Catatan September

Aku bukannya mengeluh, tapi kemarau kali ini memang lebih panjang.

Sampai pada waktunya langit menggelap dan terdengar mendung menyampaikan sesuatu yang makin berat.  Titik pertama pun hadir disambut debu lalu meruapkan bau ampo tanah basah.  Kemudian bayangan orang-orang yang bergegas mencari naungan, melintas dari tempatku duduk memandang hujan dalam diam.  Semacam sketsa sendu, hujan pertama bulan September.

Dan ini, kusampaikan kepadamu,
“Tidak perlu bertemu untuk menyambut hujan, karena kita bukan langit dan bumi yang dipersatukan awan.”

Published by

Safrina Dewi

Sebutir pasir dalam lautanNya, yang berusaha memaknai hari untuk mencapai ridhoNya...

2 thoughts on “Catatan September”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s