian batu-batu penyusunnya juga tidak utuh karena sempat diambil oleh penduduk sekitar sebagai bahan bangunan. Seandainya dipaksakan maka sebagian besar akan menjadi tidak asli lagi. Hanya pelipit di sepanjang tepi atas dinding yang masih tersisa. Sedangkan bagian puncak dan ornamennya tersusun rapi di di halaman candi. Kalau ingin membayangkan bagaimana rupa candi ini secara utuh dapat melihat miniatur candi di ruang juru pelihara.

Nyaris tak terlihat :(
Nyaris tak terlihat 😦
Sisi utara Candi Badut
Sisi utara Candi Badut
Bagian puncak candi yang belum terpasang.
Bagian puncak candi yang belum terpasang dan arca lingga-yoni yang diduga sebelumnya berada di dalam candi pewara.
Ornamen candi yang sudah aus sehingga tidak mungkin lagi dipasang.
Ornamen candi yang sudah aus sehingga tidak mungkin lagi dipasang.
Miniatur Candi Badut di ruang juru pelihara.
Miniatur Candi Badut di ruang juru pelihara mengikuti bentuk bangunan Candi Gedong Songo.

Pada saat ditemukan, selain candi utama, di halaman candi terdapat tiga sisa-sisa fondasi candi pewara (candi pengiring) yang berjajar dari utara ke selatan menghadap timur. Candi pewara sebelah kanan dan tengah sudah ditimbun karena sangat sulit diidentifikasi. Sedangkan fondasi candi pewara sisi kiri dibuatkan tepian seperti kolam untuk mempertahankan tanah sekitarnya agar tidak longsor. Diduga dalam candi pewara tersebut diletakkan arca lembu nandi dan arca lingga-yoni yang ditemukan di sekitar reruntuhan. Lembu Nandi adalah binatang tunggangan Syiwa. Keberadaan arca ini menunjukkan bahwa Candi Badut merupakan candi Hindhu-Syiwa Batuan penyusun kedua candi pewara tersebut juga tertumpuk rapi di sudut-sudut halaman. Dari tumpukan batuan ini kami belajar bagaimana mereka menyusun batu sehingga dapat terbentuk candi yang kokoh. Adalah bentuk siku yang saling mengunci sehingga susunan balok batu menjadi rapi seperti lego. Maklumlah, dulu kan belum ada semen.

Fondasi candi pewara sebelah kiri.
Fondasi candi pewara sebelah kiri.
Hiasan kalamakara yang seharusnya terletak  di atas pintu masuk candi pewara.
Hiasan kalamakara tanpa rahang bawah seperti pada candi induk yang seharusnya terletak di atas pintu masuk candi pewara.
Arca lembu Nandi yang sudah tidak utuh lagi.
Arca lembu Nandi yang sudah tidak utuh lagi.
Ornamen ini biasanya terletak di atap candi menghadap ke bawah.
Ornamen ini biasanya terletak di atap candi menghadap ke bawah.
Tumpukan batuan yang belum disusun memiliki bagian siku sebagai pengunci.
Tumpukan batuan yang belum disusun memiliki bagian siku sebagai pengunci.
Batu umpak, lubangnya dibuat sebagai tempat memasang struktur kayu.
Batu umpak, lubangnya dibuat sebagai tempat memasang struktur kayu.

Arsitektur Candi

Dapur atau alas candi setinggi 2 meter tanpa relief. Selasarnya selebar 1 meter mengelilingi candi tidak sesempit Candi Kidal yang pernah kami kunjungi. Pada keempat sisi candi terdapat ceruk tempat meletakkan arca. Tinggal arca Durga Mahisasuramardini pada ceruk sisi utara yang masih ada walaupun tanpa kepala. Kalau kepalanya masih ada, maka dia dapat memandang puncak Gunung Arjuno seperti saya saat ini. Sementara arca Syiwa dan Ganesya yang seharusnya berada di ceruk sisi selatan dan timur sudah tidak ada lagi di tempatnya. Pada dinding tangga terdapat relief burung berkepala manusia dan peniup seruling. Terdapat ukel pada pegangan tangganya menuju bilik penampil atau lorong sepanjang 1,5 m. Di dalam ruangan terdapat arca lingga-yoni sebagai lambang kesuburan dan juga merupakan perwujudan dari penyatuan Syiwa-Parwati. Walaupun keseluruhan candi terbuat dari batu andesit, tetapi khusus yoni selalu dibuat dari batu hitam sehingga lebih tahan dari kerusakan. Di sekeliling ruang terdapat 5 ceruk kecil tempat meletakkan arca dewa. Diduga arca ini terbuat dari emas atau logam mulia lain sehingga hanya dipasang pada saat upacara pemujaan. Kami menemukan banyak coretan bahkan pahatan ‘palsu’ pada dinding candi termasuk tulisan aksara jawa di bagian kanan dan kiri alasnya. Tulisan ini tidak jelas dibuat pada tahun berapa yang jelas bukan dibuat pada masa pembangunan candi yang masih menganut aksara jawa kuno.

Hiasan ukel di pegangan tangga candi.
Hiasan ukel yang umum dijumpai pada pegangan tangga candi.
Arca Durga Mahisasuramandini di dalam ceruk sisi utara.
Arca Durga Mahisasuramardini di dalam ceruk sisi utara.
Arca lingga-yoni di ruang dalam Candi Badut, merupakan representasi Syiwa-Parwati.
Arca lingga-yoni di ruang dalam Candi Badut, yoni terbuat dari batu hitam yang tahan gangguan cuaca.
Ceruk-ceruk kecil untuk arca pada saat pemujaan.
Ceruk-ceruk kecil di dalam ruang candi untuk arca pada saat pemujaan.
Pahatan burung di sisi kanan tangga.
Pahatan burung di sisi kanan tangga.
Relief sisi kiri tangga.
Relief burung di sisi kiri tangga. Perlu mengerahkan imajinasi untuk dapat membaca gambar relief 😀
Warning: Tulisan aksara Jawa ini bukan dibuat pada masa pendirian candi.
Warning: Tulisan aksara Jawa ini tidak dibuat pada masa pendirian candi.

Situs Karang Besuki

Berikutnya perjalanan dilanjutkan ke Candi Karang Besuki. Lokasinya kurang lebih 1 km sebelah utara Candi Badut di kompleks makam setelah belok kiri dari SD Karangbesuki III. Tidak ada papan penunjuk arah apapun menuju situs ini. Warga sekitar pun lebih mengenalnya sebagai Candi Wurung karena hanya tersisa fondasi saja. Saat ditemukan dulu, kaki atau alas candinya masih ada dan disekitarnya ditemukan yoni dan arca Ganesya. Agak jauh dari tempat tersebut juga ditemukan arca Agastya. Dari penemuan arca dan yoni tersebut diduga bangunan candi ini dulu dibangun pada jaman yang sama dengan Candi Badut. Hal tersebut diperkuat dengan salah satu bait pada prasasti Dinoyo yang menyebutkan adanya tempat untuk memuliakan resi Agastya yang berguna sebagai tempat untuk mendapatkan keselamatan. Hal tersebut dihubungkan dengan lokasi ditemukannya candi tersebut di daerah Karangbesuki yang artinya daerah atau tempat keselamatan. Memang menurut kesepakatan di dunia arkeologi candi dinamai berdasarkan nama wilayah atau desa tempat ditemukannya candi tersebut. Walaupun ada candi yang dinamai berdasarkan kisah yang menyertai pembangunan candi tersebut seperti Candi Kidal.

Untuk mencapai situs ini kami harus melewati area pemakaman umum sehingga tidak pantas kiranya kalau kami foto-foto disana (takut ada yang ‘numpang’ foto, hiii…).

DSC_4782
Berada di sudut kompleks pemakaman.
DSC_4783
Fondasi yang tersisa.

DSC_4784

Museum Mpu Purwa, Jl. Soekarno-Hatta 210 Malang (Telp. 0341-404515)

Terletak persis di belakang Rumah Sakit Pendidikan Univ. Brawijaya, seberang Krida Budaya Jl. Soekarno-Hatta, museum ini menyimpan ratusan benda-benda purbakala yang sekarang disebut sebagai benda cagar budaya. Kebanyakan benda ini berasal dari pengumpulan pada jaman pemerintahan kolonial Belanda. Sebagian lagi berasal dari koleksi pribadi. Biasanya ditemukan oleh penduduk pada saat membuat fondasi bangunan, saluran air, bahkan septi-tank (apapun aktifitas yang bersifat menggali kan). Jadi terbayang di bawah tempat tinggal kita terdapat situs candi atau arca. Koleksinya mulai benda jaman prasejarah (neolitikum-megalitikum) seperti kapak persegi dan kapak genggam hingga menhir (tugu batu). Bicara menhir, jadi ingat menhirnya Obelix ya :D. Kemudian koleksi jaman logam berupa kalung dan cincin perunggu yang menunjukkan bahwa masyarakat Malang pada masa itu sudah mengenal teknologi pengecoran logam. Sedangkan prasasti yang menyebutkan adanya kehidupan bermasyarakat di Malang adalah prasasti Dinoyo 1 (tahun 760 M, merupakan prasasti tertua di Jawa Timur), prasasti Dinoyo 2 (tahun 898 M), prasasti Kanuruhan (tahun 935 M) dan prasasti Muncang/Mpu Sindok (tahun 944 M). Masing-masing prasasti ditulis dengan tingkat kesusasteraan yang tinggi memakai huruf Jawa Kuno yang merupakan perkembangan dari huruf Pallawa (India). Benda-benda cagar budaya ini kemudian diinvetaris ulang dan diberi nomor sesuai dengan sistem penomoran oleh BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Trowulan.  Pada saat kami tiba disana, Museum sedang direnovasi sejak April 2014. Sebagian benda cagar budaya yang kami tampilkan disini sementara diletakkan begitu saja di dalam barak tripleks beratapkan asbes di halaman Museum. Alasnya tanah dan lembab yang dapat mempercepat proses pelapukan batu. Mudah-mudahan renovasinya cepat selesai.

Tempat penampungan sementara :(
Tempat penampungan sementara 😦

Berikut beberapa koleksi museum yang sempat kami abadikan:

Budha Aksobhya

Arca Budha Aksobhya dari percandian Singosari ini diduga dibawa ke Malang dan diletakkan di taman Assisten Residen antara tahun 1815 s.d. 1820. Arca ini menggambarkan tokoh Budha dalam pantheon agama Budha Mahayana yang sedang duduk bersila dengan sikap Padmasana. Kepala gundul, daun telinga panjang, serta raut muka menunjukkan seseorang sedang semadi. Pada leher tampak 3 guratan lipatan yang menandakan kebahagiaan. Memakai jubah tipis, sehingga tampak seperti telanjang. Tangan kanan bersikap menyinggung bumi (Bhumisparsamudra), yaitu telapak tangan menelungkup, sementara tangan kiri berada di depan perut. Posisi Budha yang seperti ini disebut sebagai Budha Aksobhya, yaitu Budha penguasa timur.

Budha Aksobhya, sang penguasa timur.
Budha Aksobhya, sang penguasa timur.

Makara

Makara sebenarnya sebutan dari sebuah ornamentasi atau ragam hias Hindu yang menggambarkan hewan ajaib di dalam mitologi Hindu. Dalam mitologi India disebutkan adanya hewan ajaib yang mempunyai badan seekor ikan dengan kepala seekor gajah. Dalam kesenian Hindu-Jawa dikenal istilah ‘Gajamina’.  Makara yang terdapat di sini adalah makara bekas hiasan dari jorokan pipi tangga masuk sebuah bangunan candi. Ditemukan di daerah Njoyo-Merjosari. Dilihat dari ciri hiasannya yang berupa mulut ikan menganga dengan belalai gajah serta di dalamnya terdapat hiasan seekor singa kecil, dapat diperkirakan bahwa makara ini berasal dari masa abad VIII s.d X M. Penduduk setempat waktu itu menyebut ‘watu ukel’ atau ‘watu jaran kepang manten’.

Sepasang makara, lingga-yoni, dan patung Budha Asobhya di halaman museum.
Sepasang makara, lingga, dan patung Budha Asobhya di halaman museum.

Prasasti Dinoyo 2

Batu prasasti ini ditemukan di sekitar pertigaan Jl. MT. Haryono dengan Jl Gajayana kelurahan Dinoyo Malang pada tahun 1985. Prasasti menggunakan bahasa Jawa kuno dan berhuruf Jawa kuno pula. Disebut sebagai prasasti Dinoyo 2 karena di Dinoyo pernah ditemukan prasasti yang disebut prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M. Prasasti Dinoyo 2 ini memuat dua penanggalan. Penanggalan pertama memuat angka tahun 773 saka bulan Magha hari Wrehaspati Was Umanis tanggal 8 paro terang (tanggal 15 Januari 851 M). Penanggalan kedua memuat angka tahun 820 saka bulan Srawana hari Aditya Mawulu Umanis tanggal 8 paro gelap (tanggal 2 Juli 898 M). Isi yang dapat dipetik dari batu prasasti yang sebagian besar hurufnya aus tersebut adalah: bahwa pada tahun penanggalan yang pertama disebutkan bahwa Dang Hwan sang Hiwil dari Hujung menetapkan status tanah sawah untuk dijadikan sima bagi kelangsungan biara pertapaan yang dipimpin oleh Dang Hyang guru Candik. Penetapan tanah sawah tersebut disaksikan oleh beberapa pejabat. Tetapi dalam perjalanannya tanah sawah tersebut pada akhirnya oleh para tetua desa dijual kepada para tetua desa Kandal. Sehingga akhirnya pada penanggalan yang kedua ( 47 tahun kemudian) disebutkan bahwa tanah sawah tersebut ditebus kembali oleh Dang Hwan dari Hujung yang namanya tidak diketahui karena aus, untuk diberikan dan ditetapkan lagi sebagai tanah sawah wakaf untuk biara pertapaan, dengan disaksikan oleh beberapa pejabat dan saksi lainnya.

Prasasti Dinoyo 2.
Prasasti Dinoyo 2.

Prasasti Muncang

Prasasti ini ditemukan di desa Blandit-Wonorejo, Singosari. Isi dari prasasti Muncang bahwa pada tahun 866 saka bulan Caitra tanggal 6 suklapaksa (paroterang) hari ‘tunglai-pahing-anggara’ wuku Shinta, yang bertepatan dengan tanggal 3 Maret 944M.  Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok Sri Isana Wikramadharmottunggadewa memerintahkan melalui Rakai Kanuruhan untuk menetapkan sebidang tanah di desa Muncang yang masuk wilayah Hujung. Maksud dari penetapan sebidang tanah tersebut guna kelangsungan bangunan suci (tempat pemujaan) yang bernama ‘Siddhayoga’, yaitu sebuah tempat ketika para pendeta melakukan persembahan kepada bhatara setiap harinya, serta mempersembahkan kurban bunga kepada bhatara Sang Hyang Swayambuha di Walandit.

Prasasti Muncang.
Prasasti Muncang.

Batu gores

Batu gores merupakan salah satu produk dari masyarakat masa megalithik. Fungsi batu gores berhubungan dengan sistem upacara pertanian atau pula sebagai sarana upacara pengasahan senjata tajam.  Batu ini ditemukan di Jl. Kanjuruhan Tlogomas, Kel. Lowokwaru..

Batu gores.
Batu gores.

Lebih lengkap tentang koleksi Museum Mpu Purwa dapat dilihat di situs resminya.  Dan inilah dia jalur perjalanan kami kemarin 🙂

Tidak usah jaun-jauh untuk belajar dan bersenang-senang ;)
Tidak usah jaun-jauh untuk belajar dan bersenang-senang 😉
Sampai jumpa di candi yang berikutnya ;)
Sampai jumpa di candi berikutnya 😉

Jelajah Wisata Tumpang-Poncokusumo

Ini gara-gara searching jalan masuk ke area TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) jadi nyasar ke website tempat-tempat wisata di Tumpang, Kab. Malang. Ternyata oh ternyata, Kec. Tumpang yang hanya sak-nyuk-an (kurang lebih 20km) dari tempat tinggal saya memiliki banyak tempat wisata. Bahkan Desa Gubuk Klakah di sebelah timur kota kecamatan Tumpang pernah meraih juara 3 Desa Wisata tingkat nasional.

Nah, hari ini, dengan modal tekad kuat membara, informasi dari internet, dan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) saya dan anak-anak bersiap-siap menjelajahi beberapa tempat wisata di Tumpang. Terus terang, ini pertama kali saya ke Tumpang. Dan asal tahu saja, biasanya informasi dari internet itu sedikit mengandung unsur PHP. Bukan bermaksud menyesatkan, tapi karena mereka yang menuliskan itu sudah pernah berkunjung ke lokasi tersebut, jadi kesannya tempat itu mudah dicapai. Walaupun ‘dekat jalan raya’, ‘mudah dijangkau’, ‘banyak petunjuk jalan’, dlsbg, bagi seorang pemula selalu ada peluang untuk tersesat. Sejak awal saya sudah wanti-wanti pada anak-anak untuk waspada dan selalu membaca setiap papan petunjuk jalan. Kami berangkat pukul 8.00 dari Malang, lebih lambat dari waktu yang direncanakan.

And here we go! :))

CANDI JAGO

Ada dua jalan menuju Candi Jago. Jalan pertama tidak terlalu jauh (200m) dari Jalan Raya Tumpang.  Kalau dari arah Malang belok kiri sebelum pasar Tumpang. Ingat, sebelum pasar Tumpang. Kalau anda sudah sampai pasar Tumpang, artinya anda sedikit kebablasan. Jalan kedua, unrecommended, belok kiri dari pertigaan Tumpang-Bromo-Poncokusumo. Jalannya lebih curam, jauh, sempit dan berkelok (namanya juga hasil nyasar). Kami masuk dari jalan kedua dan keluar dari jalan pertama. Saat tiba di Candi Jago sedang ada ritual keagamaan dan foto-foto keluarga oleh salah satu rombongan pengunjung, sehingga rombongan lain belum diperkenankan naik. Tidak ada tiket masuk yang diberlakukan. Pengunjung dapat memberi donasi secara sukarela setelah mengisi buku tamu di pos depan.

Candi Jago, Tumpang, Malang.
Sisi Barat (depan) Candi Jago, Tumpang, Malang.

Sejarah tentang Candi Jago (Jajaghu) ini dicatat dalam kitab Negarakertagama dan Pararaton. Dibangun pada tahun 1268-1280 M sebagai penghormatan untuk Raja Singasari ke-4 yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana, candi ini pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada masa kerajaan Majapahit (abad 13). Candi Jago dipenuhi panel-panel relief yang terpahat dari kaki sampai dinding ruangan teratas. Relief candi ini mengandung unsur ajaran Budha dan Hindhu sesuai dengan agama syiwa Budha yang dianut Wisnuwardhana. Agama Syiwa Budha adalah aliran keagamaan yang merupakan perpaduan ajaran Hindu dan Budha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Badan candi terletak diatas batur setinggi 1 meter dan tiga teras berundak yang makin keatas makin mengecil. Terdapat lima kisah utama yang merupakan perpaduan ajaran Budha dan Hindu yang tergambar sebagai relief pada candi ini. Unsur ajaran Budha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan Kunjakarna yang terpahat pada teras paling bawah. Pada teras kedua tergambar lanjutan cerita Kunjakarna dan kisah Mahabarata yang mengandung ajaran Hindu (Parthayajna dan Arjuna Wiwaha). Teras ketiga berisi lanjutan relief Arjuna Wiwaha. Sedangkan dinding tubuh candi dipenuhi pahatan cerita Hindu, peperangan Kresna dan Kalayawana. Karena belum boleh naik ke teras yang lebih atas, kami hanya bisa mengamati kisah-kisah di dalam Tantri Kamandaka yang sebagian besar berbentuk fabel dan bagus diceritakan pada anak-anak untuk diambil pelajaran. Diantaranya kisah burung bangau dan kura-kura, persahabatan singa dan lembu, serta persahabatan katak dan ular.  Urutan kisah ini dibaca dari sisi kiri candi searah jarum jam (pradaksina).

Relief kisah burung bangau dan kura-kura di teras pertama Candi Jago.
Relief kisah burung bangau dan kura-kura di teras pertama Candi Jago.
Pahatan candi di dalam candi.
Pahatan candi di dalam candi.
Rombongan yang sedang mengadakan upacara adat.
Rombongan yang sedang mengadakan upacara adat (sisi Timur Candi Jago).
Pemasangan dupa di salah satu sudut Candi Jago.
Pemasangan dupa di salah satu sudut Candi Jago.

Sebagaimana karakteristik candi-candi di Jawa Timur, Candi Jago juga menghadap ke Barat dengan ruang utamanya (Garba Grha) terletak di bagian belakang. Karakter Singasari-nya tampak dari pahatan teratai (padma) yang menghiasi tatakan arca-arcanya. Termasuk batu besar di tengah pelataran depan yang pada puncaknya dipahat membentuk bunga teratai yang menjulur dari bonggolnya. Sebelah kiri candi berdiri arca Amoghapasa berlengan delapan dengan latar belakang singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi. Amoghapasa adalah dewa tertinggi dalam agama Budha Tantra dan dianggap perwujudan dari Wisnuwardhana. Sedangkan di sisi kanan candi terdapat arca kepala raksasa setinggi 1 meter.

Arca Amoghapasa yang sudah tidak sempurna bentuknya.
Arca Amoghapasa yang sudah tidak sempurna bentuknya.
Arca kepala raksasa ini tidak diketahui pasti apakah letaknya memang disini atau bukan.
Arca kepala raksasa ini tidak diketahui pasti apakah letak aslinya memang disini atau bukan.

Selama berkunjung disana, petugas atau Juru Pelihara sedang sibuk mengamankan prosesi agama dan photo session, sehingga informasi tentang candi lebih banyak saya dapatkan dari internet.

CANDI KIDAL

Matahari belum tinggi saat kami meninggalkan Candi Jago menuju Candi Kidal yang berjarak kurang lebih 7 km dari Pasar Tumpang. Sekali lagi, modal nanya pada penduduk sekitar (GPS), sampai juga di Candi Kidal. Dari Pasar Tumpang kami menuju Timur dan belok ke kanan pada pertigaan tugu pahlawan (makam pahlawan). Nanti akan bertemu percabangan menuju Pajaran dan satunya apa lupa (hehe…). Jangan pilih Pajaran, tapi pilih yang ke kanan. Situs Candi Kidal ada di sisi kiri jalan. Tempatnya agak menjorok ke dalam dan bersebelahan dengan peternakan ayam. Akibatnya, walaupun tempatnya lebih asri dan adem tapi polusi bau ayam tidak dapat dihindarkan. Sayang ya…

Karakteristik Candi Kidal sama dengan Candi Jago kecuali pada teknik pembacaan reliefnya. Relief Candi Kidal dibaca dari sisi kiri candi dengan teknik berlawanan arah jarum jam (prasawiya). Candi ini representasi dari pengagungan tokoh ibu dan dinamai sesuai dengan tempat wanita di sebelah kiri laki-laki (kidal). Sebetulnya, kalau mau wisata edukasi candi-candi di daerah Malang, agar ceritanya nyambung, seharusnya candi inilah yang dikunjungi pertama kali karena dibangun paling awal, yaitu 1248 M. Tujuan pembangunan candi ini sebagai pendermaan untuk Raja Anusapati dari Singasari agar arwahnya mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Kalau dalam agama Islam, kurang lebih maksudnya sama dengan wakaf atas nama orang yang sudah meninggal sehingga pahalanya terus mengalir dan mendapat kemuliaan di akherat. Disini kami banyak belajar filosofi candi dari Pak Imam, Juru Pelihara Candi Kidal. Asal tahu saja, sebagai Juru Pelihara candi, walaupun dibawahi langsung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) daerah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang pusatnya Trowulan untuk Jawa Timur, Pak Imam juga bertindak sebagai petugas kebersihan dan perawatan candi. Saat kami temui, beliau berpakaian kaos tanpa alas kaki membersihkan batuan candi dari lumut yang tumbuh menggunakan lidi. Lumut adalah tumbuhan perintis yang memang menjadi musuh utama pelapukan batuan (jadi ingat pelajaran SD ya 😀 ). Pada candi-candi yang lebih terkenal seperti Borobudur dan Prambanan, pertumbuhan lumut dihambat dengan cara melapisi batuan menggunakan zat tertentu yang mahal. Perawatan semacam ini belum diperluas pada candi-candi yang lebih kecil yang tersebar di Nusantara.

Kembali ke Candi Kidal. Agak berbeda dengan candi lain, pada tangga naiknya tidak terdapat ukel dan anak tangganya tipis serta sempit seperti bukan tangga naik. Hati-hati kalau mengajak anak kecil kesini. Saya sudah deg-deg serr saja melihat si Kecil yang sibuk mengeksplorasi seluruh sisi candi. Di setiap sudut candi terdapat patung mirip singa duduk dengan satu tangan seolah-olah menyangga candi. Di kanan, kiri, dan samping candi terdapat relung yang dulu menyimpan patung Syiwa. Saat ini patung tersebut disimpan di Museum Leiden, Belanda. Di atas pintu masuk terdapat hiasan kalamakara (kepala kala) yang menyeramkan dengan sikap mengancam seolah-oleh menjaga kesucian candi. Puncak atap tidak dihiasi ratna atau stupa melainkan datar saja. Bagian badan candi banyak terdapat relief bunga, sulur-suluran dan medalion.

Selamat datang di Candi Kidal.
Selamat datang di Candi Kidal.
Candi Kidal, yang ramping, tanpa ukel di sisi tangga, tangga yang tipis, puncak yang rata, dan arca menyerupai singa di sudut-sudutnya.
Candi Kidal yang ramping, tanpa ukel di sisi tangga, tangga yang tipis, puncak yang rata, hiasan kalamakara di atas pintu, dan arca menyerupai singa di salah satu sudutnya.
Relung di kanan-kiri pintu yang sudah tidak ber-arca.
Relung di kanan-kiri pintu yang sudah tidak ber-arca.

Untuk menegaskan bahwa candi ini membawa misi tentang perempuan dan bakti Raja Anusapati pada ibundanya, Ken Dedes, maka di teras candi terdapat ukiran kisah Garudheya. Walaupun hanya mitos, kisah Garudheya mempunyai filosofi yang dalam yaitu tentang seekor burung garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon ditampilkannya cerita ini sesuai dengan amanat Anusapati yang ingin meruwat atau membersihkan ibu yang sangat dicintainya dari penderitaan.

Relief pertama, garuda menggendong tiga ekor ular besar.
Relief pertama, garuda menggendong tiga ekor ular besar.
Relief kedua, garuda dengan kendi air suci amerta di atas kepalanya.
Relief kedua, garuda dengan kendi air suci amerta di atas kepalanya.
Relief ketiga, garuda menggendong seorang wanita (ibunya).
Relief ketiga, garuda menggendong seorang wanita (ibunya).

Menurut Pak Imam, dari mitos yang diceritakan kembali oleh Moh. Yamin saat itu kepada Bung Karno ketika berkunjung di kota Malang inilah maka muncul inspirasi beliau untuk menjadikan burung garuda sebagai lambang negara Indonesia. Garuda yang membebaskan ibu pertiwi dari penjajahan bangsa asing.

Salah satu event ruwatan yang diadakan di Candi Kidal.
Salah satu event ruwatan yang diadakan di Candi Kidal.

REST AREA DAN AGROWISATA PETIK APEL GUBUK KLAKAH

Destinasi berikutnya adalah Desa Wisata Gubuk Klakah, Kec. Poncokusumo. Sempat nyasar kearah pusat kecamatan Poncokusumo, saya putar balik dan memasuki jalan menuju Bromo. Awalnya keder juga membawa si Daisy naik-naik ke puncak gunung. Kalau cuma Batu dan sekitarnya sih ayo aja. Tapi jalur ke Bromo kali ini patut dicoba. Selain belum tengah hari, nanggung karena sudah sampai Tumpang. Jalanan teraspal mulus walaupun menanjak. Setelah melewati desa Gubuk Klakah kami lanjutkan hingga Rest Area sambil ishomaba (istirahat, sholat dan makan bakso). Bakso Pak Afi murah meriah, bakso tanggung @1000, gorengan dan tahu @500, lontong @1000. Warungnya tepat di pinggir tebing dengan pemandangan lepas ke lereng bukit yang dipenuhi kebun apel, bawang daun, dan daun kubis. Nge-bakso sekaligus modus nyari-nyari informasi tentang Agro Wisata Petik Apel. Memang disediakan Pusat Informasi, tapi mesti jalan jauh ke ujung Rest Area. Saya ingin mencoba informasi lewat jalan belakang, siapa tahu lebih murah, hehe…

Suasana Desa Wisata Gubuk Klakah.
Suasana Desa Wisata Gubuk Klakah.
Bawang dimana-mana :D
Bawang dimana-mana 😀
Ini lho tanaman kol.
Ini lho tanaman kubis.
Bakso Pak Afi, harap fokus ke gambar latar ya... ;p
Bakso Pak Afi, harap fokus ke gambar latar ya… 😛

Ternyata informasi yang saya dapat dari pedagang bakso sama dengan apa yang saya dapatkan dari internet. Wisata Petik Apel ini bukan seperti Agrowisata Kusuma di Batu yang dikelola oleh satu orang atau perusahaan. Disini kita akan diajak berkunjung ke kebun-kebun petani apel yang sedang siap panen. Bisa kebun petani yang mana saja. Pemandunya juga penduduk lokal yang diperdayakan untuk menemani tamu. Mereka ini sudah standby di Rest Area atau bisa juga on-call. Seperti pemandu yang akan mengantar kami dengan penghubung penjual bakso. Tarifnya juga standar, dimanapun kapanpun oleh siapapun, 20.000/orang. Biasanya mereka melayani paket mengantar ke tempat wisata lainnya termasuk Wisata Candi, Coban Pelangi, Bromo, dengan bermalam di rumah penduduk (homestay), paket wisata 2 hari 1 malam 450.000/orang. Termasuk jemput-antar sampai stasiun/bandara/terminal di Malang. Tapi kali ini saya hanya minta diantar ke kebun apel saja. Si Daisy ditinggal di Rest Area dan kami menuju kebun apel dengan menumpang jeep terbuka yang sudah disediakan oleh pemandu. Apel yang dipetik di tempat dijual 20.000/kg, sedangkan apel yang dijajakan oleh penduduk sekitar dihargai 10.000/kg. Selisihnya adalah harga sensasi memetik apel. Kalau mau makan di tempat juga boleh sak-kuatnya sampai gigi goyang. Saat perjalanan kembali, beruntung kami bertemu dengan petani yang baru saja panen. Resminya saya membeli 2 kg apel dengan harga 20.000 tanpa ditimbang (karena petaninya tidak bawa timbangan). Sampai di rumah saya timbang ternyata dapatnya 4,5 kg. Lumayan.

Siap menjelajah kebun apel :)
Siap menjelajah kebun apel 🙂
DSC_4801
Sejauh mata memandang…
Apel manalagi. Nom nom nom... :p
Apel manalagi. Nom nom nom… 😛
Hasil panen petani apel.
Hasil panen petani apel.

Kabut sudah turun saat kami tiba kembali di Rest Area. Tapi anak-anak jadi tambah semangat melihat kabut sehingga minta turun lagi jalan-jalan di kebun bawang. Setelah terasa rintik hujan barulah kami meninggalkan lokasi setelah membayar retribusi parkir 10.000. Kami dan Daisy menembus hujan deras di sepanjang jalan pulang hingga sampai Malang pada pukul 15.30.

Rest Area dan jeep yang kami tumpangi (free of charge).
Rest Area dan jeep yang kami tumpangi (free of charge).
Hujan lebat di sepanjang jalan pulang (gerbang masuk Desa Gubuk Klakah).
Hujan lebat di sepanjang jalan pulang (gerbang masuk Desa Gubuk Klakah).
Akhirnya si Daisy sampai juga di Rest Area Gubuk Klakah :)
Akhirnya si Daisy sampai juga di Rest Area Gubuk Klakah 😛
Ini dia peta perjalanan kemarin, tidak jauh kan :)
Ini dia peta perjalanan kemarin, tidak jauh kan 😉

Next trip, Singosari dan sekitarnya 🙂