Melogikakan Cinta

Lama juga saya absen menulis topik tentang cinta lantaran sibuk dengan urusan ilmiah. Apa cinta tidak ilmiah? Owh, tentu saja setiap laku kita – termasuk cinta — selalu mempunyai dasar ilmiah, itu sudah sunnatullah.  Jadi, boleh dong melanjutkan pembahasan ini 😉

Topik cinta ini kelihatannya diminati banyak orang. Karena cinta itu penuh rahasia, bikin penasaran, dan seringkali mengundang tanda tanya. Apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan kata tanya lain. Lalu saat si penanya tidak mendapat jawaban, cinta dituduh sebagai makhluk absurd yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Seperti quote berikut yang saya dapat dari seorang teman:

“Kita tidak pernah tahu kapan cinta datang menghampiri kita. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Dan kita tidak pernah tahu alasan apa Tuhan memberikan cinta. Tidak ada yang salah.”

Quote ini menarik. Karena menurut saya ‘kita tahu’. Menjadi jatuh cinta selalu diawali proses yang sangat logis dan disadari. Tiap proses tersebut mempunyai tahap dan selalu tersedia check-point di setiap tahapnya. Tapi, pertama-tama kita harus bedakan antara proses jatuh cinta dan jatuh cinta itu sendiri. Karena, cinta itu tabir, yang membuat hal-hal logis menjadi tidak logis. Jadi, kalau tidak mau jatuh cinta, perhatikan baik-baik warning-sign dan lakukan pemeriksaan ketat di setiap check-point yang tersedia.

Kenapa?

Karena makin lama warning-sign itu akan makin kabur disebabkan oleh kesadaran yang makin turun. Itu yang diibaratkan sebagai ‘pusaran cinta yang menghanyutkan dan menenggelamkan’ oleh para pujangga *alamakjaaan. Nah, sebelum “help,help,” waspadalah dengan tiap prosesnya.

Prosesnya adalah seperti berikut:

1. Pertemuan.

Pertemuan itu tidak terbatas di dunia nyata saja, tapi juga di dunia lain, eh, dunia maya (misal: chat-room). Pertemuan bisa terjadi secara sengaja, tidak disengaja, maupun cuma iseng. Sedang kurang kerjaan lalu iseng mencari jejak teman yang dulu pernah naksir. Nah, iseng banget kan? Bagaimanapun, pertemuan ini mutlak ada, pun dengan mereka yang ngaku-ngaku cinta pada pandangan pertama. Proses ini hampir tidak bisa dielakkan kecuali oleh ‘perempuan dalam pasungan yang dipingit di tengah hutan seorang diri tanpa ponsel atau alat komunikasi lain’. Eh, potensial jatuh cinta sama beruk atau macan ini ya? Tapi ndak lah, buktinya Tarzan aja nunggu Jane muncul. Hehehe..

Antagonis: Jangan bertemu (online maupun offline).

2. Cocok.

Kita pasti tahu orang seperti apa yang ‘berpotensi’ kita jatuhi cinta atau minimal kita sukai. Maksud potensi disini kalau kita suka dengan orang yang wangi bukan berarti semua orang yang wangi akan kita cintai, masih ada tahap seleksi berikutnya. Sebetulnya disini sudah ada check-point, orang yang tidak wangi atau bau terasi akan tereliminasi *ieewh. Kecocokan bisa dicapai melalui komunikasi. Misalnya sama-sama menganggap Pulau Lombok sebagai tempat tujuan wisata terbaik, kemudian saling bertukar informasi tentang spot-spot menarik yang ada disana, lalu membayangkan bisa pergi kesana berdua. Hohoho.. Kecocokan akan menyeret kita ke dalam comfort-zone. Suatu tempat yang aman dan damai, dimana nyaris tidak ada defense-mechanism maupun pertengkaran saat kita cocok dengan seseorang.

Antagonis: Jangan berkomunikasi apalagi kalau hanya berdua, termasuk diantaranya dengan bahasa isyarat apalagi bahasa tubuh, hehe..

3. Tertarik atau suka.

Tertarik itu identik dengan mendekat. Sama saja kalau kita suka ngemil coklat, rasanya selalu ada magnet yang membuat kita ingin mendekati rak coklat saat di sebuah toko. Begitulah, topik-topik percakapan menjadi berkembang lebih akrab dan intim. Comfort-zone bergeser menjadi happy-zone, zona bahagia. Dan kita semua sudah mahfum bahwa tidak seorang pun ingin kehilangan kenyamanan dan kebahagiaannya. Maka, unsur subyektifitas pada proses ini menjadi sangat kental. Perasaan mulai terlibat.

Antagonis: Buat jarak, baik dalam dimensi ruang maupun waktu.

Karena kalau tidak begitu, akhirnya akan terjadi jatuh cinta *eaaaa… >>> sambil nari-nari keliling pohon ala Shah Rukhan dan Aisywara Ray* (maaf, taunya cuma dua orang itu) 😀

Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat pada garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.
Proses menuju cinta itu menyediakan check-point pada setiap koordinat garisnya yang memerlukan logika sebagai eksekutor.

Cinta itu sebetulnya seperti selimut yang membungkus semua proses tersebut hingga logikanya tidak kelihatan lagi. Menjadi tabir yang kadang-kadang membuat orang lupa apa yang membuatnya jatuh cinta pada pasangannya. Lalu mengatakan bahwa cinta itu datang begitu saja, tidak perlu alasan. Lupa pada proses yang sudah dilaluinya.

Ada juga istilah lain dalam cinta. Namanya syarat. Cinta itu sebetulnya bukan tanpa syarat. Tapi syarat dan ketentuan selalu berlaku dalam prosesnya. Hanya saja, dilakukan tanpa terasa. Seperti tentang meluangkan waktu. Kalau sudah cocok, waktu yang kamu berikan pada si dia sebetulnya adalah syarat yang kamu berikan dengan ikhlas. Itu yang membuatnya terasa ringan. Jadi bohong kalau cinta itu pengorbanan. Yang mengatakan cinta itu pengorbanan adalah orang-orang di luar lingkaran cintamu. Sang pencinta tidak akan merasakan itu. Tidak logis? Ya, karena kita telah sampai pada titik ddimana logika sudah diselimuti cinta.

Jadi, buat yang ingin jatuh cinta pada seseorang, jalani tahap-tahap tersebut. Bertemu, cocok, tertarik, lalu dengan sendirinya akan bahagia. Nah, bertemu itu bisa dilakukan dengan sengaja. Tapi belum tentu cocok.

Bagaimana agar cocok?

Kalau cinta memang harus hadir, sampaikan pada targetmu hal-hal yang kamu suka. Bukaan, bukan mau menyetir kepribadian orang. Nanti targetmu malah jadi berkepribadian ganda loh. Toh kalau targetmu tidak ingin melanjutkan langkah bersamamu dia akan pergi juga (ga tahan dengan syarat yang kamu ajukan > seleksi alam > dia bukan untukmu). So, let her/him go. Karena salah satu komponen cinta itu adalah kerelaan, bukan keterpaksaan.

Akhirnya, jatuh cinta itu pilihan yang disengaja dan merupakan risiko konsekuensi logis dari dua insan yang bertemu, cocok, tertarik, lalu bahagia berdua atau merana bila terpisah (Hiks!). Lalu, menjawab quote sebelumnya, sebetulnya kita sudah tahu pada siapa akan mengambil risiko kejatuhan cinta. Makhluk imut bernama cupid itu tidak asal-asalan mengarahkan panahnya. Karena panah hanya akan kena pada orang yang ‘dekat’.  Termasuk juga tentang benar dan salah. Bukan cintanya yang salah, tapi check-pointnya yang tidak berfungsi dengan baik. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, sebetulnya terserah kita 🙂

Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta.  Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan ;)
Selalu ada tarik ulur antara logika dan cinta. Mau lanjut atau mengambil sikap antagonis, kita yang menentukan 😉
Advertisements

2 thoughts on “Melogikakan Cinta

  1. Cinta itu bisa datang dari segala arah, klo yg kamu tulis ini hanya salah satu jalannya aja. Ada yg pernah jatuh cinta even before they met, karena telpon yg salah sambung, bahasa gk nyambung, ketemu juga enggak, apalagi sampe merasa cocok satu sama lain, nope, but the love was there….it’s amazing, isn’t it?

  2. Ahaay,betul banget,ini sudah termasuk ‘segala arahmu’,mau dari arah manapun kalau remote kita tekan stop ya tidak akan berkembang menjadi ‘cocok’ dan seterusnya sampai cinta. Menurutku,interaksi ga akan lanjut tanpa kecocokan. Males aja kalo ngobrol dengan orang yang ga nyambung. Tidak harus ketemu memang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s