Sulitnya ‘Bercermin’

Menarik sekali membaca curcol tulisan teman saya tentang Introspeksi Diri.  Entah darimana inspirasinya, tetapi betul sekali bahwa hal paling sulit dari introspeksi diri adalah mengakui kelemahan diri. Karena lebih mudah pasang cermin ke muka orang daripada ke muka sendiri. Ini salah satu ciri dari orang yang tidak percaya diri. Karena orang yang tidak percaya diri akan lebih memilih ngacain orang lain daripada ngacain diri sendiri. Mungkin karena pernah kecewa gara-gara cermin pecah setelah dipakai. Dan seharusnya, orang yang sibuk ‘narsis’ tidak akan sempat meminjamkan cerminnya buat orang lain.

Hal penting lain disini adalah, tidak ada cermin yang paling sesuai untuk diri kita selain dari cermin yang kita miliki. Itulah mengapa, introspeksi diri atau bahasa kerennya muhasabah, hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersangkutan.  Lalu, cermin itu apa? Cermin adalah ilmu dan pengalaman hidup masing-masing orang. Bahkan tidak ada orang yang berhak menghakimi orang lain kecuali hakim di meja pengadilan. Hakim kan sudah disumpah dan mengikuti proses pra-peradilan serta memutuskan perkara dengan bukti-bukti yang valid sesuai hukum yang berlaku. Bahkan hakim pun harus siap disumpahin oleh orang-orang yang tidak puas dengan putusannya. Kenapa? Kalau mau objektif, karena tidak semua orang menguasai ilmu tentang hukum tersebut. Sedangkan dari sisi subjektif, pengalaman masing-masing hakim bisa berbeda sehingga putusannya juga bisa beda. Makanya ada kesempatan untuk naik banding dan seterusnya.

Tidak berkorelasi ya? Ah, biarin, hehehe…

Point-nya adalah, kita masing-masing punya cermin yang bisa dipakai — kalau mau –. Cermin yang kita pakai belum tentu cocok untuk orang lain. Karena introspeksi diri adalah mengevaluasi proses. Padahal proses yang kita jalani pasti berbeda dengan orang lain. Jangan sampai kita menjadi orang yang bersikap “Buruk rupa cermin dibelah” lalu serpihan cerminnya disebarkan di jalan mengganggu orang lewat. Alih-alih kena orang, kalau kita lupa bisa-bisa kaki kita sendiri yang menginjaknya.  Dan yang terakhir, tidak perlu merasa paling benar dan paling pandai dengan ‘mengkritisi’ orang lain.  Ilmu manusia sangatlah terbatas.  Daripada merasa tahu, lebih baik kita merasa tidak tahu.  Dengan begitu kita akan belajar lebih banyak terutama untuk diri kita sendiri, sehingga bisa memberi lebih banyak juga untuk orang di sekitar kita.

Begini loh caranya bercermin ;)
Begini loh caranya bercermin 😉

(pic was copied from http://www.haven.ca/shenblog/wp-content/uploads/2014/09/Mirroring-300×225.jpg)

Advertisements

4 thoughts on “Sulitnya ‘Bercermin’

  1. Ah dikau kan nulis kudunya seperti ini “Sulitnya Bercermin” : 1. di kaca spion mobil yg lagi jalan 2. di cermin di rumah mantan (mau disemprot lakinya/bininya?) 3. di air keruh (gk keliatan apa2) 4. di cermin hati (gak ada bayangannya) 5. di cermin demokrasi (apasih…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s