Tanggal 1

Bagi kebanyakan pegawai negeri sipil (PNS) seperti saya, apa yang terpikir tentang tanggal 1? Iya, tidak salah. Tanggal 1 identik dengan gajian. Saatnya terima uang, sama halnya dengan ingat waktunya bayar utang, hehe… *untung inget*

Tapi saya yakin tidak banyak yang tahu bahwa gaji PNS termasuk TNI dan Polri itu sebetulnya diberikan sebelum bekerja, bukan sebagai penghargaan atas apa yang sudah dikerjakannya. Seperti saya menerima gaji pertama di awal masa kepegawaian, kalau saya pensiun bulan Juni ini uang yang diterima pada bulan Juli bukan gaji lagi, melainkan uang pensiun.

Nominal gaji pun berdasarkan pangkat ruang/golongan, bukan mengacu pada beban kerjanya. Sebagai ilustrasi, gaji dosen golongan 3/B sama dengan gaji guru SD yang bergolongan sama. Tahu sendiri kan betapa berbedanya tingkat kesulitan kerja mereka *curcolnya bisa panjang nih* 😦

Tapi tulisan ini bukan untuk mempersoalkan nominal. Karena yang menarik, gaji bagi PNS adalah uang ‘modal’ hidup sebulan selama mereka mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh negara. Kalau demikian, lantas apa yang diterima PNS sebagai upah kerjanya? Kalau melihat kronologi pemberian gaji ya tidak ada (?). Mana ada belum kerja sudah dikasih uang 😀

Sehingga tidak heran bila KBBI mengartikan ‘abdi negara’ sebagai ‘pegawai yang bekerja pada pemerintah; pegawai negeri’ karena pekerjaannya yang bernilai pengabdian. Abdi itu sendiri adalah ‘orang bawahan; pelayan; hamba’. Sedangkan pengertian pengabdian yang saya dapatkan adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Secara singkat yaitu tanggung jawab yang dilakukan dengan ikhlas. Kata kuncinya ‘ikhlas’.

Jadi ya, jerih payahnya biar Pangeran sing mbales 😉

Advertisements

Terhanyut Romantisme Candi Jawa

Berfilosofi Dengan Candi

Istilah candi digunakan untuk merujuk kepada berbagai bangunan sebelum masuknya ajaran Islam (era Hindu-Budha). Istilah ini dipakai untuk bangunan, gerbang, bahkan petirtaan atau pemandian walaupun manisfestasi utamanya tetap adalah bangunan suci keagamaan (Soekmono R, 1996. Candi: Symbol of the universe). Dari segi bahasa asalnya, candi itu sendiri diduga berasal dari kata ‘Candika’ yang merupakan salah satu perwujudan Dewi Durga (Dewi Kematian) sehingga bangunan candi sering dihubungkan dengan pendharmaan untuk memuliakan raja yang sudah meninggal.

Walaupun pernah bercita-cita menjadi arkeolog yang kerjanya menggali sana-sini (note: bukan menggali informasi alias kepo), tapi baru kali ini saya sempat belajar tentang candi dan kisah yang mengiringinya.

Mempelajari candi seperti terbawa kumparan waktu menuju ratusan bahkan ribuan tahun yang telah lalu. Memandang candi, seakan-akan kita menjadi bagian dari orang-orang pada masa itu. Ikut lalu lalang beraktifitas bersama mereka, atau sekedar memandang puncak gunung dari selasar candi. Gunung dan candi yang hadir pada saat itu. Begitu juga saat  malam datang, konstelasi bintang-bintang di langit masih sama dengan ribuan tahun lalu. Saya melihat sesuatu yang mereka lihat.

Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.
Puncak Arjuno di sisi utara Candi Badut.

Dari bentuknya itu sendiri, candi mewakili replica tempat tinggal para dewa yang sebenarnya yaitu Gunung Meru atau ‘sumeru’ dalam bahasa sansakerta yang artinya Meru Agung sebagai pusat alam semesta. Salah satu representasi Meru adalah pegunungan Himalaya tempat ajaran Hindu-Budha berasal. Tapi ‘meru’ sendiri disebutkan setinggi 84.000 yojana (1.082 juta km) yang dikelilingi oleh matahari dan planet-planet dalam sistem tatasurya. Terlepas dari aspek mitos pada ajaran tersebut dan tanpa bermaksud menyamakan, saya jadi teringat pada ‘Kursiyun’, ‘Singgasana Allah’, dan bagaimana setiap ajaran spiritual memandang langit sebagai ‘tempat’ bersemayamnya Yang Maha Pencipta. Walaupun bukan ajaran samawi yang menyampaikan kitab-kitab dari langit, tapi semangat spiritualnya kurang lebih sama. Menurut saya, bukan tidak mungkin diantara orang-orang terdahulu di kalangan Hindu-Budha ada nabi-nabi atau messiah yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Quran.

Candi dan Antropologi

Terkait dengan tempat tinggal saya di Malang, saya jadi tertarik dengan pemilihan lokasi tempat candi dibangun. Candi-candi dibangun dengan memperhitungkan letak bintang (astronomi) terutama dalam menentukan arah hadapnya. Selain itu, lokasinya dekat dengan air terutama pertemuan dua sungai. Kalau saya perhatikan peta Kota Malang, Candi Badut dan Candi Karangbesuki dibangun di dekat pertemuan dua sungai yang berhulu di Gunung Panderman wilayah Batu. Selain dekat air, tempat ideal untuk mendirikan candi adalah di puncak bukit, lereng gunung, lembah, atau hutan. Candi Jago dan Candi Kidal adalah contoh candi yang didirikan di lereng gunung. Ini berdasarkan referensi candi yang pernah saya kunjungi lho ya, tentu masih banyak lagi contoh candi lain. Di Malang Raya saja terdapat 11 candi. Secara geografis, Malang Raya sendiri dikelilingi gunung Semeru, Bromo, Kawi, Panderman, Kelud, Anjasmoro, dan Arjuno. Dan yang pasti, daerah-daerah tersebut adalah daerah subur. Karena, apabila merujuk pada pola migrasi, manusia akan mencari daerah yang subur untuk penghidupannya. Dulu saya sempat bertanya-tanya, siapa yang pertama kali membuka lahan di daerah yang bergunung-gunung seperti di Batu atau Tengger. Secara tempatnya kan susah dicapai, mendakinya juga capek, kok mereka pilih tempat itu sih? Hal tersebut tentu tidak lepas dari pola migrasi ini. Walaupun masuknya pendatang baru diduga kebanyakan melalui pantai tapi ada juga perpindahan melalui jalur darat terutama setelah terbentuknya kepulauan. Sehingga dapat terjadi masyarakat baru dan terjadi asimilasi budaya di tempat tersebut. Seperti halnya penduduk asli Tengger dengan agama Hindu yang kental, tentu diawali dari penduduk asli dari Cina Selatan yang berasimilasi dengan pendatang dari India yang membawa ajaran Hindu. Bahwa kemudian ada proses isolasi yang dapat dikarenakan bencana alam maha hebat seperti gempa dan letusan gunung berapi menjadikan populasi yang terbentuk semacam kehilangan mata rantai. Perlu diketahui bahwa ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, kekuatan bencana alam diketahui lebih dahsyat daripada jaman sekarang.

Saya yakin pasti, bil ilmi kauliyah wa kauniyah, bahwa populasi berbentuk bukan dari proses evolusi. Bahwa bakteri yang ada di Papua akan menjadi monyet lalu berevolusi sebagai orang Papua. Atau jasad renik lain di Pegunungan Himalaya akan menjadi orang Nepal. Melainkan proses migrasi manusia selama ribuan tahun yang semuanya berawal dari tanah tempat pertemuan Adam dan Hawa. Bagi yang masih ngotot percaya evolusi, saya tidak akan memaksakan ide saya karena itu sama saja dengan menasehati pendukung salah satu capres atau menasehati orang yang sedang jatuh cinta (yah, jatuh cinta pada capres itu tentunya, hehe). 😉

How To Spot Clouds

By: James Chubb
If you’re outside and look up at the sky, you’ll more than likely see clouds. Some are big white puffy ones like cotton wool hanging in the sky. Others are dark and gloomy, bringing drizzle, rain or even snow, the kind of weather you don’t want to be stuck outside in.
And, did you realise all those different clouds have all got different names? But, How do they form and how can you tell them apart?
All clouds start in the same way. How high they are in the sky and the conditions up there determine what they will look like. It all starts when heat energy causes water molecules from rivers, ponds, lakes or oceans, to evaporate into the air. This moist air rises and expands as it gets higher into the atmosphere where the pressure is lower than down here on the ground. As the air rises it cools, changing into very small water droplets that form into clouds. But, the conditions have to be spot on. The temperature needs to be right and the water has to hold on to something, such as particles of dust, salt or smoke. If neither of these elements are right, then the cloud won’t form. When the water droplets grow large enough they then fall as rain which goes back into the oceans, lakes, rivers and ponds and the whole thing starts again!
So that’s how clouds form. But how can you tell one cloud from another? Although clouds form in the same way, there are a number of factors that will determine what they will look like and what type of weather they will bring. There are three basic types of cloud, Stratus, Cumulus and Cirrus.
Stratus clouds are somewhat featureless – fog, for example is Stratus on the ground. They are often found around coasts and mountains and are one of lowest forming clouds. They usually bring drizzle, mist and dampness so they are a pretty miserable cloud!
Cumulus is the commonest cloud. These are the puffy white clouds that you see forming on a sunny day with flat bases and tops that look like cauliflowers. They usually form over land on sunny days and are known as fair weather clouds. But watch out, some Cumulus clouds can develop into threatening thunderclouds with sudden downpours, hail and thunderstorms. If you see these guys before midday then get prepared for some rain! A great way to remember this is “In the morning mountains, in the afternoon fountains!”
The final type of cloud to look for is the Cirrus. Cirrus clouds are one of the highest clouds in our atmosphere. The word Cirrus is Latin for a ‘lock of hair’ and they usually cover the sky in wispy streaks. But why do they look this way? Why aren’t they puffy like other clouds?
High in the atmosphere it’s so cold that clouds are made of ice crystals rather then water droplets. As the ice crystals fall they are whipped up by very strong winds and fall in streaks. Because they are so high up it looks like they aren’t moving but of all the clouds, they move the fastest. Cirrus clouds are also very useful for telling us that there will be a change in the weather and the possibility of storms so its always a good idea to keep a look out for them and see how they change.
When you look up at the sky you might not see just one type of cloud, but many different types of clouds all at the same time! Stratus, Cumulus and Cirrus are the three main types of clouds you can find but there are many other different types you can look out for. Next time you’re outside, look up at the sky and see what you can find.
Have a great cloudy day 😉
cloud-spotting-guide

Cellular Traffic

I’d like to show you how busy your cell all the time although during your nap time.

Like tractor-trailers on a highway, small sacs called vesicles transport substances within cells. This image tracks the motion of vesicles in a living cell. The short red and yellow marks offer information on vesicle movement. The lines spanning the image show overall traffic trends. Typically, the sacs flow from the lower right (blue) to the upper left (red) corner of the picture. Such maps help researchers follow different kinds of cellular processes as they unfold. Courtesy of postdoctoral fellow Alexey Sharonov and chemist Robin Hochstrasser, both at the University of Pennsylvania, who also collaborate in a cellular imaging project supported by the NIH Roadmap for Medical Research. Featured in the February 21, 2006, issue of Biomedical Beat.
Like tractor-trailers on a highway, small sacs called vesicles transport substances within cells. This image tracks the motion of vesicles in a living cell. The short red and yellow marks offer information on vesicle movement. The lines spanning the image show overall traffic trends. Typically, the sacs flow from the lower right (blue) to the upper left (red) corner of the picture. Such maps help researchers follow different kinds of cellular processes as they unfold. Courtesy of postdoctoral fellow Alexey Sharonov and chemist Robin Hochstrasser, both at the University of Pennsylvania, who also collaborate in a cellular imaging project supported by the NIH Roadmap for Medical Research.
Featured in the February 21, 2006, issue of Biomedical Beat.

And, here is the words I like the most

… It may look like I’m doing nothing, but on a cellular level I’m very busy. [AsapSCIENCE]

-_-

 

Sulitnya ‘Bercermin’

Menarik sekali membaca curcol tulisan teman saya tentang Introspeksi Diri.  Entah darimana inspirasinya, tetapi betul sekali bahwa hal paling sulit dari introspeksi diri adalah mengakui kelemahan diri. Karena lebih mudah pasang cermin ke muka orang daripada ke muka sendiri. Ini salah satu ciri dari orang yang tidak percaya diri. Karena orang yang tidak percaya diri akan lebih memilih ngacain orang lain daripada ngacain diri sendiri. Mungkin karena pernah kecewa gara-gara cermin pecah setelah dipakai. Dan seharusnya, orang yang sibuk ‘narsis’ tidak akan sempat meminjamkan cerminnya buat orang lain.

Hal penting lain disini adalah, tidak ada cermin yang paling sesuai untuk diri kita selain dari cermin yang kita miliki. Itulah mengapa, introspeksi diri atau bahasa kerennya muhasabah, hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersangkutan.  Lalu, cermin itu apa? Cermin adalah ilmu dan pengalaman hidup masing-masing orang. Bahkan tidak ada orang yang berhak menghakimi orang lain kecuali hakim di meja pengadilan. Hakim kan sudah disumpah dan mengikuti proses pra-peradilan serta memutuskan perkara dengan bukti-bukti yang valid sesuai hukum yang berlaku. Bahkan hakim pun harus siap disumpahin oleh orang-orang yang tidak puas dengan putusannya. Kenapa? Kalau mau objektif, karena tidak semua orang menguasai ilmu tentang hukum tersebut. Sedangkan dari sisi subjektif, pengalaman masing-masing hakim bisa berbeda sehingga putusannya juga bisa beda. Makanya ada kesempatan untuk naik banding dan seterusnya.

Tidak berkorelasi ya? Ah, biarin, hehehe…

Point-nya adalah, kita masing-masing punya cermin yang bisa dipakai — kalau mau –. Cermin yang kita pakai belum tentu cocok untuk orang lain. Karena introspeksi diri adalah mengevaluasi proses. Padahal proses yang kita jalani pasti berbeda dengan orang lain. Jangan sampai kita menjadi orang yang bersikap “Buruk rupa cermin dibelah” lalu serpihan cerminnya disebarkan di jalan mengganggu orang lewat. Alih-alih kena orang, kalau kita lupa bisa-bisa kaki kita sendiri yang menginjaknya.  Dan yang terakhir, tidak perlu merasa paling benar dan paling pandai dengan ‘mengkritisi’ orang lain.  Ilmu manusia sangatlah terbatas.  Daripada merasa tahu, lebih baik kita merasa tidak tahu.  Dengan begitu kita akan belajar lebih banyak terutama untuk diri kita sendiri, sehingga bisa memberi lebih banyak juga untuk orang di sekitar kita.

Begini loh caranya bercermin ;)
Begini loh caranya bercermin 😉

(pic was copied from http://www.haven.ca/shenblog/wp-content/uploads/2014/09/Mirroring-300×225.jpg)

Manusia Yang Merasa Suci

Belakangan ini saya menjumpai begitu banyak orang yang dengan mudah menghujat kesana kemari hingga menyebarkan fitnah atas nama berbagai macam kepentingan. Paling heboh munculnya para haters pada jaman kampanye pilpres sampai dengan — yang baru saja saya baca — netizen yang mencibir Laudya Cynthya Bella. Mereka ini, alih-alih ikut memajukan bangsa dan orang lain, sifat destruktiflah yang dipelihara.
Apakah mereka itu tidak tahu? Atau terlalu frustasi dengan dirinya sendiri?

Hingga saya menemukan artikel yg ditulis untuk REPUBLIKA.CO.ID oleh Dedi Efendi.

MANUSIA SOK SUCI

“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS an-Najm [53]: 32).
Janganlah kalian menganggap diri kalian suci dan bersih kerena hakikat diri kalian berada dalam ilmu Allah SWT. Janganlah kalian memuji-muji keunggulan kalian sebab mata manusia tidaklah buta.

Sungguh, tidak ada manusia yang lebih bodoh dibandingkan dengan manusia yang menganggap dirinya bersih dan suci. Tidak ada manusia yang lebih pandai dibandingkan dengan manusia yang menceritakan kebaikan dan kemuliaan dirinya.

Dan, tidak ada manusia yang lebih dungu dibandingkan dengan manusia yang menganggap dirinya tidak pernah salah. Kira-kira demikianlah penjabaran dari pesan Allah SWT pada ayat di atas.

Jika direnungkan, apa yang dimiliki oleh manusia hingga ia layak merasa bangga? Bukankah manusia selalu berada dalam curahan nikmat Allah SWT yang tidak akan mampu ia syukuri?
Bukankah ia memiliki dosa-dosa yang belum tentu diampuni? Bukankah ia memiliki rahasia yang memalukan yang belum terbongkar? Bukankah ia masih memiliki dosa-dosa yang masih ditutupi oleh Allah SWT?

Orang-orang yang bersikap demikian (mengaku diri sok bersih dan suci) tidak sadar dengan hakikat dirinya. Bukankah Allah SWT telah menerima dengan baik amal ibadahnya yang hanya sedikit, kemudian mengampuni dosanya yang sangat besar?

Bukankah yang telah memberikan taufik kepadanya hingga ia mampu berpaling dari jalan yang salah adalah Allah SWT? Bukankah Allah telah menutupi kesalahan dan mengampuni dosanya?

Dengan demikian, layakkah manusia memamerkan serta mengaku-ngaku bersih dan suci di hadapan Allah SWT? Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Sungguh tidak layak jika seseorang yang mengaku sebagai manusia yang bersih dan suci.

Pola pikir yang salah dan keinginan yang buruk telah mengilhami iblis untuk berkata kepada Allah SWT, “Aku lebih baik daripadanya karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS Shaad [38]: 76).

Sifat sombong telah menyebabkan iblis menjadi makhluk terkutuk sepanjang masa. Bila manusia merasa diri sok suci dan paling bersih maka apa bedanya dia dengan perilaku iblis? Jangan sampai dia ikut terkutuk karenanya.

Sifat Firaun yang merasa dirinya kuat dan mulia telah mendorongnya untuk berkata, “Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku?” (QS az-Zukhruuf [43] : 51).

Allah SWT lalu menghinakan Firaun. Qarun juga merasa dirinya bersih, kuat, dan mulia sehingga dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (QS al Qashash [28] : 78).

Dengan demikian, tidakkah manusia berusaha mengekang diri dan berhenti dari sikap demikian, kemudian menyerahkan penilaian tersebut kepada Allah SWT? Mengapa manusia masih saja menggunakan lisannya untuk menggambarkan dirinya kepada orang lain?
Padahal, sikap dan perilaku sudah cukup memberikan gambaran tentang dirinya yang sebenarnya. Karena manusia dipandang bukan dari bualan tentang kebaikan dirinya, tetapi dari sikap, perilaku akhlak,dan amalannya.

(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/11/20/mwjmhq-manusia-sok-suci)

Mengapa Kita Menangis?

Untuk beberapa alasan, mata kita mengeluarkan air mata.  Secara normal/fisiologis, mata kita pun selalu basah oleh air mata (basal tears).  Air mata bombay gara-gara iritasi ngupas bawang juga termasuk jenis ini.  Kekurangan atau ketiadaan air mata jenis ini malah bikin mata pedih karena kering.  Hal tersebut umum terjadi dengan bertambahnya usia, melihat komputer terlalu lama, atau berada di ruang dengan kelembaban udara rendah (pesawat udara, ruangan ber-AC).  Kalau sangat mengganggu ya perlu obat tetes mata hingga operasi kecil untuk mendapatkan pengganti air mata alami.  Kondisi patologisnya disebut keratoconjunctivitis sicca.

Air mata diproduksi oleh kelenjar air mata.  Kerja kelenjar air mata dipengaruhi oleh fungsi luhur otak yang melibatkan peranan hipotalamus dan ganglia basalis (fungsi limbik, emosi).  Sehingga, emosi yang berlebihan dapat memicu keluarnya air mata alias menangis.  Kalau sangat berlebihan ya bisa jadi mata air *nangis sampai muncrat-muncrat ala film kartun*.  Berdasarkan pemicunya, air mata jenis ini dibagi menjadi dua yaitu air mata sedih dan air mata bahagia.  Air mata sedih dipercaya sebagai refleks tubuh kita untuk mengusir stres yang mendera.  Bagaimana rasanya setelah tangis sedih kita berakhir? Agak lega kan? Walaupun tidak akan mengembalikan sesuatu yang hilang *curcol dikit*.  Dan, kalau sesuatu yang hilang ini datang, maka datang pulalah air mata bahagia.  Air mata yang dipicu emosi mengandung hormon adenokortikotropik (ACTH) yang meningkat saat stres.  Rilisnya hormon ini melalui air mata diduga berperan sebagai ventilator emosi sedih maupun bahagia.  Tapi hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Jadi, kalau mau nangis ya nangis aja, daripada menimbun sesak di dada *eaa*.  Seperti kata narator youtube berikut:

“Have a good cry, let the world know how you feel and potentially let out that stress.”