PKK Yang Luar Biasa

Dulu, saya termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan kegiatan PKK.  Bukan berarti tidak suka, bukan itu.  Tapi rasanya kok kegiatan PKK itu kurang produktif dan identik dengan arisan (ini sepertinya gara-gara salah pergaulan, ngumpulnya dengan kelompok PKK perkotaan yang relatif stagnan dan didominasi oleh kegiatan arisan).

Ternyata tidak demikian dengan PKK di daerah (baca: pedesaan).  Luar biasa sekali geliat aktifitas PKK di daerah ini.  Dan semuanya kembali pada 10 Program Pokok PKK.  Pokoknya kesepuluh-sepuluhnya diterapkan dan menjadi nafas dari semua kegiatan PKK.  Belum pernah terbayangkan sebelumnya kalau saat ini saya harus terjun di dalam kegiatan PKK daerah, apalagi menjadi Ketua TP (Tim Penggerak) PKK.  Walaupun dulu sering membolos arisan PKK RT, tapi untunglah saya masih hafal lagu Mars PKK gara-gara pernah ikut lomba paduan suara Mars PKK.  Sangat tidak elegan bukan, kalau Ketua TP PKK Kecamatan tidak hafal Mars PKK 😀

Begitulah, awal terjun di PKK Kecamatan bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya.  Langkah pertama yang saya ambil adalah mempelajari dengan membaca sebanyak-banyaknya literatur tentang Organisasi Tata Kelola PKK serta apapun tentang Pokja 1-4 (Kelompok Kerja) dan mulai menghafal 10 Program Pokok PKK.  Yang semakin dipahami membuat saya semakin sadar, betapa salah satu ujung tombak pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah ada di tangan kader PKK (yang akan mentransfer pengetahuannya kepada ibu-ibu di daerah).

PKK memang milik perempuan, tapi tanpa peran serta laki-laki kegiatan PKK tidak akan berjalan lancar.  Dalam hal ini tentu saja kerjasama yang baik harus dimulai dari keluarga sebagai basis pendidikan manusia.  Disinilah wacana literasi manusia (human literacy) berawal.  Hal tersebut sangat relevan dengan kepanjangan PKK, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga.

logo-atau-lambang-pkk
Logo PKK. Sepuluh buah ujung tombak yang tersusun melingkar di tengah logo merupakan lambang dari 10 Program Pokok PKK.

Tim Penggerak PKK sebagai mitra kerja dari pemerintah serta organisasi kemasyarakatan, yang berfungsi sebagai fasilisator, perencana, pelaksana, pengendali dan penggerak  pada masing-masing jenjang untuk terlaksananya program PKK.  Program PKK menyentuh berbagai aspek.  Aspek sumber daya manusia dari semua tingkatan usia, aspek alam dari bagaimana lingkungan terbentuk hingga urusan sampah, serta tentu saja aspek harmonisasi manusia dan alam.  Dengan begitu PKK sangat berperan ikut mensukseskan program pemerintah kalau tidak ingin disebut sebagai ujung tombak kesuksesan program pemerintah.

Saya contohkan disini adalah sinergi antara PKK Kecamatan dengan Puskesmas sebagai salah satu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kesehatan, Sosial, dan Pendidikan tingkat kecamatan.  Beberapa program kerja PKK adalah:

  1. Melalui program GSIB/KSIB (Gerakan Sayang Ibu Bayi/Keluarga Sayang Ibu Bayi), P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi), dan 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).  Kesemuanya ikut mengawal usaha pemerintah menekan angka kematian ibu dan bayi melalui kampanye dan penyuluhan di pusat layanan kesehatan daerah. Memotivasi ibu hamil untuk rajin memeriksakan kandungan, mendapatkan gizi cukup, serta mendorong peran serta suami sebagai Suami Siaga dan Ayah Siaga.  Hebat bukan 🙂
  2. Sosialisasi pemberian ASI dan ASIEK (ASI eksklusif) dan membentuk KPASI/KPASIEK (Kelompok Pendukung) yang melibatkan keluarga dekat ibu menyusui
  3. Pencegahan stunting (perawakan pendek) pada balita dan gizi buruk
  4. Ikut serta mengkampanyekan Gemari (Gerakan Gemar Makan Ikan)
  5. Mendorong Anak Indonesia Suka Makan Ikan (AISUMAKI)
  6. Melalui program KKPBK (Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga) memasyarakatkan GenRe (Generasi Berencana), KB/KS (Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera)
  7. Mendorong peningkatan penghasilan keluarga melalui UP2K (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga) dan mengaktifkan kegiatan KWT (Kelompok Wanita Tani)
  8. Meningkatkan kesadaran pendidikan dan pengajaran pada masyarakat melalui pembentukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di setiap dusun yang berlanjut pada PAUD HI (Holistik Integratif) bersama dengan kelompok BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif)
  9. Program PAAR (Pola Asuh Anak dan Remaja)
  10. Pelaksanaan program HATINYA (Halaman Asri Teratur Indah Nyaman)
  11. Program ODF (Open Defecation Free) di setiap dusun dan desa hingga tercapainya deklarasi ODF
  12. Penurunan angka kejadian kanker leher rahim dengan mengajak wanita usia subur mengikuti pemeriksaan penapisan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat)
  13. Program Lansia (Lanjut Usia) sehat, aktif, produktif, mandiri
  14. Pengadaan Bank Sampah di setiap Desa/Dusun.

Dan yang sudah saya sebutkan itu bukan sekedar tulisan loh… terbukti dari foto-foto –narsis– kegiatan berikut 😀

IMG-20190928-WA0041
Kegiatan IVA di Roemah Boedi Desa Wanurejo. Kode C berarti Cantik, menunjukkan bahwa perempuan harus cantik dan sehat luar dalam.
IMG-20191019-WA0040
Bersama kader HIMPAUDI Kec. Borobudur. Gerakan pungut sampah setelah acara senam AISUMAKI PAUD se-kecamatan Borobudur di Balkondes Ngargogondo.
IMG-20191115-WA0007
Bersama Juara Lomba Senam KB diadakan oleh Balai KB/KS diikuti oleh Kader KB, Kader Kesehatan dan Petugas Pembantu Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dari seluruh desa se-kecamatan Borobudur di Balkondes Tuksongo.  Kode V dengan punggung tangan menghadap ke depan memiliki arti ‘Ayo Ikut KB’.
IMG-20190904-WA0028
Bersama Pengurus dan Kader PKK Kecamatan dan Pokja III se-kecamatan Borobudur. Pelatihan pembuatan eco-brick di pendopo kantor kecamatan Borobudur.  Kode 3 Jari maksudnya adalah 3-R, re-use, reduce, recycle.

Setidaknya, program-program tersebut sudah saya ikuti maupun saya baca (di surat undangan kegiatan yang seringkali tidak dapat saya hadiri) selama hampir tiga bulan ini berkecimpung di dunia PKK Kecamatan.

Terbayang kan, betapa pentingnya arti PKK dalam ikut menyukseskan program-program pemerintah.  Karena PKK lah yang bersentuhan langsung dengan komunitas terkecil yang paling berperan dalam pembangunan masyarakat sehat sejahtera, yaitu keluarga.

Hiduup, Jayaa… PKK 😉

Cerita Kluwak

Menurut saya ragam bumbu pada masakan Indonesia sangatlah mengagumkan.  Contoh yang membuat kagum adalah, kok ya nenek moyang kita dulu itu kepikiran kalau akar semacam kunyit, jahe, kunci, laos, kencur itu bisa menjadikan bahan pelezat masakan. Juga bumbu lain seperti salam, daun jeruk, sereh, dan lainnya. Untuk daun jeruk dan sereh saya masih maklum karena aromanya yang mungkin mampu menginspirasi peracik bumbu kala itu. Termasuk juga cengkeh, pala, merica, ketumbar, kembang lawang, adas, kapulaga, kayu manis, bawang putih dan lain-lain yang menebarkan aroma khas.

Saya yakin bahwa peracikan bumbu masa itu telah melalui proses uji coba yang panjang. Walaupun mungkin juga terjadi secara kebetulan. Kebetulan itu misalnya:

Saat merebus nangka muda di bawah pohon salam tiba-tiba kejatuhan daun salam, yang ternyata menyebabkan rasa dan aroma masakan yang lebih mantap #inimungkin.

Saya sangat meyakini bahwa kemampuan eksplorasi bahan alam yang luar biasa ini karena alam merupakan sumber makanan satu-satunya. Seperti halnya sekarang ini kita terus mengusahakan bahan makanan baru dari alam. Barangkali ada yang ingin mencoba menambahkan daun, biji, bunga, batang tanaman tertentu yang belum pernah dicoba dalam daftar menu makanannya. Mumpung kembang kertas atau kamboja di halaman sedang rajin mekar, dijadikan lalapan #sekedaride. Atau seperti penemuan melinjo, kok nenek moyang itu kepikiran membuka daging buah melinjo, memukul bijinya hingga pipih dan menggorengnya hingga kita sekarang bisa merasakan nikmatnya emping melinjo.

Yang menurut saya ekstrim adalah penemuan coklat. Bagaimana bisa dari buah yang samasekali tidak mengandung unsur coklat dan rasanya tidak enak bahkan pahit kemudian bijinya diproses hingga menjadi serbuk coklat yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan minuman yang lezat (http//ilmupangan.blogspot.com/2011/02/mengenal-proses-pembuatan-coklat.html?m=1).  Luwar biyasaah ini sih.

Tetapi ada satu bumbu dapur yang menurut saya sejarah penemuannya juga luar biasa, ialah kluwek atau kluwak. Sudah lama saya penasaran dengan asal muasal kluwak ini. Yang menjadi bumbu wajib ‘ain untuk memberi warna gelap dan rasa unik pada rawon (dan masakan dari daerah lain yang kurang saya kenal). Kebetulan saya dari Jawa Timur, jadi ya taunya si rawon ini.

Kluwak (Pangium edule Reinw.) merupakan biji dari buah kluwek/kluwak (Jawa), picung (Sunda), pucung (Betawi), panarassan (Toraja), pangi (Bugis, Bali), atau yang di Sumatera Barat dikenal sebagai buah kapayang karena aromanya yang membuat pusing. Maka jadilah istilah mabuk kepayang. Semacam pusing karena bau durian, tapi ini mungkin disebabkan kandungan asam sianida yang tinggi di dalam buahnya. Asam sianida ini bukan asam biasa lo ya, tapi pada kadar tertentu bisa melumpuhkan saraf pusat dan menyebabkan kematian. Masih ingat aktivis HAM Munir (2004) dan Mirna (2016) yang diduga dibunuh dengan menambahkan asam sianida di dalam kopinya? Sementara itu, di Lampung pohon kluwak dikenal sebagai kayu tuba.

Mungkin ini juga yang menjadi muasal peribahasa ‘air susu dibalas dengan air tuba’ karena air rebusannya mengandung racun.
Buah kluwak yang sudah matang (sumber: http://tropical.theferns.info/image.php?id=Pangium+edule)
Pangium edule Reinw. Foto oleh: Blume, C.L., Rumphia, vol. 4: t. 178 A (1848)

Pohon kluwak tingginya bisa mencapai 4 meter dengan tandan buah terdapat di ujung-ujung percabangannya.   Di dalam buahnya yang berbentuk lonjong oval, berkulit keras seperti batok kelapa dan berwarna kecoklatan ini terdapat daging buah yang lunak berwarna kuning. Biji-biji buah tersusun melingkar sebanyak belasan hingga puluhan. Di dalam bijinya yang juga bercangkang keras terdapat endosperma (daging biji) berwarna putih. Daging biji inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan masakan oleh nenek moyang kita. Warna hitam kecoklatan didapatkan dari proses fermentasi. Jadi, tidak bisa langsung dimanfaatkan kecuali ingin merasakan keracunan asam sianida.

Buah kluwak yang dipanen adalah buah yang jatuh dari pohon karena pematangan alami (kluwak masak pohon). Secara tradisional buah itu dibiarkan di tanah terkena hujan panas selama berhari-hari (bahkan berminggu-minggu, asal tidak kelupaan) sebelum dikumpulkan dan menjalani proses berikutnya. Berikutnya, buah dibuka (dengan parang, karena keras), daging buah dibuang, dan biji-bijinya dicuci bersih di air mengalir. Bahkan ada yang dibungkus kain kerawangan dan direndam di sungai selama berhari-hari untuk menghilangkan racunnya (yang kalau sungainya banjir bisa-bisa batal masak pakai kluwak).

Tidak hanya sekedar dicuci, biji-biji tersebut kemudian direbus dulu selama berjam-jam untuk melarutkan racunnya. Air rebusan tidak boleh dibuang sembarangan karena sudah mengandung racun. Selain itu khawatir terminum oleh hewan ternak. Di daerah tertentu setelah tahapan ini biji dipecah dan daging biji yang masih berwarna putih sudah bisa diolah menjadi bahan makanan. Untuk mendapatkan warna gelap, proses yang panjang masih berlanjut.

Biji-biji yang sudah direbus tersebut difermentasi dengan cara diperam. Pemeraman dilakukan dengan mengubur biji yang sudah didinginkan ke dalam tanah. Sebelum dikubur, biji-biji tersebut ditutup daun pisang terlebih dulu. Pemeraman berlangsung selama 40 hari (lamanya pemeraman tentu sudah melalui uji coba yang valid oleh nenek moyang kita). Cara lain adalah dengan memeram biji dengan abu sekam di dalam wadah. Pemeraman dengan abu sekam berlangsung selama 15 hari.

Setelah proses yang panjang tersebut maka kluwak sudah bisa (baca: aman) untuk dimanfaatkan. Bagian yang dimanfaatkan sebagai bumbu masak adalah daging bijinya yang didapatkan dengan memecah kulit biji dengan palu (atau batu pada jaman nenek moyang kita).

Buah kluwak di Tenom Agricultural Park (by Tony Lamb). Penyebarannya dibantu oleh gajah. (Sumber: https://seedsofborneo.com)

Nah, terbayang kan, bagaimana perjuangan nenek moyang kita hingga akhirnya menemukan kluwak untuk dijadikan bumbu masak. Kok ya ke-ide-an dan kepikiran. Padahal, bukan tidak mungkin selama proses penemuannya sudah memakan korban jiwa manusia atau hewan ternak (karena keracunan asam sianida buah kluwak) #mengheningkancipta.

Kalau saya hidup di masa itu, barangkali memutuskan untuk menjauhi buah kluwak setelah mencium bau buahnya yang bisa bikin mabok (kepayang). Tapi tidak demikian dengan nenek moyang kita. Tanpa rasa putus asa tetap mencoba, belajar, dan mencari tahu serta berusaha memanfaatkan buah beracun yang kulit buah dan bijinya keras sekali ini sebagai sumber makanan. Kurang jelas, apakah hal itu dilakukan karena terbatasnya sumber makanan atau rasa kepo dan perasaan tertantang yang sangat besar.

Sebagai tambahan, nama latin edule di belakang Pangium berarti edible yang menunjukkan bahwa kluwak bisa dimakan. Hal tersebut merujuk pada kebiasaan yang ditemukan di masyarakat sekitar.
Dengan ini saya jadi makin kagum, sungguh, nenek moyang kita adalah ahli teknologi makanan yang luar biasa. Salah satunya karyanya adalah menjadikan kita bisa merasakan lezatnya rawon. 🙂

Rawon dan biji kluwak (Sumber: https://www.unileverfoodsolutions.co.id)

Embryology in the Qur’an: Fetus acquires a skeleton

Very interesting paper, especially to the musculoskeletal topic which I teach.

The Islam Papers

Compiled by I. Abdullah.

This post is “work in progress”. Last updated on the 28th April 2013, 21:00  Any comments are most welcome.

Figure 1: 50 Day Human Embryo (Stage 20) and a photo-micrograph and magnetic resonance image (MRI) of the same embryo. (1)

The Qur’an mentions that human development passes through a number of distinct stages (Qur’an 39:6 and 71:14). These stages are descriptive of the embryo’s external appearance and have been assigned the following names as we read in Surah Al-Mu’minoon (The Believers) 23: 12-14:

View original post 1,613 more words

Tanggal 1

Bagi kebanyakan pegawai negeri sipil (PNS) seperti saya, apa yang terpikir tentang tanggal 1? Iya, tidak salah. Tanggal 1 identik dengan gajian. Saatnya terima uang, sama halnya dengan ingat waktunya bayar utang, hehe… *untung inget*

Tapi saya yakin tidak banyak yang tahu bahwa gaji PNS termasuk TNI dan Polri itu sebetulnya diberikan sebelum bekerja, bukan sebagai penghargaan atas apa yang sudah dikerjakannya. Seperti saya menerima gaji pertama di awal masa kepegawaian, kalau saya pensiun bulan Juni ini uang yang diterima pada bulan Juli bukan gaji lagi, melainkan uang pensiun.

Nominal gaji pun berdasarkan pangkat ruang/golongan, bukan mengacu pada beban kerjanya. Sebagai ilustrasi, gaji dosen golongan 3/B sama dengan gaji guru SD yang bergolongan sama. Tahu sendiri kan betapa berbedanya tingkat kesulitan kerja mereka *curcolnya bisa panjang nih* 😦

Tapi tulisan ini bukan untuk mempersoalkan nominal. Karena yang menarik, gaji bagi PNS adalah uang ‘modal’ hidup sebulan selama mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh negara. Kalau demikian, lantas apa yang diterima PNS sebagai upah kerjanya? Kalau melihat kronologi pemberian gaji ya tidak ada (?). Mana ada belum kerja sudah dikasih uang 😀

Sehingga tidak heran bila KBBI mengartikan ‘abdi negara’ sebagai ‘pegawai yang bekerja pada pemerintah; pegawai negeri’ karena pekerjaannya yang bernilai pengabdian. Abdi itu sendiri adalah ‘orang bawahan; pelayan; hamba’. Sedangkan pengertian pengabdian yang saya dapatkan adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Secara singkat yaitu tanggung jawab yang dilakukan dengan ikhlas. Kata kuncinya ‘ikhlas’.

Jadi ya, jerih payahnya biar Pangeran sing mbales 😉

Terhanyut Romantisme Candi Jawa

Berfilosofi Dengan Candi

Istilah candi digunakan untuk merujuk kepada berbagai bangunan sebelum masuknya ajaran Islam (era Hindu-Budha). Istilah ini dipakai untuk bangunan, gerbang, bahkan petirtaan atau pemandian walaupun manisfestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan (Soekmono R, 1996. Candi: Symbol of the universe). Dari segi bahasa asalnya, candi itu sendiri diduga berasal dari kata ‘Candika’ yang merupakan salah satu perwujudan Dewi Durga (Dewi Kematian) sehingga bangunan candi sering dihubungkan dengan pendharmaan untuk memuliakan raja yang sudah meninggal.

Walaupun pernah bercita-cita menjadi arkeolog yang kerjanya menggali sana-sini (note: bukan menggali informasi alias kepo), tapi baru kali ini saya sempat belajar tentang candi dan kisah yang mengiringinya.

Mempelajari candi seperti terbawa kumparan waktu menuju ratusan bahkan ribuan tahun yang telah lalu. Memandang candi, seakan-akan kita menjadi bagian dari orang-orang pada masa itu. Ikut lalu lalang beraktifitas bersama mereka, atau sekedar memandang puncak gunung dari selasar candi. Gunung dan candi yang hadir pada saat itu. Begitu juga saat  malam datang, konstelasi bintang-bintang di langit masih sama dengan ribuan tahun lalu. Saya melihat sesuatu yang mereka lihat.

Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.
Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.

Dari bentuknya itu sendiri, candi mewakili replica tempat tinggal para dewa yang sebenarnya yaitu Gunung Meru atau ‘sumeru’ dalam bahasa sansakerta yang artinya Meru Agung sebagai pusat alam semesta. Salah satu representasi Meru adalah pegunungan Himalaya tempat ajaran Hindu-Budha berasal. Tapi ‘meru’ sendiri disebutkan setinggi 84.000 yojana (1.082 juta km) yang dikelilingi oleh matahari dan planet-planet dalam sistem tatasurya. Terlepas dari aspek mitos pada ajaran tersebut dan tanpa bermaksud menyamakan, saya jadi teringat pada ‘Kursiyun’, ‘Singgasana Allah’, dan bagaimana setiap ajaran spiritual memandang langit sebagai ‘tempat’ bersemayamnya Yang Maha Pencipta. Walaupun bukan ajaran samawi yang menyampaikan kitab-kitab dari langit, tapi semangat spiritualnya kurang lebih sama. Menurut saya, bukan tidak mungkin diantara orang-orang terdahulu di kalangan Hindu-Budha ada nabi-nabi atau messiah yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Candi dan Antropologi

Terkait dengan tempat tinggal saya di Malang, saya jadi tertarik dengan pemilihan lokasi tempat candi dibangun. Candi-candi dibangun dengan memperhitungkan letak bintang (astronomi) terutama dalam menentukan arah hadapnya. Selain itu, lokasinya dekat dengan air terutama pertemuan dua sungai. Kalau saya perhatikan peta Kota Malang, Candi Badut dan Candi Karangbesuki dibangun di dekat pertemuan dua sungai yang berhulu di Gunung Panderman wilayah Batu. Selain dekat air, tempat ideal untuk mendirikan candi adalah di puncak bukit, lereng gunung, lembah, atau hutan. Candi Jago dan Candi Kidal adalah contoh candi yang didirikan di lereng gunung. Ini berdasarkan referensi candi yang pernah saya kunjungi lho ya, tentu masih banyak lagi contoh candi lain. Di Malang Raya saja terdapat 11 candi. Secara geografis, Malang Raya sendiri dikelilingi gunung Semeru, Bromo, Kawi, Panderman, Kelud, Anjasmoro, dan Arjuno. Dan yang pasti, daerah-daerah tersebut adalah daerah subur. Karena, apabila merujuk pada pola migrasi, manusia akan mencari daerah yang subur untuk penghidupannya. Dulu saya sempat bertanya-tanya, siapa yang pertama kali membuka lahan di daerah yang bergunung-gunung seperti di Batu atau Tengger. Secara tempatnya kan susah dicapai, mendakinya juga capek, kok mereka pilih tempat itu sih? Hal tersebut tentu tidak lepas dari pola migrasi ini. Walaupun masuknya pendatang baru diduga kebanyakan melalui pantai tapi ada juga perpindahan melalui jalur darat terutama setelah terbentuknya kepulauan. Sehingga dapat terjadi masyarakat baru dan terjadi asimilasi budaya di tempat tersebut. Seperti halnya penduduk asli Tengger dengan agama Hindu yang kental, tentu diawali dari penduduk asli dari Cina Selatan yang berasimilasi dengan pendatang dari India yang membawa ajaran Hindu. Bahwa kemudian ada proses isolasi yang dapat dikarenakan bencana alam maha hebat seperti gempa dan letusan gunung berapi menjadikan populasi yang terbentuk semacam kehilangan mata rantai. Perlu diketahui bahwa ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, kekuatan bencana alam diketahui lebih dahsyat daripada jaman sekarang.

Saya yakin pasti, bil ilmi kauliyah wa kauniyah, bahwa populasi berbentuk bukan dari proses evolusi. Bahwa bakteri yang ada di Papua akan menjadi monyet lalu berevolusi sebagai orang Papua. Atau jasad renik lain di Pegunungan Himalaya akan menjadi orang Nepal. Melainkan proses migrasi manusia selama ribuan tahun yang semuanya berawal dari tanah tempat pertemuan Adam dan Hawa. Bagi yang masih ngotot percaya evolusi, saya tidak akan memaksakan ide saya karena itu sama saja dengan menasehati pendukung salah satu capres atau menasehati orang yang sedang jatuh cinta (yah, jatuh cinta pada capres itu tentunya, hehe). 😉

How To Spot Clouds

By: James Chubb
If you’re outside and look up at the sky, you’ll more than likely see clouds. Some are big white puffy ones like cotton wool hanging in the sky. Others are dark and gloomy, bringing drizzle, rain or even snow, the kind of weather you don’t want to be stuck outside in.
And, did you realise all those different clouds have all got different names? But, How do they form and how can you tell them apart?
All clouds start in the same way. How high they are in the sky and the conditions up there determine what they will look like. It all starts when heat energy causes water molecules from rivers, ponds, lakes or oceans, to evaporate into the air. This moist air rises and expands as it gets higher into the atmosphere where the pressure is lower than down here on the ground. As the air rises it cools, changing into very small water droplets that form into clouds. But, the conditions have to be spot on. The temperature needs to be right and the water has to hold on to something, such as particles of dust, salt or smoke. If neither of these elements are right, then the cloud won’t form. When the water droplets grow large enough they then fall as rain which goes back into the oceans, lakes, rivers and ponds and the whole thing starts again!
So that’s how clouds form. But how can you tell one cloud from another? Although clouds form in the same way, there are a number of factors that will determine what they will look like and what type of weather they will bring. There are three basic types of cloud, Stratus, Cumulus and Cirrus.
Stratus clouds are somewhat featureless – fog, for example is Stratus on the ground. They are often found around coasts and mountains and are one of lowest forming clouds. They usually bring drizzle, mist and dampness so they are a pretty miserable cloud!
Cumulus is the commonest cloud. These are the puffy white clouds that you see forming on a sunny day with flat bases and tops that look like cauliflowers. They usually form over land on sunny days and are known as fair weather clouds. But watch out, some Cumulus clouds can develop into threatening thunderclouds with sudden downpours, hail and thunderstorms. If you see these guys before midday then get prepared for some rain! A great way to remember this is “In the morning mountains, in the afternoon fountains!”
The final type of cloud to look for is the Cirrus. Cirrus clouds are one of the highest clouds in our atmosphere. The word Cirrus is Latin for a ‘lock of hair’ and they usually cover the sky in wispy streaks. But why do they look this way? Why aren’t they puffy like other clouds?
High in the atmosphere it’s so cold that clouds are made of ice crystals rather then water droplets. As the ice crystals fall they are whipped up by very strong winds and fall in streaks. Because they are so high up it looks like they aren’t moving but of all the clouds, they move the fastest. Cirrus clouds are also very useful for telling us that there will be a change in the weather and the possibility of storms so its always a good idea to keep a look out for them and see how they change.
When you look up at the sky you might not see just one type of cloud, but many different types of clouds all at the same time! Stratus, Cumulus and Cirrus are the three main types of clouds you can find but there are many other different types you can look out for. Next time you’re outside, look up at the sky and see what you can find.
Have a great cloudy day 😉
cloud-spotting-guide

Cellular Traffic

I’d like to show you how busy your cell all the time although during your nap time.

Like tractor-trailers on a highway, small sacs called vesicles transport substances within cells. This image tracks the motion of vesicles in a living cell. The short red and yellow marks offer information on vesicle movement. The lines spanning the image show overall traffic trends. Typically, the sacs flow from the lower right (blue) to the upper left (red) corner of the picture. Such maps help researchers follow different kinds of cellular processes as they unfold. Courtesy of postdoctoral fellow Alexey Sharonov and chemist Robin Hochstrasser, both at the University of Pennsylvania, who also collaborate in a cellular imaging project supported by the NIH Roadmap for Medical Research. Featured in the February 21, 2006, issue of Biomedical Beat.
Like tractor-trailers on a highway, small sacs called vesicles transport substances within cells. This image tracks the motion of vesicles in a living cell. The short red and yellow marks offer information on vesicle movement. The lines spanning the image show overall traffic trends. Typically, the sacs flow from the lower right (blue) to the upper left (red) corner of the picture. Such maps help researchers follow different kinds of cellular processes as they unfold. Courtesy of postdoctoral fellow Alexey Sharonov and chemist Robin Hochstrasser, both at the University of Pennsylvania, who also collaborate in a cellular imaging project supported by the NIH Roadmap for Medical Research.
Featured in the February 21, 2006, issue of Biomedical Beat.

And, here is the words I like the most

… It may look like I’m doing nothing, but on a cellular level I’m very busy. [AsapSCIENCE]

-_-

 

Sulitnya ‘Bercermin’

Menarik sekali membaca curcol tulisan teman saya tentang Introspeksi Diri.  Entah darimana inspirasinya, tetapi betul sekali bahwa hal paling sulit dari introspeksi diri adalah mengakui kelemahan diri. Karena lebih mudah pasang cermin ke muka orang daripada ke muka sendiri. Ini salah satu ciri dari orang yang tidak percaya diri. Karena orang yang tidak percaya diri akan lebih memilih ngacain orang lain daripada ngacain diri sendiri. Mungkin karena pernah kecewa gara-gara cermin pecah setelah dipakai. Dan seharusnya, orang yang sibuk ‘narsis’ tidak akan sempat meminjamkan cerminnya buat orang lain.

Hal penting lain disini adalah, tidak ada cermin yang paling sesuai untuk diri kita selain dari cermin yang kita miliki. Itulah mengapa, introspeksi diri atau bahasa kerennya muhasabah, hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersangkutan.  Lalu, cermin itu apa? Cermin adalah ilmu dan pengalaman hidup masing-masing orang. Bahkan tidak ada orang yang berhak menghakimi orang lain kecuali hakim di meja pengadilan. Hakim kan sudah disumpah dan mengikuti proses pra-peradilan serta memutuskan perkara dengan bukti-bukti yang valid sesuai hukum yang berlaku. Bahkan hakim pun harus siap disumpahin oleh orang-orang yang tidak puas dengan putusannya. Kenapa? Kalau mau objektif, karena tidak semua orang menguasai ilmu tentang hukum tersebut. Sedangkan dari sisi subjektif, pengalaman masing-masing hakim bisa berbeda sehingga putusannya juga bisa beda. Makanya ada kesempatan untuk naik banding dan seterusnya.

Tidak berkorelasi ya? Ah, biarin, hehehe…

Point-nya adalah, kita masing-masing punya cermin yang bisa dipakai — kalau mau –. Cermin yang kita pakai belum tentu cocok untuk orang lain. Karena introspeksi diri adalah mengevaluasi proses. Padahal proses yang kita jalani pasti berbeda dengan orang lain. Jangan sampai kita menjadi orang yang bersikap “Buruk rupa cermin dibelah” lalu serpihan cerminnya disebarkan di jalan mengganggu orang lewat. Alih-alih kena orang, kalau kita lupa bisa-bisa kaki kita sendiri yang menginjaknya.  Dan yang terakhir, tidak perlu merasa paling benar dan paling pandai dengan ‘mengkritisi’ orang lain.  Ilmu manusia sangatlah terbatas.  Daripada merasa tahu, lebih baik kita merasa tidak tahu.  Dengan begitu kita akan belajar lebih banyak terutama untuk diri kita sendiri, sehingga bisa memberi lebih banyak juga untuk orang di sekitar kita.

Begini loh caranya bercermin ;)
Begini loh caranya bercermin 😉

(pic was copied from http://www.haven.ca/shenblog/wp-content/uploads/2014/09/Mirroring-300×225.jpg)

Manusia Yang Merasa Suci

Belakangan ini saya menjumpai begitu banyak orang yang dengan mudah menghujat kesana kemari hingga menyebarkan fitnah atas nama berbagai macam kepentingan. Paling heboh munculnya para haters pada jaman kampanye pilpres sampai dengan — yang baru saja saya baca — netizen yang mencibir Laudya Cynthya Bella. Mereka ini, alih-alih ikut memajukan bangsa dan orang lain, sifat destruktiflah yang dipelihara.
Apakah mereka itu tidak tahu? Atau terlalu frustasi dengan dirinya sendiri?

Hingga saya menemukan artikel yg ditulis untuk REPUBLIKA.CO.ID oleh Dedi Efendi.

MANUSIA SOK SUCI

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS an-Najm [53]: 32).
Janganlah kalian menganggap diri kalian suci dan bersih kerena hakikat diri kalian berada dalam ilmu Allah SWT. Janganlah kalian memuji-muji keunggulan kalian sebab mata manusia tidaklah buta.

Sungguh, tidak ada manusia yang lebih bodoh dibandingkan dengan manusia yang menganggap dirinya bersih dan suci. Tidak ada manusia yang lebih pandai dibandingkan dengan manusia yang menceritakan kebaikan dan kemuliaan dirinya.

Dan, tidak ada manusia yang lebih dungu dibandingkan dengan manusia yang menganggap dirinya tidak pernah salah. Kira-kira demikianlah penjabaran dari pesan Allah SWT pada ayat di atas.

Jika direnungkan, apa yang dimiliki oleh manusia hingga ia layak merasa bangga? Bukankah manusia selalu berada dalam curahan nikmat Allah SWT yang tidak akan mampu ia syukuri?
Bukankah ia memiliki dosa-dosa yang belum tentu diampuni? Bukankah ia memiliki rahasia yang memalukan yang belum terbongkar? Bukankah ia masih memiliki dosa-dosa yang masih ditutupi oleh Allah SWT?

Orang-orang yang bersikap demikian (mengaku diri sok bersih dan suci) tidak sadar dengan hakikat dirinya. Bukankah Allah SWT telah menerima dengan baik amal ibadahnya yang hanya sedikit, kemudian mengampuni dosanya yang sangat besar?

Bukankah yang telah memberikan taufik kepadanya hingga ia mampu berpaling dari jalan yang salah adalah Allah SWT? Bukankah Allah telah menutupi kesalahan dan mengampuni dosanya?

Dengan demikian, layakkah manusia memamerkan serta mengaku-ngaku bersih dan suci di hadapan Allah SWT? Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Sungguh tidak layak jika seseorang yang mengaku sebagai manusia yang bersih dan suci.

Pola pikir yang salah dan keinginan yang buruk telah mengilhami iblis untuk berkata kepada Allah SWT, “Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS Shaad [38]: 76).

Sifat sombong telah menyebabkan iblis menjadi makhluk terkutuk sepanjang masa. Bila manusia merasa diri sok suci dan paling bersih maka apa bedanya dia dengan perilaku iblis? Jangan sampai dia ikut terkutuk karenanya.

Sifat Firaun yang merasa dirinya kuat dan mulia telah mendorongnya untuk berkata, “Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku?” (QS az-Zukhruuf [43] : 51).

Allah SWT lalu menghinakan Firaun. Qarun juga merasa dirinya bersih, kuat, dan mulia sehingga dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (QS al Qashash [28] : 78).

Dengan demikian, tidakkah manusia berusaha mengekang diri dan berhenti dari sikap demikian, kemudian menyerahkan penilaian tersebut kepada Allah SWT? Mengapa manusia masih saja menggunakan lisannya untuk menggambarkan dirinya kepada orang lain?
Padahal, sikap dan perilaku sudah cukup memberikan gambaran tentang dirinya yang sebenarnya. Karena manusia dipandang bukan dari bualan tentang kebaikan dirinya, tetapi dari sikap, perilaku akhlak,dan amalannya.

(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/11/20/mwjmhq-manusia-sok-suci)

Mengapa Kita Menangis?

Untuk beberapa alasan, mata kita mengeluarkan air mata.  Secara normal/fisiologis, mata kita pun selalu basah oleh air mata (basal tears).  Air mata bombay gara-gara iritasi ngupas bawang juga termasuk jenis ini.  Kekurangan atau ketiadaan air mata jenis ini malah bikin mata pedih karena kering.  Hal tersebut umum terjadi dengan bertambahnya usia, melihat komputer terlalu lama, atau berada di ruang dengan kelembaban udara rendah (pesawat udara, ruangan ber-AC).  Kalau sangat mengganggu ya perlu obat tetes mata hingga operasi kecil untuk mendapatkan pengganti air mata alami.  Kondisi patologisnya disebut keratoconjunctivitis sicca.

Air mata diproduksi oleh kelenjar air mata.  Kerja kelenjar air mata dipengaruhi oleh fungsi luhur otak yang melibatkan peranan hipotalamus dan ganglia basalis (fungsi limbik, emosi).  Sehingga, emosi yang berlebihan dapat memicu keluarnya air mata alias menangis.  Kalau sangat berlebihan ya bisa jadi mata air *nangis sampai muncrat-muncrat ala film kartun*.  Berdasarkan pemicunya, air mata jenis ini dibagi menjadi dua yaitu air mata sedih dan air mata bahagia.  Air mata sedih dipercaya sebagai refleks tubuh kita untuk mengusir stres yang mendera.  Bagaimana rasanya setelah tangis sedih kita berakhir? Agak lega kan? Walaupun tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang *curcol dikit*.  Dan, kalau sesuatu yang hilang ini datang, maka datang pulalah air mata bahagia.  Air mata yang dipicu emosi mengandung hormon adenokortikotropik (ACTH) yang meningkat saat stres.  Rilisnya hormon ini melalui air mata diduga berperan sebagai ventilator emosi sedih maupun bahagia.  Tapi hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Jadi, kalau mau nangis ya nangis aja, daripada menimbun sesak di dada *eaa*.  Seperti kata narator youtube berikut:

“Have a good cry, let the world know how you feel and potentially let out that stress.”

Rasanya Kehilangan

Pernah kehilangan sesuatu?

Sepertinya semua orang pernah kehilangan. Entah nantinya ketemu atau tidak dengan sesuatu yang hilang tadi, tapi tahap kehilangan itu pernah dilalui. Respon seseorang yang sedang kehilangan juga bisa berbeda-beda tergantung tingkat keterikatan dan kebutuhan kita dengan sesuatu yang hilang itu. Ada yang biasa-biasa saja dan ada yang kepikiran berhari-hari sampai kebawa mimpi.

Contoh.  Baru-baru ini anak laki-laki saya kehilangan mainan legonya. Responnya biasa-biasa saja. Bahkan dia baru menyadari setelah saya menanyakan keberadaan mainan itu *saya, sebagai pihak yang membelikan –> merasa kehilangan*. Kenapa dia cuek? Karena sudah punya mainan lego baru. Tapi kali lain dia cari pretelan roda mobil-mobilannya sampai berhari-hari. Roda itu masih belum ketemu menggelinding entah kemana. Kenapa dia begitu sibuk mencari ‘roda gak penting’? Karena mobil-mobilannya tidak akan lengkap tanpa roda. *ya iyalaah* Di hari lain dia kehilangan guling kesayangannya. Menurut saya, sebetulnya bukan karena dia sayang sama guling, tapi gelisah tidurnya tanpa guling itu.

Yah, respon kita terhadap hilangnya sesuatu sangat berbeda-beda. Dan ini berpengaruh pada respon kita saat menemukan sesuatu yang pernah hilang itu. Ada yang bahagia luar biasa, ada yang menanggapinya dengan selintasan pandang saja 🙂

Mungkin gini rasanya kalo Bebi ilang :'(
Mungkin gini rasanya kalo Bebi ilang 😥

(pic was copied from http://sunaj-home.org/photos/galleries/lol_cats/funny-pictures-you-may-be-missing-a-lolcat.jpg)

Cinta Dan Memiliki

Saya sedang berkemas pulang. Tiba-tiba teringat postingan teman saya ini dan merasa harus menulis sesuatu. Sehingga saya urungkan langkah ke pintu gerbang lalu duduk menghadap komputer. Karena uneg-uneg yang tidak dituangkan bisa bikin mules kepikiran seharian.

Kata teman saya, cinta (tak) harus memiliki.  Saya setuju. Sangat setuju. Walaupun saya bukan orang yang percaya cinta itu eksis. Saya setuju bahwa tidak ada hal yang membuat kita beralasan untuk memiliki sesuatu selain dari kebutuhan kita sendiri. Berbicara tentang kebutuhan kita, sama dengan berbicara tentang ego. Jangan sinis dulu dengan ego. Tingkatan ego bermacam-macam. Manusia dikaruniai ego agar bisa memenuhi kebutuhannya untuk bertahan hidup alias survive. Kalau di ilmu psikologi kebutuhan ini disebut id atau naluri untuk bertahan hidup. Kebutuhan itu mulai dari yang primer seperti makan sampai yang super tersier seperti rumah mewah di puncak Alpen (sangat tidak penting). Dorongan untuk memenuhi id ini juga ada spektrumnya mulai dari yang paling lemah sampai sangat kuat. Kalau kuat banget bisa disebut egois. Tidak peduli kanan-kiri atas-bawah yang penting keinginannya terpenuhi.

Kembali ke masalah kepemilikan. Kalau ditinjau dari premis diatas artinya seseorang bisa tetap mencintai tanpa harus memiliki.

“Ini sih namanya ndak mampu, pengen punya iPhone 6 tapi ga punya uang.”

Haha, itu namanya tahu diri. Prosesnya:

Jatuh cinta –> lihat saldo tabungan –> nyesek –> sadar –> gak jadi beli –> tetep cinta.

Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa keinginan memiliki itu bisa diatur dengan mengontrol ego. Karena bukan cinta yang membuat kita ingin memiliki sesuatu, tapi ego. Kebalikannya, untuk memiliki sesuatu tidak perlu cinta. Melainkan kebutuhan. Kuatirnya, alih-alih kita mencintai sesuatu itu, yang ada malah kita ‘memperbudak’ sesuatu itu untuk memenuhi ego kita atas nama cinta. Begitulah, menurut pengalaman pemahaman saya.

Co cwiiiiiit.... :)
Co cwiiiiiit…. 🙂

Peperangan Di Masa Rasulullah SAW

Mengacu pada artikel saya sebelumnya tentang Islam Itu Damai, berikut saya kisahkan kembali beberapa peperangan di masa Rasulullah SAW dan penyebab terjadinya perang tersebut:

1. Perang Waddan, tidak terjadi pertempuran sebab tidak bertemu dengan pasukan Quraish. Ikatan perjanjian damai dilakukan dengan Bani Dhamrah.

2. Perang Buwath, tidak dapat menyusul kafilah Quraish.

3. Perang Dzul ‘Usyairah, tidak terjadi kontak senjata, Rasulullah SAW mengadakan ikatan perjanjian damai di jalur kafilah dagang itu dengan kabilah Bani Mudlij dan sekutu-sekutu Bani Dhamrah.

4. Perang Badar pertama, tidak terjadi kontak senjata sebab pasukan Muslimin tidak dapat mengejar pasukan Quraish yang telah menyerang dan merampok/menjarah tempat-tempat penggembalaan di daerah pinggiran Madinah.

5. Perang Badar Al-Kubra terjadi karena Quraisy menginginkan terjadinya kontak senjata (perang) dengan pasukan Muslimin, walaupun
kafilah dagang mereka telah memasuki jalur yang aman. Akhir
pertempuran pasukan Muslimin memenangkan peperangan Badar Al-Kubra ini.

Terdapat sekitar 68 orang tawanan perang (Suku Quraish) yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk diperlakukan dengan baik, sabdanya SAW: “Perlakukanlah tawanan itu dengan baik.”

Sebahagian tawanan menebus kebebasan mereka dengan membayar antara 1000 Dirham sampai 4000 Dirham karena mereka orang kaya. Sementara ada sebahagian tawanan yang dibebaskan tanpa membayar tebusan karena mereka tergolong miskin. Dan ada sebahagian lagi yang dibebani mengajar anak-anak kaum Muslimin sebelum dibebaskan karena mereka adalah di antara orang-orang yang terpelajar.

6. Perang Bani Qainuqa (Kaum Yahudi) di Madinah adalah dikarenakan Kabilah Bani Qainuqa telah melanggar perjanjian dengan pihak Rasulullah dan membantu Quraisy untuk memusuhi Islam. Tidak terjadi pertempuran karena Bani Qainuqa telah keluar dari Madinah.

Bani Qainuqa kalah dalam peperangan tanpa pertumpahan darah setelah dikepung oleh pasukan Muslimin selama 15 hari. Keputusan Rasulullah SAW terhadap Bani Qainuqa yang kalah adalah diusir keluar dari Madinah dengan meninggalkan senjata-senjata dan peralatan tukang pengrajin (kraft) emas, tetapi boleh membawa anak-anak, isteri dan harta benda mereka bersama.

7. Perang Bani Sulaim, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Sulaim dan Bani Ghatafan melarikan diri dan meninggalkan harta benda mereka.

8. Perang Sawiq, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab lepasnya pasukan musuh yaitu kaum Quraisy Makkah dari kejaran pasukan kaum Muslimin.

9. Perang Dzu Amar, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Tsalabah dan Bani Muharib telah melarikan diri, dan pasukan kaum Muslimin menempati (menguasai) perkampungan mereka sekitar sebulan.

10. Perang Bahran, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Sulaim melarikan diri dan pasukan kaum Muslimin menempati (menguasai) perkampungan mereka sekitar dua bulan.

11. Perang Uhud dikarenakan Quraisy ingin membalas kekalahan mereka pada peperangan Badar Al-Kubra. Dengan persiapan pasukan perang Quraisy yang sudah berangkat ke arah Madinah, menjadi alasan bagi pihak Muslimin untuk mempertahankan kedaulatan Madinah.

Korban tewas dan kerugian besar di pihak pasukan Muslimin di bukit Uhud tetapi dari sekian episode pertempuran yang akhirnya dimenangi oleh pasukan Muslimin pada Perang Hamra’ul Asad walaupun banyaknya korban di pihak Muslimin akibat pertempuran.

13. Perang Bani Nadhir (Kaum Yahudi) terjadi karena Bani Nadhir telah melanggar perjanjian damai yang disepakati dengan pihak Muslimin dan Bani Nadhir diketahui berencana untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.

Perang ini tidak terjadi pertempuran karena Bani Nadhir lari ke perkampungan mereka yang sudah dipersiapkan benteng yang kuat untuk menghadapi pasukan Muslimin. Dengan kepungan yang dilakukan oleh pasukan Muslimin mengakibatkan mereka menyerah lalu keluar dari Madinah.

Terjadi kekalahan yang tertimpa Bani Nadhir akibat dikepung oleh pasukan Muslimin selama sekitar 20 hari. Keputusan Rasulullah SAW setelah diadakan perundingan damai (gencatan senjata) adalah bahwa Bani Nadhir harus keluar dari Madinah, untuk setiap 3 orang hanya boleh membawa harta kekayaan yang dimuatkan pada seekor unta saja tanpa membawa senjata.

14. Perang Dzatur Riqa terjadi karena Bani Tsa’labah dan Bani
Muharib (dari Kabilah Najed) yang berkonsentrasi untuk memerangi Madinah dan juga membalas Kabilah Najed (Nejd) terhadap peristiwa Tragedi Bi’ir Ma’unah yang telah membunuh 70 utusan pendakwah Islam di Bi’ir Ma’unah Nejd. Tetapi Perang ini tidak terjadi pertempuran sebab kedua Kabilah itu melarikan diri sebelum bertemu dengan pasukan Muslimin.

15. Perang Badar terakhir terjadi dikarenakan keinginan pihak Quraisy bersama kaum Yahudi untuk membalas Perang Uhud, tetapi setelah pasukan Muslimin menunggu selama 8 hari pasukan Quraisy tidak muncul.

16. Perang Daumatul Jandal terjadi karena ingin menumpaskan kabilah-kabilah di Daumatul Jandal yang hendak melakukan penyerangan ke Madinah. Tetapi kabilah-kabilah itu telah bersembunyi dan melarikan diri.

17. Perang Bani Musthaliq terjadi dikarenakan Bani Musthaliq sedang mengkonsentrasikan kekuatan untuk menyerang Madinah. Pasukan Muslimin mengepung Bani Musthaliq setelah terjadi pertempuran kecil yang berakibatkan 10 orang dari Bani Musthaliq yang tewas. Kemudian mereka menyerah diri lalu menjadi tawanan pasukan Muslimin. Sementara kabilah-kabilah lain yang menjadi sekutu Bani Musthaliq melarikan diri.

18. Perang Khandak adalah pertahanan (defensive) dalam bentuk pembuatan parit di sekeliling Madinah. Pasukan Muslimin membuat pertahanan parit bagi menghambat kekuatan pasukan musuh yang terdiri dari Kabilah Quraisy, kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab lainnya menjadi satu aliansi kekuatan.

Pertempuran terjadi dalam waktu yang relatif sebentar setelah niereka merasa kaget dengan parit yang dibuat oleh pasukan Muslimin Madinah. Kemenangan di tangan pasukan Muslimin setelah Rasulullah SAW berhasil memberikan isu kebencian dan memicu kekacauan di tubuh aliansi, yang akhirnya mereka saling memusuhi dan kemudian meninggalkan Madinah.

19. Perang Bani Quraizah terjadi karena pelanggaran perjanjian damai yang dilakukan oleh Bani Quraizah (Kaum Yahudi) dengan ikut sertanya mereka di pihak aliansi pada Perang Khandak. Pasukan Muslimin mengadakan pengepungan terhadap benteng pertahanan di pemukiman Bani Quraizah sekitar 25 hari tanpa terjadinya pertempuran. Hanya terdapat seorang Muslim yang menjadi korban tewas karena dibunuh oleh seorang wanita dari Bani Quraizah.

Bani Quraizah menyerah diri ke pasukan Muslimin lalu mereka meminta Saad Bin Mu’adz r.a untuk membuat keputusan perundingan damai (permintaan ini dipersetujui oleh Rasulullah SAW), maka diputuskan oleh Saad Bin Mu’adz r.a.

Pejuang-pejuang dari Bani Quraizah yang ikut berperang pada pasukan Ahzab (pasukan musuh di Perang Khandak), akan dihukum mati. Bani Quraizah keluar dari Madinah, selain yang dihukum mati. Harta benda milik Bani Quraizah diambil dan dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang ikut berperang.

Anak-anak dan wanita Bani Quraizah tidak dibunuh, kecuali seorang saja yaitu wanita yang membunuh seorang Muslim ketika terjadinya pengepungan.

20. Perang Bani Lihyan terjadi karena membalas Kabilah Bani Lihyan (Tragedi Ar-Raji’) yang telah melakukan pengkhianatan dengan pembunuhan terhadap 4 orang juru dakwah Islam dan menjual 2 orang juru dakwah Islam kepada Quraisy yang kemudiannya dibunuh juga. Tidak terjadi pertempuran sebab Bani Libyan telah melarikan diri.

21. Perang Dzi Qarad dilakukan oleh Rasulullah SAW karena sekelompok penjarah dari Bani Ghatafan telah membunuh seorang Muslim dan membawa lari seorang wanita Muslimah bersama onta-onta ternakan. Tidak terjadi pertempuran, hanya pengejaran yang berhasil menyelamatkan wanita Muslimah itu dan kawanan onta ternakan. Sementara sekelompok penjarah dapat melarikan diri.

22. Perang Hudaibiyah direncanakan oleh Rasulullah SAW karena mengambil kesempatan musim Haji ke Baitul Haram Makkah, di mana bangsa Arab berkumpul untuk berhaji (budaya Arab). Rasulullah SAW meyakini bahwa tidak akan terjadi pertempuran sebab budaya Arab melarang (tidak boleh) berperang pada bulan haji.

Misi Hudaybiyah adalah misi dakwah dengan menampakkan eksistansinya umat Islam yaitu pengikut Rasulullah SAW kepada bangsa Arab, dengan harapan mereka menerima Islam. Dengan kesempatan ini Rasulullah SAW mengadakan perjanjian damai dengan kabilah Quraisy, perjanjian ini dinamakan Hudnah Hudaybiyah yang berarti gencatan senjata Hudaybiyah.

23. Perang Khaibar adalah pertempuran antara pasukan Muslimin dengan kaum Yahudi Khaibar yang ada di Madinah. Penyebab terjadinya pertempuran ini adalah karena Kaum Yahudi Khaibar menghasut kabilah-kabilah Arab untuk memusuhi kaum Muslimin.

Pertempuran sengit terjadi di kawasan perbentengan Yahudi Khaibar selama 3 hari yang akhirnya Yahudi Khaibar tertekan dan menyerahkan diri dengan syarat kaum Muslimin melindungi keselamatan jiwa mereka (tidak membunuh).

Permintaan tersebut dipersetujui oleh Rasulullah SAW dan menyerahkan perkebunan wilayah Khaibar kepada Yahudi Khaibar dengan kesepakatan setengah hasil panen diperuntukkan untuk kaum Muslimin.

Terdapat pertempuran-pertempuran lain dengan kaum Yahudi yang memusuhi kaum Muslimin yaitu; Yahudi Fadak, terjadi pertempuran dengan pasukan Muslimin, yang kemudian Yahudi Fadak menyerah diri dan berdamai dengan persyaratan yang sama seperti Yahudi Khaibar. Yahudi Wadil Qura, terjadi pertempuran beberapa jam dengan pasukan Muslimin yang kemudian terjadi perundingan damai, hasil perundingan sama seperti kepada Yahudi Khaibar.

24. Perang ‘Umratul Qadha tidak terjadi pertempuran, tetapi Rasulullah SAW memimpin pasukan kaum Muslimin ke Makkah (sebelum fathu Makkah) untuk menampakkan kekuatan kaum Muslimin dan persiapan mereka kepada kaum Quraish Makkah jika kaum Muslimin ditantang untuk berperang. Perang ini lebih bersifat perang urat saraf.

25. Perang Fathu Makkah dipicu oleh pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pihak Quraisy. Dengan demikian Rasulullah SAW mempunyai alasan untuk mengerahkan pasukan Muslimin untuk menguasai Makkah, tanah air Rasulullah dan para muhajirin, dan yang lebih utama adalah Baitul Haram yang disucikan oleh Islam.

Hanya terjadi pertempuran kecil yang tak berarti pada satu sisi Makkah(itu disebabkan Kaum radikal Quraisy yang memulai), sementara pasukan Muslimin memasuki Makkah dengan aman tanpa terjadi pertumpahan darah. Sebelum masuk ke Makkah, Rasulullah SAW memerintah pasukan Muslimin untuk tidak memulai kontak senjata ketika bergerak masuk ke Makkah sebelum Quraish memulai, dan beliau membuat pernyataan untuk disampaikan kepada penduduk Makkah. Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan ia selamat, barangsiapa yang menutup pintu rumahnya ia selamat dan barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram ia selamat.”

Setelah Makkah telah dapat dikuasai oleh Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, maka kaum Quraisy seluruhnya dikumpulkan, lalu beliau SAW membebaskan mereka yang kemudiannya mereka semua memeluk agama Islam tanpa dipaksa.

Begitu juga pengampunan diberikan kepada orang-orang yang telah diperintahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh sebelum memasuki Makkah, ada 10 orang tetapi hanya 3 lelaki dan seorang wanita saja yang terbunuh. Di antara yang masih hidup di saat pemberian pengampunan adalah, Abdullah bin Saad, Ikrimah bin Abi Jahal, Al-Haris bin Hisham, Zuhair bin Abu Umayyah, seorang hamba sahaya Ibnu Khattal, Sarah maula Bani Abdul Muthalib dan Hindun bin ‘Utbah.

Pernah seorang dari pasukan Muslimin dari kabilah Khuza’ah membunuh seorang lelaki karena membalas kematian saudaranya, tetapi malah Rasulullah SAW marah dan mengatakan seandainya terjadi lagi maka akan dilaksanakan hukum Qishash ke atas pelaku (dari pasukan Kaum Muslimin).

Pada waktu penaklukan Makkah, diketika Rasulullah SAW sedang melakukan Thawaf di Baitullah, ada seorang musyrik yang mendekati beliau dan bermaksud membunuh Rasulullah SAW.

Sebagai seorang Nabi, Rasulullah SAW mengetahui niat orang musyrik itu namun beliau tidak memperlakukan kasar atau membunuhnya tetapi beliau ajak berbicara dan sambil tersenyum beliau meletakkan tangannya di dada orang musyrik tersebut. Kemudian pergilah orang musyrik tersebut yang kemudian mendapat hidayah menerima Islam.

26. Perang Hunain diakibatkan oleh Kabilah Bani Hawazun, Kabilah Tsaqif dan kabilah yang lain yang hendak melakukan penyerangan terhadap kaum Muslimin di Makkah. Pertempuran terjadi dengan hasil kabilah Bani Hawazun dapat dikalahkan dan dapat mengusir Kabilah Tsaqif mundur ke pemukiman mereka.

Bani Hawazun kalah sehingga kebanyakan mereka menjadi tawanan perang. Namun kemudian seluruh tawanan yang terdiri dari lelaki, anak-anak dan wanita Bani Hawazun dibebaskan oleh Rasulullah SAW kembali ke kaum mereka Bani Hawazun (masih dengan agama asal). Tetapi mereka semua kemudian menerima Islam tanpa dipaksa.

27. Perang Hisoru Thaif adalah pengepungan yang dilakukan oleh pasukan Muslimin terhadap kabilah Tsaqif setelah melarikan diri kalah di pertempuran Perang Hunain. Sempat terjadi pertempuran ketika pengepungan tetapi karena benteng pertahanan di pemukiman Kabilah Tsaqif sangat kuat maka pasukan Muslimin hanya dapat melakukan pengepungan saja. Terhadap Bani Tsaqif yang berlindung di balik benteng pertahanan mereka, ditinggalkan oleh pasukan Muslimin setelah terjadi pertempuran dan pengepungan selama sekitar sebulan.

Pertimbangan ditinggalkan pengepungan tersebut antara lain karena kuatnya pertahanan benteng dan karena diketahui sudah mulai semakin banyak dari kalangan Bani Tsaqif yang menerima Islam maka diperkirakan lambat-laun seluruh Bani Tsaqif akan menerima Islam.

28. Perang Tabuk terjadi karena pasukan Romawi telah bersiap sedia di bagian utara perbatasan Arab untuk melakukan penyerangan terhadap pihak Muslimin. Tetapi tidak terjadi pertempuran karena setelah pasukan Muslimin tiba di Tabuk ternyata pasukan Romawi tidak ada, sebab mereka telah mundur ke arah utara. Selama menunggu kehadiran pasukan Romawi selama 20 hari, kegiatan Rasulullah SAW adalah mengadakan ikatan perjanjian damai dengan kabilah-kabilah dan penduduk yang berada di sekitar perbatasan Hijaz dan Syam.

Sumber: Sirah Ibnu Hisyam

(Artikel aslinya dapat dilihat di https://sy42.wordpress.com/2012/03/23/peperangan-peperangan-di-masa-rasulullah-saw-dan-sebab-sebab-terjadinya/)

 

Islam Itu Damai

http://nocompulsion.com/wp-content/uploads/2014/02/islam+means+peace1.jpg
http://nocompulsion.com/wp-content/uploads/2014/02/islam+means+peace1.jpg

Kalimat pada judul diatas tentu sudah sering kita dengar. Tapi kadang-kadang kita pertanyakan. Karena saat ini dan sebelumnya ada kelompok dengan membawa nama Islam di bagian tertentu dunia berbuat teror dan kerusakan.

[Teror: Usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan, sumber Kamus Besar Bahasa Indonesia]

Mengacu pada peran Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam (QS.21:107), maka baik beliau maupun pengikutnya tidak akan mungkin menjadi sarana kerusakan dan penderitaan bagi siapapun dan apapun di dunia. Apalagi melakukan tindakan ektremisme dan terorisme. Maka, apabila kita menjumpai kelompok peneror (teroris) dan ekstremis yang terus membenarkan ideologinya atas nama ajaran Islam, apakah kita benarkan hanya karena pelakunya orang Islam? Bukannya kita malah berkewajiban untuk meluruskan dan ikut mengutuk cara-caranya yang tidak Islami. Apakah kita lantas mensyukuri peristiwa runtuhnya WTC karena setelah itu banyak yang mengenal Islam lantas masuk Islam? Sudah tidak ada lagikah cara-cara baik untuk mengenalkan Islam? Perlu dicatat, mereka yang kenal Islam gara-gara kasus WTC itu ada dua golongan. Bandingkan berapa orang yang masuk Islam dan berapa orang yang mengutuk lantas membenci Islam karena peristiwa itu. Belum lagi setelah itu ada negara-negara tertentu mengeluarkan kebijakan yang mendiskreditkan ummat Islam. Tujuannya tentu melindungi negaranya dari teror kaum Muslim.

Lalu ada yang menyangkal dan mempertanyakan, bagaimana dengan peperangan yang mewarnai sejarah Islam? Berikut ada kutipan dari Pidato Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Ahmadiyah ke V. yang disusun dan diterjemahkan oleh Sdr. Jusman.  Mungkin ada beberapa poin yang berbeda dengan pemahaman kita.  Tetapi dari kutipan tersebut dapat dilihat bagaimana konsep perdamaian dalam Islam.

Islam, Korban Kekerasan Atas Nama Agama

Pada periode awal Islam, banyak Muslim yang disiksa dengan kejam dan brutal, dianiaya dan ditindas karena keimanan mereka oleh orang-orang kafir. Pria, wanita dan anak-anak semua menderita kekejaman mengerikan tersebut. Sebagai contoh beberapa Muslim sampai dibaringkan diatas bara panas, sementara yang lain dibaringkan diatas pasir yang terik dan batu ditindihkan diatas mereka. Kemudian terdapat beberapa Muslim sampai kakinya terkoyak, sehingga persis tubuh mereka menjadi dua bagian. Selama dua setengah tahun Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan semua sahabat beliau terpaksa bertahan di lembah, dimana mereka diboikot dan dijauhi dari masyarakat, sehingga mereka tidak memiliki akses untuk makanan, minum dan perbekalan lainnya. Selama berhari-hari mereka tetap dalam kelaparan dan kehausan. Anak-anak Muslim tanpa henti menangis dalam penderitaan dan putus asa. Tapi tetap saja orang-orang kafir tidak menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang apapun. Dalam menanggung kekejaman dan pembatasan-pembatasan tersebut, umat Islam terkadang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk melawan dan membela diri dengan kekuatan mereka, namun pada setiap kesempaan Nabi Muhammad saw menolak setiap permintaan tersebut, dan sebagai gantinya beliau memberi nasihat supaya terus bersabar.

Adalah hal yang alamiah bahwa ketika seseorang mencapai titik dimana ia sadar bahwa maut telah mengintainya disetiap penjuru, dalam keadaan putus asanya itu dia akan mencoba untuk melawan dan membunuh lawannya sebelum meninggal. Namun seperti yang saya katakan pada setiap kesempatan Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya untuk menahan diri dan bersabar meskipun mereka menghadapi keadaan yang sangat ekstrem. Beliau menasehatkan untuk bersabar karena beliau mengatakan bahwa Allah taala tidak mengizinkannya untuk melawan musuh-musuh Islam. Seorang orientalis Italia terkenal, Laura Veccia Vaglieri menulis tentang hal ini masalah ini dan membuktikan bahwa:

“Muhammad [saw], korban penderita sarkasme dan penganiayaan dari Quraisy.”

Setelah bertahun-tahun penindasan kejam dan berbagai intimidasi, sebagian besar umat Islam hijrah dari Mekkah. Kemudian setelah beberapa lama nabi Muhammad saw sendiri hijrah dengan para sahabatnya ke kota Madinah. Namun orang-orang kafir Mekkah tetap saja tidak membiarkan umat Islam untuk hidup damai bahkan setelah hijrah. Sekitar dua tahun kemudian orang-orang kafir menuju Madinah dan melancarkan serangan keji terhadap kaum Muslimin. Tujuan mereka hanyalah untuk menghapus Islam dan semua pemeluk Islam sekali dan untuk selamanya. Pasukan orang-orang kafir sangat besar dan kuat dan mereka datang dengan perlengkapan senjatan dan artileri yang besar. Sebagai perbandingannya hanya ada sekitar 300 orang Islam sedangkan kekuatan dan persenjataan mereka yang setara hampir tidak ada. Namun terlepas dari perbedaan signifikan dalam hal persiapan, pada waktu itulah Allah taala memerintahkan umat Islam untuk pertama kalinya melawan dan membela diri dari permusuhan dan kekejaman musuh. Izin ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surah 22 ayat 39-40 yang berbunyi:

“Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesunngguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” . Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa”.

Jadi, jelas bahwa Umat Islam akhirnya diberi izin untuk membela diri terhadap musuh Islam adalah karena dalam kondisi tertentu yang ekstrim, namun demikian izin tersebut diberikan dalam kondisi tertentu yang menyertainya seperti terbukti dari ayat-ayat yang baru saja dikutip.

Pertama, Allah taala menyatakan izin tersebut diberikan karena adanya kekejaman yang melampaui batas dan orang-orang Islam telah terusir dari rumah mereka. Mereka tidak hidup dengan damai bahkan setelah hijrah, sebaliknya musuh tanpa ampun mengikuti mereka dalam upaya untuk menghancurkan mereka sama sekali. Satu-satunya “kejahatan” yang dilakukan oleh Umat Islam yang tertindas adalah hanya karena mereka menyatakan keyakinan mereka terhadap Satu Allah dan menyembah-Nya.

Kedua, ayat-ayat ini menjelaskan bahwa izin tersebut tidak hanya diberikan untuk melindungi umat Islam saja, melainkan meliputi pengikut semua agama supaya terlindungi dilindungi dan terjaga.

Sejarah menjadi saksi dari fakta-fakta bahwa Empat Khalifah Rasulullah saw telah menerapkan ajaran sejati beliau dan selalu memegang teguh ajaran Alquran sebagai prinsip pedoman mereka selama periode masing-masing khilafah. Tak satupun dari mereka yang pernah memprovokasi peperangan tunggal. Peperangan yang terjadi hanya untuk membela diri. Dalam peperangan selanjutnya yang diperjuangkan oleh para raja dan penguasa Muslim kenyataannya sangat sedikit yang merupakan perang agama, sebaliknya perang mereka berdasarkan perbedaan politik dan ambisi. Di dunia sekarang ini kembali kita menjumpai bahwa perang terjadi karena politik bukan perang agama. Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok teroris dan ekstremis yang mengatasnamakan diri mereka dengan Islam untuk membenarkan tindakan kebencian mereka telah mengalami peningkatan. Bagaimanapun tiap kelompok tersebut berusaha menyesuaikan dengan ajaran Islam, tetapi sebenarnya tidak satupun dari mereka yang memiliki hubungan dengan ajaran sejati agama. Karena apa yang mereka perlihatkan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Islam.

Ajaran Islam Dalam Membentuk Perdamaian

Jadi dengan jelas bahwa keberatan terhadap Islam dalam hal peperangan ini bisa terbantahkan dari fakta-fakta diatas. Sebaliknya jika kita lihat untuk konteks zaman sekarang era perang agama telah berakhir karena musuh-musuh Islam tidak lagi terlibat dalam peperangan fisik terhadap kaum Muslim. Sebaliknya pada  masa sekarang musuh-musuh Islam tidak lagi menggunakan pedang melawan Islam melainkan telah memanfaatkan berbagai sarana komunikasi yang tersedia untuk menyebarkan kebohongan dan propaganda palsu dalam upaya untuk menghentikan Islam. Oleh karena itu kewajiban setiap Muslim adalah menyampaikan contoh ajaran Islam yang benar ke seluruh dunia. Ini adalah cara untuk membantah lawan-lawan modern Islam. Hanya muslim yang menyatukan diri dengan Allah lah yang bisa menampakkan keindahan Islam yang sebenarnya pada dunia.

Pemenuhan hak-hak sesama makhluk

Dan merujuk kepada status Rasulullah saw sebagai Nabi universal, rahmatan lil alamin, maka kita sebagai umat Islam harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap satu sama lain dan sadar untuk memenuhi hak-hak satu sama lain, karena ketika hak-hak masing-masing dipenuhi maka perdamaian dalam masyarakat dapat dibentuk, termasuk dunia yang lebih luas. Ini adalah jihad yang sebenarnya yang memerlukan perjuangan batin oleh manusia untuk mereformasi dirinya sendiri guna membangun hubungannya dengan Allah dan memenuhi hak-hak sesama manusia dan makhluk lainnya.

Menghindari prasangka

Perintah lain yang diberikan untuk pembentukan perdamaian masyarakat telah digambarkan dalam Surat 49 ayat 13 dimana dinyatakan bahwa orang beriman harus menghindarkan diri dari prasangka karena prasangka mengarahkan pada dosa. Ayat ini lebih jauh menyatakan bahwa seseorang tidak boleh memata-matai satu sama lain atau berupaya mengulik kesalahan orang lain. Di permukaan mungkin ini tampak seperti sebuah hal kecil dan tidak signifikan. Namun jika ajaran ini benar-benar diikuti maka hal ini akan mengarah pada perdamaian dalam masyarakat, baik dalam skala kecil maupun skala yang lebih luas.

Dalam skala yag lebih kecil kita mengetahui bahwa rumah tangga keluarga merupakan pondasi bangunan bagi masyarakat. Tetapi jika kita lihat keadaan masyarakat sekarang ini, sangat disayangkan di seluruh dunia banyak terjadi rumah tangga yang hancur dalam jumlah yang besar. Alasan mendasar hal itu seringkali terjadi karena prasangka antara suami istri atau terjadinya fitnah. Kemudian pada skala yang lebih luas kita mengetahui bahwa prasangka dan pikiran buruk terhadap orang lain adalah alasan utama mengapa hubungan antara kelompok yang berbeda atau negara menjadi hancur.

Bersikap adil dan jujur

Hal lain yang Alquran terus tekankan adalah memenuhi hak-hak satu sama lain. Di Dalam Al-Qur’an Surat 83 ayat 1-3 Allah telah menyatakan bahwa mereka yang merampas hak-hak orang lain dan yang tidak adil dalam transaksi mereka akan dilaknat dan dihancurkan. Hal ini mengacu pada orang-orang yang ketika mengambil bagian untuk mereka, mereka berupaya untuk mengambilnya secara penuh namun ketika mereka mereka memberikan kepada orang lain, muncullah ketidakadilan dengan menguranginya dari yang seharusnya. Dengan demikian dalam beberapa baris Alquran telah menentang tindakan buruk dan jahat tersebut dan juga telah meletakkan dasar bagi perlindungan kehidupan, kehormatan dan martabat semua orang. Sebagai contoh dimana seseorang telah dianiaya atau diperlakukan tidak adil maka dalam reaksinya sangat memungkinkan baginya untuk membalas dengan balasan setimpal. Namun dalam bertindak ia seringkali gampang bertindak melampaui batas proporsional dan keadilan, dan bertindak berlebihan dalam membalas dendam. Oleh karena itu Allah taala telah memerintahkan bahwa untuk mencegah kesalahan seperti itu hak-hak orang lain tidak boleh dirampas, karena konsekuensinya berpotensi sangat serius dan berbahaya. Untuk mencegah hal-hal yang yang terjadi diluar keadaan proporsional Al-Qur’an telah memerintahkan agar semua pihak harus tetap adil dan proporsional dalam hubungan mereka. Mereka harus memberi dan menerima dalam ukuran yang sama. Melalui ajaran-ajaran demikian, hak-hak orang miskin dan kekurangan dijaga oleh Al-Qur’an, karena perintah ini memerlukan keadilan dan kejujuran terhadap semua. Jika prinsip-prinsip tersebut diperhatikan maka hal itu akan mengarah pada segmen masyarakat yang kehilangan kemampuan berdiri diatas kaki sendiri, agar mendapatkan kehormatan diri dan hidup dengan penuh martabat.

Hal penting lainnya yang diberikan oleh Alquran untuk pembentukan perdamaian dunia adalah bahwa jika dua pemerintahan Islam terlibat permusuhan dan perselisihan, maka pemerintah lain harus bersatu bersama-sama dalam upaya mendorong perdamaian. Jika dari negara berperang terjadi gencatan senjata tetapi kemudian salah satu pihak melanggar perjanjian atau terang-terangan menolak rencana perdamaian dan malah terang-terangan melanggarnya maka pada tahap itu pemerintahan yang lain harus secara bersama-sama menentang agresor tersebut. Negara-negara yang menjadi dalam keadaan seperti itu tidak boleh dibiarkan sendiri, sampai mereka dapat hidup damai kembali. Setelah itu jika agresor menyatakan mundur dan menerima kesalahannya dan berjanji untuk mematuhi perdamaian maka tidak boleh ada balas dendam dan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal, tidak menetapkan tuntutan yang tidak pantas dan tidak adil. Dengan demikian prinsip mendasar ketika berhadapan dengan hal-hal tersebut adalah harus bertindak dengan keadilan. Pedoman ini diambil dari Surah 49 ayat 9 dalam Al-Qur’an. Hal ini seharusnya tidak hanya dianggap sebagai pedoman bagi negara-negara Islam saja, karena sesungguhnya jika semua negara mengikuti pedoman ini maka keberatan-keberatan akan hilang. Sayangnya prinsip ini tidak dipegang dan diperhatikan selama dan setelah Perang Dunia Pertama dan karena itu pada akhirnya menyebabkan Perang Dunia II. Selama perang itu sekali lagi prinsip-prinsip ini tidak diperhatikan dan persyaratan keadilan tidak dipenuhi. Melihat sejarah masa lalu kita, jelas bahwa saat ini dasar bagi Perang Dunia sedang diletakkan.

Ajaran Islam bersifat universal dan menjangkau semua spektrum kehidupan, mulai dari unit keluarga dalam rumah tangga sampai pada masyarakat yang lebih luas. Dan pada akhirnya juga mencakup hak-hak bangsa dan upaya melakukan hubungan internasional.

Saat Siapa Di Atas Apa

Apa di atas siapa.
Apa di atas siapa.

Belakangan ini saya agak gerah oleh pemberitaan simpang siur di media sosial tentang banyak hal. Sepertinya bukan saya saja. Setidaknya demikian menurut pengamatan saya walaupun beberapa teman lantas menikmati kegerahan ini dan terjun berkecimpung di berbagai topik yang sedang trend saat itu. Anggap saja masuk bilik sauna, panas dan gerah tapi sehat 🙂

Sebagai pengamat amatiran, ada hal yang saya garis bawahi, yaitu kecenderungan seorang downline bertahan pada satu pendapat yang mengacu pada upline-nya. Biasanya para pengikut itu mengikuti saja apa yang dikatakan atau dituliskan oleh pendahulunya yang biasanya ditokohkan di bidang apa pun yang sedang berkembang saat itu. Kadangkala diterima tanpa dicerna dan dikaji ulang alias manut wae. Para downline ini mengutamakan siapa yang menyampaikan di atas apa yang disampaikan dan itu bisa menyebabkan taklid buta yang menjadikan seseorang menjadi tidak kritis dan logis lagi. Padahal bisa jadi hari ini seseorang berbuat benar besok dia berbuat salah. Sikap sangat tunduk yang menyebabkan sulit melihat kanan kiri ini seringkali didorong oleh loyalitas seseorang kepada kelompok atau golongan. Terutama kelompok dan golongan yang memakai sistem baiat. Hal ini menyebabkan saya tidak menahbiskan diri pada kelompok maupun golongan tertentu. Saya bukan ‘tidak berpakaian’ tetapi ganti-ganti pakaian yang cocok dan saya anggap baik. Dalam hal ini dapat dikatakan saya seorang oportunis. Yang perlu diingat bahwa kebaikan itu bisa datang dari siapa saja seperti yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA, “unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla” atau “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan”. Pernyataan ini tentu diamini tidak hanya oleh kaum Syiah, tetapi juga oleh teman-teman muslim yang hobi ‘meretweet’ kata-kata bijak dari orang-orang non muslim misal Oprah Winfrey, Confusius, dll. Rasulullah bahkan pernah membenarkan kata-kata setan tentang Ayat Kursi walaupun setan itu pendusta.  Riwayatnya bisa dilihat disini. Sesungguhnya mengutamakan “siapa” di atas “apa” bisa memperkecil area dan kesempatan kita untuk mendapatkan kebenaran dan hikmah dari orang lain.

Jadi, saat kita loyal pada suatu kelompok atau golongan, jangan lupa akal juga dibawa karena didalamnya tetap ada tuntutan untuk bersikap kritis. Seperti kata-kata berikut “Follow your heart but take your brain with you”. Hanya ada dua hal di dunia ini yang dapat kita ikuti tanpa ada keraguan di dalamnya, yaitu: Al-Quran dan sunnah Rasulullah. Tapi ingat, keduanya itu dapat diamalkan melalui pemahaman padahal penafsir dan perawinya juga beragam. Hikmahnya, selama bermuara pada kedua sumber tersebut, kenapa kita bersengketa? Perbedaan itu boleh, yang tidak boleh itu bermusuhan apalagi saling fitnah sampai bunuh-bunuhan.

Bagaimana Bernegara Dalam Islam

“Tulisan berikut saya muat ulang tanpa bermaksud mendiskreditkan kelompok tertentu. Saya tuliskan lebih karena pemahaman dan ilmu saya yang sangat dangkal ini setuju dengan uraian di dalamnya. Setidaknya, ilmu penulisnya jauh lebih tinggi dibanding saya yang mengecap pendidikan agama formal dari SD sampai SMA yang hanya 2 jam seminggu itu.  Karenanya, tidak saya kurangi atau tambahi satu huruf pun dari tulisan tersebut.  Penulisnya adalah KH. Hasyim Muzadi. Tidak akan saya sebutkan biografi maupun profil kemumpunian beliau dalam pemahaman ilmu agama dan organisasi, karena bisa-bisa melenceng ke arah golongan juga”.

Sebuah tulisan sederhana yang bernuansa politis sekaligus agamis menyoal pihak yang ‘ngotot’ dibentuknya ‘negara Islam’ vs pihak yang ngotot bernegara Pancasila. Berikut tulisannya:

BENTUK NEGARA BUKAN PERINTAH AGAMA

Saya akan menerangkan bagaimana pola Rasulullah dalam mengatur kehidupan ummat Islam di Madinah. Hal ini perlu saya sampaikan karena akhir-akhir ini ada yang ngotot ingin membentuk Negara Islam, Negara Khilafah. Ada juga yang ngotot dengan Negara Pancasila. Bagaimana kalau ditinjau dari perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Dua tahun sebelum wafatnya, Rasulullah SAW membuat perjanjian antara ummat Islam dengan pemeluk agama-agama yang lain. Ada kelompok Yahudi, Nasrani, shobiin (agama local). Kalau di Indonesia seperti aliran kejawen. Rasulullah SAW juga melakukan perjanjian itu dengan suku-suku yang ada di Madinah.
Perjanjian itu bernama Perjanjian Hudaibiyah. Hasil dari perjanjian ini disebut Piagam Madinah (Miitsaqul Madinah). Piagam Madinah ini mengatur hubungan kemasyarakatan menurut ajaran Islam dan mengatur hubungan ummat Islam dengan Negara. Piagam ini meliputi 47 pasal. Ke 47 pasal ini dikelompokkan dalam beberapa tema.

Pertama

Hubungan sesama ummat Islam. Semua ummat Islam, meskipun terdiri dari beberapa suku harus ada tafahum (kesefahaman). Kalau masih ada perbedaan pendapat di dalam Islam disebut khilafiyah. Khilafiyah merupakan sebuah pilihan. Siapa memilih apa, tergantung ummat Islam sendiri. Ummat Islam tidak perlu ta’arudh (gegeran). Perbedaan itu boleh, sedang pertikaian itu tidak boleh. Dalam bingkai ukhuwah islamiyah ini berlaku kaidah, lanaa a’maaluna walakum a’malukum (bagi kami perbuatan kami dan bagimu perbuatanmu).

Kedua

Hubungan kelompok ummat Islam yang mayoritas dengan non Muslim. Untuk urusan keimanan dan ibadah (syariah) masing-masing menggunakan agamanya sendiri-sendiri, tidak boleh dicampur-campur. Sebelumnya, sempat ada peristiwa tawar menawar. Kalau hari Jum’at, ummat Yahudi ikut jum’atan. Tapi kalau hari Sabtu ummat Islam ikut beribadah bersama Yahudi. Ajakan ini ditolak oleh Rasulullah SAW. Negara Islam tidak diwajibkan, tapi amaliyah Islam diwajibkan kepada setiap ummat Islam. Lha, kalau ummat Islam baru diterima amalnya kalau sudah membuat Negara Islam, ya kasihan ummat Islam yang ada di Negara-negara non muslim, seperti di Jepang, di Eropa, dan sebagainya. Tetapi dalam Piagam Madinah, hak-hak mereka sebagai warga Negara disamakan dengan ummat Islam. Gampangannya, mereka semua diberi KTP. Hak kewarganegaraannya, hak keselamatan, hak perlindungan, hak pendidikan, dan hak-hak yang lainnya diberikan. Jadi, dalam akidah dan syariah sendiri-sendiri, tapi dalam sosial kemasyarakatan mereka hidup bersama. Seluruh warga Madinah harus punya perasaan sama-sama orang Madinah. Jadi ada rasa kebangsaan. Dari suku-suku itu bersatu untuk saling mengenal dalam satu bingkai kebangsaan. Dan kalau ada serangan dari luar Madinah, maka dianggap musuh bersama. Nah, ini dalam ilmu ketatanegaraan modern disebut Nasionalisme. Kewaspadaan terhadap persatuan dan serangan dari luar. Rasulullah SAW selalu mengingatkan agar tidak mengkhianati perjanjian dan kesepakatan. Ini memberi pelajaran bahwa Negara harus selalu waspada. Karena dari luar ada pihak yang bisa menyerang. Dari dalam ada kecenderungan pertikaian antar kelompok.

Saat ini di Indonesia muncul faham pluralisme, banyak jadi satu (unity of diversity). Pluralisme ini boleh dalam hubungan sosial, tapi pluralism tidak boleh dalam akidah dan ibadah. Berarti ini adalah bibit dari Islam yang rahmatan lil alamiin. Sebagaimana firman Allah, tidaklah aku mengutusmu Muhammad kecuali kamu menjaddi rahmat bagi seluruh alam. Kalau seluruh alam, bukan manusia saja, tapi menyangkut semua alam-alam yang lain di luar manusia. Jadi, bukan hanya rahmatan lil muslimiin. Kalau Islam ditegakkan, maka alam ini akan selamat. Islam seperti payung. Kalau ditegakkan, maka yang dilindungi bukan hanya tiang payung saja, tapi di sekelilingnya juga terlindungi.
Para Walisongo saat menyebarkan Islam di Indonesia meniru teladan Rasulullah SAW. Saat menyebarkan Islam, tidak ada candi ataupun gereja yang dirobohkan. Tetap dibiarkan. Karena candi misalnya, tempat itu dijadikan tempat ibadah ya bagi mereka yang beragama Hindu saja. Bagi ummat yang lain bisa jadi tempat rekreasi. Dalam Piagam Madinah tidak ada perintah tentang pembentukan Negara. Apa itu Negara kerajaan, Negara agama, Negara republik dan sebagainya. Nah, terbukti, di kemudian hari bentuk Negara itu bermacam-macam. Nah yang penting ajaran yang dibawa Rasulullah SAW diterapkan dalam Negara itu apapun bentuk negaranya. Setelah kewafatan Rasulullah SAW, kepemimpinan ummat Islam dilanjutkan oleh para khalifah. Kekhalifahan itu hanya berumur 30 tahun. Selanjutnya, Negara berbentuk dinasti kerajaan. Bentuk Negara itu sifatnya ijtihadi, bukan wahyu. Ijtihadi itu sesuai hasil pemikiran pada saat tertentu. Pada tahun 1945, saat Indonesia mengumandangkan kemerdekaan, para pendiri Negara mencari bentuk Negara. Karena agama di Indonesia itu bermacam-macam dan semangatnya mendirikan Negara Republik Indonesia, dengan konsep Negara bangsa, untuk mencari titik temunya yang berupa kesepakatan maka berdirilah Indonesia dengan dasar Negara Pancasila, yang masuk Negara makna atau ajaran Islam. Tidak harus dengan stempel Islam. Kalau dipaksakan dengan stempelnya maka yang punya stempel lain tidak mau masuk. Nah, kita kan butuh stempel, untuk mengetahui mana yang halal dan yang haram dan sebagainya. Nah, stempelnya ada di organisasi. Ada Majelis Ulama Indonesia, Nahdhatul Ulama, ada Muhammadiyah dan sebagainya. Jadi bukan stempel Negara.

(Dimuat di buletin Media Ummat)

Denisova Admixture and the First Modern Human Dispersals into Southeast Asia and Oceania: The American Journal of Human Genetics

That’s why Papuanese and Javanese is looks different.

Denisova Admixture and the First Modern Human Dispersals into Southeast Asia and Oceania: The American Journal of Human Genetics.

Minta Maaf VS Memberi Maaf

Trending topic saat menjelang Ramadhan dan awal Syawal adalah bermaaf-maafan. Sebagian besar judulnya “mohon maaf” yang lazimnya diikuti “lahir dan batin”. Artinya minta maafnya tidak hanya di lisan saja, tapi juga di hati. Jasmani dan ruhani. Ikhlas dan total.

Iseng, saya ingin tahu dan bertanya pada teman-teman di facebook, mana yang lebih sulit, minta maaf atau memberi maaf. Kebanyakan teman saya menjawab minta maaf lebih sulit karena gengsi apalagi kalau tidak merasa bersalah. Beberapa menyebutkan, tergantung derajat kesalahannya. Memang kebanyakan dari kita lebih cepat menyadari saat disakiti dibandingkan saat menyakiti. Bikin salah itu mudah, minta maafnya yang susah. Tapi bagaimana dengan pihak yang disakiti? Rupanya kebanyakan teman saya adalah orang yang lapang dada, mudah memaafkan walau disakiti. Walaupun menurut logika saya, minta maaflah yang lebih mudah. Jangan-jangan pendapat lebih sulit minta maaf adalah kamuflase dari rasa sakit yang masih tersisa dan ‘tuntutan’ bahwa pihak seberang-lah yang mestinya minta maaf.  Sikap siapakah yang sedang kita bicarakan ini, orang lain atau diri kita?

Nanti aku maafkan kalau kamu sudah minta maaf.  Begitukah?  Padahal belum tentu yang nyalah-nyalahi merasa bersalah.  Karena pasti lebih banyak kesalahan yang tidak disengaja daripada yang disengaja.  Kecuali kalau ada orang yang berbahagia diatas penderitaan orang lain.  Jadi, kalau begitu kapan legowo-nya dong?  Nanti malah jadi sakit hati dendam kesumat tak berkesudahan.

Allah sendiri di dalam Al-quran lebih banyak menganjurkan kita untuk memaafkan tanpa diminta, termasuk dalam hal hukum qishash. Selain itu, memberi maaf juga termasuk dalam salah satu sifat Allah, Al Afuww, العفو, Yang Maha Pemaaf.  Ada juga cerita tentang seorang baduy yang disebutkan melakukan amalan ahli surga oleh Rasulullah SAW.  Amalannya adalah, sebelum tidur orang baduy itu memaafkan semua orang yang melakukan kesalahan kepadanya pada hari itu.

forgive

Sekarang redaksinya saya ganti,

Saya maafkan semua sedih, sakit, dan kecewa yang pernah dialamatkan kepada saya.  Saya maafkan lahir dan batin.  Jasmani dan ruhani.  Ikhlas dan total.  Semoga Anda juga memaafkan saya dengan cara yang sama.

Artinya, kita sudah saling memaafkan.  Indah bukan? karena kalau saling minta maaf, belum tentu dimaafkan 😉

Tentang I’tikaf

Apakah harus I’tikaf di hari-hari terakhir Ramadhan?”

Tidak.  Tidak harus.  Sebagaimana halnya dengan amalan yang lain, ini tergantung keyakinan kita.  Walaupun sama-sama Islam, keyakinan akan janji Allah bisa tidak sama.  Tanpa rasa percaya, tidak mungkin kaki kita tergerak untuk mengerjakan sesuatu.  Termasuk percaya dan yakin pada bonus-bonus yang dilabelkan pada semua amalan Ramadhan.

Ada beberapa amalan istimewa yang tidak didapat pada bulan-bulan lain selain Ramadhan, diantaranya adalah I’tikaf.

I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu.  Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Sebetulnya, dari semua rangkaian kegiatan I’tikaf, tahapan percaya dan yakin itulah yang paling sulit dilakukan, terutama bagi orang-orang yang mengedepankan logika.  Akan dicari-cari alasan ‘kenapa’ karena tidak ingin terjebak pada taqlid buta.  Atau, lakukan saja karena Rasulullah menjalankannya?  Tapi sesungguhnya, hanya sedikit hal yang bisa dijelaskan melalui logika manusia.  Ilmu manusia sangatlah terbatas.  Apalagi yang tidak mengkhususkan diri mempelajari ilmu agama.  Inilah pilihan, menunggu sampai paham atau lakukan saja dulu.  Tentu saja suatu amalan harus dilakukan dengan ilmu, setidaknya syariatnya terpenuhi.  Banyak sumber-sumber terpercaya yang mengajarkan tatacara dan rukun i’tikaf.

Sementara itu, apa yang bisa kita dapatkan dengan I’tikaf:

  1. Berdiam di masjid memudahkan kita untuk untuk memerangi hawa nafsu, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.
  2. Meramaikan masjid, tentu saja dalam konteks ibadah. Hal ini sangat berhubungan dengan syiar Islam. Tidak ada alasan tidak bisa meninggalkan anak di rumah untuk menjalankan I’tikaf selama kita bisa mengontrol tingkah polah mereka. Bahkan takmir di beberapa masjid menyediakan sajian ifthor dan makan sahur untuk memudahkan peserta I’tikaf.
Meramaikan masjid dengan aktifitas ibadah.
Meramaikan masjid dengan aktifitas ibadah.

Bagaimana dengan Lailatul Qadr? Semua amal beramal dari niat. Kalau dikatakan tujuan I’tikaf untuk mendapat Lailatul Qadr, insyaAllah itulah yang akan didapat. Dan bukankah kita tidak akan mengejar sesuatu yang tidak kita yakini kebenarannya? Tidak usah susah-susah memperbincangkan bagaimana alam menerjemahkan datangnya malam istimewa itu.  Karena Lailatul Qadr hadirnya di hati.

Mumpung Masih Syawal

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun.” (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud). Dan masih hadits yang sama dengan perawi lain. (HR. Ibn Majah).

Dalam hadits tersebut diterangkan, bahwa pahala orang yang berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan Syawal sama pahala dengan puasa setahun. Karena apabila seorang muslim melakukan satu kebaikan maka baginya pahala kebaikan yang nilainya sama dengan sepuluh kali lipat amalnya (QS. Al-An’am:160).  Jika satu kebaikan dihitung sepuluh pahala, berarti puasa Ramadhan selama satu bulan dihitung sepuluh bulan.  Dan puasa enam hari di bulan Syawal dihitung dua bulan.  Jadi total jumlahnya adalah satu tahun.

shawwal2
Begitulah perhitungannya.

Sekarang terlepas dari hitung-menghitung pahala, kenapa ya –- berdasarkan pengalaman pribadi, bukan epribadi — melanjutkan puasa Ramadhan dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal pahalanya sama dengan puasa setahun?

Karena memang beraaat, apalagi kalau di Indonesia…

Tantangannya adalah:

  1. Undangan HBH yang beruntun. Tentunya dengan hidangan istimewa bulan Syawal yang bikin ngiler ituh (lontong tjap go meh, cateeet).
  2. Oleh-oleh camilan khas dari berbagai pelosok daerah yang bisa dicicipi setahun sekali gara-gara tradisi mudik.
  3. No.1 dan 2 semua GRATIS!
  4. Selain itu, sehubungan dengan tradisi mudik, hampir pasti muncul godaan untuk berwisata kuliner di tempat tujuan mudik maupun di sepanjang jalur mudik.
  5. Dan adalagi, banyak undangan walimatul ursy di bulan Syawal (entah kenapa).

Ada tambahan?